Anda di halaman 1dari 29

SEJARAH TUMBUHAN OBAT

BPTOA 2012
Tim Dosen:
Anwar Arif
Agung Sedayu
Lana Maulana

Alam menyediakan hampir segala


kebutuhan manusia, termasuk
bahan-bahan untuk mencegah &
menyembuhkan suatu penyakit.
Pada awalnya, manusia mewariskan
bahan-bahan ajaib, cara pemakaian
& khasiat sebagai obat secara turun
temurun dengan lisan.

Semakin berkembangnya manusia,


pengetahuan tentang bahan-bahan
tersebut mulai direkam dalam bentuk
tulisan. Ebers Papyrus, 1600 SM
merekam 700 bahan obat, khasiat &
mantra penyembuhan. Sebagian
besar adalah tumbuhan herba.

Babilonia kuno,
lempeng tanah liat
yang bertuliskan
230 bahan yang
berguna.

Cina kuno, selama


dinasti Shang
(1700 SM)
menuliskan herba
obat. Tulisan Shen
Nungs Herbal
pada 273 SM.

Yunani kuno menghapus


praktik sihir dari
pengobatan.
Hippocrates
menyebutkan 250 herba
berkhasiat pada
tulisannya, hippocratic
oaths, Bapak Ahli
Medis.
Hippocrates percaya pada
4 unsur, bumi, udara,
api & air yang dapat
mengaktifkan Vital
Fluids (darah, lendir,
empedu hitam &
kuning) pada tubuh.

Aristotle
menambahkan 4
Qualities dari
panas, kering,
dingin & basah.
Transformasi dari 1
unsur ke unsur
yang lain.

Dioscorides, ahli medis pada abad


pertama, De Materia Medica: >600
tumbuhan obat.

Ahli medis abad kedua, Claudius


Galen, lebih jauh
menghubungkan teori-teori
tersebut dengan perangai
manusia. 4 perangai dasar
manusia: sanguinis, plekmatis,
melankolis & koleris.
Koleris murni umumnya percaya
diri, mudah marah, sensitif &
bangga diri. Plekmatis rewel,
agak obsesif, praktis, tetapi
membenci pusat perhatian.
Sanguinis bersemangat,
dipengaruhi, impulsif & kadangkadang tidak dapat diandalkan.
Ia kadang-kadang dapat
tampak sembrono dan berpikir
untuk orang lain. Melankolis
berhati-hati, serius, rajin dan
soliter. Tentu saja, ada
kecenderungan untuk menjadi
tertekan.

Berdasarkan teori tersebut, penyakit dapat


bekerja sebagai sesuatu yang panas atau
dingin, lembab atau kering, atau
kombinasi lainnya. Keseimbangan harus
tetap terjaga. Penyakit Basah dapat
disembuhkan dengan Obat Kering.
Sistem farmakologi ini disebut dengan
Galenisme.

Di dunia Arab, buku-buku


herbal diterjemahkan &
diterjemahkan
tersimpan di pusat
pembelajaran di
Kekaisaran Bizantium,
dikombinasikan
dengan pengetahuan
botani & farmakologi
dari Timur. Masa Dunia
Islam Pertengahan,
botanis & ahli medis
muslim berperan
utama dalam
menyumbangkan
pengetahuan
tumbuhan obat.

Al-Dinawari
mendeskripsikan
lebih dari 637
tumbuhan obat
pada abad ke-9.

Pada abad ke-12


Al-Awwam
menjelaskan 585
tumbuhan (55
pohon buah & cara
bertanam).

Ibnu Al-Baitar
mendeskripsikan lebih
dari 1.400 tumbuhan
berbeda, makanan &
obat, lebih dari 300
jenis merupakan hasil
penemuannya sendiri
pada abad ke-13.

Ibnu Masawaih, Opera


Medicinalia,
mensintesis
pengetahuan orang
Yunani, Persia, Arab,
India & Babilonia dan
tugas ini dilengkapi
oleh ensiklopedia
medis dari Ibnu Sina
(980-1037).

Ibnu Sina Canon of Medicine


digunakan berabad-abad di Barat &
Timur. Selama periode ini,
pengetahuan botani klasik tetap dijaga
& farmasi muslim berkembang.

Obat tradisional Indonesia yang dikenal sebagai


Jamu, telah digunakan secara luas oleh
masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan
dan mengatasi berbagai penyakit sejak berabadabad yang lalu jauh sebelum era Majapahit. Ke
depan pengembangan dan pemanfaatan obat
bahan alam/obat herbal Indonesia ini perlu
mendapatkan substansi ilmiah yang lebih kuat,
terutama melalui penelitian dan standarisasi
sehingga obat herbal Indonesia dapat
diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan
nasional (WHO, 2002).

Jamu merupakan campuran dari beranekaragam herba


yang digunakan dalam pengobatan tradisional dan
perawatan tubuh. Jamu berasal dari bahasa Jawa
Kuno yaitu jampi yang berarti penyembuhan.

Bukti sejarah dari pemanfaatan tumbuhan obat di


Indonesia dapat dilihat dari hasil kebudayaan yang
ada.

Relief Candi
Beberapa tumbuhan yang merupakan bahan
jamu dapat ditemukan di relief candi, bahkan
proses pembuatannya. Seperti pada candi
Candi Borobudur. Dibangun pada masa
Syailendra dari 800-900 M berlokasi di Jawa
Tengah dekat Yogyakarta. Terdapat relief pohon
Kalapataru (pohon mitos yang abadi), daun &
bagian tumbuhan lainnya digunakan untuk
membuat herbal bagi kesehatan wanita &
kecantikan. Juga ditemukan relief buah maja,
buni, kecubung, lontar & jamblang.

Batu Prasasti
Kebudayaan & agama hindu dipercaya telah
mempengaruhi pengetahuan orang-orang
dalam menggunakan tumbuhan berkhasiat
obat & kesehatan. Tradisi membuat &
meminum jamu dimulai pada periode
hinduu. Hal ini dibuktikan dengan penemuan
Prasasti Madhawapura yang berasal dari
Masa Majapahit-Hindu (1292-1478), pada
prasasti terdapat keterangan profesi
pembuat jamu yang disebut Acaraki.

Peralatan Batu
Pembuat jamu sejak
zaman kuno
menggunakan alu &
lumpang untuk
menggiling bahan-bahan
herbal. Penggilingan
dilakukan untuk
membuat serbuk &
ekstrak. Peralatan batu
zaman neolitikum dapat
ditemukan di Keraton
Jawa, museum nasional
di Jakarta bahkan pasar
tradisional. Sekarang
penggilingan jamu
dengan peralatan batu
masih tetap dilakukan.

MANUSKRIP
Serat Kawruh bab Jampi Jampi
Manuskrip yang tersimpan di Keraton Surakarta.
Ditulis pada 1831. Risalah Segala Macam
Penyembuhan mungkin merupakan informasi
paling sistematis tentang jamu, mencakup 1.734
resep jamu dari tumbuhan obat alami dengan
saran penggunaan & dosisnya. Mencakup juga
244 bacaan & simbol yang nampaknya digunakan
sebagai mantra & jimat yang ampuh untuk
menyembuhkan penyakit tertentu yang
disebabkan kekuatan gaib atau untuk melindungi
pasien dari ilmu hitam.

Serat Centhini
Buku Centhini juga tersimpan di Keraton Surakarta. Dikerjakan
oleh Pangeran Adipati Anom, salah seorang anak dari Kanjeng
Sinuhun Sunan Pakubuwono IV yang berkuasa di Surakarta dari
1788-1820.
Anak tersebut menugaskan 3 laki-laki dewasa untuk
mengumpulkan segala informasi spiritual, materi, pengetahuan
& kepercayaan dari kebudayaan Jawa. Hasilnya berupa laporan
12 jilid mencakup 725 bait. Meskipun isi buku tidak semuanya
berhubungan dengan kesehatan & penyembuhan penyakit,
tampaknya buku ini membahas masalah seks beserta saran
pada penyakit & penyembuhannya.
Namun, buku ini menyajikan deskripsi terbaik tentang
pengobatan pada Jawa Kuno, yang secara langsung diambil
dari alam & sebagian besar mudah untuk melakukannya.

Serat Primbon Jampi (Kitab Resep


Penyembuhan) & Serat Racikan
Boleh Wurang Dalem (Kitab
Campuran Bahan Obat) mencakup
resep jamu untuk kesehatan &
kecantikan yang eksklusif digunakan
para bangsawan Jawa.

Usada Lontar (Kitab


Penyembuhan)
Nenek moyang orang Bali telah
mewariskan begitu banyak
kearifan lokal yang bisa
dijadikan pijakan bagi generasi
penerusnya dalam menata
kehidupan yang lebih baik. Di
bidang kesehatan, misalnya,
mereka telah menuliskan
berbagai jenis tumbuhan
berkhasiat obat di atas
lembaran-lembaran daun lontar
(Borassus flabelifer) yang lebih
dikenal sebagai lontar usada itu
tidak hanya berisikan mantra &
ritual pengobatan. Namun juga
mengupas seluk-beluk berbagai
jenis penyakit lengkap dengan
aneka ramuan obat yang
memanfaatkan tumbuhan lokal.

Historia Naturalist et
Medica Indiae
Yacobus Buntius,
penjelajah Portugis,
pada 1672
mempublikasi gambar
tumbuhan Indonesia
beserta deskripsi &
penggunannya.
Perintis dalam publikasi
tumbuhan obat di Jawa
pada 1678.

Herbarium Amboinense
Buku tumbuhan yang berguna bagi
kesehatan di Maluku, ditulis oleh
Georgius Rumphius 1741-1755.

Pada 1816, Horsfield


menerbitkan
monograf pertama
tentang tumbuhan
obat di Jawa.

Nyonya Kloppenburg, wanita berkebangsaan Belanda,


lahir di perkebunan kopi, Weleri, Jawa Tengah. Ia
adalah penulis De Indische Planten en haar
Geneeskracht (Tumbuhan Indonesia & Khasiatnya).
Terinspirasi oleh ibunya, Albertina, yang peduli
terhadap kesehatan penduduk di sekitar perkebunan.
Albertina sering memberikan saran kepada penduduk
sekitar tentang cara menyembuhkan penyakit &
tumbuhan apa yang paling tepat untuk digunakan.
Kloppenburg muda sering menemani ibunya saat
melakukan hal tersebut & merekam segala informasi
yang penting. Setelah ibunya meninggal, ia
melanjutkan minatnya pada tumbuhan obat. Buku
yang ia buat dipublikasi pada awal 1900 dan
sekarang masih digunakan sebagai acuan dalam
perkembangan tumbuhan obat di zaman modern.

1927, Heyne
menerbitkan
Tumbuhan Berguna
Indonesia yang
menyediakan
informasi yang luas
tentang tumbuhan
obat.

Ave & Sunito 1990


serta Bell & van
Houten
mendeskripsikan
pemanfaatan
tumbuhan lokal di
Siberut & Seram
Tengah.