Anda di halaman 1dari 17

Coil Tubing Gas Lift

Seiring waktu umur minyak akan kehilangan tekanan nya sehingga tidak mampu lagi untuk
mengalirkan minyak kepermukaan secara alamiah (Natural Flow). Pada kondisi ini sebagai
petroleum engineer seharusnya kita telah mempunyai analaisa apakah sumur ini akan
dikembangkan lebih lanjut atau ditinggalkan, mengingat beberapa factor yang harus
diperhatikan, yaitu besar cadangan tersisa yang masih mungkin diperoleh, tekanan reservoir,
Productivity Index, Fluida reservoir, komplesi sumur, besar biaya investasi, dan lain-lain.
Di antara beberapa jenis metode Artificial Lift yang ada, salah satu yang sangat populer
untuk diterapkan di sumur minyak adalah metode gas lift.
Prinsip kerja dari teknik ini sangat sederhana, yaitu dengan menginjeksikan gas kedalam
sumur melalui annulus antara casing dengan tubing produksi. Gas ini kemudian akan masuk
melalui side pocket mandrel (SPM) kedalam tubing produksi. Dengan masuknya gas tadi
kedalam tubing dan bescampur dengan minyak didalamnya,
maka gas tadi akan menurunkan densitas minyak tadi menjadi lebih ringan sehingga akan
mampu untuk diproduksikan ke permukaan.

Permasalahan akan timbul ketika semua faktor saling mendukung bagi si sumur untuk
dipasang instalasi gas lift terhadapnya termasuk ketersediaan fasilitas kompresor dan
tersedianya cadangan gas yang melimpah, namun kondisi komplesi sumur tadi sendiri yang
kurang mendukung. Misalnya sumur-sumur yang dikomplesi dengan sistem monobore,
sumur seperti ini tidak mungkin untuk dilakukan instalasi gas lift seperti biasa yang
menggunakan SPM sebagai media masuknya gas. Sumur type ini tidak memiliki annulus
antara casing dengan tubing produksi, bahkan sumur jenis ini ada yang tidak menggunakan
casing, melainkan tubing langsung disemen dengan dinding formasi. Alhasil diperlukan
inovasi baru untuk menjawab persoalan ini.
Coil tubing Gas Lift hadir sebagai solusi yang efektif dan terbukti dapat meningkatkan
produksi sumur minyak yang sudah tidak mampu berproduksi secara natural flow. Tidak
adanya annulus dalam sumur bukan menjadi suatu hambatan lagi. Dalam teknik gas lift
metode ini, gas tidak diinjeksikan melalui SPM. Gas diinjeksikan kedalam sumur melalui coil
tubing yang dipasang didalam tubing produksi. Fluida campuran antara minyak dengan gas
injeksi akan mengalir keluar melalui annulus baru, yaitu annulus antara tubing produksi
dengan coil tubing didalamnya.
Berikut contoh gambar sumur yang dikomplesi secara monobore dan dipasang instalasi coil
tubing gas lift terhadapnya.

Wellsketch sumur monobore + coil tubing gas lift


Dengan menggunakan teknik ini, gas tetap dapat diinjeksikan kedalam sumur dan tidak
adalagi hambatan dalam pelaksanaan gas lift bagi sumur tersebut, tentu saja tetap harus
dilakukan beberapa penyesuaian khusus, baik dari sisi perhitungan engineeringnya, maupun
dari sisi peralatan dipermukaan.

Kepala sumur untuk Coil Tubing Gas Lift

Pengertian Electric Submersible Pump


Electric Submersible Pump adalah sebuah rangkaian pompa yang terdiri dari banyak tingkat (multi
stage) dengan motor yang dibenamkan di dalam fluida dan menggunakan aliran listrik dari permukaan.
Electric Submersible Pump merupakan artificial lift dengan harga yang cukup mahal dibandingkan
dengan pengangkatan buatan lainnya, akan tetapi dapat menghasilkan pengembalian biaya dengan
cepat oleh karena kemampuannya untuk menghasilkan laju produksi yang tinggi.
Sistem kerja dari Electric Submersible Pump ini adalah dengan mengalirkan energi listrik dari
transformer (step down) melalui switchboard. Pada switchboard, semua kinerja dari Electric Submersible
Pump (ESP) dan kabel akan dikontrol atau dimonitor. Kemudian energi listrik akan diteruskan dari
switchboard ke motor melalaui cable yang diletakkan di sepanjang tubing dari rangkaian ESP.
Selanjutnya, melalui motor, energi listrik akan dirubah menjadi energi mekanikyaitu berupa tenaga
putar. Putaran akan diteruskan ke protector dan pump melalui shaft yang dihubungkan dengan coupling.
Pada saat shaft dari pompa berputar, impeller akan ikut berputar dan mendorong fluida yang masuk
melalui pump intake atau gas separator ke permukaan.

Electrical Submercibel Pump


Teknik pengangkatan fluida reservoir kepermukaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan
metode sembur alam (Natural Flow) atau metode pengangkatan buatan (Artificial Lift) yang akan
diterapkan apabila tekanan reservoir sudah tidak mampu lagi mengangkat fluida reservoir kepermukaan.
Metode pengangkatan buatan menggunakan pompa (ESP).
Natural Flowing
Natural Flowing adalah sumur yang dapat mengangkat fluida ke permukaan dengan sendirinya tanpa
dibantu oleh sebuah unit pompa karena tekanan reservoirnya masih besar. Pada sumur natural flowing
biasanya memiliki water cut/ rata-rata kandungan airnya 0%. Pada sumur seperti ini memiliki tekanan
reservoir yang besar sehinnga untuk mengatur fluida yang keluar dengan mengatur chock pada x-mast
tree. Safety device pada sumur natural flowing ini adalah sssv (sub-surface safety valve). SSSV ini
digunakan untuk keamanan dimana pressure pada sumur tidak akan melebihi set point yang telah
ditentukan.
Untuk peralatan di bawah permukaan pada sumur ini berbeda dengan sumur yang menggunakan ESP.
Perbedaannya selain sumur ini tidak menggunakan pompa, yaitu sumur ini menggunakan packer sebagai
alat penyekat antara tubing dan production casing. Fungsi packer ini adalah untuk mencegah adanya
fluida
yang
masuk
pada
anulus.
Sehingga
fluida
masuk
pada
tubing.

Gambar. Sumur Natural Flowing

Artificial Lift
ESP(Electrical Submersible Pump)
Adalah pompa electric yang digunakan untuk mengangkat fluida ke permukaan (Artificial Lift) karena
tekanan reservoir tidak dapat mengangkat fluida ke permukaan. ESP adalah pompa centrifugal yang
disususn dalam satu poros secara memanjang di ujung tubing. Dimana susunan pompa terhubung
langsung dengan motor penggerak. Motor gerak ini menggunakan tenaga listrik yang disuplai dari
permukaan dengan kabel dan sumbernya diambil dari power plant lapangan. Dalam pengoperasiannya
pompa terendam dalam fluida sumur pada suatu kedalaman (Pump Setting Depth) yang telah ditentukan.
Unit pompa ini merupakan pompa bertingkat banyak (Multistages) yang terdiri dari Impeller, Diffuser,

serta Shaft atau poros. Setiap stage terdiri dari satu impeller yang bergerak (Dynamic) dan satu diffuser
yang bersifat diam (static). Ukuran dari stage menentukan banyaknya fluida yang dapat dipompakan,
sedangkan jumlahnya akan menentukan total head capacity (daya angkat/corong). Stage umumnya
terbuat dari metal m-resist atau ryton yang tahan terhadap karat, sedangkan shaft terbuat dari besi kmonel yang juga tahan karat dan sangat keras. Selain itu dalam rangkaian pompa dilengkapi dengan
Pump, Gas Separator, Protector, Motor, Downhole Monitoring Tool (DMT) dan Power Cable.
Untuk memproduksikan sumur ESP secara optimum perlu adanya analisa terhadap pompa ESP
terpasang, dimana nantinya harus disesuaikan dengan inflow reservoir sehingga didapatkan optimum
pompa.
Unit pompa ESP sendiri meliputi beberapa bagian sebagai berikut:
a.
Pump
Pompa yang dipasang harus multistage centrifugal pump. Ukuran atau seri pompa tergantung besarnya
diameter casing ESP, sedangkan rate atau kapasitas pompa tergantung besarnya produksi yang
diinginkan. Pump, tersusun dari beberapa stages yang masing-masing stages terdapat satu impeller dan
satu diffuser yang statis. Makin banyak stages maka makin besar tekanan dan rate yang didapat pompa.
Impeller dan diffuser dipasang pada pompa yang dibuat dari monel. Jumlah stage (tingkat) akan
tergantung besarnya head yang harus diatasi pompa.

Gambar. Pump
b.
Gas
Separator
Gas separator dipasang di antara protector dan pompa, berfungsi sebagai pump intake dan pemisah
antara gas dan cairan. Gas separator dipakai pada sumur yang mempunyai Gas Oil Ratio tinggi atau di
atas 1000 cuft/bbl. Prinsip kerja alat ini ialah membawa aliran produksi dari lubang sumur kearah bawah,
sehingga
ada
kesempatan
gas
untuk
membebaskan
diri.
Komponen
utama
:

Coupling

Shaft

Fluid tube, sebagai sarana mengalirkan cairan yang sudah bebas


Pick up impeller, sebagai pendorong fluida yang masuk melalui intake ke pompa.

dari

gas.

Gambar. Gas Separator


c. Protector
Protector merupakan suatu bagian yang menghubungkan motor dengan pompa. Fungsi dari protector
adalah mengqualiser tekanan di dalam motor yang timbul sewaktu motor bekerja, dengan tekanan di luar
motor.
Protector dipasang di atas motor yang berfungsi sebagai penyekat untuk mencegah fluida sumur masuk
ke
dalam
motor.
Fungsi
lain
dari
protector
adalah
:
1.Menyimpan
minyak
motor
dan
minyak
pompa
2.Mengijinkan terhadap pengembangan - pengerutan minyak motor dan minyak pelumas motor
3.Mencegah
fluida
sumur
ke
dalam
motor
atau
ke
rumah
motor
4.Untuk keseimbangan tekanan dalam motor dengan tekanan luar yaitu tekanan fluida sumur pada
kedalaman
penenggelaman
Jika akan menyambung protector dengan motor dan pompa yang berbeda serinya maka digunakan
housing
adaptor.
Komponen
utama
:

Coupling

Shaft

Elastomeric
bag/Labyrinth
chamber

Shaft
seal

Dielectric
oil
Thrust bearing
d. Motor

Motor adalah alat untuk menggerakan pompa dengan cara mengubah electrical energy menjadi
mechanical energy. Energi ini menggerakkan protector dan pompa melalui shaft yang terdapat pada
setiap unit yang dihubungkan dengan coupling.

Gambar. Motor
e. Power Cable
Power cable gunanya untuk mengalirkan arus listrik dari switchboard ke motor. Power Cable terdiri atas
round cable, flat cable dan cable clamp. Round Cable ialah kabel berpenampang bulat, yang terpasang
pada sepanjang rangkaian tubing sampai ke transformer. Flat Cable ialah kabel berpenampang pipih
yang terpasang sepanjang ujung pompa sampai motor, kabel terbungkus oleh suatu pelindung yang
terbuat dari baja (armor). Kabel terbuat dari tembaga dengan rancangan yang disesuaikan dengan
kondisi
sumur
serta
besar/kecil
horse
power(HP)
dari
motor.
Komponen
power
cable
:

Armor,
terbuat
dari
lapisan
baja
dan
galvanize.

Filler,
terbuat
dari
pelat
tipis
dari
kuningan(brass
shim).

Lead
jacket,
terbuat
dari
timah.

Insulation,
terbuat
dari
karet.

Conductor,
terbuat
dari
tembaga
sebagai
penghantar
arus.

Gambar. Power Cable


f.
Check
Valve
Di atas pompa pada tubing dipasang check valve yang berguna untuk mencegah agar fluida dalam tubing
tidak turun ke bawah saat ESP mati. Turunnya fluida akan memutar balik pompa dan merusak motor
pompa. Check valve dipasang satu joint tubing diatas pompa dengan tujuan :
Menjaga tubing selalu penuh oleh cairan.
Mencegah turunnya cairan di tubing pada waktu pompa berhenti bekerja dan menahan partikel-partikel
padat agar tidak mengendap dalam pompa(waktu pompa mati/shut down).
Mengurangi lost time saat terjadi back spin motor

Gambar. Susunan ESP

Metode Sembur Alam (Natural Flow)


Definisi
Sembur alam merupakan metode produksi pada awal produksi dimana tekanan reservoir cukup besar sehingga
mampu mengangkat fluida dari reservoir ke permukaan.

Jenis Peralatan
Peralatan Di atas Permukaan
Wellhead :

Casing hanger

Tubing Head

X-mastree :

Manometer

Master valve

Wing Valve

Check Valve

Peralatan Bawah Permukaan

Well Head : merupakan peralatan kontrol di permukaan yang terbuat dari baja, membuat suatu sistem seal atau
penyekat untuk menahan semburan liar kebocoran cairan sumur ke permukaan yang tersusun atas casing head dan
tubing head.

Check Valve : Untuk menahan aliran dan tekanan balik dari separator

Casing Hanger

Tubing Head

Packer : untuk menyekat annulus tubing dengan casing pada zona produktif.

SRP

Prinsip kerja SRP ini adalah mengubah gerak putar pada prime mover menjadi gerak naik turun,
sehingga menyebabkan pompa bisa bekerja menaikkan minyak bumi dari dalam sumur ke atas
permukaan.
Nah, di postingan ini kita akan melihat bagian-bagian apa saja yang menyusun sebuah pompa angguk.

Langsung saja lebih jelas bisa anda lihat pada gambar yang ada di postingan ini.
Saya akan jabarkan sedikit fungsi dari beberapa komponen tersebut :
Prime Mover
Merupakan penggerak utama untuk menggerakkan pumping unit
Gear Reducer
Fungsinya adalah meneruskan dari prime mover dengan menurunkan kecepatan putarnya sehingga
sesuai untuk kondisi pemompaan.
Crank Arm
Lobang dari crank menjadi tempat kedudukan pitman yang selanjutnya akan mengkonversi putaran
menjadi gerak lurus.
Pitman
Merupakan penghubung antara crank arm dengan walking beam. Sambungan pitman pada lobang crank
juga berfungsi sebagai pengatur panjang langkah pompa.
Walking Beam.
Bagian ini memiliki tugas mengungkit pompa, menggerakkannnya keatas dan kebawah kurang lebih 45
derajat atau 1/8 lingkaran.
Horse head
memiliki bentuk 1/8 lingkarannya dan memiliki komponen lainnya yaitu bridle dan carrier bar.
Stuffing Box
Sebagai pengaman agar saat polish rod bergerak naik, minyak tidak ikut naik dan keluar (menyembur),
sehingga aliran dapat diarahkan ke flow line melalui tee.
Polished Rod.
merupakan stang penghubung anatar pumping unit yang dipermukaan tanah dengan rangkaian pompa
yang berada didalam sumur.

Primary recovery
Natural flow production
Artificial lift production
Secondary Recovery
Water injection (water flooding)
Tertiary Recovery
Enhance Oil Recovery(EOR)
Artificial lift production : metode pengangkatan fluida sumur dengan cara
mengintroduksi tenaga tambahan ke dalam sumur (bukan ke dalam reservoir)

dimana metoda ini diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu
lagi mendorong fluida ke permukaan atau tekanan reservoir sumur tersebut sudah
tidak mampu lagi mengangkat minyak ke permukaan.

Prinsip kerja pompa sucker rod adalah mengubah gerakan berputar dari prime
mover menjadi gerak naik turun (angguk) oleh sistem pitman-crank assembly yang
diteruskan oleh horse head untuk menggerakkan plunger melalui rangkaian rod.
Alur kerja:
Prime Mover menghasilkan gerakan rotasi dengan kecepatan angular tetap dengan
supply daya yang konstan pula pada nilai tertentu
Gerak Prime Mover diteruskan ke bagian lain dari pompa angguk melalui crank dan
masih menghasilkan gerak rotasi dengan kecepatan angular tetap
Gerak rotasi dari crank diteruskan ke pitman arm dan diubah menjadi gerakan naik
turun pada bagian walking beam
Gerakan bagian belakang walking beam (yang bersambungan dengan pitman)
adalah naik turun sementara bagian horsehead juga bergerak naik turun namun
arahya berlawan dengan bagian belakang walking beam (in simple : ketika bagian
belakang walking beam turun, horsehead akan naik)
Apabila ditinjau keseluruhan bagian walking beam, seolah olah gerakannya
hampir melingkar dan membentuk couple
Gerakan naik turun horsehead diteruskan ke polished rod dengan gerakan naik
turun pula kemudian fluida di subsurface akan dinaikkan dengan mekanisme berikut
Ketika walking beam bagian belakang turun dan kondisi crank berada di bawah,
horsehead naik
Polish rod akan bergerak naik mengikuti horsehead
Standing valve akan terbuka, plunger naik dan fluida akan masuk ke dalam working
barrel sementara travelling valve akan tertutup
Ketika walking beam bagian belakang naik dan kondisi crank berada di atas,
horsehead turun
Polish rod akan bergerak turun mengikuti horsehead
Standing valve akan tertutup, travelling valve terbuka, plunger turun dan fluida
akan masuk melalui travelling valve dan dipindahkan ke surface
Proses tersebut akan terus berulang sesuai dengan target bopd yang ingin dicapai

Kelebihan:
Lebih efisien dan dipakai pada sumur dangkal kurang dari 200 meter.

Kerja pompa dapat dianalisa dengan dinamometer dan well sounded device.
Tidak mudah rusak
Mudah diperbaiki di lapangan
Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan kecepatan bisa diganti
Teknologi mudah dikuasai oleh orang lapangan
Mudah diketahui dari jauh unit mesin masih kerja/tidak.

Kekurangan:
Memerlukan tempat yang luas.
Adanya gas dalam sumur produksi dapat menyebabkan gas lock.
Tidak baik untuk sumur miring atau offshore