Anda di halaman 1dari 14

Wakaf dalam Akuntansi Syariah

20.26

Pradipha wisnu Wibisono

A. Pengertian
Kata wakaf berasal dari bahasa Arab waqafa yang berarti menahan atau berhenti. Kata al-Waqf
dalam bahasa Arab mengandung beberapa pengertian, yaitu menahan harta untuk diwakafkan.
Secara syariah, wakaf berarti menahan harta dan memberikan hartanya di jalan Allah(Sabiq,
2008).
B. Jenis Wakaf
Berdasarkan Peruntukan
1. Wakaf Ahli (Wakaf Dzuri). Wakaf jenis ini kadang juga disebut wakaf alal audad, yaitu wakaf
yang diperuntukan baagi kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga, dan
lingkungan kerabat sendiri. Wakaf ahli ini adalah suatu hal yang baik karena pewakaf akan
mendapat dua kebaikan, yaitu kebaikan dari amal ibadah wakafnya, juga dai silaturahmi terhadap
keluarga. Akan tetapi, wakaf ahli ini sering menimbulkan masalah, akibat terbatasnya pihakpihak yang dapat mengambil manfaat darinya.
2. Wakaf Khairi (Kebajikan) adalah wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama atau
kemasyarakatan. Seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah,
jembatan, rumah sakit, pantti asuhan anak yatim dan lain sebagainya. Wakaf jenis ini jauh lebih
banyak manfaatnya dibandingkan dengan jenis wakaf ahli, karena tidak terbatasnya pihak-pihak
yang dapat mengambil manfaat darinya. Dan jenis wakaf inilah yang sesungguhnya paling sesuai
denga tuuan wakaf itu sendiri secara umum.

a.
1)
2)
3)
b.
c.
d.

Berdasarkan Jenis Harta


Dalam Undang-Undang No.41 Tahun 2000 tentang wakaf, dilihat dari jenis wakaf yang
diwakafkan, wakaf terdiri atas:
1. Benda tidak bergerak, yang kemudian dapat dibagi menjadi:
Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terdiri atas:
Hak milik atas tanah baik yang sudah atau belum terdaftar
Hak atas tanah bersama dari satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
Hak guna bangunan, hak guna usaha atau hak pakai yang berada di atas tanah negara hak guna
banguna atau hak pakai yang berada diatas tanah haak pengelolaan atau hak milik pribadi yang
harus mendapat izin tertulis dari pemegang hak pengelolaan atau hak milik.
Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah
Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah
Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

e. Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan prinsip syariah dan peraturan perundangundangan
2. Benda bergerak selain uang terdiri atas:
a. Benda digolongkan sebagai benda bergerak karena sifatnya yang dapat berpindah atau
dipindahkan atau karena ketetapan undang-undang
b. Benda bergerak terbagi dalam benda bergerak yang dapat dihabiskan dan tidak sapat dihabiskan
karena pemakaian
c. Benda bergerak yang dapat dihabiskan karena pemakaian tidak dapat diwakafkan, kecuali air
dan bahan bakar minyak yang persediaannya berkelanjutan.
d. Benda bergerak karena sifatnya yang dapat diwakafkan, meliputi: kapal, pesawat terbang,
kendaraan bermotor, mesin atau peralatan industry, logam, dan batu mulia.
e. Benda bergerak selain uang karena peraturan perundang-undangan yang dapat diwakafkan
sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip yariah sebagai berikut:
1) Surat berharga yang berupa: saham, Surat Utang Negara, obligasi, dan surat berharga lainnya
yang dapat dinilai dengan uang
2) Hak atas kekayaan intelektual: hak cipta, hak merk, hak paten, hak desain industri, hak rahasia
dagang, hak sirkuit terpadu, hak perlindungan varietas tanaman, hak lainnya
3) Hak atas benda bergerak lainnya yang berupa: hak sewa, hak pakai hasil atasbenda bergerak,
perikatan, tuntutan atas jumlah uang yang dapat ditagih atas benda bergerak
3. Benda bergerak berupa uang yang merupakan inovasi dalam keuangan publik islam, karena
jarang ditemukan pada fikih klasik. Wakaf tunai membuka peluang yang unik bagi penciptaan
investasi di bidang keagamaan, pendidikan dan pelayanan sosial, karena lebih fleksibel
pengelolaannya. Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan wakaf tunai tersebut dapat
dibelanjakan untuk berbagai tujuan yang yang berbeda seperti pemeliharaan harta-harta wakaf
itu sendiri

a.
b.
c.
d.
e.

Dasar hukum wakaf tunai:


dan para sahabat kita berbeda pendapat tentang berwakaf dengan dana dirham dan dinar.
Orang yang membolehkan mempersewakan dirham dan dirham membolehkan berwakaf
dengannya dan yang tidak memperbolehkan mempersewakan tidak mewakafkannya.
(Hr. Imam Nawawi)
Berdasarkan beberapa dalil dan pendapat para ulama maka MUI melalui komisi fatwa
mengeluarkan fatwa tentang wakaf uang yang intinya berisi sebagai berikut:
Wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan oleh seseorang , kelompok orang, lembaga atau
badan hukum dalam bentuk uang tunai
Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga
Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh)
Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syari
Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijua, dihibahkan, dan atau
diwariskan
Berdasarkan waktu
1. Muabbad, yaitu wakaf yang diberikan untuk selamanya

2. Muaqqot, yaitu wakaf yan diberikan dalam jangka waktu tertentu


Berdasarkan penggunaan harta yang diwakafkan
1. Mubasyir/dzati yaitu harta wakaf yang menghasilkan pelayanan masyarakat dan bisa digunakan
secara langsung seperti madrasah dan rumah sakit.
2. Istitsmary, yaitu harta wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barabbarang dn pelayanan yang dibolehkan syara dalam bentuk apapun kemudian hasilnya
diwakafkan sesuai keinginan pewakaf.
C. Sasaran dan Tujuan Wakaf
Wakaf memiliki sasaran khusus yang sspesifik, yaitu:
1. Semangat keagamaan
Allah berfirman: dan carilah wasilah (sarana) untuk menuju kepadanya. (QS.5:35). Sasaran
wakaf ini berperan sebagai sarana untuk mewujudkan sesuatu yang diniatkan oleh seorang
pewakaf. Dengan wakaf, pewakaf berniat untuk mendapatkan rida Allah dan kesinambungan
pahalla yaitu selama harta yang diwakafkan memberi manfaat sekalipun ia telah meninggal
dunia.
2. Semangat sosial
Sasaran ini diarahkan pada altivitas kebajikan, didasarkan pada kesadaran manusia untuk
berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat. Sehingga, wakaf yang dikeluarkan merupakan
bukti partisipasi dalam pembangunan masyarakat.
3.
4.

5.

Motivasi keluarga
Motivasi ini menjadikan wakaf sebagai sarana mewujudkan rasa tanggun jawab kepada keluarga,
terutama sebagai jaminan hidup di masa depan.
Dorongan kondisional
Terjadi jika seseorang yang ditinggalkan keluarganya, sehingga tidak ada yang akan
menanggungnya. Atau seorang perantau yang jauh meningglakan keluarga. Dengan wakaf,
pewakaf bisa menyaluran haartanya dengan baik, sehingga tidak kuatir terjadi pemborosan atau
kepunahan kekayaan
Dorongan naluri
Naluri manusia memang tidak ingin lepas dari kepemilikannya. Setiap orang cenderung ingin
menjaga peninggalan harta orang tua atau kakeknya dari kehancuran atau kemusnahan. Dengan
wakaf, maka dia akan terdorong membatasi pembelanjaan. Dengan berniat wakaf kepada
seseorang atau lembaga tertentu, dia bisa menyaurkan hartanya dengan baik, sehingga tidak
kuatir terjadi pemborosan atau kepunahan kekayaan

D. Dasar Syariah
Sumber Hukum
1. Al-Quran :
...perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(QS.22:77)
kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan
sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahui.(QS 3.92)
2. As-Sunah:

1.
2.
3.
4.

a.
b.
c.
d.

Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda: apbila anak Adam (manusia)
meniggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, doa anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bhukari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW, bersabda:
Barang siapa mewakafkan seekor kuda di jalan Allah dengan penuh keimanan dan keikhlasan
maka makannya, fesesnya dan air seninya itu menjadi amal kebaikan dan timbangan di hari
kiamat.
E. Rukun dan Ketentuan Syariah
Rukun wakaf ada 4 (Depag, 2006), yaitu:
Pelaku terdiri atas orang yang mewakafkan harta (wakil/pewakaf). Namun, ada pihakyang
memiki peran penting walaupun diluar rukun wakaf yaitu pihak yang diberi wakaf untuk
mengelola wakaf yang disebut nazhir
Barang atau harta yang diwakafkan (mauquf bih)
Peruntukan wakaf (mauquf alaih)
Shighat (pernyataan atau ikrar sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta
bendanya termasuk penetapan jangka waktu dan peruntukan)

F. Pewakaf
Pewakaf disyaratkan memiliki keccakapan hukum atau kamalul ahliyah (legally competent)
dalam membelanjakan hartanya. Kecakapan bertindak di sini meliputi empat kriteria, yaitu:
Merdeka, wakaf yang dilakukan oleh seorang budak tidak sah karena tidak memiliki hak
pribadi, sedankan wakaf adalah pengguguran hak milik dengan cara memberikan hak milik itu
kepada orang lain.
Berakal sehat, wakaf yang dilakukan oleh seorang gila, lemah mental atau berubah akal karena
masalah usia, sakit atau kecelakaan tidak sah hukumnya, sebab ia tidak mampu dan tida cakap
melakukan akad serta tindakan lainnya.
Dewasa (baligh), wakaf yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa hukumnya tidak sah
karena ia dipandang tidakk cakap melakukan akad dan tidak cakap pula untuk menggugurkan
hak miliknya.
Tidak berada di bawah pengampuan. Tujuan dari pengampuan ialah untuk menjaga harta supaya
tidak habis dibelanjakan untuk sesuatu yang tidak benar, dan untuk menjaga dirinya agar tidak
menjadi beban orang lain. Orang yang berada di bawah pengampuan dipandang tidak cakap
untuk berbuat kebaikan, maka wakaf yang dilakukannya hukumannya tidak sah. Wakaf juga
harus didasarkan kemauan sendiri, bukan atas tekanan atau paksaan dari pihak mana pun.

Namun ada kalanya seorang yang mewakafkan hartanya, tetapi wakaf tersebut tidak langsung
terlaksana, dan pelaksanaannya dikaitkan dengan kerelaan orang lain. Ada beberapa hukum
wakaf yang berkaitan dengan masalah ini:
1.) Orang yang mempunyai utang, maka wakafnya ada 3 macam:
a.) Jika ia berada di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya, sedang utangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki, hukum wakafnya sah. Tetapi
pelaksanaannya tergantung pada kerelaan para kreditor

b.) Jika ia berada di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya ketika sedang menderita sakit parah, wakafnya sah. Akan tetapi pelaksanaannya
bergantung pada kerelaan para kreditor
c.) Jika ia tidak di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya ketika dalam keadaan sehat, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan, baik
utangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki atau hanya sebagian saja.
2.) Apabila pewakaf mewakafkan hartanya ketika sedang sakit parah dan ketika mewakafkan
hartanya tersebut dia mamsih cakap untuk melakukan perbuatan baik , maka wakafnya sah dan
dapat dilaksanakan selama dia masih hidup. Hal ini karena penyakitnya tidak bisa dipastikan
sebagai penyakit kematian. Jika kemudian pewakaf meninggal karena penyakit yang
dideritanya, maka hukum wakafnya sebagai berikut:
a.) Jika dia meninggal sebagai debitor, maka hukum wakafnya seperti yang telah diutarakan dalam
butir (1) di atas
b.) Jika dia meninggal tidak sebagai debitor, maka hukum wakaf yang terjadi ketika dia sedang sakit
keras seperti wasiat. Yaitu jika diberi wakaf buan ahi warisnya dan harta yang diwakafkan tidak
lebih dari 1/3 hartanya, maka wakaf terlaksana hanya sebatas sepertiga hartanya saja, jika harta
yang diwakafkan lebih dari 1/3 maka kelebihan dari 1/3 tsb bergantung pada kerelaan ahli waris
sebagai pemilik harta tsb
Nazhir atau pengelola wakaf sebagai pihak yang diberi amanat untuk mengelola wakaf memiliki
syarat: muslim, berakal, dewasa, adil, dan cakap hukum.

a.
b.
c.
d.
e.

a.
b.
c.

G. Mauquf Bih (Harta yang Diwakafkan)


Dalam UU no.41/2004 dinyatakan tidak ada pembatasan jumlah harta yang diwakafkan.
Namun terkait dengan hukum wasiat, makak sangat relevan bahwa pembatasan wakaf adalah 1/3
dari jumlah harta yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk kesejahteraan anggota keluarga
pewakaf. Syarat sahnya harta wakaf ialah:
Harta yang diwakafkan harus merupakan harta benda yang bernilai (mutaqawwam).
Mutaqawwam ialah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalamkeadaan
normal dan memiliki nilai harga
Harta yang akan diwakafkan harus jelas sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan
Milik pewakaf secara penuh
Harta tersebut bukan milik bersama dan terpisah
Syarat-syarat yang ditetapkan pewakaf terkait harta wakaf
H. Syarat Mauqufalaih
Yang dimaksud mauqufalaih adlah tujuan/peruntukan wakaf. Wakaf harus dimanfaatkan
dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat islam. Ada perbedaan pendapat dari
para fuqaha terkait dengan syarat peruntukan wakaf yaitu:
Mazhab Hanafi; mensyaratkan agar peruntukan wakaf ditujukan untuk ibadah dan syiar islam
menurut pandangan islam dan keyakinan pewakaf
Mazhab Maliki; ,mensyaratkan agar peruntukan wakaf untuk ibadat menurut pandangan
pewakaf
Mazhab Syafii dan Hambali; mensyaratkan agar peruntukan wakaf adalah ibadah menurut
pandangan islam saja tanpa memandang keyakinan pewakaf
I. Syarat Shighat (ikrar wakaf)

Pengertian shighat adalah segala ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang berwakaf
untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Namun, shighat cukup
dengan pernyataan/ikrar atau penyerahan dari pewakaf tanpa memerlukkan wabul dari penerima
wakaf. Pernyataan dalm bentuk ijab harus dilakukan karena wakaf adalah melepaskan hak milik
atas suatu benda dan manfaatnya atau dari manfaatnya saja dan mengalihkannya kepada pihak
lain. Ijab pewakaf mengungkapkan dengan jelas keinginan peruntukan wakaf dari pewakaf.
Adapun lafal shighat wakaf ada dua macam, yaitu:
a. Lafal yang jelas (Sharih)
b. Lafal kiasan (Kinayah)

a.
b.
c.

a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
e.

Syarat sahnya shighat ijab, baik berupa ucapan maupun tulisan ialah:
Shighat harus munajah. Maksudnya ialah shighat menunjukan terjadi dan terlaksananya wakaf
ketika setelah shighat ijab diucapkan atau ditulis. Shighat harus singkat, tidak bertele-tele, jelas,
dan tegas
Shighat tidak diikuti syarat batil (palsu). Maksudnya ialah syarat yang menodai dasar atau
meniadakan hukum wakaf
Shighat tidak mengandung suatu pengertian untuk mencabut kembali wakaf yang sudah
dilakukan
J. Pengelola Wakaf
Pengertian pengelola wakaf adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari
pewakaf untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. Posisi pengelola wakaf
sebagai pihak yang bertugas untuk memelihara dan mengelola harta wakaf, mempunyai
kedudukan yang penting dalam perwakafan. Hal-hal yang wajib dilakukan oleh pengelola wakaf
yaitu:
Melakukan pengelolaan dan pemeliharaan barang yang diwakafkan
Melaksanakan syarat dari pewakaf
Membela dan mempertahankan kepentingan wakaf
Melunasi utang wakaf dengan menggunakan pendapatan atau hasil produksi harta wakaf tsb
Menunaikan hak-hak mustahik dari harta wakaf, tanpa menundanya, kecuali terjadi sesuatu yang
mengakibatkan pembagian tsb tertunda.
Hal-hal yang boleh dilakukan pengelola wakaf, yaitu:
Menyewakan harta wakaf
Menanami tanahh wakaf
Membangun pemukiman di atas tanah wakaf
Mengubah kondisi harta wakaf menjadi lebih baik
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pengelola wakaf:
Tidak melakukan dominasi atas harta wakaf
Tidak boleh berutang atas nama wakaf
Tidak boleh menggadaikan harta wakaf
Tidak boleh mengizinkan seseorang menggunakan harta wakaf tanppa bayaran
Tidak boleh meminjamkan harta wakaf kepada pihak yang tidak termasuk golongan peruntukan
wakaf
K. Akuntansi lembaga wakaf

Secara umum, lembaga wakaf dibentuk atau didirikan untuk mengelola sebuah atau
sejumlah kekayaan wakaf, agar manfaat maksimalnya dapat dicapai untuk kesejahteraan umat
umumnya, dan menolong mereka yang kurang mampu khususnya. Hingga saat ini belum ada
PSAK yang mengatur tentang akuntansi lembaga wakaf. Namun merujuk pada akuntansi
konvensional serta praktik dari lembaga wakaf yang telah beroperasi di Indonesia saat ini, maka
perlakuan akuntansi untuk zakat, infak/sedekah dengan wakaf tidak akan berbeda jauh. Hal ini
disebabkan akuntansi untuk zakat, infak/sedekah harus dilakukan pencatatannya secara terpisah
atas setiap dana yang diterima.
L. Masalah pemahaman masyarakat tentang hukum wakaf
Pada umumnya masyarakat belum memahami hukum wakaf dengan baik dan benar, baik
dari segi rukun dan syarat wakaf, maupun disyariatkannya wakaf. Selain itu, masih cukupp
banyak masyarakat yang memahami bahwa benda yang dapat diwakafkan hanyalah benda tidak
bergerak seperti tanah, bangunan, dll. Dengan demikian peruntukannya pun menjadi sangat
terbatas, seperti untuk masjid, mushalla, rumah yatim piatu, madrasah, sekolah dan sejenisnya.
Sehingga perlu disosialisasikan kepada masyarakat perlunya dikembangkkan wakaf benda
bergerak.
M. Pengelolaan dan Manajemen Wakaf
Pengelolaan dan manajemen wakaf yang lemah dapat mengakibatkan pengelolaan harta
wakaf tidak optimal, harta wakaf terlantar, bahkkan harta wakaf dapat hilang. Untuk mengatasi
masalah ini, paradigmma baru dalam pengelolaan wakaf harus diterapkan. Wakaf harus dikelola
secara produktif dengan menggunakan manajemen modern. Untuk mmengelola wakaf secara
produktif, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Selain perumusan konsepsi fikih wakaf dan
peraturan perundang-undangan, pengelola wakaf juga harus dibina dan dilatih mmenjadi
pengelola wakaf profesional untuk dapat mengembangkan harta yang dikelolanya, apalagi jika
harta wakaf tersebut menyangkut dengan uang.
A. Pengertian
Kata wakaf berasal dari bahasa Arab waqafa yang berarti menahan atau berhenti. Kata al-Waqf
dalam bahasa Arab mengandung beberapa pengertian, yaitu menahan harta untuk diwakafkan.
Secara syariah, wakaf berarti menahan harta dan memberikan hartanya di jalan Allah(Sabiq,
2008).
B. Jenis Wakaf
Berdasarkan Peruntukan
1. Wakaf Ahli (Wakaf Dzuri). Wakaf jenis ini kadang juga disebut wakaf alal audad, yaitu wakaf
yang diperuntukan baagi kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga, dan
lingkungan kerabat sendiri. Wakaf ahli ini adalah suatu hal yang baik karena pewakaf akan
mendapat dua kebaikan, yaitu kebaikan dari amal ibadah wakafnya, juga dai silaturahmi terhadap
keluarga. Akan tetapi, wakaf ahli ini sering menimbulkan masalah, akibat terbatasnya pihakpihak yang dapat mengambil manfaat darinya.
2. Wakaf Khairi (Kebajikan) adalah wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama atau
kemasyarakatan. Seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah,

jembatan, rumah sakit, pantti asuhan anak yatim dan lain sebagainya. Wakaf jenis ini jauh lebih
banyak manfaatnya dibandingkan dengan jenis wakaf ahli, karena tidak terbatasnya pihak-pihak
yang dapat mengambil manfaat darinya. Dan jenis wakaf inilah yang sesungguhnya paling sesuai
denga tuuan wakaf itu sendiri secara umum.

a.
1)
2)
3)
b.
c.
d.
e.

Berdasarkan Jenis Harta


Dalam Undang-Undang No.41 Tahun 2000 tentang wakaf, dilihat dari jenis wakaf yang
diwakafkan, wakaf terdiri atas:
1. Benda tidak bergerak, yang kemudian dapat dibagi menjadi:
Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terdiri atas:
Hak milik atas tanah baik yang sudah atau belum terdaftar
Hak atas tanah bersama dari satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
Hak guna bangunan, hak guna usaha atau hak pakai yang berada di atas tanah negara hak guna
banguna atau hak pakai yang berada diatas tanah haak pengelolaan atau hak milik pribadi yang
harus mendapat izin tertulis dari pemegang hak pengelolaan atau hak milik.
Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah
Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah
Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan prinsip syariah dan peraturan perundangundangan

2. Benda bergerak selain uang terdiri atas:


a. Benda digolongkan sebagai benda bergerak karena sifatnya yang dapat berpindah atau
dipindahkan atau karena ketetapan undang-undang
b. Benda bergerak terbagi dalam benda bergerak yang dapat dihabiskan dan tidak sapat dihabiskan
karena pemakaian
c. Benda bergerak yang dapat dihabiskan karena pemakaian tidak dapat diwakafkan, kecuali air
dan bahan bakar minyak yang persediaannya berkelanjutan.
d. Benda bergerak karena sifatnya yang dapat diwakafkan, meliputi: kapal, pesawat terbang,
kendaraan bermotor, mesin atau peralatan industry, logam, dan batu mulia.
e. Benda bergerak selain uang karena peraturan perundang-undangan yang dapat diwakafkan
sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip yariah sebagai berikut:
1) Surat berharga yang berupa: saham, Surat Utang Negara, obligasi, dan surat berharga lainnya
yang dapat dinilai dengan uang
2) Hak atas kekayaan intelektual: hak cipta, hak merk, hak paten, hak desain industri, hak rahasia
dagang, hak sirkuit terpadu, hak perlindungan varietas tanaman, hak lainnya
3) Hak atas benda bergerak lainnya yang berupa: hak sewa, hak pakai hasil atasbenda bergerak,
perikatan, tuntutan atas jumlah uang yang dapat ditagih atas benda bergerak
3. Benda bergerak berupa uang yang merupakan inovasi dalam keuangan publik islam, karena
jarang ditemukan pada fikih klasik. Wakaf tunai membuka peluang yang unik bagi penciptaan

investasi di bidang keagamaan, pendidikan dan pelayanan sosial, karena lebih fleksibel
pengelolaannya. Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan wakaf tunai tersebut dapat
dibelanjakan untuk berbagai tujuan yang yang berbeda seperti pemeliharaan harta-harta wakaf
itu sendiri

a.
b.
c.
d.
e.

Dasar hukum wakaf tunai:


dan para sahabat kita berbeda pendapat tentang berwakaf dengan dana dirham dan dinar.
Orang yang membolehkan mempersewakan dirham dan dirham membolehkan berwakaf
dengannya dan yang tidak memperbolehkan mempersewakan tidak mewakafkannya.
(Hr. Imam Nawawi)
Berdasarkan beberapa dalil dan pendapat para ulama maka MUI melalui komisi fatwa
mengeluarkan fatwa tentang wakaf uang yang intinya berisi sebagai berikut:
Wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan oleh seseorang , kelompok orang, lembaga atau
badan hukum dalam bentuk uang tunai
Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga
Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh)
Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syari
Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijua, dihibahkan, dan atau
diwariskan
Berdasarkan waktu
1. Muabbad, yaitu wakaf yang diberikan untuk selamanya
2. Muaqqot, yaitu wakaf yan diberikan dalam jangka waktu tertentu

Berdasarkan penggunaan harta yang diwakafkan


1. Mubasyir/dzati yaitu harta wakaf yang menghasilkan pelayanan masyarakat dan bisa digunakan
secara langsung seperti madrasah dan rumah sakit.
2. Istitsmary, yaitu harta wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barabbarang dn pelayanan yang dibolehkan syara dalam bentuk apapun kemudian hasilnya
diwakafkan sesuai keinginan pewakaf.
C. Sasaran dan Tujuan Wakaf
Wakaf memiliki sasaran khusus yang sspesifik, yaitu:
1. Semangat keagamaan
Allah berfirman: dan carilah wasilah (sarana) untuk menuju kepadanya. (QS.5:35). Sasaran
wakaf ini berperan sebagai sarana untuk mewujudkan sesuatu yang diniatkan oleh seorang
pewakaf. Dengan wakaf, pewakaf berniat untuk mendapatkan rida Allah dan kesinambungan
pahalla yaitu selama harta yang diwakafkan memberi manfaat sekalipun ia telah meninggal
dunia.
2. Semangat sosial
Sasaran ini diarahkan pada altivitas kebajikan, didasarkan pada kesadaran manusia untuk
berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat. Sehingga, wakaf yang dikeluarkan merupakan
bukti partisipasi dalam pembangunan masyarakat.
3.

Motivasi keluarga

4.

5.

1.

2.

1.
2.
3.
4.

Motivasi ini menjadikan wakaf sebagai sarana mewujudkan rasa tanggun jawab kepada keluarga,
terutama sebagai jaminan hidup di masa depan.
Dorongan kondisional
Terjadi jika seseorang yang ditinggalkan keluarganya, sehingga tidak ada yang akan
menanggungnya. Atau seorang perantau yang jauh meningglakan keluarga. Dengan wakaf,
pewakaf bisa menyaluran haartanya dengan baik, sehingga tidak kuatir terjadi pemborosan atau
kepunahan kekayaan
Dorongan naluri
Naluri manusia memang tidak ingin lepas dari kepemilikannya. Setiap orang cenderung ingin
menjaga peninggalan harta orang tua atau kakeknya dari kehancuran atau kemusnahan. Dengan
wakaf, maka dia akan terdorong membatasi pembelanjaan. Dengan berniat wakaf kepada
seseorang atau lembaga tertentu, dia bisa menyaurkan hartanya dengan baik, sehingga tidak
kuatir terjadi pemborosan atau kepunahan kekayaan
D. Dasar Syariah
Sumber Hukum
Al-Quran :
...perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.(QS.22:77)
kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan
sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahui.(QS 3.92)
As-Sunah:
Dari Abu Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW, bersabda: apbila anak Adam (manusia)
meniggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, doa anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bhukari, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW, bersabda:
Barang siapa mewakafkan seekor kuda di jalan Allah dengan penuh keimanan dan keikhlasan
maka makannya, fesesnya dan air seninya itu menjadi amal kebaikan dan timbangan di hari
kiamat.
E. Rukun dan Ketentuan Syariah
Rukun wakaf ada 4 (Depag, 2006), yaitu:
Pelaku terdiri atas orang yang mewakafkan harta (wakil/pewakaf). Namun, ada pihakyang
memiki peran penting walaupun diluar rukun wakaf yaitu pihak yang diberi wakaf untuk
mengelola wakaf yang disebut nazhir
Barang atau harta yang diwakafkan (mauquf bih)
Peruntukan wakaf (mauquf alaih)
Shighat (pernyataan atau ikrar sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta
bendanya termasuk penetapan jangka waktu dan peruntukan)

F. Pewakaf
Pewakaf disyaratkan memiliki keccakapan hukum atau kamalul ahliyah (legally competent)
dalam membelanjakan hartanya. Kecakapan bertindak di sini meliputi empat kriteria, yaitu:

a.

Merdeka, wakaf yang dilakukan oleh seorang budak tidak sah karena tidak memiliki hak
pribadi, sedankan wakaf adalah pengguguran hak milik dengan cara memberikan hak milik itu
kepada orang lain.
b. Berakal sehat, wakaf yang dilakukan oleh seorang gila, lemah mental atau berubah akal karena
masalah usia, sakit atau kecelakaan tidak sah hukumnya, sebab ia tidak mampu dan tida cakap
melakukan akad serta tindakan lainnya.
c. Dewasa (baligh), wakaf yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa hukumnya tidak sah
karena ia dipandang tidakk cakap melakukan akad dan tidak cakap pula untuk menggugurkan
hak miliknya.
d. Tidak berada di bawah pengampuan. Tujuan dari pengampuan ialah untuk menjaga harta supaya
tidak habis dibelanjakan untuk sesuatu yang tidak benar, dan untuk menjaga dirinya agar tidak
menjadi beban orang lain. Orang yang berada di bawah pengampuan dipandang tidak cakap
untuk berbuat kebaikan, maka wakaf yang dilakukannya hukumannya tidak sah. Wakaf juga
harus didasarkan kemauan sendiri, bukan atas tekanan atau paksaan dari pihak mana pun.

1.)
a.)
b.)
c.)
2.)

a.)
b.)

Namun ada kalanya seorang yang mewakafkan hartanya, tetapi wakaf tersebut tidak langsung
terlaksana, dan pelaksanaannya dikaitkan dengan kerelaan orang lain. Ada beberapa hukum
wakaf yang berkaitan dengan masalah ini:
Orang yang mempunyai utang, maka wakafnya ada 3 macam:
Jika ia berada di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya, sedang utangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki, hukum wakafnya sah. Tetapi
pelaksanaannya tergantung pada kerelaan para kreditor
Jika ia berada di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya ketika sedang menderita sakit parah, wakafnya sah. Akan tetapi pelaksanaannya
bergantung pada kerelaan para kreditor
Jika ia tidak di bawah pengampuan karena utang dan mewakafkan seluruh atau sebagian
hartanya ketika dalam keadaan sehat, maka wakafnya sah dan dapat dilaksanakan, baik
utangnya meliputi seluruh harta yang dimiliki atau hanya sebagian saja.
Apabila pewakaf mewakafkan hartanya ketika sedang sakit parah dan ketika mewakafkan
hartanya tersebut dia mamsih cakap untuk melakukan perbuatan baik , maka wakafnya sah dan
dapat dilaksanakan selama dia masih hidup. Hal ini karena penyakitnya tidak bisa dipastikan
sebagai penyakit kematian. Jika kemudian pewakaf meninggal karena penyakit yang
dideritanya, maka hukum wakafnya sebagai berikut:
Jika dia meninggal sebagai debitor, maka hukum wakafnya seperti yang telah diutarakan dalam
butir (1) di atas
Jika dia meninggal tidak sebagai debitor, maka hukum wakaf yang terjadi ketika dia sedang sakit
keras seperti wasiat. Yaitu jika diberi wakaf buan ahi warisnya dan harta yang diwakafkan tidak
lebih dari 1/3 hartanya, maka wakaf terlaksana hanya sebatas sepertiga hartanya saja, jika harta
yang diwakafkan lebih dari 1/3 maka kelebihan dari 1/3 tsb bergantung pada kerelaan ahli waris
sebagai pemilik harta tsb
Nazhir atau pengelola wakaf sebagai pihak yang diberi amanat untuk mengelola wakaf memiliki
syarat: muslim, berakal, dewasa, adil, dan cakap hukum.
G. Mauquf Bih (Harta yang Diwakafkan)
Dalam UU no.41/2004 dinyatakan tidak ada pembatasan jumlah harta yang diwakafkan.
Namun terkait dengan hukum wasiat, makak sangat relevan bahwa pembatasan wakaf adalah 1/3

a.
b.
c.
d.
e.

a.
b.
c.

a.
b.

dari jumlah harta yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk kesejahteraan anggota keluarga
pewakaf. Syarat sahnya harta wakaf ialah:
Harta yang diwakafkan harus merupakan harta benda yang bernilai (mutaqawwam).
Mutaqawwam ialah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalamkeadaan
normal dan memiliki nilai harga
Harta yang akan diwakafkan harus jelas sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan
Milik pewakaf secara penuh
Harta tersebut bukan milik bersama dan terpisah
Syarat-syarat yang ditetapkan pewakaf terkait harta wakaf
H. Syarat Mauqufalaih
Yang dimaksud mauqufalaih adlah tujuan/peruntukan wakaf. Wakaf harus dimanfaatkan
dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat islam. Ada perbedaan pendapat dari
para fuqaha terkait dengan syarat peruntukan wakaf yaitu:
Mazhab Hanafi; mensyaratkan agar peruntukan wakaf ditujukan untuk ibadah dan syiar islam
menurut pandangan islam dan keyakinan pewakaf
Mazhab Maliki; ,mensyaratkan agar peruntukan wakaf untuk ibadat menurut pandangan
pewakaf
Mazhab Syafii dan Hambali; mensyaratkan agar peruntukan wakaf adalah ibadah menurut
pandangan islam saja tanpa memandang keyakinan pewakaf
I. Syarat Shighat (ikrar wakaf)
Pengertian shighat adalah segala ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang berwakaf
untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Namun, shighat cukup
dengan pernyataan/ikrar atau penyerahan dari pewakaf tanpa memerlukkan wabul dari penerima
wakaf. Pernyataan dalm bentuk ijab harus dilakukan karena wakaf adalah melepaskan hak milik
atas suatu benda dan manfaatnya atau dari manfaatnya saja dan mengalihkannya kepada pihak
lain. Ijab pewakaf mengungkapkan dengan jelas keinginan peruntukan wakaf dari pewakaf.
Adapun lafal shighat wakaf ada dua macam, yaitu:
Lafal yang jelas (Sharih)
Lafal kiasan (Kinayah)

Syarat sahnya shighat ijab, baik berupa ucapan maupun tulisan ialah:
a. Shighat harus munajah. Maksudnya ialah shighat menunjukan terjadi dan terlaksananya wakaf
ketika setelah shighat ijab diucapkan atau ditulis. Shighat harus singkat, tidak bertele-tele, jelas,
dan tegas
b. Shighat tidak diikuti syarat batil (palsu). Maksudnya ialah syarat yang menodai dasar atau
meniadakan hukum wakaf
c. Shighat tidak mengandung suatu pengertian untuk mencabut kembali wakaf yang sudah
dilakukan
J. Pengelola Wakaf
Pengertian pengelola wakaf adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari
pewakaf untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya. Posisi pengelola wakaf
sebagai pihak yang bertugas untuk memelihara dan mengelola harta wakaf, mempunyai

a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.
d.
e.

kedudukan yang penting dalam perwakafan. Hal-hal yang wajib dilakukan oleh pengelola wakaf
yaitu:
Melakukan pengelolaan dan pemeliharaan barang yang diwakafkan
Melaksanakan syarat dari pewakaf
Membela dan mempertahankan kepentingan wakaf
Melunasi utang wakaf dengan menggunakan pendapatan atau hasil produksi harta wakaf tsb
Menunaikan hak-hak mustahik dari harta wakaf, tanpa menundanya, kecuali terjadi sesuatu yang
mengakibatkan pembagian tsb tertunda.
Hal-hal yang boleh dilakukan pengelola wakaf, yaitu:
Menyewakan harta wakaf
Menanami tanahh wakaf
Membangun pemukiman di atas tanah wakaf
Mengubah kondisi harta wakaf menjadi lebih baik
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pengelola wakaf:
Tidak melakukan dominasi atas harta wakaf
Tidak boleh berutang atas nama wakaf
Tidak boleh menggadaikan harta wakaf
Tidak boleh mengizinkan seseorang menggunakan harta wakaf tanppa bayaran
Tidak boleh meminjamkan harta wakaf kepada pihak yang tidak termasuk golongan peruntukan
wakaf
K. Akuntansi lembaga wakaf
Secara umum, lembaga wakaf dibentuk atau didirikan untuk mengelola sebuah atau
sejumlah kekayaan wakaf, agar manfaat maksimalnya dapat dicapai untuk kesejahteraan umat
umumnya, dan menolong mereka yang kurang mampu khususnya. Hingga saat ini belum ada
PSAK yang mengatur tentang akuntansi lembaga wakaf. Namun merujuk pada akuntansi
konvensional serta praktik dari lembaga wakaf yang telah beroperasi di Indonesia saat ini, maka
perlakuan akuntansi untuk zakat, infak/sedekah dengan wakaf tidak akan berbeda jauh. Hal ini
disebabkan akuntansi untuk zakat, infak/sedekah harus dilakukan pencatatannya secara terpisah
atas setiap dana yang diterima.
L. Masalah pemahaman masyarakat tentang hukum wakaf
Pada umumnya masyarakat belum memahami hukum wakaf dengan baik dan benar, baik
dari segi rukun dan syarat wakaf, maupun disyariatkannya wakaf. Selain itu, masih cukupp
banyak masyarakat yang memahami bahwa benda yang dapat diwakafkan hanyalah benda tidak
bergerak seperti tanah, bangunan, dll. Dengan demikian peruntukannya pun menjadi sangat
terbatas, seperti untuk masjid, mushalla, rumah yatim piatu, madrasah, sekolah dan sejenisnya.
Sehingga perlu disosialisasikan kepada masyarakat perlunya dikembangkkan wakaf benda
bergerak.
M. Pengelolaan dan Manajemen Wakaf
Pengelolaan dan manajemen wakaf yang lemah dapat mengakibatkan pengelolaan harta
wakaf tidak optimal, harta wakaf terlantar, bahkkan harta wakaf dapat hilang. Untuk mengatasi
masalah ini, paradigmma baru dalam pengelolaan wakaf harus diterapkan. Wakaf harus dikelola

secara produktif dengan menggunakan manajemen modern. Untuk mmengelola wakaf secara
produktif, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Selain perumusan konsepsi fikih wakaf dan
peraturan perundang-undangan, pengelola wakaf juga harus dibina dan dilatih mmenjadi
pengelola wakaf profesional untuk dapat mengembangkan harta yang dikelolanya, apalagi jika
harta wakaf tersebut menyangkut dengan uang.