Anda di halaman 1dari 5

SKENARIO I

SKENARIO 3
Penderita laki-laki usia 18 tahun datang dengan keluhan benjolan di gusi
RA kanan depan. Benjolan mulai dirasakan sejak 3 bulan yang lalu, awalnya
benjolan kecil dan terus membesar. EO terlihat bibir RA terangkat, lunak, sakit
(+). Pemeriksaan IO benjolan regio 12,13, fluktuasi (+), permukaan licin. Mahkot
gigi 12 terdorong ke medial sedagkan mahkota gigi 13 terdesak ke lateral. Drg
melakukan pungsi dan terdapat cairan kuning bening. Apa kira-kira dx dn rencana
perawatan yang akan dilakuan Drg?
STEP 1 (Klarifikasi Istilah)
1. Pungsi : Proses penusukan yang berfungsi untuk mengeluarkan dan
mengetahui cairan dalam tubuh.
2. Fluktuasi : Fluktuasi adalah suatu kondisi cairan yang teraba pada
pembengkakan selain itu juga digunakan untuk mengetahui kekenyalan
suatu pembengkakan.

STEP 2 (Merumuskan Permasalahan)


1. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, apa diagnosa penyakit yang
dialami pasien dan latar belakang terbentuknya diagnosa tersebut ?
2. Apa penyebab gigi 12 terdorong ke medial sedangkan gigi 13 terdorong ke
lateral pada skenario?
3. Bagaimana asal mula dari cairan kuning pada skenario ?
4. Apakah diagnosa banding dari penyakit yang di alami pasien ?
5. Dari diagnosa yang didapat apa rencana perawatan yang dilakukan beserta
indikasi dan kontra indikasinya ?
STEP 3 (Menganalisis Masalah)
1. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan diagnosa yang didapat adalah
kista globulomaksilaris hal ini dikarenakan secara letak lesinya terdapat
diantara gigi insisive lateral dan caninus. Didapatkan lesi yang besar pada
pemeriksaan intraoral yang menyebabkan gigi insisive lateran dan caninus
terdorong. Jika penyakit yang dialami pasien adalah abses cenderung dapat
1

meresopsi akar gigi bukan seperti kista globulomaksilari yang memiiki


epitel pada dindingnya yang menyebabkan gigi terdorong. Terjadinya kista
biasanya kronis atau lama seperti di skenario dikatakan penyakit dialami
sejak 3 bulan yang lalu. Kemudian ketika dilakukan tes fungsi juga
didapatkan cairan kuning bening atau cairan kolestrin yang biasanya
terdapat pada kista sedangkan jika pada abses biasanya didapatkan pus.
2. Penyebab dari terdorongnya gigi 12 ke medial dan gigi 13 ke lateral pada
pasien

disebabkan

oleh

pembesaran

kista.

Pembesaran

kista

globulomaksilaris biasanya mendorong gigi insisive lateran dan caninus


tanpa mempengaruhi kevitalan gigi tersebut. Pada proses pembesaranya
kista biasanya mengalami peningkatan volume kandungan kista dan
proliferasi epitel.
A. Peningkatan Volume Kandungan Kista
Sel-sel berproliferasi dalam lapisan dari permukaan vaskular
jaringan penghubung sehingga membentuk suatu kapsul kista.
Setiap

sel

sel

kista

menyebar

dari

membran

dasar

dengan percabangan lapisan basal sehingga kista dapat membesar di


dalam lingkungan

tulang yang padat dengan mengeluarkan faktor-

faktor untuk meresorpsi tulang dari kapsul yang

menstimulasi

pembentukan osteoclast. Proses ini lama kelamaan akan menyebabkan


gigi terdorong.
B. Proliferasi Epitel
Pembentukan dinding dalam membentuk proliferasi epitel adalah salah
satu dari proses penting peningkatan permukaan area kapsul dengan
akumulasi kandungan seluler. Pola mulrisentrik pertumbuhan kista
membawa

proliferasi

sel-sel

epitel

sebagai

keratosis

mengakibatkan ekspansi kista.Aktifitas kolagenase me


n i n g k a t k a n k o l a g e n a l i s i s . Pertumbuhan

tidak

mengurangi

batas epitel akibat meningkatnya mitosis.


3. Cairan kuning pada kista disebabkan oleh proses rangsangan pada sisa
epitel pada proses penggabungan proc. Maxilaris dan pro. Globularis yang

menyebabkan kista yang berisi cairan kolestrin yg berasal dari kolestrol.


Cairan kista biasanya terdapat beberapa warna :
1. Warna kekuningan : Cairan berwarna kekuningan biasanya berasal dari
kolestrin atau kolestrol.
2. Warna kuning keruh : Cairan kolestrin yang bercampur dengan pus
dikarenakan infeksi pada kista.
4. Diagosa banding dari Kista Globulomaksilaris :
- Abses submukosa : Abses biasanya terjadi di gigi insisive yang dekat
dengan lokasi kista globulomaksilaris, Selain itu abses ini jika
diperiksa konsistensinya sama seperti kista globuromaksilaris yaitu
-

fluktuatif.
Granuloma : Granuloma secara pemeriksaan intra oral memiliki
bentukan yang mirip dengan kista. Namun dapat dibedakan secara
radiologis dengan melihat pada dindingnya yg berbatas jelas tidak

seperti kista yang berbatas radiopak.


Kista Radikuler : Kista Radikuler pada gigi insisive lateral dan caninus
pada pemeriksaa intra oral menyerupai kista globulomaksilaris. Namun
secara radiografis terlihat jika pada kista globulomaksilaris memiliki

bentuk seperti buah pir terbalik.


5. Penatalaksanaan kista globulomaksilaris ada 2 yaitu :
a. Enukleasi
Merupakan proses pengangkatan seluruh lesi kista tanpa terjadinya
perpecahan pada kista. Kista itu sendiri dapat dilakukan enukleasi
karena lapisan jaringan ikat antara komponen epitelial (melapisi aspek
anterior kista) dan dinding kista yang bertulang pada rongga mulut.
Lapisan ini akan lepas dan kista dapat diangkat dari kavitas yang
bertulang. Proses enukleasi sama dengan pengangkatan periosteum
dari tulang. Enukleasi pada kista seharusnya dilakukan secara hati
hati untuk mencegah terjadinya lesi rekuren. Enukleasi diindikasikan
untuk lesi yang berukuran kecil.
Keuntungan :
Pemeriksaan patologi dari seluruh kista dapat dilakukan
Pasien tidak dilakukan perawatan untuk kavitas marsupialisasi
3

dengan irigasi konstan


Jika akses flap mucoperiosteal sudah sembuh, pasien tidak merasa
terganggu lebih lama oleh kavitas kista yang ada
Kerugian :
Jika beberapa kondisi diindikasikan untuk marsupialisasi, enukleasi
bersifat merugikan seperti :
Fraktur rahang
Devitalisasi pada gigi
Impaksi gigi
Banyak jaringan normal yang terlibat
b. Marsupialisasi
Merupakan metode pembedahan yang menghasilkan surgical window
pada dinding kista, mengevakuasi isi kista dan memelihara kontinuitas
antara kista dan rongga mulut, sinus maksilary atau rongga nasal.
Proses ini mengurangi tekanan inrakista dan meningkatkan pengerutan
pada kista. Marsupialisasi dapat digunakan sebaga terapi tunggal atau
sebagai tahap preeliminary dalam perawatan dengan enukleasi.
Penatalaksanaan ini diindikasikan untuk lesi berukuran besar.
Keuntungan :
Prosedur yang dilakukan sederhana
Memisahkan struktur vital dari kerusakan akibat pembedahan
Kerugian :
Jaringan patologi kemungkinan masih tertinggal di dalam kavitas
Tidak dapat dilakukan pemeriksaan histologi secara teliti
Terselip debris makanan akibat adanya kavitas
Pasien harus irigasi kavitas beberapa kali setiap hari

Step IV (Mapping)