Anda di halaman 1dari 9

Borang Portofolio Kasus

Topik :
Hipokondriasis
Tanggal (kasus) :
9 April 2015

Presenter :

Tanggal Presentasi :

Pembimbing :

17 April 2015

dr. Rizkia Mulyasari


dr. Ella Amalia/ dr.Nunung

Retno / dr.Anang, Sp.JP


Tempat Presentasi :
Ruang Presentasi Rumah Sakit Haji Darjad Samarinda
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Laki-Laki 38 tahun datang dengan perasaan takut akibat sakit kepala
Tujuan :
Penegakkan diagnosa dan pengobatan yang tepat dan tuntas.
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Nama : Laki-Laki,38tahun,
Data Pasien :
No. Registrasi :
Pemilik Bengkel Mobil
Nama Unit Pelayanan : RSHD Samarinda
Telp :
Terdaftar sejak :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Hipokondriasis / Pasien datang dengan keluhan utama cemas
akibat sakit kepala sejak 6 bulan terakhir. Sakit kepala bersifat hilang timbul dan membaik
dengan sendirinya, sakit kepala kadang muncul di dahi dan di belakang kepala,tidak ada
penjalaran ke daerah punggung,bahu maupun lengan. Tidak ada keluhan sakit kepala
sebelah,pusing berputar, sakit kepala hingga tembus ke mata ataupun sakit kepala yang
disertai dengan muntah. Pasien kadang-kadang sulit untuk memulai tidur malam hari. Akibat
sakit kepala ini pasien sering berkunjung ke berbagai dokter spesialis dan melakukan
berbagai pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, usg abdomen foto roentgen dada serta
pernah meminta dokter melakukan foto roentgen kepala dan ct scan kepala karena
menurutnya mungkin terdapat tumor, namun tidak pernah ditemukan kelainan dari
pemeriksaan tersebut.
2. Riwayat Pengobatan : Riwayat Asma (-), Alergi (-), Maag (+)
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit: Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini. Satu hari
sebelumnya pasien datang ke poli umum RSHD dengan keluhan sakit kepala dan meminta
cek lab, tanggal 9 pasien datang untuk berkonsultasi hasil cek lab.
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
5. Riwayat Pekerjaan : Pasien bekerja selama 10-12 jam dalam sehari selama 5 tahun terakhir.
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Ekonomi : Hubungan keluarga kurang baik, pasien bercerai
satu tahun yang lalu dan saat ini tinggal dengan anak perempuan berusia 6 tahun. Status
1

ekonomi menengah ke atas.


7. Riwayat lainnya : Pasien menyangkal penggunaan obat-obat tertentu dalam jangka panjang,
Pasien dulunya pecandu Alkohol namun sudah berhenti sejak 6 tahun yang lalu. Merokok
sejak muda hingga saat ini, dalam sehari bungkus.
8. Lain-lain : Hasil Pemeriksaan Lab dan USG tanggal 8 April 2014 dalam batas normal.
Daftar Pustaka :
1. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. 2003. Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Jakarta.
2. Olatunji B.O., Deacon B.J., and Abramoitz J.S. Is Hypochondriasis an Anxiety Disorder ?
The British Journal of Psychiatry. 2012; 194:481-482.
3. Sadock B.J and Sadock V.A. Kaplan and Sadocks Synopsis of Psychiatry Behavioral
Sciences / Clinical Psychiatry Tenth Edition. 2007. Lippincott Williams and Wilkins.
New York.
4. Bougeois J.A.,Xiong G.L Chang C.H., Liu D., Hilty D.M. Hypochondriasis: Common
Presentations and Treatment Strategies in Primary care and Specialty Settings Therapy
2009;323-38.
Hasil Pembelajaran :
1. Hipokondriasis
2. Penegakan diagnosa Hipokondriasis dan Gangguan Somatoform lainnya
3. Penatalaksanaan Hipokondriasis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif :

Keluhan Utama: Sakit kepala

Sakit kepala sejak 6 bulan terakhir. Sakit kepala bersifat hilang timbul dan membaik
dengan sendirinya, sakit kepala kadang muncul di dahi dan di belakang kepala,tidak ada
penjalaran ke daerah punggung,bahu maupun lengan. Tidak ada keluhan sakit kepala
sebelah,pusing berputar, sakit kepala hingga tembus ke mata ataupun sakit kepala yang
disertai dengan muntah. Pasien kadang-kadang sulit untuk memulai tidur malam hari.
Akibat sakit kepala ini pasien sering berkunjung ke berbagai dokter spesialis dan
melakukan berbagai pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, usg abdomen foto
roentgen dada serta pernah meminta dokter melakukan foto roentgen kepala dan ct scan
kepala karena menurutnya mungkin terdapat tumor, namun tidak pernah ditemukan
2

kelainan dari pemeriksaan tersebut.

Mual tidak ada, muntah tidak ada, BAB dan BAK normal.

2. Objektif :
Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Kesadaran

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

: Composmentis, GCS : E4V5M6

Nadi

Frekuensi Nafas : 20 x/ menit

Suhu

: 76 x/menit

: 36,60 C

Status Internus
Kepala : Tidak ada kelainan
Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung : Tidak ada kelainan


Tenggorokan : faring hiperemis (-), T1/T1
Thoraks
o Paru
Inspeksi : Gerakan nafas simetris kiri dan kanan
Palpasi

: Fremitus kiri sama dengan kanan

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru

Auskultasi : Vesikuler, rhonki ---/---, wheezing ---/--o Jantung


Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi

: Iktus cordis teraba di linea midclavicula sinistra ICS V

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi : S1 S2 reguler, suara jantung tambahan tidak ada


Abdomen
Inspeksi : Cembung
3

Palpasi

: Soefl, Nyeri tekan epigastrium (-), organomegali (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) normal


Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik
Laboratorium:
Tanggal 8 April 2015

Hb
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
GDA
SGPT
SGOT
Cholesterol
Asam urat

: 13,8 gr/dl
: 7.800/mm3
: 306.000/mm3
: 41 %
: 101
: 23
: 21
: 165
: 4,2

Assesment
Definisi
Hipokondriasis atau hipokondrik adalah suatu keadaan preokupasi berupa kekhawatiran
berlebihan menderita suatu penyakit berbahaya.1,2
Epidemiologi
Suatu penelitian yang terbaru menyatakan bahwa prevalensi hipokondriasis mencapai 4 -6 % dari
keseluruhan populasi medis umum, namun demikian angka presentase ini dapat mencapai 15
persen. Prevalensi dari hipokondriasis di lini pelayanan umum adalah 0,8-4,5%. Derajat
preokupasi dengan penyakit ini mulai terlihat umum, karena 10-20% dari pasien yang sehat dan
45% dari pasien dengan tanpa gangguan psikiatri umum memiliki kekhawatiran terkena suatu
penyakit tertentu.2
Laki-laki dan wanita mempunyai perbandingan yang sama untuk menderita hipokondriasis.
Walaupun onset penyakit dapat terjadi pada keseluruhan tingkatan umur, hipokondriasis paling
sering terjadi pada umur 20 sampai 30 tahun. Hipokondriasis juga didapatkan pada 3 persen
mahasiswa kedokteran terutama pada dua tahun pertamanya, namun keadaan ini hanyalah
hipokondriasis yang bersifat sementara.2,3Beberapa bukti menyatakan bahwa diagnosis adalah
lebih sering diantara kelompok kulit hitam dibandingkan kulit putih, tetapi status sosial,tingkat
pendidikan, dan status perkawinan tampaknya tidak mempengaruhi diagnosis.
Etiologi
Kriteria diagnosis untuk hipokondriasis, DSM IV-TR mengindikasikan bahwa gejala yang timbul
4

menunjukkan misinterpretasi pada gejala fisik yang dirasakan. Banyak data menunjukkan bahwa
orang dengan hipokondriasis memperkuat dan memperberat sensasi somatik yang mereka rasakan
sendiri. Pasien ini mempunyai batasan toleransi yang rendah terhadap ketidaknyamanan fisik.
Sebagai contoh, pada orang normal merasakan itu sebagai tekanan pada perut, pasien
hipokondriasis menganggapnya sebagai nyeri pada perut. Mereka menfokuskan diri pada sensasi
pada tubuh, salah menginterpretasikannya, dan menjadi selalu teringat oleh sensasi tersebut
karena kesalahan skema kognitifnya.3Teori yang lain mengemukakan bahwa hipokondriasis dapat
suatu sifat yang dipelajari yang dimulai dari masa kanak-kanak dimana pada anggota keluarganya
sering terpapar oleh suatu penyakit. Etiologi lain yang diajukan adalah bahwa hipokondriasis
merupakan bagian dari gangguan depresi atau obsesif-kompulsif dengan fokus gejala pada
keluhan fisik.3
Patofisiologi
Patofisiologi terdiri dari beberapa teori yaitu gangguan keseimbangan saraf autonom vegetatif,
sistem neurotransmiter, sistem endokrin, sistem imunitas, dan hiperalgesia alat visceral. Pada
gangguan keseimbangan saraf autonom, konflik emosi yang timbul diteruskan melalui korteks
serebri ke sistim limbik kemudian hipotalamus dan akhirnya ke sistem saraf autonom. Gejala
klinisnya adalah hiper/hipotoni simpatik, hipertoni parasimpatik, amfotoni dan ataksi. Respon
neurotransmiter terhadap stres mengaktifasi sistem noradrenergik di otak, tepatnya di lokus
ceruleus, menyebabkan pelepasan katekolamin dari sistem saraf autonom. Stres juga mengaktivasi
sistem serotonergik di otak. Demikian pula, stres meningkatkan neurotransmisi dopaminergik
pada jalur mesofontal.3
Pada sistem endokrin, sebagai respon terhadap stres hipotalamus mengeluarkan CRF kedalam
sistem hypophysial pituitary portal. CRF mencetuskan pelepasan ACTH yang merangsang
pembuatan dan pelepasan glukokortikoid di korteks adrenal. Efek glukokortikoid terhadap tubuh
sangat banyak akan tetapi dapat digabung dalam waktu singkat menimbulkan peningkatan
penggunaan tenaga, meningkatkan aktifitas kardio vaskular, dan menghambat fungsi seperti
pertumbuhan reproduksi dan imunitas. Inhibisi sistem imun menimbulkan aksi kompensasi aksis
hipotalamik pituitari adrenal untuk mengurangi efek fisiologis lain dari stres. Sebaliknya stres
juga dapat menggakibatkan aktifitas sistem imun melalui beberapa jalur. CRF merangsang
pelepasan norepinefrin melalui reseptor CRF di lokus ceruleus, yang kemudian mengaktifkan
sistem saraf simpatik sehingga meningkatkan pelepasan epinefrin dari medula adrenal. Sebagai
tambahan, juga ada jalur neuron norepinefrin yang bersinaps di sel target imun. Juga melalui

pelepasan faktor imun humoral.3


Manifestasi Klinis
Pasien dengan gangguan hipokondriasis secara khas datang dengan ketakutan dan perhatian
terhadap penyakitnya, dibandingkan dengan gejala yang dirasakannya. Pasien dengan
hipokondriasis percaya bahwa mereka sedang menderita suatu penyakit yang serius yang belum
pernah dideteksi,dan tidak dapat menerima penjelasan akan gangguan yang dideritanya mereka
terus menyimpan keyakinan bahwa mereka memiliki penyakit yang serius. Hipokondriasis
biasanya disertai dengan gejala depresi dan anxietas dan biasanya terjadi bersamaan dengan
gangguan depresi dan anxietas.2,4
Walaupun pada DSM-IV membatasi bahwa gejala yang timbul telah berlangsung paling kurang 6
bulan, keadaan hipokondrial yang sementara dapat muncul setelah stress yang berat, paling sering
adalah akibat kematian atau penyakit yang sangat serius dari seseorang yang sangat penting
bagi pasien, ataupun penyakit serius yang yang pernah diderita oleh pasien namun telah sembuh,
yang dapat meninggalkan keadaan hipokondrial sementara pada kehidupan pasien. Keadaan diatas
dimana perlangsungannya kurang dari enam bulan, maka di diagnosis sebagai gangguan
somatoform yang tak tergolongkan.2,4
Pemeriksaan Psikiatri
Tidak adanya kelainan pada pemeriksaan fisis, pada pemeriksaan yang serial, mendukung
diagnosis hipokondriasis. Namun demikian, pasien tetap harus menerima pemeriksaan fisis untuk
meyakinkan tidak ada kelainan organik. Pada pemeriksaan fisis, pada pasien hipokondriasis bisa
didapatkan:3
1.

Penampakan umum, kelakuan dan pembicaraan

Penampilan biasa, rapi


Kooperatif dengan pemeriksa, namun gelisah dan tidak mudah untuk ditenangkan
Dapat menunjukkan gejala anxietas berupa, tangan yang berkeringat,dahi berkeringat,

suara yang tegang atau gemetar, dan tatapan matayang tajam


2.Status psikomotor
Tidak dapat beristrahat dengan tenang
Selalu bergerak merubah posisi
Agitasi
Pergerakan lambat, apabila pasien kurang tidur
3. Mood dan afek

Bersemangat,atau cemas, depresi


Afek terbatas, dangkal, ketakutan, atau afek yang bersemangat.
6

4. Proses berpikir

Berbicara spontan dengan kadang-kadang secara tiba-tiba merubah topik yang sedang

dibicarakan
Berespon terhadap pertanyaan tetapi dapat mengalihkan kecemasannya pada hal lain
Tidak ada blocking

5. Isi pikiran

Preokupasi bahwa ia sedang sakit


Berbicara tentang apa yang dipikirkan bahwa dalam tubuhnya telah terjadi kesalahan,

kenapa bisa terjadi seperti demukian, dan bagaimanaia merasakannya


Dapat merasa putus asa dan tidak ada lagi harapan tentang penyakitnya, walaupun keadaan

ini biasa juga tidak terjadi


Tidak terdapat keinginan untuk bunuh diri, walaupun secara bersamaan terdapat depresi.

6.Fungsi kognitif

Penuh perhatian
Orientasi waktu, tempat dan orang baik
Jarang mengalami kesulitan dalam konsentrasi, memori.

7.Insight

Dapat mengenali sensasi yang muncul pada tubuhnya


Sering tidak terganggu
Dapat terganggu bila bersamaan dengan depresi

Diagnosis
Diagnosis hipokondriasis berdasarkan PPDGJ-III adalah:
1. Keyakinan yang menetap akan adanya sekurang-kurangnya satu penyaki fisik yang serius yang
melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang
adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan
deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham).
2. Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak di
temukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.
Sementara itu DSM-IV mendefinisikan hipokondriasis (F45.2) berdasarkan kriteria berikut
ini:1,3,4
1.Preokupasi berupa ketakutan atau pikiran menderita penyakit serius berdasarakan interpretasi
7

yang keliru mengenai gejala yang dirasakan.


2.Preokupasi untuk memastikan kondisinya dengan pemeriksaan medis tertentu.
3.Kepercayaan pada kriteria 1 bukanlah intensitas delusi (seperti gangguan delusi, tipe somatik)
dan tidak terpusat pada satu kelainan yang tampak (seperti pada gangguan dismorfik).
4.Preokupasi yang menyebabkan distress yang signifikan secara klinis atau gangguan dalam
hubungan sosial, pekerjaan, dan area penting lainnya.
5.Durasi gangguan tersebut paling tidak terjadi dalam 6 bulan.
6.Preokupasi tidak dapat diklasifikasikan dalam Generalized Anxiety Disorder, Obsessive
Compulsive Disorder,gangguan panik ,episode depresif mayor ,Separation Anxiety, atau gangguan
Somatoform lain.
Penatalaksanaan
Farmakoterapi digunakan sebagai pelengkap dari psikoterapi dan terapi edukasi yang dilakukan.
Tujuan dari pemberian farmakoterapi adalah untuk mengurangi gejala dan gangguan yang
menyertai (contohnya depresi), untuk mencegah komplikasi, dan untuk mengurangi gejala
hipokondriasis.2,3
Hipokondriasis hampir selalu disertai dengan gangguan depresi, anxietas, obsesif-kompulsif.
Apabila salahsatu dari gangguan diatas ada, penatalaksanaan yang sesuai haruslah dilakukan.
Biasanya terapi farmakologi diberikan dengan memulai dengan dosis rendah, kemudian dinaikkan
sampai pada dosis terapi. Hal ini untuk mencegah efek samping dimana pasien dengan gangguan
hipokondriasis sangat sensitif terhadap efek samping obat.2,5
Terapi Kognitif
Tujuan dari terapi kognitif untuk hipokondriasis adalah untuk mengarahkan pasien untuk
mengenali, bahwa masalah utama mereka adalah rasa takut terhadap menderita suatu penyakit dan
bukannya menderita penyakit itu. Pasien juga diminta untuk memantau sendiri kekhawatiran yang
muncul dan mengevaluasi kenyataan dan alasannya. Terapis juga membujuk pasien untuk
mempertimbangkan penjelasan alternatif untuk tanda fisik yang biasanya mereka interpretasikan
sebagai suatu penyakit. Percobaan mengenai kebiasaan juga digunakan sebagai usaha untuk
mengubah kebiasaan pikiran pasien. Singkatnya, pasien diberitahukan untuk secara intens fokus
pada gejala fisik yang spesifik dan memantau peningkatan rasa cemas yang muncul. Keluarga
juga perlu diikutsertakan untuk mengobservasi rasa cemas yang muncul.2,3
Manajemen Stres
8

Sebuah studi oleh Clark dkk membandingkan terapi kognitif dan juga manajemen stress
kebiasaan. Manajemen ini difokuskan pada keadaan dimana stress berkontribusi pada
kekhawatiran berlebihan terhadap kesehatan. Pasien diminta untuk mengidentifikasi stressor yang
ada dan diajarkan teknik manajemen stres untuk membantu pasien mampu menghadapi stressor
yang ada. Teknik yang diajarkan kepada pasien adalah teknik relaksasi dan kemampuan untuk
memecahkan masalah. Walaupun teknik ini tidak secara langsung difokuskan terhadap terapi
hipokondriasis, teknik ini mampu mengurangi gejala yang muncul.2,3
Pencegahan Paparan dan Respon
Terapi ini dimulai dengan meminta pasien membuat daftar kecemasan hipokondriasis mereka,
seperti memeriksa sensasi tubuh, memastikannya ke dokter, dan menghindari pikiran tentang
suatu penyakit.2,3
PLAN
DIAGNOSIS
Hipokondriasis
DIAGNOSIS MULTIAXIAL :
Axis I : Gangguan hipokondrik (F45.2)
Axis II : Ciri kepribadian cemas
Axis III : Belum ada diagnosis
Axis IV: Masalah dengan keluarga
Axis V: GAF 71-80 (gejala sementara,dapat diatasi,disabilitas ringan dalam pekerjaan,sosial)
TERAPI 08/04/2015
1. Analtram 2x1 cap
2. Lapraz 1x1 cap
RENCANA
Pasien dianjurkan berkonsultasi ke psikiater namun pasien menolak.
Pasien lebih menginginkan konsultasi ulang ke dokter spesialis syaraf.
Pendidikan :
Kepada pasien dijelaskan mengenai kemungkinan penyakit yang dideritanya dan tetap dianjurkan
untuk berkonsultasi dengan psikiater.