Anda di halaman 1dari 38

UNIVERSITAS INDONESIA

PENATALAKSANAAN OKUPASI TERAPI


DENGAN PROBLEMATIKA
TN.NR USIA . TAHUN
PADA KASUS et causa POST-OP CRANIOTOMY et causa
BRAIN TUMOR
UNIT RAWAT JALAN DI RSUP DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

LAPORAN KASUS
diajukan sebagai salah satu pemenuhan syarat praktek klinik II periode I
oleh
Restu Suwandari

1206281335

PROGRAM VOKASI
RUMPUN KESEHATAN
PROGRAM STUDI OKUPASI TERAPI

Depok
Oktober 2014

UNIVERSITAS INDONESIA
PROGRAM VOKASI
BIDANG STUDI KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI OKUPASI TERAPI

LEMBAR PENGESAHAN
Telah diperiksa dengan seksama makalah :
Penatalaksanaan Okupasi Terapi pada Kasus Brain Tumor Post Craniotomy
Pada kegiatan Praktik Klinik II Mahasiswa Program Vokasi
Universitas Indonesia
Program Studi Okupasi Terapi yang diselenggarakan pada s.d yang bertempat di
RSUP dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), disetujui oleh instruktur dan pembimbing
mahasiswa.
Disusun Oleh:
Restu Suwandari

1206281
335

Demikianlah makalah Praktik Klinik II disetujui oleh pembimbing dan instruktur :


Tanggal 20 Oktober 2014
Instruktur dan Pembimbing Mahasiswa RSUP dr. Cipto Mangunkusumo

M. Syarif H, AMd.OT
NIP.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan
Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan kasus ini. Shalawat
beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
kepada keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya hingga akhir zaman.
Adapun laporan kasus ini yang berjudul . dibuat untuk memenuhi tugas
praktek klinik II studi Okupasi Terapi, Rumpun Kesehatan, Program Vokasi
Universitas Indonesia.
Dalam penulisan Laporan Kasus ini, tidak lepas bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1

Orangtua, kakak, adik dan keluarga, terimakasih untuk doa dan kasih sayang yang
selalu mengiringi setiap langkah penulis, serta dukungannya baik secara moril

maupun materil.
Bapak M. Syarif H, AMd.OT., Ibu Endah ,AMd. OT, Ibu Inovasi Nadhiroh,
AMd.OT, Ibu Yuni selaku pembimbing lahan praktek klinik II di Rumah Sakit
Umum Pusat dr. Cipto Mangunkusumo yang selalu membimbing, mengarahkan
dan mendidik. Terimakasih telah memberikan ilmu, masukan, pencerahan dan
dukungannya sehingga proses pembuatan Laporan ini dapat berjalan dengan baik

dan dapat terselesaikan.


Segenap Dosen dan Instruktur Lapangan Praktek Klinik Okupasi Terapi (Bapak dr.
Tri Gunadi Amd.OT, S.Psi, Bapak Hermito Gideon, Amd.OT , Bapak Mahrus
Asari, Amd. OT, Ibu Ririn Chairul J, Amd.OT , Bapak Nasron Azizan, Amd.OT,
serta seluruh dokter dan dosen yang tidak bisa disebutkan satu per satu) yang telah

memberikan ilmu yang begitu besar dan bimbingannya kepada penulis.


Tn. NR dan keluarga, selaku pasien, terimakasih atas kesediaannya dan sikap

kooperatifnya yang sangat membantu dalam pemberian informasi dan keterangan.


Teman-teman kelompok Praktek Klinik II, Putri Dirgantara dan Nurwulan
Salamah. Terima Kasih untuk kerjasama dan dukungan yang begitu besar selama

satu bulan Praktek Klinik di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo.


Teman-teman Okupasi Terapi UI angkatan 2012, terimakasih atas segala
kerjasamanya, dukungan dan kebersamaannya.

Staff dan karyawan-karyawan kampus, terimakasih telah banyak membantu


mengenai segala teknis pendidikan.

Orang-orang yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih untuk
segala doa, bantuan dan dukungannya.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna, kepada para

pembaca agar memberi kritik dan saran untuk menyempurnakan laporan ini. Akhir
kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu serta wawasan
pembaca.

Depok, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
A. Definisi .....................................................................................
B. Prevalensi ...................................................................................
C. Etiologi .......................................................................................
D. Gejala ..........................................................................................
E. Prognosis .

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengumpulan Data ....................................................................
B. Kesimpulan Problematik Okupasional.......................................
C. Prioritas Masalah .......................................................................
D. Program Terapi ..........................................................................

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran ...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ ..


LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Definisi
A.1. Okupasi Terapi
Okupasi Terapi adalah bentuk layanan masyarakat atau pasien yang
mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan aktivitas
bermakna ( okupasi ) untuk meningkatkan kemandirian individu dalam area
aktivitas kehidupan sehari hari, produktivitas, dan pemanfaatan waktu luang
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Menurut kementrian kesehatan Republik Indonesia, Okupasi Terapi
adalah Profesi kesehatan yang menangani pasien / klien dengan gangguan fisik
dan atau mental yang bersifat sementara atau menetap.
Okupasi Terapi (OT) berasal dari bahasa Inggris, yaitu Occupational
Therapy, yang merupakan pembentukan dari kata occupation yang berarti
pekerjaan (okupasi) dan therapy yang berarti usaha pemulihan. Jadi, okupasi
terapi merupakan ilmu kesehatan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi
fisik, kognitif, dan psikososial agar seseorang dapat mandiri dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari, produktivitas, dan pemanfaatan waktu luang.
Definisi Okupasi Terapi (OT) menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2013 adalah bentuk pelayanan kesehatan
kepada pasien/klien dengan kelainan/kecacatan fisik dan/atau mental yang
mempunyai gangguan pada kinerja okupasional, dengan menggunakan
aktivitas bermakna (okupasi) untuk mengoptimalkan kemandirian individu
pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas, dan pemanfaatan
waktu luang.[1]
Definisi Okupasi Terapi (OT) merupakan ilmu kesehatan berbasis
client centered yang berfokus pada promosi kesehatan dan kesejahteraan
melalui okupasi yang mempunyai tujuan utama untuk memungkinkan
seseorang berpartisipasi dalam aktivitas keseharian yang dicapai melalui
kerjasama dengan orang lain dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan
keikutsertaan okupasi yang diinginkan, dibutuhkan, atau diharapkan untuk

dilakukan, atau melalui modifikasi okupasi maupun lingkungan yang lebih


baik untuk mendukung mereka dalam keikutsertaan okupasional(World
Federation of Occupational Therapist, 2012).
Okupasi Terapis merupakan setiap individu yang telah lulus pendidikan
okupasi terapi dan berwenang melaksanakan praktik sesuai dengan kompetensi
yang telah ditetapkan sesuai ketentuan perundang-undangan.[1] Okupasi Terapis
berwenang dalam melakukan intervensi okupasi terapi maupun dalam
pembuatan program okupasi terapi.
A.2
A.3
A.4 Brain Tumor
Tumor adalah segala benjolan / gumpalan yang timbul pada tubuh,
baik yang kelihatan di permukaan tubuh maupun yang tersembunyi di dalam
tubuh[1].
Tumor otak atau glioma adalah sekelompok tumor yang timbul dalam
system saraf pusat dan dapat dijumpai beberapa derajat diferensiasi glia. (Liau,
2001). Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut
tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain, disebut tumor otak
metastase. (Huff, 2009).
Tumor otak, atau tumor intracranial adalah neoplasma atau proses
desak ruang (space occupying lesion atau space taking lesion) yang timbul
didalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun
infratentorial. Di dalam hal ini mencakup tumor tumor primer pada korteks,
meningens, vaskuler , kelenjar hipofisis, epifise, saraf otak,jaringan
penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya. [2]

A.4.a Anatomi
Otak merupakan pusat dari keseluruhan tubuh manusia. Jika otak sehat,
maka akan mendorong kesehatan tubuh serta menunjang kesehatan mental.
Sebaliknya, apabila otak terganggu, maka kesehatan tubuh dan mental juga
bisa terganggu.
Bagian-bagian otak :
1

Cerebrum (Otak Besar)

Cerebellum (Otak Kecil)

Brainstem (Batang Otak)

Gambar 1 : Bagian-bagian dari otak 8


1

Cerebrum (Otak Besar)


Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga
disebut cerebral cortex, forebrain atau otak depan. Cerebrum membuat
manusia memiliki kemampuan berfikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran,
perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau
IQ manusia juga ditentukan oleh kualitas dari Cerebrum.
Cerebrum terbagi menjadi empat bagian yang disebut lobus. Bagian
lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai
parit disebut dengan sulkus. Keempat lobus tersebut masing-masing
adalah: lobus frontal, lobus parietal, lobus occipital dan lobus temporal.
Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada di bagian paling
depan dari otak besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan
membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian
masalah, member penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku
seksual dan kemampuan bahasa secara umum. Lobus parietal berada di
tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan,
sentuhan dan rasa sakit. Lobus temporal berada di bagian bawah
berhubungan dengan kemampuan pendengaran, penyaringan informasi
dan bahasa dalam bentuk suara. Lobus oksipital ada di bagian bawah
berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia
mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap retina
mata.
Selain dibagi menjadi empat lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa
dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak

kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian


bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kanan
tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik.
Sedangkan otak kiri untuk logika dan berfikir rasional.
2

Cerebellum
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala,
dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak
fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh,
mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak
Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis
yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat
menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan
pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak
terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan
makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.

Brainstem (Batang Otak)


Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau
rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung
atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar
manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh,
mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar
manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1

Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah


bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan
Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon
penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan
tubuh dan pendengaran.

Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari


sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga
sebaliknya. Medulla mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak
jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.

Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat


otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan
apakah kita terjaga atau tertidur.9

A.4.b. Klasifikasi
Klasifikasi Samuels (1986) berdasarkan atas lokasi tumor, yaitu :
1

Tumor supratentorial

Hemisfer otak.
Glioma

: glioblastoma multiforme, astrositoma, oligodendroglioma,

meningioma, tumor metastasis


b

Tumor struktur median : adenoma hipofisis, tumor glandulapinealis,


kraniofaringioma.

Tumor infratentorial
Tumor infratentorial terjadi pada dewasa dan anak-anak. Pada dewasa
mencakupi:

Schwannoma akustikus (neurilemmoma, neurinoma akustik),

Tumor metastasis,

Meningioma,

Hemangioblastoma (Von Hippel Lindau),


Pada anak-anak mencakupi :

Astrositoma serebelaris

Medulloblastoma

Ependimoma

Glioma batang otak.12

Klasifikasi Tumor Otak


Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
2.2.1 Berdasarkan Jenis Tumor
a. Jinak
1.

Acoustic neuroma

2.

Meningioma

Sebagian besar tumor bersifat jinak, berkapsul, dan tidak menginfiltrasi jaringan
sekitarnya tetapi menekan struktur yang berada di bawahnya. Pasien usia tua sering
terkena dan perempuan lebih sering terkena dari pada laki-laki. Tumor ini sering kali

memiliki banyak pembuluh darah sehingga mampu menyerap isotop radioaktif saat
dilakukan pemeriksaan CT scan otak.
1.

Pituitary adenoma

2.

Astrocytoma (grade I)

b. Malignant
1.

Astrocytoma (grade 2,3,4)

2.

Oligodendroglioma

Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan kejang parsial yang dapat muncul hingga 10
tahun. Secara klinis bersifat agresif dan menyebabkan simptomatologi bermakna akibat
peningkatan tekanan intrakranial dan merupakan keganasan pada manusia yang paling
bersifat kemosensitif.
1.

Apendymoma

Tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat pada ependim yang
menutup ventrikel. Pada fosa posterior paling sering terjadi tetapi dapat terjadi di setiap
bagian fosa ventrikularis. Tumor ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada dewasa.
Dua faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan reseksi tumor dan kemampuan
bertahan hidup jangka panjang adalah usia dan letak anatomi tumor. Makin muda usia
pasien maka makin buruk progmosisnya.
2.2.2 Berdasarkan Lokasi
a. Tumor Supratentorial
Hemisfer otak, terbagi lagi :
1.

Glioma :
i)

Glioblastoma multiforme

Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi paling sering terjadi di hemisfer otak dan
sering menyebar kesisi kontra lateral melalui korpus kolosum.
ii)
iii)

Astroscytoma
Oligodendroglioma

Merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrositoma tetapi terdiri dari sel-sel
oligodendroglia. Tumor relative avaskuler dan cenderung mengalami klasifikasi biasanya
dijumpai pada hemisfer otak orang dewasa muda.
1.

Meningioma

Tumor ini umumnya berbentuk bulat atau oval dengan perlekatan duramater yang lebar
(broad base) berbatas tegas karena adanya psedokapsul dari membran araknoid. Pada
kompartemen supratentorium tumbuh sekitar 90%, terletak dekat dengan tulang dan

kadang disertai reaksi tulang berupa hiperostosis. Karena merupakan massa ekstraaksial
lokasi meningioma disebut sesuai dengan tempat perlekatannya pada duramater, seperti
Falk (25%), Sphenoid ridge (20%), Konveksitas (20%), Olfactory groove (10%), Tuberculum
sellae (10%), Konveksitas serebellum (5%), dan Cerebello-Pontine angle. Karena tumbuh
lambat defisit neurologik yang terjadi juga berkembang lambat (disebabkan oleh
pendesakan struktur otak di sekitar tumor atau letak timbulnya tumor). Pada meningioma
konveksitas 70% ada di regio frontalis dan asimptomatik sampai berukuran besar sekali.
Sedangkan di basis kranii sekitar sella turcika (tuberkulum sellae, planum sphenoidalis, sisi
medial sphenoid ridge) tumor akan segera mendesak saraf optik dan menyebabkan
gangguan visus yang progresif.

1.

Tumor Infratentorial

2.

Schwanoma akustikus

3.

Tumor metastasisc

Lesi-lesi metastasis menyebabkan sekitar 5 % 10 % dari seluruh tumor otak dan dapat
berasal dari setiap tempat primer. Tumor primer paling sering berasal dari paru-paru dan
payudara. Namun neoplasma dari saluran kemih kelamin, saluran cerna, tulang dan tiroid
dapat juga bermetastasis ke otak.
1.

Meningioma
Meningioma merupakan tumor terpenting yang berasal dari meningen, sel-sel

mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan dura.


1.

Hemangioblastoma
Neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang paling sering

dijumpai dalam serebelum.

A.5.

Craniotomy
Menurut Barbara Engram, alih bahasa Suharyati Samba, dkk (1998:642)

mengemukakakan bahwa kraniotomi adalah operasi pembukaan tulang


tengkorak, sedangkan Ahmad Ramalu (1996:62) mendefinisikan craniotomy
adalah setiap pembedahan pada tulang tengkorak.

B. Prevalensi
Berdasarkan data-data dari Central Brain Tumor Registry of the United
State (CBTRUS) dari tahun 2004-2005 dijumpai 23.62 per 100,000 orang-tahun (

umur 20+). Kadar mortilitas di Amerika Utara, Western Europe dan Australia
dijumpai 4-7 per 100,000 orang per tahun pada pria dan 3-5 per 100,000 orang
per tahun pada wanita. Selain itu telah dilaporkan bahawa meningioma
merupakan jenis tumor yang paling sering dijumpai yaitu 33.4% diikuti dengan
glioblastoma yaitu 17.6% ( Quan, 2010). Di Medan data-data lengkap tentang
penyakit tumor otak belum ada, namun dari observasi yang dilakukan tahun 2005
terhadap 48 penderita tumor otak yang dirawat di beberapa rumah sakit;
RSUP.H.Adam Malik, RS Haji medan diperoleh hasil sebagai berikut:
Penderita tumor otak lebih banyak pada laki-laki (72,92 persen) dibanding
perempuan (27,08 persen) dengan kelompok usia terbanyak 51 sampai 60 tahun
(29,17 persen); selebihnya terdiri dari berbagai kelompok usia yang bervariasi
dari 3 bulan sampai usia 50 tahun. hanya 43 penderita (89,59 persen) yang
dioperasi dan lainnya (10,41 persen) tidak dilakukan operasi karena berbagai
alasan, seperti; inoperable atau tumor metastase (sekunder). Lokasi tumor
terbanyak berada di cerebellum (20,83 persen), sedangkan tumor-tumor lainnya
tersebar di beberapa lobus otak, suprasellar, medulla spinalis, brainstem,
cerebellopontine angle dan multiple. Dari hasil pemeriksaan Patologi Anatomi
(PA), jenis tumor terbanyak yang dijumpai adalah; Meningioma (25,00 persen),
sisanya terdiri dari berbagai jenis tumor dan lain-lain yang tak dapat ditentukan
(Hakim. AA, 2005).
Insidensi tumor otak primer bervariasi sehubungan dengan kelompok umur
penderita. Angka insidensi ini mulai cenderung meningkat sejak kelompok usia
dekade pertama yaitu dari 2/100.000 populasi/tahun pada kelompok umur 10
tahun menjadi 8/100.000 populasi/tahun pada kelompok usia 40 tahun; dan
kemudian meningkat tajam menjadi 20/100.000 populasi/tahun dari kelompok
usia 70 tahun 18,1/100.000 di mana perbandingan wanita (20,3) dan pria (15,2).15
C. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi
dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor.
Sebenarnya sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA
(DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel
merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah
terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang
ditandai

dengan

pembelahan

DNA

kromosom,

kondensasi

kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi


yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat
memicu

terjadinya

kanker.Adapun

faktor-faktor

yang

perlu

ditinjau, yaitu :
1

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada
meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota
sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap
sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang
jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat
untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.

2 Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)


Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
3

Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya
suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya
suatu radiasi.

Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.11

Sebenarnya, penyebab tumor otak masih belum diketahui tetapi masih


ada faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:
Herediter
Sindrom herediter seperti von Recklinghausens Disease, tuberous sclerosis,
retinoblastoma, multiple endocrine neoplasma bisa meningkatkan resiko
tumor otak. Gen yang terlibat bisa dibahagikan pada dua kelas iaitu tumor
suppressor genes dan oncogens. Selain itu, sindroma seperti Turcot dapat
menimbulkan kecenderungan genetik untuk glioma tetapi hanya 2%. ( Mehta,
2011)
Radiasi
Radiasi jenis ionizing radiation bisa menyebabkan tumor otak jenis
neuroepithelial tumors, meningiomas dan nerve sheath tumors. Selain itu,
paparan terhadap sinar X juga dapat meningkatkan risiko tumor otak.
(Keating, 2001).
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. ini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti nitrosamides dan
nitrosoureas yang bisa menyebabkan tumor system saraf pusat ( Petrovich, et
al., 2003., Mardjono, 2000)
Virus
Infeksi virus juga dipercayai bisa menyebabkan tumor otak. Contohnya, virus
Epseien-barr. (Kauffman, 2007)
-Gaya Hidup
Penelitian telah menunjukkan bahwa makanan seperti makanan yang
diawetkan, daging asap atau acar tampaknya berkorelasi dengan peningkatan
risiko tumor otak. Di samping itu, risiko tumor otak menurun ketika individu
akan lebih banyak buah dan sayuran. (Stark-Vance, et al., 2011).

Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti walaupun telah banyak
penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
1.

Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada

meningioma, astrocytoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota


sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai
manifestasi pertumbuhan baru memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis
neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor
hereditas yang kuat pada neoplasma.

1.

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)


Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang

mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Ada kalanya sebagian dari
bangunan embrional tertinggal dalam tubuh menjadi ganas dan merusak bangunan di
sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma
intrakranial dan kordoma.
1.

Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami

perubahan degenerasi namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glioma. Meningioma pernah dilaporkan terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
1.

Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang

dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya
neoplasma tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan
perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
1.

Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah

diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik sepertimethylcholanthrone, nitroso-ethylurea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
1.

Trauma Kepala

D. Gejala
Gejala klinis pada tumor otak dikenal dengan istilah trias klosis tumor otak,
yaitu:
1

Nyeri kepala. Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat dalam,
terus-menerus, tumbuh, dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri paling hebat
pada pagi hari dan lebih hebat saat beraktivitas sehingga dapat meningkatkan
TIK pada saat membungkuk, batuk dan mengejan pada saat BAB. Nyeri
kepala dapat berkurang bila diberi aspirin dan kompres air dingin di daerah
yang sakit. Lokasi yang sering menimbulkan nyeri terjadi di 1/3 daerah
tumor dan 2/3 di dekat atau di atas tumor.

Mual dan muntah. Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai akibat
rangsangan pusat muntah pada medulla oblongata. Sering terjadi pada anakanak dan berhubungan dengan peningkatan TIK yang disertai pergeseran
batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa didahului mual dan dapat proyektil.

Papiledema. Papiledema disebabkan oleh stres vena yang menimbulkan


pembengkakan papila saraf optikus. Bila terjadi pada pemeriksaan
Oftalmoskopi (Funduskopi), tanda ini mengisyaratkan terjadi kenaikan TIK.
Kadang disertai gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan
amaurosis fugaks (saat-saat di mana penglihatan berkurang).14
Manifestasi klinis tumor otak

1.

a.

Nyeri Kepala

Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga sering
diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik. Muntah
ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor
supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa
posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher.
1.

b. Perubahan Status Mental

Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan


berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus
frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat
menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.
1.

c.

Seizure

Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma,
oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru
kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
1.

d. Edema Papil

Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik
neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak
menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang
berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang
perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.

1.

Muntah

Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor tersebut
juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan malam
hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya
massa intracranial.
1.

Vertigo

Pasien merasakan pusing yang berputar dan mau jatuh.

Secara umum pasien tumor otak bisa memiliki gejala seperti perubahan
perilaku contohnya, pasien mungkin mudah lelah atau kurang konsentrasi. Selain
itu, gejala hipertensi intracranial seperti sakit kepala, mual, vertigo. Serangan
epilepsi juga sering dijumpai pada pasien tumor otak. (Rohkamm, 2004).
1. Lobus frontal
Menimbulkan gejala perubahan kepribadian seperti depresi.
Menimbulkan masalah psychiatric.
Bila jaras motorik ditekan oleh tumor hemiparese kontra lateral, kejang
fokal dapat timbul. Gejala kejang biasanya ditemukan pada stadium lanjut
Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia.
Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia.
2. Lobus temporal
Dapat menimbulkan gejala hemianopsia.
Gejala neuropsychiatric seperti amnesia, hypergraphia dan Dj vu juga
dapat timbul.
Lesi pada lobus yang dominan bisa menyebabkan aphasia.
3. Lobus parietalis
Akan menimbulkan gangguan sensori dan motor yang kontralateral.
Gejala homonymous hemianopia juga bisa timbul.
Bila ada lesi pada lobus yang dominant gejala disfasia.
Lesi yang tidak dominan bisa menimbulkan geographic agnosia dan
dressing apraxia.
4. Lobus oksipital
Menimbulkan homonymous hemianopia yang kontralateral
Gangguan penglihatan yang berkembang menjadi object agnosia.
5. Tumor di cerebello pontin angle
Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma.
Dapat dibedakan karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi
pendengaran.
7. Glioma batang otak
Biasanya menimbulkan neuropati cranial dengan gejala-gejala seperti
diplopia, facial weakness dan dysarthria.

8. Tumor di cerebelum
Didapati gangguan berjalan dan gejala tekanan intrakranial yang tinggi
seperti mual, muntah dan nyeri kepala. Hal ini juga disebabkan oleh odem
yang terbentuk.
Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar ke leher dan spasme
dari otot-otot servikal (Schiff, 2008., Youmans,1990).

Anatomi dan Fisiologi Otak


Otak merupakan jaringan yang konsistensinya kenyal menyerupai agar-agar dan
terletak di dalam ruangan yang tertutup oleh tulang yaitu kranium (tengkorak),
yang secara absolut tidak dapat bertambah volumenya, terutama pada orang
dewasa.
Jaringan otak dilindungi oleh beberapa pelindung, mulai dari permukaan luar
adalah: kulit kepala yang mngandung rambut, lemak dan jaringan lainnya, tulang
tengkorak, meningens (selaput otak dan liquor serebrospinalis). (Satyanegara,
1998: 12)
Otak dibagi dalam beberapa bagian:
a. Serebrum (otak besar)
Merupakan bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi
depan atas rongga tengkorak, masing-masing disebut fase kranialis anterior atas
dan fase kranialis media.
Pada otak besar ditemukan beberapa lobus, yaitu:
1) Lobus frontalis, adalah bagian dari serebrum yang terletak di depan siklus
sentralis. Lobus ini terlihat dalam 2 fungsi serebral utama, yaitu: (1) kontrol
motorik gerakan volunter termasuk fungsi bicara, dan (2) kontrol berbagai
ekspresi emosi, moral dan tingkah laku etika. Fungsi aktifitas motoriknya
diekspresikan melalui: korteks somato-motorik primer (area Brodmann 4),
korteks premotor dan suplemen (area Brodmann 6), frontal eye field (area
Brodmann 8) dan pusat bicara Broca (area Brodmann 44), sedangkan kontrol
ekspresif dari emosi dan moral dilaksanakan oleh korteks pre frontal
(Satyanegara, 1998: 15)
2) Lobus parietalis, terdapat di depan sulkus sentralis dan dibelakangi oleh karaco
oksipitalis. Lobus parietal dikaitkan untuk evaluasi sensorik umum dan rasa
kecap, dimana selanjutnya akan dintegrasi dan diproses untuk menimbulkan
kesiagaan tubuh terhadap lingkungan eksternal. (Satyanegara, 1998: 17)
3) Lobus temporalis, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan
lobus oksipitalis. Lobus temporalis mempunyai peran fungsionil yang berkaitan
dengan pendengaran, keseimbangan dan juga sebagian dari emosi-memori
4) Lobus oksipitalis, yang mengisi bagian belakang daris erebrum lobus oksipitalis
sangat penting fungsinya sebagai kortex visual. Secara umum, fungsi serebrum
terdiri dari:
a) mengingat pengalaman-pengalaman masa lalu

b) pusat persyarafan yang menangani; aktifitas mental, akal, inteligensi,


keinginan dan memori
c) pusat menangis, buang air besar dan buang air kecil
b. Batang otak (trunkus serebri)
Batang otak adalah pangkal otak yang merilei pesan-pesan antara medula
spinalis dan otak. Batang otak terdiri dari:
1) Diensefalon, bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebrum
dengan mesensefalon. Kumpulan dari sel syaraf yang terdapat di bagian depan
lobus temporalis terdapat kapsula interna dengan sudut menghadap ke samping.
Fungsi dari diensefalon:
a) vaso kontruktor, mengecilkan pembuluh darah
b) respiratori, membantu proses persyarafan
c) mengontrol kegiatan reflek
d) membantu pekerjaan jantung
Diensefalon tersusun atas struktur Hipothalamus yang berfungsi sebagai pusat
integrasi susunan saraf otonom, regulasi temperatur, keseimbangan cairan dan
elektrolit, integrasi sirkuit siklus bangun-tidur, intake makanan, respon tingkah
laku terhadap emosi, pengontrolan endokrin, dan respon seksual. Thalamus
berfungsi sebagai pusat persediaan dan integrasi bagi semua jenis impuls
sensorik, kecuali penciuman.thalamus memainkan peranan penting dalam
transmisi impuls nyeri.(satyanegara, 1998:20)
2) Mesensefalon, atap dari mesensefalon terdiri dari 4 bagian yang menonjol ke
atas, 2 di sebelah atas disebut korpus quadrigeminus superior dan 2 di sebelah
bawah disebut korpus quadrigeminus inferior, serat saraf okulomotorius berjalan
ke veritral di bagian medial. Serat-serat saraf nervus troklearis berjalan ke arah
dorsal menyilang garis tengah ke sisi lain.
Fungsinya terdiri dari:
a) membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata
b) memutar mata dan pusat pergerakan mata
3) Pons varoli, brakium pontis yang menghubungkan mesensefalon dengan pons
varoli dengan serebelum, terletak didepan serebelum di antara otak tengah dan
medula oblongota, disini terdapat premotoksid yang mengatur gerakan
pernafasan dan reflek.
Fungsi dari pons varoli terdiri dari:
a) penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medula
oblongata dengan serebelum
b) pusat syaraf nervus trigeminus
4) Medula oblongata, merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah
yang menghubungkan pons varoli dengan medula spinalis. Bagian bawah medula
oblongata merupakan persambungan medula spinalis ke atas dan bagian atas
medula oblongata disebut kanalis sentralis di daerah tengah bagian ventral
medula oblongata

Fungsi medula oblongata merupakan organ yang menghantarkan impuls dari


medula spinalis dan otak yang terdiri dari:
a) mengontrol pekerjaan jantung
b) mengecilkan pembuluh darah (vasokonstruktor)
c) pusat pernafasan (respiratory centre)
d) mengontrol kegiatan reflek
Otak dilindungi oleh selaput otak (meningen) yang terdiri dari 3 lapisan:
a. Duramater (lapisan sebelah luar)
Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat, di
bagian tengkorak terdiri dari selaput tulang tengkorak dan duramater propia di
bagian dalam. Di dalam kanal vertebralis kedua lapisan ini terpisah. Duramater
pada tempat tertentu mengandung rongga yang mengalirkan arah vena dari otak,
rongga ini dinamakan sinus longitudinal superior, terletak di antara kedua
hemisfer otak.
b. Arakhnoid (lapisan tengah)
Merupakan selaput halus yang memisahkan duramater dengan piameter
membentuk sebuah kantong atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh
susunan syaraf sentral. Medula spinalis terhenti setinggi di bawah lumbal I-II
terdapat sebuah kantong berisi cairan, berisi saraf perifer yang keluar dari
medula spinalis dapat dimanfaatkan untuk mengambil cairan otak yang disebut
pungsi lumbal.
c. Piamater (lapisan sebelah dalam)
Merupakan selaput tipis yang terdapat pada permukaan jaringan otak, piamater
berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-struktur jaringan ikat yang
disebut trabekel. Tepi falks serebri membentuk sinus longitudinal inferior dan
sinus sagitalis inferior yang mengeluarkan darah dari falks serebri. Tentorium
memisahkan serebri dengan sereblum.(Syaifuddin, 1997: 124)

E. Prognosis
Prognosa penderita tumor otak didapati bahawa tanpa terapi radiasi, harapan
hidup rata-rata pasien dengan metastase otak adalah 1 bulan. Selain itu, Resectability
Tumor, lokasi tumor, usia pasien, dan histologi tumor adalah penentu utama
kelangsungan hidup. Pasien dengan kejang sekunder ke tumor otak umumnya
mengalami kerusakan neurologis yang jelas selama kursus 6 bulan. Kebanyakan
pasien dengan metastase otak mati dari perkembangan keganasan utama mereka
bukan dari kerusakan otak (Huff, 2009).
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan
hidup setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan

oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3-5 tahun
setelah pengobatan.Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan
hidup lebih dari 5 tahun.Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:
a Penderita yang berusia dibawah 45 tahun
b Penderita astrositoma anaplastik
c Penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat
melaluipembedahan.
Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan diagnosis dini dan juga
penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi, angka
ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka ketahanan
hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di Indonesia
secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang
dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta.
Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan
hidup setelah 2 tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan
oligodendroglioma, dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3 5 tahun
setelah pengobatan. Sekitar 50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan
hidup lebih dari 5 tahun. Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:
a Penderita yang berusia dibawah 45 tahun,
b Astrositoma anaplastik,
c Penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat melalui.17

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengumpulan Data
Motorik

Sensorik

Kognitif

Intrapersonal

Problem
Okupasi Terapi

Interpersonal

Self Care

Produktivitas

Waktu Luang

A. Pengumpulan Data
A.1.
Data Identitas Pasien
Nama

: Tn. NR

Umur

: tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat/telepon

Pekerjaan

Hobi

:-

No.Registrasi

Diagnosis

Kiriman dokter

: dr.

Alasan rujukan

: Cognitive Exercise

Tanggal pemeriksaan : 17 Oktober 2014

A.2.

Nama OT

: Mahasiswi Restu Suwandari

Bagian / ruangan

: IRM / Okupasi Terapi RSCM

Pengumpulan Data Riwayat Penyakit


A.2.a Riwayat Kondisi Sekarang

A.2.b Riwayat Penyakit Dahulu

A.2.c Riwayat Sosial Ekonomi

A.2.d Harapan

A.3.

Pemeriksaan

Penampilan umum : Pasien datang ke unit okupasi terapi

TD : / mmHg

Nadi : x/menit

Berat badan :

Komponen
Sensorik

Aset

Limitasi

Kesadaran sensori : pasien


dalam

keadaan

compos

pasien

mampu

mentis.
Visual

melihat benda sekitar.


Auditori : pasien mampu
mendengar instruksi terapis.

Taktil

pasien

tidak

merasakan sentuhan pada


ujung jari jari tangan
kanan saat dilakukan tes

(hiposensitif pada

palmar).

Gustatory : pasien mampu Proprioceptive : pasien tidak


merasakan rasa makanan

mampu merasakan gerak

Olfactory : pasien mampu

sendi pada jari-jari tangan

mencium wangi-wangian

ki/ka. saat jari yang


sakit

digerakkan

lalu

pasien

menyebutkan

bagian

jari

yang

digerakkan.

Persepsi

Stereognosis : dengan mata


tertutup

pasien

mampu

identifikasi

bentuk

3dimensi dari balok,bulat


dan segitiga.
Kinesthesia : pasien mampu
mengikuti

jari

yang

digerakkan pada sisi yang


sehat.
Body scheme : pasien mampu
menunjukkan

anggota

badan yang dimaksud.


Diskriminasi

kanan&kiri

pasien

mampu

membedakan tangan kanan


dan kiri
Konstansi bentuk : pasien
mampu paham bentuk
Posisi dalam ruang : pasien
mampu mengetahui posisi
benda di sebuah ruangan
Visual

closure

pasien

mampu identifikasi objek


sebagian.
Figure

ground

pasien

mampu membedakan latar


belakang (gunung) dan latar
depan (rumah) saat pasien

Tidak terdapat limitasi

Tabel Aset dan Limitasi.

Occupational Performance Area

Total Barthel Index :

B. Ringkasan Kasus

C. Kesimpulan Problematik Okupasional


D. Prioritas Masalah
E. Program Terapi
engkajian
3.1.1

Data Demografi

Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.
3.1.2
1.

Riwayat Sakit dan Kesehatan


Keluhan utama

Biasanya klien mengeluh nyeri kepala


1.

Riwayat penyakit saat ini

Klien mengeluh nyeri kepala, muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran,


penurunan penglihatan atau penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia
atau anasthesia), hilangnya ketajaman atau diplopia.
1.

Riwayat penyakit dahulu

Klien pernah mengalami pembedahan kepala


1.

Riwayat penyakit keluarga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya
dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan tumor kepala.
1.

Pengkajian psiko-sosio-spirituab

Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil


keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur
pembedahan, adanya perubahan peran.

3.1.3

Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak meliputi pemeriksaan fisik umum per
system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2
(Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).

1.

Pernafasan B1 (breath)

2.

Bentuk dada : normal

3.

Pola napas : tidak teratur

4.

Suara napas : normal

5.

Sesak napas : ya

6.

Batuk : tidak

7.

Retraksi otot bantu napas ; ya

8.

Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)

9.

Kardiovaskular B2 (blood)

10. Irama jantung : irregular


11. Nyeri dada : tidak
12. Bunyi jantung ; normal
13. Akral : hangat
14. Nadi : Bradikardi
15. Tekanana darah Meningkat
16. Persyarafan B3 (brain)
17. Penglihatan (mata)

: Penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau diplopia.

18. Pendengaran (telinga): Terganggu bila mengenai lobus temporal


19. Penciuman (hidung) : Mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
20. Pengecapan (lidah)

: Ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)

1.

Afasia

: Kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa,

kemungkinan ekspresif atau kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkatakata komprehensif, maupun kombinasi dari keduanya.
2.

Ekstremitas

: Kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak

seimbang, berkurangnya reflex tendon.


3.

GCS

: Skala yang digunakan untuk menilai tingkat

kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan
menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 6
tergantung responnya yaitu :
a.

Eye (respon membuka mata)

(4) : Spontan
(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : Tidak ada respon
b.

Verbal (respon verbal)

(5) : Orientasi baik


(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat
dan waktu.
(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam
satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon
c.

Motor (respon motorik)

(6) : Mengikuti perintah


(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat
diberi rangsang nyeri)
(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat
diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : Tidak ada respon
1.

Perkemihan B4 (bladder)
1.

Kebersihan : bersih

2.

Bentuk alat kelamin : normal

3.

Uretra : normal

4.

Produksi urin: normal

5.

Pencernaan B5 (bowel)
1.

Nafsu makan : menurun

2.

Porsi makan : setengah

3.

Mulut : bersih

4.

Mukosa : lembap

5.

Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
1.

Kemampuan pergerakan sendi : bebas

2.

Kondisi tubuh: kelelahan

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

B. Saran
Untuk mendukung mencapai tujuan proses terapi perlu adanya
kerjasama antara terapis, pasien dan keluarga pasien.
Saran untuk terapis :
1. Memberi motivasi kepada pasien agar mampu mencapai goal yang sudah
dibuat
2. Mengedukasi pasien agar mengulang apa yang sudah dilakukan saat terapi.
3. Mengedukasi keluarga pasien agar memberikan motivasi pada pasien
supaya mengulang apa yang sudah dilakuakn saat terapi.
4. Memberi instruksi atau arahan yang mudah dimengerti pasien.
5. Memberi aktivitas yang sesuai dengan riwayat penyakitnya, jangan terlalu
berat atau terlalu ringan.
6. Memberi waktu istirahat sesuai kondisi tubuh pasien.
7. Membuat LTG dan STG yang realistis dengan kemampuan pasien.
8. Menciptakan suasana yang kondusif, aman dan nyaman saat melakukan
kegiatan terapi.
Saran untuk pasien :
1. Menjaga kesehatan dan motivasi agar dapat mengikuti kegiatan terapi
dengan baik.
2. Konsisten dalam kegiatan terapi demi tercapainya goa yang sudah di
tentukan.
3. Pasien harus sering-sering melakukan pengulangan aktivitas yang sudah
diberikan saat terapi di rumahnya.
Saran untuk keluarga :

1. Mengingatkan kembali pasien untuk melakukan terapi sesuai petunjuk


terapis.
2. Membantu pasien saat pasien mengulang latihan di rumah.
3. Berikan support yang penuh kepada pasien saat pasien mencoba
mengulang latihan yang telah dilakukan saat terapi.
4. Jangan perlakukan pasien seperti orang sakit yang tidak bisa apa-apa.
Coba motivasi pasien secara perlahan untuk melakukan aktivitasnya secara
mandiri.

Tn.Kh, usia 21 tahun dengan diagnosa Hemipharese dextra et causa postop craniotomy et causa Brain Tumor et causa Suspect Astrocytoma, datang ke
ruangan Okupasi Terapi dengan menggunakan wheelchair dan mampu transfer
secara mandiri dalam jarak dekat. Keluhan pasien saat ini adalah kelemahan
pada anggota tubuh sisi kanan, dan nyeri pada area bahu. Waktu SMA, pasien
pernah mengalami kecelakaan lalu lintas. Pada bulan November 2013, pasien
mengalami demam dan secara bersamaan terjadi kelumpuhan pada sisi tubuh
kanan. Pada tanggal 8 Desember pasien menjalani operasi pengangkatan tumor
dan dirawat sampai 6 Maret 2014. Setelah dirawat dan menjalani fisioterapi,
pasien sudah mampu transfer secara mandiri dengan adaptasi cara dalam jarak
dekat. Aset yang dimiliki pasien adalah sebagian besar fungsi sensori pasien
normal, ketahanan tubuh pasien yang tidak mudah lelah, kontrol postur tubuh
pasien yang simetri, toleransi aktifitas yang baik, fungsi kognitif yang normal
dan kemampuan sosial yang normal. Sedangkan limitasi yang dimiliki pasien
adalah ketidakmampuan mempertahankan keseimbangan saat berdiri, tonus otot
hipotonus pada UE dan LE dextra, kekuatan otot yang belum optimal, LGS
belum full ROM, kelemahan pada satu sisi tangannya, dan ketidakmampuan
dalam melakukan gerakan Hand Skill.
Setelah mengikuti beberapa program yang dibuat oleh terapis pasien sudah
mulai ada progress meskipun masih belum cukup terlihat secara signifikan.
Tetapi terapis meyakini jika program terapi dan home program dijalankan
dengan baik maka akan semakin membaik juga perkembangan pada anak dan
lebih mudah untuk mencapai goal yang sudah dirancang oleh terapis.

A Saran
Untuk mendukung mencapai tujuan proses terapi perlu adanya kerja sama
antara terapis, pasien dan keluarga pasien.
1

Saran untuk terapis


a

Memberi motivasi kepada pasien agar mampu mencapai goal yang


sudah dibuat.

Mengedukasi pasien agar mengulang apa yang sudah dilakukan saat


proses terapi.

Mengedukasi keluarga pasien agar mengulang apa yang sudah


dilakukan saat proses terapi.

Mengedukasi pasien untuk bias menggunakan peralatan seadanya


dirumah tanpa harus membeli alat yang sama di tempat terapi.

Memberi instruksi atau arahan yang mudah dimengerti pasien

Menciptakan suasana yang kondusif, aman dan nyaman saat


melakukan kegiatan terapi.

Jangan beri kesan kaku saat melakukan terapi kepada pasien

Menciptakan aktifitas yang baru dan bermakna setiap pertemuan


dengan pasien, agar pasien tidak terlihat bosan.

Memberi aktifitas yang sesuai dengan riwayat penyakitnya, jangan


terlalu berat atau ringan.

Membuat Long Term Goal (LTG) dan Short Term Goal (STG) yang
realistis dengan kemampuan dan kondisi pasien.

Memberi waktu istirahat sesuai kondisi tubuh pasien.

Membuat evaluasi untuk melihat perkembangan program terapi di


setiap akhir program terapi.

Saran untuk pasien


a

Pasien harus rajin melakukan kegiatan terapi

Pasien harus memiliki motivasi yang tinggi untuk sembuh dan


beraktifitas seperti sedia kala.

Pasien harus bersabar terhadap penyakitnya tetapi tetap harus optimis


menghadapi proses penyembuhan.

Pasien harus sering-sering melakukan repetisi aktifitas yang sudah


diberikan saat melakukan home program.

Saran untuk keluarga

Ciptakan suasana kekeluargaan saat pasien mengulang latihan yang


telah dilakukan saat terapi.

Mengingat kembali pasien untuk melakukan terapi sesuai petunjuk


terapis.

Berikan support yang penuh kepada pasien saat pasien mencoba


mengulang latihan yang telah dilakukan saat terapi

Jangan perlakukan pasien seperti orang sakit yang tidak bias apa-apa.
Berikan motivasi kepada pasien secara perlahan untuk melakukan
aktifitasnya secara mandiri.

Jangan mengucilkan pasien saat pasien mencoba melakukan berbagai


aktifitas yang tidak bisa pasien lakukan.

Membantu pasien saat pasien mengulang latihan di rumah.

Selalu berada di dekat pasien dan menyemangatinya agar pasien


memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan terapinya.

4.1 Kesimpulan
Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc
atau sekitar 2% dari berat orang dewasa dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron.
Metabolisme otak digunakan kira kira 18% dari total konsumsi oksigen oleh tubuh. Berat
otak hanya 2,5 % dari berat badan seluruhnya tapi otak merupakan organ yang paling
banyak menerima darah dari jantung yaitu 20% dari seluruh darah yang mengalir ke
seluruh bagian tubuh (Lumantobing, 2001).
Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang baik jinak
maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan tengkorak. (price, A. Sylvia, 1995:
1030). Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui, tetapi sekarang telah
diadakan penelitian mengenai herediter, sisa-sisa embrional, radiasi, virus, substansisubstansi zat karsinogenik, trauma kepala. Penatalaksaan pasien dengan tumor otak dapat
dilakukan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi.
4.2 Saran
1.

Perawat hendaknya mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan


tumor otak secara holistik didasari dengan pengetahuan yang mendalam
mengenai penyakit tersebut.

2.

Klien dan keluarganya hendaknya ikut berpartisipasi dalam penatalaksaan serta


meningkatkan pengetahuan tentang tumor otak yang dideritanya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2013
tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Okupasi Terapis.
2.
3. Slide materi mengenai OT Pada Kanker mata kuliah Ilmu Penyakit Dalam oleh
Bapak dr. Tri Gunadi, Amd.OT, S.Psi.
4.
5. Satyanegara. 2010. Ilmu Bedah Syaraf Edisi IV. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
6. http://tumorotak.org/
7. Http://diansistya.wordpress.com/2012/10/19/askep-post-craniotomi/
8. http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35597-Kep
%20Neurobehaviour-Askep%20Tumor%20Otak.html
9.

LAMPIRAN