Anda di halaman 1dari 4

DISKUSI DAN SARAN UNTUK PENGEMBANGAN KEDEPAN

Ketika bekerja di Wat Yan Yao, Situs 1A selama masa kerja kami, kami mengamati perubahan
dalam sistem penomeran tubuh.
Dari sudut pandang administrasi, kami percaya bahwa hal ini penting untuk mengadopsi
penomoran tunggal dan sistem definitif untuk setiap tubuh yang tak dikenali, pada tahap awal
operasi. Hal ini harus ditentukan oleh manajemen dalam Standard Operating Protocol (SOP).
Untuk alasan yang sama, tim harus dikerahkan ke lokasi bencana sesegera mungkin.
Pemeriksaan tubuh awal, sistem penomeran cepat dan unik, dan kemungkinan mengambil
gambar di tempat kematian sebelum mayat dipindahkan, akan jauh lebih meningkatkan
kemungkinan identifikasi yang positif.
Tergantung pada jenis pemeriksaan PM yang akan dilakukan pada tubuh mungkin akan sangat
berguna untuk melakukan pemeriksaan medis-hukum dan antropologi sedekat mungkin dengan
lokasi bencana. Hal ini membantu untuk menghindari kerusakan atau hilangnya bukti yang
disebabkan oleh pemindahan jenazah (hilangnya tulang tertentu yang dapat berguna dalam
investigasi kriminal, seperti tulang hyoid ...). Utilitas dari ""field mortuaries" di Kosovo
sebelumnya dijelaskan oleh Beauthier et al.
Adapun manajemen ruang otopsi, semua tim DVI dikerahkan dan bekerja di tempat yang harus
menyetujui SOP dan aturan ini benar-benar harus dipatuhi. Keberadaan dari kepala ruang otopsi,
untuk mengawasi semua kegiatan pemeriksaan tim yang berbeda serta mengelola kedatangan
jenazah baru, telah terbukti menjadi nilai tambah yang luar biasa. Pada saat yang sama, kepala
ruang otopsi ini harus memiliki kemampuan untuk menegakkan SOP dan harus mengambil
tindakan yang diperlukan saat terjadi masalah.
Seorang kepala bagian DNA dapat melakukan tugasnya jauh dari ruang otopsi. Kepala bagian
DNA ini harus bertanggung jawab terhadap sampel DNA dari tulang femur dan memastikan
tidak ada perubahan bagian Interpol terhadap jenazah.
Pada tahap DNA, hal ini berguna untuk sistematisasi sampling dari bagian diaphysis gigi dan
tulang femur. Di Thailand sampel tulang kosta diambil dari berbagai jenazah pada hari-hari awal,
tapi pada tahap berikutnya petunjuk yang telah diberikan diawal tidak berlaku lagi melainkan
mengumpulkan sampel tulang femur dan atau gigi yang sesuai dengan SOP.
Penulis sangat menyadari keterbatasan pemeriksaan tubuh bagian luar.
Dalam kasus ini, dan karena kondisi jenazah pencarian bekas luka misalnya terbukti tidak
memadai, namun tato lebih mudah dideteksi dan memiliki nilai yang besar.
Bantuan dari penduduk Thailand setempat dalam menafsirkan atau menerjemahkan beberapa
tato terbukti sangat berguna.

Manfaat ruang X-ray yang terpisah dimana pemeriksaan radiologi dan jenazah oleh amplifikasi
X-ray akan memungkinkan untuk mencari keberadaan benda asing (egosteosynthesis, prosthesis,
klip tubar, ring pada pembuluh darah atau alat pacu jantung) tanpa keraguan dan gagasan ini
harus dipertimbangkan setiap saat.
Radiologi dapat membantu atau bahkan menjadi pengganti otopsi bagian dalam tubuh yang
tidak terjangkau namun sangat terbatas dan tidak dapat banyak membantu dalam pemberian
data dan informasi tentang ciri-ciri anatomis dengan kondisi yang sulit dikenali.
Untuk alasan yang sama, hampir mustahil untuk menentukan kelompok etnis seperti yang
diminta selama bekerja sehari-hari di Wat Yan Yao.
Menurut beberapa pengalaman odontograms Interpol memang
merasa jenuh dalam
menyelesaikan tugas , apalagi yang berkaitan dengan rencana pewarnaan yang diperlukan dalam
mengidentifikasi bahan-bahan yang berbeda digunakan selama pengobatan.
Pada program komputer, PlassDataTM sistem Internasional DVI , secara otomatis tertulis bahwa
berbagai warna pada bahan-bahan yang ditentukan , merupakan sesuatu yang tidak diperlukan
untuk menandai hal tersebut secara manual pada Interpol formasi F2.
Dan juga pada beberapa pengguna memperkirakan bahwa terlalu banyak terdapat singkatan yang
dicantumkan untuk digunakan dalam praktik. Secara sederhana protokol yang ada sebagai
panduan untuk pemeriksaan odontologi dan pendaftaran masih diperlukan, dan dan telah
dilaksanakan sesuai dengan PlassDataTM dalam versi terbaru dari sistem Internasional DVI
setelah berkonsultasi dengan Tim Forensik Odontologis Internasional.
Pada catatan akhir batas pemeriksaan sangat fundamental. Sedangkan pada catatan pengelola
telah dipastikan bahwa pada folder PM telah selesai dengan benar , termasuk pengambilan
sampel femoral dan gigi untuk pemeriksaan DNA, kualitas pengontrolan dari rontgen gigi, foto
gigi, foto pakaian dan perhiasan , dan tanda khusus pada tubuh (bekas luka, tato). Hal tersebut
memiliki bukti yang kuat untuk penentuan akhir tubuh seseorang untuk akhir disimpan.
Efisiensi dari pengadopsian metodologi semata-mata tergantung pada jenis dan sifat bencana
massal. Masing-masing bencana berbeda dan disesuaikan waktu datangnya bencana.
Hasil akhir identifikasi yang utama tergantung pada kualitas dan presentase dari informasi AM
dan ketersediaan bukti fisik misalnya pada sinar X antemortem [32, 34, 35], sidik jari [28],
cetakan gigi [22, 33, 2] dan tentu saja DNA [36].
Pada Perrier tahun 2006,tercatat evektifitas metode yang berbeda-beda dalam mengidentifikasi
korban di Phuket: 73% untuk odontologi, 24% untuk dactyloscopy dan 3% untuk analisis DNA
[37] dengan kesimpulan serupa yang dilaporkan oleh Sribanditmongkol dkk tentang perdamaian
korban Thailand dengan bukti utama di bawah TTVI [38, 39] Peran utama dari forensik
odontologi juga digarisbawahi oleh Kirsch dkk: dari 478 korban teridentifikasi di Jerman,

400orang (83,7%) teridentifikasi dari status dental, 63 orang (13,2%) teridentifikasi dari sidik
jari, 15orang (3,1%) teridentifikasi dari DNA [40]
Hal ini mengungkap kebutuhan untuk fokus utama pada kesederhanaan, bukan sesuatu yang
mahal, dan metode efisiensi waktu, tentu saja tanpa meminimalisir nilai sidik jari dan
keunggulan DNA yang sangat menentukan dalam proses identifikasi [23, 41, 24, 42-48, 3].
Pada bulan Desember 2008, Pusat Identifikasi Korban Tsunami Thailand dan Repatriasi
menyebutkan bahwa 388 mayat tetap tidak teridentifikasi dari tsunami Thailand. Direktur Pusat
Nitinai Sornsongkram menjelaskan bahwa pusat telah menerima 3.696 mayat pada bulan
Februari 2005. Dari 3.308 akhinya di kembali ke keluarga mereka. Meskipun kejadian Tsunami
sudah lama, Sornsongkram mengatakan bahwa Para pejabat pusat masih berusaha
mengidentifikasi 388 korban yang tersisa[ 49 ] .
Kegunaan atas kehadiran seorang dokter spesialis dalam Kegawatdaruratan dan Reanimasi, dan
Perawat - standar dalam tim DVI Belgia ditunjukkan jelas selama kerja di Wat Yan Yao.
memang, salah satu anggota tim melihat kebutuhan bantuan medis untuk sukarelawan US yang
sengaja mengisolasi dirinya sendiri di luar salah satu kamar dari candi Budha . Dia berada dalam
kondisi epilepsi yang kemudian menjadi heat stroke. Dia segera diurus dan diobati oleh tim
kami, reanimasi, dan diberikan cairan infus selama beberapa jam . Dia kembali sadar dan
bergabung lagi dengan timnya , sangat senang bias bertahan dalam kondisi ini yang bisa saja
berakibat fatal tanpa intervensi cepat dari petugas medis Belgia.
Intervensi cepat lainnya dari tim medis terbukti sangat efektif setelah luka parah pada
ekstremitas bawah yang diderita oleh salah satu anggota tim Belgia setelah terjatuh parah.
Perawatan lokal dan umum segera diberikan dan korban sembuh dengan baik.
Ketika datang kehadiran anggota dari stress tim , benar bahwa sebagian besar anggota Tim DVI
Belgia di Thailand adalah orang-orang yang berpengalaman dari banyak bencana dan tidak
memerlukan bantuan psikologis. Namun kehadiran psikolog khusus mungkin sangat berguna
ketika calon atau anggota tim junior menghadapi dampak psikologis dari pekerjaan selama acara
ini. Kita semua ingat tanpa keraguan keterlibatan pertama mereka dan dampak yang dilakukan
selama bencana . Sebuah stress tim yang bekerja dan hidup dengan tim selama bencana akan
dapat memberikan bantuan lebih memadai bila diperlukan .
KESIMPULAN
Manajemen identifikasi korban yang memadai melewati metodologi dan protocol yang ketat. Hal
ini perlu mengadopsi dan menerapkan protokol operasi standar, dalam perjanjian dengan
pedoman Komite Kedudukan Interpol DVI.

Kebutuhan persyaratan tersebut diperkuat ketika dihadapkan dengan bencana massal


mempengaruhi orang yang berbeda kebangsaan dan etnis, seperti 26 Desember Tsunami tahun
2004.
Suatu usaha tersebut membutuhkan tim multidisiplin dengan komposisi mirip dengan Tim DVI
Belgia, yang selain ahli ilmiah, termasuk sejumlah besar polisi yag mampu dalam berbagai tugas
dan mampu dengan efisien membantu personil tim ilmiah.
Anggota unit perlindungan sipil juga sangat berguna, membawa pengetahuan dan keterampilan
teknis mereka untuk meningkatkan kondisi kerja secara keseluruhan.
Selain itu, tim DVI Belgia mungkin salah satu hanya tim di dunia yang memiliki dokter, perawat,
psikolog dan stress tim sebagai anggota tim reguler.
Keahlian dalam kaitannya dengan identifikasi korban bencana ditingkatkan ketika anggota tim,
bekerja bersama-sama dalam cara interdisipliner , berbagi saling menghormati , secara
professional terlatih dan terampil, dan memiliki kemampuan multi - fungsional .
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami ingin mengucapkan terima kasih Laurence Genevrois dan Denise De Valck - Crenwelge
( USA , BS Jurnalistik , 1980, Texas A & M University ) untuk bantuan mereka sebagai
penerjemah dan editor masing-masing.
CATATAN
Harap dicatat bahwa semua foto-foto adalah milik J.P. Beauthier . The ( Gambar . 4 , 5 dan 7 )
adalah milik J.P. Beauthier dan Ph . Lefevre .