Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS ZAT GIZI

Bahan Kimia Untuk


Analisis Zat Gizi
Karbohidrat, Protein
dan Lemak
AZG
Nur Salilah Assolihah (125070300111028)
2/26/2014

[Type the abstract of the document here. The abstract is typically a short
summary of the contents of the document. Type the abstract of the document
here. The abstract is typically a short summary of the contents of the document.]

Nur Salilah Assolihah


125070300111028/A1/11

Bahan Kimia Untuk Analisis Zat Gizi Karbohidrat, Protein dan


Lemak
KARBOHIDRAT
A. Kadar Serat Kasar
1. Antifoam agent
merupakan produk kimia formulasi yang berfungsi untuk mengurangi dan
menghambat pembentukan busa akibat perbedaan tegangan osmotik dalam cairan
proses pembuatan cat & coating berbahan dasar air, Tinta Printing berbahan dasar air,
termasuk pada sistem adesif yang berbahan dasar air dan atau water treatment.
2. Asbes
Asbes dengan struktur kimia CaMg3(SiO3)3 merupakan salah satu bahan
tambang yang bisa ditemui dengan mudah di dunia dalam bentuk benang serat atau
gumpalan serat. Bahan ini memiliki kekuatan dan ketahanan tinggi terhadap api,
panas, serta zat kimia. Tetapi tidak bisa diuraikan oleh alam. Asbes adalah bentuk
serat mineral silika yang termasuk dalam kelompok serpentine dan amphibole dari
mineral-mineral pembentuk batuan, termasuk: actinolite, amosite (asbes coklat,
cummingtonite, grunnerite), anthophyllite, chrysotile (asbes putih), crocidolite (asbes
biru), tremolite, atau campuran yang sekurang-kurangnya mengandung salah satu
dari mineral-mineral tersebut (Diana Sasmara.2002).
memiliki sifat tahan asam, panas, fleksibel, tidak menguap, mampu meredam
suara, tidak mudah dihancurkan di alam
3. Larutan H2SO4
Penambahan H2SO4 dilakukan melalui tepi dinding karena larutan tersebut
bersifat eksotermis sehingga panas dari larutan tersebut dapat melubangi dasar
tabung reaksi. Larutan H2SO4 akan menghidrolisis ikatan glikosidik (ikatan antara
satuan dasar yang satu terhadap yang lainnya) karbohidrat menjadi
monosakarida, selanjutnya menjadi dehidrasi membentuk furfural dan derivatnya
(turunan) kemudian menghasilkan monosakarida. Pada batas antara kedua lapisan
itu akan membentuk cicncin warna ungu karena terjadi reaksi kondensasi
antara fulfural dengan -naftol. Berdasarkan hasil yang didapatkan menunjukkan
bahwa semua larutan yang diuji (glukosa, laktosa, kanji, madu dan potongan kertas

Nur Salilah Assolihah


125070300111028/A1/11

saring) adalah karbohidrat. Hal ini terlihat jelas dengan adanya perubahan warna
pada kelima tabung reaksi yang berisikan larutan karbohidrat tersebut. Larutan yang
bereaksi positif memberikan cincin yang berwarna ungu ketika direaksikan dengan
alfa-naftol dan asam sulfat pekat.Larutan NaOH
Asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula
untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan
alfa-naftol untuk membentuk produk berwarna. Reaksi pembentukan furfural ini
adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa. Dimana
pereaksi molish membentuk cincin berwarna ungu pada larutan glukosa, laktosa,
kanji, madu dan potongan kertas. Cincin ungu pada glukosa lebih banyak karena
merupakan monosakarida. Sedangkan kanji adalah polisakarida yang harus
dihidrolisis menjadi monosakarida terlebih dahulu sebelum terdehidrasi menjadi
furfural. Hal ini menunjukkan bahwa pengujian dengan molish sangat spesifik untuk
menunjukkan adanya golongan monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida
(sukrosa dan laktosa) dan polisakarida (amilum dan dekstrin) pada larutan
karbohidrat.
4. Alkohol
Sebagai pereaksi dalam uji identifikasi adanya karbohidrat
B. Kadar Pati
1. Petroleum Eter
Senyawa trigliserida yang bersifat nonpolar akan mudah diektraksi dengan
pelarut-pelarut nonpolar
2. Alkohol
Sebagai pereaksi dalam uji identifikasi adanya karbohidrat
3. Asam klorida
Reaksi antara pentosa dengan asam sulfat (HCl dan H2SO4) yang disertai
pemanasan akan membentuk furfural. Furfural bereaksi lebih lanjut dengan orsinol
dan besi membentuk warna biru hijau. Reaksi ini tidak spesifik untuk pentosa karena
pemanasan yang lama pada heksosa menghasilkan hidroksimetilfurfural. Yang juga
akan bereaksi dengan orsinol membentuk ompleks warna
4. NaOH
Asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula
untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan
alfa-naftol untuk membentuk produk berwarna. Reaksi pembentukan furfural ini
adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa. Dimana
pereaksi molish membentuk cincin berwarna ungu pada larutan glukosa, laktosa,
kanji, madu dan potongan kertas. Cincin ungu pada glukosa lebih banyak karena

Nur Salilah Assolihah


125070300111028/A1/11

merupakan monosakarida. Sedangkan kanji adalah polisakarida yang harus


dihidrolisis menjadi monosakarida terlebih dahulu sebelum terdehidrasi menjadi
furfural. Hal ini menunjukkan bahwa pengujian dengan molish sangat spesifik untuk
menunjukkan adanya golongan monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida
(sukrosa dan laktosa) dan polisakarida (amilum dan dekstrin) pada larutan
karbohidrat.
PROTEIN
A. Metode Kjedhal
1. Larutan H2SO4
Untuk membentuk lapisan cairan
2. NaOH-Natrium Tiosulfat
Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein
sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat
membentuk PbS. Dari semua bahan yang diuji, hanya albumin yang membentuk
endapan PbS, sehingga dapat disimpulkan albumin mengandung Sistein ataupun
Metionin.
Penambahan NaOH ke dalam larutan protein menyebabkan pH larutan di atas
pH isoelektrik sehingga kelarutan protein dalam air meningkat dan larutan tetap
bening. Ketika ditambahkan dengan etanol, larutan tetap bening. Hal ini terjadi
karena molekul-molekul protein yang kelarutanya telah meningkat akibat
penambahan basa tidak kalah bersaing dengan gugus OH dari etanol untuk
mengikat air, sehingga molekul protein tidak mengendap dan larutan tetap bening.
3. Asam borat
Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode Kjeldahl pada penentuan
kadar protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan melakukan titrasi, dapat
diketahui banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia. Melalui titrasi ini,
dapat diketahui kandungan N dalam bentuk NH4 sehingga kandungan N dalam
protein pada sampel dapat diketahui
4. Asam Klorida
Penambahan larutan HCl ini menyebabkan larutan protein mengendap.
Mengendapnya larutan protein ini disebabkan karena setelah ditambahkan dengan
larutan HCl, pH larutan protein berada di bawah titik isoelektrik Pada keadaan ini
kelarutan protein berada pada titik minimumnya, sehingga dengan penambahan
asam kuat membuat larutan protein semakin cepat mengendap karena kelarutannya
dalam air sangat berkurang. Ketika ditambahkan dengan etanol, larutan protein

Nur Salilah Assolihah


125070300111028/A1/11

semakin banyak yang mengendap. Hal ini terjadi karena gugus OH dari etanol
lebih mudah terhidrasi daripada molekul protein, sehingga kelarutan protein dalam
air berkurang.
B. Metode Biuret
biuret berfungsi untuk menguji kandungan protein dalam suatu zat (makanan). apabila
setelah ditetesi biuret, makanan atau sari makanan yang mengandung protein akan berubah
menjadi berwarna ungu. Pada uji biuret tidak spesifik terhadap protein dikarenakan semua
Cu2+ dapat berikatan dengan amida bukan hanya protein (Winarno 1992)
Dalam larutan basa, biuret memberikan warna ungu dengan CuSO4. Reaksi ini
disebut dengan reaksi biuret, kemungkinan terbentuk kompleks Cu2+ dengan gugus C O dan
N-H dari rantai peptida dalam suasana basa. Dipeptida dan asam-asam amino (kecuali serin
dan treonin) tidak memberikan uji positif.
Banyaknya asam amino yang terikat pada ikatan peptida mempengaruhi warna reaksi
ini. Dipeptida membentuk warna biru, tripeptida membentuk warna ungu, tetrapeptida serta
peptida kompleks membentuk warna merah.
LEMAK
1. Dietil eter
digunakan sebagai pelarut senyawa-senyawa organik.
2. Petroleum eter
Petroleum ether atau heksan adalah bahan pelarut lemak nonpolar yang paling banyak
digunakan karena harganya relatif murah, kurang berbahaya terhadap risiko kebakaran
dan ledakan, serta lebih selektif untuk lemak nonpolar.