Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI PESTISIDA
ACARA 3
MACAM-MACAM ALAT APLIKASI PESTISIDA

Oleh
Nama

HENDRA PANGARIBUAN

NPM

E1J012075

Co-Ass

Goklasni Manullang

Shift

Jumat,10:00 Selesai

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk mengaplikasikan pestisida dilapangan diperlukan suatu alat aplikasi. Alat aplikasi
(Aplikator) pestisida dapat beraneka macam tergantung pada jenis formulasi, jasad sasaran,
jenis tanaman dan luas lahan yang akan diperlakukan. Ada aplikator yang digunakan secara
sederhana dan ada pula yang menggunakan bantuan teknologi tinggi seperti dengan pesawat
terbang dan robot.
Alat aplikasi pestisida dapat dikelompokkan menjadi :

SPRAYER/MIST BLOWER/FOGGER
DUSTER
FUMIGATOR
BAIT STATION
SOIL INJECTOR
AEROSOL

Ciri utama pertanian modern adalah produktivitas, efisiensi, mutu dan kontinuitas
pasokan yang terus menerus harus selalu meningkat dan terpelihara. Produk-produk pertanian
kita baik komoditi tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan dan peternakan
menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengan kualitas tinggi dan memiliki standar
tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut dihasilkan melalui suatu proses yang
menggunakan muatan teknologi standar. Indonesia menghadapi persaingan yang keras dan
tajam tidak hanya di dunia tetapi bahkan di kawasan ASEAN. Mampukan kita memacu
pertanian kita menjadi sektor yang sejajar dengan tetangga dan dunia?
Gambaran di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian akan tetap penting dalam
perekonomian serta tetap berperan dalam pembangunan nasional. Terlebih jika wacana
pembangunan yang terintegrasi antara pertanian, industri dan perdagangan dipandang sebagai
suatu sistem entity yang utuh. Kaitan yang erat antara pertanian dan industri serta
perdagangan senantiasa menuntut berkembangnya kebijakan pembangunan pertanian yang
dinamis sejalan dengan transformasi perekonomian yang sedang terjadi.Dalam suasana
lingkungan strategis yang berubah dengan cepat, penajaman arah kebijaksanaan dan
perencanaan pembangunan pada masa reformasi menjadi demikian penting.
Dengan mekanisasi pertanian diharapkan efisiensi dan produktivitas penggunaan sumber
daya dapat ditingkatkan. Melalui mekanisasi pertanian ketepatan waktu dalam aktivitas
pertanian dapat lebih ditingkatkan. Pertanian merupakan kegiatan yang tergantung pada
musim. Pada saat musim tanam dan musim panen tenaga kerja yang dibutuhkan sangat besar.

Tetapi pada waktu lain tenaga kerja kurang dibutuhkan dan ini mengakibatkan terjadinya
pengangguran tak kentara. Dengan mekanisasi pertanian semua aktivitas pertanian dapat
diselesaikan dengan lebih tepat waktu sehingga memberikan hasil yang lebih baik, di
samping itu penggunaan alat dan mesin pertanian dapat juga mengurangi kejenuhan dalam
pekerjaan petani dan tenaga kerja dapat dialokasikan untuk melakukan usaha tani lain atau
kegiatan di sektor lain yang sifatnya lebih kontinyu.
Namun tidak semua teknologi dapat diadopsi dan diterapkan begitu saja karena pertanian
di negara sumber teknologi mempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara kita,
bahkan kondisi lahan pertanian di tiap daerah juga berbeda-beda. Teknologi tersebut harus
dipelajari, dimodifikasi, dikembangkan, dan selanjutnya baru diterapkan ke dalam sistem
pertanian kita. Dalam hal ini peran kelembagaan sangatlah penting, baik dalam inovasi alat
dan mesin pertanian yang memenuhi kebutuhan petani maupun dalam pemberdayaan
masyarakat. Lembaga-lembaga ini juga dibutuhkan untuk menilai respon sosial, ekonomi
masyarakat terhadap inovasi teknologi, dan melakukan penyesuaian dalam pengambilan
kebijakan mekanisasi pertanian. Makalah ini merupakan suatu kajian mekanisasi pertanian
dengan fokus pada aspek kelembagaan teknologi dan kaitannya dengan kinerja sistem dan
usaha agribisnis.
B. Tujuan Praktikum
Mempelajari aneka macam alat aplikasi pestisida dan cara kerjanya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Alat penyemprot (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan
kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun,
tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot
ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung di dalam
setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot.
Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau
suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray. Sprayer merupakan alat aplikator
pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama dan
penyakit tumbuhan. Sprayer juga didefinisikan sebagai alat aplikator pestisida yang sangat
diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan.
Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan
dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida
yang akan disemprotkan.
Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak
digunakan petani di lapangan adalah jenis hand sprayer (tipe pompa), namun hasilnya kurang
efektif, tidak efisien dan mudah rusak. Hasil studi yang dilakukan oleh Departemen Pertanian
pada tahun 1997 di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa sprayer tipe gendong
sering mengalami kerusakan. Komponen-komponen sprayer yang sering mengalami
kerusakan tersebut antara lain : tabung pompa bocor, batang torak mudah patah, katup bocor,
paking karet sering sobek, ulir aus, selang penyalur pecah, nozzle dan kran sprayer mudah
rusak, tali gendong putus, sambungan las korosi, dsb. (Dirjen Tanaman Pangan, 1977).
Disamping masalah pada perangkat alatnya, masalah lain adalah kebanyakan pestisida yang
diaplikasikan tidak sesuai (melebihi) dari dosis yang direkomendasikan dan ini salah satunya
disebabkan oleh disain sprayer yang kurang menunjang aplikasi (Mimin, et.al., 1992).
Dari hasil penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa kinerja sprayer elektrostatika
lebih baik dari tipe sprayer lainnya, namun perlu modifikasi lebih lanjut terutama pada
sumber tenaga (batere) dan pola penyebaran dropletnya agar pengeluarannya benar-benar
terkontrol, bahan pembawa cairan kontak (media kontak) yang mahal mengingat tidak semua
bahan kimia dapat diaplikasikan dengan menggunakan sprayer elektrostatik. Kelemahan
lainnya adalah disain yang dibuat masih belum ergonomis (berat dan kurang flkesibel)
sehingga agak menyulitkan dalam operasionalnya di lapangan. Di samping itu rancangan

sprayer elektrostatik ini perlu dimodifikasi mengingat harga atau biaya produksinya masih
tinggi bila dibandingkan dengan tipe sprayer lainnya (terutama jenis sprayer gendong /
knapsack sprayer), baik produk lokal maupun impor. Hasil penelitian Kusdiana (1991) dan
Roni Kastaman (1992) menunjukkan bahwa sebenarnya jenis sprayer yang dapat dianggap
paling baik dan memenuhi kriteria pemakaian yang diinginkan oleh pemakai (umumnya
petani) adalah sprayer dari jenis Microner atau Sprayer Elektrostatik.
Umumnya kriteria yang banyak diutamakan pemakai adalah kriteria jaminan
ketersediaan suku cadang, keamanan dalam penggunaan alat, ekonomis, kapasitas dan
kepraktisan. Demikian pula kesimpulan dari hasil penelitian Mimin et.al. (1992), yaitu bahwa
sprayer yang paling baik dari segi kinerja penyemprotannya adalah sprayer elektrostatik dan
yang paling buruk sprayer hidrolik.
Pestisida yang dipakai dalam budidaya tanaman umumnya berbentuk cairan dan ada
pula yang berbentuk tepung, digunakan untuk mengendalikan gulma, hama dan penyakit
tanaman. Untuk mengaplikasikannya pestisida cair digunakan alat penyemprot yang disebut
sprayer, sedangkan untuk pestisida berbentuk tepung digunakan alat yang disebut duster.
Dalam penggunaannya sehari-hari petani sering menemukan masalah seperti teknik
pemakaian, serta perbaikan dan pemeliharaannya. Hal seperti ini pada akhirnya akan
menentukan tingkat efisisnsi dan efektivitas dalam penggunaannya.
Berdasarkan tenaga yang digunakannya alat penyemprot dibedakan menjadi alat
penyemprot dengan tenaga tangan (handsprayer), dan alat penyemprot dengan pompa
tekanan tinggi. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang
dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan
dosis pestisida yang akan disemprotkan (Hidayat, 2001). Dari hasil beberapa penelitian
menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak digunakan petani di lapangan adalah jenis
hand sprayer (tipe pompa), namun hasilnya kurang efektif, tidak efisien dan mudah rusak.
Hasil studi yang dilakukan oleh Departemen Pertanian pada tahun 1977 di beberapa tempat di
Indonesia menunjukkan bahwa sprayer tipe gendong sering mengalami kerusakan.
Komponen-komponen sprayer yang sering mengalami kerusakan tersebut antara lain : tabung
pompa bocor, batang torak mudah patah, katup bocor, paking karet sering sobek, ulir aus,
selang penyalur pecah, nozzle dan kran sprayer mudah rusak, tali gendong putus, sambungan
las korosi, dsb. Di samping masalah pada perangkat alatnya, masalah lain adalah kebanyakan
pestyang direkomendasikan dan ini salah satunya disebabkan oleh disain sprayer yang kurang
menunjang aplikasi.

BABA III
METODOLOGI
A. Alat Dan Bahan
Adapun alat yang dipergunakan pada praktikum acara 3 ini adalah sebagai berikut :

Mist Blower

Soil Injector
Midget Duster
Knapseck Sprayer Semi
Hand Sprayer
Emposan

Micron ULVA
Swing Fog
FumigatorBait station
Knapsack Sprayer Otomatis
Tree Sprayer
Motor Duster
Aerosol

B. Cara Kerja
Membuat gambar skematis alat aplikasi pestisida dan menunjukkan nama bagian

baian alat dan menerangkan mekanisme kerja masing-masing


Menggambar secara skematis tipe pompa piston pada semi-automatic sprayer dan

midget duster
Menggambar secara skematis nozel pada semi-automatic sprayer, blower sprayer,
swing fog, dan Micron ULVA

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1.Knapseck Sprayer

2.Hand Sprayer

3.Spayer

4.Mist Blower

5.Sprayer Duster

6.Sprayer pompa

7.Sprayer

B. Pembahasan
Sprayer Gendong Semi Otomatis
Prinsip kerja alat ini adalah memecah cairan menjadi butiran partikel halus yang
menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka pemakaian pestisida akan
efektif dan merata ke seluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk memperoleh
butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan partikel dengan
menggunakan tekanan (hydraulic atomization), yakni tekanan dalam tabung khusus dipompa
sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang karet
menuju ke alat pengabut bersama dengan cairan. Cairan dengan tekanan tinggi dan mengalir
melalui celah yang sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akan pecah menjadi partikelpartikel yang sangat halus.
Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak
digunakan petani di lapangan adalah jenis ini, namun hasilnya kurang efektif, tidak efisien
dan mudah rusak. Hasil studi yang dilakukan oleh Departemen Pertanian pada tahun 1977 di
beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa sprayer tipe gendong sering mengalami
kerusakan. Komponen-komponen sprayer yang sering mengalami kerusakan tersebut antara
lain : tabung pompa bocor, batang torak mudah patah, katup bocor, paking karet sering sobek,
ulir aus, selang penyalur pecah, nozzle dan kran sprayer mudah rusak, tali gendong putus,
sambungan las korosi, dsb. Di samping masalah pada perangkat alatnya, masalah lain adalah
kebanyakan pest yang direkomendasikan dan ini salah satunya disebabkan oleh disain sprayer
yang kurang menunjang aplikasi. Bagian-bagian alat semprot semi otomatis antara lain tuas
penyemprot, noozle, batang semprot, mult tangki, memiliki satu tabung untuk menampung
cairan pestisida sekaligus menampung tekanan udara serta tali untuk menggendong alat.
Kapasitas atau daya tampung alat 17 liter dan terbuat dari logam besi.
Sprayer Gendong Otomatis
Prinsip kerja alat penyemprot ini adalah memecah cairan menjadi butiran partikel
halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka pemakaian
pestisida akan efektif dan merata ke seluruh permukaan daun atau tajuk tanaman. Untuk
memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan menggunakan proses pembentukan
partikel dengan menggunakan tekanan (hydraulic atomization), yakni cairan di dalam tangki
dipompa sehingga mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang
karet menuju ke alat pengabut. Cairan dengan tekanan tinggi dan mengalir melalui celah yang
sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akan pecah menjadi partikel-partikel yang sangat
halus.

Berdasarkan prinsip kerjanya, maka alat penyemprot tipe gendong ini memiliki
bagian utama yang terdiri :
1.

Tangki dari bahan plat tahan karat, untuk menampung cairan

2.

Unit pompa, yang terdiri dari silinder pompa, piston dari kulit

3.

Tangkai pompa, untuk memompa cairan

4.

Saluran penyemprot, terdiri dari kran, selang karet, katup serta pipa yang bagian
ujungnya dilengkapi nosel

5.

Manometer, untuk mengukur tekanan udara di dalam tangki

6.

Sabuk penggendong

7.

Selang karet

8.

Piston pompa

9.

Katup pengatur aliran cairan keluar dari tangki

10.

Katup pengendali aliran cairan bertekanan yang ke luar dari selang karet

11.

Laras pipa penyalur aliran cairan bertekanan dari selang menuju ke nosel

12.

Nosel, untuk memecah cairan menjadi pertikel halus


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaannya adalah isi tangki cairan

pestisida harus disisakan kurang lebih 1/5 bagian ruangan tangki untuk udara. Setelah diisi
cairan, tangki dipompa kurang lebih sebanyak 50 80 kali pemompaan. Untuk mengetahui
intensitas tekanan udara di dalam tangki dapat diamati melalui manometer. Beberapa
persyaratan lainnya adalah bahan konstruksi terbuat dari plat tahan karat, bagian konstruksi
pompa mudah dilepas untuk dibersihkan, selang terbuat dari karet atau plastik, nosel dapat
dilepas dan dapat diganti baik tipe maupun ukuran lubangnya. Persyaratan lain yang
berkaitan efektivitas aplikasi pestisida dalam pengoperasian alat penyemprot adalah kondisi
kecepatan angin tidak melebihi 10 km/jam.
Perbedaan antara sprayer otomatis dan sprayer semi otomatis adalah pada komponen
dalam kedua alat tersebut. Pada alat sprayer otomatis tidak ada tabung khusus yang
digunakan sebagai tempat cadangan tekanan karena seluruh tekanan memenuhi tangki
sprayer. Oleh karena itu tangki sprayer otomatis harus terbuat dari bahan yang kuat dengan
tekanan. Dengan perbedaan tersebut maka cara aplikasinya pun sedikit berbeda. Jika sprayer
otomatis harus dipompa hingga penuh sebelum aplikasi, sprayer semi otomatis harus
dipompa selama aplikasi hingga volume pestisida habis. Oleh karena itulah ada perbedaan
ukuran droplet pada keduanya. Ukuran droplet sprayer otomatis lebih kecil dari sprayer semi
otomatis akibat adanya perbedaan tekanan yang diberikan.

Ada beberapa keuntungan dan kerugian dengan penggunaan tekanan atau energi
hidrolik antara lain:
Keuntungan
1.

Komponen yang digunakan

relatif

sederhana

untuk

dioperasikan.
2.

Peralatan

fleksibel

dan

dengan perubahan sedikit dapat


digunakan untuk sasaran yang
berbeda.

Kerugian
1. Droplet dihasilkan dalam kisaran diameter yang luas
mengakibatkan banyak pestisida yang terbuang (droplet
dengan optimum diameter tidak mengenai sasaran).
2.

Penggunaan yang bervariasi dan komponen dapat

mengakibatkan variasi penutupan.


3.

Penggunaan komponen khususnya noozle yang

mengharuskan

seringnya

penggantian

alat

yang

bersangkutan.

Sprayer Biasa
Alat semprot ini memiliki prinsip sama dengan sprayer semi otomatis namun dalam
ukuran mini dan tanpa tabung khusus sebagai penyimpan tekanan, dengan kata lain tidak
memiliki cadangan tekanan. Fungsi dari alat ini adalah untuk aplikasi pestisida cair atau
pestisida yang dilarutkan dengan air.
Duster
Alat ini digunakan untuk aplikasi pestisida padat atau serbuk. pestisida dalam bentuk
debu terdiri dari bahan pembawa yang kering dan halus, yang mengandung bahan aktif 1 -10
persen, ukuran partikelnya berkisar lebih kecil dari 75 mikron. Aplikasinya tanpa dicampur
dengan bahan lain dan dimanfaatkan untuk mengatasi pertanaman yang berdaun
rimbun/lebat, karena partikel debu dapat masuk keseluruh bagian pohon.
Penggunaan sprayer didasarkan pada tujuan. Kemudian dalam pengaplikasian
pestisida, diperlukan pengetahuan yang baik agar penggunaan pestisida tidak menyebabkan
kerugian atau dalam kata lain boros. Pengetahuan ini lebih tergantung kepada jenis pestisida
dan dosis yang digunakan. Dalam hal ini, dosis yang digunakan baiknya tepat atau mendekati
tepat dalam pengaplikasiannya. Dengan demikian efek atau keampuhan pestisida yang
digunakan dapat dibuat seoptimal mungkin. Pestisida berwujud cairan (EC) atau bentuk
tepung yang dilarutkan (WP atau SP) memerlukan alat penyemprot untuk menyebarkannya.
Sedangkan pestisida yang berbentuk tepung hembus bisa digunakan alat penghembus.
Pestisida berbentuk fumigant dapat diaplikasikan dengan alat penyuntik, misalnya alat
penyuntik tanah untuk nematisida atau penyuntik pohon kelapa untuk jenis insektisida yang
digunakan memberantas penggerek batang (Djojosumarto, 2000).

Keberhasilan penyemprotan sangat ditentukan oleh tingkat peliputan (coverage),


yakni banyaknya droplet yang menutupi bidang sasaran. Makin banyak jumlah droplet pada
tiap bidang sasaran, makin besar kemungkinan OPT terkena pestisida sehingga semakin besar
kemungkinan penyemprotan berhasil. Tingkat penutupan dinyatakan dengan angka kepadatan
droplet (droplet density), yakni jumlah droplet yang terdapat pada setiap satuan luas bidang
sasaran. Tingkat peliputan (coverage) atau kepadatan droplet dipengaruhi oleh faktor butiran
semprot dan volume aplikasi. Makin halus ukuran butiran semprot, semakin baik tingkat
penutupannya. Volume aplikasi yang terlampau sedikit dapat menyebabkan tingkat penutupan
yang buruk dan volume aplikasi yang terlampau banyak menyebabkan run off.
Curah (flow rate, output) adalah banyaknya cairan semprot yang dikeluarkan oleh nozzle per
satuan waktu, yang umumnya dihitung dalam liter per menit. Angka flow rate dipengaruhi
oleh beberapa faktor sebagai berikut ukuran lubang nozzle, jumlah nozzle, jumlah lubang
pada nozzle dan kecepatan aliran cairan yang melewati nozzle. Setiap nozzel mempunyai
angka

flow

ratenya

sendiri.

Syarat

agar

penyemprotan

merata

lainnya

adalah

mempertahankan kecepatan berjalan pada saat menyemprot (disebut kecepatan aplikasi). Bila
kecepatan berjalan saat menyemprot berubah-ubah, maka coverage juga akan berubah,
sehingga distribusi secara keseluruhan tidak sama. Nozzle adalah bagian sprayer yang
menentukan karakteristik semprotan ; yaitu pengeluaran, sudut penyemprotan, lebar
penutupan, pola semprotan, dan pola penyebaran yang dihasilkan. Nozzle dibuat dalam
bermacam-macam disain. Setiap tipe butiran cairan yang khas dihasilkan oleh nozzle yang
khas sesuai dengan kebutuhan.
Tipe-tipe nozzle :

Centrifugal nozzle yaitu bentuk nozzle yang paling banyak dijumpai, dibuat dengan
sudut penyemprotan yang lebar dan dengan berbagai model pola penyemprotan dan

kapasitas.
Flooding nozzle yaitu menghasil semprotan dengan model semburan. Nozzle ini

disebut juga fan spray nozzle.


Two-fluid atomizer yaitu menghasilkan

droplet

yang

sangat

halus

dan

menghindarkan pemborosan cairan, tetapi membuthkan tenaga yang lebih besar

daripada tipe-tipe yang lain.


Rotary atomizer yaitu digunakan untuk pekerjaan besar, menyemprotkan cairan
dalam jumlah besar dengan gaya sentrifugal dan mempunyai pola penyebaran 360o.

Komponen-komponen nozzle :

Body

Penyaring
spuyer (nozzle tips), dan nozzle cap

Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :


Hallow cone nozzle
Cara yang menarik ke dalam nozzle mengalami pemusingan hingga penyebaran butiran
cairannya akan berbentuk cincin. Besar kecilnya ukuran sprayer kecuali ditentukan oleh
tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh
jarak pemusingan cairannya. Makin panjang lintasan pemusingan yang ditempuh, makin
besar ukuran spray, tetapi makin kecil diameter penyebaran butiran sprayernya. Keuntungan
penggunaan nozzle ini karena dapat diperoleh penyebaran ukuran butiran spray yang
seragam.
Solid-cone nozzle
Nozzle ini merupakan hasil modifikasi dari hallo cone nozzle. Prinsip pembentukan
spray hampir sama dengan hollo cone nozzle tetapi pada solid cone nozzle diberikan
tambahan internal axiat jet yang tepat ukurannya yang akan memukul cairan di dalam nozzle
yang sedang berputar. Dengan pemukulan tersebut cairannya akan menjadi makin turbulance
dan aliran cairannya menjadi hancur, meninggalkan nozzle dalam bentuk butiran spray,
dengan penyebarannya akan berbentuk lingkaran penuh.
Fan type nozzle
Type ini dibuat dengan jalan membuat potongan halus atau saluran yang menyilang
permukaan luar dari arifice plate (plat tarikan). Bentuk tersebut menyebabkan cairan yang
meninggalkan nozzle akan berupa lembaran tipis seperti kipas, yang kemudian akan pecah
menjadi butiran-butiran spray, dengan penyebarannya akan berbentuk elips penuh.
Kelemahan nozzle ini mempunyai ukuran butiran cairan yang tidak merata. Terutama pada
bagian ujung tepi penyemprotan, terdapat pengumpulan ukuran butiran yang besar-besar.
Nozzle tipe ini kebanyakan dipakai pada sprayer bertekanan rendah (20-100 psi) untuk
pengendalian herba.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut:

Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau

suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray.


Fungsi sprayer dapat disesuaikan dengan jenis dari sprayer itu sendiri dalam

memenuhi kebutuhan mekanisasi pertanian.


Dalam pengguanan sprayar yang di isi mengunakan pestida harus memenuhi standar
keamanan.

B. Saran
Agar praktikum berjalan dengan baik, sebaiknya para praktikan lebih serius
dalam mendengarkan asisten dosen saat menerangkan prosedur praktikum. Dan pada
saat melakukan praktikum, sebaiknya praktikan lebih tentram agar tidak menimbulkan
keribuatan.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Alat dan Mesin Pertanian, Departemen Pertanian Republik Indonesia.
Djojosumarto, P., 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Yogyakarta : Kanisius.
Herodian S. 2003. Jasa Produksi Dan Pelayanan Alat Mesin Pertanian (JP2AMP). IPB.
Pramudya B. 1996. Strategi Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian untuk Usahatani
Tanaman Pangan. IPB.
Sumber : Bagian dari penelitian penulis tahun 2009 dan rangkuman diskusi di beberapa kota ,
IMATETANI tahun 2007-2008.
Tarmana D. 1976. Alat dan mesin pertanian untuk proteksi tanaman pangan. IPB