Anda di halaman 1dari 11

SISTIM PIPA KAPAL BERDAYA MESIN 2655 HP

Sri Pramono
Ratna Dwi Kurniawan
Staf Pengajar Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran Semarang

Abstrak

Sistem pipa mempunyai peranan penting dalam pelayanan umum di


kapal. Karena tanpa sistem pipa maka pompa sebagai alat untuk
memindahkan fluida dari suatu tempat ke tempat lain tidak dapat mengalirkan
atau memindahkan fluidanya.
Sistem pipa di kapal secara umum meliputi pipa bahan bakar, pipa
minyak pelumas, pipa air tawar, pipa air saniter, pipa air ballas, pipa bilga,
pipa pemadam kebakaran.
Sistem instalasi pipa meliputi pipa, flens (sambungan pipa), valve
(Katup), alat tambahan Separator. Sistem instalasi diharapkan menghasilkan
suatu jaringan instalasi pipa yang efisien baik dari segi peletakan maupun segi
keamanan sesuai peraturan peraturan klasifikasi maupun dari spesifikasi
installation guide dari sistem pendukung permesinan.
Dalam menentukan ukuran diameter pipa bahan bakar, pipa minyak
pelumas, pipa air minum, pipa air saniter, pipa air ballas, pipa bilga, pipa
pemadam kebakaran berdasarkan : jenis fluida yang mengalir di dalam pipa,
volume fluida yang akan dipindahkan, kecepatan aliran fluida yang akan
dipindahkan, juga memperhatikan adanya tekanan akibat gesekan.
Kata kunci : Ukuran, Diameter, Pipa, Kapal
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Untuk memindahkan fluida dalam jumlah yang sangat besar tidaklah
mudah. Salah satu ciri aktivitas diatas kapal adalah setiap pekerjaan hendaknya
dilakukan seefektif mungkin sehingga penggunaan waktu yang tepat selalu
diperhitungkan. Dapat kita bayangkan jika memindahkan sejumlah bahan
bakar, air tawar dan minyak pelumas dikerjakan secara manual atau dengan
kata lain menggunakan tenaga manusia, ini memerlukan waktu yang lama
sehingga efektivitas yang telah dicanangkan tidak akan tercapai. Pinsip utama
dan mendasar dengan digunakanya pompa dan sistem perpipaan diatas kapal
dalam hal memindahkan sejumlah zat cair / fluida memberikan keuntungan

yang besar dalam hal pemanfaatan tenaga manusia. Dengan demikian


perlakuan terhadap unit pesawat / alat bantu (mesin fluida / pompa) sangat
diperlukan.
Halhal yang diperlukan adalah sikap setiap awak kapal bagian mesin
untuk melaksanakan perawatan dan perbaikan sesuai standar yang telah
ditetapkan. Dengan memperhatikan ketentuan tersebut maka usia pakai dari
pompa dan sistem perpipaanya dapat lebih panjang.
Sistem Perpipaan
Sistem perpipaan berfungsi mengalirkan suatu fluida dari suatu tempat
ke tujuan yang diinginkan dengan bantuan mesin fluida atau pompa. Misalnya
pipa yang dipakai untuk memindahkan minyak dari tangki minyak pelumas ke
mesin penggerak kapal.
Keamanan dan efisiensi (irit) dari sebuah kapal tergantung pada pipa
pipanya, karena semua pipa pipa berguna untuk memindahkan fluida (lalu
lintas fluida /cairan).
Bagian bagian sistem pipa meliputi :
1. Pipa
Pipa merupakan bagian utama dari suatu sistem
2. Flens (sambungan pipa)
Flans merupakan peralatan yang digunakan untuk menghubungkan dari
sistem dengan melalui cara menyambung, berbentuk T, L, dan Lurus.
3. Valve (katup)
Valve adalah untuk memutus dan menghubungkan serta merubah arah
aliran fluida
4. Valve Gear
Valve gear dipakai untuk mengontrol baik lewat dekat maupun jauh
melalui remote control.
5. Peralatan tambahan lain
Merupakan peralatan tambahan yang tidak pada sistem, misalnya Separator
terdapat proses pemisahan antara air dengan bahan bakar.
Sistem instalasi perpipaan dikapal dapat dikelompokkan dalam
beberapa kelompok layanan diatas kapal, antara lain :
1. Layanan Permesinan
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sistem sistem yang akan melayani
kebutuhan dari permesinan dikapal (main engine and auxilliary engine) seperti
sistem start, sistem bahan bakar, sistem pelumasan, dan sistem pendigin.

2. Layanan Penumpang dan Anak Buah Kapal (ABK) / Crew


Merupakan sistem yang akan melayani kebutuhan bagi seluruh penumpang dan
crew kapal dalam hal untuk kebutuhan air minum dan sistem sanitary /
drainage.
3. Keamanan
Adalah sistem instalasi yang akan menjamin keselamatan kapal selama
pelayaran meliputi sistem bilga dan sistem pemadam kebakaran.
4. Layanan keperluan kapal
Adalah sistem instalasi yang akan mensupply kebutuhan untuk menjamin
stabilitas / keseimbangan kapal, meliputi sistem ballast dan sistem pipa cargo
(untuk kapal tanker).
Pokok Masalah
Pokok masalah dalam sistem instalasi pipa kapal adalah kurangnya
perhatian dan pengetahuan dalam perencanaan sistem instalasi kapal kapal,
sehingga tidak sesuai dengan peraturan dan persyaratan umum sistem pipa
kapal, yang mengakibatkan kurang efisien dalam pengoperasian kapal.
Tujuan Dan Kegunaan
Tujuan penulisan sistem instalasi pipa kapal ini untuk mengetahui
ukuran Diameter Pipa Bilga, Diameter Pipa Ballast, Diameter Pipa Pemadam,
Diameter Pipa Bahan Bakar, Diameter Pipa Minyak Pelumas.
Setelah mengetahui peraturan mengukur diameter pipa yang meliputi
Diameter Pipa Bilga, Diameter Pipa Ballast, Diameter Pipa Pemadam,
Diameter Pipa Bahan Bakar, Diameter Pipa Minyak Pelumas sesuai rumus
yang berlaku secara umum diharapkan kepada para pembaca sebagai tambahan
bahan referensi. Sehingga dapat menerapkan ilmu pengetahuan dan
wawasannya secara benar dan nyata di lapangan.
Batasan Masalah
Batasan-batasan yang disampaikan oleh penulis adalah kapal berdaya
mesin 2655 HP, mempunyai panjang (Lpp) : 78,8 m, Lebar (B) : 12,05 m dan
Tinggi (H) : 4,1 m.

METODE PENULISAN
Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dengan cara yaitu :
1. Studi pustaka
Masalah dapat diselesaikan melalui landasan teori yang tertutis di
buku, literatur, majalah, brosur maupun catatan para ahli.
2. Observasi
Mencari informasi pengetahuan sistem pipa kapal di perusahaan PT. Dok
Dan Galangan Kapal Jasa Marina Indah (JMI) Semarang dan PT. Biro
Klasifikasi Indonesia (BKI) Semarang
3. Wawancara
Bertanya jawab langsung kepada para ahli di bidang teknik perkapalan,
teknik mesin serta teknik permesinan kapal.
TINJAUAN PUSTAKA
Ketentuan Umum Sistem Pipa
Berdasarkan United Stated Shipping Register (USSR), semua sistem
pipa secara umum harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut :
1. Sistem pipa harus dilakasanakan sepraktis mungkin, dengan minimum
bengkokan dan sambungan las sedapat mungkin dengan flens atau sambungan
yang dapat dilepas atau dipisahkan bila mana perlu.
2. Semua pipa harus dilindungi sedemikian rupa sehingga terhindar dari
kerusakan mekanis dan harus ditutup atau dijepit sedemikian rupa untuk
menghindari getaran.
3. Pada tempat-tempat dimana pipa-pipa menembus dinding kedap air, pipapipa dari seluruh sistem diatas kapal harus diletakkan pada dinding kedap itu
dengan bantuan flens-flens yang dilas atau dikeling.
4. Semua lubang saluran masuk samping kapal harus ditutup dengan sebuah
saringan atau kisi-kisi untuk mencegah masuknya kotoran yang akan
menyumbat saluran-saluran dari bottom valves.
5. Semua alat-alat pemutusan hubungan (disconnecting fittings) harus dibuat
sedemikian rupa sehingga orang dapat dengan mudah melihat apakah terbuka
atau tertutup.

Sistem Pipa Bahan Bakar


Susunan Pipa Bahan Bakar secara umum tidak boleh melewati tangkitangki air minum maupun tangki minyak lumas. Pipa bahan bakar tidak boleh
diletakkan disekitar komponen-komponen mesin yang panas. Sistem pipa
bahan bakar ini mengalirkan bahan bakar dari tangki bahan bakar menuju
Mesin Induk (ME) dan Mesin Bantu (AE).
Sistem Pipa Air Tawar / Minum
Sistem pipa air tawar / air minum mengalirkan air tawar / air minum
dari tangki air tawar menuju dapur.
Pipa-pipa yang bukan berisi air tawar tidak boleh melalui pipa air tawar
dan pipa udara. limbah air tawar tidak boleh dihubungkan dengan pipa lain dan
juga tidak boleh melalui tangki-tangki yang bukan berisi air tawar yang dapat
diminum. Ujung-ujung dari pipa limbah harus dilindungi dari kemungkinan
masuknya serangga kedalam pipa tersebut.
Sistem Pipa Ballast
Jika pipa ballast terpasang dari ruang pompa belakang ke tangki air
ballast didepan tangki muatan, maka tebal dinding pipa harus dipertebal untuk
mengatasi pemuaian.
Pipa-pipa hisap dalam tangki ballast harus diatur sedemikian rupa
sehingga tangki-tangki tersebut dapat dikeringkan sewaktu kapal mengalami
trim.
Tangki ballast yang berisi air laut pada haluan (afterpeak) dan buritan
(forepeak) berguna untuk mengubah trim dari kapal.
Tangki ballast dasar ganda (Double bottom ballast tank) berguna untuk
memperoleh sarat kapal yang tepat dan untuk menghilangkan keolengan kapal
agar tetap terjaga keseimbangannya.
Sistem Pipa Bilga
Pipa-pipa bilga dan penghisapnya harus diatur sedemikian rupa
sehingga dapat dikeringkan sempurna walaupun dalam keadaan kurang
seimbang (oleng) atau kapal mengalami trim
Pipa-pipa bilga tidak boleh dipasang melalui tangki minyak lumas dan
air minum. Apabila pipa bilga melalui tangki bahan bakar yang terletak diatas
alas ganda dan berakhir dalam ruangan yang sulit dicapai selama pelayaran,
maka harus dilengkapi dengan katup periksa atau check valve tambahan, tepat
dimana pipa bilga tersebut dalam tangki bahan bakar.

Pipa hisap Bilga harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak


menyulitkan pembersihan pipa hisap dan kotak pengering pipa hisap
dilengkapi dengan saringan yang tahan karat dan mudah dilepas.
Aliran pipa hisap darurat tidak boleh terhalang dengan pipa hisap
tersebut terletak pada jarak yang cukup dari alas dalam.
Katup-katup alih dan perlengkapan dalam sistem bilga harus berada
pada tempat yang mudah dicapai dalam ruangan dimana pompa bilga
ditempatkan. Katup-katup alih atau perlengkapan dalam sistem bilga pada
posisi peralihan tidak boleh terjadi hubungan antara pipa bilga dengan pipa
ballast
Sistem Pipa Minyak Pelumas
Sistem pipa minyak pelumas untuk mengalirkan minyak pelumas dari
tangki minyak pelumas menuju mesin induk maupun mesin bantu kapal.
Pipa-pipa dari tangki penyimpanan minyak pelumas boleh berakhir
dalam kamar mesin bilamana dinding tangki penyimpanan minyak lumas
tersebut merupakan bagian dari lambung kapal, dan pipa-pipa udaranya harus
berakhir diselubung kamar mesin diatas geladak lambung timbul.
Sistem Pipa Pemadam Kebakaran
Sistem pipa pemadam kebakaran untuk mengalirkan air laut, dimana
pengambilan airnya mengisap dari laut untuk selanjutnya disalurkan ke tempat
kejadian kebakaran di kapal.
Sistem Pipa Saniter (Pembuangan)
Pipa Saniter untuk mengeluarkan air laut harus dipasang pada geladak
cuaca dan pada geladak lambung timbul didalam bangunan atas. Dan bangunan
geladak yang tertutup kedap air harus disalurkan keluar.
Pipa Saniter dan ruangan dibawah garis muat musim panas harus
dihubungkan pipa sampai ke bilga dan harus dilindungi dengan baik.
Lubang pembuangan dari sanitari tidak boleh dipasang diatas garis
muat kosong didaerah tempat peluncuran sekoci penolong.
Sistem Pipa Udara
Susunan tangki, ruang kosong dan ruang lain pada bagian yang
tertinggi harus dilengkapi dengan pipa udara yang dipasang di atas geladak
terbuka.

Pipa-pipa udara dan tangki-tangki pengumpulan atau pelampung


minyak yang tidak dipanasi boleh terletak pada tempat yang mudah terlihat
pada kamar mesin.
Pipa-pipa udara harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
pengumpulan cairan dalam pipa tersebut.
Pipa-pipa udara dari tangki-tangki cofferdam dan ruangan yang
merupakan pipa hisap bilga harus dilengkapi dengan pipa-pipa udara yang
berakhir dengan atau ruang terbuka.
Sistem Pipa Duga
Tangki-tangki ruangan cofferdam dan tangki bilga di dalam ruangruang yang tidak mudah dicapai setiap waktu, harus dilengkapi dengan pipa
duga. Penempatannya memanjang kebawah sampai deck atas.
Pipa duga yang ujungnya terletak dibawah garis lambung harus
dilengkapi dengan katup otomatis pipa duga, seperti yang diijinkan dalam
ruangan yang dapat diperiksa dengan temperatur.
Pipa duga bagian bawah harus dilapisi dengan pelapis bilamana pipa
duga tersebut dihubungkan dengan kedudukan samping atas pipa cabang.
Selain itu dibawah pipa duga tersebut harus dipertebal secukupnya.
Pipa duga tangki harus dilengkapi dengan lubang pengatur tekanan
yang dibuat sedikit mungkin dibawah geladak tangki.
Pipa duga bagian dalamnya juaga harus dilindungi terhadap pengaratan.
PEMBAHASAN
Perhitungan Diameter Pipa Bilga (dH) (di ruang mesin)
Berdasarkan peraturan Biro Klasifikasi Indonesia 2006 Vol III sec.11 N.2.3
dH = 30
Keterangan :
Panjang Kapal (L) = 78,8 m
Lebar Kapal (B) = 12,05 m
Tinggi Kapal (H) = 4,1 m
Maka :
dH = 30

= 142,0214 mm
= 145 mm
= 14,5 cm
Perhitungan Diameter Pipa Ballast (dH)
Berdasarkan peraturan Biro Klasifikasi 2000 sec.11-25 N.2.1
dH = 1,68
Keterangan :
Panjang Kapal (L) = 78,8 m
Lebar Kapal (B) = 12,05 m
Tinggi Kapal (H) = 4,1 m
Maka :
dH = 1,68
= 84,931 mm
= 85 mm
= 8,5 cm
Perhitungan Diameter Pipa Pemadam (D)
D = 26
Keterangan :
Panjang Kapal (L) = 78,8 m
Lebar Kapal (B) = 12,05 m
Tinggi Kapal (H) = 4,1 m
Maka :
D = 26
= 26
= 26
= 85,48 mm
= 86 mm
= 8,6 cm

Perhitungan Diameter Pipa Bahan Bakar (Db))


Kebutuhan bahan bakar untuk mesin induk dan mesin bantu
disesuaikan dengan daya mesin diketahui BHP mesin induk = 2655 HP.
Maka Daya Mesin Bantu (BHP AE) adalah :
Karena jumlah mesin bantu ada dua mesin, maka daya mesin total adalah :

Jika kebutuhan bahan bakar tiap jam (Qb 1) setiap 1 HP ditetapkan pemakaian
bahan bakar sebesar 0,18 kg/HP/jam.
Maka kebutuhkan Bahan Bakar tiap jam adalah sebesar :

Qb 1 = kebutuhan bahan bakar x spesifik volume berat bahan bakar


= 0,669 ton/jam x 1,25 m/ton
= 0,836 m/jam.
Direncanakan pengisian tangki pengendapan tiap 10 jam
Sehingga volume tangki (V) = Qb 1 x 1 x h
= 0,836 x 1 x 10
= 8,362m

Untuk diameter pipa pengisian pada bunker direncanakan 2 x diameter pipa


service harian yaitu 4 x 2 = 8 mm.
Perhitungan Diameter Pipa Minyak Lumas (db)
Kapasitas tangki yang diperlukan (Vc)
Vc = 2,5 x
ton /HP/jam x 24 x 12 x 2655
= 1,68 Ton

Berat jenis minyak 1,25 m / ton


Sv
= 1,25 x 1,68
= 2,1 m
Lama pengisian direncanakan 15 menit (0,25 jam)
Qs
= Sv / 0,25
= 2,1 / 0,25
= 8,4 m/jam
Jadi Diameter pipa minyak lumas (db)

= 38,22 mm
= 40 mm
Kesimpulan
Dari pembahasan penulis dapat menyimpulkan hal hal sebagai berikut
1. Menurut Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) ditinjau dari bahan pipa adalah :
baja tanpa sambungan (Seamless Drawn Steel Pipe), pipa baja dengan
sambungan las (Lap-Welded Steel Pipe) /(Electric Resistence Welded Steel
Pipe), pipa dari baja tempa atau kuningan (Seamless Drawn Pipe ),
(Seamless Drawn Pipe ) baja tempa atau kuningan, pipa pipa timah
hitam.
2. Dari perhitungan dengan rumus didapat Diameter Pipa Bilga (dH) = 14,5
Cm; Diameter Pipa Ballast (dH) = 8,5 cm; Diameter Pipa Pemadam (D) =
8,6 cm; Diameter Pipa Bahan Bakar (Db) = 8 mm; Diameter Pipa Minyak
Lumas (db) = 40 mm.
3. Bagian-bagian yang berhubungkan dengan sistem pipa dalam kapal adalah
pipa, flens (sambungan pipa), valve (katup), filter (saringan), purifier,
separator (pemisah antara minyak dengan air).
Saran
Penulis ingin menyampaikan saran- saran sebagai berikut :

1. Dalam pemilihan katup yang akan digunakan dalam suatu sistem perpipaan
harus mempertimbangkan beberapa faktor antara lain : Perbedaan tekanan,
kehilangan tekanan, pengoperasian (terkait dengan arah aliran), ukuran
(terkait dengan diameter pipa), biaya, jenis material katup, keamanan,
kemampuan untuk mengontrol aliran.
2. Dalam pemilihan bahan yang paling cocok untuk sistem pipa, yang harus
diperhatikan adalah kekuatan atau strength dan tahanan pipa terhadap
korosi.
3. Pipa adalah suatu batang silinder berongga yang dapat berfungsi untuk
dilalui atau mengalirkan zat cair,uap,gas atau zat padat yang dapat berjenis
serbuk atau seperti tepung.
DAFTAR PUSTAKA
1. Austin H.C, Pompa dan Blower Centrifugal, terjemahan Zulkifli Harahap,
Huntington, New York, 1993
2. Prof. Dipl. Ing Fritz Dietzel, Turbin , Pompa dan Kompresor, Erlangga,
Jakarta, Tahun 1995
3. Prof. DR. Haruo Tahara, Pompa dan Kompresor ( Pemilihan, Pemakaian
dan Pemeliharaan), PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1996
4. Sularso, MSME, Pompa Dan Kompresor, ( Pemilihan, Pemakaian dan
Pemeliharaan), PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1996
5. MC. Donald, Robert W Fox, Introduction To Fluid Mechanics, John Willy,
New York, 1995