Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN

TETRALOGI OF FALLOT
A. PENDAHULUAN
Tetralogi fallot (TF) merupakan penyakit jantung sianotik yang paling banyak
ditemukan dimana tetralogi fallot menempati urutan keempat penyakit jantung bawaan
pada anak setelah defek septum ventrikel,defek septum atrium dan duktus arteriosus
persisten,atau lebih kurang 10-15 % dari seluruh penyakit jantung bawaan, diantara
penyakit jantung bawaan sianotik Tetralogi fallot merupakan 2/3 nya. Tetralogi fallot
merupakan penyakit jantung bawaan yang paling sering ditemukan yang ditandai dengan
sianosis sentral akibat adanya pirau kanan ke kiri.
B. DEFINISI
Tetralogi Fallot (TOF) adalah penyakit jantung bawaan tipe sianotik. Kelainan yang terjadi
adalah kelainan pertumbuhan dimana terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum
intraventrikular (sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit sama
besar dengan lubang aorta. Sebagai konsekuensinya didapatkan adanya empat kelainan anatomi
sebagai berikut:
1. Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel
2. Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari
bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan
penyempitan
3. Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri
mengangkang sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan
4. Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karena peningkatan
tekanan di ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah
stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin
lama makin berat.
Jadi tetralogi of fallot adalah kombinasi dari obstruksi aliran ke luar dari bilik kanan
(stenosis pulmonal), Defek Septum Ventrikel (VSD), aorta overriding, dan hipertrofi ventrikel
kanan.

C. ETIOLOGI
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui
secara pasti diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor faktor tersebut
antara lain :
1. Faktor endogen
a. Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom
b. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
c. Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi,
penyakit jantung atau kelainan bawaan
2. Faktor eksogen
a. Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obatobatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine, aminopterin,
amethopterin, jamu)
b. Ibu menderita penyakit infeksi : rubella
c. Pajanan terhadap sinar X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang
terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus
penyebab adalah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus
ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan
pembentukan jantung janin sudah selesai.
D. PATHOFISIOLOGI
Tetralogi fallot merupakan kelainan Empat Sekawan yang terdiri dari defek
septum ventrikel, overriding aorta, stenosis infundibuler dan hipertrofi ventrikel kanan.
Secara anatomis sesungguhnya tetralogi fallot merupakan suatu defek ventrikel
subaraortik yang disertai deviasi ke anteriol septum infundibuler (bagian basal dekat dari
aorta). Devisiasi ini menyebabkan akar aorta bergeser ke depan (dekstroposisi aorta),
sehinnga terjadi overriding aorta terhadap septum interventrikuler, stenosis pada bagian
infundibuler ventrikel kanan dan hipoplasia arteri pulmonal. Pada tetralogi fallot,

overriding aorta biasanya tidak melebihi 50 %. Apabila overriding aorta melebihi 50 %,


hendaknya dipikirkan kemungkinan adanya suatu outlet ganda ventrikel kanan.
Deviasi septum infindibuler ke arah anteriol ini sesungguhnya merupakan bagian
yang paling esensial pada tetralogi fallot.Itulah sebabnya suatu defek septum ventrikel
dan overriding aorta yang disertai stenosis pulmonal valvuler misalnya, tidak bisa disebut
sebagai tetralogi fallot apabila tidak terdapat devisiasi septum infundibuler ke anteriol.
Kadang-kadang tetralogi fallot disertai pada adanya septum antrium sekunder dan
kelompok kelainan ini disebut sebagai tetralogi fallot.
Betapapun tekanan dalam ventrilel kanan meninggi karena obstruksi infundibuler,
tapi dengan adanya defek septum ventrikel pada tetralogi fallot, daerah didorong ke kiri
masuk ke aorta, sehingga tekanan dalam ventrikel kanan, ventrikel kiri dan aorta relative
menjadi sama. Itulah sebabnya mungkin mengapa pada tetralogi fallot jarang terjadi
gagal jantung kongestif, berbeda dengan stenosis pulmonal yang berat tanpa disertai
defek septum ventrikel, gagal jantung kongestif bisa saja melebihi tekanan sistemik.
Sianosis merupakan gejala tetralogi fallot yang utama.Berat ringanya sianosis ini
tergantung dari severitas stenosis infindibuler yang terjadi pada tetralogi fallot dan arah
pirau interventrikuler.Sianosis dapat timbul semenjak lahir dan ini menandakan adanya
suatu stenosis pulmonal yang berat atau bahkan atresia pulmonal atau bisa pula sianosois
timbul beberapa bulan kemudian pada stenosis pulmonal yang ringan. Sianosis biasanya
berkembang perlahan-lahan dengan bertambahnya usia dan ini menandakan adanya
peningkatan hipertrofi infindibuler pulmonal yang memperberat obstruksi pada bagian
itu.
Stenosis infindibuler merupakan beban tekanan berlebih yang kronis bagi ventrkel
kanan, sehingga lama-lama ventrikel kanan mengalami hipertrofi. Disamping itu, dengan
meningkatnya usia dan meningkatnya tekanan dalam ventrikel kanan, kolateralisasi aorta
pulmonal sering tumbuh luas pada tetralogi fallot, melalui cabang-cabang mediastinal,
brokhial, esophageal, subklavika dan anomaly arteri lainya. Kolateralisasi ini disebut
MAPCA ( major aorta pulmonary collateral arteries).
E. Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala Tetralogi of Fallot antara lain :

1. Murmur
Merupakan suara tambahan yang dapat didengar pada denyut jantung bayi. Pada
banyak kasus, suara murmur baru akan terdengar setelah bayi berumur beberapa hari.
2. Sianosis
Satu dari manifestasi-manifestasi tetralogi yang paling nyata, mungkin tidak
ditemukan pada waktu lahir. Obstruksi aliran keluar ventrikel kanan mungkin tidak
berat dan bayi tersebut mungkin mempunyai pintasan dari kiri ke kanan yang besar,
bahkan mungkin terdapat suatu gagal jantung kongesif.
3. Dispneu
Terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik. Bayi-bayi dan anak-anak yang mulai
belajar bejalan akan bermain aktif untuk waktu singkat kemudian akan duduk atau
berbaring. Anak- anak yang lebih besar mungkin mampu berjalan sejauh kurang lebih
satu blok, sebelum berhenti untuk beristirahat. Derajat kerusakan yang dialami
jantung penderita tercermin oleh intensitas sianosis yang terjadi. Secara khas anakanak akan mengambil sikap berjongkok untuk meringankan dan menghilangkan
dispneu yang terjadi akibat dari aktifitas fisik, biasanya anak tersebut dapat
melanjutkan aktifitasnya kembali dalam beberapa menit.
4. Serangan-serangan dispneu paroksimal (serangan-serangan anoksia biru)
Terutama merupakan masalah selama 2 tahun pertama kehidupan penderita. Bayi
tersebut menjadi dispneis dan gelisah, sianosis yang terjadi bertambah hebat,
pendertita mulai sulit bernapas. Serangan-serangan demikian paling sering terjadi
pada pagi hari.
5. Pertumbuhan dan perkembangan
Yang tidak tumbuh dan berkembang secara tidak normal dapat mengalami
keterlambatan pada tetralogi Fallot berat yang tidak diobati. Tinggi badan dan
keadaan gizi biasanya berada di bawah rata-rataserta otot-otot dari jaringan subkutan
terlihat kendur dan lunak dan masa pubertas juga terlambat.
6. Biasanya denyut pembuluh darah normal
Seperti halnya tekanan darah arteri dan vena. Hemitoraks kiri depan dapat menonjol
ke depan. Jantung biasanya mempunyai ukuran normal dan impuls apeks tampak

jelas. Suatugerakan sistolis dapat dirasakan pada 50% kasus sepanjang tepi kiri tulang
dada, pada celah parasternal ke-3 dan ke-4.
7. Bising sistolik
Yang ditemukan seringkali terdengar keras dan kasar, bising tersebut dapat menyebar
luas, tetapi paling besar intensitasnya pada tepi kiri tulang dada. Bising sistolik terjadi
di atas lintasan aliran keluar ventrikel kanan serta cenderung kurang menonjol pada
obstruksi berat dan pintasan dari kanan ke kiri. Bunyi jantung ke-2 terdengar tunggal
dan ditimbulkan oleh penutupan katup aorta. Bising sistolik tersebut jarang diikuti
oleh bising diastolis, bising yang terus menerus ini dapat terdengar pada setiap bagian
dada, baik di anterior maupun posterior, bising tersebut dihasilkan oleh pembuluhpembuluh darah koleteral bronkus yang melebar atau terkadang oleh suatu duktus
arteriosus menetap.
F. KOMPLIKASI
1. Trombosis serebri
Biasanya terjadi dalam vene serebrum atau sinus duralis, dan terkadang dalam arteri
serebrum, lebih sering ditemukan pada polisitemia hebat. juga dapat dibangkitkan
oleh dehidrasi. trombosis lebih sering ditemukan pada usia di bawah 2 tahun. pada
penderita ini paling sering mengalami anemia defisiensi besi dengan kadar
hemoglobin dan hematokrit dalam batas-batas normal.
2. Asbes otak
Biasanya penderita penyakit ini telah mencapai usia di atas 2 tahun. Awitan penyakit
sering berlangsung tersembunyi disertai demam berderajat rendah. mungkin
ditemukan nyeri tekan setempat pada kranium, dan laju endap darah merah serta
hitung jenis leukosit dapat meningkat. dapat terjadi serangan-serangan seperti
epilepsi, tanda-tanda neurologis yang terlokalisasi tergantung dari tempat dan ukuran
abses tersebut.
3. Endokarditis bakterialis
Terjadi pada penderita yang tidak mengalami pembedahan, tetapi lebih sering
ditemukan pada anak dengan prosedur pembuatan pintasan selama masa bayi.
4. Gagal jantung kongestif

Dapat terjadi pada bayi dengan atresia paru dan aliran darah kolateral yang besar.
keadaan ini, hampir tanpa pengecualian, akan mengalami penurunan selama bulan
pertama kehidupan dan penderita menjadi sianotis akibat sirkulasi paru yang
menurun.
5. Hipoksia
Keadaan kekurangan oksigen dalam jaringan akibat dari stenosis pulmonal sehingga
menyebabkan aliran darah dalam paru menurun.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi
oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan
hematokrit antara 50-65 %.
b. BGA
Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2),
penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hn
dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi
c. Analisa Gas Darah
PCV meningkat. PCV lebih besar 65%, dapat menimbulkan kelainan koagulasi :
waktu perdarahan memanjang, fragilitas kapiler meningkat, umur trombosit yang
abnormal.
d. Desaturasi darah arterial.
e. Anemia hipokrom mikrositer (karena defisiensi besi).
2. Rontgen thorax (radiologi)
a. Jantung tidak membesar
b. Arkus aorta disebelah kanan (25%)
c. Aorta asendens melebar
d. Konus pulmonalis cekung
e. Apeks terangkat
f. Vaskularitas paru berkurang
g. Jantung berbentuk sepatu
3. EKG

Defisiasi sumbu QRS ke kanan (RAD) hipertrofi ventrikel kanan (RVH): gelombang
P diantara II sering tinggi.
4. Ekokardiogram
a. Overiding aorta
b. Defect septum ventrikel
c. Jalan keluar ventrikel kanan menyempit.
d. Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek septum
ventrikel multiple, mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis
pulmonal perifer. Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan
tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Sianosis berat : beri prostaglandin E1 (PGE1) Untuk mempertahankan kepatenan
duktus dan meningkatkan aliran darah paru
b. Sianosi ringan : observasi ketat bayi, jika sianosis memburuk setelah penutupan
ductus, bayi ini membutuhkan koreksi bedah selamaperiode neonatal
c. Antibiotik : sesuai hasil kultur sensitivitas, kadang digunakan anti biotic
propilaksis
d. Diuresik : untuk meningkatkan dieresis, mengurangi kelebihan cairan,
digunakan dalam pengobatan edema yang berhubungan dengan gagal jantung
kongestif.
e. Digitalis : meningkatkan kekuatan kontraksi ,isi sekuncup,dan curah jantung
serta menurunkan tekanan vena jantung, digunakan untuk mengobati gagal
jantung kongesti dan aritmia jantung tertentu ( jarang diberi sebelum koreksi,
kecuali jika pirau terlalu besar)
f. Besi untuk mengatasi anemia
g. Betablocker ( propanolol ) : menurunkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi
serta iritabilitas myokard , dipakai untuk mencegah dan mengobati serangan
hypersianosis.
h. Morfin : meningkatkan ambang sakit, mengobati hypersianosis dengan
menghambat pusat pernafasan dan reflek batuk.
i. NaHCO3, sebuah pengalkali sistemik kuat: untuk mengobati asidosis dengan
mengganti ion bicarbonate dan memulihkan kapasitas buffer tubuh.
2. Penatalaksanaan Pembedahan
a. Pembedahan paliatif

Dengan suatau shunt procedure diharapkan paru akan mendapat darah lebih
banyak dan sianosis akan menghilang.Cara :
1) Prosedur Blalock Taussig : Anastomosis antara arteri sistemik (A.
subklavia, A. karotis) dengan arteri pulmonalis proksimal yang
ipsilateral.Arteri subklavia yang berhadapan dengan sisi lengkung aorta
diikat, dibelah dan dianastomosiskan ke arteri pulmonal kotralateral.
Keuntungan pirau ini adalah membuat pirau yang sangat kecil, yang tumbuh
bersama anak, dan mudah mengangkatnya selama perbaikan definitive.
Prosedur ini memakai bahan prostetik, umumnya politetrafluoroetilen.
Dengan pirau ini , ukurannya dapat lebih dikendalikan, dan lebih mudah pada
saat anak masih muda.Konsekuensi hemodinamik dari pirau Blalock-Taussig
adalah untuk memungkinkan darah sistemik memasuki sirkulasi pulmonal
melalui arteri subklavia, yang meningkatkan aliran darah pulmonal dengan
tekanan rendah dan menghindari kongesti paru. Aliran darah ini
memungkinkan stabilisasi, meningkatkan status jantung dan paru sampai
anak tersebut cukup besar untuk menghadapi pembedahan korektif dengan
aman.
2) Prosedur Waterson : Anastomosis antara aorta asendens dengan arteri
pulmonalis kanan. Indikasi : Tindakan ini dilakukan apabila koreksi total
tidak atau belum dimungkinkan (misalnya pada hipoplasia arteri pulmonalis
atau pada bayi). dengan prosedur ini diharapkan arteri pulmonalis dapat
berkembang.
b. Pembedahan kolektif.
1) Penutupan defek septum ventrikel
2) Reteksi infundibulum
3) Valvulotomi untuk stenosis pulmonal
I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN KEPERAWATA
a. Anamnesa
1) Riwayat kehamilan :
Ditanyakan apakah ada faktor endogen dan eksogen.
Faktor Endogen
a) Berbagai jenis penyakit genetik : Kelainan kromosom
b) Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan
c) Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus,
hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan

Faktor eksogen :
a) Sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa
resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin,
amethopterin, jamu)
b) Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella
c) Pajanan terhadap sinar X
2) Riwayat tumbuh
Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena
fatique selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari
kondisi penyakit Anak akan sering Squatting (jongkok) setelah anak dapat
berjalan, setelah berjalan beberapa lama anak akan berjongkok dalam
beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.
3) Riwayat psikososial/ perkembangan
a) Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
b) Mekanisme koping anak/ keluarga
c) Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
b. Pemeriksaan fisik
1) Akivitas dan istirahat
Gejala : Malaise, keterbatasan aktivitas/ istirahat karena
Tanda

kondisinya.
: Ataksia, lemas, masalah berjalan, kelemahan umum,

keterbatasan dalam rentang gerak.


2) Sirkulasi
Gejala

: Takikardi, disritmia

Tanda

: adanya Clubbing finger setelah 6 bulan, sianosis


pada membran muksa, gigi sianotik

3) Eliminasi
Tanda : Adanya inkontinensia dan atau retensi.
4) Makanan/ cairan
Tanda

: Kehilangan nafsu makan,kesulitan menelan, sulit


menetek

Gejala

: Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa


kering

5) Hiegiene
Tanda

: ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan


diri.

6) Neurosensori
Tanda

: Kejang, kaku kuduk

Gejala : Tingkat kesadaran letargi hingga koma bahkan kematian


7) Nyeri/ keamanan
Tanda

: Sakit kepala berdenyut hebat pada frontal, leher kaku

Gejala

: Tampak terus terjaga, gelisah, menangis/ mengaduh/


mengeluh

8) Pernafasan
Tanda

: Auskultasi terdengar bising sistolik yang keras didaerah


pulmonal yang semakin melemah dengan bertambahnya
derajat obstruksi

Gejala : Dyspnea, napas cepat dan dalam


9) Nyeri/ keamanan
Tanda

: Sianosis, pusing, kejang

Gejala : Suhu meningkat, menggigil, kelemahan secara umum,


c. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium :Peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht)
akibat saturasi oksigen yang rendah
2) Radiologis :Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah
pulmonal, tidak ada pembesaran jantung, gambaran khas jantung tampak
apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu
3) Elektrokardiogram ( EKG) : Pada EKG sumbu QRS hampir selalu
berdeviasi ke kanan. Tampak pula hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar
dijumpai P pulmonal
4) Ekokardiografi : Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan
dilatasi ventrikel kanan, penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan
aliran darah ke paru-paru
5) Katerisasi jantung : ditemukan adanya defek septum ventrikel multiple,
mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer
6) Gas darah : adanya penurunan saturasi oksigen dan penurunan PaO2
2. DIAGNOSA DAN RENCANA INTERVENSI
a. Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung.
Tujuan: penurunan cardiac output tidak terjadi.

Kriteria hasil: tanda vital dalam batas yang dapat diterima, bebas gejala gagal jantung,
melaporkan penurunan episode dispnea, ikut serta dalam aktifitas yang mengurangi
beban kerja jantung, urine output adekuat: 0,5 2 ml/kgBB.
Rencana intervensi dan rasional:
TUJUAN

INTERVENSI

Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Kaji

RASIONAL

frekuensi 1. Memonitor

selama 3 x 24 jam, diharapkan

nadi,

RR,

penurunan cardiac output pada klien

secara

dapat diatasi, dengan kriteria hasil :

setiap 4 jam.

teratur

1. denyut nadi klien kembali normal, 2. Catat


yaitu 90 140 x/mnt

TD

tubuhnya.

jantung

sedini

bunyi 2. Mengetahui adanya

jantung.

perubahan

irama

jantung.

3. Klien tidak terlihat lemah dan 3. Kaji


sianosis

perubahan sirkulasi
mungkin.

2. Klien tidak terlihat pucat.


mengalami

adanya

pada

perubahan 3. Pucat menunjukkan

warna
terhadap

kulit

adanya

penurunan

sianosis

perfusi

perifer

dan pucat.

terhadap

tidak

adekuatnya

curah

jantung.

Sianosis

terjadi sebagai akibat


adanya
aliran

obstruksi
darah

pada

ventrikel.
4. Pantau intake dan 4. Ginjal

berespon

output setiap 24

untuk

menurunkna

jam.

curah

jantung

dengan

menahan

produksi cairan dan


natrium.
5. Batasi

aktifitas 5. Istirahat

secara adekuat.

memadai

diperlukan
memperbaiki

untuk

efisiensi

kontraksi

jantung

dan

menurunkan
komsumsi O2 dan
kerja berlebihan.
6. Berikan

kondisi 6. Stres

psikologis

emosi

menghasilkan

lingkungan

yang

tenang.

vasokontriksi
yangmeningkatkan
TD

dan

meningkatkan kerja
jantung.
b. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan pemenuhan O2 terhadap kebutuhan
tubuh.
Tujuan: Pasien akan menunjukkan keseimbangan energi yang adekuat.
Kriteria hasil: Pasien dapat mengikuti aktifitas sesuai kemampuan, istirahat tidur
tercukupi.
Rencana intervensi dan rasional:
TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Ikuti pola istirahat 1. Menghindari


selama 3 x 24 jam, diharapkan

pasien,

masalah intoleransi aktivitas dapat

pemberian

teratasi dengan kriteria hasil:

intervensi

1. Pasien

dapat

melakukan

hindari

gangguan

pada

istirahat tidur pasien


pada

saat istirahat.

sehingga kebutuhan
energi dapat dibatasi

aktivitas sesuai dengan batas

untuk aktifitas lain

kemampuan

yang lebih penting.

2. Klien dapat tidur nyenyak 2. Lakukan


pada malam hari
3. Klien

terlihat

ketika terbangun

lebih

segar

2. Meningkatkan

perawatan dengan

kebutuhan

cepat,

pasien

hindari

pengeluaran energi

menghemat

berlebih

pasien.

dari

istirahat
dan
energi

pasien.
3. Bantu

pasien 3. Menghindarkan

memilih

kegiatan

yang

tidak

melelahkan.

pasien dari kegiatan


yang
dan

melelahkan
meningkatkan

beban kerja jantung.


4. Hindari perubahan 4. Perubahan
suhu

lingkungan

yang mendadak.

suhu

lingkungan

yang

mendadak
merangsang
kebutuhan

akan

oksigen

yang

meningkat.
5. Kurangi

5. Kecemasan

kecemasan pasien

meningkatkan

dengan

respon

memberi

penjelasan

yang

yang

psikologis
merangsang

dibutuhkan pasien

peningkatan kortisol

dan keluarga.

dan

meningkatkan

suplai O2.
6. Respon perubahan 6. Stres dan kecemasan
keadaan psikologis

berpengaruh

pasien (menangis,

terhadap kebutuhan

murung

O2 jaringan.

dll)

dengan baik.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat, kebutuhan
nutrisi jaringan tubuh, isolasi social.
Tujuan: Pertumbuhan dan perkembangan dapat mengikuti kurva tumbuh kembang
sesuai dengan usia.
Kriteria hasil: Pasien dapat mengikuti tahap pertumbuhan dan perkembangan yang
sesuia dengan usia, pasien terbebas dari isolasi social.:
Rencana intervensi dan rasional:

TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Sediakan


selama 3 x 24 jam, diharapkan

kebutuhan

pertumbuhan dan perkembangan klien

adekuat.

dapat

mengikuti

kurva

1. Menunjang

nutrisi

kebutuhan

nutrisi

pada

tumbuh

masa

pertumbuhan

kembang sesuai dengan usia

dan

perkembangan serta
meningkatkan daya
tahan tubuh
2. Monitor

BB/TB, 2. Sebagai

monitor

buat

catatan

terhadap

khusus

sebagai

pertumbuhan

monitor.

keadaan
dan

keadaan gizi pasien


selama dirawat.

3. Kolaborasi

intake 3. Mencegah terjadinya

Fe dalam nutrisi.

anemia

sedini

mungkin

sebagi

akibat

penurunan

kardiak output.
d. Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat.
Tujuan: Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil: Bebas dari tanda tanda infeksi.
Rencana intervensi dan rasional:

TUJUAN

INTERVENSI

Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Kaji

RASIONAL

tanda

vital 1. Memonitor

gejala

selama 3 x 24 jam, diharapkan infeksi

dan tanda tanda

dan

pada klien tidak terjadi dengan kriteria

infeksi

sedini mungkin.

hasil :

lainnya.

1. Terbebas dari tanda - tanda 2. Hindari

infeksi
2. Menunjukkan hygiene pribadi

dengan

umum

tanda

infeksi

kontak 2. Menghindarkan
sumber

infeksi.

pasien

dari

kemungkinan

yang adekuat

terkena infeksi dari


sumber yang dapat
dihindari
3. Sediakan

istirahat

waktu 3. Istirahat
yang

adekuat.

adekuat

membantu
meningkatkan
keadaan

umum

pasien.
4. Sediakan

kebutuhan
yang

4. Nutrisi

nutrisi
adekuat

sesuai kebutuhan.

adekuat

menunjang

daya

tahan tubuh pasien


yang optimal.