Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pergerakan perempuan yang kita lihat dan rasakan hasilnya saat ini, bukan
merupakan sesuatu yang tiba-tiba ada, dan semata sebagai anugerah Tuhan,
karena jika menilik lebih jauh pada sejarahnya, perjuangan perempuan untuk
memperjuangkan hak-hak mereka di hadapan masyarakat dan hukum sudah
dimulai sejak berabad-abad yang lalu, baik di luar maupun di dalam negeri. Hal
ini dilakukan, saat perempuan memiliki kesadaran aktif akan apa yang sebenarnya
sedang mereka alami, sehingga semangat untuk mencapai kesetaraan gender
antara laki-laki dan perempuan pun tak dapat lagi dibendung hingga saat ini.
Pembahasan mengenai Sejarah Pergerakan Perempuan Indonesia ini,
bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut tentang seluk beluk pergerakan yang
sudah dirintis, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena tak pelak lagi, hal ini
menjadi fondasi awal bagi siapa saja yang ingin mempelajari tentang gender,
kesetaraan serta pengaruhnya terhadap pembangunan.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka adapun masalahmasalah yang akan dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bagaimana latar belakang pergerakan gender dan wanita di Indonesia?


Bagaimana perkembangan pergerakan gender dan wanita di Indonesia?
Bagaimana konsep wanita dan pendidikan?
Bagaimana konsep gender dan pendidikan?
Bagaimana konsep wanita dan kesehatan?
Bagaimana konsep gender dan kesehatan?
Bagaimana konsep gender dan ekonomi?

I.3 Tujuan
Berdasarkan dengan rumusan masalah tersebut, maka adapun tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
2.
3.
4.

1. Mendeskripsikan latar belakang pergerakan wanita di Indonesia


Mendeskripsikan perkembangan pergerakan wanita di Indonesia
Mengungkapkan konsep wanita dan pendidikan
Mengungkapkan konsep gender dan pendidikan

5.
6.
7.

Mengungkapkan konsep wanita dan kesehatan


Mengungkapakan konsep gender dan kesehatan
Mengungkapkan konsep gender dan ekonomi

II. PEMBAHASAN
2.1

Sejarah Pergerakan Perempuan di Indonesia


Sejarah pergerakan Perempuan Indonesia terlahir sejak jaman penjajahan

kolonial Belanda. Kita mengenal pergerakan yang dilakukan oleh R.A Kartini,
Dewi Sartika, dan pejuang-pejuang lainnya yang merupakan tokoh pejuang
wanita. Perjuangan perempuan di Indonesia merupakan bagian yang tak
terpisahkan dalam sejarah perkembangan Indonesia. Meskipun perjuangan
perempuan telah dilakukan sejak lama dan peraturan perundang - undangan telah
mengatur kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, ketimpangan gender
masih sangat terasa. Dengan adanya ketidaksamaan tersebut, wanita menjadi
objek dari diskriminasi. Sejarah Indonesia mencatat bahwa perempuan Indonesia
didiskriminasi melalui idiologi dari agama dan entik. Hal tersebut dapat dirasakan
dengan adanya budaya patriarki yang menyelubungi kehidupan sosial perempuan
di Indonesia. Dalam sejarah, perempuan lebih rentan atau lebih banyak
mengalami kekalahan dan penindasan karena faktor fisik, ekonomi, dan sosial
yang mebuatnya lebih lemah.Kedudukan kaum perempuan lebih rendah dari pada
laki-laki dikarenakan tradisi dan budaya yang ada, seperti yang telah disampaikan.
Perempuan layaknya seperti burung yang dipelihara dalam sangkar, dapat terbang
namun tak dapat terbang tinggi. Hal itu yang dapat mendefinisikan perempuan.
Perkembangan feminisme di Indonesia merupakan pendorong dari gerakan
perempuan akan kondisi sosial mereka saat ini.
Ada kondisi umum yang membuat perempuan sama dengan laki laki,
namun ada pula kodisi khusus yang dimiliki perempuan yang membuatnya
berbeda dengan laki-laki, tetapi bukan berarti untuk dibedakan. Perbedaan dengan
cara menilai positif adalah perbedaan yang melihat perempuan dengan nilai dan
cara beradanya yang berbeda dengan laki laki. Nilai dan cara berada perempuan
dikonstruksikan dan dikondisikan oleh pengalaman pengalaman perempuan
yang melahirkan, menyusui, merawat dan mempunyai tingkat kesensitifan serta
kepedulian yang besar. Nilai nilai perempuan didasarkan pada etika kepedulian
yang kental melekat didalam sistem cara pandang dunia perempuan. Sedangkan

perbedaan dengan cara menilai negative adalah melihat nilai nilai perempuan
sebagai yang lain (other). Sehingga denganmudah terjadi pengobjekan dan
penindasan. Susan Wendell dalam tulisannya The Social Construction of
Dissability menunjukan bahwa dalam kasus Ableism, yaitu tindakan
diskriminasi terhadapa mereka yang cacat metal dan fisik terjadi karena fakto
faktor sosial diskontruksikan secara sosial. Dalam hampir semua tindakan
diskriminasi, mengambil pola dari pijakan awalnya bentuk-bentuk mitos,
otherness, dan cara berfikir dikotomik. Hal ini pulalah yang terjadi dalam bentuk
diskriminasi terhadap perempuan.
2.2

Perkembangan Pergerakan Wanita di Indonesia


Perkembangan pergerakan perempuan terbagi kedalam empat bagian. Hal

tersebut merupakan implikasi dari perkembangan bangsa Indonesia masa kolonial,


kemerdekaan sampai pada saat ini. (Gadis Arivia : 2006). Pada tahap pertama,
pergerakan perempuan muncul karena adanya persoalan hak memilih dan
pemilihan pejabat negara serta permasalahan yang paling utama dan sering
diperbincangkan adalah persoalan hak pendidikan yang dikemukakan pada zaman
penjajahan Belanda. Pada periode ini, gerakan perempuan lebih bersifat individual
dan tidak terlepas dari pengaruh kemunculan feminism liberal pada abad ke 18
di daratan Eropa. Salah satu pengaruh dari gerakan perempuan pada periode ini
adalah ide bahwa keterbelakangan perempuan akibat oleh kurangnya kesempatan
perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Periode ini ditandai dengan pendirian
sekolah sekolah untuk perempuan, seperti Sekolah Istri yang didirikan oleh
Dewi Sartika di Bandung pada tahun 1904, Sekolah Perempuan yang didirikan
oleh R. A Kartini di Semarang pada tahun 1912. Pergerakan perempuan pada
periode ini sejalan dengan perjuangan kaum pria yang juga berfokus pada
pemberian kesempatan untuk warga pribumi agar mendapatkan pendidikan.
Menurut Suryochondro (1995), organisasi organisasi perempuan yang terbentuk
pada periode ini antara lain adalah Pawiyatan Wanito (Magelang, 1915),
Percintaan Ibu Kepada Anak Temurum PIKAT (Manado, 1917), Purborini
(Tegal, 1917), Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, 1917), Wanito

Soesilo (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poetri Boedi Sedjati
(Surabaya, 1919), Wanita Katolik (Yogyakarta, 1924) dan oraganisasi organisasi
lainnya yang berdiri saat kolonial Belanda.
Pada tahap kedua, memunculkan persoalan politis yang berada pada basis
massa dan perkumpulan untuk memajukan baik keterampilan maupun publik
perempuan yang ditemui pada masa pra kemerdekaan. Pada masa ini juga tujuan
gerakan perempuan adalah untuk melawan kemiskinan dan ketidak adilan,
memperjuangkan kesamaan politik, hak memperoleh pendidikan dan kesempatan
kerja. Diskriminasi terhadap perempuan tidak berkurang meskipun secara legal
telah ada jaminan hak politik perempuan yang pada saat ini dikeluarkan pada
masa orde lama yaitu pada pasal 27 UUD 1945 dan UU no. 80 tahun 1958 tentang
persamaan upah pekerja laki laki dengan perempuan. Pada masa ini, organisasi
perempuan yang terbentuk harus bernaung di bawah partai politik, kondisi ini
dimulai pada tahun 1960 yang mengharuskan oraganisasi massa bernaung di
bawah partai politik. Wadah organisasi pergerakan perempuan Indonesia merdeka
diganti dengan Persatuan Negara Wanita Indonesia (Perwani) dan Wanita Negara
Indonesia (Wani) yang kemudian bergabung dan menjadi Persatuan Wanita
Republik Indonesia.
Pada tahap ketiga, pada masa orde baru, menampilkan wacana tugas
tugas domestik perempuan sebagai mana yang diinginkan negara. Pada masa orde
baru posisi perempuan lebih banyak dititik beratkan pada perannya sebagai ibu
rumah tangga. Hal ini dibakukan pada UU tentang Perkawinan pada tahun 1974,
Undang-undang tersebut melegalkan kedudukan laki laki dan permpuan yang
tadinya hanya sebagai hasil budaya menjadi sesuatu yang memiliki ketetapan
hukum karena dibakukan dalam sebuah undang undang.
Dan pada era reformasi sampai saat ini yang masuk pada tahap keempat,
memunculkan pergerakan pergerakan liberal yang bertemakan anti kekerasan
terhadap perempuan. Perjuangan perempuan sejak tahun 1998 hingga saat ini
adalah perluasan perjuangan yang didukung oleh jaringan nasional dan
internasional. Perjuangan ini bertujuan mencapai keadilan gender dan bersifat
inklusif melalui peningkatan wawasan perempuan dalam berbagai aspek

kehidupan masyarakat. Dari penjelasan tersebut, pergerakan perempuan memiliki


perkembangan, namun tetap saja masih ada tuntutan yang merupakan ketidak
puasan atas kondisi sosial yang nyata terhadap hak perempuan. Pada dasarnya,
teori - teori feminism telah mengembangkan pemikiran yang luar biasa tentang
persoalan persoalan ketidak adilan sosial serupa dengan

perkembangan

pergerakan peremuan di Indonesia. Gelombang pertama mengajukan pertanyaan


pertanyaan bersifat sosiologis serta peranan perempuan di dalamnya yang telah
dipermasalahkan kedudukan dan posisi perempuan. Gelombang ke dua
memberikan penjelasan umum tentang konsep fundamental penindasan terhadap
perempuan dab respon terhadap kritik - kritik Marxisme.
Feminisme tidak pernah tertarik untuk membangun suatu teori yang
abstrak dengan prinsip-prinsip universal. Feminisme sering kali mengambil posisi
epistimologis yang menentang suatu pencarian rasionalistik dan sistem universal.
Sebaliknya, pencarian feminism selalu ditekankan pada pengalaman moral.
Feminis Annette Baier dimana dikutip oleh Gadis Arivia (2006:37) mengatakan
bahwa perempuan dalam perdebatan moralnya mempunyai kehendak yang
berbeda dari laki laki. Perempuan lebih menitik beratkan nilai nilai etika yang
berarti bagi kehidupannya. Perempuan hidup didalam masyarakat yang nilai
nilai kefeminimannya dianggap remeh dan tidak penting, seluruh eksistensinya
sebagai perempuan disubordinasikan. Dalam masyarakat yang patriarkis, seluruh
aturan universum berlaku pada sistem aturan laki laki (the law of father). Sifat
egois yang berpusat pada kemauan laki laki sehingga dunia public menjadi
dominasi laki laki.
Sebagian para feminis mengarapkan agar adanya solusi cepat lewat aksiaksi politis. Hal tersebut dihasilkan baik itu oleh kaum perempuan sendiri,
mahasiswa, gerakan HAM ataupun pemerintah. Hal tersebut diharapkan agar
program program yang dirancang dan dihasilkan oleh pemerintah diharapkan
berpijak pada keadilan gender serta memberikan kesempatan yang seluas-luasnya
untuk kemajuan perempuan.

2.3

Wanita dan Pendidikan


Ada sebuah statement tentang pembatasan wanita dalam dunia

pendidikan. Statement ini sudah menyebar di telinga masyarakat, apalagi


masyarakat awam yang masih kental dengan budaya mereka. Kebanyakan dari
mereka menyatakan bahwa seorang wanita tidak seharusnya sekolah tinggi-tinggi
untuk melanjutkan sekolahnya, apalagi sampai mendapatkan beasiswa keluar
negri, karena pada akhirnya ketika mereka sudah berkeluarga akan lebih besar
peran mereka untuk mengurusi suami. Ditambah lagi ketika sudah dikaruniai
anak, otomatis peran mereka sebagai ibu rumah tangga akan semakin aktif.
Tidak sedikit orang berpikir bahwa pendidikan tidak terlalu penting bagi
wanita, karena bila pada saatnya nanti seorang wanita menikah dan menjadi
seorang istri, maka wanitalah yang diberinafkah oleh suami, bukan malah wanita
yang memberinafkah kepada suami seperti kebanyakan orang sekarang ini.Saya
tidak meragukan sedikitpun mengenai istilah ujung-ujungnya wanita pasti
kembali ke dapur juga, karena semua itu adalah relita yang memang sulit untuk
dibantahkan.
Selain untuk menunjang karir, pendidikan juga berfungsi untuk
memperbaiki pola pikir, memperbanyak relasi, dan menambah wawasan yang
mungkin akan berguna bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, orang lain, dan
khususnya bagi suami apabila suatu saat nanti wanita menjadi seorang istri.
Telah banyak kita ketahui, zaman telah berubah. Dahulu, seorang laki-laki
identik dengan tugasnya yang mencari nafkah untuk keluarga, sedangkan seorang
perempuan bekewajiban untuk mengurus dan mendidik anak, serta menjadi
seorang ibu rumah tangga. Tetapi, zaman sekarang perempuan juga bisa
melakukan tugas seorang laki-laki untuk mencari nafkah tanpa mengesampingkan
kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Perempuan tentunya juga berhak
mengenyam pendidikan yang tinggi. Perempuan berhak untuk mengejar cita-cita
nya. Jadi, tidak ada anggapan bahwa pendidikan tinggi untuk perempuan itu sia-

sia. Pendidikan bagi perempuan juga dapat menjadi bekal di masa mendatang.
Tentunya, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, setahun,
atau sepuluh tahun lagi. Bila suatu keadaan mendesak terjadi, perempuan pun bisa
menggantikan peran seorang laki-laki untuk menafkahi keluarganya. Pernah saya
membaca di sebuah media ada percakapan antara motivator terkenal dan seorang
penanya. Ketika seorang penanya bertanya padanya,Apa gunanya istri anda
mengenyam pendidikan tinggi sampai ke luar negri, bila pada nyatanya sekarang
dia tidak berkarir?Lalu sang motivator pun menjawab, Istri saya memang
seorang ibu rumah tangga, ibu dari anak-anak saya, wanita yang saya cintai,
penasehat saya dalam membangun usaha, pemilik asset dan pengelola dari bisnisbisnis keluarga serta pemelihara kesehatan keluarga. Pendidikan istri saya
sangatlah berguna.Dari sini kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa
pendidikan itu penting bagi setiap orang termasuk kaum perempuan. Kaum
perempuan juga berhak mengeyam pendidikan yang tinggi.
2.4

Gender dan Pendidikan


Keadilan dan kesetaraan adalah gagasan dasar, tujuan dan misi utama peradaban

manusia untuk mencapai kesejahteraan, membangun keharmonisan kehidupan bermasyarakat,


bernegara dan membangun keluarga berkualitas. Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi
bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia,
agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya,
pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam
menikmati hasil pembangunan. Keadilan gender adalah suatu perlakuan adil terhadap
perempuan dan laki-laki. Perbedaan biologis tidak bisa dijadikan dasar untuk terjadinya
diskriminasi mengenai hak sosial, budaya, hukum dan politik terhadap satu jenis kelamin
tertentu. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi,
marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Terwujudnya kesetaraan dan
keadilan gender, ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dan
dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas
pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.

Dalam memenuhi kesetaraan dan keadilan gender diatas, maka pendidikan perlu
memenuhi dasar pendidikan yakni menghantarkan setiap individu atau rakyat
mendapatkan pendidikan sehingga bisa disebut pendidikan kerakyatan. Ciri-ciri
kesetaraan gender dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1.

Perlakuan dan kesempatan yang sama dalam pendidikan pada setiap jenis
kelamin dan tingkat ekonomi, sosial, politik, agama dan lokasi geografis

2.
3.

publik.
Adanya pemerataan pendidikan yang tidak mengalami bias gender.
Memberikan mata pelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat setiap

4.

individu.
Pendidikan harus menyentuh kebutuhan dan relevan dengan tuntutan

5.

zaman.
Individu dalam pendidikannya juga diarahkan agar mendapatkan kualitas
sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya.

2.5

Wanita dan Kesehatan


Ketidak-setaraan gender merupakan keadaan diskriminatif (sebagai akibat

dari perbedaan jenis kelamin) dalam memperoleh kesempatan, pembagian


sumber-sumber dan hasil pembangunan, serta akses terhadap pelayanan. Beberapa
contoh ketidak-seteraan gender dalam bidang kesehatan sebagai berikut:
1.

Bias gender dalan penelitian kesehatan


Ada indikasi bahwa penelitian kesehatan mempunyai tingkat bias gender

yang nyata, baik dalam pemilihan topic, metode yang di gunakan, maupun dalam
analisis data. Gangguan kesehatan yang mengakibatkan gangguan berarti pada
perempuan

tidak

mendapat

perhatian

bila

tidak

mempengaruhi

fungsi

reproduksinya, misalnya disnenore dan osteoporosis.


2.

Perbedaan gender dalam akses terhadap pelayanan kesehatan


Berbeda dengan negara maju, kaum perempuan di Negara berkembang

pada umumnya belu, dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan sesuai


kebutuhannya. Prosrs persalinan yang normal sering di jadikan peristiwa medis
yang tidak mempertimbangkan kebutuhan perempuan, misalnya kebutuhan untuk

didampingi oleh orang yang terdekat atau mengambil posisi yang dirasakan paling
nyaman.
Dalam berbagai aspek ketidak-setaraan gender tersebut sering di temukan
pula ketidak-adilan gender, yaitu ketidak-adilan berdasarkan norma dan standar
yang berlaku, dalam hal distribusi manfaat dan tanggung jawab antara laki-laki
dan perempuan (dengan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai
perbedaan kebutuhan dan kekuasaan).
Definisi keadilan gender dalam kesehatan menurut WHO mengandung
dua aspek yaitu:
1. Keadilan dalam (status) kesehatan, yaitu terciptanya derajat kesehatan

yang setinggi mungkin (fisik, psikologi dan social bagi setiap warga
negara).
2. Keadilan dalam pelayanan kesehatan, yaitu berarti bahwa pelayanan
diberikan sesuai dengan kebutuhan tampa tergantung pada kedudukan
social seseorang, dan diberikan sebagai respon terhadap harapan yang
pantas dari masyarakat, dengan penarikan biaya pelayanan yang sesuai
dengan kemampuan bayar seseorang.
2.6

Gender dan Kesehatan


Gender mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan laki-laki dan

perempuan.Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terkena dampak dan


gender steriotipi masing-masing. Misalnya sesuai dengan pola perilaku yang
diharapkan

sebagai

laki-laki,

maka

laki-laki

dianggap

tidak

pantas

memperlihatkan rasa sakit atau mempertunjukkan kelemahan-kelemahan serta


keluhannya. Perempuan yang diharapkan memiliki toleransi yang tinggi,
berdampak terhadap cara mereka menunda-nunda pencarian pengobatan, terutama
dalam situasi social ekonomi yang kurang dan harus memilih prioritas, maka
biasanya perempuan dianggap wajar untuk berkorban.
Keadaan ini juga dapat berpengaruh terhadap konsekuensi kesehatan yang
dihadapi laki-laki dan perempuan. Misalnya kanker paru-paru banyak diderita
oleh laki-laki diwaspadai ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Penderita

depresi pada perempuan dua kali sampai tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan laki-laki. Perempuan lebih banyak menderita penyakit menahun yang
berkepanjangan (TBC), akan tetapi ada kecenderungan dari perhitungan, karena
kebiasaan perempuan untuk mengabaikan atau menunda mencari pengobatan, jika
penyakit itu masih bisa ditanggungnya. Penting sekali memahami realitas, bahwa
perempuan dan laki-laki menghadapi penyakit dan kesakitan bisa berbeda.
Informasi itu hanya didapat jika kita memiliki data pasien, seperti data umur,
status, social ekonomi yang terpilah menurut jenis kelamin.
Hal-hal yang diperlukan untuk memahami isu gender berkaitan dengan
kesehatan adalah : (1) Mengumpulkan data dan informasi yang memperlihatkan
bukti adanya ketimpangan berbasis gender dalam kesehatan perempuan dan lakilaki; (2) Menyatakan data dan informasi tersebut serta memperhitungkannya
ketika

mengembangkan

Mengimplementasikan

kebijakan

program-program

dan
yang

program
sensitive

kesehatan;
gender

(3)
untuk

memperbaiki ketimpangan; (4) Mengembangkan mekanisme monitoring yang


responsive terhadap isu gender, untuk memastikan ketimpangan gender dipantau
secara teratur.
2.7

Gender dan Ekonomi


Peran perempuan dan laki-laki dalam kegiatan ekonomi menunjukkan

kesenjangan yang cukup lebar diberbagai sektor kegiatan. Kesenjangan gender


dibidang ekonomi ini disebabkan oleh bebagai perbedaan kesempatan, akses dan
kontrol terhadap sumber daya dan kebutuhan antara laki-laki dan perempuan.
Perbedaan ini diperparah dengan berbagai peraturan dan kebijakan pemerintah
yang kurang sensitif dan responsif gender.
Contoh pengimplementasian pasal 11 konvensi wanita yang jelas
diratifikasi berdasarakan UU No.7/1984. pasal 11 tentang penghapusan
diskriminasi terhadap perempuan dilapangan pekerjaan guna menjamin hak-hak
yang sama atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan yang meliputi :
hak untuk bekerja , hak untuk memilih propesi, hak untuk menerima upah yang

sama, hak atas jaminan sosial, hak atas perlindungan kesehatan dan keselamatan
kerja.
Statistik gender dibidang ekonomi ini dapat dilihat melalui :
a.

Angkatan kerja

b.

Tingkatan pengangguran dan kesempatan kerja

c.

Upah atau gaji.


Rendahnya upah perempuan disebabkan keterbatasan perempuan sebagai

individu (human capital) dalam hal pendidikan, pengalaman dan keterampilan


kerja, budaya serta faktir biologis. Keterkaitan perempuan pada kegiatan rumah
tangga menyebabkan mereka memilih kegiatan yang ruang geraknya terbatas,
berupah rendah, dan sedikit persaingan dengan pria.Menurut abdullah(1997),
untuk menerngkan konteks tersebut dapat dicermati melalui 3 prespektif :
1.

Perspektif integrasi yang beranggapnan bahwa pembangunan dapat

2.

memberi peluang kerja bagi wanita.


Perspektif marjinalisasi, mengacu pad paham bahwa pembangunan
kapitalis akan menggusur wanita dari kegiatan inti ekonomi pinggiran,

3.

bahkan wanita dapat didepak keluar sam sekali dari hubungan produktif.
Perspektif eksploitasi, beranggapan bahwa ekploitasi adalah produk
modernisasi yang menekankan akuulasi modal oleh para kapitalis.
Moore (1996), menjelaskan bahwa banyak teori yang menunjukkan

perempuan dan laki-laki merupakan kelompok-kelompok yang berlainan dalam


pasar tenaga kerja. Teori-teori tersebut berderet mulai dari model-model
fungsionalis

yang

menekankan

stabilitas

institusi-institusi

ekonomi

dan

pendidikan yang terintegrasi hingga model-model pertarungan dinamis antara


kelompok kepentingan yang berkopetensi, termasuk perempuan dan laki-laki.

III.
III.1

PENUTUP

Kesimpulan
Perempuan lekat kaitannya dengan tindak diskriminasi, tersebut tak dapat

dihindari karena adanya subordinasi yang masih melekat pada perempuan.


Dengan demikian terjadilah ketimpangan gender antara perempuan dengan laki laki. Peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia mengenai kesetaraan hak
antara laki-laki dengan perempuan tidaklah dapat menjamin penghapusan
diskriminasi pada perempuan. Berbagai upayah telah dilakukan untuk mengurangi
ketimpangan tersebut, namun hingga saat ini belum terlihat adanya keseimbangan
dalam relasi gender. Banyak tindak diskriminasi yang dirasakan oleh perempuan
mengatas namakan agama dan etnik. Kedudukan kaum perempuan dalam
kehidupan sosial diatur oleh tradisi, hak dan kewajiban kaum perempuan lebih
rendah dibandingkan dengan kaum laki laki. Kebiasaan yang sudah berlangsung
lama ini masih saja terjadi , dan telah dibuktikan oleh banyak pengamat dan
kritikus. Gerakan Perempuan yang muncul di Indonesia merupakan bentuk dari
ketidakpuasan atas kondisi sosial perempuan yang masih menjadi objek
diskriminasi.
3.2

Saran
Meskipun telah dibuat berbagai peraturan yang berpihak kepada

perempuan ditambah lagi dengan pergerakan wanita yang telah dimulai dari sejak
dulu namun sampai sekarang masih banyak wanita yang terdesrminasi karena
budaya atau etnik. Untuk itu kepedulian dan kesadaran masyarkat terhadap gender
menjadi hal penting yang harus dipahamkan dan disosialikan, oleh karena itu
untuk menjamin keadilan dan kesejahteraan gender pemahaman konsep gender
perlu dipahami dan diaplikasikan oleh seluruh lapisan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Amasari (Member of PSG LAIN), Laporan Penelitian Pendidikan Berujatuasan
Gender,(Banjannasin: IAIN Antasari, 2005).
BKKBN. 2014. Kesenjangan Gender Dalam Kesehatan. Jambi: Disporn
Regyta Berliantoko. 2013. Pentingnya Peran Perempuan dalam
Pembangunan Ekonomi. Malang: Pusgrindo
Eni Purwati dan Hanun Asrohah, Bias Gender dalam Pendidikan Islam,
(Surabaya: Alpha, 2005).
Evi Maulidah. 2013. Gerakan Intelektual Perempuan dalam Perspektif Gender.
Bogor: Kompasiana
Hanun Asrohah, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: Kopertais Press, 2008).
Kristina Ni Nyoman. 2014. Isu Gender dalam Bidang Kesehatan. Bali: BPKKTK
Jhon M. Echol, dan Hasan Shadily, Kamus Besar Inggris-Indonesia, (Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama, 1996).
Mansour Faqih, Analisis gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta : Pustaka
Pelajar, 1996).
Mufidah Ch, Bingkai Sosial Gender: Islam, Strukturasi dan Konstruksi Sosial,
(Malang: UIN Maliki Press, 2010).
Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender : Perspektif al-Quran,(Jakarta :
Paramadina, 2001).
Retno Sherly. 2011. Gender dan Ekonomi. Padang: Grasindo
Wawan Djunaedi, dan Iklilah Muzayyanah, Pendidikan Islam Adil Gender di
Madrasah, (Jakarta : Pustaka STAINU, 2008).
Women Research Institud. 2014. Gerakan Perempuan bagian Gerakan Demokrasi
di Indonesia. Jakarta: Gramedia