Anda di halaman 1dari 5

TITRASI SPEKTROFOTOMETRI

Rusdy Zulfan
10508025
Kelopmpok III
Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung
ABSTRAK
Penentuan titik akhir titrasi dan konsentrasi Bi3+ dan Cu2+ dengan cara titrasi spektrofotometri.
Metode ini didasarkan atas spesi Cu-EDTA yang dapat menyerap panjang gelombang 745nm.
Kurva yang dihasilkan memberikan titik sudut sebagai titik ekivalen titrasi. Metode ini
memberikan hasil yang lebih baik daripada metode titrasi penambahan indikator. Dari percobaan
didapatkan [Bi3+] = 0,02295 M dan [Cu2+] = 0,02877 M. Metode titrasi spektrofotometri lebih
akurat daripada titrasi konventional.
PENDAHULUAN

gelombang yang akan digunakan selama

Pada titrasi spektrofotometri, larutan

titrasi perlu dipikirkan baik karena di dalam

yang akan dititrasi ditambahkan larutan

larutan yang dititrasi paling sedikit ada 3

peniter

komponen

sedikit

demi

sedikit,

setiap

yang

dapat

melakukan

penambahan larutan dihomogenkan dan

penyerapan sinar, yaitu zat yang dititrasi, zat

diukur

penitrasi, dan hasil reaksi.

absorbansnya

dengan

panjang

EKSPERIMEN

gelombang tertentu. Perbedaan nilai-nilai


absrobtivita molar berbagai zat yang ada

Bahan

dalam larutan pada panjang gelombang yang

Bahan yang digunakan adalah lar

digunakan akan menentukan alur kurva

EDTA 0,1 M, lar Cu2+ 0,2 M, NaOH 5 M, lar

titrasi yang diperoleh. Pemilihan panjang

Bi3+ 0,01 M

Titrasi Spektrofotmetri Camp Bi3+

Peralatan
Alat

yang

digunakan

adalah

dan Cu2+

spektrofotometer Visible, pengaduk magnet

Disiapkan larutan cuplikan yang

serta batang magnetnya, dan peralatan gelas

mengandung Bi3+ dan Cu2+ yang tidak

pada umumnya.

diketahui

Prosedur

pekerjaan seperti menstandarkan larutan

Menstandarkan larutan EDTA

konsentrasinya.

Lalu

lakukan

EDTA. Dibuat kurva titrasi.

Sebanyak 20,00 mL lar standar Binitrat dimasukkan ke gelas kimia 250 mL


dan ditambahkan 2 g asam kloroasetat dan 1
mL

lar

0,2

Cu2+.

Lalu

lakukan

pengenceran hingga kira-kira 100mL dan


diatur pH menjadi 2 dengan penambahan 2
M NaOH. Tuangkan lar tersebut ke dalam
kuvet.

Tempatkan

kuvel

di

dalam

spektrofotometer dan atur hingga diperoleh


penunjukan jaram 100%T pada panjang
gelombang 745nm. Tuang kembali larutan
yang ada di dalam kuvet ke dalam gelas
kimia lalu ditambahkan 0,04 mL lar EDTA
dan aduk dengan baik. Setelah pengadukan
dihentikan, bilas kuvet yang telah digunakan
sebelumnya,

bilasannya

dimasukkan

kembali ke dalam gelas kimia. Diisi kuvet


yang telah dibilas dengan laruta yang sama
dan ukur absorbannya dengan panjang
gelombang pengukuran. Ulangi dengan tiap
kali menambahkan 0,40 mL EDTA sampai
nilai A mulai naik. Buat kurva titrasinya.

HASIL DAN DISKUSI


Data Pengamatan
Menstandarkan EDTA
Lar 100 mL + 2 g TCA + 1 mL Cu2+
+ EDTA (mL)
2,0
2,42
2,80
3,40
3,92
4,20
4,60
5,00
5,40
5,82
6,20
6,62
7,00
8,00
9,04
9,54
10,00

A
0,00967
0,03008
0,04031
0,04553
0,06639
0,06216
0,06163
0,06023
0,06233
0,06282
0,06487
0,06854
0,06384
0,46153
0,45767
0,45212
0,45380

Cuplikan
Lar 100mL + 2gr TCA + 10 mL Bi 3+ + 10
mL Cu2+
+ EDTA (ml)
1,0
2,0
3,0
3,4
7,0
10,0
14,8
20,0
25

A
-0,30092
-0,27710
-0,26466
-0,26189
-0,18707
-0,11382
-0,01398
0,02365
-0,02257

-0,42 x = -2,951
x = 7,0261 mL
mmol Bi3+ = mmol EDTA

Pengolahan Data

10 mL x 0,01 M = 7,0261 mL x [EDTA]

Kurva penstandardan EDTA


+ EDTA
(mL)
2
2,42
2,8
3,4
3,92
4,2
4,6
5
5,4
5,82
6,2
6,62
7
8
9,04
9,54
10

0,009x + 0,011 = 0,429x - 2,940

[EDTA] = 0,0142 M
A

A'

0,00967
0,03008
0,04031
0,04553
0,06639
0,06216
0,06163
0,06023
0,06233
0,06282
0,06487
0,06854
0,06384
0,46153
0,45767
0,45212
0,4538

0,00986
0,0308
0,04143
0,04706
0,06897
0,06474
0,06444
0,06321
0,06566
0,06644
0,06885
0,07303
0,06826
0,49809
0,49863
0,49483
0,49873

Kurva titrasi sampel dengan EDTA


+ EDTA (ml)

A'

1
2
3
3,4
7
10
14,8
20
25

-0,3009
-0,2771
-0,2647
-0,2619
-0,1871
-0,1138
-0,014
0,02365
-0,0226

-0,30343
-0,28172
-0,27128
-0,26931
-0,19798
-0,12331
-0,0157
0,027592
-0,02727

dengan penambahan indikator, tetapi karena


tidak dilakukan penyempitan range di
sekitar titik dengan gradien 0 dan titik
dengan gradien positif atau sebaliknya
menyebabkan

persamaan

garis

yang

dihasilkan kurang akurat, menyebabkan


perhitungan konsentrasi menjadi kurang
akurat
3+

juga.

Kurva

standar

EDTA

Penentuan [Bi ]

seharusnya memiliki 2 garis yaitu garis lurus

0,020x - 0,332 = 0,008x - 0,138

dengan gradien 0, lalu diikuti dengan

0,012 x = 0,194

gradien positif. Hal ini bisa dijelaskan

x = 16,166 mL

bahwa dalam penstandaran lar EDTA,


ditambahkan ion Cu2+ yang relatif kecil ke

mmol EDTA = mmol Bi3+

sampel yang memiliki ion Bi3+, ion Bi3+

0,0142 M x 16,166 mL = 0,2295 mmol

membentuk kompleks dan ion Cu2+ juga

[Bi3+] = 0,2295 mmol : 10 ml = 0,02295 M

membentuk kompleks, tetapi hanya Cukompleks yang dapat menyerap gel EM

Penentuan [Cu2+]

dengan panjang gelombang 746 nm. Seiring

0,008x - 0,138 = -0,011x + 0,247

bertambahnya

0,019 x = 0,385

habis ,diikuti dengan kompleks-Cu yang

x = 20,2631 mL

terbentuk, hal ini menyebabkan gradien 0,


lalu

EDTA sampai

pembentukan

ion

Bi3+

Cu-kompleks

mmol EDTA = mmol Cu2+

menyebabkan

0,0142 M x 20,2631 mL = 0,2877 mmol

Tetapi setelah melakukan pengolahan data,

[Cu2+] = 0,2877 mmol : 10 ml = 0,02877 M

kurva

yang

gradien

menjadi

didapatkan

tidak

positif.
seperti

demikian, hal ini dikarenakan kesalahan


Pembahasan
Pada percobaan kali ini, dilakukan

praktikan menempatkan kuvet dengan posisi


yang

salah

menyebabkan

pembacaan

penentuan konsentrasi menggunakan metode

absorban menjadi kacau. Sedangkan ketika

titrasi spektrofotometri. Sebenarnya metode

mengukur absorbansi sampel, seharusnya

ini lebih akurat daripada titrasi konventional

kurvanya

diawali

dengan

garis

lurus

bergradien 0, diikuti dengan garis lurus


bergradien +, lalu diikuti dengan garis lurus

Kesimpulan
[Bi3+] = 0,02295 M

bergradien 0. Hal ini memiliki penjelasan

[Cu2+] = 0,02877 M

sbb : dikarenakan

ion Bi3+ memiliki

konstanta pembentukan kompleks lebih

DAFTAR PUSTAKA

besar, sehingga ion tersebut yang akan

Harvey, D. Modern Analytical Chemistry. 1st


edition. McGraw-Hill. 2000. Singapore.
hlm 380-386

mengalami kompleks terlebih dahulu tetapi


kompleks-Bi tidak menyerap gelombang di
panjang gelombang 746nm, volume EDTA

Skoog D.A, West D.M, Holler

terus bertambah tetapi tidak ada senyawa

F.J.Fundamental of Analytical

yang menyerap panjang gelombang tersebut

Chemistry. 7th edition. Sunders College

sehingga menyebabkan gradien nol, lalu

Publishing.1996. hlm 139

setelah Bi3+ sudah habis, lalu giliran Cu2+


yang membentuk Cu-kompleks , yang mana
senyawa Cu-kompleks inilah yang dapat
menyerap cahaya di panjang gelombang
746nm. Lalu setelah Cu2+ habis, dilakukan
penambah berlebih EDTA menyebabkan
gradien

menjadi

nol.

dilakukan

pengolahan

kurvanya

sangat

Tetapi

setelah

data,

didapat

berbeda,

dikarenakan

kemungkinan

digunakan

tidak

bersih

hal

kuvet

ini
yang

sehingga

menyebabkan terjadi eror.


Titrasi campuran Bi3+ + Cu2+ dengan
EDTA harus dilakukan pada pH 2,0. Pada
pH < 2 titik ekivalensinya tidak jelas, dan
pada pH > 2,5 ada kemungkinan Bi3+
mengendap

sebagai

hidroksidanya).

garam

basa

atau