Anda di halaman 1dari 4

PCOS

(Polycystic Ovarian Syndrome)


1. Patofisiologi

Patofisiologi PolyCystic Ovarian Syndrome


PCOS adalah penyakit gangguan sistem endrokin yang terdiri dari beberapa
gejala yaitu hiperandrogen dan polistik ovarium (Insler, 1993). Salah satu masalah

yang mucul yaitu pola menstruasi yang tidak teratur yang diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu
hyperandrogen dan hyperinsulinemia, bisa dikarenakan kelainan genetika atau hal lain misalnya
gaya hidup atau asupan nutrisi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (bafen A, 2004)
Patofisiologis PCOS meliputi disfungsi ovarium yang sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor eksternal, seperti gangguan dari aksi hipotalamus-hipofisis-ovarium dan hiperinsulinemia
yang berujung pada hiperandrogen. Berlebihannya gonadotropin releasing hormone(GnRH)
dapat menyebabkan hipersekresi hormon luteinising(LH), yang berefek pada produksi androgen
ovarium maupun pengembangan oosit. Hiperinsulinemia dapat menyebabkan meningkatnya
kadar androgen, dimana hiperandrogen ini menjadi penyebab utama terjadinya penyakit PCOS
ini(bafen A, 2004)

Secara rinci, Peningkatan faktor pertumbuhan dan protein pengikatnya yang tidak
seimbang akan meningkatkan respon ovarium terhadap Hormone LH dan FSH yang
menyebabkan perkembangan folikel ovarium akan berlebih sehigga banyak folikel
yang bersifat kistik dan produksi androgen juga meningkat.
1. Produksi androgen yang berlebih oleh ovarium, kelenjar adrenal atau
keduanya akan menyebabkan androgen menjadi estrogen yang akan
mengganggu pelepasan Gonadotropin Releasing Hormone(GnRH) sehingga
akan meningkatkan kadar LH menjadi tinggi yang menyebabkan produksi
androgen meningkat (Insler, 1993).
2. Obesitas akan menyebabkan hiperinsulin atau resistensi insulin. Hiperinsulin
akan menstimulasi sel ovarium secara berlebihan untuk memproduksi
androgen yang akan menghambat produksi Sex Hormone Binding Globulin
(SHBG). Pada obesitas juga terdapat gangguan dalam penurunan
pengendalian sinyal rasa lapar akibatnya asupan glukosa akan meningkat
yag menyebabkan hiperinsulin untuk menstimulasi sekresi steroid adrenal
sehingga terjadi hiperandrogen (Kasim, 2007).
3. Infertilitas pada PCOS disebabkan oleh adanya hambatan ovulasi dan
hipersekresi LH. Ovulasi terhambat karena hiperinsulin dan hiperandrogen.
Berat/ringannya infertilitas yang terjadi tergantung dengan berat/ringannya
PCOS ( Jacobs, 1999).
4. Hiperandrogen, anovulasi dan polikistik pada ovarium dapat disebabkan oleh
faktor genetik. Jika seorang wanita yang memiliki ibu atau saudara
perempuan yang menderita PCOS, maka sebesar 50% wanita tersebut juga
akan menderita PCOS (Speroff, 2005).
2. Tanda dan gejala
Gejala klinis PCOS adalah infertilitas, kelainan menstruasi, hiperinsulin, ukuran
ovarium membesar, hirsutism dan obesitas. Gejala lain yang juga didapatkan
adalah akne dan akantosis nigrikans.(jacobs, 1999; balen, A, 2002; KasimKarakas, et al, 2007)
Adapun tanda dan gejala PCOS yang dirumuskan oleh American Society for
Reproductive Medicine (ASRM) dan European Society of Human Reproduction
and Embryology (ESHRE) pada tahun 2003 adalah harus memiliki 2 dari 3
gejala berikut:
1. Hiperandrogen, ditandai dengan meningkatnya kadar androgen bebas atau
tanda klinis hirsutism
2. Gangguan siklus menstruasi
3. Polikistik ovarium, diketahui dari pemeriksaan USG.
Disebut polikistik jika ditemukan 12/lebih folikel di tiap ovarium dengan diameter
2-9 mm dan/atau disertai penambahan volume ovarium menjadi >10 ml
(Abbott, DH,et al, 2005; Speroff, L., Fritz, MA. 2005; Fauser, B. 2004).
3. Terapi

1. Tujuan terapi

Tujuan pengobatan yaitu meminimalkan gejala hiperandrogen, mencegahan hiperplasi


endometrium, dan mengatasi faktor-faktor risiko metabolik yang mendasari diabetes tipe 2, dan
mencegah infertilitas dengan terapi induksi ovulasi (Trikudanathan, 2015).

2. Terapi farmakologi
a. Hyperandrogenism
Pada wanita yang tidak hamil, kontrasepsi hormonal (kombinasi estrogen / progestin)
merupakan lini pertama pengobatan hirsutisme dan jerawat. Komponen progestin dalam
kontrasepsi oral (OC) menghambat sekresi LH, sehingga mengurangi produksi LH-dependent
androgen. Komponen estrogen meningkatkan sintesis SHBG di hati, sehingga mengurangi kadar
testosteron. Pil OC juga sedikit mengurangi produksi androgen adrenal dan mengurangi
pengikatan androgen pada reseptornya. Komponen progestin pada pil OC akan berikatan dengan
progesteron dan reseptor androgen. Progestin generasi pertama, norethindrone dan norethindrone
asetat, menjadi pilihan pada wanita dengan PCOS untuk hiperandrogenisme (Trikudanathan,
2015).
b. Endometrial protection
Wanita dengan PCOS memiliki peningkatan risiko hiperplasia endometrium dan kanker
endometrium. Oral contraceptives (OC), patch transdermal, atau cincin vagina memberikan
perlindungan endometrial dan mengatur siklus menstruasi. Wanita yang memilih untuk tidak
menggunakan kombinasi estrogen dan progesteron dapat menggunakan terapi progestin
intermiten atau progestinreleasing intrauterine device. Medroxyprogesterone 5-10 mg selama 10
hari setiap 2-3 bulan menjadi pilihan yang baik untuk meluruhkan endometrium dan melindungi
dari hiperplasia endometrium (Trikudanathan, 2015).
c. Infertility
Clomiphene citrate sebagai terapi lini pertama untuk menginduksi terjadinya ovulasi pada
wanita PCOS. Clomiphene citrate adalah selektif modulator reseptor estrogen yang dapat
mengikat reseptor estrogen di hipotalamus, sehingga menghambat umpan balik negatif dari
estrogen pada hipotalamus. Penghambatan tersebut dapat meningkatkan FSH yang nantinya
merangsang pembentukan folikel dan menginduksi terjadinya ovulasi. Clomiphene citrate
biasanya diberikan dengan dosis 50 mg selama 5 hari dari hari ke-2 sampai hari ke-5 setelah
periode menstruasi. Clomiphene citrate dapat dikombinasikan dengan metformin. Studi RCT
menunjukkaan bahwa kombinasi tersebut dapat meningkatkan angka kelahiran dibandingkan
dengan penggunaan metformin saja. Metformin juga dapat digunakan sebagai terapi adjuvant
untuk mencegah sindrom hiperstimulasi ovarium pada wanita PCOS (Trikudanathan, 2015).
Inhibitor aromatase seperti letrozole juga telah digunakan untuk menginduksi terjadinya
ovulasi. Letrozole dapat memblok konversi androgen menjadi estrogen, sehingga meminimalkan

umpan balik negatif pada hipotalamus yang menyebabkan peningkatan kadar GnRH dan FSH.
Letrozole biasanya digunakan pada wanita dengan resistensi clomiphene citrate atau yang
memiliki efek samping dari clomiphene, seperti gejala vasomotor, sakit kepala, dan penipisan
endometrium (Trikudanathan, 2015).
d. Cardiometabolic risk management
Wanita dengan PCOS yang memiliki gangguan toleransi glukosa dan untuk pencegahan
diabetes direkomendasikan menggunakan metformin, terutama pada wanita dengan gaya hidup
yang tidak teratur. Penggunaan thiazolidinediones (rosiglitazon, troglitazon, pioglitazon, dll)
dihindari karena mempunyai efek samping sangat mengganggu, terutama pada kelompok usia
subur (Trikudanathan, 2015).
3. Terapi nonfarmakologi
Exercise dan penurunan berat badan
Penurunan berat badan 5% - 10% memiliki pengaruh menguntungkan pada faktor-faktor
risiko metabolik dan dapat meningkatkan respon terhadap induksi ovulasi. Dalam studi Diabetes
Prevention Program (DPP), modifikasi gaya hidup dengan berolahraga dan diet mengurangi
perkembangan gangguan toleransi glukosa untuk diabetes T2 sebesar 58% dibandingkan dengan
metformin yang hanya 31%.