Anda di halaman 1dari 12

STRATEGI

PEMBERDAYAANMASYARAKAT
Masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha lokal-lah yang memiliki
pengetahuan, kearifan lokal dan keahlian. Peran Penyuluh Kehutanan
sebagai fasilitator adalah untuk mendampingi dan mendengar serta belajar
dari masyarakat, bukan mengajari masyarakat tentang problem dan
kebutuhan mereka. Tetapi memfasilitasi agar masyarakat mampu
menyelesaikan sendiri permasalahannya.

PELUANG DAN TANTANGAN PEMBERDAYAAN


MASYARAKAT
Desa yang ada di dalam dan di sekitar kawasan hutan adalah identik dengan
masyarakat yang berekonomi lemah. Masyarakat sekarang ini cenderung
lebih banyak memanfaatkan hutan daripada melestarikannya. Banyak
program masuk desa tapi pelaksanaannya berjalan sendiri-sendiri. Banyak
potensi hutan yang belum tergarap dengan maksimal dengan basis
pelestarian di dalamnya seperti tumpang sari atau agroforestry atau hutan
campuran. Lembaga-lembaga di tingkat bawah belum bersinergi, partisipasi
masyarakat dalam melestarikan hutan masih rendah, termasuk kelompok
perempuan. Untuk itu peluang dan tantangan ini perlu di analisis guna
menemukan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif dan partisipatif.

Desa yang ada di sekitar hutan.

SKEMA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.


Penyuluh Kehutanan melalui penyuluhannya harus mampu menjelaskan
manfaat dan fungsi hutan secara lestari, melalui 3 kelola lestari yaitu kelola
kawasan, kelola kelembagaan dan kelola usaha. Melalui pertemuanpertemuan, musyawarah secara intens dan partisipatif dari masyarakat yang
difasilitasi oleh Penyuluh Kehutanan membahas bersama dan di analisis

dengan metode pemberdayaan rakyat yang partisipatif. Dari sini muncullah


Skema Pemberdayaan Masyarakat yang disepakati bersama sekaligus
merupakan strategi yang paling baik menurut mereka. Skema Pemberdayaan
Masyarakat itu adalah rangkaian kegiatan yang harus dilalui dan
dilaksanakan.
Subyeknya adalah Pemberdayaan Masyarakat di sekitar hutan yang kurang
mampu atau marjinal dan Pemerintahan setempat yang terkait.

LANGKAH-LANGKAH/TAHAPAN
DILAKUKAN.

YANG

SOSIALISASI PROGRAM
Mengenalkan tim fasilitator kepada masyarakat, menjelaskan tujuan program
yang akan dilaksanakan beserta dengan waktu pelaksanaan dan batas
waktunya. Membuka peluang partisipasi dan partisipasi masyarakat beserta
pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten.

Foto Penyuluhan/ sosialisasi yang dilakukan secara massal di areal terbuka.

KAJIAN SECARA PARTISIPATIF


Menggunakan metode yang tepat dalam pelaksanaan kajian seperti:
pemetakan social, transek, kalender musim, kajian kebijakan, kajian pasar
dll. Penekanan penggunaan instrument tersebut berpangku pada upaya
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program
pembangunan kehutanan.

Dialog Para Pihak

LOKAKARYA HASIL KAJIAN


Dialog dan sharing hasil kajian yang sudah dilakukan secara partisipatif dan
yang telah disepakati serta mendapatkan masukan dari masyarakat pelaku
utama dan pelaku usaha dapat dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan
program. Perumusan Program secara partisipatif akan meningkatkan

keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program. Pengintegrasian hasil


kajian dan pengetahuan masyarakat local mempunyai peran penting.

MENJARING ASPIRASI MASYARAKAT.


Mengakomodasi aspirasi masyarakat pelaku utama dan pelaku usaha
terhadap program yang di jalankan. Menentukan skala prioritas program
sesuai dengan hasil kajian dan tujuan yang ingin dicapai. Prioritas program /
kegiatan yang disetujui oleh masyarakat merupakan suatu jawaban terhadap
masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka. Inisiasi program harus
sensitive gender. Dukungan dari pemerintah setempat desa / kabupaten di
tuangkan dalam Surat Keputusan atau Perdes atau Perda.
Pembuatan Perdes diawali dengan mengadakan Rembug Desa yang
membahas : Perencanaan Program Pembangunan Kehutanan lewat
Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dan Pembuatan
Peraturan Desa untuk mendukung Program Kehutanan.

Rembug Desa melalui Musbangdes


Untuk mengakomodir aspirasi masyarakat
perencanaan dalam jaring aspirasi yaitu :

tersebut

harus

taat

asas

Asas persamaan
Semua orang yang terlibat selama dalam perencanaan mempunyai
kedudukan yang sama dan sedrajat, tidak ada perbedaan status. Semua
disini berfungsi sebagai team work.

Asas peran serta


Semua orang harus melibatkan dirinya secara penuh baik fisik maupun
pikirannya. Hasil perencanaan ini akan sangat tergantung kepada peran
serta, kemampuan, pengalaman, wawasan, kesungguhan partisipan itu
sendiri.

Asas demokratis
Kedudukan semua orang sederajat. Setiap pendapat didasarkan pada
argument, terbuka terhadap kritik, jujur dan teliti, sehingga akan terjadi
komunikasi dialogis diantara partisipan. Hal ini baik untuk kejelasan
gambaran, kejelasan keberadaan dan kejelasan logika (rasionalitas).

PERUMUSAN RENSTRA, TIM PELAKSANA DAN BADAN


PENGAWAS.
Adanya Renstra merupakan jaminan keberlanjutan program pemberdayaan
yang akan dilaksanakan oleh masyarakat. Tim pelaksana dibentuk dari unsur
masyarakat yang intinya mendorong partisipasi. Badan pengawas bertugas
untuk melakukan memonitoring dan evaluasi agar pelaksanaan program
dapat trasparan dan akuntable. Pihak pemerintah memberikan dukungannya
delam pelaksanaan program.

PELAKSANAAN PROGRAM (AKSI)


Bila program kerja sudah terumuskan dan kelompok sudah terbentuk, maka
rencana aksi komunitas harus sudah bisa dilaksanakan. Mekanisme atau
aturan-aturan terkait dengan kegiatan yang dilaksanakan dirumuskan
bersama dengan masyarakat. Pengelolaan kegiatan dan keberlanjutan
program menjadi tanggung jawab bersama.

Rencana Aksi dengan kelompok


Mediasi konflik penting untuk dipersiapkan sejak dini.
Mediasi konflik dalam pemberdayaan masyarakat yang perlu kita perhatikan
yaitu : Adanya manajemen untuk menagani konflik. Karena adanya konflik
dapat menurunkankan tingkat partisipasi masyarakat bahkan menghambat
partisipasi. Hindari bias kepentingan personal dalam perumusan program.
Mediasi konflik dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan cultural,

personal, hukum dan musyawarah untuk mencapai mufakat. Pendekatan


personal juga dapat ditempuh dengan mengedepankan harmoni social.

MONITORING DAN EVALUASI.


Kegiatan monitoring dan evaluasi kadang masih dipandang sebelah mata,
padahal kegiatan ini sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan dan
untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari program yang sedang dan
telah dilaksanakan. Monitoring dapat dilakukan dengan dua cara yakni :
monitoring internal dan monitoring ekternal. Monitoring internal dilakukan
dengan melibatkan tim pelaksana beserta mitra. Sedangkan monitoring
eksternal dilakukan dengan melibatkan tim dari luar atau tim independen
dan tim ahli dalam bidang pemberdayaan yang dilakukan. Hal ini dilakukan
bukan untuk mencari kesalahan melainkan untuk pembelajaran program.

Monitoring

LAPORAN DAN PENDOKUMENAN


Laporan dibuat berisi seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan yang sudah
dilaksanakan dan laporan penggunaan dananya. Dokumen laporan akhir
sebaiknya juga didesain untuk dokumen pembelajaran proses pemberdayaan
yang sudah dilakukan sehingga dapat dimanfaatkan oleh desa atau
organisasi lain yang memerlukan.

Hasil Produksi Empon-Empon


Demikian strategi pemberdayaan masyarakat bila minimal Penyuluh
Kehutanan dalam kegiatan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat,
langkah-langkah tersebut dilakukan dengan cermat, teliti, partisipatif dan
demokratis akan menghasilkan program-program/ kegiatan pembangunan
kehutanan yang dapat dicapai dengan sukses efektif serta effisien.
Selamat berkarya dan salam. luar biasa.