Anda di halaman 1dari 12

MATA KULIAH

: GEO 441 GEOGRAFI PERKOTAAN

NAMA

: ADHITYA BIMA HARDIANTO

NIM

: 130722616069

OFFERING

: H/2013

MATERI
1) Teori Konsentris (Concentric Theory)
Teori konsentris dari Ernest W. Burgess, seorang sosiolog beraliran human ecology,
merupakan hasil penelitian Kota Chicago pada tahun 1923. Menurut pengamatan Burgess,
Kota Chicago ternyata telah berkembang sedemikian rupa dan menunjukkan pola
penggunaan lahan yang konsentris yang mencerminkan penggunaan lahan yang berbedabeda.
Burgess berpendapat bahwa kota-kota mengalami perkembangan atau pemekaran
dimulai dari pusatnya, kemudian seiring pertambahan penduduk kota meluas ke daerah
pinggiran atau menjauhi pusat. Zona-zona baru yang timbul berbentuk konsentris dengan
struktur bergelang atau melingkar.
Berdasarkan teori konsentris, wilayah kota dibagi menjadi lima zona sebagai berikut.

Dia mengemukakan wilayah kota dibagi dalam 5 (lima) zona penggunaan lahan yaitu:
1. Lingkaran dalam terletak pusat kota (central business distric atau CBD) yang
terdiri bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan pusat
perbelanjaan
2. Lingkaran kedua terdapat jalur peralihari yang terdiri dari: rumah-rumah sewaan,
kawasan industri, dan perumahan buruh
3. Lingkaran ketiga terdapat jalur wisma buruh, yaitu kawasan perumahan untuk
tenaga kerja pabrik
1

4.Lingkaran keempat terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja
kelas menengah
5.Lingkaran kelima merupakan zona penglaju yang merupakan tempat kelas
menengah dan kaum berpenghasilan tinggi.
Teori Burgess sesuai dengan keadaan negara-negara Barat (Eropa) yang telah maju
penduduknya. Teori ini mensyaratkan kondisi topografi lokal yang memudahkan rute
transportasi dan komunikasi.

2) Teori Sektoral (Sector Theory)


Teori sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Teori ini muncul berdasarkan
penelitiannya pada tahun 1930-an. Hoyt berkesimpulan bahwa proses pertumbuhan kota lebih
berdasarkan sektorsektor daripada sistem gelang atau melingkar sebagaimana yang
dikemukakan dalam teori Burgess. Hoyt juga meneliti Kota Chicago untuk mendalami
Daerah Pusat Kegiatan (Central Business District) yang terletak di pusat kota.
Ia berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan lahan kota menjulur seperti irisan
kue tar. Mengapa struktur kota menurut teori sektoral dapat terbentuk? Para geograf
menghubungkannya dengan kondisi geografis kota dan rute transportasinya. Pada daerah
datar memungkinkan pembuatan jalan, rel kereta api, dan kanal yang murah, sehingga
penggunaan lahan tertentu, misalnya perindustrian meluas secara memanjang. Kota yang
berlereng menyebabkan pembangunan perumahan cenderung meluas sesuai bujuran lereng.

3) Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)


Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua geograf ini
berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat dalam wilayah kota,
kenyataannya lebih kompleks dari apa yang dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt.

Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang kompleks.
Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-nukleus baru yang berfungsi
sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus baru akan berkembang sesuai dengan
penggunaan lahannya yang fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki sel-sel
pertumbuhan.
Nukleus kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara, kompleks
industri, pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi menjadi dasar pertimbangan
dalam penggunaan lahan secara mengelompok sehingga berbentuk nukleus. Misalnya,
kompleks industri mencari lokasi yang berdekatan dengan sarana transportasi. Perumahan
baru mencari lokasi yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat pendidikan.
Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan lahan
ditentukan oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan sejarahnya yang khas, sehingga
tidak ada urut-urutan yang teratur dari zona-zona kota seperti pada teori konsentris dan
sektoral. Teori dari Burgess dan Hoyt dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari
kenampakan nyata suatu kota.

4) Teori Konsektoral (Tipe Eropa)


Teori konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965 dengan
mengambil lokasi penelitian di Inggris. Teori ini mencoba menggabungkan teori konsentris
dan sektoral, namun penekanan konsentris lebih ditonjolkan.

5) Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)


Teori konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry
Ford pada tahun 1980 berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat digambarkan
sebagai berikut.

6) Teori Poros
Teori poros dikemukakan oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan
transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. Teori poros ditunjukkan pada
gambar sebagai berikut.

7) Teori Historis
Dalam teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis yang
berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori historis dari
Alonso dapat digambarkan sebagai berikut.

Dari model gambar di depan menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar hidup
masyarakat yang semula tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas lingkungan,
mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran (a). Perbaikan daerah CBD menjadi
menarik karena dekat dengan pusat segala fasilitas kota (b). Program perbaikan yang semula
hanya difokuskan di zona 1 dan 2, melebar ke zona 3 yang menarik para pendatang baru
khususnya dari zona 2 (c).

Teori Ketinggian Bangunan (Bergel, 1955). Teori ini menyatakan bahwa


perkembangan struktur kota dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD
secara garis besar merupakan daerah dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat
tinggi dan ada kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini,
maka di DPK atau CBD paling sesuai dengan kegiatan perdagangan (retail activities), karena
semakin tinggi aksesibilitas suatu ruang maka ruang tersebut akan ditempati oleh fungsi yang
paling kuat ekonominya.
Menurut Yunus, tipe-tipe struktur tata ruang kota diatas merupakan tipe struktur ruang
yang berdasarkan pendekatan ekologikal. Pendekatan ekologikal memandang manusia
sebagai makhluk hidup yang mempunyai hubungan interrelasi dengan lingkungannya yang
terwujud dalam bentuk penggunahn lahan yaitu merupakan proses bertempat tinggal,
mengembangkan keturunan, dan tempat mencari makan (Yunus, 1999).

Struktur tata ruang kota juga dapat dijelaskan berdasarkan pendekatan morfologikal,
Beberapa sumber mengernukakan bahwa tinjauan terhadap morfologi kota. ditekankan pada
bentuk-bentuk- fisikal dari lingkungan kekotaan dan hal ini dapat diamati dari kenampakan
kota secara fisikal yang antara lain tercermin pada sistern jalan - jalan yang ada, blok-blok
bangunan baik daerah hunian ataupun bukan (perdagangan/ industri) dan juga bangunan
bangunan individual (Herbert, 1973 dalam Yunus,1999 J07).
Ada tujuh pola struktur tata ruang kota. yang didasarkan pada pendekatan
morfologikal ini (Hudson dalam Yunus, 2003) yaltu:
1. Bentuk satelit dan pusat-pusat baru.
2. Bentuk stelar atau radial
3. Bentuk cincin
4. Bentuk linier bermanik
5. Bentuk inti/kompak
6. Bentuk memencar
7. Bentuk kota. bawah tanah
Apabila pola jalan sebagai indikator morfologi kota, maka ada tiga sistem pola jalan
yang dikenal. (yunus, 2000: 142), yaitu:
1. Sistern pola jalan tidak teratur
2. Sistim pola jalan radial koilswitris
3. Sistem pola jalan bersudut siku/grid
Secara teoritis dikenal tiga cara perkembangan dasar di dalam kota, dengan tiga istilah teknis,
yaitu perkembangan horizontal, perkembangan vertikal, serta perkembangan interstisial
Markus Zahnd, perancangan kota secara terpadu 2006;25
1. Perkembangan horizontal
Cara perkembangannya mengarah ke luar. Artnya, daerah bertambah, sedangkan
ketinggian dan kuantitas lahan terbangun (coverage) tetap sama. Perkembangan
dengan cara ini sering terjadi dipinggir kota, dimana lahan masih lebih murah dan
dekat jalan raya yang mengarah ke kota (dimana banyak keramaian).

2. Perkembangan vertical
Cara perkembangannya mengarah ke atas. Artinya, daerah pembangunan dan
kuantitas lahan tebangun tetap sama, sedangkan ketinggian bangunan-bangunan
bertambah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota (dimana harga
lahan mahal) dan pusat-pusat perdagangan yang memiliki potensi ekonomi.
3. Perkembangan interstisial
Cara perkembangannya bergerak ke dalam. Artinya, daerah dan ketinggian bangunanbangunan rata-rata tetap sama, sedangkan kuantitas lahan terbangun (coverage)
bertamabah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota dan antara
pusat kota dan pinggir kota yang kawasannya sudah dibatasi dan hanya dapat
dipadatkan.
Perkembangan kota ini dengan sendirinya membentuk pola kawasan tertentu juga
membentuk kawasan tersebut menjadi citra sendiri. Seperti misalnya pada kawasan
perdagangan atau pertokoan yang biasanya didiami oleh keturunan China atau India.
Biasanya mereka bertempat tinggal dilantai ke dua ; lantai pertama digunakan sebagai tempat
berjualan. Secara keseluruhan pusat pertokoan ini memanjang memagari jalan raya.
Dibanding dengan daerah tinggal orang pribumi, pusat pertokoan ini lebih teratur dan
menikmati sarana lalu lintas yang baik dan fasilitas listrik, air ledeng dan sambungan telepon.
Namun dibanding dengan pemukiman orang Eropa, daerah pertokoan ini sangat sempit dan
tidak mempunyai halaman. Ini kelihatan bahwa pola kota di Indonesia dari semula telah
berkembang tidak seimbang dan tidak mempunyai pola yang tunggal, tetapi disesuaikan
dengan pola pembagian kedudukan warga negara pada waktu itu.
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Perkembangan Kota
Aspek perkernbangan dan pengernbangan wilayah tidak dapat lepas dari adanya
ikatan-ikatan ruang perkernbangan wilayah secara geograris. Menurut Yunus (1981) proses
perkembang,ini dalam arti luas tercermin. Chapin (dalam Soekonjono, 1998) mengemukakan
ada 2 hal yang mempengaruhi tuntutan kebutuhan ruang yang selanjutnva menyebabkan
perubahan penggunaan lahan yaitu :
1. Adanya perkembangan penduduk dan perekonomian,
2. Pengaruh sisterm aktivitas, sistem pengembangan, dan sistem lingkungan.

Variabel yang berpengaruh dalarn proses perkembangan kota menurut Raharjo (dalam
Wdyaningsih, 2001), adalah:
1. Penduduk, keadaan penduduk, proses penduduk, lingkungan sosial penduduk
2. Lokasi yang strategis, sehingga aksesibilitasnya tinggi
3. Fungsi

kawasan

perkotaan, merupakan

fungsi

dorminan

yang

mampu

menimbulkan
4. Kelengkapan fasilitas sosial ekonomi yang merupakan faktor utama timbulnya
perkembangan dan pertumbuhan pusat kota
5. Kelengkapan sarana dan prasarana transportasi untuk meningkatkan aksesibilitas
penduduk ke segala arah
6. Faktor kesesuaian lahan
7. Faktor kemajuan dan peningkatan bidang teknologi yang mempercepat proses
pusat kota mendapatkan perubahan yang lebih maju
Citra Kota
Sifat dasar dan karakteristik bentuk kota telah menjadi perhatian bagi para pendidik,
profesi dan peneliti untuk mengamatinya. Mereka pada umumnya mempunyai wacana dan
persepsi yang berbeda-beda mengenai sifat dasar dan karakteristik bentuk kota. Ungkapan
bentuk kota adalah terminologi yang sangat teknis yang digunakan oleh para akademisi dan
para profesi dari berbagai cabang kajian ilmu perkotaan (urban studies). Mereka masingmasing mempunyai pendekatan yang beragam untuk mengetahui terminologi dan pengertian
yang berbeda-beda. Antropologi, Geografi, dan Arsitektur adalah tiga disiplin ilmu yang
tertarik di dalam mempelajari hasil fenomena pertumbuhan dan perkembangan suatu kota.
Wacana dan kerangka konsep tiga ilmu ini dapat digunakan untuk menjelaskan bentuk
struktur fisik dan perkembangan kota dari cabang ilmu lainnya, seperti perencanaan kota
(urban planing) dan perancangan kota (urban disain). Kedua cabang ilmu ini mengartikan
bentuk kota sebagai struktur bangunan dan ruang yang tangible atau nyata dan sebagai aspekaspek kehidupan masyarakat yang intangible atau tidak nyata dari suatu kota Bambang
Heryanto, roh dan citra kota (2011 ; 13)
Untuk memperlihatkan bentuk suatu kota yang merupakan hasil dari nilai kehidupan ,
John Brickerhoff Jackson (1984;12) menulis dalam bukunya, Founding Vernacular
Landscape, bahwa bentuk kota adalah citra dari kehidupan kemanusiaan kita yaitu kerja
keras, harapan yang tinggi dan kebersamaan untuk saling berkasih sayang. dalam pandangan
8

ini, kota adalah suatu tempat tinggal manusia yang merupakan menifestasi dari hasil
perencanaan dan perancangan, yang dipenuhi oleh berbagai unsur seperti bangunan, jalan,
dan ruang terbuka. Dengan demikian, suatu kota adalah hasil dari nilai-nilai perilaku manusia
dalam ruang kota yang membuat pola kontur visual dari lingkungan alam.
Walaupun suatu kota akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu,
perkembangan tersebut meliputi beberapa aspek antara lain: fisik, sosial budaya, ekonomi,
politik dan teknologi. Perkembangan kota adalah suatu proses perubahan keadaan perkotaan
dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda. Namun sifat dasar dan
karakteristik bentuk kota memiliki ciri-ciri dan bentuk tersendiri masing-masing kota.
Masing-masing kota di dunia ini memiliki peta, namun jika peta-peta tersebut dibandingkan,
perbedaan masing-masing peta kota tidak begitu tampak terlihat karena kebanyakan orang
akan memakai kriteria-kriteria lain untuk mengingat identitas, struktur, dan arti kawasan
perkotaan daripada peta kota.
Dalam hasil studinya tentang perbedaan tiga kota : Boston, Los Angeles, dan New
Jersey di Amerika Serikat; Kevin Lynch (1960) dalam Bambang Heryanto, (2011: 13)
menyatakan bahwa suatu citra (Image) kota adalah hasil dari suatu kesan pengamatan
masyarakat terhadap unsur-unsur yang nyata dan tidak nyata. Mendasari kesan-kesan
masyarakat, Lynch membuat kategori bentuk kota dalam 5 unsur. Dalam mengartikan suatu
kota, Lynvch menyatakan kota adalah sesuatu yang dapat diamati dimana letak jalur jalan,
batas tepian, distrik atau kawasan, titik temu, dan tetengernya dapat dengan mudah dikenali
dan dapat dikelompokkan dalam pola keseluruhan bentuk kota (Lynch, 1960:47). Sehingga
kelima elemen tersebut adalah Path (jalur), Edge (tepian), District (kawasan), Node (simpul),
serta Landmark (tetenger).
1. Path (jalur)
Path (jalur) adalah elemen yang paling penting dalam citra kota. Kevin Lynch
menemukan dalam risetnya bahwa jika elemen ini tidak jelas, maka kebanyakan
orang meragukan citra kota secara keseluruhan. Path merupakan rute-rute sirkulasi
yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum, yakni
jalan, gang-gang utama, jalan transit, lintasan kereta api, saluran, dsb.

Path

memiliki identitas yang lebih baik kalau memiliki tujuan yang besar (misalnya ke
stasiun, tugu, alun-alun), serta ada penampakan yang kuat (misalnya fasade
gedung, pohon besar, sungai), atau ada belokan/tikungan yang jelas.
9

2. Edge (tepian)
Edge (tepian) adalah elemen linear yang tidak dipakai/dilihat sebagai Path.
Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai
pemutus linear, misalnya pantai, tembok, batasan antara lintasan kereta api,
sungai, topografi,dsb. Edge lebih bersifat sebagai referensi daripada misalnya
elemen sumbu yang bersifat koordinasi (Linkage). Edge merupakan penghalang
walaupun kadang-kadang ada tempat untuk masuk. Edge merupakam pengakhiran
dari sebuah District atau batasan sebuah District dengan yang lainnya. Edge
memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitas tampak jelas batasnya.
Demikian pula fungsi batasnya harus jelas, membagi atau menyatukan
3. District (kawasan)
District (kawasan) merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua
dimensi. Sebuah kawasan / District memiliki ciri khas yang mirip (baik dalam hal
bentuk, pola, dan wujudnya), dan khas pula dalam batasnya, dimana orang merasa
harus mengakhiri atau memulainya. District dalam kota dapat dilihat sebagai
referensi Interior maupun Eksterior. District mempunyai identitas yang lebih baik
jika batasnya dibentuk dengan jelas tampilannya dan dapat dilihat homogen, serta
fungsi dan posisinya jelas (introver/ekstrover atau berdiri sendiri atau dikaitkan
dengan yang lain).
4. Node (simpul)
Node (simpul) merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau
aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktivitas yang lain,
misalnya persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, jembatan, atau
bagian kota secara keseluruhan dalam skala makro

misalnya pasar, taman,

Square, dsb.
Ciri-ciri Node :
- Pusat kegiatan
- Prtemuan beberapa ruas jalan
- Tempat pergantian alat transportasi
Tipe Node :
- Junction Node, misalnya stasiun bawah tanah, stasiun kereta api utama.
- Thematic Concentration, berfungsi sebagi Core, Focus, dan simbol sebuah
wilayah penting
- Junction dan Concentration
10

5. Landmark
Landmark merupakan lambang dan symbol untuk menunjukkan suatu bagian
kota, biasanya dapat berupa bangunan gapura batas kota (yang menunjukkan letak
batas bagian kota), atau tugu kota (menunjukkan ciri kota atau kemegahan suatu
kota), patung atau relief ( menunjukkan sisi kesejarahan suatu bagian kota), atau
biasa pula berupa gedung dan bangunan tertentu yang memiliki suatu karakteristik
tersendiri yang hanya dimiliki kota tersebut. Sehingga keberadaan suatu
Landmark mampu menunjukkan dan mengingatkan orang tentang tetenger suatu
kota.
3 unsur penting Landmark :
- Tanda fisik berupa elemen fisual
- Informasi yang memberikan gambaran tepat dan pasti
- Jarak yang dikenali
Adapun kriteria Landmark:
- Unique memorable
- Bentuk yang jelas atau nyata (Clear Form)
- Identiafiable
- Memiliki hirarki fisik secara visual
Kesimpulan/catatan penting:
Walaupun suatu kota akan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu,
perkembangan tersebut meliputi beberapa aspek antara lain: fisik, sosial budaya, ekonomi,
politik dan teknologi. Namun sifat dasar dan karakteristik bentuk kota memiliki ciri-ciri dan
bentuk tersendiri masing-masing kota. Masing-masing kota di dunia ini memiliki peta, namun
jika peta-peta tersebut dibandingkan, perbedaan masing-masing peta kota tidak begitu tampak
terlihat karena kebanyakan orang akan memakai kriteria-kriteria lain untuk mengingat
identitas, struktur, dan arti kawasan perkotaan dari pada peta kota.

11

PUSTAKA
Zahnd, Markus, ___, Perkembangan Kota Secara Terpadu. pdf
http://geoenviron.blogspot.com/2014/01/teori-struktur-tata-ruang-dan.html (diakses pada 25
februari 2015

12

Beri Nilai