Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FITOHORMON

..........................................................................

KELOMPOK 3
ANGGOTA KELOMPOK :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

DIXY DHAYANTI P.S


AZZAH MUALIFAH
CAHAYA UTAMI
PRATIWI MEGARANI
EKKY YUDHA PRATOMO
APRILIA ANGGRAINI

(12308141004)
(12308141010)
(12308141017)
(12308141031)
(12308141036)
(12308141039)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Cabai
Kedudukan tanaman cabai rawit dalam botani tumbuhan dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Subkingdom
: Tracheobionta
Super Divisi
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Sub Kelas
: Asteridae
Ordo
: Solanales
Famili
: Solanaceae
Genus
: Capsicum
Spesies
: Capsicum sp
Cabai masuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman
yang muda ditanam didaratan rendah ataupun didaratan tinggi organ penting dalam
tanaman cabai meliputi bagian cabai rawit merupakan tanaman tahunan yang tumbuh
tegak. Tanaman cabai merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri. Namun demikian,
persilangan antar varietas secara alami sangat mungkin terjadi dilapangan yang dapat
menghasilkan ras-ras cabai baru dengan sendirinya (Cahyono, 2003).
Cabai merupakan tanaman berkayu dengan panjang batang utama berkisar antara
20-28 cm dan diameter batang antara 1,5-2,5 cm. Percabangan batang berwarna hijau
dengan panjang mencapai 5-7 cm dengan diameter cabang dikotom sekitar 0,5-1 cm.
Bentuk percabangan menggarpu dengan posisi daun berselang-seling, daun berbentuk
hati, lonjong atau agak bulat telur (Dermawan, 2010)
Bunga cabai berbentuk seperti terompet atau bintang dengan warna bunga
umumnya putih, namun ada beberapa jenis cabai yang memiliki warna bunga ungu.
Bunga cabai rawit termasuk bunga sempurna, karena struktur bunga yang lengkap
seperti tangkai, dasar, kelopak, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin
betina. Buah cabai berbentuk kerucut memanjang, lurus atau bengkok. Bagian ujung
buah meruncing, mempunyai permukaan yang licin dan mengkilap, posisi buah
menggantung pada cabang tanaman. buah cabai mempunyai bentuk dan warna yang
beragam namun setelah masak besar berwarna merah.
Tanaman cabai dapat ditanam pada daratan tinggi maupun daratan rendah, di
sawah ataupun lahan kering atau tegalan, daerah tropik maupun subtropik. Tanaman
cabai dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, asal drainase dan aerasi cukup baik.

tanah yang paling ideal untuk tanaman cabai adalah mengandung bahan organik
sekurang-kurangnya 1,5% dan mempunyai pH 6,0-6,5 (Gultom, 2006)
Suhu tanah juga merupakan faktor penting karena sangat erat hubungannya
dengan penyerapan unsur hara oleh tanaman. Menurut Knott dan peningkatan suhu
tanah dari 13,3-14,4C dapat meningkatkan produksi buah cabai.
Menurut Gultom (2006) suhu udara yang optimum untuk pertumbuhan dan
perbungaannya adalah antara 21-27C dan pembuahan antara 15,5-21C. Suhu udara
yang paling cocok untuk pertumbuhan cabai rata-rata 16C pada malam hari dan
dibawah 3C pada siang hari (Welles, 1990). Intensitas curah hujan yang sesuai untuk
pertumbuhan cabai adalah 100-1200 mm/tahun.
Setiap tanaman memiliki periode fase vegetatif yang berbeda-beda. Selama fase
vegetatif ini berjalan pada periode tertentu, maka tanaman juga akan berangsur-angsur
masuk dan berganti ke fase generatif. Dalam satu daur pertumbuhan, fase vegettif dan
fase generatif saling bergantian.
a. Fase Vegetatif
Fase vegetatif adalah fase yang dimulai sejak perkecambahan biji, tumbuh
menjadi bibit dan dicirikan oleh pembentukan daun-daun yang pertama dan
berlangsung terus sampai masa berbunga dan atau berbuah yang pertama. Pada
tanaman cabai merah fase ini dimulai dari perkecambahan benih sampai tanaman
membentuk primordia bunga.
b. Fase Generatif
Fase generatif adalah fase yang ditandai dengan lebih pendeknya pertumbuhan
ranting dan ruas, lebih pendeknya jarak antar daun pada pucuk tanaman dan
pertumbuhan pucuk terhenti. Pada fase ini terjadi pembentukan dan perkembangan
kuncup bunga dan buah. Perkembangan dan kemajuan teknologi serta kemampuan
berevolusi dan beradaptasi, cabai yang dulu di tanam orang Indian di Amerika
mengalami perkembangan.
Dewasa ini tanaman cabai tidak hanya di makan segar, tetapi sudah banyak diolah
menjadi berbagai produk olahan lewat berbagai industri seperti saos cabai, sambal
cabai, pasta cabai, cabai bubuk, obat antesi dan salep. Teknik budidaya pun mengalami
perkembangan yang sangat pesat dan penyebaran cabai pertama kali dilakukan oleh
hewan bangsa burung dan tumbuh di hutan tanpa perawatan, tetapi sekarang sudah
bermunculan perusahaan benih cabai. Tanaman cabai pun sudah mulai ditanam dengan
perawatan intensif seperti pemupukan, pemberian hormon atau perangsang tumbuh,
pemakaian mulsa plastik, bahkan penanaman dengan teknik hidroponik (Taringan dan
Wiryanta, 2003)

B. Hormon Auksin/IAA
Auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan.
Auksin ini pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di
negeri belanda pada tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum
dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kearah cahaya.
Fenomena pembengkokan ini dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak
ditemukan Went didaerah koleoptil. Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan
koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada sisi yang tidak terkena
cahaya matahari (Salisbury dan Ross, 1995).
Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsi
utama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang. Beberapa auksin
dihasilkan secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA (Indo-leacetic Acid), PAA
(Phenylacetic Acid) dan IBA (Indolebutric Acid). Auksin juga sudah diproduksi secara
sintetic, seperti NAA (Napthalene Acetic Acid) 2,4 D dan MCPA (2-Methyl-4
Chlorophenoxyacetic Acid). Auksin adalah ZPT yang memacu pemanjangan sel yang
menyebabkan pemanjangan batang dan akar. Auksin bersifat memacu perkembangan
meristem akar adventif sehingga sering digunakan sebagai zat perangsang tumbuh akar
pada stek tanaman. Auksin juga mempengaruhi perkembangan buah, dominasi apikal,
fototropisme dan geotropisme. Kombinasi auksin dengan giberelin memacu
perkembangan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium
pembuluh, sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang (Lakitan, 2007). Istilah
auksin pertama kali digunakan oleh Frist Went seorang mahasiswa PascaSarjana di
negeri Belanda pada tahun 1926 yang kini diketahui sebagai asam indol-3 asetat atau
IAA (Salisbury dan Ross 1995).
Peran fisiologis auksin adalah mendorong perpanjangan sel, pembelahan sel,
diferensiasi jaringan xilem dan floem, pembentukkan akar, pembungaan pada
Bromeliaceae, pembentukan buah partenokarpi, pembentukkan bunga betina pada pada
tanaman diocious, dominan apical, response tropisme serta menghambat pengguran
daun, bunga dan buah (Sugihsantosa, 2009). Peranan Auksin dalam aktifitas kultur
jaringan auksin sangat dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi
terjadinya kalus, menghambat kerja sitokinin membentuk klorofil dalam kalus,
mendorong proses morfogenesis kalus, membentuk akar atau tunas, mendorong proses
embriogenesis, dan auksin juga dapat mempengaruhi kestabilan genetik sel tanaman
(Sugihsantosa, 2009).

Mekanisme kerja auksin yaitu memacu protein tertentu yang ada di membran
plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ ini mengaktifkan
enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul
selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang
masuk secara osmosis. Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis
kembali material dinding sel dan sitoplasma (Darmawan dan Baharsjah, 1983).
C. Dominansi Apikal
Dominansi apikal merupakan konsentrasi pertumbuhan pada ujung tunas
tumbuhan, dimana kuncup terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup
aksilar (Chambell.2000).
Thimann dan Skoog menunjukkan bahwa dominansi apikal disebabkan oleh
auksin yang didifusikan tunas pucuk ke bawah (polar) dan ditimbun pada tunas lateral,
hal ini akan menghambat pertumbuhan tunas lateral karena konsentrasinya masih
terlalu tinggi. Konsentrasi auksin yang tinggi inilah yang akan menghambat
pertumbuhan tunas lateral yang dekat dengan pucuk. Auksin diproduksi secara endogen
pada bagian pucuk tanaman yang akan didistribusikan secara polar yang mampu
menghambat pertumbuhan tunas lateral (Heddy, 1990)
Dominansi apikal atau dominansi pucuk biasanya menandai pertumbuhan
vegetatif tanaman, yaitu pertumbuhan akar, batang dan daun. Dominansi apikal
setidaknya berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan lateral. Selama masih ada
tunas pucuk, pertumbuhan tunas lateral akan terhambat sampai jarak tertentu dari
pucuk. Dominansi pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan
yang akan mendorong pertumbuhan tunas lateral (Filter, 1991)
Pemangkasan adalah kegiatan menghilangkan atau memotong pucuk, cabang atau
ranting tanaman dengan tujuan untuk meningkatkan hasil panen. Pada prinsipnya
pemangkasan pucuk akan merangsang tumbuhnya tunas lebih banyak (Purbiati, dkk,
1994 dalam Yuniastuti dkk, 2001)
Menurut Wochjar (1984) dalam Gernawi 1996, pada dasarnya pemangkasan
bertujuan untuk mengatur pertumbuhan vegetatif ke arah generatif. Dengan kata lain
mengatur tanaman agar hanya menghasilkan cabang-cabang yang produktif.
D. Fototropisme
Tropisme adalah gerakan tumbuh yang diakibatkan seluruhnya oleh rangsangan
eksternal. Rangsangan yang menghasilkan respon tropik jelas dapat diketahui dan peran
spesifik dari faktor tumbuh dapat diketahui (Heddy, S. 1986). Jika geraknya mendekati
sumber rangsang disebut tropi positif, dan kalau menjauhi disebut tropi negatif
(Prawirohartono, S. 1991).

Tropisme dapat dibedakan berdasarkan pada rangsangannya yaitu fototropisme


disebabkan oleh cahaya, geotropisme dengan rangsangan gaya tarik bumi,
tigmotropisme dengan rangsangan berupa sentuhan,khemotropisme dengan rangsangan
yang berupa zat kimia dan lain-lain. Respon tropisme bisa positif bisa negatif. Respon
positif jika bagian tumbuhan tumbuh kearah yang berlawanan. Respon negatif jika
bagian tumbuhan tumbuh kearah yang berlawanan dari datangnya rangsangan (Heddy,
S. 1986).
Fototropisme merupakan gerak tumbuh batang kearah matahari (Prawirohartono,
S. 1991). Teori Cholodniy-Went tentang fototropisme menetapkan bahwa penyinaran
sepihak merangsang penyebaran yang berbeda (diferensial) IAA dalam batang. Sisi
batang yang disinari mengandung IAA lebih rendah dari pada sel-sel yang disinari,
sehingga batang akan membengkok kearah sumber cahaya. (Heddy, S. 1986). Jika
perangsang itu berupa cahaya maka gerak bagian tanaman menuju kecahaya disebut
sebagai fototropi yang positif. Sebaliknya jika gerak itu menjauh dari perangsang, gerak
itu disebut sebagai fototropi yang negatif (Dwijoseputro 1984).
Sudah diketahui bahwa optimum konsentrasi IAA untuk perpanjangan sel akar
adalah kira-kira 100.000 kali lebih rendah daripada optimum konsentrasi untuk
perpanjangan sel-sel batang. Dengan kata lain, konsentrasi IAA yang merangsang
pertumbuhan akar. Sebaliknya konsentrasi IAA yang merangsang pertumbuhan adalah
sangat rendah untuk bisa menghambat pertumbuhan batang maupun untuk
merangsangpertumbuhan (Heddy, S. 1986). Contoh fototropisme yaitu, ujung batang
membengkok menuju ke cahaya. Hal ini dapat dilihat pada tanaman pot yang
ditempatkan dekat jendela atau dibawah tuturan, dimana cahaya hanya batang satu
pihak (Dwijoseputro 1984). Sisi yang mengarah matahari akan tumbuh lebih cepat dari
ujung akar akan tumbuh kearah yang berlawanan dari arah datangnya cahaya, sehingga
terjadinya fototropi negatif (Heddy, S. 1986).
E. Gravitropisme
Gravitropisme adalah gerakan pertumbuhan oleh organ tanaman, diorientasikan
pada gaya akselerasi gravitasi. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa pertumbuhan
batang mengarah ke atas sedangkan pertumbuhan akar berlawanan, yaitu mengarah ke
bawah. Orientasi ini tidak hanya berlaku pada posisi vertical permukaan bumi (Mohr
and Schopfer, 1995).
Betapa besar pengaruh cahaya terhadap geotropi akar dapat dilihat dengan
percobaan perkecambahan di dalam pemiaraan air. Hormon yang ada di bagian batang

dilemahkan oleh cahaya, sedang hormon yang terdapat di dalam bagian akar dipergiat
oleh cahaya (Dwidjoseputro, 1980).
Dari percobaan Charles Darwin menunjukkan bahwa jika ujung akar dipotong,
tidak ada respon pada rangsangan gravitasi dan asal persepsi dari rangsangan (ujung)
berbeda

dengan

asal

respon

(daerah

pemanjangan

sel)

hingga

tudung

akar terbentuk kembali.


Bila

respon

akar

dan

batang

tumbuhan

yang

diletakkan

horizontal

diperbandingkan, akar akan bereaksi geotropism positif, sedang batang geotropism


negatif. Pada kedua keadaan tersebut, posisi horizontal mengakibatkan perpindahan
IAA ke belahan bawah batang dan akar. Konsentrasi yang tinggi pada bagian bawah
akar menghambat pemanjangan sel, sedangkan konsentrasi IAA di belahan atas
mendorong pemanjangan sel. Hasil akhir dari kedua pengaruh ini, akar membengkok ke
bawah. Penyinaran sepihak merangsang penyebaran yang berbeda dari IAA. Sisi
tanaman yang disinari mengandung IAA lebih rendah dari pada sisi gelap. Akibatnya
sel-sel pada sisi yang gelap tumbuh lebih memanjang dari pada sel-sel yang
disinari (Heddy, 1989).
Auksin bersama dengan hormone pertumbuhan tanaman (ZPT), dapat
berpengaruh pada gravitropisme. Pada akar muda, jika tudung akar dibuang, maka akar
tidak akan membengkok ke bawah. Jika tudung akar dikembalikan, maka akar akan
membengkok ke bawah menuju pusat bumi. Perpanjangan sel akar tidak akan berhenti
jika hanya tudung akar dibuang, bias saja, selnya tumbuh menjadi lebih cepat.

BAB III
METODE
A. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat :
b. Waktu :
B. Variabel
- Variabel bebas :
- Variabel terikat :
C. Alat dan bahan
a. Alat :
b. Bahan :

D. Cara Kerja

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel hasil pengamatan
B. Pembahasan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya Cabai rawit dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta :
Kanisius
Chambell. 2000. Biologi. Jakarta : Erlangga
Darmawan, Baharsjah. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia
Dermawan,R dan Asep Harpenas. 2010. Budi Daya Cabai Unggul,Cabai Besar, Cabai
keriting, Cabai Rawit, dan Paprika. Jakarta : Penebar Swadaya
Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar fisiologi tumbuhan. Jakarta : Gramedia
Dwijoseputro, W. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia
Filter, A. H.dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Press
Gernawi, Y. 1996. Hasil Tanaman Melon (Curcunis melo L) pada Berbagai Takaran Pupuk
NPK dan Pemangkasan. Laporan Penelitian. Jambi : Balai Penelitian Universitas
Jambi
Gultom, Andry. 2006. Keragaman 13 Genotipe (Capsicum sp) dan Ketahanannya Terhadap
Penyakit Antraknosa yang Disebabkan Oleh Colletotrichum gloeosporioides (Penz).
Skripsi.IPB. Bogor
Heddy, Suwasono. 1986. Hormon Tumbuhan. Jakarta : CV Rajawali
Heddy, S. 1989. Hormon Tumbuhan. Jakarta : CV. Rajawali.
Heddy, Suwarsono. 1990. Biologi Pertanian. Jakarta : Rajawali Press
Lakitan, Benyamin. 2007. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Mohr H, Schopfer P. 1995. Plant physiology. 629pp. Berlin: Springer-Verlag. DM 98
(hardback)
Prawirohartono, S. dkk. 1991. Biologi. Jakarta : Erlangga
Salisbury, F.R, dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. Bandung: Institut
Teknologi Bandung
Sugihsantosa. 2009. Pedoman Teknologi Benih. Bandung: Pembimbing Masa
Tarigan, Wiryanta, W. 2003. Bertanam Cabai Hibrida Secara Intensif. Jakarta : Agromedia
Pustaka
Weles, G.W.H. 1990. Pepper international agric. Center Wageningen, the Netherlands
Yuniastuti. S., T. Purbiati, P. Santoso, dan E. Srihastuti. 2001. Pengaruh Pemangkasan
Cabang dan Apikal Paklobutrazol Terhadap Hasil dan Pendapatan Usaha Tani
Mangga. Jurnal Holtikultura 11 (4) : 223-231
Yox. 2008. Agronomi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

LAMPIRAN