Anda di halaman 1dari 4

Kaidah-Kaidah Penerapan

Sunnah
Ditulis oleh Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
TEGAKKAN SUNNAH, WALAUPUN SELURUH MANUSIA
MENINGGALKANNYA

Kaidah 4

Biasanya seseorang yang terpengaruh dengan lingkungannya, cenderung untuk menyamakan


dirinya dengan masyarakat di sekitarnya. Ketika ada suatu sunnah yang tidak dikerjakan oleh
masyarakat sekitarnya, maka ia tidak berani melakukannya. Hal itu dikarenakan rasa malu, minder
atau khawatir dianggap tidak bermasyarakat. Padahal justru pada masamasa seperti itu seseorang
yang menerapkan sunnah akan mendapatkan pahala besar, lima puluh kali lipat pahala para sahabat
Rasulullah -Shallallhu ‘alaihi wa salam-.

Ini sesuai dengan sabda beliau -Shallallhu ‗alaihi wa salam-:

‫اَ بَ ْْ ِم ْن ُك ْم‬
َ ََ ‫اهل أ َْو ِم ْن ُه ْم‬
ِ َّ َّ ِ‫َجر َخم ِس ْين ِم ْن ُكم ََالُوا يا نَب‬ ِ ٍِ ِ ِ
َ ْ ْ َ ْ َ ْ ‫ْمتَ َم ِّسك ف ْي ِه َّن يَ ْوَمئذ بِ َما أَنْ تُ ْم َعلَْيو أ‬
ِ َّ ‫إِ َّن ِمن ورائِ ُكم أَيَّام‬
ُ ‫ لل‬،‫الص ْب ِر‬ َ ْ ََ ْ
)‫(رواه المروازي ف َّ السنة‬

―Sesungguhnya di belakang kalian nanti ada hari-hari sabar bagi orang-orang yang pada
waktu itu berpegang dengan apa yang kalian ada di atasnya. Mereka akan mendapatkan
pahala lima puluh kali dari kalian‖. Para shahabat bertanya: ―Wahai nabi Allah, apakah lima
puluh kali pahalanya dari mereka?‖ beliau -Shallallhu ‗alaihi wa salam- menjawab: ―Bahkan
dari kalian‖. (HR. Marwazi dalam As-Sunnah)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah -Shallallhu ‗alaihi wa salam- bersabda:

‫َج ِر َخ ْم ِس ْي َن َر ُجلً يَ ْع َملُ ْو َن ِمثْ ُْ َع َملِ ُك ْم َِ ْي َْ يَا‬ ِ ِ ِ ِ


ْ ‫ْج ْم ِر لل َْعام ِْ ف ْي ِه َّن مثْ ُْ أ‬
َ ‫ض َعلَى ال‬ ِ ‫الص ْب ِر فِ ْي ِه َّن ِمثْ ُْ الْ َق ْب‬
َّ ‫فَِإ َّن ِم ْن َوَرائِ ُك ْم أَيَ ًاما‬
)َّ ‫م (رواه الترمذي وأبو داود وابن ماجو وابن حبان والحاكم وصححو ووافقو الذىب‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ ََ ‫رسو‬
ْ ‫َج ُر َخ ْمس ْي َن م ْن ُك‬
ْ ‫اَ بَ ْْ أ‬َ ََ ‫نه ْم‬ ُ ‫َج ُر َخ ْمس ْي َن منَّا أ َْو م‬ ْ ‫اهل أ‬ ُْ َ

Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari dimana orang yang sabar ketika itu seperti
memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan
pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat
bertanya: ―Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?‖ Rasulullah -
Shallallhu ‗alaihi wa salam- menjawab: ―Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian‖. (HR.
Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam
Hakim dan disepakati oleh Dzahabi; lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin
Barjas, hal. 49)

Maka kaidah yang keempat dalam penerapan sunnah adalah ―Kita tetap mengamalkan
sunnah walaupun seluruh manusia meninggalkannya”. Kaidah ini tidak bertentangan
dengan kaidah ketiga, yang membimbing kita agar memperhatikan maslahat dan mafsadah,
karena matinya suatu sunnah jelas merupakan mafsadah besar. Oleh karena itu ketika
manusia melupakan suatu sunnah, maka semestinya kita menghidupkannya agar manusia
mengenalinya.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: ‖Tidak mengapa kita meninggalkan
suatu perkara yang mustahab (tidak wajib), tetapi kita tetap tidak boleh meninggalkan
keyakinan disunnahkannya amalan tersebut. Karena mengenali sunnahnya amalan tersebut
merupakan fardu kifayah agar tidak hilang sedikitpun dari agama ini.‖ (Majmu’ Fatawa, juz
IV, hal. 436)

Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim rahimahullah ketika dia berkata: ―Kalau semua
perkara yang mustahab ditinggalkan, maka akan hilanglah sunnah-sunnah Rasulullah -
Shallallhu ‗alaihi wa salam- dan akan lenyap garis-garisnya serta sirna jejak-jejaknya.
Betapa banyak amalan-amalan yang dilaksanakan menyelisihi sunnah yang jelas, sesuai
dengan bertambah jauhnya zaman sampai sekarang. Setiap waktu ada sunnah yang
ditinggalkan dan dikerjakan yang selainnya, begitulah seterusnya. Akhirnya kau lihat sedikit
sekali sunnah yang dikerjakan, itupun dalam keadaan tidak sempurna….‖. (I’lamul
Muwaqi’in, 2/395; Lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hal. 86)

Demikianlah, jika manusia dibiarkan meninggalkan perkara yang sunnah, kemudian kita
juga tidak mau menegakkannya karena masyarakat tidak mengerjakannya, niscaya akan
matilah sunnah dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat. Suatu saat kelak ketika ada yang
mengerjakan sunnah tersebut akan dianggap sebagai orang yang mengerjakan kebid‘ahan.

Sebagai contoh, sunnah yang telah diperintahkan oleh Allah, dilakukan oleh Rasulullah -
Shallallhu ‗alaihi wa salam-, para sahabatnya dan para ulama yang setelahnya, yaitu sunnah
taaddud atau Poligami. Betapa kerasnya manusia --bahkan kaum muslimin sendiri— yang
menentang sunnah ini. Orang yang melakukannya seakan-akan dia adalah orang jahat yang
melakukan suatu aib yang besar. Padahal asal perintah Allah dalam masalah perkawinan
adalah untuk berpoligami. Kecuali mereka yang tidak mampu untuk berbuat adil, maka
diberi keringanan untuk beristeri satu saja.

Allah -Subhanahu wa Ta‘ala- berfirman:

َ ِ‫ْ أَيْ َمانُ ُك ْم ََل‬


‫ك أَ ْدنَى أَََّّل تَ ُعولُو‬ ِ ‫ث ورباع فَِإ ْن ِخ ْفتم أَََّّل تَع ِدلُوا فَ و‬
ْ ‫اح َدةً أ َْو َما َملَ َك‬ ِ ‫فَانْ ِكحوا ما طَاب لَ ُكم ِمن الن‬
َ ْ ُْ َ َُ َ َ ‫ِّساء َمثْ نَى َوثَُل‬
َ َ ْ َ َ ُ
[3 ‫]النساء‬

…maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-
budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
(an-Nisaa‘: 3)

Ini adalah salah satu bukti tentang satu perkara sunnah yang jika ditinggalkan oleh
kebanyakan kaum muslimin dalam kurun waktu yang lama, maka manusia akan
mengingkari sunnah tersebut seperti pengingkaran mereka terhadap suatu kebidahan atau
bahkan lebih dari itu.

Memang orang yang memulai menghidupkan suatu sunnah pada masa umat
meninggalkannya akan mendapatkan resiko yang berat, sebagaimana yang telah disebutkan
dalam riwayat di atas. Orang yang mengerjakannya seperti orang yang memegang bara api.
Jika dipegang tangan terbakar, namum jika dilepaskan kita akan tersesat jauh dari jalan
Rasulullah -Shallallhu ‗alaihi wa salam-. Namun resiko itu sesuai dengan pahalanya yang
besar, yaitu limapuluh kali para sahabat.

Di samping itu, agama ini memang bermula dengan keasingan dan pada saatnya akan
kembali asing seperti permulaannya. Jika dengan alasan masih asing, kemudian kita
meninggalkan sunnah maka akan lenyaplah Islam. Rasulullah -Shallallhu ‗alaihi wa salam-
telah mengkhabarkan akan asingnya agama ini pada mulanya dan akan kembali menjadi
asing pada saatnya. Namun beliau juga sekaligus memberikan kabar gembira bagi orang-
orang yang terasing karena menjalankan agama ini.

)‫(رواه مسلم‬ ‫ فَطُْوبَى لِ ْلغَُربَ ِاء‬،َ‫إن اْ ِإل ْسلَ َم بَ َدأَ غَ ِريْ بًا َو َسيَ ُع ْو ُد غَ ِريْ بًا َك َما بَ َدأ‬
َّ

Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing seperti
permulaannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing. (HR. Muslim)

Untuk itu janganlah perasaan asing, malu, takut, dan lain-lain menjadikan kita meninggalkan
sunnah. Kita harus ingat bahwa sunnah adalah Islam, dan Islam tidak lain melainkan
kumpulan sunnah-sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al Barbahari dalam bukunya,
Syarhus Sunnah: ―Islam adalah sunnah dan Sunnah adalah Islam. Tidak akan tegak salah
satunya kecuali dengan yang lainnya‖.

Jika berkurang satu sunnah maka berkuranglah kesempurnaan Islam, begitulah seterusnya
hingga akan hilanglah Islam secara keseluruhan. Berkata Abdullah Ibnu Dailami:
‖Sesungguhnya awal pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya sunnah. Agama
ini akan hilang satu sunnah demi satu sunnah seperti hilangnya tali satu kekuatan demi
kekuatan‖. (Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Al Lalikai 1/93).

Oleh karena itulah Ahlul bid‘ah dikatakan oleh para ulama sebagai orang yang ikut andil
dalam menghancurkan Islam. Karena dengan kebidahan yang mereka lakukan, maka ada
sunnah yang tergeser. Semakin banyak bid‘ah dikerjakan, semakin banyak pula sunnah yang
hilang, hingga hancurlah Islam.

Berkata Al Auza‘i dari Hassan bin Athiyyah: ‖Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu
kebid‘ahan kecuali Allah akan mencabut suatu sunnah yang semisalnya. Kemudian tidak
akan dikembalikan kepada mereka sampai hari kiamat‖.

Dan berkata Ibnu Abbas -Radhiallahu ‗anhu-: ―Tidaklah datang kepada manusia satu tahun
kecuali mereka mengadaadakan satu kebid‘ahan dan mematikan satu sunnah. Demikianlah
hingga berkembanglah kebid‘ahan dan matilah sunnah‖. (al-Bida’ wa nahyu ‘anha,hal. 38-
39; lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 85).

Sedangkan Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’nya menyatakan bahwa orang-orang yang


mematikan sunnah itu ada dua jenis. Pertama orang-orang yang mengerjakan kebid‘ahan-
kebid‘ahan dan yang kedua orang-orang yang tidak mau menghidupkan sunnah.

Ketahuilah bahwa di samping resiko yang akan dihadapi oleh orang yang memulai
menghidupkan sunnah, ada pula maslahat bagi agama yang besar yaitu hidupnya sunnah.
Adapun mafsadah atau resiko yang dihadapinya hanyalah bersifat pribadi. Tentunya
maslahat agama harus lebih diutamakan daripada maslahat pribadi. Dengarkanlah apa yang
diucapkan oleh Imam asySyatibi berikut: ―Aku ragu dan berulang kali menghitung antara
menerapkan sunnah dengan konsekwensi menyelisihi kebiasaan manusia yang tentunya
akan mendapatkan resiko seperti apa yang telah didapatkan oleh orang yang menyelisihi
adat kebiasaan kaumnya; apalagi kalau mereka menganggap apa yang biasa mereka lakukan
tidak lain adalah sunnah; namun di samping resiko yang berat itu ada pahala yang besar.
Atau aku memilih untuk mengikuti kebiasaan mereka dengan konsekuensi menyelisihi
sunnah dan menyelisihi jalan salafus shalih hingga aku digolongkan termasuk orang-orang
yang menyimpang –Naudzubillah min dzalika—Namun karena aku mencocoki kebiasaan
manusia akan dianggap sebagai orang yang bisa bermasyarakat dan tidak termasuk orang
yang menyelisihi adat. Akhirnya aku berpendapat bahwa kebinasaan dalam mengikuti
sunnah adalah keselamatan, dan bahwasanya manusia tidak akan bisa mencukupi aku
dari Allah sedikitpun‖. (Dlaruratul Ihtimam, Syaikh, Abdus Salam bin Barjas hal. 88)

Sumber : http://dhiyaussunnah.web.id