Anda di halaman 1dari 31

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 40 TAHUN 2006

TENTANG

TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 27 ayat (1)


Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Penyusunan
Rencana Pembangunan Nasional.

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 Tentang
Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 74, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4405);

6. Peraturan . . .
6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 Tentang
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4406);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA


PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:


1. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan
tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan,
dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.
2. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan
oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai
tujuan bernegara.
3. Rencana Pembangunan Nasional adalah meliputi
rencana pembangunan jangka panjang, rencana
pembangunan jangka menengah, rencana pembangunan
jangka menengah kementerian/lembaga, rencana
pembangunan tahunan nasional, dan rencana
pembangunan tahunan kementerian/ lembaga.
4. Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang
selanjutnya disingkat RPJP, adalah dokumen
perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun.
5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang
selanjutnya disingkat RPJM, adalah dokumen
perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun.

6. Rencana . . .
6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disebut
Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL),
adalah dokumen perencanaan Kementerian/Lembaga
untuk periode 5 (lima) tahun.
7. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang
selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP),
adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode 1
(satu) tahun.
8. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/
Lembaga, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
Kementerian/Lembaga (Renja-KL), adalah dokumen
perencanaan Kementerian/Lembaga untuk periode 1
(satu) tahun.
9. Musyawarah Perencanaan Pembangunan, yang
selanjutnya disingkat Musrenbang, adalah forum
antarpelaku dalam rangka menyusun rencana
pembangunan Nasional dan rencana pembangunan
Daerah.
10. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu
atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi
pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan
tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau
kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi
pemerintah.
11. Kegiatan pokok adalah kegiatan yang mutlak harus ada
untuk mencapai sasaran hasil dari suatu program.
12. Kegiatan dalam Kerangka Regulasi adalah kegiatan
pemerintah dalam rangka baik memfasilitasi,
mendorong, maupun mengatur kegiatan pembangunan
yang dilaksanakan sendiri oleh masyarakat.
13. Kegiatan dalam Kerangka Pelayanan Umum dan
Investasi Pemerintah adalah kegiatan pemerintah dalam
rangka menyediakan barang dan jasa publik yang
diperlukan oleh masyarakat.
14. Lembaga adalah organisasi non-Kementerian Negara
dan instansi lain pengguna anggaran yang dibentuk
untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 atau peraturan perundang-undangan
lainnya.
15. Visi . . .
15. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang
diinginkan pada akhir periode perencanaan.
16. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya
yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.

17. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari


suatu program atau keluaran yang diharapkan dari
suatu kegiatan.
18. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang
dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk
mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program
dan kebijakan.
19. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang
mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-
kegiatan dalam satu program.
20. Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah,
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
21. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan
prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
22. Menteri adalah
pimpinan Kementerian Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.
23. Pagu indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran
yang diberikan kepada Kementerian Negara/Lembaga
untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan
rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga.
24. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang
pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur
sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi
vertikal di wilayah tertentu.

25. Tugas . . .
25. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah
kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi
kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari
pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk
melaksanakan tugas tertentu.

26. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, yang


selanjutnya disingkat Bappeda adalah satuan kerja
perangkat daerah yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan tugas dan fungsi perencanaan
pembangunan di Daerah Provinsi, Kabupaten, atau
Kota.

Pasal 2

Dalam rangka penyusunan rencana pembangunan


Nasional, Menteri mempunyai tugas sebagai berikut:

a. menyiapkan Rancangan Awal RPJP Nasional;


b. melaksanakan Musrenbang Jangka Panjang Nasional;
c. menyusun Rancangan Akhir RPJP Nasional;
d. menyiapkan Rancangan Awal RPJM Nasional;
e. menelaah Rancangan Renstra-KL;
f. menyusun Rancangan RPJM Nasional dengan
menggunakan Rancangan Renstra-KL;
g. melaksanakan Musrenbang Jangka Menengah Nasional;
h. menyusun Rancangan Akhir RPJM Nasional;
i. menyiapkan Rancangan Awal RKP;
j. menelaah Rancangan Renja-KL;
k. menyusun Rancangan Interim RKP;
l. melaksanakan Musrenbang Tahunan Nasional; dan
m. menyusun Rancangan Akhir RKP.

BAB II . . .
BAB II
RENCANA PEMBANGUNAN
JANGKA PANJANG NASIONAL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 3

(1) Tahapan penyusunan dan penetapan RPJP Nasional


adalah sebagai berikut:
a. penyiapan Rancangan Awal RPJP Nasional;
b. pelaksanaan Musrenbang Jangka Panjang Nasional;
c. penyusunan Rancangan Akhir RPJP Nasional; dan
d. penetapan RPJP Nasional.

(2) Rincian tahapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dan hubungan antara lembaga yang terlibat tercantum
dalam Lampiran I yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Bagian Kedua
Penyiapan Rancangan Awal RPJP Nasional

Pasal 4

(1) Rancangan Awal RPJP Nasional disiapkan oleh Menteri


dengan menggunakan antara lain :
a. pemikiran visioner untuk periode jangka panjang
berikutnya tentang kondisi demografi, sumberdaya
alam, sosial, ekonomi, budaya, politik, pertahanan
dan keamanan; dan
b. hasil evaluasi pembangunan sebelumnya.

(2) Pemikiran visioner dan evaluasi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) diperoleh dari unsur penyelenggara negara
dan/atau masyarakat.

(3) Rancangan . . .
(3) Rancangan Awal RPJP Nasional memuat rancangan visi,
misi dan arah pembangunan nasional yang merupakan
penjabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintah Negara
Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(4) Rancangan Awal RPJP Nasional digunakan sebagai


bahan utama Musrenbang Jangka Panjang Nasional.

Bagian Ketiga
Pelaksanaan Musrenbang Jangka Panjang Nasional

Pasal 5

(1) Musrenbang Jangka Panjang Nasional diselenggarakan


oleh Menteri untuk menyempurnakan Rancangan Awal
RPJP Nasional periode yang direncanakan.
(2) Musrenbang Jangka Panjang Nasional diikuti oleh
unsur-unsur penyelenggara negara dengan
mengikutsertakan masyarakat.
(3) Musrenbang Jangka Panjang Nasional didahului dengan
sosialisasi Rancangan Awal RPJP Nasional, konsultasi
publik, dan penjaringan aspirasi masyarakat.
(4) Musrenbang Jangka Panjang Nasional diselenggarakan
paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya
periode RPJP Nasional yang sedang berjalan.

Bagian Keempat
Penyusunan Rancangan Akhir RPJP Nasional

Pasal 6

(1) Rancangan Akhir RPJP Nasional disusun oleh Menteri


berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang
Nasional.
(2) Rancangan Akhir RPJP Nasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) disampaikan kepada Presiden.

(3) Rancangan . . .
(3) Rancangan Akhir RPJP Nasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diajukan oleh Presiden kepada Dewan
Perwakilan Rakyat sebagai rancangan undang-undang
tentang RPJP Nasional inisiatif Pemerintah paling lambat
6 (enam) bulan sebelum berakhirnya RPJP yang sedang
berjalan.

Bagian Kelima
Penetapan RPJP Nasional

Pasal 7

RPJP Nasional ditetapkan dengan Undang-Undang.

Pasal 8

(1) RPJP Nasional berfungsi sebagai pedoman bagi


penyusunan :
a. visi, misi, dan program prioritas calon Presiden;
dan/atau
b. RPJM Nasional.

(2) Arah pembangunan nasional dalam RPJP Nasional


berfungsi sebagai acuan bagi penyusunan RPJP Daerah
Provinsi.

BAB III
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 9

(1) Tahapan penyusunan dan penetapan RPJM Nasional


adalah sebagai berikut:
a. penyiapan Rancangan Awal RPJM Nasional;
b. penyiapan Rancangan Renstra-KL;

c. penyusunan . . .
c. penyusunan Rancangan RPJM Nasional dengan
menggunakan Rancangan Renstra-KL;
d. pelaksanaan Musrenbang Jangka Menengah Nasional;
e. penyusunan Rancangan Akhir RPJM Nasional; dan
f. penetapan RPJM Nasional.

(2) Rincian tahapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dan hubungan antara lembaga yang terlibat tercantum
dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Bagian Kedua
Penyiapan Rancangan Awal RPJM Nasional

Pasal 10

(1) Penyiapan Rancangan Awal RPJM Nasional dilaksanakan


oleh Menteri pada tahun terakhir pelaksanaan RPJM
Nasional yang sedang berjalan.

(2) Dalam rangka penyiapan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1), Menteri menggunakan:
a. RPJP yang sedang berjalan
b. rancangan rencana pembangunan secara teknokratik
c. visi, misi, dan program prioritas Presiden

(3) Rancangan rencana pembangunan secara teknokratik


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kerangka
ekonomi makro, rencana pembangunan sektoral dan
kewilayahan dihimpun dari :
a. hasil evaluasi pelaksanaan RPJM Nasional yang
sedang berjalan; dan
b. aspirasi masyarakat.

(4) Evaluasipelaksanaan RPJM Nasional sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) huruf a dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 11 . . .
Pasal 11

(1) Visi, misi, dan program prioritas Presiden dijabarkan


oleh Menteri ke dalam Rancangan Awal RPJM Nasional.
(2) Rancangan Awal RPJM Nasional memuat strategi
pembangunan nasional, kebijakan umum dan program
prioritas Presiden, serta kerangka ekonomi makro.
(3) Program prioritas Presiden sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dijabarkan ke dalam isu strategis bersifat lintas
kementerian/lembaga dan kewilayahan yang dilengkapi
dengan indikasi sasaran nasional dengan
mempertimbangkan rancangan rencana pembangunan
secara teknokratik sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 ayat (3).
(4) Kerangka ekonomi makro sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) memuat gambaran umum perekonomian secara
menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal untuk
periode jangka menengah yang direncanakan.
(5) Penyusunan kerangka ekonomi makro sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) didasarkan atas kondisi obyektif
perekonomian dan dilaksanakan dengan berkoordinasi
dengan instansi terkait.
(6) Rancangan Awal RPJM Nasional disampaikan kepada
Presiden untuk disepakati dalam Sidang Kabinet sebagai
pedoman penyusunan Rancangan Renstra-KL.

Bagian Ketiga
Penyiapan Rencana Strategis
Kementerian/Lembaga

Pasal 12

(1) Pimpinan Kementerian/Lembaga melaksanakan


penyiapan Rancangan Renstra-KL periode berikutnya
untuk sektor yang menjadi tugas dan kewenangannya
pada tahun terakhir pelaksanaan RPJM Nasional yang
sedang berjalan, diawali dengan penyusunan rancangan
rencana pembangunan secara teknokratik di sektornya.

(2) Dalam . . .
(2) Dalam rangka penyusunan rancangan teknokratik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pimpinan
Kementerian/Lembaga menghimpun:
a. hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan di sektor
yang bersesuaian dengan tugas dan kewenangannya;
dan
b. aspirasi masyarakat.
(3) Pimpinan Kementerian/Lembaga berkoordinasi dengan
Pemerintah Daerah untuk mengidentifikasikan
pembagian tugas dalam pencapaian sasaran nasional
sesuai dengan rancangan rencana pembangunan secara
teknokratik di sektornya sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).
(4) Evaluasi pelaksanaan pembangunan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 13

(1) Pimpinan Kementerian/Lembaga menyusun Rancangan


Renstra-KL yang memuat visi, misi, tujuan, strategi,
kebijakan, serta program dan kegiatan pokok sesuai
dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga dengan
berpedoman pada Rancangan Awal RPJM Nasional
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6).
(2) Tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
penjabaran visi kementerian/lembaga yang
bersangkutan dan dilengkapi dengan rencana sasaran
nasional yang hendak dicapai dalam rangka mencapai
sasaran program prioritas Presiden sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3).
(3) Dalam mewujudkan sasaran nasional, Pimpinan
Kementerian/ Lembaga membagi tugas yang akan
dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga dan oleh
pemerintah daerah sesuai indikasi pembagian tugas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3).
(4) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan arah tindakan yang akan diambil oleh
Kementerian/Lembaga dalam bentuk kegiatan dalam
kerangka regulasi, serta kerangka Pelayanan Umum dan
Investasi Pemerintah.

(5) Program . . .
(5) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi
dengan sasaran hasil (outcome) yang akan dicapai dalam
periode rencana dengan indikator yang terukur, kegiatan
pokok untuk mencapai sasaran tersebut, indikasi
sumberdaya yang diperlukan, serta unit organisasi
Kementerian/ Lembaga yang bertanggung jawab.
(6) Kegiatan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mencakup Kegiatan dalam Kerangka Regulasi dan/atau
Kegiatan dalam kerangka Pelayanan Umum dan
Investasi Pemerintah.
(7) Kegiatan pokok paling sedikit memuat lokasi, keluaran,
dan sumberdaya yang diperlukan, yang keseluruhannya
bersifat indikatif.
(8) Rancangan Renstra-KL disampaikan kepada Menteri
untuk digunakan sebagai bahan penyusunan Rancangan
RPJM Nasional.

Bagian Keempat
Penyusunan Rancangan RPJM Nasional
dengan Menggunakan Rancangan Renstra-KL

Pasal 14

(1) Rancangan RPJM Nasional disusun oleh Menteri dengan


menggunakan Rancangan Awal RPJM Nasional
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) dan
Rancangan Renstra-KL sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2).
(2) Rancangan Renstra-KL ditelaah oleh Menteri agar :
a. sasaran program prioritas Presiden sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) terjabarkan
kedalam sasaran tujuan Kementerian/Lembaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) dan
tugas yang akan dilaksanakan oleh pemerintah
daerah Provinsi sesuai dengan kewenangannya;
b. kebijakan Kementerian/Lembaga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) konsisten sebagai
penjabaran dari Rancangan Awal RPJM Nasional;

c. program . . .
c. program dan kegiatan pokok Kementerian/Lembaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6)
konsisten sebagai penjabaran operasional dari
Rancangan Awal RPJM Nasional;
d. sasaran hasil (outcome) masing-masing program
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sinergis
mendukung sasaran program prioritas Presiden yang
tertuang dalam Rancangan Awal RPJM Nasional;
e. sasaran keluaran (output) dari masing-masing
kegiatan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sinergis mendukung sasaran hasil (outcome) dari
program induknya;
f. sumber daya yang diperlukan secara keseluruhan
layak menurut kerangka ekonomi makro yang
tertuang dalam Rancangan Awal RPJM Nasional.
(3) Hasil penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
digunakan sebagai bahan penyempurnaan Rancangan
Awal RPJM Nasional menjadi Rancangan RPJM Nasional.
(4) Rancangan RPJM Nasional sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) digunakan sebagai bahan utama dalam
Musrenbang Jangka Menengah Nasional.

Bagian Kelima
Pelaksanaan Musrenbang Jangka Menengah Nasional

Pasal 15

(1) Musrenbang Jangka Menengah Nasional


diselenggarakan oleh Menteri untuk menyempurnakan
Rancangan RPJM Nasional.
(2) Musrenbang Jangka Menengah Nasional diikuti oleh
unsur-unsur penyelenggara negara dan
mengikutsertakan masyarakat.
(3) Musrenbang Jangka Menengah Nasional didahului oleh
rangkaian kegiatan yang terdiri dari sosialisasi
Rancangan Awal RPJM Nasional, konsultasi publik, dan
penjaringan aspirasi masyarakat.
(4) Musrenbang Jangka Menengah Nasional dilaksanakan
paling lambat 2 (dua) bulan setelah Presiden dilantik.

Bagian Keenam . . .
Bagian Keenam
Penyusunan Rancangan Akhir RPJM Nasional

Pasal 16

(1) Rancangan Akhir RPJM Nasional disusun oleh Menteri


berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah
Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.

(2) Rancangan Akhir RPJM Nasional sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) disampaikan kepada Presiden.

Bagian Ketujuh
Penetapan RPJM Nasional

Pasal 17

(1) Presiden menetapkan Rancangan Akhir RPJM Nasional


menjadi RPJM Nasional dengan Peraturan Presiden
paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Presiden dilantik.
(2) RPJM Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
berfungsi sebagai:
a. pedoman penyesuaian dalam rangka penetapan
Renstra-KL; dan
b. bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah
dengan memperhatikan tugas pemerintah daerah
dalam mencapai sasaran nasional yang termuat dalam
RPJM Nasional.
(3) Renstra-KL dimaksud pada ayat (2) huruf a ditetapkan
dengan Peraturan Pimpinan Kementerian/Lembaga.
(4) Renstra-KL yang telah ditetapkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada :
a. Menteri;
b. Menteri Dalam Negeri;
c. Menteri Keuangan; dan
d. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.

BAB IV . . .
BAB IV
RENCANA PEMBANGUNAN TAHUNAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 18

(1) Tahapan penyusunan dan penetapan RKP adalah sebagai


berikut:
a. penyiapan Rancangan Awal RKP;
b. penyiapan Rancangan Renja-KL;
c. penyusunan Rancangan Interim RKP;
d. pelaksanaan Musrenbang Tahunan;
e. penyusunan Rancangan Akhir RKP; dan
f. penetapan RKP.

(2) Rincian tahapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dan hubungan antara lembaga yang terlibat
digambarkan dalam Lampiran III yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah
ini.

Bagian Kedua
Penyiapan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah

Pasal 19

(1) Rancangan Awal RKP disiapkan oleh Menteri sebagai


penjabaran RPJM Nasional paling lambat minggu kedua
bulan Februari.

(2) Rancangan Awal RKP memuat rancangan kebijakan


umum, prioritas pembangunan nasional, rancangan
kerangka ekonomi makro, rencana kerja dan
pendanaannya yang penyusunannya memperhatikan
kinerja pembangunan nasional tahun-tahun
sebelumnya, serta prakiraan permasalahan, tantangan,
dan peluang yang dihadapi pada tahun rencana.

(3) Rancangan . . .
(3) Rancangan Awal RKP sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilaksanakan melalui kebijakan kerangka regulasi
dan kerangka pelayanan umum dan investasi
Pemerintah yang pendanaannya disusun dalam
rancangan pagu indikatif.

(4) Rancangan pagu indikatif sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) disusun oleh Menteri bersama-sama dengan
Menteri Keuangan.

(5) Rancangan Awal RKP sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) dan rancangan pagu indikatif sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) dibahas dalam Sidang Kabinet.

(6) Hasil pembahasan Sidang Kabinet sebagaimana


dimaksud pada ayat (5) selanjutnya dituangkan ke
dalam Surat Edaran Bersama antara Menteri dan
Menteri Keuangan, dan sebagai pedoman dalam
penyusunan Renja-KL.

Bagian Ketiga
Penyiapan Rancangan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga

Pasal 20

(1) Pimpinan Kementerian/Lembaga menyusun Rancangan


Renja-KL dengan mengacu pada Rancangan Awal RKP
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (5), dan
berpedoman pada Renstra-KL dimaksud dalam Pasal 17
ayat (3)serta pagu indikatif yang tertuang dalam Surat
Edaran Bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
ayat (6).

(2) Rancangan Renja-KL memuat kebijakan, program, dan


kegiatan sebagai penjabaran Renstra-KL.

(3) Kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


merupakan arah dan langkah yang diperlukan untuk
mencapai tujuan masing-masing program untuk tahun
rencana.

(4) Kegiatan . . .
(4) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi
kegiatan pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
ayat (7) serta kegiatan pendukung untuk mencapai
sasaran hasil program induknya dan dirinci menurut
indikator keluaran, sasaran keluaran pada tahun
rencana, prakiraan sasaran tahun berikutnya, lokasi,
anggaran, serta cara pelaksanaannya.

(5) Cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (4) dirinci menurut kegiatan pusat, dekonsentrasi
dan/atau tugas pembantuan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

(6) Rancangan Renja-KL disampaikan kepada Menteri


paling lambat pertengahan bulan Maret.

Pasal 21

(1) Menteri dengan Kementerian/Lembaga menelaah


Rancangan Renja-KL untuk memastikan:
a. keserasian antara program dengan kegiatan di
Kementerian / Lembaga;
b. keserasian antara program lintas kementerian,
kewilayahan, dan lintas kewilayahan dengan kegiatan
yang ada di berbagai Kementerian/Lembaga;
c. hubungan antara sasaran keluaran untuk tahun
rencana dengan tahun sebelumnya dan dengan
prakiraan untuk tahun sesudahnya, serta kesesuian
anggaran yang direncanakan untuk mencapainya;
dan
d. cara pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
kewenangan Kementerian/Lembaga.

(2) Hasil penelaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


digunakan sebagai bahan penyusunan Rancangan
Interim RKP.

Bagian Keempat . . .
Bagian Keempat
Penyusunan Rancangan Interim RKP

Pasal 22

(1) Menteri menyusun Rancangan Interim RKP yang


memuat rancangan kebijakan umum prioritas
pembangunan nasional, rancangan ekonomi makro,
program dan kegiatan pembangunan baik dalam lingkup
Kementerian/Lembaga, lintas Kementerian/Lembaga,
kewilayahan, dan lintas kewilayahan, serta indikasi pagu
anggaran untuk setiap program.

(2) Rancangan Interim RKP digunakan sebagai bahan


koordinasi antara Menteri dengan pemerintah provinsi
dalam Musrenbang Tahunan Provinsi.

Bagian Kelima
Pelaksanaan Musrenbang Tahunan

Pasal 23

(1) Musrenbang Tahunan Provinsi diselenggarakan oleh


Gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat dalam rangka
membahas Rancangan Interim RKP.
(2) Pembahasan Rancangan Interim RKP sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan untuk
sinkronisasi prioritas pembangunan nasional dengan
rancangan prioritas pembangunan daerah, serta
sinkronisasi rencana kegiatan dekonsentrasi dan tugas
pembantuan dengan kebutuhan pembangunan di
daerah.

(3) Penyelenggaraan Musrenbang Tahunan Provinsi diikuti


oleh unsur-unsur pemerintah daerah provinsi;
perwakilan dari Bappeda masing-masing
kabupaten/kota yang ada dalam provinsi yang
bersangkutan, wakil dari Kementerian/Lembaga yang
terkait, serta mengikutsertakan masyarakat.

(4) Musrenbang . . .
(4) Musrenbang Tahunan Provinsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan paling lambat pada
minggu kedua bulan April setiap tahunnya.

(5) Hasil Musrenbang Tahunan Provinsi dimaksud pada ayat


(1) digunakan sebagai bahan penyusunan Rancangan
RKP.

Pasal 24

(1) Musrenbang Tahunan Nasional diselenggarakan oleh


Menteri dalam rangka membahas penyempurnaan
Rancangan RKP sebagaimana Pasal 23 ayat (5) dan
Rancangan Renja-KL sebagaimana Pasal 21 ayat (1).
(2) Musrenbang Tahunan Nasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan untuk sinkronisasi
Rancangan RKP dengan Rancangan RKPD.
(3) PenyelenggaraanMusrenbang Tahunan Nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diikuti oleh unsur
penyelenggara pemerintahan di tingkat pusat dan
provinsi.
(4) Musrenbang Tahunan Nasional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan paling lambat dalam
minggu keempat bulan April setiap tahunnya.

Bagian Keenam
Penyusunan Rancangan Akhir Rencana Kerja Pemerintah

Pasal 25

(1) Rancangan Akhir RKP disusun oleh Menteri


berdasarkan hasil Musrenbang Tahunan.

(2) Rancangan Akhir RKP sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) disampaikan kepada Presiden paling lambat minggu
pertama bulan Mei.

Bagian Ketujuh . . .
Bagian Ketujuh
Penetapan Rencana Kerja Pemerintah

Pasal 26

(1) Presiden menetapkan Rancangan Akhir RKP menjadi


RKP dengan Peraturan Presiden paling lambat
pertengahan bulan Mei.
(2) RKP yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dibahas dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan
hasilnya digunakan sebagai pedoman penyusunan
Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
(3) RKP yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) digunakan oleh Kementerian/Lembaga untuk
menyesuaikan Rancangan Renja-KL menjadi Renja-KL.
(4) Renja-KL digunakan sebagai pedoman penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 27

Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku maka


RPJP Nasional, RPJM Nasional, Renstra-KL, RKP, Renja-KL
yang disusun dan masih berlaku sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah ini tetap berlaku sampai periode
berlakunya berakhir.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 28
Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur
penyusunan RPJP Nasional, RPJM Nasional, Renstra-KL,
RKP, Renja-KL dan Pelaksanaan Musrenbang yang telah
ada dinyatakan tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan
dan/atau belum diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah
ini.

Pasal 29 . . .
Pasal 29

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal


diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 29 Nopember 2006
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

DR.H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 29 Nopember 2006
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

HAMID AWALUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2006 NOMOR 97

Salinan sesuai dengan aslinya


SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Indsustri,

M. SAPTA MURTI, SH, MA. MKn.


PENJELASAN
ATAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 40 TAHUN 2006

TENTANG

TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL

I. UMUM

1. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan penyusunan peraturan
pemerintah tentang tatacara penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional, Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, Rencana Kerja
Pemerintah, Rencana Kerja Kementerian/Lembaga, dan pelaksanaan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan.
Dalam dimensi waktu, rencana pembangunan dibagi ke dalam tiga
periodisasi: (1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); (2)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM); dan (3) Rencana
Pembangunan Tahunan atau Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Dalam
rangka mengoptimalkan peran masyarakat, maka salah satu tahapan
dalam proses perencanaan adalah musyawarah perencanaan
pembangunan yang bertujuan untuk menampung aspirasi masyarakat.

2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)


RPJP memuat visi, misi, dan arah pembangunan nasional untuk periode
20 (dua puluh) tahun. Dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya
memuat hal-hal yang mendasar sehingga memberi keleluasaan yang
cukup bagi penyusunan rencana jangka menengah dan tahunannya.

RPJP diperlukan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi secara


perlahan sehingga tidak terasa dalam jangka pendek, tetapi dapat
menimbulkan masalah besar bagi kesejahteraan rakyat dalam jangka
panjang. Perubahan yang demikian antara lain terjadi pada demografi,
sumberdaya alam, sosial, ekonomi, budaya politik, pertahanan, dan
keamanan. Oleh karena itu, pada tahap awal penyusunan RPJP Nasional
pemikiran visioner yang berkaitan dengan perubahan jangka panjang di
atas perlu dihimpun dan dikaji dengan seksama. Informasi ini
panjang . . .
digunakan sebagai bahan penyusunan visi pembangunan untuk periode
rencana yang dimaksud.
Selanjutnya perencanaan pembangunan jangka panjang nasional diikuti
dengan penentuan pilihan arah untuk pembangunan kewilayahan,
sarana dan prasarana, serta arah pembangunan bidang-bidang
kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik, hukum dan perundang-
undangan, pertahanan, keamanan, dan agama. Komitmen ini,
ditindaklanjuti dengan rancangan peta penuntun penyusunan kebijakan
kunci (road map) yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.

3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)


RPJM Nasional adalah rencana pembangunan Nasional untuk periode 5
(lima) tahun yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program
prioritas Presiden yang disusun dengan berpedoman pada RPJP. Dengan
demikian tahap awal dari penyusunan RPJM Nasional adalah
penjabaran visi-misi, dan program prioritas Presiden ke dalam
Rancangan Awal. Rancangan Awal ini dijadikan sebagai pedoman bagi
semua kementerian/lembaga dalam menyusun Rencana Strategisnya
(Renstra-KL). Draft RPJM Nasional disusun dengan menggunakan
Renstra-KL dan menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah.
Rancangan Akhir disusun dengan mengakomodasi hasil Musrenbang
dan kemudian ditetapkan menjadi RPJM Nasional.

4. Rencana Kerja Pemerintah (RKP)


RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat prioritas
pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro, rencana kerja dan
pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah
maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Walau bernama rencana kerja pemerintah, namun perlu disadari bahwa
pembangunan nasional utamanya dilaksanakan oleh masyarakat itu
sendiri. Yang diperlukan dari pemerintah adalah aturan agar kegiatan
masyarakat itu sendiri sesuai dengan prinsip pembangunan yang telah
ditetapkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yaitu berdasarkan demokrasi dengan prinsip
kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan nasional. Di samping itu, pemerintah juga perlu mendorong,
mengkoordinasikan, dan memfasilitasi kegiatan masyarakat. Semua
kegiatan pemerintah ini dikategorikan sebagai kegiatan dalam kerangka
regulasi.

Tidak . . .
Tidak semua barang dan jasa yang diperlukan masyarakat dapat
dihasilkan dan disediakan oleh masyarakat itu sendiri. Barang dan jasa
publik (non-excludable/non-rivalry) tidak mampu disediakan/diperjual-
belikan oleh individu atau kelompok di masyarakat, sehingga pemerintah harus
menyediakannya. Kegiatan ini selanjutnya disebut kegiatan dalam kerangka pelayanan
umum dan investasi pemerintah.

5. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)


Perkembangan perencanaan partisipatif bermula dari kesadaran bahwa
kinerja sebuah prakarsa sangat ditentukan oleh semua pihak yang
terkait dengan prakarsa tersebut. Semua pihak yang terkait selanjutnya
dikenal dengan istilah pemangku kepentingan (stakeholders). Komitmen
semua pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilan program, dan
diyakini bahwa besarnya komitmen ini tergantung kepada sejauhmana
mereka terlibat dalam proses perencanaan.
Dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan
partisipatif diwujudkan antara lain melalui musyawarah perencanaan
pembangunan (Musrenbang) di mana sebuah rancangan rencana
dibahas dan dikembangkan bersama semua pemangku kepentingan.
Pemangku kepentingan berasal dari semua aparat penyelenggara negara
(eksekutif, legislatif, dan yudikatif), masyarakat, kaum rohaniwan,
pemilik usaha, kelompok profesional, organisasi non-pemerintah, dan
lain-lain.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Ayat (1)

Huruf a . . .
Huruf a.
Yang dimaksud dengan “pemikiran visioner” adalah
pemikiran tentang masa depan yang diperoleh melalui
analisis kondisi objektif (foresight).

Huruf b.
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “arah pembangunan” adalah mencakup
rumusan tentang arah pembangunan kewilayahan, sarana dan
prasarana, dan bidang kehidupan seperti bidang agama, ideologi,
politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan dan
keamanan
Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “masyarakat” adalah pelaku
pembangunan yang merupakan orang perseorangan, kelompok
orang termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum
yang berkepentingan dengan kegiatan dan hasil pembangunan
baik sebagai penanggung biaya, pelaku, penerima manfaat,
maupun penanggung risiko.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8 . . .
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “acuan” adalah bahwa arah
pembangunan nasional di masing-masing bidang pembangunan
dalam RPJP Nasional yang telah ditetapkan dengan Undang-
Undang menjadi arah bagi pembangunan di bidang yang sama
dalam RPJP Provinsi.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “rancangan rencana pembangunan
secara teknokratik” adalah perencanaan yang dilakukan
dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah
untuk menganalisis kondisi obyektif dengan
mempertimbangkan beberapa skenario pembangunan
selama periode rencana berikutnya.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b.
Yang dimaksud dengan “aspirasi masyarakat” adalah
keinginan masyarakat agar pemerintah memenuhi
kebutuhan barang publik, layanan publik, dan regulasi
yang disampaikan dalam media cetak, dan forum resmi,
serta yang diperoleh melalui mekanisme penjaringan
aspirasi yang akuntabel.
Ayat (4)
Ayat (4) . . .
Cukup jelas.

Pasal 11
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “program prioritas Presiden” adalah
program sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor
23 Tahun 1999 tentang Pemilihan Presiden/Wakil Presiden.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan “instansi terkait” mencakup Departemen
Keuangan, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik, dan instansi
pemerintah lain yang tugas dan fungsinya bersesuaian.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Ayat (17) . . .
Ayat (7)
Yang dimaksud dengan “bersifat indikatif” adalah bahwa
informasi baik tentang lokasi, keluaran (output), maupun
sumberdaya yang tercantum di dalam dokumen rencana ini,
hanya merupakan indikasi yang hendak dicapai dan tidak
bersifat kaku.
Ayat (8)
Cukup jelas.

Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud “kewenangan” adalah kewenangan yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Huruf b.
Cukup jelas.
Huruf c.
Cukup jelas.
Huruf d.
Cukup jelas.
Huruf e.
Cukup jelas.
Huruf f.
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17

Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “disusun atau diperbaiki” adalah
terutama dalam hal sasaran hasil dari masing-masing program,
sasaran keluaran masing-masing kegiatan pokok, serta indikasi
pendanaan yang diperlukan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “kegiatan” adalah bagian dari program
yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai
bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan
terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumberdaya baik
yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal
termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari
beberapa atau kesemua jenis sumberdaya tersebut sebagai
masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam
bentuk barang/jasa.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “indikator keluaran” adalah
menunjukkan barang/jasa yang hendak dicapai dari pelaksanaan
kegiatan.
Sasaran . . .

Sasaran keluaran yang dimaksud adalah rumusan yang lebih


nyata dari indikator keluaran yang menunjukkan target prestasi
kerja yang hendak dicapai dalam tahun rencana.

Ayat (5)
“Peraturan perundang-undangan” yang dimaksud adalah
peraturan yang berkaitan dengan pembagian urusan yang
ditangani pemerintah pusat, daerah provinsi, daerah kabupaten
dan kota.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD)” dalam ayat ini adalah dokumen perencanaan Daerah
untuk periode 1 (satu) tahun
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 25 . . .
Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4664