Anda di halaman 1dari 54

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
1. KONSEP DASAR FRAKTUR
2. Pengertian
a

Fraktur
Adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000). Sedangkan
menurut Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans and
Documentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas
tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari
yang dapat diserap oleh tulang. Pernyataan ini sama yang diterangkan
dalam buku Luckman and Sorensens Medical Surgical Nursing.

Patah Tulang Tertutup


Didalam buku Kapita Selekta Kedokteran tahun 2000, diungkapkan
bahwa patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain
menyatidakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang
bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi
(Handerson, M. A, 1992).

Patah Tulang Humerus


Adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus
yang terbagi atas :
1) Fraktur Suprakondilar Humerus
2) Fraktur Interkondiler Humerus
3) Fraktur Batang Humerus
4) Fraktur Kolum Humerus
Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur :
1) Tipe Ekstensi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah
dalam posisi supinasi.
2) Tipe Fleksi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam
posisi pronasi.
(Mansjoer, Arif, et al, 2000)

Platting
Adalah salah satu bentuk dari fiksasi internal menggunakan plat yang

terletidak sepanjang tulang dan berfungsi sebagai jembatan yang difiksasi


dengan sekrup.
Keuntungan :
1) Tercapainya kestabilan dan perbaikan tulang seanatomis mungkin
yang sangat penting bila ada cedera vaskuler, saraf, dan lain-lain.
2) Aliran darah ke tulang yang patah baik sehingga mempengaruhi
proses penyembuhan tulang.
3) Klien tidak akan tirah baring lama.
4) Kekakuan dan oedema dapat dihilangkan karena bagian fraktur bisa
segera digerakkan.
Kerugian :
1) Fiksasi interna berarti suatu anestesi, pembedahan, dan jaringan
parut.
2) Kemungkinan untuk infeksi jauh lebih besar.
3) Osteoporosis bisa menyebabkan terjadinya fraktur sekunder atau
berulang.
3. Anatomi Dan Fisiologi
a

Struktur Tulang
Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun
ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang
paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan
saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang
kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks.
Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang
kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam
unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas
kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari
matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara lamellae disebut
Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem
kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat
sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan
saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah
inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa
metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari
sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari
tulang.Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut
Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk

sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone
marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses
hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak
dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism
Syndrom (FES).
Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast.
Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah
tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks.
Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap
kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat
oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini
dibentuk oleh benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan
substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi
nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang daengan
pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium
organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan
aliran darah dalam tulang antara 200 400 ml/ menit melalui proses
vaskularisasi tulang (Black,J.M,et al,1993 dan Ignatavicius, Donna.
D,1995).
b

Tulang Panjang
Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya
bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995).
Tulang panjang terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum,
dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat
menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Tulang
rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah
pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisis adalah
bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang.
Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara
epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang
selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang
sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis (Black, J.M,
et al, 1993)

Tulang Humerus
Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung
atas), korpus, dan ujung bawah.
1) Kaput

Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala,


yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan
merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat
bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar
ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu
Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan
lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat
celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari
otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah
terjadi fraktur.
2) Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin
pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut
tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid).
Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang,
dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada
saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah
spiralis atau radialis.
3) Ujung Bawah
Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi
dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di
sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian
dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi
dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus
terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce,
Evelyn C, 1997)
d

Fungsi Tulang
1) Memberi kekuatan pada kerangka tubuh.
2) Tempat mlekatnya otot.
3) Melindungi organ penting.
4) Tempat pembuatan sel darah.
5) Tempat penyimpanan garam mineral.
(Ignatavicius, Donna D, 1993)

4. Etiologi
1)

Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka

dengan garis patah melintang atau miring.


2) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang
jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian
yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3)

Kekerasan akibat tarikan otot


Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.
Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan
penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
(Oswari E, 1993)

5. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan
eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka
terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya
kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur,
periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel
darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan
tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993)
a.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur


1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang
tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat
menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan
daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari
tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
( Ignatavicius, Donna D, 1995 )

b. Biologi penyembuhan tulang


Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.
Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah

dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.


Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium
penyembuhan tulang, yaitu:
1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang
rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast.
Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama
sekali.
2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi
fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone
marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami
proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan
disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan
kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam
setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik
dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai
membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi
oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan
mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan
tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur
(anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat
fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4) Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang
berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan
memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat
untuk membawa beban yang normal.
5) Stadium Lima-Remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.


Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk
ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terusmenerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang
tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang,
rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip
dengan normalnya.
(Black, J.M, et al, 1993 dan Apley, A.Graham,1993)
c.

Komplikasi fraktur
1) Komplikasi Awal
a)

Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak
adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma
yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh
tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,
tindakan reduksi, dan pembedahan.

b)

Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh
darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau
perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah.
Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan
yang terlalu kuat.

c)

Fat Embolism Syndrom


Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi
karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk
ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah
rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi,
hypertensi, tachypnea, demam.

d)

Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada
jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus
fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain
dalam pembedahan seperti pin dan plat.

e)

Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke


tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis
tulang dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia.
f)

Shock
Shock

terjadi

karena

kehilangan

banyak

darah

dan

meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan


menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
a)

Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi
sesuai

dengan

waktu

yang

dibutuhkan

tulang

untuk

menyambung. Ini disebabkan karenn\a penurunan supai darah ke


tulang.
b)

Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah
6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.

c)

Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya

tingkat

kekuatan

dan

perubahan

bentuk

(deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan


reimobilisasi yang baik.
(Black, J.M, et al, 1993)
6. Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang
praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a.

Berdasarkan sifat fraktur.


1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena
kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.

b.

Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.

1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
a)

Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)

b)

Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.

c)

Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi


korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

c.

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme


trauma.
1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral
yang disebabkan trauma rotasi.
4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.

d.

Berdasarkan jumlah garis patah.


1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
pada tulang yang sama.

e.

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.


1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi
kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang
juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a)

Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah


sumbu dan overlapping).

b)

Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).

c)

Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling


menjauh).

f.

Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.

g.

Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis


tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan

jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:


a.

Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak
sekitarnya.

b.

Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan

subkutan.
c.

Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak


bagian dalam dan pembengkakan.

d.

Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan
ancaman sindroma kompartement.

(Apley, A. Graham, 1993, Handerson, M.A, 1992, Black, J.M, 1995,


Ignatavicius, Donna D, 1995, Oswari, E,1993, Mansjoer, Arif, et al, 2000,
Price, Sylvia A, 1995, dan Reksoprodjo, Soelarto, 1995)

7. Dampak Masalah
Ditinjau dari anatomi dan patofisiologi diatas, masalah klien yang
mungkin timbul terjadi merupakan respon terhadap klien terhadap enyakitnya.
Akibat fraktur terrutama pada fraktur hunerus akan menimbulkan dampak
baik terhadap klien sendiri maupun keada keluarganya.
a Terhadap Klien
1) Bio
Pada klien fraktur ini terjadi perubahan pada bagian tubuhnya yang
terkena trauma, peningkatan metabolisme karena digunakan untuk
penyembuhan tulang, terjadi perubahan asupan nutrisi melebihi
kebutuhan biasanya terutama kalsium dan zat besi
2) Psiko
Klien akan merasakan cemas yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari
fraktur, perubahan gaya hidup, kehilangan peran baik dalam keluarga
maupun dalam masyarakat, dampak dari hospitalisasi rawat inap dan
harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta tuakutnya terjadi

kecacatan pada dirinya.


3) Sosio
Klien akan kehilangan perannya dalam keluarga dan dalam
masyarakat karena harus menjalani perawatan yang waktunya tidak
akan sebentar dan juga perasaan akan ketidakmampuan dalam
melakukan kegiatan seperti kebutuhannya sendiri seperti biasanya.
4) Spiritual
Klien akan mengalami gangguan kebutuhan spiritual sesuai dengan
keyakinannya baik dalam jumlah ataupun dalam beribadah yang
diakibatkan karena rasa nyeri dan ketidakmampuannya.
b

Terhadap Keluarga
Masalah yang timbul pada keluarga dengan salah satu anggota
keluarganya terkena fraktur adalah timbulnya kecemasan akan keadaan
klien, apakah nanti akan timbul kecacatan atau akan sembuh total. Koping
yang tidak efektif bisa ditempuh keluarga, untuk itu peran perawat disini
sangat vital dalam memberikan penjelasan terhadap keluarga. Selain tiu,
keluarga harus bisa menanggung semua biaya perawatan dan operasi
klien. Hal ini tentunya menambah beban bagi keluarga.
Masalah-masalah diatas timbul saat klien masuk rumah sakit, sedang
masalah juga bisa timbul saat klien pulang dan tentunya keluarga harus
bisa merawat, memenuhi kebutuhan klien. Hal ini tentunya menambah
beban bagi keluarga dan bisa menimbulkan konflik dalam keluarga.

7.

Penatalaksanaan Kedaruratan
1.

Segera stlh cedera, px berada dlm keadaan, bingung, tdk menyadr adanya
fraktur, dan berusaha berjalan dgn tungkai yg patah. Maka bila dicurigai
adanya fraktur, penting utk mengimobilisasi bagian tubuh segera sblm px
dipindahkan.

2.

Bila px yg mengalami cedera harus dipindahkan dr kendaraan sblm dpt


dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga di atas dan di bawah
tempat patah utk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi.

3.

Gerakan fragmen patahan tulang dpt menyebabkan nyeri, kerusakan


jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut.

4.

Nyeri sehubungan dgn fraktur sangat berat dan dpt dikurangi dgn
menghindr gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian
yg memadai sangat penting utk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh
fragmen tulang.

5.

Daerah yg cedera diimobilisasi dgn memasang bidai sementara dgn

bantalan yg memadai, yg kemudian dibebat dgn kencang.


6.

Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dpt jg dilakukan dgn


membebat kedua tungkat bersama, dgn ekstremitas yg sehat bertindak
sebagai bidai bagi ekstremitas yg cedera. Pd cedera ekstremitas atau
lengan dpt dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yg cedera digantung pd
sling.

7.

Peredaran didistal cedera harus dikaji utk menentukan kecukupan perfusi


jaringan perifer.

8.

Pd fraktur terbuka, luka ditutup dengah pembalut bersih (steril) utk


mencegah kontaminasi jaringan yg lebih dlm. Jangan sekali-kali
melakukan reduksi fraktur, bahkan ada fragmen tulang yg keluar melalui
luka. Pasanglah bidai sesuai yg diterangkan di atas.

9.

Pd bagian gawat darurat, px dievaluasi dgn lengkap. Pakaian dilepaskan


dgn lembut, pertama pd bagian tubuh sehat dan kemudian dr sisi cedera.
Pakaian px mungkin harus dipotong pd sisi cedera. Ekstremitas sebisa
mungkin jangan sampai digerakkan utk mencegah kerusakan lebih lanjut.

8. ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR


Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode
proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian

merupakan

tahap

awal

dan

landasan

dalam

proses

keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalahmasalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada
tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a. Pengumpulan Data
1)

Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa
yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi,
golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa
nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan
lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap

tentang rasa nyeri klien digunakan:


(1)

Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi


yang menjadi faktor presipitasi nyeri.

(2)

Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau


digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.

(3)

Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda,


apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa
sakit terjadi.

(4)

Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang


dirasakan klien, bisa berdasarkan

skala nyeri atau klien

menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi


kemampuan fungsinya.
(5)

Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah


bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

(Ignatavicius, Donna D, 1995)


c) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab
dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana
tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya
penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan
yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu,
dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa
diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D,
1995).
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab
fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan
menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang
dan penyakit pagets yang menyebabkan fraktur patologis yang
sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes
dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut
maupun

kronik

dan

juga

diabetes

menghambat

proses

penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).


e) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur,

seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa


keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara
genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).
f) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta
respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna
D, 1995).
g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan
terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani
penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan
hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol
yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien
melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).
(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan

penyebab

masalah

muskuloskeletal

dan

mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat


terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari
yang

kurang

merupakan

faktor

predisposisi

masalah

muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga


obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada
pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji
frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji
frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua
pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. (Keliat, Budi

Anna, 1991)
(4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,
sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya
tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur
serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 1999).
(5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua
bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan
klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang
perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan
klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk
terjadinya

fraktur

dibanding

pekerjaan

yang

lain

(Ignatavicius, Donna D, 1995).


(6) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak
timbul

gangguan.begitu

juga

pada

kognitifnya

tidak

mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri


akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa
melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat
inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami
klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya
termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius,

Donna D, 1995).
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan
dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan
fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien
bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995).
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.
Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak
klien (Ignatavicius, Donna D, 1995).
2) Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)
untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat
(lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada
kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah
yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a) Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah
tanda-tanda, seperti:
(a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah,
komposmentis tergantung pada keadaan klien.
(b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan,
sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik
fungsi maupun bentuk.
(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
(a) Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat,
bengkak, oedema, nyeri tekan.
(b) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris,
tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.

(c) Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan,


reflek menelan ada.
(d) Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada
perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris,
tak oedema.
(e) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis
(karena tidak terjadi perdarahan)
(f) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak
ada lesi atau nyeri tekan.
(g) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h) Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
(i) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada
simetris.
(j) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan
tergantung

meningkat,
pada

riwayat

reguler

atau

penyakit

tidaknya

klien

yang

berhubungan dengan paru.


(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan
lainnya.
(4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara
tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
(k) Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.

(2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

(l) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak
teraba.
(3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4) Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
(m)Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada
kesulitan BAB.
b) Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal
terutama mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada
sistem muskuloskeletal adalah:
(1) Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a) Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
(b) Cape au lait spot (birth mark).
(c) Fistulae.
(d) Warna

kemerahan

atau

kebiruan

(livide)

atau

hyperpigmentasi.
(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal
yang tidak biasa (abnormal).
(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
(2) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita

diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada


dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
(a) Perubahan

suhu

disekitar

trauma

(hangat)

dan

kelembaban kulit.
(b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi
atau oedema terutama disekitar persendian.
(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan
(1/3 proksimal,tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan
yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain
itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan,
maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya,
konsistensinya,

pergerakan

terhadap

dasar

atau

permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.


(3) Move (pergeraka terutama lingkup gerak)
Setelah

melakukan

pemeriksaan

feel,

kemudian

diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat


apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan
sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan
ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0
(posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau
tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.
(Reksoprodjo, Soelarto, 1995)
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah
pencitraan

menggunakan

sinar rontgen

(x-ray).

Untuk

mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan


tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA
dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi
tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi
yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa
permintaan x-ray harus atas dasar indikasi

kegunaan

pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan


permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:
(1) Bayangan jaringan lunak.
(2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau
biomekanik atau juga rotasi.
(3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
(4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik
khususnya seperti:
(1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi
struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini
ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada
satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
(2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan
pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami
kerusakan akibat trauma.
(3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang
rusak karena ruda paksa.
(4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan
secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur
tulang yang rusak.
b) Pemeriksaan Laboratorium
(1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
(2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan
menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk
tulang.
(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase
(LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang
meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
c) Pemeriksaan lain-lain
(1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas:
didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
(2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama
dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila
terjadi infeksi.
(3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang

diakibatkan fraktur.
(4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya
infeksi pada tulang.
(6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)
b. Analisa Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianaisa
untuk menemukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya
dibagi menjadi dua data yaitu, data sujektif dan data objektif, dan
kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul.
2. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan
Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik aktual
maupun

potensial.

Perawat

memakai

proses

keperawatan

dalam

mengidentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi


keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah
kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.
a. Risiko cedera b/d gangguan integritas tulang
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

tirah

baring

RASIONAL

dan Meningkatkan

imobilisasi sesuai indikasi.

stabilitas,

meminimalkan

gangguan

akibat

perubahan posisi.
2. Bila terpasang gips/bebat, sokong Mencegah gerakan yang tak perlu
fraktur

dengan

gulungan

bantal

selimut

mempertahankan

posisi

atau akibat perubahan posisi.


untuk
yang

netral.
3. Evaluasi

pembebat

resolusi edema.

terhadap Penilaian

kembali

pembebat

perlu

dilakukan seiring dengan berkurangnya


edema

4. Bila terpasang traksi, pertahankan Traksi memungkinkan tarikan pada


posisi

traksi

Pearson, Russel)

(Buck,

Dunlop, aksis

panjang

mengatasi
mempercepat
tulang

fraktur

tegangan

tulang
otot

reunifikasi

dan
untuk

fragmen

5. Yakinkan semua klem, katrol dan Menghindari iterupsi penyambungan


tali berfungsi baik.
6. Pertahankan

fraktur.

integritas

fiksasi Keketatan kurang atau berlebihan dari

eksternal.

traksi eksternal (Hoffman) mengubah


tegangan traksi dan mengakibatkan
kesalahan posisi.

7. Kolaborasi

pelaksanaan

kontrol Menilai proses penyembuhan tulang.

foto.

b. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan
lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan

imobilasasi

RASIONAL

bagian Mengurangi

nyeri

dan

mencegah

yang sakit dengan tirah baring, malformasi.


gips, bebat dan atau traksi
2. Tinggikan posisi ekstremitas yang Meningkatkan
terkena.

aliran

balik

vena,

mengurangi edema/nyeri.

3. Lakukan dan awasi latihan gerak Mempertahankan kekuatan otot dan


pasif/aktif.

meningkatkan sirkulasi vaskuler.

4. Lakukan

tindakan

meningkatkan

untuk Meningkatkan

umum,

kenyamanan menurunakan area tekanan lokal dan

(masase, perubahan posisi)


5. Ajarkan

sirkulasi

penggunaan

kelelahan otot.
teknik Mengalihkan perhatian terhadap nyeri,

manajemen nyeri (latihan napas meningkatkan kontrol terhadap nyeri


dalam, imajinasi visual, aktivitas yang mungkin berlangsung lama.
dipersional)
6. Lakukan kompres dingin selama Menurunkan edema dan mengurangi
fase akut (24-48 jam pertama) rasa nyeri.
sesuai keperluan.
7. Kolaborasi pemberian analgetik Menurunkan nyeri melalui mekanisme
sesuai indikasi.

penghambatan rangsang nyeri baik


secara sentral maupun perifer.

8. Evaluasi keluhan nyeri (skala, Menilai erkembangan masalah klien.


petunjuk verbal dan non verval,
perubahan tanda-tanda vital)

c. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera


vaskuler, edema, pembentukan trombus)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Dorong klien untuk secara rutin Meningkatkan

sirkulasi

darah

dan

melakukan latihan menggerakkan mencegah kekakuan sendi.


jari/sendi distal cedera.
2. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat Mencegah stasis vena dan sebagai
tekanan bebat/spalk yang terlalu petunjuk
ketat.

perlunya

keketatan bebat/spalk.

3. Pertahankan

letak

tinggi Meningkatkan

ekstremitas yang cedera kecuali menurunkan


ada

penyesuaian

kontraindikasi
obat

edema

vena

kecuali

dan
pada

adanya adanya keadaan hambatan aliran arteri

sindroma kompartemen.
4. Berikan

drainase

yang menyebabkan penurunan perfusi.

antikoagulan Mungkin

(warfarin) bila diperlukan.

diberikan

sebagai

upaya

profilaktik untuk menurunkan trombus


vena.

5. Pantau kualitas nadi perifer, aliran Mengevaluasi perkembangan masalah


kapiler,

warna

kulit

dan klien dan perlunya intervensi sesuai

kehangatan kulit distal cedera, keadaan klien.


bandingkan

dengan

sisi

yang

normal.

d. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan


membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Instruksikan/bantu latihan napas Meningkatkan ventilasi alveolar dan


dalam dan latihan batuk efektif.

perfusi.

2. Lakukan dan ajarkan perubahan Reposisi meningkatkan drainase sekret


posisi yang aman sesuai keadaan dan menurunkan kongesti paru.
klien.
3. Kolaborasi

pemberian

obat Mencegah terjadinya pembekuan darah

antikoagulan (warvarin, heparin) pada

keadaan

tromboemboli.

dan kortikosteroid sesuai indikasi.

Kortikosteroid

telah

menunjukkan

keberhasilan

untuk

mencegah/mengatasi emboli lemak.


4. Analisa pemeriksaan gas darah, Penurunan
Hb, kalsium, LED, lemak dan PCO2
trombosit

PaO2

dan

peningkatan

menunjukkan

gangguan

pertukaran gas; anemia, hipokalsemia,


peningkatan LED dan kadar lipase,
lemak darah dan penurunan trombosit
sering berhubungan dengan emboli
lemak.

5. Evaluasi frekuensi pernapasan dan Adanya

takipnea,

dispnea

dan

upaya bernapas, perhatikan adanya perubahan mental merupakan tanda


stridor, penggunaan otot aksesori dini insufisiensi pernapasan, mungkin
pernapasan, retraksi sela iga dan menunjukkan terjadinya emboli paru
sianosis sentral.

tahap awal.

e. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi


restriktif (imobilisasi)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas Memfokuskan

perhatian,

rekreasi terapeutik (radio, koran, meningkatakan rasa kontrol diri/harga


kunjungan teman/keluarga) sesuai diri, membantu menurunkan isolasi
keadaan klien.

sosial.

2. Bantu latihan rentang gerak pasif Meningkatkan

sirkulasi

aktif pada ekstremitas yang sakit muskuloskeletal,


maupun yang sehat sesuai keadaan tonus
klien.

otot,

darah

mempertahankan

mempertahakan

gerak

sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan


mencegah reabsorbsi kalsium karena
imobilisasi.

3. Berikan papan penyangga kaki, Mempertahankan

posis

fungsional

gulungan trokanter/tangan sesuai ekstremitas.


indikasi.
4. Bantu dan dorong perawatan diri Meningkatkan
(kebersihan/eliminasi)
keadaan klien.

kemandirian

klien

sesuai dalam perawatan diri sesuai kondisi


keterbatasan klien.

5. Ubah posisi secara periodik sesuai Menurunkan insiden komplikasi kulit


keadaan klien.

dan pernapasan (dekubitus, atelektasis,


penumonia)

6. Dorong/pertahankan asupan cairan Mempertahankan


2000-3000 ml/hari.

hidrasi

adekuat,

men-cegah komplikasi urinarius dan


konstipasi.

7. Berikan diet TKTP.

Kalori

dan

protein

yang

cukup

diperlukan untuk proses penyembuhan


dan mem-pertahankan fungsi fisiologis
tubuh.
8. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi Kerjasama dengan fisioterapis perlu
sesuai indikasi.

untuk menyusun program aktivitas


fisik secara individual.

9. Evaluasi kemampuan mobilisasi Menilai perkembangan masalah klien.


klien dan program imobilisasi.

f. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat,
sekrup)
INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Pertahankan tempat tidur yang Menurunkan risiko kerusakan/abrasi


nyaman dan aman (kering, bersih, kulit yang lebih luas.
alat

tenun

kencang,

bantalan

bawah siku, tumit).


2. Masase

kulit

terutama

daerah Meningkatkan sirkulasi perifer dan

penonjolan tulang dan area distal meningkatkan kelemasan kulit dan otot
bebat/gips.

terhadap tekanan yang relatif konstan


pada imobilisasi.

3. Lindungi kulit dan gips pada Mencegah gangguan integritas kulit


daerah perianal

dan jaringan akibat kontaminasi fekal.

4. Observasi

keadaan

penekanan

gips/bebat

kulit, Menilai perkembangan masalah klien.


terhadap

kulit, insersi pen/traksi.

g. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit,

taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)


INTERVENSI KEPERAWATAN

RASIONAL

1. Lakukan perawatan pen steril dan Mencegah


perawatan luka sesuai protokol
2. Ajarkan

klien

infeksi

sekunderdan

mempercepat penyembuhan luka.

untuk Meminimalkan kontaminasi.

mempertahankan sterilitas insersi


pen.
3. Kolaborasi pemberian antibiotika Antibiotika spektrum luas atau spesifik
dan toksoid tetanus sesuai indikasi.

dapat digunakan secara profilaksis,


mencegah
Toksoid

atau
tetanus

mengatasi
untuk

infeksi.

mencegah

infeksi tetanus.
4. Analisa

hasil

laboratorium
lengkap,

pemeriksaan Leukositosis biasanya terjadi pada

(Hitung

LED,

darah proses infeksi, anemia dan peningkatan

Kultur

dan LED dapat terjadi pada osteomielitis.

sensitivitas luka/serum/tulang)

Kultur

untuk

mengidentifikasi

organisme penyebab infeksi.


5. Observasi tanda-tanda vital dan Mengevaluasi perkembangan masalah
tanda-tanda peradangan lokal pada klien.
luka.
h.

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d


kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif,
kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Kaji

kesiapan

klien

RASIONAL

mengikuti Efektivitas

program pembelajaran.

proses

pemeblajaran

dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan


mental klien untuk mengikuti program
pembelajaran.

Diskusikan metode mobilitas dan Meningkatkan


ambulasi sesuai program terapi fisik.

partisipasi

dan

kemandirian klien dalam perencanaan


dan pelaksanaan program terapi fisik.

Ajarkan

tanda/gejala

klinis

yang Meningkatkan

kewaspadaan

klien

memerluka evaluasi medik (nyeri untuk mengenali tanda/gejala dini yang


berat, demam, perubahan sensasi kulit memerulukan intervensi lebih lanjut.
distal cedera)

Persiapkan klien untuk mengikuti Upaya


terapi pembedahan bila diperlukan.

pembedahan

mungkin

diperlukan untuk mengatasi maslaha


sesuai kondisi klien.

C. KONSEP DASAR OKSIGEN HIPERBARIK


1. Pengertian oksigen hiperbarik
Kesehatan hiperbarik yaitu mempelajari masalah kesehatan akibat
pemberian tekanan lebih dari 1 atm terhadap tubuh serta penggunaannya untuk
pengobatan.
Terapi oksigen hiperbarik adalah bentuk pengobatan dengan pemberian
oksigen tekanan tinggi yang dilaksanakan dalam RUBT.
Pengobatan oksigen hiperbarik adalah pengobatan yang menggabungkan
menghirup oksigen 100 % dengan memberikan tekanan lebih dari 1 hingga 3
atmosfir absolut didalam hyperbaric chamber (RUBT).
Prosedur terapi ohb
1.

Pasien masuk caisson

2.

Tekanan udara 2-3 ata

3.

Hirup o2 100% melalui masker

2. Indikasi penggunaan oksigen hiperbarik


a. Penyakit Dekompresi (DCS)
Tindakan dari HBO:
a) Hipoksia jaringan hyperoxygenate
b) Mempercepat penghapusan gas inert
c) Mengurangi edema
d) Mengatasi gratis gas intravascular dan lainnya
Penyakit dekompresi berkembang dari pembentukan gelembung gas
dalam jaringan atau darah dalam volume yang cukup untuk mengganggu
fungsi organ atau untuk penyebab perubahan dalam sensasi. Dekompresi
rapid selama pendakian dari penyelaman, penerbangan dan bekerja dalam
sebuah terowongan udara tekanan atau dalam kamar hiperbarik / hyperbaric
mungkin menyebab DCS. Gelembung konstan dari dalam sistem vena
dibawa oleh darah samping kanan atas hati dan akhirnya menumpuk dalam
paru-paru. Ketika gelembung menjangkau sistem arteri, yang biasanya tidak
terjadi,itu gejala meningkat gelembung konstan. efek dari gelembung bisa
dari obstruksi mekanik atau aktivitas permukaan ditemukan di darah / gas

dipermukaan. Gas dipermukaan darah bisa mengaktifkan pelengkap sistem,


hasil dalam agregasi trombosit, dan mengaktifkan faktor hagemen.
Dua jenis DCS yang mungkin terjadi: tipe 1 (nyeri otot) dan tipe 2.
Sakit pada bagian tubuh setelah menyelam itu adalah hal yang wajar dan
merupakan gejala paling umum dari DCS. DCS tipe 2 dapat terjadi sendiri
atau di karenakan nyeri otot. prinsip ini dari target tipe 2 antara lain adalah
paru, vestibular, dan sistem saraf. beberapa gejala bisa timbul dan sangat
tergantung pada sistem yang terkena.
Terapi yang dipilih untuk penyakit dekompresi adalah recompression
dengan oksigen 100% dalam kamar hiperbarik untuk mengeluarkan secara
perlahan nitrogen dan untuk mengganti dengan oksigen itu dalam
metabolisme. Hasilnya akan segera berkurang dalam volume pada
gelembung (hukum boyle), gejala menghilang, dan memulihkan jaringan
oksigenasi. Keuntungan efek dalam aliran darah menghasilkan cerebral
dalam mengurangi edema dan peningkatan dalam jarak difusi oksigen,
akibat dari kerusakan sel yang dikurangi.
Beberapa referensi panduan tersedia untuk informasi yang lebih jelas
pada gejala dan pedoman terapi.
b. Keracunan Akut Karbon Monoksida (Co)
(termasuk inhalasi asap dan keracunan sianida) tindakan dari HBO:
a) Mempercepat eliminasi karbon monoksida dari hemoglobin dan jaringan
lainnya
b) Hipoksia jaringan hyperoxygenate
c) Melawan peroksidasi otak lipid
Karbon monoksida (co), a,tidak berwarna tidak berbau, gas tidak akan
mengiritasi, merupakan penyebab pasti kematian

dari

gas beracun di

amerika serikat.
Co atase hakikatnya akan berikatan secara kuat dengan hemoglobin,
dengan daya tarik 200-250 kali dari pada ikatan dengan oksigen dan blok
transportasi oksigen untuk jaringan vital. Gas yang meracuni jaringan,
merusak metabolisme seluler dan mencegah pembentukan oksigen untuk
jaringan dan organ vital. Pergeseran kurva disosiasi oksigen pada saat itu,
menjaga batas oksigen untuk hemoglobin ini dan menyebabkan hipoksia
jaringan dan akhirnya kematian dengan eksposur tinggi.
Keracunan penyebab hipoksia,gangguan perfusi jaringan, hipotensi
diinduksi oleh hipoksia, dan co binding untuk mioglobin jantung, yang
menekan

miokardium.

Keracunan

sel

sekunder

pada

kerusakan

menunjukkan sitokrom oksidase sitokrom binding untuk co mitokondria

(energi sel kami) gangguan fungsi merupakan penyebab pasien tetap koma
ketika tingkat carboxyhemoglobin telah menurun hingga nol. Kerusakan
persisten mitokondria menjelaskan manifestasi dari terjadinya keracunan itu
setelah hari exposure . Peroksidasi lipid otak memberikan sebuah hubungan
antara hipoksia dan toksisitas selular terkait untuk synptoms klinis dan
tingkat co. Dalam penelitian tercatat hal itu dapat mencegah peroksidasi lipid
pada otak, side effects associated dengan paparan untuk monoksida karbon
menjadi penurunan.
Gejala seperti flu sering berhubungan dengan keracunan co. Sakit
kepala, mengantuk, kelelahan, mual, muntah, kelemahan, dan pusing dapat
menyebabkan kegagalan dalam mendiagnosis pasien. Defisit neurologis
yang signifikan tersebut sebagai pengganti dalam berpikir, konsentrasi,
recall, dan kehilangan memori jangka pendek bisa merupakan hasil dari
paparan untuk tingkat non-fatal dari karbon monoksida.
Sumber dari co terjadi dimanapun bahan bakar fosil yang terbakar,
seperti sebagai tungku, exhauset automobile, heaters air panas, kompor gas,
heaters space, grills arang, mesin gasonline, dll.
Langkah pertama perawatan untuk karbon monoksida merupakan
oksigen 100% dengan a mask non-rebreather. Pasien dengan tanda manifest
darikeracunan serius (yaitu, perubahan status mental dari atau tanda
neurologis, ketidaksadaran, disfungsi cardiovascular, edema paru, atau
asidosis berat) yang diperlukan untuk terapi oksigen hiperbarik dalam enam
jam paparan.
Akut atau eksposur kronis penyebab macam efek samping neurologis
atau sequelae. ini variasi dari perubahan kognitif dan kepribadian, akinesia
psikis, parkinsonisme, ensefalopati psychotic, amnesia, apatisme, dementia,
bisu, cepat marah, inkotenensia urin dan tinja, gangguan kiprah, kelemahan
otot, dan gejala menyerupai dari penyakit mereka. Gejala ini mungkin akan
muncul dalam 2-30% dari pasien.
c.

Gas Gangrene (Clostridial)


Tindakan dari HBO:
a)

Menghentikan produksi toksin alpha

b) Batas proliferasi bakteri


c)

Hyperoxygenate jaringan / hipoksia iskemik

d) Meningkatkan pertahanan host


Myositis clostridial dan myonecrosis (gangren gas) merupakan sebuah
intoksikasi, akut secara cepat progresif dari otot ini oleh organisme

clostridial. Ini merupakan pembentukan, pembentukan spora anaerob,


encapsulated basil gram-positif dari genus clostridium. Kedaan yang bias
amerupakan, perfringens, yang terjadi pada 80-90% dari luka.
Oedema terjadi pada 40%, dengan septicum . pada 20% dan
histolyticum, bifermentons, dan fallux dalam 10% order. c. perfringens
adalah flora normal dari saluran pencernaan dan bukan merupakan anaerob
strict. Ini mungkin akan tumbuh bebas dalam ketegangan oksigen dari 30
mmhg dengan pertumbuhan dibatasi dalam ketegangan oksigen di atas 70
mmhg (kindwall, 1995, p. 374) .
Kemudian terjadi proses penyakit dari elaborasi dari ekso toxin oleh
organisme dan mungkin lebih baik digambarkan sebagai intoksikasi infeksi
mengalihkannya. Tujuh lebih dari 20 exotoxins, di produksi oleh 6 species
dari organisme clostridial yang mampu dari prduksi gas gangren sebagai
thoxin lethal dalam tubuh. Toksin alpha adalah sebuah lecithinase itu sebuah
nekrosis pencairan penyebaran cepat.
Data klinis yang didukung dengan demonstrasi dari batang gram
positif dari cairan organ terlibat selain dari sebagai ketidakhadiran dari
leukosit.
Dua hal yang terjadi dalam luka untuk pengembangan gas gangrene:
1. Kontaminasi clostridial
2. Penurunan oksidasi reduksi potensial dalam luka clostridial kontaminasi
merupakan sebuah peristiwa yang wajar, tetapi ketika peredaran darah gagal
di renders area local luka iskemik dan hipoksia, ini merupakan

faktor

pengendapan dalam clostridial gas gangrene yang menyebabkan nekrosis


pada otot.
d. Bentuk dari Penyakit Necrotizing Clostridial
a) Clostridial myonecrosis dengan toksisitas: diffuse, penyebaran secara
cepat dari toksisitas situs pertama (gangren gas benar), mulai inkubasi
akut berikut dari 4 jam untuk 2-3 hari
b) Clostridial myonecrosis localized: dapat dilihat setelah suntikan non-steril
dari obat, biasanya akan tetap
c) Clostridial selulitis dengan toksisitas: Gambar klinis sama seperti
menyebar myonecrosis clostridial, muncul untuk menjadi lebih nyata
Tanda

dan gejala biasanya terjadi satu sampai enam jam setelah

cedera. dan tiba-tiba skala nyeri bisa mengembangkan di daerah terinfeksi.


Tahapan awal:

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Kulit muncul lebih kencang dan berkilau


Berkembang menjadi kehitaman diskolorisasi perunggu
Dapatkah advance cepat (inci beberapa in one hour)
Bullae hemorragic atau vesikula juga mungkin dicatat
Excudate dengan bau manis
Pembengkakan dan edema merupakan ucapan
Otot muncul merah hitam black atau kehijauan
Pasien harus diobati segera mungkin dengan antibiotik, bedah, dan jika

memungkinkan ditangani dalam kamar hiperbarik di 3 ata, 3 kali dalam 24


jam pertama dan sampai organisme clostridial itu merupakan pengendalian.
Kemudian pasien mungkin dipindahkan

ke dalam suatu protokol luka-

healing.
Pengobatan terdiri dari sebuah kombinasi dari bedah, antibiotik, dan
terapi oksigen hiperbarik ajuvan telah tampil untuk penurunan kematian.
Terapi oksigen hiperbarik menghentikan produksi alpha-toksin dengan
peningkatan jaringan oksigenasi lebih besar 250 mmhg dan menghambat
pertumbuhan bakteri, demikian mengaktifkan tubuh penerima untuk
memanfaatkan mekanisme pertahanan yang ada.
e.

Gas Embolisme ("Gas Embolisme Arteri" Atau AGE)


Tindakan dari HBO bertujuan untuk:
a) Oksigen jaringan / hipoksia jaringan
b) Mengurangi Edema
c) Mengurangi Volume Gelembung udara
d) Meningkatkan Difusi Gradient Dari Embolisme Gas
Udara atau emboli yang masuk ke dalam pembuluh darah arteri atau
vena menyebabkan perbedaan derajat iskemia pada daerah yang terkena.
Gejala yang ditimbulkan mungkin tidak terdeteksi pada permulaan sehingga
dapat menimbulkan kematian secara mendadak. Saat udara masuk ke dalam
vena, hal tersebut biasanya akan langsung diserap oleh tubuh atau di filter
oleh system pernapasan. Sedangkan udara yang masuk dalam arteri, akan
sering menyebabkan emboli udara pada otak atau jantung koroner. Sekitar
0,4 cc darah dapat membawa udara sampai ke tempat yang tepat dalam
medulla dan hal tersebut akan berakibat fatal.
Emboli udara dapat disebabkan karena dekompresi yang mendadak
selama penyelaman dan ketinggian, bedah kardiovaskular, angioplasty,
trauma, pemasangan line invasif, teknik ventilasi tekanan positif , prosedur
invasif pneumotoraks , dan operasi panggul, thoraks, vascular, dan berbagai
operasi syaraf. Aborsi dan hubungan intim selama kehamilan merupakan
penyebab yang jarang dari emboli ini.
Manifestasi Dari AGE dapat menyebabkan hilangnya kesadaran,
deficit pada syaraf pengucap, kejang, henti jantung, aritmia, atau iskemia.

Emboli pada vena mungkin dapat menunjukkan gejala dari hipotensi,


tachipneu, atau edema pulmonary.
Terapi hiperbarik dapat Mengurangi Ukuran bubble (Hukum Boyle).
Pada 6 ATA Ukuran bubble Dapat menurunkan sekitar 1 hingga 6 ukuran
dari ukuran semula. Pada 3 ATA Ukuran Bubble Dapat menurunkan sekitar
setengah dari ukuran tersebut, hal itu menyebabkan oksigen yang diambil
lebih banyak

sehingga terjadi hipoksia pada jaringan.

Dalam tekanan

terkonjugasi , oksigen 100 % akan mengeluarkan gas serta meninggalkan


metabolism oksigen.
Pada pasien dengan gejala serius dalam posisi terlentang oksigen yang
dikonsumsi harus dibawah 100%. Sisa oksigen mengurangi ukuran dari
bubble udara oleh gas Nitrogen dan memberi dampak hipoksia serta iskemia
f.

pada jaringan otak ataupun pada area yang terkena.


Osteoradionecrosis (Mandibula) dan Nekrosis Jaringan Soft Radiasi
Aksi dari HBO:
a) Meningkatkan neovaskularisasi Dalam Jaringan hipoksia Iradiasi Dan
Lainnya
b) Mengurangi jaringan fibrosa Bila Digunakan Prophylatically
Hiperbarik Oksigen (HBO) digunakan sebagai ajun dalam pengolahan
cedera radiasi di banyak organ, termasuk laring, mandibula, lapisan dada,
kandung kemih, dan rektum. cedera radiasi dapat terjadi 6 bulan atau tahun
setelah terapi radiasi. Cedera jaringan radiasi yang tertunda ditandai dengan
endarteritis, hipoksia jaringan, dan fibrosis. Perhatian dilakukan pada klien
dengan riwayat pembedahan dengan proses Radiasi yang lalu.
Indikasi hiperbarik oksigen primer merupakan kerjasama dalam suatu
perawatan dari nekrosis radiasi untuk meningkatkan bahaya oksigen dalam
jaringan iradiasi atau tulang, untuk memulai angiogenesis. Tingkat oksigen
di luar kawasan iradiasi sangat rendah, tidak mengizinkan tubuh untuk
mengenali sebuah luka yang terjadi. Bahaya penurunan oksigen dalam
sebuah jaringan wilayah iradiasi dalam suatu waktu, menyebabkan luka atau
area diiradiasi memburuk.
Dalam luka normal, bahaya oksigen mungkin jadi rendah dalam pusat
luka dengan bahaya dari oksigen sekitar luka di level normal, sekitar 50-60
mmhg ini memungkinkan terjadinya fase penyembuhan luka alami. Dalam
luka iradiasi, bahaya oksigen sangat rendah dalam pusat luka mungkin
terlalu sulit untuk luka yang jauh dari pusat. Selama terapi oksigen
hiperbarik,tingkat kenaikan oksigen untuk 1500-2200 mmhg, menyebabkan
kenaikan dari oksigen di dasar luka dan disekitar luka itu. Sementara oksigen
meningkat, bahaya sisa yang timbul. Merangsang neovaskularisasi.

Protokol untuk pengolahan telah berdasarkan penelitian oleh drs.


Robert marx dan johnson robert yang sudah luas dimuat.
g.

Crush cedera, peripheral iskemia akut trauma (ATPI)


Aksi DARI HBO:
a) Meningkatkan Oksigenasi Untuk Iskemik / Jaringan hipoksia
b) Mengurangi Edema
c) Mengoptimalkan cabang penyelamatan
Luka ini parah, jika hidup di tempat dan cabang pada pasien yang
beresiko. Atpis termasuk: crush luka, kompartemen sindrom, luka bakar,
cedera permukaan gigitan, berkompromi cangkok kulit dan flaps, degloving
cedera, dan terancam reattachments.
Oksigen hiperbarik harus diperintah dalam 4-6 jam setelah kegawatan
untuk membantu dalam perlindungan organ dari cedera reperfusi. Cedera
reperfusi akan membekas pada kapiler, penyebab kemacetan vena dan aliran
darah menghentikan oksigen dari persiapan untuk jaringan vital. Fisiologi
dari cedera reperfusi dan terapi hiperbarik hbo antagonizes peroksidasi lipid
dari cell, blok pengasingan neutrofil pada venula post kapiler, antagonizes
sistem 2 integrin beta, dan menghasilkan pemulung oksigen radikal. Dalam
syarat sederhana, hbo mengurangi kemacetan vena, membiarkan sebuah
aliran dari oksigen dan darah terhadap jaringan.
Hyperoxygenation

merupakan

hipoksia

jaringan,dengan

hbo

memungkinkan the host untuk menanggapi infeksi dan mengurangi cedera


iskemik untuk jaringan. Hbo

melarutkan oksigen dalam plasma,

membiarkan oksigen untuk mencapai tingkat dari 2200 mmhg.


Sebuah efek sekunder hyperoxygenation jaringan menyebabkan
pengurangan edema. Vasokonstriksi diinduksikan dengan terapi oksigen
hiperbarik untuk mengurangi pemasukan sekitar 20% dan sementara
memelihara pengeluaran, dan demikian mengurangi edema oleh reabsorpsi
cairan dari jaringan.
h.

Kehilangan darah yang luar biasa


Tindakan dari hbo:
a) Meningkatkan temporal oksigenasi untuk jaringan hipoksia / iskemik
b) Meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut
Kehilangan darah anemia adalah kehilangan sel darah merah yang
akan membuat rugi dalam kemampuan tubuh untuk memberikan oksigen
pada organ vital yang merupakan hasil dari trauma, bedah, kedokteran, atau
alasan agama.
Sel darah mengangkut oksigen sepanjang tubuh lewat oksigen yang
dibawa ke paru-paru. Jika jumlah sel darah merah mengalami penurunan,

jumlah dari oksigen terkirim terhadap organ memiliki penurunan. Keadaan


ini disebabkan oleh iskemia dan kondisi hipoksia dalam tubuh, yang terjadi
pada kematian dalam kasus parah. Otak dan hati merupakan pengguna
terbesar oksigen dan cepat memiliki kerusakan permanen.
Penggantian sel darah merah pada kondisi akut merupakan keadaan
emergensi. Namun, ada alternatif lain, yang mengandung florkarbon atau
hemoglobin stroma-bebas, atau ekspander volume lainnya. Karena untuk
alasan medis, ketidaksesuaian dalam bentuk dan kecocokan pasangan,
anemia hemolytic idiopatik autoimune, atau menolak pasien akibat
keyakinan agama, transfusi darah bukan merupakan pilihan.
Tanda dan gejala:
a) Jantung : ketidaknyamanan pada dada, nyeri leher, angina, aritmia,
meningkatkan nadi, peningkatan tekanan darah, dan infark miokard
akut.
b) Sistem saraf pusat (otak) : kebingungan, agitasi, penurunan kognisi
c) Metabolik : gejala usus iskemik
d) Biokimia : asidosis laktat, alkalosis respiratory.
Pengobatan dengan oksigen tambahan yang essential, jika kondisi
menjadi kritis, terapi oksigen hiperbarik ditambahkan. Masalah dengan baik
terapi apakah pengaruh beracun dari oksigen. Alasan utama untuk
menggunakan terapi oksigen hiperbarik adalah untuk melarutkan oksigen
dalam plasma (hukum henry) pada pasien anemia yang parah untuk
mendukung pertahankan jaringan dan hipoksia jaringan.
Terapi oksigen hiperbarik harus diperhatikan sesekali setiap 2-4 jam
atau hingga rcbs telah diganti dan tanda gejala dari hipoksia jaringan telah
i.

berkurang.
Penerimaan Pencangkokan / Penutup Kulit
Tindakan oksigen hiperbarik (HBO):
a) Meningkatkan oksigenasi pada jaringan sedikit diperfusi
b) Meningkatkan angiogenesis
c) Meningkatkan respon penjamu
Terapi oksigen hiperbarik tidak dianjurkan untuk luka tanpa indikasi.
Luka dengan penerangan masa lalu dan sirkulasi mikro dapat mengambil
manfaat dari terapi oksigen hiperbarik.
Penerimaan cangkok kulit dan penutup perlu dirawat dalam waktu 4-6
jam dari pencangkokan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dengan
terapi hiperbarik tambahan. Kesulitan jaringan dalam kekurangan oksigen
untuk luka dapat menyebabkan kapiler memiliki cedera kembali dalam
jaringan, yang selanjutnya menurunkan suplai oksigen. Oksigen minimal 30-

40 mmhg sangat penting bagi fibroblas untuk mensintesis kolagen matriks


untuk kapiler tunas di daerah avaskular. (camporesi, baker, 1991, hal 153).
Hal ini biasanya membutuhkan dua sampai tiga hari untuk invasi
kapiler terjadi ketika sebuah pencangkokan baru telah ditempatkan pada
luka. Selama periode waktu, pencangkokan kulit baru biasanya menjadi
hipoksia dan risiko kegagalan dalam tempat luka penerimaan pencangkokan
dapat meningkat.
Oksigen hiperbarik merangsang proliferasi kapiler, meningkatkan
angiogenesis, meningkatkan respon tubuh, dan sesekali meningkatkan
oksigenasi ke situs korupsi, sehingga dapat mengurangi cedera reperfusi
pencangkokan / flap.
Hiperbarik terapi harus dimulai segera setelah pasien telah pulih dari
anestesi dan diberikan bid selama minimal tiga hari, kemudian qd sampai
pencangkokan dinilai serta diterima oleh tubuh dan kembali stabil. Jika
pencangkokan tersebut / flap telah gagal dan operasi telah dilaksanakan,
terapi hiperbarik dapat diberikan setiap hari untuk menyiapkan tempat
pemberian luka untuk pecangkokan ulang.
j.

Osteomyelitis kronik
Tindakan hiperbarik oksigen (HBO):
a) Oksigen meningkatkan kekakuan di tulang yang terinfeksi
b) Menambah antibiotik terapi
c) Merangsang neoangiogenesis dalam pembuluh darah dikompromikan
tulang infeksi kronis
Osteomyelitis kronik adalah infeksi kronis tulang yang berlangsung
selama jangka waktu lama, meskipun dengan iv antibiotik dan debridement.
Osteomyelitis kronis biasanya merupakan hasil dari kadar oksigen rendah
yang berada di lokasi luka, benda asing, hipo-perfusi, peradangan, gizi
buruk, perawatan luka tidak efektif, dan organisme resistensi antibiotik.
Faktor-faktor lain dapat terjadi pada kepatuhan pasien dan kondisi yang
berhubungan dengan kesehatan secara keseluruhan kurang.
Menurut penelitian, tingkat oksigen dalam tulang terinfeksi, terlalu
rendah untuk mendukung tahap penyembuhan luka. Ini juga telah
menunjukkan bahwa saat menambahkan terapi oksigen hiperbarik dengan
pengobatan setelah terapi konvensional telah gagal untuk menunjukkan
tanda-tanda perbaikan, kenaikan oksigen ditampilkan untuk meningkatkan
kemampuan

fagosit

untuk

membunuh

bakteri.

Epidermid

aureus,

pseudomonas aeruginosa, escherichia dan staphylococcus escherchia staph

dalam kondisi hipoksia tidak efektif dihancurkan oleh fagosit. Kenaikan


oksigen yang dibutuhkan lebih besar dari 100 mmhg, agar fagosit lebih
sukses dalam membunuh bakteri.
Terapi oksigen hiperbarik membantu dalam kemajuan fibroblast.
Fibroblast tidak dapat mensintesis kolagen atau bermigrasi ke daerah yang
terkena ketika kenaikan oksigen kurang dari 30 mmhg. Selang hiperbarik
oksigen (HBO) dapat membantu tubuh dalam kegiatan fibroblastik kembali
normal. Selain itu, fungsi osteoklas adalah oksigen bergantung dan HBO
mampu menyediakan lingkungan yang optimal bagi osteoklas untuk
memperbaiki tulang nekrotik.
Klasifikasi cierny-mader osteomyelitis dapat digunakan sebagai acuan
dalam menentukan tentang klasifikasi osteomyelitis akan mendapat manfaat
dari terapi oksigen hiperbarik. (hampson, 1999, hal 48).

k.

Pertumbuhan infeksi nekrosis(fasciitis nekrosis, ulkus meleney)


Tindakan dari HBO:
a) Demarkasi berpotensi layak dari jaringan non-layak
b) Meningkatkan tanggapan luka-healing
c) Meningkatkan oksigen iskemik / tempat jaringan hipoksia
Infeksi nekrosis jaringan lunak biasanya dalam polimikroba; entah
anaerobik atau aerobik. Infeksi ini biasanya terjadi setelah trauma, sekitar
obyek asing dan post bedah. Umumnya ada kondisi kompromi, seperti
diabetes, menyebabkan beberapa jenis kondisi hipoksia dan membiarkan
host yang menjadi berkompromi.
Pengobatan primer choice debridement bedah dan penatausahaan
antibiotik sistemik. Terapi hiperbarik telah ditambahkan untuk membantu
dalam pengaruh bakterisida oksigen terhadap pertumbuhan bakteri
anaerobik. Gejala klinis jaringan nekrosis, kotoran busuk, produksi gas, dan
kotoran yang menggrogoti atau lubang dari infeksi ini tanpa keterlibatan
semu dari kulit. Infeksi ini mungkin sulit untuk membedakan dari infeksi
clostridial lebih serius sampai hasil penemuan tersedia.
Bentuk dari infeksi nekrosis jaringan lunak
1.

Crepitasi anaerobik selulitis


a) Infeksi anaerobik akut dari jaringan lunak
b) Gas abses (beberapa kali sebagai cullulitis clostridial)
c) Bukan toksin penyakit-clostridial induced
d) Fasia deep tidak terlibat
e) Peradangan pada jaringan subkutan
f)
Mulai dari dua-lima hari
g) Nyeri lebih ringan daripada fasciitis nekrosis
h) Bau busuk dari luka

Pada klien dengan kondisi yang tidak terlalu buruk, bedah dan terapi
antibiotik telah cukup. Jika klien yang terinfeksi ini telah didiagnosa
2.

parah, hbo mungkin ditambahkan.


Pertumbuhan bakteri gangren
a) Sub akut kronis ulkus dermal
b) Biasanya ditemukan pada perut atau pada dinding thorax
c) Muncul sekitar daerah kolostomi atau ileostomy atau dalam lesi
kulit kronis
d) Gejala mayor nyeri extreme dan kelembutan lesi
e) Biasanya muncul minggu pertama atau kedua setelah operasi
f)
Reaksi sistemik luka kecil
g) Awalnya merah, bengkak, indurated dalam beberapa hari kemudian
menjadi warna keunguan
h) Dari pertumbuhan terjadi perubahan untuk hijau gray-brown atau
kuning kotor dengan penampilan kasar fasia
i)
Deep tidak terlibat
Etiologi klasik kombinasi of a mikroaerofil atau obligately anaerobik
non streptococcus hemolitik dan staphylococcus aureus atau dalam
beberapa kasus proteus spesies ditemukan terutama dalam zona dari

3.

gangren. (hampson, 1999, p. 42)


Meleney's ulkus dasarnya sama seperti gangrene bakteri progresif
kecuali:
a) Apakah menggali trek nekrotik memperluas melalui pesawat
jaringan dan muncul di daerah kulit jarak jauh
b) Biasanya dilihat bedah limfe node berikut dalam paha, ketiak, leher
c) Mungkin dilihat setelah operasi usus besar atau saluran genitalia

4.

perempuan
Fasciitis nekrosis-pengendapan faktor penderita diabetes, alkoholisme,
penyalahgunaan obat parenteral, obesitas, mendasari penyakit vascular,
kurang nutrisi.
a) Infeksi deep berat, melibatkan para fasia superficial dan deep
b) Kecepatan penyebaran nekrosis seiring dengan fasia setelah
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

5.

menggrogoti dan nekrosis kulit


Kebanyakan umumnya mempengaruhi pada ekstremitas
Pada dinding perut, luas perianal dan paha, luka post-op
Dari infeksi pada trauma
Onset akut dari sakit mendadak phlegmon cukup
Dengan eritema dan selulitis demam
Tidak ada kedinginan
Perubahan warna biru atau coklat pada kulit ecchymotic
Onset satu-empat hari
Boros excudate foul serosaguinous
Luas kulit yang digrogoti menjadi biru / hitam gas
Gas dibutuhkan
Ditandai moderat untuk toksemia

Fournier's gangrene-necrotizing fasciitis

a) Dilihat pada pasien pria atau wanita, dimulai dengan sakit genital di
luar kawasan skrotum atau vulva
b) Pada dasarnya ini gejala sama seperti lain dalam kategori nekrosis
fasciitis
l.

Luka bakar akut


Tindakan dari hbo:
a)
b)
c)
d)
e)

Kerugian jaringan fluida terbatas


Dukungan diperfusi jaringan yg terletak di bawah garis
Batasi konversi gelar kedua luka bakar untuk gelar ketiga
Mempromosikan luka penutupan
Minimalkan edema
Luka bakar harus diobati dalam kamar hiperbarik dalam 24 jam

pertama dari cedera untuk hasil optimal. Tujuan dari terapi hiperbarik untuk
mencegah cedera reperfusi, mengurangi resusitasi fluida, penurunan ektensi
pada luka bakar, penurunan kebutuhan untuk bedah multiple untuk
debridement, tetap penurunan rumah sakit, dan telah tampil untuk penurunan
pada jaringan parut luka-luka bakar.
Transportasi lebih jauh tidak disarankan. Dalam rangka perlakukan
pasien di sebuah kamar hiperbarik, kamar harus dalam fasilitas yang
m.

terpenuhi.
Masalah luka
Kebanyakan masalah hipoksia dan infeksi luka dapat menimbulkan
gagalnya respon untuk manajemen kedokteran dan bedah. Faktor-faktor di
atas lebih baik dikhususkan dalam terapi hbo. Selama evaluasi luka hypoxit
diberikan dalam penggunaan oximetry transkutan dan dapat mengidentifikasi
salah satu dari keduannya yang lebih merespon hbo. Asosiasi menyatakan 12
juta orang amerika terkena penyakit diabetes. Dari 50% - 70% penderita
diabetes mengalami amputasi nontraumatic dalam negeri ini. Untungnya,
HBO membantu untuk mengurangi jumlah ini. Dalam sebuah percobaan
klinis prospektif dan terkendali, baroni (diabetes care, 1987) mempelajari
pengaruh terapi hbo dalam manajemen masalah luka pada ekstremitas bawah
yang terkena penyakit diabetes. Dengan menggunakan hbo, tingkat amputasi
turun dari 40% - 11%. Sebuah studi berikutnya dengan oriani (dari
kedokteran hiperbarik, 1992) tampak pada peran hbo dalam gangren diabetes
di kaki. Di kelompok HBO yang harusnya di amputasi, disyaratkan 95%
pasien dapat sembuh, dan hanya 4,8% yang di amputasi. Di kelompok hbo
yang tidak di amputasi sebanyak 33% (p <0,001). Kajian terbaru oleh fagila
tentang sedikit kemungkinan secara acak pada operasi. Info studi enam
puluh delapan pasien diabetes hanya tiga (8,6%) pasien di kelompok
hiperbarik dan sebelas pasien (33%) dalam grup non-hiperbarik diterima

amputasi total. Perbedaan signifikan pada sebuah nilai-p dari 0,016. (fagila
e., et al diabetes care 1996; 19: 1338-1343) penggunaan ajuvan dari oksigen
hiperbarik

dapat

mengembalikan

sebuah

millieu

seluler

yang

menguntungkan dalam proses penyembuhan dan mekanisme penjamu


antimikroba.
Dari dr kurtz o. Terrance, do bagian penyakit menular dan kedokteran
hiperbarik menyetujui adanya masalah luka ini.
n.

Intracranial abses (ICA)


Dengan harga kematian perbaikan di daerah ini, ada sebuah trend
umum menuju pendekatan lebih konservatif dalam manajemen pasien ica.
Pasien

dengan

abses

multiple

pada

lokasi

mendalam

atau

mendominasi, imun kompromi, dan tidak respon atau kerusakan lebih lanjut
meskipun standar bedah dan antibiotik perawatan pada terapi masalah pose
mayor:
Terapi hiperbarik adjuntive memiliki mungkin manfaat terapi
tambahan:
a) Konsentrasi oksigen bebas dapat menghambat floral yang mungkin
ditemukan dalam ica (anaerobik)
b) Terapi oksigen hiperbarik dapat

meredukasi

dalam

perifocal

pembengkakan otak
c) Peningkatan dari mekanisme pertahanan host
d) Merupakan manfaat dari kasus pada osteomylitis skull bersamaan
Pertimbangkan terapi oksigen hiperbarik dalam kondisi berikut:
a)
b)
c)
d)

Beberapa abses
Abses dalam lokasi deep atau dominan
Berkompromi host
Situasi dimana pembedahan merupakan kontraindikasi atau dimana para

pasien merupakan seorang risiko bedah yang miskin


e) Tidak respon atau deteriorrasi selanjutnya meskipun bedah (yaitu, 1-2
aspirasi needle) dan perlakuan antibiotik
Pengobatan hiperbarik mungkin diperhatikan sekali atau dua kali per
hari. Kasar perlakuan berdasarkan pasien merespon klinis serta `temuan
radiological. Jumlah rata-rata dari pengobatan setelah 13 kali dalam 20 kali.
D. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN OKSIGEN HIPERBARIK
Pengkajian
1.

Identitas :
nama, alamat, lahir, pekerjaan, pendidikan, dsb

2.

Keluhan utama :
1) DCS

2) Klinis
3) Kebugaran
3.

Riwayat penyakit sekarang


1) DCS (penyelaman dilakukan dimana, dikedalaman berapa, pasien
menunjukkan gejala pada kedalaman brp, pingsan berapa lama,
menyelaman menggunakan apa, dan pertolongan apa yang sdh dilakukan)
2) Klinis : riwayat penyakit s/d dilakukan terapi HBO
3) Kebugaran

4.

Riwayat penyakit yang pernah diderita


Penulusuran terhadap beberapa penyakit yang menjadi kontra indikasi terapi
OHB, diantaranya :
1) Mutlak
1. Pneumotoraks.
2. Pasien yang memdapatkan obat kemoterapi (doxorubicin (adriamisin
tm) atau cisplatin (platinol)) untuk kanker
2) Relatif :
1. Infeksi saluran pernapasan bagian atas
2. Sinusitis kronis
3. Gangguan kejang
4. Emfisema dengan retensi CO2
5. Demam tinggi yang tidak terkontrol
6. Riwayat pneumotoraks spontan
7. Riwayat pembedahan dada
8. Riwayat bedah rekonstruksi telinga
9. Paru lesi pada rutin x-ray atau ct scan
10. Infeksi virus
11. Dsb

5.

Pemeriksaan fisik
1)

Observasi TTV.
Mencakup suhu, detak jantung, tekanan darah, suara paru-paru, uji
otoscopic dan gula darah pada semua penderita IDDM

2)

Kepala, mata, telinga, hidung dan tenggorokan

3)

Neurologis

4)

Pernafasan

5)

Kardiovaskuler

6)

Pencernaan

7)

Perkemihan

6.

8)

Musculoskeletal

9)

Integumen

Pengkajian pra HBO


1)

Observasi TTV.

2)

Ambang demam.

3)

Evaluasi tanda-tanda pilek atau flu (batuk, demam, sakit tenggorokan,


pilek, mual, diare, malaise).

4)

Auskultasi paru-paru

5)

Lakukan uji gula darah pada pasien dengan iddm.

6)

Observasi cedera orthopedic umum dalam luka trauma.

7)

Tes pada pasien keracunan CO/ oksigen.

8)

Uji ketajaman penglihatan.

9)

Mengkaji tingkat nyeri

10)

Penilaian status nutrisi.

11)

Setelah pasien telah dibersihkan fisik untuk pengobatan mereka di


ruangan itu,mereka harus diperlakukan secara aman

Ada zat dan barang-barang pribadi dilarang di ruang hyperbaric :


1)

Semua zat yang mengandung minyak atau alkohol (yaitu, kosmetik, hair
spray, cat kuku, deodoran, lotion, cologne, parfum, salep) dilarang karena
berpotensi memicu bahaya kebakaran dalam ruang oksigen hiperbarik

2)

Pasien harus melepas semua perhiasan, cincin, jam tangan, kalung, sisir
rambut, dll sebelum memasuki ruangan untuk mencegah goresan akrilik
silinder dari ruang hiperbarik

3)

Lensa

kontak

harus

dilepas

sebelum

memasuki

ruang

karena

pembentukan potensi gelembung antara lensa dan kornea


4)

Alat bantu dengar harus dilepas karena memicu percikan listrik dalam
ruang.

5)

Menggunakan pakaian berbahan katun 100% untuk mencegah timbulnya


listrik statik ketika bergesekan

6)

Untuk antisipasi claustrophobia, premedikasi dengan obat anti-kecemasan


(valium, ativan) diberikan sedikitnya 30 menit sebelum memulai
pengobatan

7.

Pengkajian intra HBO


1)

Mengamati tanda-tanda dan gejala barotrauma, keracunan oksigen dan


komplikasi/efek samping ditemui dalam hbot.

2)

Mendorong pasien untuk menggunakan teknik atau kombinasi teknik


yang paling efektif atau nyaman.

3)

Pasien perlu diingatkan bahwa manuver valsava hanya untuk digunakan


selama dekompresi dan mereka perlu bernapas normal selama terapi
(tidak menahan napas).

4)

Jika pasien mengalami nyeri ringan sampai sedang, hentikan dekompresi


hingga nyeri reda. Jika nyeri ringan sampai sedang tidak lega, pasien
harus dikeluarkan dari ruang dan diperiksa oleh dokter tht.

5)

Untuk mencegah barotrauma gi, ajarkan pasien bernafas secara normal


(jangan menelan udara) dan menghindari makan besar atau makanan yang
memproduksi gas atau minum sebelum perawatan.

6)

Pantau adanya claustrophobia, untuk mencegah atau mengurangi efek dari


claustrophobia gunakan media seperti tv, film, buku-buku, kaset tape, atau
perawat/anggota keluarga duduk di sisi ruangan.

7)

Monitor pasien selama dekompresi terutama selama dekompresi darurat


untuk tanda-tanda pneumotoraks tersebut.

8)
8.

Segera periksa gula darah jika terdapat tanda-tanda hypoglycemia

Pengkajian post HBO


1)

Untuk pasien dengan tanda-tanda barotraumas, uji ontologis harus


dilakukan.

2)

Tes gula darah pada pasien iddm.

3)

Pasien dengan iskemia trauma akut, sindrom kompartemen, nekrosis dan


pasca implantasi harus dilakukan penilaian status neurovaskular dan luka.

4)

Pasien dengan keracunan co mungkin memerlukan tes psikometri atau


tingkat carboxyhemoglobin.

5)

Pasien dengan insufisiensi arteri akut retina memerlukan hasil


pemeriksaan pandangan yang luas.

6)

Pasien dirawat karena penyakit dekompresi, emboli gas arteri, atau edema
cerebral harus dilakukan penilaian neurologis.

7)

Pasien yang mengkonsumsi obat anti ansietas dilarang mengemudikan


alat transportasi atau menghidupkan mesin.

8)

Lakukan pendokumentasian pasien pasca hbot untuk alasan medis /


hukum

9. Diagnosa Keperawatan :
1. Kecemasan releated untuk defisit pengetahuan tentang terapi oksigen hiperbarik
dan prosedur perawatan
Krieria hasil :
Pasien dan/atau keluarga akan menyatakan :
1. Alasan untuk terapi oksigen hiperbarik

2. Tujuan terapi
3. Prosedur yang terlibat dengan terapi oksigen hiperbarik
4. Potensi bahaya dari terapi oksigen hiperbarik
Intervensi Keperawatan :
No.
INTERVENSI
1. Dokumentasikn pmahaman

px

RASIONAL
mengetahui pemahaman

/ Dengan

keluarga tntg pemikiran & tujuan terapi pasien tentang terapi HBO, kita dapat
HBO, prosedur yg terlibat & potensi mengukur
bahaya terapi HBO.
2.

pengetahuan

pasien.

Mengidentifikasi

hambatan Untuk

pembelajaran.
3.

tingkat
mengurangi

kecemasan

pasien.

Mengidentifikasi

kebutuhan

belajar Pasien

memahami

proses

dan

termasuk informasi mengenai hal hal tindakan terapi HBO.


berikut :
a. Tujuan dan hasil yang diharapkan
dari terapi HBO
b. Urutan prosedur perawatan dan apa
yang diharapkan ( yaitu tekanan,
temperatur, suara, perawatan luka )
c. Sistem pengiriman oksigen
d. Telinga teknik kliring
e. Barotrauma paru
f. Pencegahan toksisitas oksigen
4.

Memberikan kesempatan terus untuk Dengan


diskusi dan instruksi.

memberikan

kesempatan

pada pasien untuk bertanya, kita dpt


mengetahui hal hal yg belum
dipahami oleh pasien.

5.

Menyediakan pasien dan/atau keluarga Brosur dapat membantu pasien untuk


dengan brosur informasi mengenai memahami terapi HBO.
terapi HBO.

6.

Menjaga

pasien

dan/atau

keluarga Dengan menjelaskan semua prosedur,

diberitahu tntg semua prosedur.

pasien akan mengetahui tindakan apa


yang akan dilakukan kepada dirinya.
Pasien dapat mengenal lingkungan

7.

Dokumen pasien / keluarga instruksi, HBO dan untuk mengetahui adanya


menggunakan

konfirmasi

bentuk gangguan selama terapi HBO.

instruksi dan bentuk instruksi pasien

umum.
2. Potensi cidera yang berkaitan dengan pasien transfer in/out dari ruang, ledakan
peralatan, kebakaran, dan/atau peralatan dukungan medis.
Kriteria Hasil :
1. Pasien tidak akan mengalami cidera apapun.
Intervensi Keperawatan :
No.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Membantu pasien masuk dan keluar Memudahkan pasien dalam menjalani
dari ruang tepat.
2.

terapi HBO.

Mengamankan peralatan di dalam Untuk mencegah terjadinya kerusakan


ruang sesuai dengan kebijakan dan peralatan juga demi keamanan serta
prosedur.

3.

kenyamanan pasien.

Memantau peralatan dan supplies Mencegah


untuk perubahan tekanan dan volume.

terjadinya

perubahan

tekanan dan volume selama terapi


HBO.

4.

Mengikuti
kebakaran

prosedur
sesuai

pencegahan Mencegah terjadinya kebakaran.

kebijakan

dan

prosedur yang ditentukan.


5.

Memonitor adanya udara di IV dan Memantau terjadinya emboli udara.


tekanan tubing line invasif, udara
semua harus dikeluarkan dari tabung
jika ada.

6.

Dokumen yang semua line invasif atau Mencatat

segala

tindakan

sesuai

menghapus udara bertekanan sebelum dengan prosedur.


ruang dan depressurization.

Diagnosa Keperawatan :
3. Potensi barotrauma ke telingga, sinus, gigi, dan paru-paru, atau gas emboli serebral
sehubungan dengan perubahan tekanan udara di dalam ruang oksigen hiperbarik.
Krieria hasil :
Tanda-tanda dan terjadinya tanda dari barotrauma akan diakui, ditangani, dan
segera dilaporkan.
Intervensi Keperawatan :
No.

INTERVENSI

RASIONAL

1.

Mengelola dekongestan, per perintah

Menghidari perubahan tekanan yang

dokter, sebelum perawatan terapi

besar

oksigen hiperbarik.

saluran pernapasan bagian atas atau

selama

mengalami

infeksi

serangan alergi.
2.

Sebelum perawatan menginstruksikan

berusaha

untuk

membuka

tuba

pasien dalam teknik pemerataan telinga, eustakius dan mengurangi tekanan


seperti menelan, mengunyah, menguap,

agar tidak terjadi barotrauma

manuver valsava dimodifikasi, atau


memiringkan kepala.
3.

4.

menilai kinerja pasien teknik

Perawatan saat pre chamber, intra

pemerataan telinga sebagai ruang

chamber dan post chamber untuk

bertekanan terjadi.

meminimalkan resiko barotrauma.

Ketidakmampuan untuk menyamakan Peningkatan

tarif

dan

atau

telinga, atau sakit di telinga dan / atau kedalaman pernafasan


sinus (terutama setelah pengobatan
awal,

dan

setelah

perawatan .

berikutnya).

Diagnosa Keperawatan
4. Potensial untuk pengiriman gas tidak memadai terapi yang berkaitan dengan
system pengiriman dan kebutuhan pasien/ keterbatasan
Kriteria hasil
Tanda dan gejala pengiriman oksigen yang tidak memadai akan diakui dan
dilaporkan segera.

Intervensi
1.menilai kondisi pasien, kebutuhan,

Rasional
1. Untuk mengidentifikasi keadaan

dan keterbatasan untuk system gas

umum pasien dan efektivitas

terbaik pengiriman cocok :

kebutuhan oksigen yang digunakan

Tudung kepala untuk anak-anak


dengan cat wajah, atau per

preferensi pasien
Wajah topeng
T bagian untuk pasien yang

pasien dalam terapi HBO

intubasi atau trakeostomi


Ventilator untuk pasien
intubated yang memerlukan

bantuan ventilasi
2. memonitor respon pasien dengan
system pengiriman oksigen, termasuk
kemampuan mereka untuk mentolerir
system yang dipilih

2. Untuk mengetahui lebih awal efek


samping ( komplikasi) yang
dirasakan pasien dalam terapi HBO
bisa saja terjadi karena maneuver

3. membantu teknisi hiperbarik dengan

falsava yang dilakukan oleh pasien

system pengiriman, yang sesuai.


Tudung kepala
a. Membantu pasien dengan

tidak sesuai oleh instruksi perawat

aplikasi dan penghapusan

tender.
3. Untuk fungsi kolaborasi perawat
tender dengan operator hiperbarik

tudung
b. Setelah perakitan periksa
kebocoran

a. Untuk informasi penggunaan yang


efektif pada pasien
b. Agar oksigen yang dihirup oleh

c. Amati pasien untuk tanda- tanda


dan gejala penumpukan CO2
termasuk kegelisahan
Masker
a. Membantu pasien dengan aplikasi
topeng dan penghapusan, dan
reposisi topeng yang diperlukan
b. Periksa kebocoran dan
kelangsungan segel terhadap wajah
pasien
T-Piece
a. Proses setup
b. Tindakan monitor pasien, kedalam

pasien tidak keluar dari tudung


kepala
c. Untuk mengidentifikasi tanda-tanda
komplikasi penumpukan CO2 dalam
tubuh akibat kadar O2 dalam tubuh
berlebih
a. Agar pemberian oksigen menggunakan
aplikasi topeng dapat terhirup dengan
maksimal
b. Agar pasien dapat menghirup oksigen
100% sesuai kebutuhan tanpa adanya
kebocoran oksigen

respirasi, dan mendengarkan suara


nafas.
c. Memberitahukan dokter hiperbarik
jika pasien mengalami kesulitan
bernafas dan hisap yang
diperlukan.

a. Untuk persiapan alat-alat (T-Piece)


siap digunakan.
b. Untuk mengkaji fungsi respirasi
pasien.
c. Untuk fungsi kolaborasi perawat
dan dokter dalam mengidentifikasi

Ventilator

komplikasi yang timbul akibat

a. Manajemen dokumen ET
manset dengan NS sebelum
turunnya.
b. Suction menjaga peralaatan
didekatnya dan siap untuk
digunakan ( suction sesuai
keabutuhan ).
c. Monitor dan volume tidal
dokumen pasien, laju

THBO.
a. Untuk pengkajian riwayat
penggunaan ventilator pada pasien
kemudian untuk dicocokkan sesuai
dengan penggunaan HBOT.
b. Untuk menghisap lender atau secret
yang menumpuk pada pasien.
c. Untuk mengidentifikasi keadaan

pernapasan dan bunyi nafas

klinis pasien sebagai format

sebelum bertekanan ruang,

pengkajian perawat maupun dokter.

setelah tekanan udara ruang,


maka setiap 30-60 menit atau
seperti yang diperintahkan.
d. Monitor pasien untuk gangguan
pernapasan, dan memberitahu
dokter hiperbarik jika jelas.
e. Memberikan oksigen secara
manual pasien jika perlu tingkat
TCPO2 monitor dan tingkat

d. Untuk mendeteksi secepatnya


gangguan pernapasan yang terjadi
pada pasien akibat proses HBOT.
e. Untuk mengetahui pemenuhan
oksigen (saturasi oksigen) didalam
tubuh.

PO2 ABG sebagai mana


diperintahkan.
f. Memberitahukan dokter
hiperbarik pembacaan

f. Sebagai bentuk kerja sama perawat


dengan dokter untuk mengetahui
proknosis penyakit pasien.

abnormal.

5. Diagnose Keperawatan
Kecemasan dan ketakutan yang berhubungan dengan perasaan kecemasan kurungan
terkait dengan ruang oksigen hiperbarik.
Kriteria hasil
Pasien akan mentolerir pengobatan oksigen hiperbarik.
Intervensi
1. Menilai pasien untuk setiap

Rasional
1. Untuk

mengidentifikasi

sejarah kecemasan kurungan,

claustrophobia pada pasien bahwa

dan menyampaikan informasi

ruang tera[I HBO sempit dan

yang relevan dengan dokter

memberikan pengetahuan sekilas

hiperbarik.

tentang

informasi

pelaksanaan

2. Melaksanakan

tindakan

pencegahan

yang

sesuai

pendidikan yaitu obat, ruang


terapi

oksigen hiperbarik, memantau


dan menilai tanda dan gejala

mengurangi

kecemasan

pasien

terhadap tindakan terapi.

berkeliling.
3. Selama
perawatan

kecemasan

HBOT.
2. Pemberian edukasi dan obat dapat

continemen,

termasuk:
Gelisah
Ketidakmampuan

3. Untuk

mengetahui

lebih

penurunan kondisi pada

awal
pasien

selama dilakukan terapi agar tidak


jatuh dalam keadaan kritis.

untuk

mentolerir masker wajah atau


-

tudung kepala.
Laporan perasaan tertutup atau

terjebak.
4. Menjalin kontak mata dengan
pasien.
5. Meyakinkan pasien bahwa dia

pemecahan

terlibat

dalam

masalah

perasaannya

atau

kecemasan

kurungan.
7. Member obat anti kecemasan
setiap perintah dokter hiperbarik
dan menilai efektifitas
pengobatan.
8. Memberitahukan
hiperbarik
terhadap

antar perawat dengan pasien.


5. Memberikan keyakinan kepada
pasien untuk proses keamanan dan
kenyamanan selama HBOT.
6. Sebagai komunikasi interpersonal

aman.
6. Pasien

4. Sebagai komunikasi non verbal

atau
dokter

respon

dalam

problem

solving

akan

kecemasan yang dialami pasien.


7. Sebagai terapi medis

penunjang

dari dokter atau tenaga medis untuk


mengurangi kecemasan.
8. Bentuk kolaborasi tindakan antar
perawat dan dokter.

pasien

anti

kecemasan,

langkah-langkah

dan

kemampuan untuk mentolerir


kurungan.
9. Dokumen hasil intervensi.

9. Sebagai

pertanggung

jawaban

perawat akan segala tindakan atau


prasat yang telah dilakukan.

E.
1.

Konsep Model Keperawatan Dorothea E. Orem


Definisi Model Konsep Keperawatan Orem
Model keperawatan menurut Orem dikenal dengan Model Self Care. Model

Self Care ini memberi pengertian bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang
dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan
dasar dengan tujuan mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai
dengan keadaan sehat dan sakit. Model keperawatan ini berkembang sejak tahun
1959-2001.
Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai yang ada
dalam keperawatan diantaranya dalam pelaksanaan berdasarkan tindakan atas
kemampuan. Self Care didasarkan atas kesengajaan serta dalam pengambilan
keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan.
Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan
mengenai pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi dalam konsep kebutuhan
dasar yang terdiri dari :
a. Air (udara) : pemeliharaan dalam pengambilan udara
b. Water (air) : pemeliharaan pengambilan air
c. Food (makanan) : pemeliharaan dalam mengkonsumsi makanan
d. Elimination (eliminasi) : pemeliharaan kebutuhan proses eliminasi
e. Rest and Activity (istirahat dan kegiatan) : keseimbangan antara istirahat dan
aktivitas
f. Solitude and Social Interaction (kesenderian dan interaksi sosial) :
pemeliharaan dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial.
g. Hazard Prevention (pencegahan risiko) : kebutuhan akan pencegahan risiko
pada kehidupan manusia dalam keadaan sehat
h. Promotion of Normality
2.

Teori Keperawatan Orem


Orem mengembangkan 3 teori yaitu self care (dependen care), self care

deficit, dan nursing system. Teori self care mengembangkan self care requisites baik
yang universal, developmental, dan health deviation. Teori self care deficit
menjelaskan bahwa self care deficit muncul jika self care demand lebih besar

daripada self care agency, dan jika kondisi ini muncul diperlukan nursing agency,
sebagaimana pada bagan dibawah ini :
Self care

R
Condition 6.
ing factor

R
Conditioni
ng factor

Self care
agency

Self care
demand

<

Deficit
R
Conditioni
ng factor

R
Nursing
agency
Gambar 2.2 Bagan Model Orem
Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan

kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan mandiri serta


mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik keperawatan Orem
mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, diantaranya :
1. Perawatan Diri Sendiri (Self Care)
Teori Self Care meliputi :
Self Care : merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu serta
dilaksanakan

oleh

individu

itu

sendiri

dalam

memenuhi

serta

mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.


Self Care Agency : merupakan suatu kemampuan individu dalam
melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oleh usia,
perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.
Therapeutic Self Care Demand : tuntutan atau permintaan dalam
perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang dilakukan
dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan menggunakan
metode dan alat dalam tindakan yang tepat.
Self Care Requisites : kebutuhan self care merupakan suatu tindakan
yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang bersifat
universal dan berhubungan dengan proses kehidupan manusia serta dalam
upaya mempertahankan fungsi tubuh. Self Care Requisites terdiri dari
beberapa jenis, yaitu : Universal Self Care Requisites (kebutuhan universal
manusia yang merupakan kebutuhan dasar), Developmental Self Care
Requisites (kebutuhan yang berhubungan perkembangan individu) dan

Health Deviation Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari


kondisi pasien).
2. Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara
umum dimana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat perawatan
dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat tidak mampu atau
terbatas untuk melakukan self carenya secara terus menerus. Self care difisit
dapat diterapkan pada anak yang belum dewasa, atau kebutuhan yang
melebihi kemampuan serta adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam
perawatan dan tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas
maupun kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu
dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses
tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai
pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan pengembangan
lingkungan untuk pengembangan pribadi serta mengajarkan atau mendidik
pada orang lain.
3. Teori Sistem Keperawatan
Teori sistem keperawatan merupakan teori yang menguraikan secara
jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh perawat atau
pasien sendiri. Dalam pandaangan sistem ini, Orem memberikan identifikasi
dalam sistem pelayanan keperawatan diantaranya:
Sistem Bantuan Secara Penuh (Wholly Copensatory System)
merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan secara
penuh pada pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi
tindakan perawatan secara mandiri yang memerlukan bantuan dalam
pergerakan, pengontrolan, dan ambulansi serta adanya manipulasi gerakan.
Contoh : pemberian bantuan pada pasien koma.
Sistem Bantuan Sebagian (Partially

Compensatory

System)

merupakan sistem dalam pemberian perawatan diri sendiri secara sebagian


saja dan ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal.
Contoh : perawatan pada pasien post operasi abdomen dimana pasien tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan luka.
Sistem Supportif dan Edukatif merupakan sistem bantuan yang
diberikan pada pasien yang membutuhkan dukungan pendidikan dengan
harapan pasien mampu memerlukan perawatan secara mandiri. Sistem ini
dilakukan agar pasien mampu melakukan tindakan keperawatan setelah
dilakukan pembelajaran. Contoh : pemberian sistem ini dapat dilakukan pada
pasien yang memerlukan informasi pada pengaturan kelahiran.

F. APLIKASI MODEL KONSEPTUAL DOROTHEA E. OREM PADA POST


OP 1/3 PROKSIMAL RADIUS DENGAN TERAPI HBO
Self Care
Universal
Oksigenasi
Nutrisi
Kebersihan
Aktivitas
Istirahat
Pencegahan bahaya
Interaksi sosial

Developmental

Health deviation

Pemahaman

Luka post operasi

terhadap penyakit

fraktur

(fraktur)

Self Care Defisit

Nursing system

Totally
compensatory
nursing system
Kegawatan fraktur

Partially
compensatory
nursing system
Perawatan luka
HBO

Supportif/
edukatif
compensatory
nursing system
Panduan
Pelajaran
Dukungan

Peningkatan
jaringan
DAFTAR oksigen
PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2010.
Rencana
Asuhan
danendotel
Dokumentasi Keperawatan,
Memodulasi
nitrit
oxide sel
EGC, Jakarta,
Peningkatan pembentukan fibroblast
Hudak and Gallo. 2004. Keperawatan Kritis, Volume I EGC, Jakarta.
Sintesis kolagen
Long, Barbara C. 2004. Perawatan Medikal Bedah, Edisi 3 EGC, Jakarta.
Peningkatan perfusi
Mansjoer, Arif, et al, 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Medika Aesculapius
FKUI, Jakarta.

Penyembuhan luka

Price, Evelyn C, 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Gramedia, Jakarta
Daniel, R et all. 2010. Nursing Fudamental:Caring & Clinical Decisions Making.
2nd. Ed. New York : Delmar Cengage Learning
Skinner,Q.1985. The Return of Grand Theory in the Human Sciences.-:Cambridge
Tomey, A.M & Martha R.G. 2010. Nursing Theorist and Their Work
7th.Ed.Missouri:Elsevier Inc.