Anda di halaman 1dari 97

PENGEMBANGAN APLIKASI SISTEM ABSENSI

KARYAWAN DENGAN METODE BARCODE


PADA PT. KEMENANGAN JAYA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Komputer
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh :

ADAM PRATAMA
103091029590

TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2007

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKONOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang ditulis oleh :


Nama
: Adam Pratama
NIM
: 103091029590
Semester
: VIII ( Delapan )
Fakultas
: Sains dan Teknologi
Jurusan
: Teknik Informatika
Judul Skripsi : Pengembangan Aplikasi Sistem Absensi Karyawan
Dengan Metode Barcode Pada PT. Kemenangan Jaya
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar
Sarjana Komputer pada program studi Teknik Informatika, Fakultas Sains
dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, September 2007
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Yusuf Durachman, M.Sc


NIP. 150 378 017

Joko Adianto, M.InfSys

Mengetahui,
Dekan

Ketua Program Studi

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis


NIP. 150 317 956

Nurhayati, M.Kom
NIP. 150 293 241

PENGEMBANGAN APLIKASI SISTEM ABSENSI


KARYAWAN DENGAN METODE BARCODE
PADA PT. KEMENANGAN JAYA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Komputer
Pada Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh :
Adam Pratama
103091029590
Menyetujui,
Pembimbing I,

Pembimbing II,

Yusuf Durachman, M.Sc


NIP. 150 378 017

Joko Adianto, M.InfSys

Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Informatika

Nurhayati, M.Kom
NIP. 150 293 241

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi ini yang berjudul : Pengembangan Aplikasi Sistem Absensi


Karyawan Dengan Metode Barcode Pada PT. Kemenangan Jaya. Telah diuji
dan dinyatakan Lulus dalam Sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi,

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada hari

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Teknik Informatika.


Jakarta, September 2007

Penguji I,

Penguji II,

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis


NIP. 150 317 956

DR. Zainul Arham, S.Kom., M.Si

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Yusuf Durachman, M.Sc


NIP. 150 378 017

Joko Adianto, M.InfSys

Dekan
Fakultas Sains dan Teknologi

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis


NIP. 150 317 956
4

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI
ATAUPUN LEMBAGA MANAPUN.

Ciputat, September 2007

Adam Pratama
103091029590

Pengembangan Aplikasi Sistem Absensi Karyawan Dengan


Metode Barcode Pada PT. Kemenangan Jaya
Adam Pratama
Universitas Islam Negeri Jakarta
Di Bawah Bimbingan
Bapak Yusuf Durachman, M.Sc dan Bapak Joko Adianto, M.InfSys.

ABSTRAK

PT. Kemenangan Jaya merupakan sebuah perusahaan berskala


menengah yang bergerak di bidang penyediaan berbagai macam bahan
eksterior dan interior bangunan. Pada perusahaan ini terdapat suatu
sistem absensi karyawan yang masih berjalan secara manual, dimana
dalam penerapan sistem absensi ini terdapat beberapa hal yang menjadi
kendala, yaitu diantaranya adalah keefektifan dan efisiensi waktu dan
proses pengabsenan, bentuk laporan absensi yang masih berupa
hardcopy yang dapat menyulitkan dalam proses pencarian data, dan
kemungkinan terjadinya data absensi yang hilang.
Dengan alasan di atas maka penulis mencoba untuk memberikan
alternatif pemecahan masalah dengan membuat suatu aplikasi sistem sbsensi
yang akan mencatat data dan daftar kehadiran karyawan, waktu kedatangan,
waktu pulang, yang akan dibuat secara sistematis dan terkomputerisasi dengan
metode barcode, sehingga akan menghilangkan proses pencatatan kehadiran
karyawan yang selama ini telah berjalan secara manual pada PT. Kemenangan
Jaya dan juga dengan penggunaan metode barcode akan mengurangi tingkat
kesalahan penginputan ID Pegawai dalam proses absensi tersebut.

Pada penulisan ini juga akan diterangkan tahapan pengerjaan, mulai


dari proses analisa, perencanaan, konstruksi yang menggunakan aplikasi
Borland Delphi 5 dan SQL Server 2000 untuk database-nya, hingga tahapan
pengimplementasian dengan menggunakan metode spiral dengan notasi
perekayasaan dan pendekatan berorientasi objek, UML (Unified Modelling
Languange), dengan membuat use case diagram, sequence diagram, class
diagram, flow map (sebagai indikasi prosedur arus data pada sistem yang
akan diterapkan), dan analisa masukan serta keluaran, untuk mengetahui
data apa saja yang akan menjadi masukan dan keluaran.

Kata Kunci : Barcode, Aplikasi Sistem Absensi, ID Pegawai, UML, Use Case

Diagram, Sequence Diagram, Class Diagram, Flow Map


6

KATA PENGANTAR

Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan dan menyusun skripsi ini.
Adapun judul dari skripsi ini adalah Pengembangan Aplikasi Sistem Absensi
Karyawan Dengan Metode Barcode Pada PT. Kemenangan Jaya.
Penyusunan skripsi ini tidak mungkin dapat penulis laksanakan dengan baik
tanpa bantuan dari berbagai pihak yang terkait. Untuk itu penulis ingin
mengucapkan banyak terima kasih secara khusus kepada beberapa pihak tertentu :

5.1.DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, selaku Dekan Fakultas Sains


dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.2. Ibu Nurhayati, M.Kom, selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika
dan Ibu Viva selaku Sekretaris Program Studi Teknik Informatika.

5.3.Bapak Yusuf Durachman, M.Sc dan Bapak Joko Adianto M.InfSys


selaku Dosen Pembimbing, yang telah memberikan waktu dan
perhatiannya dalam penyusunan skripsi ini.
5.4. Bapak Ali Selaku Manager Operasional PT. Kemenangan Jaya, yang
telah membantu dan memberikan waktu dalam penyelesaian skripsi ini

5.5.Seluruh Karyawan dan staf PT Kemenangan Jaya, yang telah


membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini
5.6. Ibunda Hj. Tuty Alawiyah dan Ayahanda H. Santoso, serta adik dan
Roofina yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini

1. Seluruh Dosen Teknik Informatika, yang telah memberikan ilmu dan


bimbingannya selama penulis menyelesaikan studi di Teknik Informatika

2. Teman-teman Teknik Informatika Kelas D angkatan 2003, yang


telah melewatkan waktu bersama selama masa studi.

Penulis sadar masih banyak sekali kekurangan dari skripsi ini, dan
penulis terbuka terhadap segala saran dan kritik yang membangun.
Akhir kata penulis mempersembahkan skripsi ini dengan segala kelebihan
dan kekurangannya, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, amien.

Ciputat, September 2007

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Perkembangan dunia teknologi informasi saat ini semakin cepat memasuki
berbagai

bidang,

sehingga

kini

semakin

banyak

perusahaan

yang

berusaha

meningkatkan usahanya terutama dalam bidang bisnis yang sangat berkaitan erat
dengan teknologi informasi itu sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa
Kegunaan komputer pada aplikasi bisnis adalah untuk menyediakan informasi dengan
cepat dan tepat. Informasi ini ibarat darah yang mengalir di dalam tubuh suatu
perusahaan. Jika di dalam suatu perusahaan, informasi tersebut terhenti atau terhambat,
maka sistem perusahaan akan menjadi lusuh (Jogiyanto, 1999:96).

Salah satu perkembangan teknologi informasi yang penting adalah


semakin dibutuhkannya penggunaan alat pengolah data yang berfungsi untuk
menghasilkan informasi yang dibutuhkan. Perusahaan-perusahaan yang ingin
mengembangkan usaha dan mencapai sukses harus mengikuti era informasi
dengan menggunakan alat pendukung pengolah data yaitu komputer. Hal ini
didukung oleh pernyataan yang diutarakan bahwa komputer digunakan untuk
mengelola sumber daya yang luas dari perusahaan-perusahaan yang
memandang seluruh dunia sebagai pasar mereka dimana pada eksekutif
perusahaan melakukan investasi pada teknologi informasi dengan tujuan
mencapai skala ekonimis dan dapat mengembangkan produk yang dapat dijual
di seluruh dunia (Mcleod, 1998:92).

Dengan adanya komputer sebagai alat pengolah data, maka semua


bidang dalam suatu perusahaan ataupun instansi dapat dikomputerisasikan,
dalam hal ini bidang-bidang yang dianggap penting dan utama karena hal ini
dapat mendukung keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Dalam kajian ini penulis ingin memberikan suatu solusi dengan merancang dan
mengaplikasikan suatu alur kerja sistem absensi berdasarkan sistem absensi manual
yang sudah ada pada PT. Kemenangan Jaya yang masih kurang efektif dan efisien, dan
membuat sistem basis data yang akan digunakan dalam aplikasi absensi yang
terkomputerisasi, user Interface untuk mengelola basis data tersebut, dan aplikasi
absensi yang terkomputerisasi dengan baik antara sistem basis data, user interface, dan
user itu sendiri dengan penambahan metode barcode untuk memberikan solusi optimal
yang telah terkomputerisasi, kecepatan dan ketepatan pengolahan data, dan
mengurangi

tingkat

kesalahan

pada

waktu

proses

pengabsenan

berlangsung

(http://www.wikipedia.com/barcode). Oleh sebab itu dengan berdasarkan alasan ini


penulis mencoba mengambil tema dalam penulisan skripsi ini dengan judul :
Pengembangan Aplikasi Sistem Absensi Karyawan Dengan Metode Barcode Pada PT.
Kemenangan Jaya.

1.2 Rumusan Masalah


PT. Kemenangan Jaya yang bergerak dibidang retail berkeinginan untuk
memiliki suatu sistem informasi absensi karyawan yang dapat menggantikan sistem
absensi yang telah ada namun masih berjalan secara manual. Keinginan ini timbul
karena perusahaan ini mengalami kesulitan dalam mengolah data informasi

10

absensi sehingga mengakibatkan semakin banyaknya hardcopy arsip


dan menyulitkan ketika pihak manajemen personalia perusahaan
bermaksud untuk merekap dan melakukan pendataan ulang data dan
daftar hadir karyawan yang telah berlangsung selama 1 tahun lamanya.
Proses pengabsensian yang telah ada di PT. Kemenangan Jaya dapat
dikatakan masih kurang efisien dan efektif karena semua masih dilakukan
secara manual, mulai dari pendataan dan penghitungan jam hadir, jam keluar,
lama waktu kerja, sampai dengan keterangan tidak masuk karyawan.
Sedangkan di departemen personalia, pengaksesan ini belum memiliki sesuatu
sistem informasi pegawai yang baik. Semua hal tersebut sering mengakibatkan
hasil yang kurang teliti dan memakan waktu yang lama. Masalah yang utama
yang timbul dikarenakan adanya faktor kelelahan mental akibat hanya ada
seorang staff yang bertanggung jawab dalam perhitungan jam kerja.
Penggunaan metode barcode pada aplikasi sistem absensi karyawan ini juga
akan membuat sistem absensi ini menjadi lebih efektif dan efisien karena setiap pegawai
hanya akan menempelkan kartu ID karyawan pada perangkat barcode scanner yang
telah tersedia dimana penghitungan jam hadir dan jam keluar karyawan akan masuk
pada database, kemudian hasil inputan nomor induk karyawan atau barcode akan
menjadi acuan jam kedatangan karyawan tersebut.

Dalam pembuatan skripsi ini, penulis akan memberikan suatu


solusi tentang :
1 Bagaimana sistem absensi ini dapat membantu proses
pencatatan data dan daftar hadir karyawan.

11

2. Bagaimana memberikan report harian, bulanan, dan tahunan


data dan daftar hadir karyawan.

2.1.2.3 Batasan Masalah


Aplikasi sistem absensi dengan metode barcode pada Perusahaan
Kemenangan Jaya akan memberikan suatu report pencatatan atau log secara harian,
bulanan, dan tahunan tentang data dan daftar hadir karyawan, waktu kedatangan, waktu
pulang. Aplikasi absensi ini hanya akan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan data
dan daftar kehadiran karyawan, dan tidak melakukan pengaturan terhadap penentuan
waktu kedatangan dan kepulangan karyawan.

Aplikasi ini tidak akan melakukan penghitungan penggajian


karyawan berdasarkan lamanya waktu kerja karyawan dan aplikasi ini
juga tidak terhubung dengan database perusahaan, karena aplikasi ini
merupakan suatu aplikasi tambahan yang berdiri sendiri sehingga tidak
akan mengganggu dan mengacaukan database pusat yang terhubung
dengan data keseluruhan dan keterangan aktifitas perusahaan.
Pendeteksian absensi pada aplikasi ini terbatas pada metode dan
teknologi yang digunakan, yakni barcode dan tidak menggunakan teknologi
pendeteksian yang lain seperti fingerprint scan atau yang lainnya.

12

1.4

Tujuan Pembuatan
Tujuan dari diadakannya penelitian, perancangan, dan pembuatan aplikasi

absensi dengan sistem barcode dalam menunjang penulisan skripsi ini adalah

untuk :
1. Menyusun suatu sistem informasi yang berbasis komputer
secara sistematis, terstruktur, terarah dan lengkap dengan
demikian sistem informasi yang dibuat benar-benar berguna
dan mengefisienkan pekerjaan dalam perusahaan.
2. Memberikan suatu solusi dengan merancang, memberikan
hasil report, dan mengimplementasikan Aplikasi absensi yang
telah dibuat dan akan digunakan di Perusahaan Kemenangan
Jaya

sebagai

penunjang

proses

pendataan

kehadiran

karyawan yang ada dan dilakukan pada perusahaan tersebut.

1.5

Manfaat Penulisan
Manfaat yang akan didapat dari penulisan skripsi dalam pembuatan dan

pengaplikasian sistem absensi dengan barcode ini adalah sebagai berikut :

2.1.3 Membantu

Perusahaan

Kemenangan

Jaya

untuk

mengubah sistem absensi yang telah berjalan secara manual


menjadi suatu sistem absensi yang terkomputerisasi.
2.1.4 Membantu

Perusahaan

Kemenangan

Jaya

dalam

meningkatkan kinerja dan etos kerja serta kedisiplinan kerja


kepada para karyawannya.

13

Membantu pendataan dan daftar hadir karyawan perusahaan dengan


memberikan suatu solusi optimal yang telah terkomputerisasi dan berbasis
data dengan penggunaan metode barcode.

Sistem aplikasi absensi ini akan mampu untuk melakukan


beberapa fasilitas dan fungsi seperti : Mempunyai password
yang berguna untuk melindungi pemakaian sistem oleh orang
yang tidak berwenang, sistem mempunyai fasilitas pengendali
error yaitu berupa pesan kesalahan atau proses yang akan
muncul dalam sistem.pengabsensian, mampu menyimpan
data-data mengenai data pribadi dan data absensi karyawan,
dan sistem dapat melakukan pencarian data
Memberikan suatu report secara berkala tentang data dan
daftar kehadiran karyawan sebagai bahan acuan peningkatan
etos dan kedisiplinan karyawan dalam perusahaan
Memberikan input perbaikan guna meningkatkan sistem yang
sudah ada agar lebih optimal.

1.6

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam perancangan dan pengembangan sistem

aplikasi absensi karyawan ini adalah dengan menggunakan beberapa metode,

antara lain :
1. Metode Interview

14

Koentjaraningrat (1985:167) mengartikan interview sebagai


sebuah

tindakan

pengumpulan

informasi

dengan

cara

mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab


secara lisan pula yang akan digunakan dalam tahap analisa.

4. Metode Pengembangan Sistem


Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penulisan

skripsi ini adalah dengan menggunakan model pengembangan


sistem spiral.
Model Spiral yang diusulkan oleh Boehm (1988), menggambarkan
sebuah tahapan proses pengembangan perangkat lunak, yang terdiri
dari enam wilayah tugas (Pressman, 1997:47), yaitu antara lain :

A. Komunikasi Pelanggan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi

yang efektif di antara pengembang dan pelanggan.


B. Perencanaan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber daya,

ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.

C. Analisis Resiko
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk menaksir resiko-resiko, baik

manajemen maupun teknis.

15

D. Perekayasaan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih
representasi dari aplikasi tersebut. Penulis menggunakan notasi UML

sebagai case tool dalam perekayasaan sistem.


E. Konstruksi dan Peluncuran
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji,
memasang, dan memberikan pelayanan kepada pemakai. Jika
seluruh obyek yang dibutuhkan telah selesai didesain maka tahap
selanjutnya adalah mengkonstruksikan obyek-obyek yang telah
selesai didesain ke dalam kode bahasa pemrograman. Bahasa
pemrograman yang penulis gunakan ialah Borland Delphi 5 sebagai
pembuatan

aplikasi

sistemnya

dan

menggunakan

aplikasi

perancangan database MS SQL Server 2000.

F. Evaluasi Pelanggan
Langkah ini melakukan pengujian fungsionalitas dan efisiensi
sistem pada saat sistem tersebut telah selesai dibuat dan

diimplementasikan.
G. Menarik Kesimpulan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik dari
pelanggan dengan didasarkan pada evaluasi representasi perangkat
lunak yang dibuat selama masa perekayasaan dan diimplementasikan

selama masa pemasangan.

16

1.7

Sistematika Penulisan
Penyusunan penulisan skripsi ini dilaksanakan dengan beberapa metode

dan format susunan yang terbagi ke dalam beberapa bab, yang terdiri dari :

1. BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang beberapa hal umum tentang maksud dan tujuan
penulisan skripsi serta pelaksanaan penelitian pada Perusahaan
PT. Kemenangan Jaya sebagai acuan dalam pembuatan aplikasi
absensi dengan sistem barcode, yang terdiri dari latar belakang
dilaksanakannya penelitian, tujuan dari diadakannya penelitian,
perancangan, dan pembuatan aplikasi sistem absensi dengan
metode barcode dalam menunjang penulisan skripsi, manfaat
penulisan, metode pelaksanaan dan penulisan skripsi, serta
sistematika dalam penyusunan skripsi ini.

2. BAB II : Landasan Teori


Menjelaskan tentang konsep dasar aplikasi absensi, penjelasan singkat
tentang barcode concept, sejarah singkat aplikasi Delphi 5 sebagai aplikasi
pembangun utama, dan konsep database serta penjelasan singkat tentang
microsoft access sebagai aplikasi database yang akan digunakan dalam
pembuatan aplikasi absensi ini.

17

3. BAB III : Metodologi Penelitian


Menjelaskan tentang metode yang digunakan dalam menyelesaikan
kasus

pendataan

dan

pengaplikasian

sistem

absensi

pada

perusahaan tersebut, perancangan yang berisi semua metode yang


berhubungan dengan topik yang dibahas dan akan digunakan dalam
pembuatan aplikasi sistem absensi ini, serta penganalisaan masalah
yang ada dalam perusahaan sehingga dapat diberikan suatu solusi
optimal terhadap permasalahan yang ada.

4. BAB IV : Pembahasan
Menjelaskan tentang pembahasan sistem yang yang berisikan
konsep, alur, dan pola pikir program dalam bentuk flowchart,
bagaimana sistem absensi ini nantinya akan berjalan, dan tahaptahap yang diperlukan dalam menjalankan sistem absensi ini dengan
disertai dengan metode atau teknik yang digunakan dalam
melaksanakan penelitian serta menyelesaikan masalah yang dimulai
dari perancangan data sampai kepada terselesaikannya masalah.

5. BAB V : Kesimpulan dan Saran


Berisi tentang kesimpulan dari penelitian dan hasil akhir dari pemecahan
masalah setelah dibuat aplikasi absensi dengan barcode ini serta saran
yang dianggap penting atau dijalankan pada masa yang akan datang untuk
kesempurnaan hasil penelitian atau pemecahan

18

masalah, sehingga masalah serupa tidak terjadi lagi serta antisipasi


terhadap timbulnya masalah lain setelah pengaplikasian sistem
absensi ini dapat berjalan dengan baik pada perusahaan tempat
penelitian untuk penulisan skripsi ini dilakukan.

6. Daftar Pustaka
Berisi daftar pustaka atau referensi-referensi baik berupa
media cetak maupun media elektronik yang dapat dijadikan
acuan dalam penelitian tugas akhir.

19

BAB II
LANDASAN TEORI

5.7.

Konsep Dasar Sistem


1.

Pengertian Sistem
Sistem dilihat dari segi etimologinya berasal dari bahasa

inggris yaitu sistem yang berarti susunan, cara, jaringan (Echols


dan Shadily, 2000:575). Menurut Hartono (1999:683), sistem
adalah suatu kesatuan yang terdiri dua atau lebih komponen atau
subsistem yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Pengertian sistem dalam kamus besar bahasa Indonesia
berarti Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan
sehingga membentuk suatu totalitas.

5.2.

Elemen Sistem
Elemen yang terdapat dalam sistem meliputi : tujuan sistem,

batasan sistem, kontrol, input, proses, output, dan umpan balik.

20

Hubungan antar elemen dalam sistem dapat dilihat pada gambar


2.1 di bawah ini (Kristanto, 2003:2) :

TUJUAN
BATASAN
KONTROL

INPUT

PROSES

OUTPUT

UMPAN BALIK

Gambar 2.1 Elemen Sistem

Dari gambar di atas bisa dijelaskan sebagai berikut : tujuan,


batasan, dan kontrol sistem akan berpengaruh pada input, proses,
dan output. Input dalam sistem akan diproses dan diolah sehingga
menghasilkan output, dimana output tersebut akan dianalisis dan
akan menjadi umpan balik bagi si penerima. Kemudian dari umpan
balik ini akan muncul segala macam pertimbangan untuk input
selanjutnya. Selanjutnya siklus ini akan berlanjut dan berkembang
sesuai dengan permasalahan yang ada (Kristanto, 2003:2).

2.1.2.1 Tujuan Sistem


Tujuan sistem dapat berupa tujuan organisasi, kebutuhan

organisasi, permasalahan yang ada dalam suatu organisasi

21

maupun urutan prosedur untuk mencapai tujuan organisasi.


Jadi, dapat dikatakan bahwa tujuan sistem adalah tujuan
yang akan dicapai dari pembuatan suatu sistem.

2.1.2.2 Batasan Sistem


Batasan sistem adalah sesuatu yang membatasi sistem
dalam pencapaian tujuan. Batasan sistem dapat berupa peraturan
yang ada dalam organisasi, sarana dan prasarana, maupun batasan

yang lain.
2.1.2.4 Kontrol Sistem
Kontrol sistem merupakan pengawasan terhadap
pelaksanaan pencapaian tujuan dari sistem tersebut. Kontrol
sistem dapat berupa kontrol terhadap pemasukan data (input),
output, pengolahan data, umpan balik, dan sebagainya.

2.1.2.4 Input
Merupakan suatu elemen dari sistem yang bertugas
untuk menerima seluruh masukan data yang dapat berupa jenis

data, frekuensi pemasukan data, dan lainnya.


2.1.2.5 Proses
Merupakan elemen dari sistem yang bertugas untuk

mengolah atau memproses seluruh masukan data menjadi


suatu informasi yang lebih berguna.

22

2.1.2.6 Output
Merupakan hasil dari input yang telah diproses oleh

bagian pengolah dan merupakan tujuan akhir dari sistem.


2.1.2.7 Umpan Balik
Umpan balik merupakan elemen dalam sistem yang
bertugas mengevaluasi bagian dari output yang dikeluarkan,
dimana elemen ini sangat penting demi kemajuan sebuah
sistem. Umpan balik in dapat berupa perbaikan sistem,
pemeliharaan sistem, dan sebagainya (Kristanto, 2003:3-4).

2.1.5 Klasifikasi Sistem


Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang,

diantaranya adalah sebagai berikut :


2.

Sistem Abstrak dan Sistem Fisik


Sistem abstrak merupakan sistem yang berupa pemikiran atau

ide-ide yang tidak tampak, sedangkan sistem fisik adalah sistem

yang ada secara fisik.


2.

Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia


Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses

alam, sedangkan sistem buatan manusia adalah sistem yang terjadi


dan ada karena merupakan hasil rancangan dari manusia.

23

3. Sistem Tertentu dan Sistem Tidak Tentu


Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah

dapat diprediksi, dimana interaksi antar bagiannya dapat


dideteksi dengan pasti sehingga keluaran dari sistem
dapat diramalkan. Sedangkan sistem tidak tentu adalah
sistem dimana kondisi masa depannya tidak dapat
diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
4. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka
Sistem tertutup adalah sistem yang tidak berhubungan dan

tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Secara


teoritis sistem ini ada, namun pada kenyataannya tidak
ada sistem yang benar-benar tertutup. Sedangkan sistem
terbuka adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh
dengan lingkuna luarnya (Kristanto, 2003: 4-6).

2.2

Konsep Dasar Informasi


2.2.1 Pengertian Informasi
Menurut Kristanto (2003:6), Informasi merupakan kumpulan data

yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti
bagi yang menerimanya.
Sedangkan menurut Mcleod (1998:15), Informasi adalah
data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti.

24

2.2.2 Siklus Informasi


Siklus informasi dimulai dari data mentah yang diolah melalui
suatu model menjadi informasi (output), kemudian informasi diterima oleh penerima,
sebagai dasar untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti akan
membuat data kembali. Kemudian data tersebut akan ditangkap sebagai input dan
selanjutnya membentuk siklus.

2.2.3 Kualitas Informasi


Kualitas dari suatu informasi tergantung dari tiga hal berikut :

1. Akurat
Informasi harus bebas dari kesalahan dan tidak bias atau

menyesatkan.

Akurat

juga

berarti

informasi

harus

jelas

mencerminkan maksudnya. Informasi harus akurat karena dari


sumber informasi sampai ke penerima informasi kemungkinan
banyak terjadi gangguan (noise) yang dapat merubah atau
merusak informasi tersebut.
2. Tepat Pada Waktunya
Informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat.

Informasi yang sudah usang tidak akan memiliki nilai lagi, karena
informasi merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan.
Bila pengambilan keputusan
3. Relevan
Relevan dalam hal ini adalah dimana informasi tersebut
memiliki manfaat dan keterkaitan dalam pemakaiannya.
Relevansi informasi untuk tiap satu individu dengan individu
25

lainnya memiliki perbedaan (Kristanto, 2003:6).

2.3

Konsep Dasar Sistem Informasi


2.3.1 Pengertian Sistem Informasi
Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi
yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media,
prosedur, dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur
komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi
sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian internal
dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar informasi
untuk pengambilan keputusan yang baik (Hartono, 1999:697)

Sedangkan menurut Kristanto (2003:11), sistem informasi


didefinisikan sebagai berikut :
1. Suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari
komponen dalam organisasi untuk mencapai suatu
tujuan yaitu menyajikan informasi.
2. Sekumpulan

prosedur

organisasi

yang

pada

saat

dilaksanakan akan memberikan informasi bagi pengambil


keputusan dan atau untuk mengendalikan organisasi.

26

2.3.2 Komponen Sistem Informasi


Untuk mendukung lancarnya suatu sistem informasi dibutuhkan
beberapa komponen yang fungsinya sangat vital di dalam sistem informasi,

yaitu antara lain :


1. Blok Masukan
Input mewakili data yang masuk ke dalam sistem informasi.
Input dalam hal ini termasuk metode dan media untuk menangkap

data yang akan dimasukkan yang dapat berupa dokumen dasar.

2. Blok Model
Blok ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model

matematik yang akan memanipulasi data input dan data


yang tersimpan pada basis data dengan cara yang sudah
tertentu untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
3. Blok Keluaran
Produk dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan

informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk

semua tingkatan manajemen serta semua pamakai sistem.


4. Blok Teknologi
Teknologi merupakan kotak alat (tool box) dalam sistem
informasi. Teknologi digunakan untuk menerima input,
menjalankan model, menyimpan dan mengakses data,
menghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu
pengendalian dari sistem secara keseluruhan.

27

5. Blok Basis Data


Basis data merupakan kumpulan dari data yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di perangkat

keras komputer, dan dipergunakan perangkat lunak untuk


memanipulasinya.
6. Blok Kendali
Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk

meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat merusak sistem


dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan dapat
langsung dengan cepat diatasi (Kristanto, 2003 : 12-13).

2.4

Rekayasa Perangkat Lunak


Pressman (1997:10) mengemukakan bahwa perangkat lunak adalah :

1. Perintah (program komputer) yang bila dieksekusi memberikan


fungsi dan unjuk kerja seperti yang diinginkan.
2. Struktur data yang memungkinkan program memanipulasi
informasi secara proporsional
3. Dokumen yang menggambarkan operasi dan kegunaan program

Sedangkan menurut Sommerville (2000:6) perangkat lunak adalah program


komputer dan dokumentasi yang berhubungan, dimana produk perangkat lunak tersebut
dapat dikembangkan untuk pelanggan tertentu atau pasar umum.

28

Rekayasa perangkat lunak menurut Sommerville (2000:7) adalah Disiplin


ilmu yang membahas semua aspek produksi perangkat lunak, mulai dari tahap
awal spesifikasi sistem sampai pemeliharaan sistem setelah digunakan.

2.5

UML (Unified Modelling Language)


2.5.1 Sejarah UML
Proses analisis untuk mengidentifikasi objek dan kelas objek
dianggap sebagai salah satu area yang paling sulit mengenai
pengembangan berorientasi objek. Identifikasi objek pada dasarnya
sama dengan analisis dan perancangan. Berbagai metode analisis
berorientasi objek diusulkan pada tahun 1990-an. Metode-metode ini
mempunyai banyak kesamaan dan tiga dari pengembang utamanya
(Grady Booch, Jim Rumbaugh dan Ivan Jacobson) memutuskan
untuk mengintegrasikan pendekatan mereka untuk menghasilkan
metode yang terunifikasi yang dinamakan UML (Nugroho, 2004:20).
Pendekatan UML memiliki nilai yang sangat baik dalam penyelidikan
dan penelitian. Perangkat UML distandarkan sebagai peralatan untuk dokumen
analisa dan perancangan dari sistem perangkat lunak. Peralatan UML termasuk
diagram yang memberikan seseorang untuk menampilkan konstruksi dari
sebuah sistem object oriented.

Unified Modelling Language (UML) menurut Hermawan (2004:7)


adalah bahasa standar yang digunakan untuk menjelaskan dan

29

memvisualisasikan artifak dari proses analisis dan desain sistem


berorientasi obyek.
Dalam penjelasan lain dikatakan bahwa UML merupakan
bahasa pemodelan yang paling sukses dari tiga Object Oriented
yang telah ada yaitu Booch, OMT dan OOSE. Dan UML adalah
kesatuan dari ketiga pemodelan tersebut dan ditambah kemampuan
untuk mengatasi pemodelan yang tidak dapat ditangani oleh ketiga
metode pemodelan tersebut (Nugroho, 2004:20).

Object Management Group, Inc. (OMG) adalah sebuah


organisasi perkumpulan taraf internasional yang terbentuk tahun
1989 memiliki anggota lebih dari 800 anggota yang terdiri dari
perusahan sistem informasi, software development dan para user.
Organisasi inilah yang mempromosikan teori-teori dan praktekpraktek object oriented technology dalam rekayasa software.
OMG inilah yang mengeluarkan UML setelah terbentuknya
Object Oriented Architecture (OOA) yang menjadi penentuan
infrastruktur konseptual perkembangan Object Oriented Technology,
dimana dengan adanya UML ini dapat mengurangi kekacauan dalam
bahasa pemodelan pengembangan sistem software dan juga
diharapkan dapat membantu menjawab permasalahan penotasian
dan mekanisme tukar-menukar model yang terjadi selama ini.

30

2.5.2 Tujuan dan Cakupan UML


2.5.2.1 Tujuan UML
Menurut Suhendar dan Gunadi (2002:30) bahwa tujuan

utama UML adalah :


A. Memberikan model yang siap pakai, bahasa
pemodelan

visual

yang

ekspresif

untuk

mengembangkan dan saling menukar model


dengan mudah dan dimengerti secara umum.
B. Memberikan

bahasa

pemodelan

yang

bebas

dari

berbagai bahasa pemrograman dan proses rekayasa.

C. Menyatukan

praktik-praktik

terbaik

yang

terdapat dalam pemodelan.

2.5.2.2 Cakupan UML


Cakupan UML menurut Suhendar dan Gunadi
(2002:30) ialah :
A. UML menggabungkan konsep Booch, OMT,
dan OOSE, sehingga UML merupakan suatu
bahasa pemodelan tunggal yang umum dan
digunakan secara luas oleh para user .
B. UML menekankan pada apa yang dapat
dikerjakan dengan metode-metode tersebut.
C. UML berfokus pada suatu bahasa pemodelan standar.

31

2.5.3 Notasi dan Artifak Dalam UML


2.5.3.1 Actor
Actor menurut Hermawan (2004:14) adalah segala
sesuatu yang berinteraksi dengan sistem aplikasi komputer. Jadi
actor ini bisa berupa orang, perangkat keras , atau mungkin juga
obyek lain dalam sistem yang sama. Biasa nya yang dilakukan
oleh actor adalah memberikan informasi pada sistem dan atau
memerintahkan sistem untuk melakukkan sesuatu.
Notasi actor dapat dilihat pada gambar 2.2 di bawah ini :

Notasi Aktor

Gambar 2.2 Notasi aktor

2.5.3.2 Class
Class menurut Hermawan (2004:14) merupakan
pembentuk utama dari sistem berorientasi obyek, karena class
menujukan kumpulan obyek yang memiliki atribut dan operasi yang
sama. Class digunakan untuk mengimplementasikan interface. Notasi
class dapat dilihat pada gambar 2.3 di bawah ini

Gambar 2.3 Notasi class

32

Class digunakan untuk mengabstraksikan elemen


dari sistem yang sedang di bangun. class bisa untuk
merepresentasikan baik perangkat lunak maupun prangkat
keras, baik konsep maupun benda nyata.
Notasi class berbentuk persegi panjang berisi tiga bagian
persegi paling atas untuk nama class, persegi panjang paling bawah
untuk operasi, dan persegi panjang di tengah untuk atribut.

Atribut digunakan untuk menyimpan informasi.


Nama atribut menggunakan kata benda yang dapat
dengan jelas merepresentasikan infomasi yang di simpan
di dalamnya. Operasi menunjukan sesuatu yang bisa di
lakukan oleh obyek. Dan menggunakan kata kerja.

2.5.3.3 Use Case


Menurut Hermawan (2004:16) Use case menjelaskan

urutan kegiatan yang di lakukan actor dan sistem untuk


mencapai suatu tujuan tertentu walaupun menjelaskan
kegiatan namun use case hanya menjelaskan apa yang
dilakukan oleh actor dan sistem, bukan bagai mana actor
dan sistem melakukan kegiatan tersebut.

33

Notasi Use case dapat dilihat pada gambar 2.4 di bawah

ini :

Gambar 2.4 Notasi Use Case

Di

dalam

use

case

terdapat

teks

untuk

menjelaskan urutan kegiatan yang di sebut use case


specification. Use case specification terdiri dari:
1. Nama use case
Mencantumkan nama dari use case yang
bersangkutan. Sebaiknya di awali dengan kata
kerja untuk menujukan suatu aktivitas.
2. Deskripsi singkat ( brief description )
Menjelaskan secara singkat dalam 1 atau 2 kalimat

tentang tujuan dari use case ini.


3. Aliran normal (basic flow)
Ini adalah jantung dari use case. Menjelaskan
interaksi antara actor dan sistem dalam kondisi normal, yaitu
segala seuatu berjalan dengan baik, tiada halangan atau
hambatan dalam mencapai tujuan dari use case.

34

4. Aliran alternatif (alternate flow)


Merupakan perlengkapan dari basic flow karena tidak

ada yang sempurna dalam setip kali use case


berlangsung. Di dilam alternate flow ini dijelaskan
apa yang akan terjadi bila suatu halangan terjadi
sewaktu use case berlangsung. Ini terutama
berhubungan dengan error yang mungkin terjadi,
misalnya karena sistem kekurangan data untuk
diolah (usia pegawai belum di input), terjadi
masalah eksternal (printer belum di turn-on).
5. Special requirement
Berisi kebutuhan lain yang belum tercukup dalam
aliran normal dan alterntif. Biasanya secara tegas di bedakan
bahwa basic flow dan alternate flow menangani kebutuhan
fungsional dari use case, sementara special requirement
yang

tidak

berhubungan

dengan

fungsional,

misalnya

kecepatan transaksi maksimum berapa cepat dan berapa


lama kapasitas akses jumlah user yang akan mengakses
dalam waktu bersamaan.

6. Pre-condition
Menjelaskan persyaratan yang harus di penuhi
sebelum use case bisa di mulai.

35

7. Post-condition
Menjelaskan kondisi yang berubah atau terjadi saat

use case selesai di eksekusi.

2.5.3.4 Interaction
Menurut Hermawan (2004:18) interaction digunakan
untuk menunjukan baik aliran pesan atau informasi antar
obyek mupun hubungn antar obyek. Biasanya interaction ini
dilengkapi juga dengan teks bernama operation singnature
yang tersusun dari nama operasi, parameter yang di kirim
dan tipe parameter yang di kembalikan Notasi interaction
dapat dilihat pada gambar 2.5 di bawah ini :

Gambar 2.5 Notasi Interaction

2.5.3.5 Interface
Menurut Hermawan (2004:15) interface merupakan
kumpulan operasi tanpa implementasi dari suatu class. Implementasi
operasi dalam interface di jabarkan dalam operasi dalam class. Oleh
karena itu keberadaan interface selalu di sertai oleh class yang
mengimplementasikan operasinya. Interface ini merupakan salah satu
cara mewujudkan prinsip enkapsulasi dalam

36

obyek. Notasi interface dapat dilihat pada gambar 2.6 di bawah

ini :

Gambar 2.6 Notasi interface

2.5.3.6 Package
Package adalah container atau wadah konseptul yang di

gunkan

untuk

mengelompokan

elemenelemen

dari

sistem yang sedang di bangun, sehingga bisa dibuat


model yang lebih sederhana.
Tujuannya

adalah

untuk

mempermudah

penglihatan (visibility) dari model yang sedang di bangun.


Notasi Package dapat dilihat pada gambar 2.7 di bawah
ini :

Gambar 2.7 Notasi Package

2.5.3.7 Note
Note di bangun untuk memberikan keterangan dan
komentar tambahan dari suatu elemen sehingga bisa langsung
terlampir dalam model. Note ini bisa ditempelkan kesemua

37

elemen notasi yang lain. Notasi Note dapat dilihat pada Gambar

2.8 di bawah ini :

Gambar 2.8 Notasi Note

2.5.3.8 Dependency
Dependency merupakan relasi yang menunjukan bahwa

perubahan pada suatu elemen memberi pengaruh pada


elemen yang lan. Elemen yang ada di bagian tanda panah
adalah elemen yang tergantung pada elemen yang ada di
bagian tanpa ada tanda panah.
Terdapat dua stereotype dari dependency, yaitu include
dan extend . include menunjukan bahwa suatu bagian dari
elemen (yang ada di garis tanpa panah ) memicu eksekusi
bagian dari elemen lain (yang ada di garis dengan panah),
misalnya untuk notasi A -- >B operasi yang ada di class A
memicu dieksekusinya operasi yang berada di class B .

Extend menunjukkan bahwa suatu bagian dari


elemen di garis tanpa panah bisa disisipkan ke dalam elemen
yang ada di garis dengan panah, misalnya untuk notasi A->B suatu fungsi dari use case A bisa disisipkan ke dalam use
case B atau dengan kata lain A optional untuk B.

38

Ke dua stereotype ini di representasikan dengan


menambahkan text include atau extend di notasi dependency.
Notasi dependency dapat dilihat pada gambar 2.9 di bawah ini :

Gambar 2.9 Notasi Dependency

2.5.3.9 Association
Association menggambarkan navigasi antar class

(navigation),

berapa

banyak

obyek

lain

yang

bisa

berhubungandengan satu obyek (multiplicity antar class ),


dan apakah suatu class menjadi bagian dari class lainnya
(aggregation).
Navigation dilambangkan dengan penambahan anda
panah di akhir garis. Bidirectional navigation menunjukkan
bahwa dengan mengetahui salah satu class bisa di dapatkan
dari

informasi

lainnya.

sementara

dengan

unidirectional

navigation hanya dengan mengetahui class di ujung garis


association tanpa panah kita bisa mendapatkan informasi dari
class di ujung dengan panah, tetapi tidak sebaliknya. Notasi
Association dapat dilihat pada gambar 2.10 di bawah ini :

Gambar 2.10 Notasi Association

39

2.5.3.10 Generalization
Generalization menunjukan hubungan antar elemen yang

lebih umum ke elemen yang lebih spesifik (sub class),


dengan generalization, class yang lebih spesifik akan
menurunkan atribut dan operasi dari class yang lebih umum
(superclass), atau subclass is a superclass. Dengan
menggunakan notasi generalization ini konsep inheritance
dari prinsip hirarki dimodelkan. Notasi Generalization dapat
dilihat pada gambar 2.11 di bawah ini :

Gambar 2.11 Notasi Generalization

2.5.3.11 Realization
Realization menunjukan hubungan bahwa elemen yang

ada di bagian tanpa panah akan merealisasikan apa yang


dinyatakan oleh elemen yang ada di bagian depan panah.
Misalnya

class

merealisasikan

package,

component

merealisasikan class atau interface. Notasi Realization


dapat dilihat pada gambar 2.12 di bawah ini :

Gambar 2.12 Notasi Realization

2.5.3.12 Use Case Diagram

Menurut Hermawan (2004:23) Use Case Diagram


(UCD) menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh sistem yang

40

akan dibangun dan siapa yang akan berinteraksi dengan sistem.


Use case diagram menjadi dokumen kesepakatan antara customer,
User, dan Developer. User menggunakan dokumen UCD untuk
memahami sistem dan mengevaluasi bahwa benar yang dilakukan
sistem adalah untuk memecahkan masalah yang user ajukan atau
sedang dihadapi. Developer menggunakan dokumen UCD ini sebagai
rujukan yang benar dalam pengembangan sistem.

UCD pada umumnya menggunakan elemen actor,


use case, dependency, generalizatiom dan Association. UCD
ini memberikan gambaran statis dari sistem yang sedang
dibangun dan merupakan artifak dari proses analisis.

2.5.3.13 Sequence Diagram


Menurut Hermawan (2000:24) Sequence diagram
menjelaskan secara detail urutan proses yang dilakukan
dalam sistem untuk mencapai tujuan dari use case: interaksi
yang terjadi antar class, operasi apa saja yang terlibat, urutan
antar operasi, dan informasi yang diperlukan oleh masingmasing operasi. Pembuatan sequence diagram merupakan
aktivitas yang paling kritikal dari proses disain karena artifak
inilah yang menjadi pedoman dalam proses pemrograman
nantinya dan berisi aliran kontrol dari program.

41

sequence diagram biasanya tersusun dari elemen obyek,

Interaction dan Message. Interaction menghubungkan 2 Obyek


dengan pesannya. Diagram ini menjelaskan aspek dinamis dari
sistem yang sedang dibangun. Di dalam sequence diagram,
terdapat kelas boundary, control dan entity.

2.5.3.14 Class Diagram


Sama seperti class, maka class diagram merupakan
diagram yang selalu ada di pemodelan sistem berorientasi obyek.

Class diagram menunjukan hubungan antar class yang


sedang

dibangun

dan

bagaimana

mereka

saling

berkolaborasi untuk mencapai suatu tujuan.


Class diagram umumnya tersusun dari elemen class,
interface,

dependency,

Generalization

dan

Association.

Relasi

dependency menunjukan bagaimana terjadi ketergantungan antar


class yang ada. Relasi Generalization menunjukan bagaimana suatu
class menjadi superclass dari class lainnya dan class tersebut menjadi
subclasss dari class tersebut. Relasi Association menggambarkan
navigasi antar class, berapa banyak obyek lain bisa berhubungan
dengan satu obyek (multiplicity antar class), dan apakah satu class
menjadi bagian dari class lainnya (agregation). Class diagram
digunakan untuk menggambarkan disain statis dari sistem yang
sedang dibangun.

42

2.6

Konsep Database Management System


Menurut Kristanto (1999:25) Suatu DBMS (Database Management

System) berisi satu koleksi data yang saling berelasi dan satu set program untuk
mengakses data tersebut. Jadi DBMS terdiri dari Database dan Set Program pengelola
untuk menambah data, menghapus data, mengambil dan membaca data.

Sedangkan database sendiri merupakan kumpulan file-file yang


saling berelasi, relasi tersebut biasa ditunjukkan dengan kunci dari tiap
file yang ada. Satu database menunjukkan satu kumpulan data yang
dipakai dala satu lingkup perusahaan/instansi. (Kristanto, 1999:9).
Dalam satu file terdapat record-record yang sejenis, sama besar, sama
bentuk, merupakan satu kumpulan entity yang seragam. Satu record terdiri dari
field-field yang saling berhubungan untuk menunjukkan bahwa field tersebut
dalam satu pengertian yang lengkap dan direkam dalam satu record. Untuk
menyebut isi dari field maka digunakan atribut atau merupakan judul dari satu
kelompok entity tertentu, misalnya atribut Alamat menunjukkan entity alamat
dari siswa. Entiti adalah suatu objek yang nyata yang akan direkam.

Set program pengelola merupakan satu paket program yang dibuat


agar memudahkan dan mengefisienkan pemasukkan atau perekaman
informasi dan pengambilan atau pembacaan informasi ke dalam database.

43

2.6.1. Definisi
1. Entity
Entity adalah orang, tempat, kejadian atau konsep yang
informasinya direkam. Pada bidang Administrasi Siswa
misalnya, entity adalah siswa, buku, pembayaran, nilai test.
Pada bidang kesehatan, entity adalah pasien, dokter, obat,
kamar, diet (Kadir, 1998:46).
2. Atribut
Setiap entity mempunyai atribut atau sebutan untuk mewakili
suatu entity. Seorang siswa dapat dilihat dari atributnya, misalnya nama,
nomor siswa, alamat, nama orang tua, hobi. Atribut juga disebut sebagai
data elemen, data field, data item(Kadir, 1998:46)..

3. Data Value (Nilai atau Isi Data)


Data value adalah data aktual atau informasi yang disimpan

pada tiap data elemen atau atribut. Atribut nama karyawan


menunjukkan tempat dimana informasi nama karyawan
disimpan, sedang data value adalah Icha Fitriyanti, Adam
Pratama, merupakan isi data nama karyawan tersebut.
4. Record/Tuple
Kumpulan elemen elemen yang saling berkaitan
menginformasikan tentang suatu entity secara lengkap. Satu record
mewakili satu data atau informasi tentang seseorang misalnya, nomor
karyawan, nama karyawan, alamat, kota, tanggal masuk.

44

5. File
Kumpulan record record sejenis yang mempunyai panjang
elemen yang sama, atribut yang sama, namun berbeda beda data

valuenya.
6. Database
Kumpulan file file yang mempunyai kaitan antara satu file
dengan file yang lain sehingga membentuk satu bangunan
data untuk menginformasikan satu perusahaan, instansi
dalam batasan tertentu.
Bila terdapat file yang tidak dapat dipadukan atau dihubungkan
dengan file yang lainnya berarti file tersebut bukanlah kelompok dari
satu database, ia akan dapat membentuk satu database sendiri.

7. DBMS (Database Management System)


Kumpulan file yang saling berkaitan bersama dengan program
untuk pengelolaannya disebut sebagai DBMS. Database adalah
kumpulan datanya, sedang program pengelolanya berdiri sendiri dalam
satu paket program yang komersial untuk membaca data, mengisi data,
menghapus data, melaporkan data dalam database.

45

Hubungan antara definisi di atas dapat dilihat pada gambar 2.13 berikut :

DATABASE UNIVERSITAS

Entity Siswa
No. Induk
Nama
105091029613 Icha
Fitriyanti

Record/Tuple

Relasi
Entity Mata kuliah
Kode
MT01
AA01
BA01
TK01

Data

Nama Mata kuliah


Kalkulus 1
Analisa Algoritma
Bahasa Automata
Teknik Kompilasi

Retrieve

Program Aplikasi
Query Language
Menu-menu
PAKET PROGRAM

Gambar 2.13 Gambaran DBMS (Database Management System)

46

2.6.2. Perancangan Database


Merancang Database merupakan suatu hal yang sangat penting.

Kesulitan utama dalam merancang database adalah bagaimana


merancang sehingga suatu database dapat memuaskan keperluan
saat ini dan masa mendatang. Perancangan model konseptual perlu
dilakukan di samping perancangan model fisik. Pada perancangan
konseptual akan menunjukkan entity dan relasinya berdasarkan
proses yang diinginkan oleh organisasi. Ketika menentukan entity
dan relasinya dibutuhkan analisis data tentang informasi yang ada
dalam spesifikasi di masa mendatang (Nugroho, 2004:191).
Pada pendekatan model konseptual, beberapa konsep pendekatan

Relational digunakan, namun tidak berarti konsep ini nantinya


diimplementasikan ke model Relational saja tetapi dapat juga
dipakai pada model Hierarchical dan model Network.

2.6.2.1 Merancang Model Konseptual Database


Pada perancangan model konseptual penekanan
tinjauan dilakukan pada struktur data dan relasi antara file.
Tidaklah perlu dipikirkan tentang terapan dan operasi yang
akan dilakukan pada database.

47

Pendekatan yang dilakukan pada perancangan


model konseptual adalah menggunakan model data
relational, Terdapat dua buah teknik yaitu :
1. Teknik Normalisasi
Proses

Normalisasi

merupakan

proses

pengelompokkan data elemen menjadi tabel yang


menunjukkan entity dan relasinya.
Menurut Kadir (1998:65), Pada proses normalisasi
selalu diuji pada beberapa kondisi. Apakah ada
kesulitan pada saat menambah/insert, menghapus/
delete, mengubah/update, membaca/retrieve pada satu
database. Bila ada kesulitan pada pengujian tersebut
maka relasi tersebut dipecahkan pada beberapa tabel
lagi atau dengan kata lain perancangan belumlah
mendapat database yang optimal.
Normalisasi

adalah

proses

untuk

mengorganisasikan data secara efisien dalam sebuah


database.

Terdapat

dua

tujuan

dalam

proses

normalisasi, yaitu menghilangkan redundansi data dan


memastikan bahwa dependensi data masuk akal.

Menurut

Kadir

(1998:73),

Ada

beberapa

bentuk dari normalisasi, yaitu antara lain :


A. Bentuk Tidak Normal (Unnormalized Form)

48

Bentuk ini merupakan kumpulan data yang


akan direkam, tidak ada keharusan mengikuti
suatu format tertentu, dapat saja data tidak
lengkap atau terduplikasi. Data dikumpulkan
apa adanya sesuai dengan kedatangannya.
B. Bentuk Normal Kesatu (1NF/First Normal
Form)
Bentuk Normal kesatu mempunyai ciri yaitu
setiap data dibentuk dalam flat file (file datar/rata),
data dibentuk dalam satu record demi satu record
dan nilai dari field-field berupa atomatic value.
Tidak ada set atribut yang berulang-ulang atau set
atribut yang bernilai ganda (multivalue).

Tiap field hanya satu pengertian, bukan


merupakan kumpulan kata yang mempunyai arti
ganda, hanya satu arti saja dan juga bukanlah
pecahan kata-kata sehingga artinya lain.
Bentuk 1 NF menentukan aturan dasar dalam
mengorganisasikan sebuah database, yaitu :

1) Menghilangkan

duplikasi

kolom

di

dalam tabel yang sama


2)

Membuat tabel yang terpisah untuk setiap


grup dari data yang berhubungan dan

49

mengidentifikasikan

setiap

baris

dengan sebuah kolom yang unik atau


menentukan primary key.
C. Bentuk Normal Kedua (2NF/Second Normal
Form)
Bentuk nomal kedua mempunyai syarat, yaitu
bentuk data telah memenuhi kriteria bentuk normal
kesatu.

Atribut

yang

bukan

kunci

haruslah

bergantung secara fungsi kepada primary key.

Sehingga untuk membentuk normal kedua


haruslah sudah ditentukan kunci-kunci field.
Kunci field haruslah unik dan dapat mewakili
atribute lain yang menjadi anggotanya.
Bentuk normal kedua merupakan konsep
dari

pemindahan

data

duplikasi,

dengan

melakukan langkah-langkah sebagai berikut :


1) Temukan semua kebutuhan yang ada
pada bentuk normal form
2)

Pindahkan subset dari data yang ada pada


beberapa baris dari tabel dan tempatkan
mereka pada tabel yang terpisah.

50

3) Buat relationship diantara tabel baru


ini

dengan

menginisialiasi

penggunaan foreign key.

D. Bentuk Normal Ketiga (3NF/Third Normal


Form)
Untuk menjadi bentuk normal ketiga maka
relasi haruslah dalam bentuk normal kedua
dan

semua

atribute

bukan

primer

tidak

memiliki hubungan yang transitif. Dengan kata


lain, setiap atribut bukan kunci haruslah
bergantung hanya pada primary key dan pada
primary key secara menyeluruh.
Langkah yang dilakukan dalam bentuk 3
NF antara lain :
1) Temukan

semua

kebutuhan

dari

yang

tidak

bentuk normal kedua.


2) Pindahkan

kolom

bergantung pada primary key.

E. Bentuk Normal Boyce-Codd (BCNF)


BCNF merupakan merupakan bentuk normal
sebagai perbaikan terhadap 3NF. Suatu relasi yang

51

memenuhi BCNF selalu memenuhi 3NF tapi


tidak sebaliknya.
Dalam banyak literatur disebutkan bahwa
BCNF adalah perbaikan dari 3NF, karena bentuk
normal ketiga pun mungkin masih mengandung
anomali sehingga perlu dinormalisasi lebih lanjut.

Suatu relasi disebut memenuhi bentuk


normal Boyce-Codd jika dan hanya jika semua
penentu (determinan) adalah kunci kandidat
(atribut yang bersifat unik).

F. Dependensi Nilai Banyak dan Bentuk


Normal Keempat (4NF/Fourth Normal
Form)
Dependensi
(Multivalued

nilai

banyak

Dependency)

atau

MVD

dipakai

pada

bentuk normal keempat yang dipakai untuk


menyatakan hubungan satu ke banyak.
Secara praktis, suatu relasi memenuhi
bentuk normal keempat yaitu antara lain :
1) Telah memenuhi bentuk BCNF
2) Tidak mengandung dua atribut atau
lebih yang bernilai banyak

52

G. Dependensi

Gabungan

dan

Bentuk

Normal Kelimz (5NF/Fifth Normal Form)


Bentuk 5NF atau yang terkadang disebut PJ/NF

(Projection

Join/Normal

Form)

menggunakan

acuan dependensi gabungan. Suatu relasi berada


dalam 5NF jika dan hanya jika setiap gabungan
dalam R tersirat oleh kunci kandidat relasi R.

Secara praktis dapat dikatakan suatu


relasi R berada dalam 5NF jika data yang ada
padanya tak dapat lagi didekomposisi menjadi
relasi-relasi yang lebih kecil.

2. Teknik Entity Relationship


A. Perancangan Database Teknik Entity
Relationship
Database adalah kumpulan file yang saling
berkaitan. Pada model data relational hubungan
antar file direalisasikan dengan kunci relasi
(relation key)., yang merupakan kunci utama dari
masing-masing file. Perancangan database yang
tepat

akan

menyebabkan

paket

program

relational lainnya akan bekerja secara optimal.

53

B. Entity Relationship Concept


Relasi antara dua file atau tabel dapat
dikategorikan menjadi tiga macam. Demikian pula
untuk membantu gambaran relasi secara lengkap,
terdapat juga tiga macam relasi dalam hubungan
atribut dalam satu file, yaitu antara lain :

1) One To One Relationship 2 File


Hubungan antara file pertama dengan file

kedua adalah satu berbanding satu


2) One To Many Relationship 2 File
Hubungan antara file pertama dengan file

kedua adalah satu berbanding banyak atau


dapat pula dibalik banyak berbanding satu
3) Many To Many Relationship 2 File
Hubungan antara file pertama dengan file

kedua adalah banyak berbanding banyak.

2.7

Sekilas Tentang Delphi


2.7.1 Sejarah Delphi
Menurut Pranata (2000:xvii), ide munculnya Delphi sebenarnya
berasal dari bahasa pemrograman yang cukup terkenal, yaitu pascal. Bahasa
pascal sendiri telah diciptakan pada tahun 1971 oleh ilmuwan dari

54

Swiss. Yaitu Niklaus Wirth. Nama Pascal diambil dari ahli


matematika dan filsafat dari prancis yaitu Blaise Pascal (1623-1662).

Sejak saat itu muncul beberapa versi Pascal di antaranya


Turbo Pascal yang dirilis Borland Internasional Incorporation pada
tahun 1983. Turbo Pascal yang muncul pertama kali hanya dapat
dijalankan di sistem operasi DOS, namun dalam perkembangan
selanjutnya, Borland International juga merilis Turbo Pascal yang
berjalan di Windows 3.x, yaitu Turbo Pascal For Windows.
Pada tahun 1992, Borland International menggabungkan Turbo Pascal
For DOS dengan Turbo Pascal For Windows menjadi satu paket bahasa
pemrograman yang dikenal dengan nama Borland Pascal versi 7.
Karena pemrograman Windows dengan Borland Pascal masih dirasa
cukup sulit, sejak tahun 1993 Borland Internasional mengembangkan bahasa
Pascal yang bersifat visual, hasil dari pengembangan ini adalah dirilisnya Delphi
1 pada tahun 1995. Perkembangan Delphi tidak berhenti sampai di situ. Satu
tahun berikut nya, Pada tahun 1996, Borland Internasional merilis Delphi 2 yang
sudah bersifat 32 bit, dengan kata lain Delphi 2 hanya bisa dijalankan pada

Windows 95 dan Windows NT. Pada tahun 1997,1998, dan 1999,


Borland Internasional yang berganti nama menjadi Inprise
Corporation berturut turut kembali merilis Delphii 3, 4 dan 5 dan
yang sekarang berkembang adalah Delphi 7.0.

55

2.7.1.1 IDE (Integrated Development Environment) Delphi


Pada dasarnya IDE milik Delphi di bagi menjadi 6 bagian

utama, yaitu menu, Speed Bar, Component Pallete, Form


Designer, Code Editor dan Object Inspector. Untuk lebih
jelasnya lihat gambar 2.14 dibawah ini.

Gambar 2.14 Bagian-bagian IDE Delphi

Di bawah ini akan di jelaskan masing-masing komponen

tersebut.
1. Menu
Menu pada Delphi memiliki kegunaan seperti menu
pada aplikasi windows lainnya. Dari menu ini, anda bisa
memanggil atau menyimpan program, menjalankan dan
melacak bug program, dsb. Singkatnya segala sesuatu

56

yang berkaitan dengan IDE Delphi dapat anda lakukan


dari menu (Kusnassriyanto dan Sjahriyanto, 2005:4).

2. Speed Bar

Gambar 2.15 Speed Bar Pada IDE Delphi 7

Pada gambar 2.15 di atas adalah Speed Bar atau


sering disebut juga toolbar berisi kumpulan tombol
yang tidak lain adalah pengganti beberapa menu yang
sering digunakan, dengan kata lain, setiap tombol
pada Speed Bar menggantikan salah satu item menu
(Kusnassriyanto dan Sjahriyanto,2005:5)

3. Component Palette

Gambar 2.16 Component Palette Pada IDE Delphi 7

Component palette adalah berisi kumpulan ikon yang


melambangkan komponen-komponen pada VCL (Visual
Component Library).VCL merupakan pustaka komponen
yang digunakan untuk membangun aplikasi. Pada

Component Pallete terdapat beberapa tab antara lain


Standard, Additional, Data Access dan seterusnya

57

(Kusnassriyanto dan Sjahriyanto, 2005:5). Komponen


tersebut dapat dilihat pada gambar 2.16 di atas..

4. Form Designer
Form Designer adalah tempat dimana anda dapat

merancang

jendela dari aplikasi Windows

(Kusnassriyanto dan Sjahriyanto, 2005:6).


5. Code Editor
Code Editor adalah tempat dimana anda menuliskan

program (Kusnassriyanto dan Sjahriyanto, 2005:14)


Code Editor tersebut dapat dilihat pada gambar
2.17 di bawah ini :

Gambar 2.17 Code Editor pada IDE Delphi

6. Object Inspector
Object inspector digunakan untuk mengubah
karakteristik sebuah komponen. Pada Object Inspector
terdapat dua tab, yaitu Properties dan Events

(Kusnassriyanto dan Sjahriyanto,2005:7).

58

Gambar Object Inspector tersebut dapat dilihat pada

gambar 2.18 di bawah ini :.

Gambar 2.18 Object Inspector

2.8

Konsep Pemrograman Berorientasi Objek


Menurut Hermawan (2004:5), Object Oriented Programming adalah

konsep

yang

membagi

program

menjadi

objek-objek

yang

saling

berinteraksi satu sama lain. Dalam pemrograman berorientasi objek,


komponen yang didesain dalam proses desain kemudian diimplementasikan
dengan menggunakan bahasa pemrograman berorientasi objek.
Syarat sebuah bahasa pemrograman bisa digolongkan berorientasi
objek adalah bila bahasa pemrograman tersebut memiliki fitur untuk
mengimplementasikan 4 konsep sebuah objek yang terorientasi, yaitu :
abstraksi, enkapsulasi, polymorphisme, dan inheritance (Hermawan, 2004:6).
OOP, tidak seperti pendahulunya (pemrograman terstruktur), mencoba melihat
permasalahan lewat pengamatan dunia nyata dimana setiap objek adalah entitas
tunggal yang memiliki kombinasi struktur data dan fungsi tertentu. Hal ini memiliki
perbedaan yang mendasar dalam pemrograman terstruktur, dimana struktur data dan
fungsi didefinisikan secara terpisah dan tidak berhubungan erat.

59

Jadi, ide dasar pada OOP adalah mengkombinasikan data dan fungsi
sehingga menjadi satu kesatuan unit yang disebut dengan object.
Keuntungan dari penggunaan OOP yaitu :
1. Alami (Natural)
2. Dapat Diandalkan (Reliable)
3. Dapat Digunakan Kembali (Reusable)
4. Mudah Untuk di-Maintain (Maintainable)
5. Dapat Diperluas (Extendable)
6. Efisiensi Waktu

2.9

Bagan Alir
2.9.1 Flow Chart
Flow Chart (Bagan Alir Sistem) adalah bagan yang menunjukkan

aliran di dalam program atau prosedur sistem secara logika. Bagan alir

digunakan terutama untuk alat bantu komunikasi dan dokumentasi.

(Hartono, 2001:795)

2.9.2 Flow Map


FM (Flow Map) Adalah merupakan bagan alir yang menunjukkan

arus data dari laporan dan form termasuk tembusan-tembusannya pada


sistem. Flow map ini menggunakan simbol-simbol yang sama dengan
yang digunakan di dalam bagan alir sistem (Hartono, 2001:800).

60

Berikut di jelaskan pada keterangan bawah ini yang merupakan

pedoman untuk menggambarkan suatu bagan alir, diantaranya:


1. Bagan alir sebaiknya digambar dari atas kebawah dan
mulai dari bagian kiri dari suatu halaman.
2. Kegiatan di dalam bagan alir harus ditunjukkan
dengan jelas, yaitu ditunjukkan dari mana kegiatan
akan dimulai dan dimana akan berakhirnya.
3. Masing-masing kegiatan didalam bagan alir sebaiknya
digunakan suatu kata yang mewakili suatu pekerjaan.
4. Masing-masing kegiatan pada bagan alir harus berada
pada urutan yang semestinya.
5. Kegiatan yang terpotong dan akan disambung di
tempat

lain

harus

ditunjukan

menggunakan simbol penghubung.

61

dengan

jelas

6. Gunakanlah simbol-simbol bagan alir yang standar,


seperti tampak pada gambar 2.19 di bawah ini

Simbol

Arti

Simbol

Arti

Dokumen

Penghubung

Kegiatan Manual

Input / Output

Proses Komputer

Display

Disket

Arsip

Keyboard

Hubungan

Gambar 2.19 Simbol Flow Map

2.10 Entity Relationship Diagram (ERD)


Entity Relationship Diagram (ERD) yang pada awalnya diusulkan oleh

Peter Chen adalah suatu model diagram yang menyatakan keterhubungan


suatu entity dengan entity yang lain. Atau juga dapat dikatakan sebagai
sebuah teknik untuk menggambarkan informasi yang dibutuhkan dalam
sistem dan hubungan antar data-data tersebut (Pressman,1997:360).
Secara terjemahan dalam bahasa Indonesia, Entity Relationship Diagram adalah
diagram relasi atau keterhubungan entitas. Dari model Entity Relationship

62

Diagram akan didapatkan data-data yang dibutuhkan sistem. Dengan begitu


maka akan didapatkan pula kejelasan aktivitas yang dilakukan dalam sistem.

Menurut Nugroho (2004:192), di dalam ERD (Entity Relationship


Diagram) dikenal beberapa komponen, yaitu sebagai berikut :
1. Entitas (Entity)
Adalah suatu objek yang memiliki hubungan dengan objek lain.
Dalam ERD digambarkan dengan bentuk persegi panjang
2. Hubungan (Relationship)
Dimana entitas dapat berhubungan dengan entitas lain, hubungan ini
disebut dengan entity relationship yang digambarkan dengan
garis. Ada empat bentuk relasi dasar pada database, yaitu :

A. One-to-One
Artinya satu data memiliki satu data pasangan
B. One-to-Many
Artinya satu data memiliki beberapa data pasangan
C. Many-to-One
Artinya beberapa data memiliki satu data pasangan
D. Many-to-Many
Artinya beberapa data memiliki beberapa data pasangan

3. Atribut
Adalah elemen dari entitas yang berfungsi sebagai deskripsi karakter

entitas dan digambarkan dengan bentuk elips.

63

2.11 Barcode
Barcode secara harfiah berarti kode berbentuk garis. Barcode yang dikenal

orang umumnya tercetak pada kemasan produk suatu barang. Atau kita
sering melihatnya ketika petugas kasir minimarket menscan kode-kode
berbentuk garis saat kita selesai berbelanja. Kita hanya mengenalnya
secara sekilas tapi tidak begitu tahu maksud kegunaannya.
Di bidang perpustakaan, sistem barcode juga digunakan. Masing-masing
buku koleksi perpustakaan ditempel label barcode. Ketika pengguna ingin
meminjam buku, pustakawan tinggal melakukan scanning ke permukaan label,
dan secara otomatis data buku tersebut masuk ke dalam database peminjaman.
Namun di Indonesia belum banyak perpustakaan yang menggunakan barcode
dalam sistem pelayanan pemakainya. Kini dengan semakin berkembangnya
perpustakaan dan ketersediaan perangkat scanner barcode yang semakin
mudah ditemui di pasaran ada baiknya melihat teknologi ini sebagai alat bantu
guna meningkatkan kinerja perpustakaan.
Perpustakaan CIFOR sendiri telah mengimplementasikan sistem pelayanan
perpustakaan menggunakan barcode pada perangkat lunak Inmagic sejak tahun 1980.
Dengan menggunakan standar True Type Font code 39 sebagai kode barcode,
diharapkan akan mengurangi kesalahan data entry sirkulasi dan

meningkatkan kecepatan pelayanan

64

2.11.1 Sejarah barcode


Barcode pertama kali diperkenalkan oleh dua orang mahasiswa

Drexel Institute of Technology Bernard Silver dan Norman Joseph


Woodland di tahun 1948. Mereka mempatenkan inovasi tersebut
pada tahun 1949 dan permohonan tersebut dikabulkan pada
tahun 1952. Tapi baru pada tahun 1996, penemuan mereka
digunakan

dalam

dunia

komersial.

Pada

kenyataannya

penggunaannya tidak begitu sukses hingga pasca 1980an.


Barcode adalah informasi terbacakan mesin (machine readable) dalam
format visual yang tercetak. Umumnya barcode berbentuk garis-garis vertikal
tipis tebal yang terpisah oleh jarak tertentu. Tapi kini ada beberapa variasi
berbentuk pola-pola tertentu, lingkaran konsentris, atau tersembunyi dalam
sebuah gambar. Barcode dibaca dengan menggunakan sebuah alat baca optik
yang disebut barcode reader. Pada prinsipnya barcode reader hanya sebuah
alat input biasa seperti halnya keyboard atau scanner tapi peran manusia
sebagai operator sangat minimum.
Bersamaan dengan pesatnya penggunaan barcode, kini barcode tidak
hanya bisa mewakili karakter angka saja tapi sudah meliputi seluruh kode
ASCII. Kebutuhan akan kombinasi kode yang lebih rumit itulah yang kemudian
melahirkan inovasi baru berupa kode matriks dua dimensi (2D barcodes) yang
berupa kombinasi kode matriks bujur sangkar.

65

2.11.2 Tipe Barcode


Ada 3 tipe barcode yang banyak digunakan, yaitu Linear barcode,

Stacked Barcode, dan 2D barcodes. Linear Barcode adalah tipe yang


paling luas digunakan. Salah satunya adalah untuk Universal Product
Code (UPC) yaitu kode untuk klasifikasi barang-barang konsumen yang
kita lihat pada kemasan produk dan digunakan oleh supermarket untuk
program kasir. Produsen biasanya mendaftarkan produknya ke agen
seperti GS1(http://www.gs1.org/) agar mendapat kode UPC. Untuk
memahami prinsip kerjanya, cobalah ambil sebuah produk dari
supermarket, kemudian lacaklah kode barcodenya di website GS1.
Produk buatan Indonesia, dapat dilacak di http://www.gs1.co.id.
Dalam bidang perpustakaan umumnya juga menggunakan linear
barcode, termasuk untuk kode ISBN (International Standard Book Number).
CIFOR Library, menggunakan True Type Font code 39. TTF 39 atau lebih
populer disebut code 39 ini tersedia secara gratis di internet, salah satunya
tersedia di http://www.barcodesinc.com/free-barcode-font/.
Simbol Code 39 dapat mewakili huruf alfabet besar maupun kecil, angka serta
banyak lagi karakter khusus seperti $ dan &. Keuntungan lain dari code 39
adalah dapat dicetak menggunakan printer laser pada umumnya dan hasilnya
dapat dibaca cukup akurat dengan barcode reader.

Pada Perpustakaan CIFOR, barcode digunakan untuk mewakili


data inventaris nomor induk buku. Komposisi nomor induk adalah
kombinasi nomor urut akuisisi dokumen dan tahun proses data entri

66

(proses deskripsi bibliografi). Sebagai contoh: kode 121 99,


berarti buku ke 121 tahun 1999, demikian seterusnya. Kode
tersebut dicetak pada label Tom & Jerry ukuran no.109 dengan
menggunakan fasilitas mailmerge MS Word. Perangkat cetak
yang digunakan adalah printer HP LaserJet 4050 Series PCL 6.
Beberapa contoh barcode linear antara lain : Plessey,
Codabar, UPC, Code 128, Code 25, CPC Binary, Pharmacode,
POSTNET, PLANET, PostBar, Latent Image Barcode, dan lainnya

Sedangkan contoh barcode 2 dimensi antara lain :


Codablock, Code 16K, Code 49, PDF417, dan Micro PDF417,
MaxiCode, 3-DI, AnayTag, VeriCode, WaterCode, dan lainnya.

2.11.3 Barcode Reader


Barcode reader/scanner adalah perangkat untuk membaca kode-

kode garis visual barcode. Hanya dengan menyapukan segaris


sinar laser, barcode reader membaca fragmen terang gelap pada
barcode yang tercetak di kertas dengan sangat cepat dan akurat.
Pada perkembangan selanjutnya, sinar laser yang dipancarkan
tidak hanya sebentuk garis saja tapi berupa kombinasi pola yang
rumit sehingga mampu membaca barcode dari sudut manapun.
Pada

awalnya

sebuah barcode

scanner

dibuat

dengan

menggunakan fixed lights dan sebuah photosensor tunggal dimana


penggunaannya adalah dengan cara menggosok kode barcode secara

67

manual. Pada desain berikutnya laser scanner pada barcode


dibuat menggunakan kaca polygonal atau kaca galvanometer
untuk melakukan scanning pada barcode.
Bahkan dengan berkembangnya barcode matriks dua
dimensi (2D) ada sejumlah produk kamera digital yang mampu
menangkap citra barcode 2D untuk kemudian dapat diterjemahkan
oleh software ke dalam pesan yang dapat dibaca oleh kita.
Ada beberapa standar verifikasi untuk barcode reader, antara lain:

A. ANSI X3.182. UPC Code yang digunakan di US


ANSI/UCC5. merupakan standar Amerika
B. ISO/IEC 15416 (barcode linear) dan ISO/IEC 15415
(2D bar codes) adalah standar internasional
C. Standar Eropa EN 1635 yang kemudian digantikan dengan

ISO/IEC 15416
D. ISO 15426-1 (linear bar code verifier compliance standard)
atau ISO 15426-2 (2d bar code verifier compliance standard)

2.11.4 Manfaat Barcode


Seperti apa yang telah diutarakan di muka, barcode scanner
adalah sebuah alat input data yang meminimalkan intervensi manusia sebagai
operatornya. Jadi keuntungan yang paling utama dari penggunaan barcode
adalah kecepatan dan ketepatan data. Pada perpustakaan yang frekuensi
peminjamannya sangat tinggi dan penggunanya sangat banyak,

68

penggunaan barcode akan mempercepat proses pelayanan dan


mengurangi kesalahan input data peminjaman. Bagi pustakawan,
penggunaan sistem barcode juga meringankan beban kerja di
pelayanan. Sehingga mereka dapat mengalokasikan waktunya
untuk pekerjaan yang lain.
Keuntungan lainnya adalah keamanan. Pada bisnis retail seperti
supermarket, banyak pembeli nakal yang seringkali menukar label harga produk
dengan label harga yang lebih murah. Kesalahan yang sama bisa terjadi juga
pada saat menempel label maupun pada saat kasir menghitung total belanja.
Dengan barcode, kemungkinan ini dapat ditekan. Font barcode UPC juga dibuat
oleh lembaga khusus, sehingga kode garis tipis tebal barcode menjadi sangat
unik dan terjaga keamanan datanya.

Dalam sisi Point of Sale, penggunaan barcode sangat


membantu dalam menganalisa data trend penjualan dengan
cepat. Atau dalam terminologi perpustakaan, data historis
peminjaman koleksi dapat tersaji dengan cepat dan akurat.

2.12 Penelitian Dengan Menggunakan Metode Barcode


Selain dari beberapa manfaat barcode yang telah disebutkan sebelumnya,

juga terdapat beberapa penelitian telah dilakukan menyangkut penggunaan

metode barcode.

69

Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode barcode pada

beberapa aktifitas, yaitu antara lain :


1. Barcode DNA Tak Terlihat
Digunakan untuk mencegah pemalsuan informasi seperti perubahan
pasword dengan menggunakan NDBS (Nano DNA-Barcode System).
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengembangan metode
barcode 3 dimensi dimana metode ini akan diterapkan pada beberapa
produk barang untuk pengecekan keaslian dari produk tersebut.

Metode yang digunakan dalam penerapan barcode DNA tak


terlihat

ini

dengan

menggunakan

metode

research

dan

pengembangan dengan model proses menggunakan prototype.


Kelebihan dari implementasi ini adalah meminimalisir jumlah
produksi barang palsu yang beredar di pasaran dan dilihat dari segi
keamanannya,

implementasi

barcode

DNA

tak

terlihat

ini

menjanjikan tingkat keamanan dan unifikasi pengkodean pada setiap


jenis produk. Sedangkan kelemahan dari penelitian ini adalah karena
masih dalam tahap pengembangan, struktur DNA yang digunakan
belum bisa terbentuk sesuai dengan keinginan sehingga tahapan
implementasi dan identifikasi suatu jenis produk masih belum bisa
terealisasi. (Choy Jin-Ho, Seoul national University, 2003)

70

2. Sistem Pengaman Pintu Elektronis Menggunakan Barcode


Password dan PIN Password Berbasis Mikrokontrol
Bertujuan untuk membangun sistem pengaman pintu elektronis

menggunakan dua jenis pengaman yaitu barcode password dan


PIN password berbasis mikrokontroler 68HC11.
Metode barcode yang digunakan dalam sistem ini sebagai salah
satu sistem pengamanan dimana data bentukan barcode didapat
dari nomor/kode pin yang terdapat pada masing-masing kartu
akses. Proses berikutnya adalah memasukkan kode password
yang sesuai dengan kode PIN barcode untuk kemudian sistem
akan memverifikasi kode PIN dan password masukan.
Metode pengembangan yang digunakan dalam pembuatan
sistem ini adalah metode research dan observasi dengan
penggunaan model proses prototype.(Muchlas; Nuryono Satya
Widodo; Haris Ramdan, Universitas Ahmad Dahlan, 2005).

3. Pembacaan Barcode 2 Dimensi Pada Bidang Citra Grayscale


Telepon

Genggam

Berkamera

Berdasarkan

Adaptive

Thresholding
Pada umumnya, barcode digunakan untuk aplikasi retail dan industri,
dan dirancang untuk dapat dibaca dengan menggunakan pemindai laser.
Mengingat perangkat tersebut bersifat statis, membutuhkan investasi yang

71

cukup mahal, dan tidak dapat dibawa kemana-mana, memaksa user


membutuhkan pengembangan dalam metode pemindaian barcode.
Penelitian ini mengusulkan penggunaan kamera VGA yang terdapat
pada perangkat telepon genggam yang lebih bersifat mobile, sebagai
pembaca barcode 2 dimensi. Mengingat tipe barcode ini memiliki ukuran
terbatas, relatif tetap, dan dapat menyimpan lebih banyak data daripada
barcode 1 dimensi. Pengenalan barcode dapat dilakukan secara
konkuren pada beberapa kode yang tidak tergantung terhadap sistem
koordinat dan berorientasi pada kemampuan kamera pada telepon
genggam yang relatif mengandung banyak distorsi.

Penelitian

ini

dilakukan

dengan

beberapa

langkah

yaitu

melakukan koreksi pada distorsi citra yang ditangkap oleh kamera


telepon genggam beserta proses kalibrasi citra, konversi citra dalam
bentuk grayscale yang dithreshold secara adaptif, mengidentifikasi
area citra yang akan dikenali sebagai barcode dengan menggunakan
notasi moments, menentukan transformasi grafika yang diperlukan,
seperti rotasi, dilatasi, dan traslasi, menterjemahkan barcode
berdasarkan sistem koordinat kode yang dipetakan secara projective
mapping, dan yang terakhir melakukan pengkoreksian kesalahan
dengan hamming distance 3 bit, jika terdapat kesalahan kode.
Rangkaian algoritma diatas dibangun dengan menggunakan C++ for
Symbian (v6.1) dengan telepon genggam Nokia 7650, dan pengujian
dilakukan berdasarkan dua skenario. Skenario pertama, melakukan

72

pembacaan 1-10 buah barcode dengan ukuran 1,5 cm, 2 cm, dan 2,5
cm sehingga didapatkan waktu yang dibutuhkan untuk membaca 1
barcode, hampir sama untuk berapa pun jumlah barcode uji dan waktu
baca per barcode semakin cepat jika ukuran barcode semakin besar.
Waktu baca per barcode dibawah 0,15 detik. Skenario kedua,
melakukan pembacaan barcode dari ukuran 0,5 cm - 7,5 cm. Hasil
analisis yang didapat adalah ukuran barcode terkecil yang dapat dibaca
dengan benar oleh sistem adalah 1,4 x 1,4 cm. Sedangkan ukuran
terbesar ditentukan pada kemampuan kamera membaca barcode.
Semakin besar, maka jarak baca kamera dengan barcode semakin
jauh. Waktu baca per barcode dibawah 0,168 detik (Publikasi Ilmiah
Dosen Teknik Elektro ITB, Dr. Ir. Kuspriyanto, ITB, 2005 )

2.13 SQL
Sejarah SQL (Structured Query Languange) dimulai dari artikel seorang

peneliti dari IBM bernama EF Codd yang membahas tentang ide


pembuatan basis data relasional pada bulan Juni 1970. Artikel ini juga
membahas kemungkinan pembuatan bahasa standar untuk mengakses
data dalam basis data tersebut. Bahasa tersebut kemudian diberi nama
SEQUEL (Structured English Query Language).
Setelah terbitnya artikel tersebut, IBM mengadakan proyek pembuatan
basis data relasional beserta SEQUEL. Akan tetapi, karena permasalah hukum

73

mengenai penamaan SEQUEL, IBM mengubahnya menjadi SQL. Implementasi

basis data relasional dikenal dengan System/R.

Di akhir tahun 1970-an, muncul perusahaan bernama Oracle yang


membuat server basis data populer yang bernama sama dengan nama
perusahaannya. Dengan naiknya kepopuleran Oracle, maka SQL juga
ikut populer, sehingga saat ini menjadi standar de facto bahasa dalam
manajemen basis data.
Standarisasi SQL dimulai pada tahun 1986, ditandai dengan
dikeluarkannya standar SQL oleh ANSI. Standar ini sering disebut dengan
SQL86. Standar tersebut kemudian diperbaiki pada tahun 1989 kemudian
diperbaiki lagi pada tahun 1992. Versi terakhir dikenal dengan SQL92. Pada
tahun 1999 dikeluarkan standar baru yaitu SQL99 atau disebut juga SQL99,
akan tetapi kebanyakan implementasi mereferensi pada SQL92.

Saat ini sebenarnya tidak ada server basis data yang 100%
mendukung SQL92. Hal ini disebabkan masing-masing server memiliki
bahasa penyampaian masing-masing yang berbeda.

2.13.1 Microsoft SQL Server 2000


Microsoft SQL Server adalah sebuah sistem manajemen basis data

relasional (RDBMS) yang merupakan produk aplikasi database dari


Microsoft. Bahasa kueri utamanya adalah Transact-SQL yang merupakan

http://www.wikipedia.com/microsoft_sql_server., 14 Juli 2007., 16:40 WIB

74

implementasi dari SQL standar ANSI/ISO yang digunakan oleh


Microsoft dan Sybase.
Umumnya SQL Server digunakan di dunia bisnis yang memiliki
basis data berskala kecil sampai dengan menengah, tetapi kemudian
berkembang dengan digunakannya SQL Server pada basis data besar.
Kode dasar untuk MS SQL Server (sebelum versi 7.0)merupakan
gagasan yang ada dalam Sybase SQL Server, dan merupakan cara masuk
Microsoft ke dalam pasar database tingkat enterprise, dan bersaing melawan
Oracle, IBM, dan, kemudian, Sybase itu sendiri sendiri. Microsoft, Ashton-Tate
dan Sybase pada awalnya bekerja sama untuk menciptakan dan memasarkan
versi pertama yang diberi nama SQL Server 1.0 untuk OS/2 (sekitar 1989) yang
memiliki kesamaan dengan Sybase SQL Server 3.0 pada sistem operasi Unix,
VMS, dan lainnya.
Microsoft SQL Server 4.2 dikembangkan pada sekitar tahun 1992
(yang terdiri satu paket dengan Microsoft OS/2 versi 1.3). Kemudian Microsoft
SQL Server versi 4.21 untuk Windows NT diluncurkan pada waktu yang
bersaman dengan Windows NT 3.1. Microsoft SQL Server v6.0 merupakan
versi pertama dari SQL Server yang dibangun untuk Windows NT dan tidak
melibatkan pengarahan apapun dari Sybase.
Ketika Windows NT diluncurkan, Sybase dan Microsoft telah terpisah
dan menciptakan dan memasarkan skema disain mereka masing-masing.
Microsoft menegosiasikan secara eksklusif hak-hak untuk semua versi dari SQL
Server yang tertulis dalam sistem operasi Microsoft.

75

Kemudian, Sybase mengubah nama produknya menjadi Adaptive


Server Enterprise untuk membedakannya dengan Microsoft SQL
Server. Sampai dengan tahun 1994 Microsoft SQL Server membawa
tiga hak cipta Sybase sebagai indikasi keaslian produknya.
Semenjak memisahkan diri, beberapa perubahan juga dilakukan
secara terpisah. SQL Server 7.0 merupakan database server berbasis GUI
pertama dan telah ditulis ulang berdasarkan kode warisan dari Sybase. Sebuah
versi lain dari SQL Server 2000 merupakan database komersial pertama yang
ditujukan untuk arsitektur Intel IA64. Seiring berjalannya waktu, telah terjadi
suatu persaingan antara Oracle dan Microsoft untuk menciptakan dan
mengembangkan serta memasarkan suatu aplikasi

database yang akan diterapkan pada perusahaan-perusahaan.

2.13.1.1 Fitur/Layanan Microsoft SQL Server


Microsoft SQL Server menggunakan suatu varian dari

SQL yang dinamakan T-SQL atau Transact-SQL, yang


merupakan suatu implementasi dari SQL92 (Standarisasi
ISO untuk sertifikasi SQL pada tahun 1992) dengan
melakukan banyak pengembangan.
Baik Microsoft SQL Server maupun Sybase/ASE
melakukan komunikasi melalui jaringan dengan menggunakan
suatu application-level protocol yang disebut TDS (Tabular Data

ibid., 14 Juli 2007., 16:40 WIB

76

Stream). Protokol TDS telah diimplementasikan pada


FreeTDS

project

dengan

tujuan

untuk

mengijinkan

bermacam-macam aplikasi klien agar dapat berkomunikasi


dengan database Sybase dan Microsoft SQL Server.
Microsoft

SQL

Server

juga

mendukung

Open

Database Connectivity (ODBC). Versi SQL Server 2005 juga


mendukung kemampuan untuk menyampaikan konektifitas klien
melalui Protokol Web Services SOAP, yang mengijinkan klien
non-Windows untuk berkomunikasi antar platform dengan SQL
Server. Microsoft juga telah merelease suatu sertifikasi driver

JDBC untuk membolehkan Aplikasi Java seperti IBM


WebSphere dan BEA untuk dapat berkomunikasi dengan
Microsoft SQL Server 2000 dan 2005.
SQL Server dapat mendukung mirroring dan clustering
database. Suatu cluster SQL Server merupakan suatu koleksi
dari server yang terkonfigurasi secara identik, yang membantu
mendistribusikan beban kerja ke berbagai server. Seluruh server
melakukan sharing suatu nama server virtual yang identik, dan
dibagi ke dalam alamat IP. SQL server juga mendukung data

partioning untuk database yang terdistribusi.

ibid., 14 Juli 2007., 16:40 WIB

77

2.14 Rational Rose


Menurut Suhendar dan Gunadi (2004:7) Rational Rose adalah software

yang memiliki perangkat-perangkat pemodelan visual untuk membangun


suatu solusi dalam rekayasa software dan pemodelan bisnis.
Rational Rose dikeluarkan oleh Rational yang menurut Hermawan
(2004:v) sejak Februari 2003 menjadi anak perusahaan IBM, yaitu sebuah
perusahaan software yang sudah menjadi alat bantu yang digunakan oleh
industri pengembang perangkat lunak aplikasi berorientasi obyek di seluruh
dunia untuk melakukan analisis dan desain visual.

Menurut Suhendar dan Gunadi (2002:38) Rational rose memiliki


berbagai keunggulan diantaranya:
4. Bahasa yang digunakan adalah bahasa pemodelan standar
yang di gunakan UML
5. Rational Rose mendukung round-trip enginerring, sehingga
kita dapat men-generate kode (Java, C++, Borland Delphi,
Visual Basic, dan lain sebagainya) dan melakukan reverse
engineering untuk menampilkan arsitektur software.
6. Model dan kode senantiasa sinkron selama dalam development cycle

7. Membangun software dengan Rational Rose memudahkan


dalam memperbaiki software tersebut karena apabila suatu
saat ditemukan requirement baru, anda dapat kembali
menggambarkan lagi dalam UML.

78

8. Mendukung rekayasa software untuk sistem client/server,


sehingga Rational Rose merupakan software pemodelan
visual yang tangguh dalam lingkungan client/server, ebussiness, dan lingkungan perusahaan terdistribusi.

Elemen-elemen dasar GUI dalam Rational Rose meliputi (Suhendar dan

Gunadi, 2002:43): Toolbar Standar, Toolbox Diagram, Browser, Jendela


Diagram dan Jendela Dokumentasi. Gambar tampilan dasar dari Rational
Rose dapat dilihat pada gambar 2.20 di bawah ini :.

Gambar 2.20 Tampilan Dasar Rational Rose

79

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan tentang metode penelitian yang digunakan penulis

dalam menyusun skripsi yang dapat dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini :

80

73
Gambar 3.1 Diagram Tahapan Metodologi Penelitian

81

5.8.

Metode Pengumpulan Data


Penyusunan skripsi ini dilakukan dengan menggunakan beberapa metode

yang dapat mendukung penulis, baik dalam pengumpulan data maupun informasi yang
diperlukan, untuk mendapatkan kebenaran materi uraian pembahasan.

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam


pembahasan skripsi ini adalah dengan menggunakan :
3. Metode Interview
Metode ini dilakukan dengan cara mewawancarai seseorang yang ahli

dalam bidangnya atau melakukan diskusi dengan seseorang yang


mengerti terhadap materi bahasan agar mendapatkan bahan
masukan dan data pendukung dalam penyusunan skripsi ini.
Penggunaan metode interview ini digunakan karena memiliki
beberapa kekuatan dalam pencarian datanya, seperti : mudah
pengaplikasian dan penerapannya, murah, dan dapat mengetahui
kebutuhan konsumen secara langsung
Pada metode wawancara ini penulis melakukan wawancara kepada
Bapak Ali selaku Manager Operasional dan kepada beberapa karyawan
yang berada di PT. Kemenangan Jaya untuk memperoleh data-data
yang diperlukan dalam perancangan dan pembuatan sistem. Adapun
laporan hasil wawancara tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.

Selain itu penulis juga mengadakan peninjauan, pengamatan,


dan penelitian langsung di lapangan untuk memperoleh dan
mengumpulkan data yang dibutuhkan.

82

Pengamatan dilakukan pada :


Tempat : PT. Kemenangan Jaya
Jl. Percetakan Negara Raya D 750-752 Rawasari Jakarta

Pusat 10570
Waktu : 28 Januari 31 Maret 2007

Berdasarkan wawancara dan pengamatan yang penulis


lakukan, penulis mengumpulkan informasi mengenai:
A.

Sejarah Singkat PT. Kemenangan Jaya


Memuat tentang sejarah singkat berdirinya PT. Kemenangan
Jaya dan struktur organisasi PT. Kemenangan Jaya.

B. Sistem Yang Berjalan di PT. Kemenangan Jaya


Hal ini memuat tentang sistem dan prosedur yang
berjalan pada saat ini dan permasalahan-permasalahan
yang ada pada PT. Kemenangan Jaya yang berhubungan
dangan sistem Absensi Pegawai

3.2

Metode Pengembangan Sistem


Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam pembahasan skripsi

ini adalah dengan menggunakan Model Spiral.


Model spiral yang pada awalnya diusulkan oleh Boehm (1988), merupakan
suatu model proses perangkat lunak yang evolusioner yang merangkai sifat iteratif dari
prototipe dengan cara kontrol dan aspek sistematis dari model

83

sekuensial linear. Model ini berpotensi untuk pengembangan versi


pertambahan perangkat lunak secara cepat.
Setiap untai pada spiral merepresentasikan proses perangkat lunak,
dengan demikian untai yang paling dalam mungkin berkenaan dengan
kelayakan sistem, untai berikutnya dengan definisi peersyaratan sistem, dan
untai berikutnya lagi dengan perancangan sistem, demikian seterusnya.

Model spiral ini dapat dilihat pada gambar 3.2 di bawah ini :
Perencanaan
Analisis Resiko
Komunikasi Pelanggan

Rekayasa

Evaluasi
Konstruksi dan Peluncuran

Pelanggan

Gambar 3.2 Permodelan Spiral

2.1.2.5Implementasi Langkah Pengembangan Sistem


Metode pengembangan sistem yang digunakan dalam penulisan

skripsi ini adalah dengan menggunakan model pengembangan


sistem

spiral.

Model

Spiral

yang

diusulkan

oleh

Boehm,

menggambarkan sebuah tahapan proses pengembangan perangkat


lunak, yang terdiri dari Tujuh wilayah tugas sebagai berikut:

84

2.1.2.6 Komunikasi Pelanggan


Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi

yang efektif di antara pengembang dan pelanggan


Komunikasi pelanggan ini dilakukan dengan cara
mewawancarai pihak yang terkait mengenai sistem yang
akan dijalankan nantinya, sehingga didapatkan gambaran
awal sistem yang akan dikerjakan.
Beberapa pertanyaan yang diharapkan mampu untuk
menjawab kebutuhan awal dari sistem absensi yang akan
dijalankan pada PT. Kemenangan Jaya antara lain yaitu :
2.1.2.7

Siapa saja orang yang akan mempergunakan

aplikasi absensi ini?


2.1.2.8

Siapa yang akan menjadi operator dan administrator

yang akan mengelola dan memelihara sistem absensi ini?

2.1.2.9

Input dan output yang diharapkan dari

aplikasi absensi ini?


2.1.2.10 Seberapa efektif aplikasi absensi ini dapat
membantu kinerja pegawai dalam perusahaan?
2.1.2.11 Berapa lama aplikasi ini akan dibuat?
2.1.2.12 Berapa

estimasi biaya

yang

dibutuhkan

dalam pembuatan aplikasi absensi ini?


2.1.2.13 Objek-objek apa saja yang ada dan akan
ditambahkan dalam aplikasi absensi ini?

85

2.1.2.8

Spesifikasi perangkat dan alat apa saja yang

dibutuhkan

dalam

mendukung

pembuatan

aplikasi

absensi ini?

Dari berbagai macam pertanyaan ini, kemudian dapat


diambil intisari kebutuhan seperti apa yang harus dipenuhi oleh
sistem aplikasi absensi ini. Setelah itu penulis melanjutkan pada
langkah berikutnya, yaitu tahap perencanaan.

2.1.6 Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini dilakukan suatu pendefinisian
tentang sumber daya yang akan menunjang dan mandukung
pengelolaan dan pemeliharaan aplikasi absensi ini, ketepatan
waktu dalam penyelesaian pembuatan aplikasi absensi, dan
informasi lain yang berhubungan dengan pembaharuan atau
pengembangan sistem secara menyeluruh yang akan berjalan
pada perusahaan Kemenangan Jaya.

3. Analisis Resiko
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk menaksir resiko-resiko,
baik manajemen maupun teknis. Tahap ini merupakan tahap penelitian
untuk

merancang

atau

memperbaiki

suatu

sistem

dan

akan

diimplementasikan dalam hal ini pada PT. Kemenangan Jaya, dengan


cara penguraian masalah dari suatu sistem informasi secara utuh ke
dalam

bagian-bagian

mengidentifikasi

dan

komponennya
mengevaluasi

86

dengan

maksud

permasalahan

yang

untuk
ada,

kesempatan, peluang, keuntungan, hambatan, dan identifikasi


segala kebutuhan untuk sistem yang sedang dianalisa.

Selama proses analisis resiko, setiap resiko yang


teridentifikasi

diperhitungkan

secara

bergantian

dan

penilaian mengenai besarnya probabilitas dan keseriusan


probabilitas tersebut pun dibuat (Sommerville, 2000:82).
Pada tabel 3.1 di bawah ini akan dituliskan beberapa
resiko yang mungkin akan dihadapi pada tahap pembuatan
dan pengimplementasian aplikasi absensi karyawan ini :
No.

Resiko

Probabilitas

Waktu pengerjaan yang relatif singkat

Sedang

Efek
Dapat
ditolerir

Diusulkan perubahan teradap persyaratan yang


2

menuntut dilakukannya perancangan ulang secara

Sedang

Serius

besar-besaran
3
4

Case tool tidak dapat diintegrasikan


Perancangan database, tampilan, input dan output,
dan laporan absensi

Tinggi

Dapat
ditolerir

Tinggi

Serius

Sedang

Serius

Sedang

Serius

Database yang digunakan pada sistem tidak dapat


5

memproses transaksi per detik sebanyak yang


Diharapkan
Komponen perangkat lunak yang harus dipakai ulang

mengandung kelemahan yang membatasi


Fungsionalitasnya

Pelanggan tidak memahami dampak perubahan


System

Sedang

Tabel 3.1 Analisis Resiko Aplikasi Sistem Absensi

87

Dapat
ditolerir

Analisa resiko yang coba penulis perkirakan dalam


pembuatan aplikasi absensi ini yaitu analisa dalam resiko
teknis yang mengidentifikasikan berbagai hal yang berkaitan
dengan resiko yang ada pada tahap perancangan aplikasi
seperti spesifikasi perangkat yang digunakan, desain interface
aplikasi, verifikasi, implementasi, dan pemeliharaan.

Dalam kegiatan analisa ini penulis mengumpulkan data


serta tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan kegiatan
analisa. diantaranya, yaitu:
3. Analisa dan Deskripsi Sistem Lama
Tujuannya yaitu untuk menganalisa dan mengetahui
sistem lama yang telah berjalan pada PT. Kemenangan
Jaya sebelumnya dan mendeskripsikan sistem lama
tersebut sehingga dapat diketahui kekurangan dan
kelebihan dari sistem yang ada termasuk didalamnya
profil dari perusahaan PT. Kemenangan Jaya.

4. Identifikasi Permasalahan Yang Dihadapi


Tujuannya

yaitu

permasalahan

untuk
yang

mengidentifikasi
dihadapi,

jenis

mengetahui

penyebab timbulnya masalah dalam sistem yang


sedang berjalan, dan menciptakan suatu solusi
untuk memperbaiki sistem yang ada.

88

Alternatif Penyelesaian Masalah


Tujuannya

yaitu

penyelesaian

untuk

masalah

memberikan
yang

ada

usulan

pada

PT.

Kemenangan Jaya dengan membuat usulan sistem


yang baru dengan metode pendekatan sistem
berorientasi objek, yakni dengan membuat :
Use case Diagram
Sequence Diagram
Class Diagram
Flow Map, sebagai indikasi prosedur arus data pada
sistem yang akan diterapkan dan analisa masukan

Analisa

Masukan

mengetahui

data

dan
apa

Keluaran,
saja

yang

untuk
menjadi

masukan dan keluaran data yang berjalan.

5. Perekayasaan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau

lebih representasi dari aplikasi tersebut.. Dalam tahap


perekayasaan ini Penulis menggunakan beberapa tools
(alat) dalam membuat rancangan sistem, yaitu antara lain :
2.2.3

Kebutuhan Umum Sistem

Tahapan ini bertujuan untuk merancang suatu


kebutuhan/requirement dari sistem yang diharapkan mampu

89

untuk menghasilkan keluaran sesuai dengan yang


diharapkan pelanggan dalam hal ini PT. Kemenangan
Jaya

termasuk

didalamnya

fungsionalitas

dan

pengguna dari sistem aplikasi absensi ini.


2.2.4 Pengembangan Sistem
Tahapan ini bertujuan untuk merancang lingkungan yang

akan digunakan dalam pengembangan program, yang


meliputi

jenis

digunakan,

perangkat

sistem

lunak

operasi

yang

(software)

yang

digunakan,

dan

spesifikasi perangkat keras (hardware) yang digunakan.


2. Perancangan Sistem Baru
Dalam melakukan perancangan sistem, penulis
menggunakan

notasi

UML

sebagai

case

tool

dalam

perekayasaan sistem yang didalamnya terdapat identifikasi


objek yang terkait dalam perancangan aplikasi absensi ini.

3. Perancangan Database
Setelah perancangan sistem dilakukan kemudian penulis

merancang databasenya dengan menggunakan alat bantu


Entity Relationship Diagram (ERD) yang menggambarkan
hubungan antar entitas yang ada. Untuk mengefisiensikan
dan mengefektifkan serta menghindari data yang sama,
dalam basis data penulis juga melakukan normalisasi.

90

4. Perancangan Antarmuka
Setelah tabel dalam bentuk normal selesai dirancang
barulah penulis melakukan rancangan antarmuka program baik

untuk input dan output.

3. Konstruksi dan Peluncuran


Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji,

memasang, dan memberikan pelayanan kepada pemakai. Jika


seluruh obyek yang dibutuhkan telah selesai didesain maka
tahap selanjutnya adalah mengkonstruksikan obyek-obyek yang
telah selesai didesain ke dalam kode bahasa pemrograman.
Bahasa pemrograman yang penulis gunakan ialah Borland Delphi
5 sebagai pembuatan aplikasi sistemnya dan menggunakan
aplikasi perancangan database MS SQL Server 2000.

2.3.3 Evaluasi Pelanggan


Langkah ini melakukan pengujian fungsionalitas dan efisiensi

sistem pada saat sistem tersebut telah selesai dibuat dan


diimplementasikan.
2. Menarik Kesimpulan
Tugas-tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik

dari pelanggan dengan didasarkan pada evaluasi representasi

91

perangkat lunak, yang dibuat selama masa perekayasaan dan

diimplementasikan selama masa pemasangan.


Metode pengembangan perangkat lunak spiral ini diambil sebagai metode

pengembangan sistem karena :


3. Model ini menjadi sebuah pendekatan yang realistis bagi
perkembangan sistem dan perangkat lunak berskala besar,
karena perangkat lunak terus bekerja selama proses bergerak
dan pengembang serta pemakai memahami dan bereaksi
lebih baik terhadap resiko dari setiap tingkat evolusi.

4.

Pada model spiral didalamnya terdapat suatu fase manajemen


resiko (pertimbangan resiko secara eksplisit) yang sangat cocok
diterapkan dalam pengembangan sistem ini yang dapat mengurangi
tingkat kesalahan sistem, skala dan kompleksitas dari pengerjaan
sistem dapat diketahui lebih awal, dan menjadi suatu acuan dalam
melakukan langkah-langkah pengembangan sistem selanjutnya.

5.

Model

spiral

memungkinkan

pengembang

menggunakan

pendekatan protipe pada setiap keadaan di dalam evolusi produk,


dimana model ini menjaga pendekatan langkah demi langkah
secara sistematik seperti yang diusulkan oleh permodelan waterfall,
tetapi memasukkannya ke dalam kerangka kerja iteratif yang secara
realistis merefleksikan dunia nyata (Pressman, 1997:50).

92

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1

Analisa dan Deskripsi Sistem Lama


Sistem absensi yang saat ini digunakan di PT. Kemenangan Jaya adalah

sistem manual yang mengharuskan setiap pegawai atau pelaku pengabsenan


membubuhkan tanda-tangan pada tempat yang disediakan atau juga dengan
menggunakan alat absensi manual dimana setiap pegawai memiliki kartu absensi
yang akan ditandai dengan menggunakan penanda alat absensi pada saat
kedatangan dan kepulangan.
Admin/pegawai pengurus data absensi karyawan mencetak sebuah kartu
absensi untuk seorang pegawai, dimana di dalam kartu absensi tersebut terdapat
beberapa keterangan tentang nama pegawai, ID pegawai, daftar kehadiran, daftar
kepulangan, tanggal, dan keterangan yang diisi secara manual.
Proses absensi dilakukan setiap jam kedatangan dan jam kepulangan.
Kartu absensi diletakkan pada tempat absensi yang disediakan yang kemudian
kartu tersebut dipergunakan untuk mencetak jam kedatangan dan kepulangan pada
sebuah mesin cetak absensi. Setelah pegawai selesai melakukan proses presensi,
kartu tersebut diletakkan kembali pada tempat awal yang tersedia. Kemudian
disetiap bulannya admin melakukan rekapitulasi/pengumpulan dan pemindahan
data absensi tersebut ke dalam database manual (hardcopy) yang akan
dipergunakan sebagai arsip data absensi karyawan.

93

Berdasarkan hasil survei dan interview yang dilakukan


mengenai prosedur pengabsenan pegawai, tahapan yang dilakukan
PT. Kemenangan Jaya dalam tahap presensi ini adalah sebagai
berikut :
1. Admin mencetak lembar kartu absensi pegawai
2. Lembar kartu absensi diserahkan pada pihak
manajemen personalia untuk divalidasi
3. Lembar kartu absensi tersebut diserahkan pada
masing-masing pegawai untuk melakukan absensi
4. Admin/staff personalia merekap dan mendata semua
lembar kartu absensi pegawai.
5. Admin/staff personalia melakukan penginputan secara
manual pegawai yang telah melakukan proses presensi
berdasarkan data pada lembar kartu absensi.
6. Data absensi pegawai ter-update.
7. Admin/staff personalia menyerahkan laporan data
hadir pegawai ke bagian manajemen personalia untuk
divalidasi.

4.1.1

Profil Perusahaan PT. Kemenangan Jaya


Dalam

membangun

dan

mengelola

suatu

perusahaan yang mampu untuk bersaing dan berkompetensi


dengan perusahaan lain, setiap perusahaan mempunyai visi
dan misi yang jelas, dan untuk mencapainya diperlukan
94

struktur organisasi yang terdiri dari beberapa bagian yang


mempunyai

tugas

dan

Demikian juga PT.

95

tanggung

jawab

sendiri.

BAB V
PENUTUP

Bab ini adalah bab penutup yang menguraikan kesimpulan dari


penulisan skripsi ini serta saran yang bermanfaat bagi semua pihak yang
terkait atas pembuatan aplikasi absensi karyawan ini.

5.9.

Kesimpulan
1.

Perubahan

sistem

absensi

manual

menjadi

suatu

sistem

yang

terkomputerisasi dengan penambahan sistem barcode dilakukan agar


tingkat kesalahan dalam melakukan absensi dapat diminimalisir dan dapat
memberikan pelayanan lebih baik serta hasil keluaran atau laporan yang
dibutuhkan sesuai dengan yang diharapkan.

2. Sistem

aplikasi

absensi

yang

baru

ini

akan

lebih

memudahkan proses kontrol absensi kehadiran karyawan dan


mampu memberikan laporan akhir absensi yang dibutuhkan.
3. Dengan

sistem

pendataan

absensi

karyawan

terkomputerisasi ini, bagian pendataan karyawan dapat


dengan cepat dalam melakukan penginputan data dan
memberikan kemudahan dalam pencarian data karyawan.
4.

Aplikasi absensi karyawan dengan metode barcode ini akan


memberikan kemudahan dalam melakukan pendataan kehadiran

96

karena adanya interface aplikasi dan penggunaannya yang user

friendly.
5.3.

Saran
1.

Bagi yang berminat untuk pengembangan selanjutnya, sebaiknya dilakukan


dengan menggunakan metode lain seperti Smart Handkey-CR atau dengan
Fingerprint Scan System.

2. Untuk pengembangan selanjutnya diharapkan bisa diterapkan pada semua


Operating System seperti Linux dan FreeBSD.
3.

Harus dilakukan pelatihan bagi admin, terutama yang menggunakan aplikasi ini dan
adanya petugas khusus yang akan memelihara aplikasi ini, sehingga kinerja aplikasi ini
dapat berjalan dengan baik.

4.

Database sistem ini minimal satu atau dua minggu sekali di backup oleh pihak
yang bertanggung jawab terhadap sistem tersebut, dalam hal ini perlu adanya
suatu back office yang bertanggung jawab akan entri data, pemeriksaan data
untuk menghindari hilangnya database jika terjadi suatu kesalahan, maupun
kejadian lain yang tidak diharapkan dan di luar kemampuan kita untuk
menghindarinya seperti bencana alam.

5.

Untuk implementasi awal (1 sampai 2 bulan pertama), setiap hari database

harus dikontrol untuk menghindari ketidakteraturan database yang ada untuk


menghindari terjadinya human error dalam penggunaan system.

97