Anda di halaman 1dari 12

Q. S.

ATH-THALAQ AYAT 6
(Jaminan Pemeliharaan Hak
Istri yang Dicerai)

ABSTRAK
Tulisan ini secara khusus diarahkan pada
Q.S. Ath-Thalaq ayat 6 yang
mendeskripsikan jaminan pemeliharaan
sejumlah hak istri yang ditalaq/cerai oleh
suaminya. Hak-hak tersebut yaitu; (1)
tempat tinggal selama menjalani masa
iddah, (2) memeroleh nafkah selama
kehamilan dan (3)memeroleh upah
menyusui. Disamping ketiga hal tersebut,
diungkap juga perintah untuk
bermusyawarah ketika kedua belah pihak
yaitu suami yang mencerai dan istri yang
dicerai mengalami kesulitan dalam proses
implementasi ketiga hak istri yang dicerai,
dan juga menyinggung tentang alternatif
mencari ibu susuan. Tulisan ini juga
menyinggung secara ringkas inti pasal 40,
49 ayat (2) dan (3) Undang-Undang
Republik Indonesia No. 39 tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia terkait Q.S. AthThalaq ayat 6.

Oleh:
Sova
Nurfalah

Page 2 of 12

Q.S. ATH-THALAQ AYAT 6







Artinya: Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu
bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah
kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati)
mereka, dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq)
itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka
nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka
menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah
kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara
kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu
menemui
kesulitan
Maka
perempuan
lain
boleh
menyusukan (anak itu) untuknya. Q.S. Ath-Thalaq (65): 6.

PENDAHULUAN

Tempatkanlah mereka (para


isteri) di mana kamu
bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah
kamu menyusahkan mereka
untuk menyempitkan (hati)
mereka,
dan jika mereka (isteri-isteri
yang sudah ditalaq) itu sedang
hamil, Maka berikanlah kepada
mereka
nafkahnya
hingga
mereka bersalin,
kemudian jika mereka
menyusukan (anak-anak)mu
untukmu Maka berikanlah

Page 3 of 12

kepada mereka upahnya,


dan musyawarahkanlah di
antara kamu (segala sesuatu)
dengan baik,
dan jika kamu menemui
kesulitan Maka perempuan
lain boleh menyusukan (anak
itu) untuknya,

PEMBAHASAN
Penempatan Istri yang dithalaq
Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat
tinggal

menurut

kemampuanmu

menyusahkan mereka

untuk

dan

janganlah

kamu

menyempitkan (hati) mereka.

Penggalan ayat tersebut di atas mengungkapkan penempatan


para istri yang dithalaq/cerai dan dimana para istri yang
dithalaq/cerai tersebut bertempat tinggal dan larangan untuk
menyusahkan para istri yang dithalaq/cerai. Secara eksplisit
perintah menempatkan para istri di mana kamu bertempat
tinggal menurut

kemampuanmu tersebut tidak membedakan

antara wanita yang telah dithalaq/cerai raji ataupun yang


dithalaq/cerai bain (thalaq 3).

Namun Qatadah dan Ibnu Abi

Layla berpendapat bahwa yang berhak mendapatkan tempat


tinggal itu adalah wanita yang dithalaq/cerai raji.1 Dan Qurthubi
1Qurthuby, Muhammad bin Ahmad Al-Anshary, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir Qurthuby (versi
off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com :

Page 4 of 12

menambahkan bahwa dengan menyediakan tempat tinggal itu


berarti berimplikasi bagi pengalokasian nafkah2. Dan janganlah
kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka
Abi dluha menjelaskan yaitu janganlah para suami mencerai
istrinya dan kemudian melakukan ruju setelah masa iddah
mantan istri tersisa tinggal dua hari lagi, demikian menurut Abi
Dluhaa dalam Ibnu Katsir.3
Terkait dengan penggalan ayat Tempatkanlah mereka
(para

istri)

di

mana

kamu

bertempat

tinggal

menurut

kemampuanmu, Negara (pemerintah Indonesia) secara umum


dan tanpa membedakan suku, ras dan agama menjamin setiap
orang untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.
Hal

ini

tertulis

dalam

pasal

40

Undang-Undang

Republik

Indonesia No. 39 tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia yang


menyebutkan bahwa;
Setiap

orang

berhak

untuk

bertempat

tinggal

serta

berkehidupan layak4.

2Qurthuby, Muhammad bin Ahmad Al-Anshary, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir Qurthuby (versi
off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com

3Al-Quran beserta tafsir (versi off line, edisi 4.1.), Tafsir Ibnu Katsir,
www.islamspirit.com

} :
{ .

Page 5 of 12

Pasal 40 di atas menjamin setiap orang haknya untuk


bertempat (mengusahakan, memeroleh) tinggal, meski secara
umum dan tidak secara khusus dalam mengusahakan atau
memeroleh tempat tinggal tersebut bukan disebabkan karena
adanya kasus perceraian dan implikasi yang lahir akibat adanya
perceraian tersebut bagi istri yang dicerai sebagaimana yang
difahami dari konteks Q.S. Ath-Thalaq ayat 6. Dengan demikian
semangat pasal 40 Undang-Undang Republik Indonesia No. 39
tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia tersebut masih sejalan
dengan Q.S. Ath-Thalaq ayat 6 meskipun belum mengakomodasi
secara penuh dan karenanya perlu perincian lebih lanjut dalam
penjaminan
istri/wanita

pemeliharaan
yang

pemeliharaan hak

dicerai)
istri

hak

tersebut

minimal

yang

(khususnya

setara

dengan

terkait
jaminan

dicerai yang diungkap pada

penggalan ayat Q.S. Ath-Thalaq ayat 6, Tempatkanlah mereka


(para

isteri)

di

mana

kamu

bertempat

tinggal

menurut

kemampuanmu.

Pemberian

Nafkah

untuk

Istri

yang

dithalaq

dalam

Keadaan Hamil
4Undang-Undang Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 2000 dan Undang-Undang
HAM 1999, Bandung, Citra Umbara, 2001, hlm. 16.

Page 6 of 12

dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang


hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga
mereka bersalin. Terkait dengan penggalan ayat ini, Ibnu Katsir
mengutip pendapat Ibnu Abbas ra, bahwa konteks penggalan
ayat ini terkait dengan persoalan istri yang dithalaq/cerai bain
dalam

kondisi

hamil

atau

mengandung

diberikan

jaminan

nafkahnya hingga ia melahirkan. Ibnu Abbas ra beralasan bahwa


dalam proses thalaq/cerai raji, istri yang dicerai harus diberikan
nafkahnya baik si istri dalam keadaan hamil ataupun tidak.5
Terkait dengan penggalan ayat dan jika mereka (isteriisteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah
kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, pasal 49 ayat
(2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 tahun 1999
tentang Hak Azazi Manusia menyebutkan;
Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus
dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap halhal yang dapat mengancam keselamatan dan atau
kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita
Pada pasal pasal 49 ayat (2) di atas tidak ditemukan kata atau
kalimat

khusus

pemeliharaan

yang

hak

langsung

nafkah

istri

mengacu
yang

pada

dithalaq/cerai

jaminan
seperti

terungkap pada penggalan ayat dan jika mereka (isteri-isteri


5Al-Quran beserta tafsir (versi off line, edisi 4.1.), Tafsir Ibnu Katsir,
www.islamspirit.com ,

Page 7 of 12

yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada


mereka nafkahnya hingga mereka bersalin. Hak memeroleh
nafkah bagi istri yang dithalaq/cerai hanya secara implisit (jika
boleh)

difahami

dengan

asumsi

yaitu

untuk

menjaga

keselamatan dan kesehatannya (istri yang dithalaq/cerai) fungsi


reproduksi wanita (istri yang dithalaq/cerai) atau hamil perlu
diberi asupan makanan, gizi yang baik agar wanita (istri yang
dithalaq/cerai) selamat dan sehat dan itu berarti perlunya biaya
atau

nafkah

yang

diperuntukan

bagi

wanita

(istri

yang

dithalaq/cerai). Dan untuk menjamin semua itu pasal 49 ayat (2)


di atas menyebutkan kalimat perlindungan khusus meskipun
maksud dari kalimat perlindungan khusus tersebut terkait fungsi
reproduksi (hamil dan melahirkan) yaitu pelayanan kesehatan
yang berkaitan dengan haid, hamil, melahirkan dan pemberian
kesempatan untuk menyusui anak.6

Pemberian Upah untuk Istri yang dithalaq yang Sedang


Menyusui Anaknya
kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu
maka berikanlah kepada mereka upahnya. Terkait dengan
penggalan ayat ini Ibnu Katsir berpendapat bahwa ketika si istri
6 Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi
manusia, Undang-Undang Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 2000 dan Undang-Undang
HAM 1999, Bandung, Citra Umbara, 2001, hlm. 55.

Page 8 of 12

yang dicerai menyusui anak (dari suami yang mencerai) maka ia


memiliki hak memeroleh jasa penyusuan tersebut dan orangtua
(ayah) atau wali dari anak yang disusui tersebut terikat
kewajiban pemberian upah terhadap ibu dari si anak atau istri
yang dicerai tersebut.7 Menurut Qurthubi, yang dimaksud jika
mereka yaitu wanita yang dithalaq/cerai itu menyusukan (anakanak)mu, maka wajib bagi si ayah/bapak sianak memberikan
upah penyusuan tersebut8

Musyawarah yang Baik


dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan
baik. Ibnu Katsir mengomentari penggalan ayat ini bahwa
hendaknya sejumlah persoalan yang terjadi diantara suami
dengan istri yang dicerai sepatutnya diselesaikan dengan cara
maruf (baik) tanpa mencelakai/mencederai (fihak suami) dan
mendatangkan kecelakaan (dari fihak istri). Demikian pula
persoalan terkait dengan proses penyusuan antara ibu (istri yang
7Al-Quran beserta tafsir (versi off line, edisi 4.1.), Tafsir Ibnu Katsir,
www.islamspirit.com

8 Qurthuby, Muhammad bin Ahmad Al-Anshary, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir


Qurthuby (versi off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com - "

Page 9 of 12

dicerai) dengan anaknya jangan sampai mencelakai fihak ibu


(istri

yang

dicerai)

maupun

anak

yang

disusui.9

Menurut

Qurthubi, redaksi penggalan ayat ini ditujukan kepada suami


maupun istri, yaitu masing-masing fihak hendaknya menerima
sesuatu yang dianggap merupakan bagian dari hal yang maruf
(baik) dan jamil (indah). Dan salah satu makna indah tersebut
ialah penyusuan anak tanpa memeroleh imbalan upah. Dan
dianggap indah juga apabila karena penyususan tersebut siibu
yang menyusui diberikan upah.10

Alternatif Pencarian Ibu Susuan


dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh
menyusukan (anak itu) untuknya. Terkait dengan penggalan ayat
ini, Ibnu Katsir menjelaskan ketika terjadi perbedaan pendapat
antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri yang dicerai) yang
menuntut pemberian upah penyusuan yang besar namun fihak
laki-laki (suami) tidak mengabulkannya atau mungkin setelah
9Al-Quran beserta tafsir (versi off line, edisi 4.1.), Tafsir Ibnu Katsir,
www.islamspirit.com

10Qurthuby, Muhammad bin Ahmad Al-Anshary, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir


Qurthuby (versi off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com "


. .

Page 10 of 12

berusaha mencoba namun akhirnya tidak mampu, maka boleh


dicarikan ibu susuan bagi bayi jika si ibu dari bayi tersebut
mau/rela dengan pengupahan ibu susuan bagi sibayi.11
KESIMPULAN
Berdasarkan deskripsi pada bagian pembahasan terkait tentang
Q.S. Ath-Thalaq ayat 6 dalam konteks jaminan pemeliharaan
sejumlah hak istri yang ditalaq/cerai oleh suaminya, dapat
disimpulkan secara tentatif sebagai berikut.
Pertama Hak-hak istri yang dicerai yaitu; (1) tempat tinggal
selama menjalani masa iddah, (2) memeroleh nafkah selama
kehamilan dan (3)memeroleh upah menyusui.
Kedua, Disamping ketiga hal tersebut, diungkap juga
perintah untuk bermusyawarah ketika kedua belah pihak yaitu
suami yang mencerai dan istri yang dicerai mengalami kesulitan
dalam proses implementasi ketiga hak istri yang dicerai.
Ketiga, alternatif mencari ibu susuan.
Keempat, Undang Republik Indonesia No. 39 tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia terkait Q.S. Ath-Thalaq ayat 6 dengan
rincian sebagai berikut;
11Al-Quran beserta tafsir (versi off line, edisi 4.1.), Tafsir Ibnu Katsir,
www.islamspirit.com

,
, ,

Page 11 of 12

a. pasal 40 tentang hak untuk bertempat tinggal, belum


mengakomodasi secara penuh terkait jaminan hak
tempat

tinggal

bagi

istri

yang

dithalaq/cerai

dan

karenanya perlu perincian lebih lanjut dalam jaminan


hak

tersebut

(khususnya

terkait

istri/wanita

yang

dicerai) minimal setara dengan jaminan hak tempat


tinggal bagi istri yang dicerai seperti diungkap pada
penggalan ayat Q.S. Ath-Thalaq ayat 6 Tempatkanlah
mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal
menurut kemampuanmu.
b. pasal 49 ayat (2) dan (3) memberikan perlindungan
khusus dan memberikan hak khusus kepada wanita,
namun tidak secara khusus memberikan jaminan hak
memeroleh upah bagi istri yang dithalaq/cerai ketika ia
melahirkan dan menyusui.

Page 12 of 12

DAFTAR PUSTAKA
Hatta, Ahmad, et. al, 2013. The Great Quran; Referensi Terlengkap Ilmu-Ilmu
Al-Quran, Jakarta, Maghfirah Pustaka
Ibnu Katsir, Ismail, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir Ibnu Katsir (versi off line,
edisi 4.1.), www.islamspirit.com
Qurthuby, Muhammad bin Ahmad Al-Anshary, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir
Qurthuby (versi off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com
Thabary, Muhammad Ibnu Jarir Al-, Al-Quran beserta tafsir, Tafsir Thabary
(versi off line, edisi 4.1.), www.islamspirit.com
Tim Kerja Sosialisasi MPR RI, 2014. Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia, Jakarta, Sekretariat Jenderal MPR RI
Undang-Undang Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia 2000 dan UndangUndang HAM 1999, Bandung, Citra Umbara, 2001