Anda di halaman 1dari 14

TOKSOPLASMOSIS

Refrat
Sebagai tugas akhir Blok Infeksi Tropik

Oleh:
Aulia Putri Mentari
04111001114

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

TOKSOPLASMOSIS
1. Pendahuluan
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii
yang merupakan protozoa interseluler obligat yang menginfeksi lebih dari sepertiga
populasi dunia. Seseorang dapat terinfeksi T. gondii akibat mengkonsumsi kista
yang terdapat di dalam daging mentah pejamu perantara protozoa teersebut, terutama
babi dan domba, atau dapat juga karena mengkonsumsi air atau makanan yang telah
terkontaminasi oleh kotoran pejamu definitif, bagian dari feline family, yang
mengandung ookista. Toksoplasmosis dapat muncul dengan beragam tanda dan
gejala, salah satu yang paling sering adalah asmitomatik limfadenopati.
2. Isi
Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii.
Toksoplasma merupakan salah satu protozoa berbentuk kokus yang berkaitan dengan
Plasmodium, Isospora, dan anggota lainnya dari phylum Apicomplexa yang jika
menginfeksi manusia, perjalanan penyakitnya dapat akut atau menahun. Gejalanya
dapat simtomatik maupun asimtomatik. Penyakit ini telah tersebar di seluruh dunia.
Toxoplasma gondii memiliki 3 bentuk di alam, yakni:
1. Ookista adalah bentuk yang resisten di alam
2. Tropozoid adalah bentuk vegetative dan proliferative
3. Kista adalah bentuk yang resisten di dalam tubuh
Ookista yang terdapat di tanah merupakan sumber infeksi bagi herbivore seperti,
domba, kambing, sapi, dan hewan ternak pemakan rumput lainnya. Karena infeksinya
kebanyakan bersifat menetap atau menahun, maka daging yang mentah atau setengah
matang menjadi sumber infeksi untuk manusia ataupun hewan karnivora, contohnya
kucing.

Infeksi pada manusia didapatkan melalui:


1. Ookista yang berasal dari tinja pejamu definitive (kucing) tertelan melalui
mulut
2. Memakan daging setengah matang yang berasal dari binatang yang
mengandung kista infektif
3. Penularan congenital dari ibu terhadap bayi pada bulan-bulan pertama
kehamilan.

Gambar 1. Cara penularan Toksoplasmosis

Sumber: http:// www. Jpedhc.org (2011)

Siklus hidup toksoplasma ini ada 2 fase, yakni:


1. Bentuk proliferative terjadi pada pejamu perantara, yaitu burung, mamalia,
termasuk manusia
2. Bentuk reproduktif terjadi pada usus kucing sebagai pejamu definitive
Setelah invasi parasit yang biasanya terjadi di usus, parasit memasuki sel atau
difagositosis. Parasit berkembang biak dalam sel, menyebabkan sel pejamu pecah dan

menyerang sel lain di sekitarnya. Toksoplasma dapat tetap hidup dalam makrofag,
sehingga dapat menyebar secara hematogen dan limfogen ke seluruh tubuh. Parasit
dapat menyerang semua organ dan
jaringan tubuh pejamu, kecuali sel
darah merah yang tidak berinti.
Kerusakan jaringan oleh parasit
dapat dihentikan oleh kekebalan
humoral maupun seluler pejamu.
Namun, kerusakan dapat berlanjut
di jaringan dimana zat anti tidak dapat masuk karena ada sawar, misalnya di jaringan
otak dan mata.
Kista dibentuk setelah ada kekebalan, yaitu hari ke-8 setelah infeksi, dan dapat
ditemukan di berbagai alat dan jaringan, mungkin untuk seumur hidup, misalnya di
sel otot jantung, dan sel otot bergaris. Kista dapat pecah dan tropozoit yang bebas
membentuk kista lagi disekitarnya atau berkembang biak dengan cepat dan
menghancurkan sel yang diserang, memasuki lagi sel-sel di sekitarnya dan
menghancurkannya. Dengan demikian akan menyebabkan kerusakan jaringan yang
makin luas terutama di daerah yang tidak ada zat anti seperti di otak dan retina.
Korioretinitis pada dewasa dan remaja dianggap sebagai fenomen hipersensitivitas,
sedangkan ada anggapan lain, yaitu bahwa korioretinitis akut dan yang rekurens
disebabkan berkembangbiaknya tropozoit di retina.
Infeksi postnatal pada orang dewasa biasanya tidak menyebabkan gejala apapun.
Kadang-kadang tampak limfadenopati di daerah servikal dan di daerah lainnya
disertai demam ringan. Namun, bila seorang ibu yang sedang hamil mendapat infeksi
primer, maka ada kemungkinan bahwa 40% dari bayi yang dikandungnya terinfeksi
T. gondii. Infeksi pada kehamilan muda dapat menyebabkan abortus atau kelahiran
mati, sedangkan infeksi pada kehamilan lebih lanjut atau menjelang kelahiran dapat

berakibat bayi premature atau cukup bulan dengan gejala toksoplasmosis congenital,
atau bayi dilahirkan normal dan gejala toksoplasmosis baru timbul beberapa minggu
atau beberapa bulan setelah kelahiran, bahkan kadang-kadang gejala baru tampak
beberapa tahun kemudian.
Manifestasi klinik
Untuk memudahkan penanganan klinis, toksoplasmosis dibagi

dalam 4 kategori

yaitu:
1. Infeksi pada pasien imunokompeten (didapat/acquired, baru dan kronik)
Pada orang dewasa hanya 10-20% kasus toksoplasmosis menunjukkan
gejala. Sisanya asimtomatik, dan tidak sampai menimbulkan gejala
konstitusional. Tersering adalah limfadenopati leher, tetapi mungkin juga
didapatkan pembesaran getah bening mulut atau pembesaran satu gugus
kelenjar. Kelenjar-kelenjar biasanya berpisah atau tersebar, ukurannya
jaranglebih besar dari 3 cm, tidak nyeri, kekenyalannya bervariasi dan tidak
bernanah. Adenopati kelenjar mesenterial atau retroperitoneal dapat
menimbulkan nyeri abdomen.
Gejala dan tanda-tanda berikutnya yang mungkin dijumpai adalah;
demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, sakit tenggorok, eritem
makulopapular, hepatomegali, splenomegali. Gambaran klinis umum seperti
yang disebabkan oleh infeksi virus mungkin juga dijumpai.
Korioretinitis dapat terjadi pada infeksi akut yang baru, biasanya
unilateral. Berbeda dengan korioretinitis bilateral pada toksoplasmosis
congenital. Perjalanan penyakit pada pasien yang imunokompeten seperti
diterangkan sebelumnya, bersifat membatasi diri (self limiting). Gejala-gejala
bila ada, menghilang dalam beberapa minggu atau bulan dan jarang diatas 12
bulan.

Limfadenopati dapat bertambah atau menyusut atau menetap dalam


waktu lebih dari 1 tahun. Pada orang yang kelihatannya sehat, jarangsekali
penyakit ini menjadi terbuka atau meluas mengancam maut.
Karena manifestasi klnis toksoplasmosis tidak khas, diagnosis banding
limfadenopati yang perlu dipikirkan antara lain ialah tuberculosis, limfoma,
mononucleosis infeksiosa, infeksi virus Cytomegalo, penyakit gigitan kucing
(cat bite fever, tularemia), penyakit cakaran kucing (cat stratch fever),
sarkoidosis dan sebagainya.
Toksoplasmosis yang melibatkan banyak organ tubuh dapat menyerupai
gambaran penyakit hepatitis, miokarditis, polimiositis dengan penyebab lain,
atau demam berkepanjangan yang tidak diketahui sebabnya (FUO).
Sangat disayangkan bahwa limfadenopati kurang banyak diingat sebagai
diagnosis

banding.

Padahal,

toksoplasmosis

merupakan

7-10% dari

limfadenopati yang klinis jelas.


Titer tes serologi untuk diagnossi toksoplasmosis akut biasanya
didapatkan sesudah biopsy kelenjar yang dicurigai sebagai toksoplasmosis.
2. Infeksi pada pasien imunodefisien (didapat dan reaktivitas)
Pasien imunodefisiensi mempunyai resiko tinggi untuk mengidap
toksoplasmosis yang berat dan sering fatal akibat infeksi baru maupun
reaktivitas. Penyakitnya dapat berkembang dalam berbagai bentuk penyakit
susunan saraf pusat seperti ensefalitis, meningoensefalitis, atau space
occupying lesion (SOL). Selanjutnya dpat pula miokarditis atau pneumonitis,
pada transplantasi jantung toksoplasmosis timbul pada pasien seronegatif
yang menerima jantung dari donor yang seropositif, dan manifestasinya dapat
menyerupai rejeksi organ seperti yang telah terbukti dengan biopsy
endomiokard. Penemuan lain ialah bahwa pasien yang menerima jantung dari
donor seropositif menunjukkan titer antibody IgM dan IgG yang meningkat
sesudah transplantasi. Pada pasien dengan transplatasi sumsum tulang,
toksoplasmosis timbul sebagai akibat reaktivasi infeksi yang laten.
Sebenarnya dalam klnik dewasa, toksoplasmosis ini sangat under
diagnosed pada pasien-pasien imunodefisien. Hal ini terlihat dari banyaknya

kasus-kasus yang terdiagnosis pada beberapa institusi, besarnya jumlah kasus


positif pada laporan-laporan autopsy, dan dari persentase toksoplasma yang
non spesifik dan beraneka raga mini.
Infeksi akut susunan saraf pusat harus dibedakan dari meningoensefalitis
oleh penyebab lainnya, seperti herpes simpleks, fungus, dan tuberculosis,
abses otak, lupus, dan sebagainya.
Pada pasien imunodefisien, bila ditemukan pleisitosis mononuclear
dengna kadar protein tinggi, tanda-tanda adanya bakteri atau fungus, perlu
dipertimbangkan adanya toksoplasmosis.
Toksoplasmosis pada AIDS
Toksoplasmosis pada AIDS adalah infeksi oportunistik.
Keterlibatan sistemik toksoplasmosis pada AIDS tak berbeda dengan
pada pasien imunodefisien lainnya. Satu hal yang menonjol ialah ensefalitis
yang jauh lebih sering ditemukan pada pasien AIDS.
3. Infeksi mata (ocular)
Infeksi toksoplasma menyebabkan korioretinitis. Bagian terbesar kasuskasus korioretinitis ini merupakan akibat infeksi congenital. Pasien-pasien ini
biasanya menunjukkan gejala-gejala sampai usia lanjut. Korioretinitis pada
infeksi baru bersifat khas, unilateral, sedangkan, korioretinitis yang
terdiagnosis waktu lahir khasnya ialah bilateral. Gejala-gejala korioretinitis
akut ialah: penglihatan kabur, skotoma, nyeri, fotofobia, dan epifora.
Gangguan atau kehilangan sentral terjadi bila macula terlibat. Dengan
membaiknya peradangan, visus pun membaik, namun sering tidak sempurna.
Panuveitis dapat menyertai korioretinitis. Papilitis dapat ditemukan bila ada
kelainan susunan saraf pusat yang jelas.
Diagnosis banding adalah uveitis posterior pada tuberculosis, sifilis, lepra
atau histoplasmosis.
4. Infeksi congenital
Manifestasi klinis
Bila ibu hamil terinfeksi toksoplasma, terjadi beberapa kemungkinan
pada janin:
a. Abortus atau lahir mati
b. Bayi tidak terinfeksi

c. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinis


d. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinis pada mulanya, kemudian timbul
gejala klinis
e. Bayi terinfeksi dengan gejala subklinis
f. Bayi terinfeksi dengan gejala sistemik
g. Bayi terinfeksi dengan gejala neurologis dengan atau tanpa
korioretinitis
h. Bayi terinfeksi dengan korioretinitis
Diagnosis
Diagnosis klinis sukar dibuat karena gejalanya mirip banyak penyakit
lain. Toksoplasmosis akuisita biasanya berlangsung tanpa gejala apapun,
namun seorang ibu yang hamil dapat melahirkan anak dengan toksoplasmosis
congenital bila mendapat infeksi primer di waktu hamil.
Diagnosis dari infeksi akut toksoplasma dapat dilakukan melalui isolasi
T. gondii dari darah atau cairan-cairan tubuh, menemukan kista pada plasenta
atau jaringan fetus atau bayi yang baru lahir, mendeteksi antigen dan/atau
organisme pada bagian atau preparat jaringan dan cairan-cairan tubuh, melihat
dari antigenemia dan antigen di serum serta cairan-cairan tubuh, atau dengan
tes serologi1.
Berikut adalah standar baku yang biasa dilakukan di Eropa: Skrining
awal untuk diagnosis infeksi maternal umumnya dilakukan tes serologi
menggunakan spesimen darah untuk melihat keberadaan IgG dan IgM spesifik
terhadap toksoplasma. Jika IgM spesifik terhadap toksoplasma terdeteksi
dan/atau pada kajian berikutnya dijumpai IgG spesifik terhadap toksoplasma
(hasil positif titer 6 IU/ml), spesimen dianalisa dengan tes tambahan yang
lebih spesifik. Direct agglutination assay for IgG (Toxo-Screen DA IgG [hasil
dianggap positif bila titer 40]), Immunosorbent agglutination assay for IgM

(Toxo-ISAGA IgM, hasil dianggap positif bila indeks 9), dan tes pewarnaan
(hasil positif, 6 IU/ml).
Diagnosis segera dari infeksi fetus dapat ditegakkan bila infeksi T. gondii
maternal sudah dipastikan. Penderita tersebut biasanya dijelaskan secara
terperinci mengenai infeksi toksoplasmosis dan segala risiko yang dapat
terjadi. Pemeriksaan USG untuk melihat fetus segera dilakukan, dan wanita
tersebut akan dianjurkan untuk melakukan amniosentesis sesegera mungkin
sebelum 12 minggu masa gestasi. Cairan amnion (10 hingga 20 ml) akan
disentrifuge,

dan

pelet

diendapkan

ulang

lalu

diinokulasi

secara

intraperitoneal pada tikus untuk deteksi viabel. Cairan amnion (1,5 ml) juga
diperiksa dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi
adanya DNA (gen B1) toksoplasma. Pengobatan dengan menggunakan
antiparasit kepada wanita hamil dilakukan dengan menggunakan spiramycin
(sebelum minggu ke-18 masa gestasi) dan/atau pyrimethamine, sulfonamide,
dan asam folat (setelah minggu ke-18 masa gestasi) sesuai dengan panduan
yang telah ditentukan, yang direkomendasi untuk seluruh wanita.
Dalam menginterprestasikan hasil dari tes anti-toksoplasma IgM haruslah
berhati-hati. Dianjurkan oleh FDA (Food and Drug Administration) di
Amerika agar tidak bergantung terhadap hasil tes tunggal, karena dijumpai
pada beberapa tes dapat terjadi hasil positif palsu (false-positive). Hal ini
dapat menghasilkan diagnosis yang keliru dan menghasilkan pengobatan yang
sebenarnya tidak diperlukan atau bahkan terminasi dari kehamilan.
Toksoplasmosis yang secara medis penting adalah toksoplasmosis
congenital dan toksoplasmosis pada pasien imunodefisiensi. Oleh karena itu,
diagnosis penting dibuat pada neonates, pada ibu-ibu hamil, terutama pada
permulaan kehamilan dan pada pasien imunodefisiensi.

10

Diagnosis dengan menemukan tropozoit dalam jaringan (biopsy, sumsum


tulang) atau cairan tubuh (cairan ventrikel, cairan serebrospinal, aqueous
humor) memastikan adanya infeksi akut, tetapi parasit sukar ditemukan
dengan pulsan biasa. Ditemukannya kista dalam jaringan menunjukan adanya
toksoplasmosis, tetapi tidak dapat dibedakan antara infeksi akut dan infeksi
menahun karena kista dapat dibentuk apda infeksi dini.
Diagnosis secara serologi dapat dibuat dengan mendeteksi zat anti IgM
spesifik dan IgG spesifik. Adanya zat anti IgM menunjukkan infeksi akut,
tetapi zat anti igM dapat ditemukan selama 2-3 bulan atau lebih lama dalam
darah, sehingga bila igM ditemukan pada wanita yang hamil beberapa bulan,
infeksi mungkin terjadi waktu kehamilan, sehingga ada resiko dilahirkan bayi
dengan toksoplasmosis congenital, tetpi infeksi dapat pula terjadi sebelum
kehamilan tanpa resiko kelahiran bayi dengan toksoplasmosis congenital.
Diagnosis toksoplasmosis congenital pada neonates dipastikan dengan deteksi
igM. Bila igM negative, diagnosis dibuat dengan titer igG yang masih positif
atau meningkat pada usia 3 bulan dan 6 bulan.
Serodiagnosis pada pasien AIDS dengan ensefalitis karena toksoplasma
member gambaran serologis yang sama seperti pada orang sehat dengan
infeksi menahunyang tidak aktif, yaitu titer IgG yang rendah. Bahkan hasil
serodiagnosis mungkin negative walaupun parasit ditemukan dalam sediaan
histologist. Maka, diagnosis toksoplasmosis pada pasien AIDS tidak dapat
ditegakkan dengan tes serologi, namun dibuat dengan menemukan tropozoit
dalam jaringan otak yang dipulas dengan imunoperoksidase.
Pengobatan
Obat-obat yang spesifik untuk toksoplasmosis:

11

1. Kombinasi pirimetamin dan sulfadiazine selama 21 hari. Pirimetamin 15


mg/kgBB/hari. Sulfadiazine 50-100 g/kgBB/hari oral. Pemberian obat ini
harus disertai pemberian asam folat 5 mg 2x seminggu
2. Spiramisin 100 mg/kgBB/hari selama 30-45 hari. Obat-obat lain yang diduga
cukup bermanfaat pada pasien ini: Trimetoprim + sulfametoksazol,
doksisiklin, klindamisin, tetrasiklin, dan rifampisin. Obat-obat kortikosteroid
dapat diberikan bila ada komplikasi pada mata atau serebral dengan dosis 1-2
mg/kgBB/ hari. Lama pemberian obat ini sampai sekarang seringbervariasi,
terutama pada pasien congenital.
Pengobatan pada wanita hamil:
Toksoplasmosis yang terjadi pada wanita hamil dinyatakan sebagai penyebab
keguguran toksoplasmosis congenital. Para ahli memilih menggunakan spiramisin.
Dosis pemakaian 3 g selama 3 minggu, diulangi dengan intervensi 2 minggu hingga
kehamilan aterm.

Pengobatan toksoplasmosis pada pasien AIDS:


Pengobatan yang dianggap paling efektif adalah dengan kombinasi pirimetamin dan
sulfadiazine atau trisulfapirimidin. Dosis yang diberikan pirimetamin antara 50-100
mg/hari dan sulfadiazine 2-6 g/hari. Sayangnya, kerja kombinasi ini terbatas pada
penghambat replikasi tropozoit.
Pencegahan
Peranan kucing sebagai hospes definitif merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi timbulnya toksoplasmosis, karena kucing mengeluarkan berjuta juta
ookista dalam tinjanya, yang dapat bertahan sampai satu tahun di dalam tanah yang

12

teduh

dan

lembab.

Untuk mencegah hal


ini, maka dapat di jaga
terjadinya infeksi pada
kucing, yaitu dengan
memberi

makanan

yang matang sehingga


kucing tidak berburu
tikus atau burung.
Lalat dan lipas dapat
menjadi vektor mekanik yang dapat memindahkan ookista dari tanah atau lantai ke
makanan. Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan ookista yang berada di dalam
tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia seperti formalin,
amonia

dan

iodin

Gambar 2. Cara mencegah infeksi Toksoplasma

dalam bentuk larutan


serta air panas 700C yang disiramkan pada tinja kucing. Anak balita yang bermain di
tanah atau ibu-ibu yang gemar berkebun, juga petani sebaiknya mencuci tangan yang
bersih dengan sabun sebelum makan. Di Indonesia, tanah yang mengandung ookista
T. gondii belum diselidiki. Sayur-mayur yang dimakan sebagai lalapan harus dicuci
bersih, karena ada kemungkinan ookista melekat pada sayuran, makanan yang
matang harus di tutup rapat supaya tidak dihinggapi lalat atau kecoa yang dapat
memindahkan ookista dari tinja kucing ke makanan tersebut.
Kista jaringan dalam hospes perantara (kambing, sapi, babi dan ayam) sebagai
sumber infeksi dapat dimusnahkan dengan memasaknya sampai 660C. Daging
dapat menjadi hangat pada semua bagian dengan suhu 65 0C selama empat sampai
lima menit atau lebih, maka secara keseluruhan daging tidak mengandung kista aktif,
demikian juga hasil daging siap konsumsi yang diolah dengan garam dan nitrat.

13

Setelah memegang daging mentah (tukang potong, penjual daging, tukang masak)
sebaiknya cuci tangan dengan sabun sampai bersih.
Yang paling penting dicegah adalah terjadinya toksoplasmosis kongenital, yaitu anak
yang lahir cacat dengan retardasi mental dan gangguan motorik, merupakan beban
masyarakat. Pencegahan dengan tindakan abortus artefisial yang dilakukan
selambatnya sampai kehamilan 21-24 minggu, mengurangi kejadian toksoplasmosis
kongenital kurang dari 50 %, karena lebih dari 50 % toksoplasmosis kongenital
diakibatkan infeksi primer pada trimester terakhir kehamilan.
Pencegahan dengan obat-obatan, terutama pada ibu hamil yang diduga menderita
infeksi primer dengan Toxoplasma gondii, dapat dilakukan dengan spiramisin. Vaksin
untuk mencegah infeksi toksoplasmosis pada manusia belum tersedia sampai saat ini.
Prognosis
Toksoplasmosis akut untuk pasien imunokompeten mempunyai prognosis yang baik.
Toksoplasmosis akut pada janin dan bayi dapat berkembang menjadi retinokoroiditis.
Toksoplasmosis kronik asimtomatis dengan titer antibody yang persisten, umumnya
mempunyai prognosis yang baik dan berhubungan erat dengan imunitas seseorang.
Toksoplasmosis pada pasien imunodefisiensi memiliki prognosis yang buruk.
3. Penutup
Dengan semakin seringnya toksoplasmosis akut dengan riwayat konsumsi daging
mentah yang bermanifestasi menjadi limfadenopati general, sebaiknya mampu
membuat seorang dokter selalu memikirkan diagnosis banding yang cukup luas.
Ketika pasien datang dengan limfadenopati, tes-tes yang sesuai seharusnya
dilaksanakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Ketika diagnosis telah
ditegakkan, jarang sekali dibutuhkan pengobatan untuk pasien asimtomatik dengan
imunokompeten. Pendidikan dan konseling mengenai faktor resiko terjadinya

14

penyakit ini mampu mengurangi angka kejadian dan resiko penularan infeksi
toksoplasma.

Daftar Pustaka
Chandra, Galatia. Toxoplasma gondii: Aspek Biologi, epidemiologi, Diagnosis, dan
Penatalaksanaannya.Aventis Pharma Indonesia
Kaye, Alyson. 2011. Toxoplasmosis: diagnosis, Treatment, and Prevention in
Congenitally Exposed Infant. Journal of Pediatric Health Care vol 25(6) hal
355-364
Pohan, Herdiman T.1999.Toksoplasmosis. Dalam Noer, M. Sjaifoellah (Ed). Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Balai Penerbit FKUI, Jakarta. hal.508-512
Taila, Aneta K, Hingwe, Ameet S, Johnson, Laura E. 2011. Toxoplasmosis in a
patient who was immunocompetent: case report. Journal of Medical Case
Reports vol 5(16) Diambil dari: http:// www.jmedicalcasereports.com/content/
5/1/16