Anda di halaman 1dari 21

KEBIJAKAN & POLITIK MARITIM

SEJAK zaman kerajaan-kerajaan jauh sebelum Indonesia merdeka, semangat


maritim sudah menggelora di bumi pertiwi tercinta ini, bahkan beberapa kerajaan
zaman itu mampu menguasai lautan dengan armada perang dan dagang yang
besar. Namun, semangat maritim tersebut menjadi luntur tatkala Indonesia
mengalami penjajahan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pola hidup dan orientasi
bangsa dibelokkan dari orientasi maritime ke orientasi agraris (darat).
Memasuki zaman kemerdekaan, berbagai upayapun telah dilakukan oleh para
pendahulu bangsa ini untuk kembali menggelorakan semangat maritim bangsa
Indonesia. Sebagai negara merdeka, Indonesia mulai berupaya mendapatkan
pengakuan dunia sebagai Negara Kepulauan. Namun, upaya ini tidaklah mudah
karena dibutuhkan kemampuan diplomasi serta pemahaman tentang hukum laut
dan hukum internasional yang baik. Akhirnya pada tanggal 13 Desember 1957
terbitlah Pengumuman Pemerintah tentang Perairan Indonesia yang dikenal
dengan Deklarasi Djuanda yang mendeklarasikan Wawasan Nusantara yang
bertujuan untuk menyatukan nusantara dalam suatu kekuatan hukum untuk menghindari disitegrasi bangsa Indonesia. Meski secara de yure sejak Indonesia
merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, sudah ditetapkan bahwa Indonesia yang
diproklamasikan adalah Ex Nederlands Indie (Hindia Belanda), sebuah negara
yang terdiri dari gugusan pulau yang kini dikenal dengan Negara Kepulauan.
Pelurusan sejarah dan persamaan persepsi harus dibangun bahwa Deklarasi
Djuanda 1957 bukan awal dari deklarasi Indonesia sebagai Negara Kepulauan
namun merupakan penyesuaian terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945.
Pengakuan Internasional bahwa Indonesia merupakan Negara Kepulauan akhirnya
tercapai dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982. PBB memberikan
kewenangan dan memperluas wilayah laut Indonesia dengan segala ketatapan

yang mengikutinya. Perluasan wilayah Indonesia dalam UNCLOS 1982 tidak


hanya wilayah laut teteapi juga wilayah udara. Selain itu juga terjadi perluasan
hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di ZEE serta landas kontinen serta
Indonesia juga masih memiliki hak atas pengelolaan natural reseources di laut
bebas dan di dasar samudera. Kesemuanya ini menjadikan Indonesia sebagai
negara yang sangat kaya.
Dekalarasi DJuanda 1957 yang menegaskan konsepsi Wawasan Nusantara
memberikan kita anugerah yang luar biasa baik itu laut, darat maupun udara.
Sementara UNCLOS 1982 menempatkan Indonesia sebagai Negara Kepulauan
dengan potensi ekonomi maritim sangat besar. Sebagai Negara Kepulauan
terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 yang terdiri
dari wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km persegi dan wilayah Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km2. Selain itu, terdapat 17.504 pulau di
Indonesia dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Dengan cakupan yang
demikian besar dan luas, tentu saja maritim Indonesia mengandung
keanekaragaman suberdaya alam laut yang potensial, baik hayati dan non-hayati
yang tentunya memberikan nilai yang luar biasa pada sumber daya alam seperti
ikan, terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi tinggi,
wilayah wisata bahari, sumber energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi,
mineral langka dan juga media transportasi antar pulau yang sangat ekonomis.
Letak geografis kita strategis, di antara dua benua dan dua samudra dimana paling
tidak 70 persen angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur Tengah dan Asia
Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya, harus melalui perairan kita.
Permasalahan yang muncul kemudian adalah sejauh mana bangsa ini
memanfaatkan peluang yang begitu fantastis itu. Pada zaman pemerintahan Ir.
Soekarno sebagai presiden selalu terkumandang semangat maritim, namun dalam
implementasi kebijakan pembangunan khusus dibidang laut sepertinya tidak
serius, namun paling tidak sudah ada upaya menggelorakan semangat maritim.
Salah satu pernyataan Soekarno pada National Maritime Convention (NMC) 1963
adalah Untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara
makmur, negara damai yang merupakan national building bagi negara Indonesia.
Maka negara dapat menjadi kuat jika dapat menguasai lautan. Untuk menguasai
lautan kita harus menguasai armada yang seimbang.
Kondisi hilangnya orientasi pembangunan maritim bangsa Indonesia semakin jauh
tatkala memasuki era Orde Baru, kebijakan pembangunan nasional lebih
diarahkan ke pembangunan berbasis daratan (land based oriented development)
yang dikenal dengan agraris, bahkan dengan bangga Indonesia dideklarasikan
sebagai negara agraris penghasil produk rempah-rempah dan produksi pertanian
yang spektakuler. Kebijakan Orde Baru ini sejalan dengan perlakuan pemerintah
kolonial Belanda saat menjajah bangsa Indonesia. Orientasi dan semangat maritim
bangsa Indonesia dibelokkan dari orientasi maritime ke orientasi daratan untuk
mengahasilkan komoditas perdagangan rempah-rempah yang saat itu merupakan
primadona dunia yang sangat menguntungkan pihak penjajah. Menjadi pertanyaan
mendasar, mengapa era Orde Baru melakukan kesalahan fatal dalam menentukan
arah kebijakan pembangunan nasional. Jawaban dari pertanyaan tersebut sangat
sulit terjawab hingga kini. Kekonyolan tersebut terus berlanjut tatkala memasuki

era Reformasi, dimana orientasi kebijakan pembangunan nasional semakin tidak


jelas.
Beberapa elemen bangsa yang memahami betul potensi terbesar Indonesia sebagai
Negara Kepulauan terus berjuang untuk menggelorakan semangat untuk
menjadikan Indonesia sebagai Negara Maritim. Sebagai catatan, bahwa pengertian
Negara Kepulauan dan Negara Maritim sangatlah jauh berbeda. Negara Kepulauan adalan ciri sebuah negara yang secara geografis terdiri atas banyak pulau
yang terikat dalam suatu kesatuan negara. Sedangkan Negara Maritim adalah
sebuah negara yang menguasai semua kekuatan strategis di lautan yang didukung
oleh kekuatan maritim baik itu aramada perdagangan, armada perang, Industri
maritim serta kebijakan pembangunan negara yang berbasis maritim.
Jika mencermati istilah tentang Negara Maritim, maka saat ini Indonesia belum
bisa dikatagorikan sebagai Negara Maritim tapi masih sebatas Negara Kepulauan.
Namun jika ada kesepahaman dan ada komitmen para pemimpin bangsa ini untuk
menjadikan Indonesia sebagai Negara Maritim yang besar dan kuat serta disegani
dunia Internasional, peluangnya sangatlah besar. Modal dasar sebagai Negara
Kepulauan dengan posisi strategis serta kekayaan sumberdaya alam yang begitu
melimpah memberikan peluang yang sangat besar bagi Indonesia untuk
merealisasikan Kodrat Tuhan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang
besar dan paling strategis di dunia. Selain itu juga bisa lebih dimaksimalkan
pencapaian cita-cita bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Perjuangan menuju Negara Maritim memang tidak mudah, namun jika seluruh
bangsa ini memiliki kesamaan visi dan kebulatan tekad maka hal tersebut
bukanlah hal yang mustahil. Deklarasi Djuanda 1957 dan UNCLOS 1982
memberikan peluang yang besar bagi bangsa Indonesia untuk diimplementasikan
secara serius melalui kebijakan-kebijakan pembangunan nasional yang
memprioritaskan orientasi yang berbasis maritim. Melahirkan kebijakan
pembangunan melaui perundang-undangan, pembangunan kekuatan armada
pertahanan, armada perdagangan, industri dan jasa maritim yang ditunjang dengan
penguasaan IPTEK merupakan upaya serius yang harus segera dilakukan menuju
Indonesia sebagai NEGARA MARITIM... Jaya di laut, Sejahtera di darat dan
perkasa di udara.
Maritime Policy:
Langkah Menuju Negara Maritim
Indonesia berada di peringkat 18 perekonomian dunia. Namun, sejak merdeka 65
tahun silam, Indonesia hingga kini masih menjadi negara berkembang dengan
tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, GNP per kapita kecil (2.300
dolar AS), serta daya saing ekonomi rendah. Bahkan, The United Nations
Development Programme (UNDP) menempatkan Indonesia pada peringkat 108
untuk indeks pembangunan manusia (IPM).
Faktor terpuruknya perekonomian Indonesia adalah paradigma pembangunan
yang berorientasi ke daratan (land-based development). Sementara laut hanya
diperlakukan sebagai tempat eksploitasi sumber daya alam (SDA), pembuangan
limbah, dan kegiatan ilegal. Untuk itu, diperlukan Maritime Policy untuk
mengembalikan perekonomian Indonesia ke titahnya sebagai negara kepulauan.

Saat ini kebijakan pembangunan kelautan Indonesia belum dilaksanakan secara


parsial. Masing-masing kementerian berjalan sendiri-sendiri. Sebagai contoh
Undang-undang (UU) No 17/2008 ,tentang Pelayaran, motornya adalah
Kementerian Perhubungan; UU No 27/2007, tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil dan Undang-Undang No 31/2004, tentang Perikanan, di
bawah komando Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Dalam membangun Indonesia sebagai negara maritim dibutuhkan satu wadah
kementerian koordinator yang ditunjang undang-undang kelautan. Sebut saja
kementerian koordinator kelautan atau maritim. Melalui upaya ini diharapkan
pembangunan kelautan Indonesia bisa dilaksanakan secara terintegrasi sehingga
roda perekonomian negara meningkat. Karena itu, pemerintah harus segera mengubah paradigma pembangunan, sebab ekonomi maritim menyimpan potensi
menggerakkan perekonomian nasional. Mulai dari sektor perikanan,
pertambangan dan energi, pariwisata bahari, perhubungan laut, sumber daya
pulau-pulau kecil, SDA non-konvensional, industri sampai dengan jasa maritim.
Total potensi ekonomi maritim Indonesia sangat besar. Diperkirakan mencapai
Rp7.200 triliun per tahun atau enam kali lipat dari APBN 2011 (Rp1.299 triliun)
dan satu setengah kali PDB saat ini (Rp5.000 triliun). Ditaksir lapangan kerja
yang tersedia sekitar 30 juta orang.
Ke depan ekonomi maritim akan semakin strategis seiring dengan pergeseran
pusat ekonomi dunia dari bagian Atlantik ke Asia-Pasifik. Hal ini sudah terlihat 70
persen perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik. Secara detail 75
persen produk dan komoditas yang diperdagangkan dikirim melalui laut Indonesia
dengan nilai sekitar 1.300 triliun dolar AS per tahun.
Potensi ini dimanfaatkan Singapura, dengan membangun pelabuhan pusat
pemindahan (transhipment) kapal-kapal perdagangan dunia. Negara yang luasnya
hanya 692.7 km2, dengan penduduk 4,16 juta jiwa itu kini telah menjadi pusat
jasa transportasi laut terbesar di dunia. Bahkan ekspor barang dan komoditas
Indonesia 70 persen melalui Singapura. Saat ini Malaysia mencoba menyamai
Singapura dengan membangun pelabuhan Kelang dan Tanjung Pelepas. Ironisnya,
sebagai negara yang memiliki wilayah laut dan pesisir terluas, Indonesia hanya
bisa menjadi penonton.
Mengenai sumber pertambangan dan energi, 70 persen minyak dan gas bumi
diproduksi di kawasan pesisir dan laut. Dari 60 cekungan yang potensial
mengandung migas, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 di pesisir, dan hanya
enam di daratan. Potensi cekungan-cekungan tersebut diperkirakan sebesar 11,3
miliar barel minyak bumi. Sementara gas bumi tercadang sekitar 101,7 triliun kaki
kubik. Di lepas pantai Barat Sumatera, Jawa Barat bagian selatan dan bagian
utara Selat Makassar telah ditemukan pula jenis energi baru pengganti BBM,
berupa gas hidrat dan gas biogenik dengan potensi melebihi seluruh potensi
migas.
Tidak hanya itu, Indonesia memiliki potensi budidaya rumput laut yang besar.
Walau hanya mengusahakan 32.000 ha (kurang lebih 30 persen total potensi),
ditaksir dapat memproduksi sekitar 160 juta kg rumput laut kering per tahun,
dengan nilai sebesar Rp 1,1 triliun per tahun (harga Rp 7.000/kg). Jika dikelola
intensif produksinya bisa mencapai 2-3 kali lipat. Seandainya diproses menjadi

beragam semi-refined products (karaginan, alginat, agar, makanan, minuman) atau


refined products (bahan pencampur shampo, coklat, es krim, milk shake, permen,
pasta gigi, salep, pelembab, lotion, industri cat, tekstil), nilainya akan berlipat
ganda sehingga mencapai multiplier effects bagi pendapatan masyarakat dan
penyerapan tenaga kerja. Hal tersebut belum termasuk komoditas lain yang
mempunyai harga tinggi dan dibutuhkan pasar domestik, seperti udang, tuna,
kerapu, ikan hias, kerang mutiara, teripang, abalone.
Untuk itu, strategi dan kebijakan di bidang maritim (Maritime Policy) harus
segera dibenahi guna mengoptimalkan potensi yang dimiliki, baik menyangkut
sumber daya laut, industri maupun bisnis transportasi. Sektor maritim juga butuh
pemihakan lewat kebijakan fiskal dan moneter.
Kebijakan pemerintah di bidang maritim, baik industri perikanan maupun industri
pelayaran harus dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan Undang-Undang
yang berlaku. Selama ini pengembangan potensi maritim terbentur masalah
struktural. Belum ada kesadaran politis secara nasional tentang betapa besarnya
potensi ekonomi perikanan dan maritim. Sehingga, dibutuhkan pemihakan
kebijakan sektor maritim, baik melalui kebijakan makro, fiskal, maupun moneter.
Saat ini sektor maritim masih ditempatkan di halaman belakang sebagai sektor
yang termarjinalkan. Agar laut bisa menjadi halaman depan, perlu kesadaran
politik yang kuat. Sebenarnya langkah ini sudah dirintis saat pemerintahan
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan mendirikan Departemen Eksplorasi Laut
yang kini menjadi Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Adapun masalah krusial sektor maritim adalah rendahnya komitmen pemerintah
membangun sektor ini. Semua aktivitas maritim belum terpusat dalam satu
departemen atau kementerian, sehingga fokus pengembangan sektor ini belum
optimal karena hanya sebagai sub-sub sektor saja. Harusnya dibentuk satu
departemen yang lebih fokus dan menjadikan maritim menjadi satu sektor
tersendiri dengan sistem panganggaran dan kebijakan yang lebh terfokus dengan
sebuah payung Maritime Policy.
Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri 0,3 juta km2 perairan
teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2 Zona
Ekonomi Ekslusif (ZEE), dikelilingi lebih dari 17.504 pulau, dengan panjang
pantai 81.000 kilometer, ini adalah potensi kekayaan yang luar biasa. Potensi
ekonomi maritim Indonesia diperkirakan lebih dari 100 miliar dolar AS per tahun.
Namun, yang dikembangkan kurang dari 10 persen.
Dari industri pengolahan ikan, kurangnya bahan baku menjadi penyebab tidak
berkembangnya industri ini. Utilitas pabrik yang rata-rata hanya 45 persen
menjadi masalah karena banyak hasil tangkapan ikan yang langsung diekspor ke
luar negeri, terutama ke Thailand dan Jepang. Pemerintah sebenarnya telah
menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan No 5 /2008
yang melarang ekspor langsung hasil tangkapan perikanan. Peraturan ini, secara
otomatis mewajibkan perusahaan asing untuk bermitra dengan perusahaan lokal
dalam membangun industri pengolahan di Indonesia. Namun yang menjadi
persoalan implementasi Permen tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sumber permasalahan lainnya adalah penangkapan ikan secara ilegal (illegal
fishing), oleh asing yang nilainya ditaksir mencapai Rp 30 triliun per tahun. Hal

ini bisa diatasi bila Indonesia memiliki kapal-kapal tangkapan ikan dengan skala
menengah ke atas. Saat ini jumlah kapal ukuran tersebut hanya tiga persen dari
kebutuhan.
Pemerintah harus segera membangun dan memperbaiki infrastruktur perikanan
dan maritim yang masih lemah ini. Tanpa upaya itu, sektor perikanan Indonesia
akan tertinggal dibanding negara lain. Sebagai contoh, pembangunan infrastruktur
di Lampung yang merupakan lumbung udang terbesar harus menjadi perhatian
serius pemerintah.
Sementara untuk sektor transportasi laut kendalanya adalah permodalan. Sektor
tersebut dinilai masih berisiko tinggi untuk dibiayai, sehingga perbankan enggan
mengucurkan kredit pembelian kapal kepada pelaku usaha di bidang pelayaran.
Sebagai tulang punggung sektor transportasi laut nasional, industri pelayaran
membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam meningkatkan jumlah armada.
Hanya dengan jumlah armada yang memadai, sektor transportasi laut bisa
berkembang.
Sayang, perbankan enggan mengucurkan dana ke perusahaan pelayaran. Padahal
sejumlah perusahaan pelayaran sudah berusaha mengajukan kredit pembelian
kapal, namun hasilnya nihil. Kesulitan permodalan sebenarnya sudah
terakomodasi dalam UU No 17/2008, tentang Pelayaran. Pasal 56 dari UU ini
menyatakan, pemerintah wajib menciptakan inovasi pendanaan bagi perusahaan
pelayaran nasional.
Namun, pada kenyataannya, usaha ini masih high risk. Kementerian Keuangan
selaku pemegang kebijakan seharusnya bisa melihat masalah itu. Pemerintah
harus bisa meyakinkan pihak bank bahwa perusahaan pelayaran nasional mampu
mengembalikan kredit.
Pengembangan laut nasional juga membutuhkan dukungan pelabuhan. Sejauh ini,
kebanyakan kondisi pelabuhan di Tanah Air sangat kurang kondusif. Selain biaya
yang tinggi, pungli marak, juga fasilitas sandar yang sangat minim.
Hal ini karena pelabuhan masih dimonopoli PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
Monopoli seharusnya dihilangkan, sehingga pelabuhan-pelabuhan bisa berbenah
diri. Saat ini, pelabuhan masih menjadi profit center, tanpa dibarengi peningkatan
layanan.
Pembangunan ekonomi maritim juga nyaris tanpa keberpihakan terhadap rakyat.
Penguasaan sumber-sumber ekonomi dan praktik ekonomi yang didominasi asing,
investasi tanpa seleksi, dan akses yang tidak setara telah mengakibatkan bangsa
ini mengalami kemunduran dan tertinggal dari negara lain. Monopoli transportasi
laut oleh armada asing saat ini mencapai 90 persen.
Tanpa 'Maritime Policy' Indonesia Jadi Sapi Perah
Konsep Negara Kepulauan (Nusantara) memberikan anugerah yang luar biasa.
Letak geografis yang strategis, sedikitnya 70 persen angkutan barang dari Eropa,
Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik, dan sebaliknya, melawati
perairan Indonesia. Wilayah laut yang demikian luas memberikan akses pada
sumber daya alam, seperti ikan, terumbu karang, kekayaan biologi yang bernilai
ekonomi tinggi, wisata bahari, sumber energi terbarukan, minyak, gas bumi, dan
mineral langka.

Tak heran, jika Indonesia menjadi grand strategy bagi negara-negara besar di
dunia. Ditopang potensi kekayaan alam yang melimpah dan posisinya yang sangat
strategis, membuat mereka sangat memiliki kepentingan terhadap bumi
khatulistiwa ini.
Bangkitnya kekuatan baru di bidang kelautan, seperti India, China, Australia dan
Amerika Serikat (yang telah maju) menjadi tantangan bagi Indonesia. Selain
berusaha menancapkan pengaruhnya di kawasan Asia, negara-negara tersebut
berlomba mencari cadangan energi untuk kepentingan mereka.
Di sisi lain, Indonesia telah melupakan visi kelautan dalam Deklarasi Djuanda
yang melahirkan konsep Wawasan Nusantara, yaitu cara pandang Bangsa
Indonesia terhadap rakyat, bangsa dan wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, meliputi darat, laut dan udara di atasnya sebagai satu kesatuan politik,
ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Di era kolonial, budaya bangsa bahari dikikis secara perlahan dan sistematik.
Selain itu, belum dimiliki Maritime Policy oleh para pemangku kebijakan yang
secara deskriptif bertujuan membangun negara maritim yang besar dan kuat.
Kini di abad 21, negara-negara di dunia berlomba meningkatkan kekuatan
maritimnya. Amerika Serikat membangun kekuatan maritime dengan slogan
kekuatan maritim melindungi cara hidup Amerika. Lahirlah A Cooperative
Strategy for 21st Century Sea Power, yang dipublikasi Oktober 2007 oleh United
States Marine Corps, United States Coast Guard dan Department of Navy. Aliansi
dengan NATO membentuk Global Maritime Partnership Initiative yang bertujuan
menjaga ketertiban dan perdamain dunia, di bawah pengaruh mereka. China
membangun Maritime Policy dengan strategi Chain of Pearl yang bertujuan
membangun dan menyelamatkan urat nadi perdagangannya lewat laut.
India membangun Maritime Policy dengan mengeluarkan Freedom to Use the
Seas: Maritime Military Strategy yang bertujuan meningkatkan pembangunan
kekuatan angkatan laut India. Inggris pun tidak kalah dengan mengeluarkan
semboyan Britain Rules the Waves yang bertujuan membangun kekuatan
maritim Inggris dalam menghadapi era globalisasi.
Kini Indonesia berada dalam lingkaran negara-negara besar tersebut. Bahkan,
Malaysia dan Singapura yang merupakan negera kecil berkembang seperti Inggris
dengan visi kemaritimannya. Apakah mereka negara kepulauan? Bukan, tetapi
kedua negara itu memiliki visi dan Maritime Policy.
Ironisnya, Indonesia sebagai negara kepulauan hanya menjadi penonton. Sudah
kah negara ini memilki Maritime Policy sebagai jati diri bangsa kepulauan
terbesar di dunia?
Dalam upaya Character of Government menuju Maritime Policy diperlukan enam
elemen penting, yaitu Geographical Position, Phisical Confirmation, Extent of
Territory, Number of Population, Character of the People and Character of
Government. Dari instrumen tersebut dua di antaranya belum dimiliki bangsa
Indonesia, yakni karakter pemimpin dan warga negaranya.
Tidak seriusnya pemerintah terhadap Maritime Policy, berimbas pada semakin
banyaknya penata kelola maritim, mulai dari Kementerian Luar Negeri,

Kementerian Pertahanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian


Perhubungan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, Direktorat
Jendera Imigrasi, Kementrian BUMN, Bakorkamla, Polairud, sampai dengan
Coast Guard. Tanpa Maritme Policy terjadi tumpang tindih di lapangan seperti
sekarang.
Sayang, kekayaan alam yang luar biasa sebagai konsekuensi jati diri bangsa tidak
disertai dengan kesadaran dan kapasitas pengelolaan yang sepadan. Bangsa
Indonesia masih mengidap kerancuan identitas. Di satu sisi masyarakat
mempunyai persepsi kewilayahan tanah air, tetapi secara kultural memposisikan
diri sebagai bangsa agraris dengan puluhan juta petani miskin yang tidak sanggup
disejahterakan. Sementara kegiatan industri modern sulit berkompetisi dengan
bangsa lain, karena budaya kerja yang berkultur agrarian konservatif, diperparah
inefisiensi birokrasi dan korupsi.
Visi dan program maritim hanya bisa sukses secara berkelanjutan jika terdapat
basis kultur yang terbuka, egaliter, haus pengetahuan dan menyukai perubahan.
Pada jangka pendek, program maritim bisa berjalan dengan merekrut kalangan
pengambil keputusan dan para pelaku utama dari kalangan yang mempunyai
kultur tersebut. Bisa juga dengan mengundang investasi asing dari pihak yang
lebih maju.
Tetapi pada jangka panjang, diperlukan perubahan orientasi pendidikan, ke arah
rasionalitas ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran akan sumber-sumber
keunggulan kompetitif, kepekaan budaya, kedalaman budi pekerti serta menyikapi
tantangan perubahan secara positif. Sebagai gambaran, betapa Indonesia tidak siap
menanggapi perubahan terhadap kemungkinan rencana Thailand membuat kanal
di semenanjung Kra, (selesai kurang dari 10 tahun). Sekarang Thailand tengah
berpikir keras apakah mereka akan melanjutkan rencana tersebut. Jika mereka jadi
membuat kanal, maka volume transportasi laut melalui perairan nusantara akan
berkurang.
Sepintas Singapura akan ikut terpukul. Tetapi jangan lupa bahwa Singapura selalu
merencanakan berada di depan peristiwa. Mereka tidak perlu mempertahankan
keunggulannya sebagai pusat pelayanan perhubungan laut. Mereka berencana
menjadikan Singapura sebagai pusat budaya dan pusat jasa bernilai tinggi
sehingga corak ekonominya lebih canggih, menarik, bukan seperti Singapura
sekarang yang tertib, efisien dan membosankan. Menteri Luar Negeri Singapura
(di masa lalu), Rajaratnam bahkan pernah mengatakan mereka harus selalu maju
setengah langkah melebihi negara-negara tetangga. Para ahli geografi ekonomi
mereka dapat memperkirakan ke arah mana pusat pertumbuhan ekonomi regional
Pasifik bergerak.
'Maritime Policy' Mendesak
Ironisnya, sebagai tuan rumah Indonesia tidak bisa memanfaatkan kekayaan laut
untuk kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, Indonesia juga tidak bisa menjaga
wilayahnya, sehingga mudah disusupi negara lain. Untuk mengatasi hal tersebut
diperlukan strategi Maritime Policy, kebijakan yang mengatur ekonomi berbasis
kelautan, pelayaran dan pertahanan. Namun, pemimpin bangsa ini seakan tidak
peduli dengan kebijakan tersebut. Tak heran, jika di kancah pembangunan laut,
Indonesia tertinggal dari negara luar.

Kondisi ini membuat Sri Sultan Hamangkubuwono X prihatin. Sultan


menjelaskan betapa pentingnya Maritime Policy bagi pembangunan negara,
khususnya di sektor kelautan. Tokoh nasional ini mencontohkan keberhasilan
Singapura dalam menerapkan Maritme Policy. Meskipun luas negaranya hanya 16
mil, mereka bisa menguasai pelayaran Indonesia bahkan dunia. Sebaliknya,
sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia justru tergantung terhadap negara
tetangga kecil itu.
Selama ini kita banyak menggunakan kapal-kapal Singapura untuk transportasi
dan mendistribusikan barang ke provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Kondisi
ini dimanfaatkan Singapura dengan memperkuat kapal-kapal niaganya. Tidak
hanya itu, mereka juga membangun hub port terbesar dan tercanggih di dunia,
kata Sultan.
Karena itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengharapkan
pemerintah mengubah kebijakan-kebijakannya. Malaysia sebagai negara
kontinental strategi yang digunakannya maritim. Tak heran jika Indonesia selalu
dibohongi Malaysia. Pulau-pulau kita dicaplok terus. Ini terjadi karena orientasi
kita kontinental. Bukan laut yang mempersatukan pulau-pulau, tegas pemilik
nama lengkap Bendara Raden Mas Herjuno Darpito ini.
Kapan Indonesia bisa dibilang sebagai negara bervisi maritim? Tidak perlu
mendeklarasikan, yang paling penting bagaimana langkah-langkah kebijakan
Maritime Policy diselesaikan. Kalau belum bisa menyelesaikan, presiden harus
memutuskan coast guard. Siapa yang menjadi ujung tombak untuk keamanan
negara. Menurut Sultan, sampai sekarang terlihat Kementerian Kelautan dan
Perikanan mengejar kapal. Pengawas kementerian kan tidak boleh memakai
senjata. Yang boleh adalah AL (angkatan laut). Aturannya begitu.
Sementara itu, Connie Rahakundini Bakrie, analis bidang pertahanan mengatakan,
bicara mengenai Maritime Policy tidak lepas dari konsistensi keamanan nasional.
Ada tiga unsur penting di sektor ini, yaitu political freedom, stabilitas politik, dan
kapastian hukum atau kebijakan.
Political freedom sudah ada, stabilitas politik juga ada, tapi yang tidak ada adalah
kapastian hukum atau kebijakan. Hari ini kebijakan presiden yang satu A, besok
presiden yang baru bilang B, kondisi tersebut tidak boleh terjadi. Karena yang
diperlukan negara dalam membangun keamanan laut adalah kebijakan jangka
panjang. Karena itu, dalam menjalankan Maritime Policy diperlukan kepastian
hukum dan kebijakan yang didukung DPR sebagai landasan, ujar Connie.
Wakil Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI), Zulficar Mochtar
mengungkapkan, sudah seharusnya kementerian terkait bidang kelautan
membenahi dan berkoordinasi lebih aktif dalam memformulasikan kebijakannya,
sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat. Termasuk dalam upaya memperkuat
konsolidasi pengawasan laut dalam kerangka Coast Guard.
Menurut Zulficar, Dewan Kelautan Indonesia harus dibangunkan dari tidur
panjangnya agar serius mendorong Kebijakan Kelautan (Maritime Policy).
Fondasi kebijakan sangatlah penting bagi pembangunan nasional. Mereka harus
mendorong dan memfasilitasi terbentuknya strategi pembangunan yang strategis
agar Indonesia dapat menjadi negara maritim yang mandiri dan berdaulat.

Dari sisi ekonomi, Juan Permata Adoe, Wakil Ketua Divisi Maritim dari Kamar
Dagang Indonesia dan Industri (Kadin), di berbagai kesempatan mengemukakan,
dalam menerapkan Maritime Policy pemerintah tidak hanya harus fokus pada
kebijakan laut, mereka juga harus mendorong investor asing terlibat dalam usaha
maritim di dalam negeri.
Investor juga harus didorong terlibat di sektor lain, seperti industri perkapalan
dan lainnya. Saat ini sudah terlalu banyak lembaga pemerintah yang bertugas
melindungi domain maritim. Hal ini yang mengakibatkan tumpang tindih
kewenangan, kata Juan.
Pengamat Kelautan Indonesia, Profesor Sahala Hutabarat mengatakan, sebagai
negara kepulauan, Maritime Policy sangat penting bagi Indonesia. Tetapi pangkal
sebenarnya adalah Undang-Undang Kelautan. Amandemen UUD 1945, Pasal 25
A, kalau tidak salah di situ dikatakan negara Indonesia adalah negara kepulauan.
Jadi, Maritime Policy sudah sesuai dengan amanat UUD. Pada pasal 33 ayat 1,2,3
juga sudah disinggung-singgung terus, tetapi tidak dijalankan sebagaimana
mestinya, ungkap Sahala.
Menurut Sahala, konsep Indonesia sebagai negara kepulauan sudah diakui dengan
adanya UNCLOS. Jika sudah menjadi negara kepulauan, mau tidak mau
Indonesia harus berani bicara maritim. Yang kita tunggu adalah UU Kelautan
yang hingga kini masih menjadi draft. UU tersebut sudah lima tahun kita tunggu.
Karena itu, pembahasan UU Kelautan harus dipacu agar segera disahkan DPR.
Dengan UU ini kita akan menuju Maritime Policy. Selanjutnya, akan ada perpres,
kepres, dan permen. Jadi UU itu harus segera direalisasikan.
Sahala menjelaskan, bicara Ocean dan Maritime Policy ada yang membedakan.
Menurutnya, Ocean Policy secara otomatis bicara laut. Sementara Maritim Policy
cakupannya jauh lebih luas. Soal keseriusan pemerintah sendiri, Sahala mengakui
pemerintah belum serius. Action-nya belum kelihatan. Misal, bicara soal batas laut
dengan negara tetangga, belum selesai semua, dengan Singapura masih belum
jelas, pun dengan 12 negara tetangga lain.
Ia khawatirkan kejadian Sipadan dan Ligitan kembali terjadi. Di ambalat
contohnya, ada sekitar 12 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan
Malaysia. Pemerintah harus serius menjaga pulau-pulau tersebut sebagai security
belt, sabuk pengaman daerah terluar. Penjagaan bisa dilakukan baik dari dalam
maupun dari luar, melalui Maritime Policy.
Menanggapi Maritime Policy, meskipun bukan kementerian yang secara langsung
menangani kebijakan sektor kelautan nasional, langkah nyata dilakukan
Kementerian Luar Negeri dengan memprakarsai kerjasama kelautan di wilayah
ASEAN. Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI,
Djauhari Oratmangun mengatakan, dalam gagasan kerjasama ASEAN, pihaknya
selalu berkoordinasi dengan kementerian lain. Salah satunya adalah dalam
membentuk ASEAN Maritim Forum.
Dalam konteks ini, kita harus jadi leader. Untuk menjadi leader kita harus punya
backup nasional yang kuat, serta punya kebijakan nasional yang memadai. Itulah
yang ingin kita jual. Karena konsep berpikir maritim dalam konteks ini sudah
diterima.
Apalagi, kata Djauhari, ASEAN terdiri dari negara-negara yang memiliki pantai

(Kecuali Laos), sehingga memiliki potensi sengketa laut yang cukup besar. Maka
itu yang kita ke depankan adalah kerjasama. Bagaimana membangun wilayah
ASEAN yang tenteram, damai dan maju. Jika ada gesekan jangan sampai terjadi
konflik terbuka. Kita sebagai negara kepulauan semestinya bisa leading dan kita
mulai dengan membentuk ASEAN Maritime Forum.
Indonesia Belum Merdeka di Laut
Setelah 67 tahun merdeka Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari
penjajahan. Kemerdekaan masih tergadaikan. Pengelolaan ekonomi masih
dikuasai negara asing, kelompok dan ideologi yang berkepentingan. Tak
terkecuali potensi laut Indonesia yang begitu besar. Pemerintah tak berdaya
mengaturnya.
Melihat luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2
perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2
Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), dikelilingi lebih 17.504 pulau, dengan panjang
pantai 81.000 kilometer, ini semua adalah sumber kekayaan yang luar biasa.
Namun, di usianya yang lebih dari setengah abad, Indonesia masih negara
berkembang dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan tinggi, GNP per kapita
kecil (2.300 dolar AS), serta daya saing ekonomi rendah. Bahkan, The United
Nations Development Programme (UNDP) menempatkan Indonesia di peringkat
108 untuk indeks pembangunan manusia (IPM).
Padahal, potensi ekonomi kelautan Indonesia diperkirakan mencapai Rp7.200
triliun per tahun atau enam kali lipat dari APBN 2011 (Rp1.299 triliun) dan satu
setengah kali PDB saat ini (Rp5.000 triliun). Lapangan kerja yang akan tercipta
lebih dari 30 juta orang.
Jika semua potensi tersebut dimanfaatkan dengan benar tanpa dirongrong pihakpihak tertentu, rakyat Indonesia akan merdeka dalam arti sebenarnya. Indonesia
tidak lagi menjadi bangsa budak, yang menjadi pembantu di negeri orang dan kuli
di negeri sendiri.
Untuk itu, pemerintah harus segera mengubah paradigma pembangunan agar lebih
berpihak pada rakyat dan bangsa. Apalagi potensi laut Indonesia bisa
menggerakkan roda perekonomian nasional. Mulai dari sektor perikanan,
pertambangan dan energi, pariwisata bahari, perhubungan laut, sumber daya
pulau-pulau kecil, industri sampai dengan jasa maritim.
Ke depan ekonomi kelautan akan semakin strategis seiring dengan pergeseran
pusat ekonomi dunia dari Atlantik ke Asia-Pasifik. Hal ini terlihat 70 persen
perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik. Di mana 75 persen
produk dan komoditas yang diperdagangkan dikirim melalui laut Indonesia
dengan nilai sekitar 1.300 triliun dolar AS per tahun.
Mengenai sumber pertambangan dan energi, 70 persen minyak dan gas bumi
diproduksi di kawasan pesisir dan laut. Dari 60 cekungan yang potensial
mengandung migas, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 di pesisir, dan hanya
6 di daratan. Potensi cekungan-cekungan tersebut diperkirakan sebesar 11,3 miliar
barel minyak bumi. Sementara gas bumi tercadang sekitar 101,7 triliun kaki
kubik. Namun, sangat disayangkan yang menguasai kekayaan tambang dan energi
bangsa ini lagi-lagi jawabannya adalah perusahaan asing yang merupakan

kepanjangan tangan dari negara-negara yang berkepentingan. Indonesia menjadi


grand strategy bagi negara yang lebih maju.
Negara Indonesia kehilangan jati diri sebagai negara maritim akibat penjajahan
panjang Belanda selama 350 tahun. Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia
kehilangan infrastruktur, budaya, politik dan visi ekonomi. Bangsa Indonesia
kembali lahir dari titik nol. Padahal, Indonesia pernah berjaya di era kebesaran
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Momen Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, telah menyatukan kembali generasi
muda Indonesia dalam satu wadah wilayah nusantara. Indonesia pun
memproklamasikan kemerdekaaan pada 17 Agustus 1945, dan mendapat
pengakuan kedaulatan dari badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1949.
Sejak itu babak baru kehidupan bangsa dimulai dengan terbentuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Fondasi dan prasarana kehidupan mulai diletakkan.
Ibarat jabang bayi yang baru lahir, belajar tengkurap, merangkak, dan berjalan
tertatih-tatih, kemudian tumbuh menjadi bocah, remaja dan dewasa.
Perkembangan ekonomi Indonesia sendiri terbagi dalam tiga fase. Fase pertama
(1945-1949), adalah era perang kemerdekaan. Praktis tak ada agenda
pembangunan yang dilaksanakan. Di samping belum ada sumber-sumber
pembiayaan domestik, belum bisa mengharapkan negara sahabat karena Indonesia
baru menjadi anggota PBB pada 1949. Lagi pula bantuan negara maju terhadap
negara berkembang baru menonjol di era 1960-an.
Fase kedua (1949-1959), sistem demokrasi parlementer. Selama itu terjadi
delapan kali pergantian kabinet sehingga agenda pembangunan tidak
berkesinambungan. Ekonomi hanya mampu tumbuh sekitar dua persen per tahun.
Fase ketiga (1959-1969), disebut era demokrasi terpimpin. Di mana peran Bung
Karno sangat dominan dan kemudian disebut sebagai Orde Lama. Pada masa itu
terjadi krisis ekonomi dan politik. Terjadi peristiwa berdarah dengan terbunuhnya
sejumlah jenderal. Kondisi ini mendorong Soekarno lengser dari jabatannya.
Fase keempat (1969-1994), era orde baru. Di bawah kendali Soeharto Indonesia
mulai membangun. Namun orientasi pembangunannya agraris. Dalam PJP
(Pembangunan Jangka Panjang), pembangunan direncanakan selama 25 tahun,
dan dibagi dalam lima repelita (5 tahun). Pada Repelita I, Indonesia mendapat
dua sumber pembiayaan yang melimpah, yakni pinjaman luar negeri dan durian
runtuh harga minyak mentah yang naik sepanjang 1970-an.
Ekonomi yang tumbuh rata-rata di atas tujuh persen membuat Indonesia pernah
tercatat sebagai salah satu keajaiban ekonomi dunia. Prestasi ekonomi
monumental antara lain pembangunan infrastruktur, jumlah penduduk miskin
berkurang dari 50 menjadi 17 persen, dan pendapatan per kapita naik dari 100
menjadi 1.400 dolar AS.
Di seluruh pelosok daerah terdapat pendidikan dasar dan pusat pelayanan
kesehatan. Produksi pangan, sandang dan papan berhasil swasembada. Bahkan,
Indonesia menjadi salah satu negara eksportir garmen yang terkenal. Puncak
keberhasilan memasuki era tinggal landas ditandai dengan terbang perdana
pesawat CN-250 pada 10 Agustus 1995. Pesawat bermesin dua dengan kapasitas
50 orang itu merupakan hasil karya insinyur Indonesia. Saat menyaksikan secara
langsung bangsa Indonesia bangga dan bernapas lega roda pesawat meninggalkan
landasan dengan selamat.

Pada tahun 1994-1995, Indonesia mulai memasuki PJP Kedua dengan Repelita
VI. Sayang di tahun ketiga terjadi krisis moneter 1997. Krisis tersebut
dimanfaatkan kaum akademisi dan penggiat demokrasi sebagai momentum
menurunkan Soeharto. Sadar atas keinginan itu Soeharto pun lengser dan
menyerahkan mandat kepada wakilnya BJ Habibie.
Aspirasi penggiat demokrasi dengan melaksanakan pemilu dini (1999), membuka
kebebasan berpendapat. Tokoh-tokoh reformis, Amien Rais, Gus Dur, Megawati
pun muncul. Sejumlah figur Orba seperti Akbar Tanjung masih ikut mewarnai era
reformasi. Begitu juga Ginandjar yang masih ikut mengubah UUD 1945.
Kerinduan pada demokrasi membuat reformasi bangsa Indonesia menuju kutub
ekstrem, demokrasi yang kebablasan. Jauh lebih luas dan mendalam dibanding
demokrasi barat. Mulai dari tingkat kepala desa hingga presiden dilakukan
pemilihan langsung oleh rakyat. Konsekuensinya jelas, ongkos demokrasi sangat
besar, mulai dari ancaman pergesekan horizontal hingga disintegrasi bangsa.
Dalam demokrasi suara orang pintar dan orang idiot sama. Karena sebagian besar
bangsa Indonesia masih baru melek huruf, maka kebanyakan wakil dan pemimpin
hasil pilihan rakyat tak mampu berbuat lebih baik dari orde baru. Presiden,
Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dan sampai Kepala Desa hampir setiap hari
menyerukan agar rakyat membuat dan menjaga keadaan supaya tetap kondusif.
Makna kestabilan dan keamanan terasa makin sangat berharga, tetapi kian sulit
diciptakan.
Pembangunan infrastruktur terhenti, bahkan semakin tak terawat. Sekolah-sekolah
Inpres yang dibangun peninggalan masa lalu rusak berat. Jumlah pengangguran
terus bertambah dan penduduk miskin tidak bisa dientaskan. Demokrasi ternyata
bukan jaminan kemerdekaan ekonomi. Karena itu orang merindukan keberhasilan
nation building Soekarno dan pembangunan ekonomi Soeharto. Rakyat kian tak
sabar melihat kemajuan yang melambat sementara bangsa lain makin maju.
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Indonesia harus kembali
ketitahnya sebagai negara kepulauan. Membangun persepsi dan visi masa depan
cemerlang sebagai negara maritim. Demokrasi harus dijadikan modal melepaskan
diri dari belenggu masa lalu dan euforia realita masa kini.
Sebuah teori mengatakan bahwa sistem demokrasi di negara dengan penghasilan
per kapita rendah di bawah 6.600 purchasing power parity (PPP) dolar AS rawan
terhadap kegagalan. Negara-negara dengan pendapatan perkapita 1.500 dolar AS,
mempunyai harapan hidup hanya 8 tahun. Negara dengan tingkat penghasilan per
kapita 1.500-3.000 dolar AS, demokrasi negara tersebut hanya dapat bertahan 18
tahun. Pada penghasilan per kapita di atas 6.000 dolar AS, daya hidup demokrasi
1/500.
Maka itu Indonesia harus segera meninggalkan daerah penuh resiko tersebut. Pada
saat ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) per
kapita Indonesia pada 2010 mencapai 3.004,9 dolar AS atau Rp27 juta, yang
berarti meningkat sebesar 13 persen dibandingkan dengan PDB per kapita 2009
sebesar Rp23,9 juta atau 2.349,6 AS.
Masterplan Percepatan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan upaya
untuk mempercepat pembangunan ekonomi Indonesia. Melalui langkah MP3EI,
percepatan dan perluasan pembangunan akan menempatkan Indonesia sebagai
negara maju pada 2025 dengan pendapatan per kapita berkisar antara 14.250-

15.500 dolar AS dengan nilai total perekonomian (PDB) antara 4,0-4,5 triliun
dolar AS. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar
6,4-7,5 persen pada periode 2011-2014, dan sekitar 8,0-9,0 persen pada periode
2015-2025.
Pertumbuhan ekonomi tersebut harus dibarengi penurunan inflasi sebesar 6,5
persen pada periode 2011-2014 menjadi tiga persen pada 2025. Model kombinasi
pertumbuhan dan inflasi ini mencerminkan karakteristik menuju negara maju.
Jika itu berjalan pertumbuhan PDB akan mengalami perbaikan, yaitu dari 4,5
persen pada 2009 menjadi 6,1 persen pada 2010, dan pada 2011 diharapkan
mencapai 6,4 persen. Untuk menjadikan Indonesia sebagai high income country
dengan pendapatan per kapita mencapai 14.900 dolar AS pada 2025 diperlukan
pertumbuhan ekonomi tinggi, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia harus berada antara 7,5-9 persen per tahun.
MP3EI menjadi pijakan awal menuangkan komitmen bersama antara pemerintah
dan dunia usaha dalam mewujudkan transformasi ekonomi nasional. Upaya ini
diharapkan bisa mempercepat kebangkitan ekonomi serta meningkatkan daya
saing perekonomian nasional di tingkat regional dan global yang semakin
kompetitif.
Kemerdekaan yang diproklamirkan Soekarno-Hatta, pada 17 Agustus 1945,
menjadi momentum penting bangkitnya bangsa Indonesia dari tangan penjajahan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kekuatan Indonesia telah dikebiri
kaum kolonial lebih dari 3,5 abad. Kini saatnya Indonesia bangkit menyongsong
kejayaan negara maritim yang besar. Di usianya yang ke-67 tahun Indonesia harus
sudah terbebas dari segala bentuk penjajahan. Wilayah nusantara harus kembali
pada jati dirinya sebagai negara kepulauan yang memiliki integritas tinggi. Jangan
ada lagi kesenjangan kesejahateraan antara penduduk di Pulau Jawa dengan
masyarakat terluar yang ada di perbatasan.
Namun melihat realita, Pengamat Politik Nasional, Fadjroel Rachman menilai,
Indonesia belum sepenuhnya merdeka, terutama di sektor laut. Prinsip negara
maritim harus segera dikembalikan, baik dalam bentuk regulasi, kebijakan
maupun peraturan. Ini berlaku mulai dari tingkat nasional sampai dengan daerah
yang ada di perbatasan. Bagi saya jika kita tidak bisa mengembalikan posisi
bangsa sebagai negara maritim, artinya Indonesia melupakan kekuatannya.
Karena memang kekuatan Indonesia ada di laut.
Maraknya pencurian kekayaan laut, bagi Fadjroel, belum menunjukkan Indonesia
digdaya sebagai negara laut. Sudah saatnya Indonesia kembali menjadi negara
maritim. Jika itu terwujud, kata Fadjroel maka pencurian-pencurian ikan bisa
teratasi. Karena dalam konsep negara maritim, pertahanan laut yang diutamakan.
Tapi saat ini pertahanan laut kita keteteran, menjadi negara maritim bagi saya bisa
mengembalikan kejayaan Indonesia. Banyak industri-industri maritim yang bisa
digarap, dan itu sangat luar biasa. Saat ini kan yang diambil hanya sekadar ikan,
dan belum menjadi industrialisasi.
Di era Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid), semangat negara maritim pernah
dibangun. Tetapi, kata Fadjroel, pertarungan politiknya sangat kuat. Ini terjadi
karena upaya mengembalikan negara maritim adalah persoalan politik.
Jika presidennya menyatakan Indonesia sebagai negara maritim, dengan semua

kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya dan pertahanan yang berbasis kelautan,
negeri ini bisa bergerak cepat. Yang ditakuti negara luar secara geopolitik kan laut
kita. Tapi itu juga bisa menjadi kelemahan kita. Saat ini kenyataannya laut adalah
kelemahan kita.
Fadjroel yang kerap mengkritik pemerintah mengemukakan, maindset salah yang
dijalankan pemerintahan orde baru menjadi faktor utama. Ini bisa dilihat dari cara
memusatkan pertahanan dan keamanan negara di darat. Padahal, setelah
demokrasi berjalan, tidak ada lagi musuh internal. Sekarang saatnya pertahanan
negara dipusatkan di laut.
Ditilik dari sejarah, tidak terbantahkan Indonesia adalah negara maritim. Hal ini
bisa dilihat di kerajaan Sriwijaya yang begitu kuat dan disegani bangsa lain.
Kesalahan ini bukan lagi berurusan pada pejabat kecil. Karena pejabat di daerah
sebetulnya akan mengikuti apa yang disampaikan pemerintah pusat. Jika
presidennya mengatakan, Indonesia adalah negara maritim, maka semua alokasi
APBN kita arahkan untuk membangun kelautan.
Menurut Fadjroel, presiden itu tugasnya hanya dua, memilih dan bertindak.
Memilih negara maritim dan bertindak bahwa Indonesia adalah negara maritim.
Ke bawahnya, semua UU, perda dan lainnya pasti akan ikut.
Hal senada dikatakan pakar kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dietriech G
Bengen. Menurutnya, Indonesia harus kembali ke sejarah. Belum jayanya
Indonesia terutama di laut, karena telah mengingkari sejarah bangsa. Padahal,
secara jelas bangsa ini besar sebagai negara kepulauan yang diwujudkan dalam
bentuk negara maritim. Suka tidak suka, itu adalah realitas yang harus diterima.
Sebagai negara kepulauan tentu saja bagian terbesar adalah laut. Maka, harus kita
bangkitkan bangsa yang mempunyai kapasitas kemaritiman, tegas Dietriech.
Sejarah telah menunjukkan bahwa Indonesia punya kapasitas kejayaan seperti era
Sriwijaya. Dietriech menyayangkan setelah sekian lama bangsa ini dijajah, tidak
kembali pada jati dirinya. Sehingga, bisa dikatakan laut terlupakan. Orientasi kita
membangun daratan. Padahal darat ini bagian dari kepulauan. Hubungan antara
satu pulau dengan pulau lain tidak bisa lepas dari laut. Untuk masa depan, wajib
segera membangun laut, dan kita tidak bisa mengingkari itu.
Padahal, menurut Dietriech, ada momentum bagi Indonesia untuk kembali
menjadi bangsa maritim. Bisa diingat krisis Indonesia pada 1998, hampir semua
sektor ambruk. Hanya sektor perikanan dan kelautan yang tumbuh secara positif.
Era reformasi, adalah momentum yang paling tepat kembali pada sejarah bangsa
ini. Mari membangun laut untuk membangkitkan kejayaan bangsa Indonesia.
Sayang, momentum yang baik tidak dibarengi keseriusan. Terlihat pemahaman
kita terhadap sektor kelautan sangat kecil. Padahal orang lain memahami kita
mempunyai potensi yang luar biasa, kok tidak bisa memanfaatkannya.
Indonesia memang sudah merdeka baik secara de facto maupun de jure. Tetapi,
apakah bangsa ini sudah mengisi kemerdekaan? Itulah yang belum terlihat. Belum
dimanfaatkannya kekayaan laut menjadi bukti. Apakah ini kesalahan dari
pemimpin bangsa? Dietriech melihat di zaman Soekarno pernah dilanda krisis.
Pada waktu itu, Soekarno mengatakan, apa yang bisa menyelamatkan bangsa ini.
Jawabannya singkat, lautlah yang bisa menyelamatkan bangsa. Laut inilah yang
sebenarnya kekuatan kita.

Pemimpin pasca Gus Dur, kata Dietriech, kurang memahami laut dengan baik.
Buktinya bisa dilihat apakah ada pemimpin yang betul-betul mempunyai
pemahaman dan semangat untuk membangun kekuatan laut, Dietriech tidak
melihatnya. Perlu ada revitalisasi, bukan revolusi. Revitalisasi untuk membangun
kembali bahwa bangsa ini adalah bangsa maritim, sehingga semangat jiwa, etos
maritim betul-betul tergambar dalam setiap langkah. Semangat untuk
membangkitkan itu, lanjut Dietriech, sudah diterapkan di perguruan tinggi
terutama kampus yang berbasis kelautan. Mereka sudah terlihat untuk
mengangkat itu. Tapi, masih ada kesenjangan dalam hal mengaplikasikan tataran
teori. Padahal, para akademisi sebetulnya bisa mendorong. Contohnya, apakah
mahasiswa kelautan sudah melakukan praktik di pulau-pulau terluar agar
menjiwai semangat maritime? Saya katakan belum juga. Harus ada dukungan
yang baik dari kementerian maupun lembaga lain yang membuat mahasiswa bisa
kerja
lapangan
di
wilayah
terluar.
Undang-Undang Kelautan: Perlukah?
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut
seluas 5,8 juta km2, terdiri dari wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km2 dan
wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,7 juta km2. Namun pada kenyataannya,
Rancangan Undang-undang (RUU) Kelautan yang akan memayungi wilayah
maritim Indonesia belum juga selesai.
Melihat cakupan wilayah nusantara yang begitu luas, Indonesia memiliki
keanekaragaman sumber daya alam laut yang potensial. Di dalamnya terhampar
17.504 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Sebagai negara maritim
dengan luas lautan dua pertiga dari daratan, Indonesia sudah semestinya memiliki
payung hukum untuk kesejahteraan rakyat dan melindungi wilayahnya dari
ancaman luar. Namun, RUU Kelautan hingga kini belum tuntas. Padahal Undangundang (UU) Kelautan atau lebih tepat disebut UU Maritim memiliki fungsi
sangat strategis. Jika UU ini rampung, pemerintah dan stakeholders bisa
menjalankan pembangunan di wilayah laut Indonesia secara terkoordinasi.
Lembaga kementerian dalam menjalankan tugasnya tidak akan tumpang tindih
karena sudah diatur dalam UU tersebut.
Karena itu, Indonesia Maritime Institute (IMI) mendesak Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) RI segera mengesahkan RUU Kelautan dan seharusnya namanya
UU Maritim. Hal tersebut didasari karena Indonesia sejak merdeka, lahir sebagai
negara kepulauan dalam satu wadah NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia). Bahkan wilayah Indonesia telah mendapat pengakuan dunia melalui
Deklrasi Djuanda 1957 dan UNCLOS 1982. Perubahan pimpinan nasional dari
orde lama ke orde baru telah mengubah arah kebijakan pembangunan dari Marine
Based Oriented ke Land Based Oriented. Pemerintah orde baru mengubah
Indonesia menjadi negara kepulauan yang berorientasi daratan. Tidak hanya itu,
sejak era orde baru, kebijakan pembangunan negara kepulauan diubah menjadi
negara agraris yang bervisi kontinental (inward looking). Ini sudah salah arah.
Negara kepulauan sejatinya menganut visi maritim (outward looking).
Undang-undang Kelautan yang akan disahkan itu harus mengembalikan arah

kebijakan pembangunan nasional ke orientasi pembangunan menuju Indonesia


sebagai negara maritim. Bukan lagi negara agraris. Anggota DPR RI khususnya
Komisi IV yang membidangi kelautan agar benar-benar memahami kondisi real
Indonesia sebagai negara kepulauan. Kita (Indonesia) harus menjadi negara
maritime yang kuat sehingga martabat kita sebagai bangsa yang besar tidak
diinjak-injak negara tetangga. Bahkan, kita harus memaksa dunia menghormati
dan menghargai Indonesia sebagai negara paling strategis di dunia. RUU Kelautan
merupakan program legislasi DPR yang seharusnya selesai pada 2010, sesuai
dengan Prolegnas 2010-2014. Namun, hingga kini belum ada pembahasan
komprehensif yang dilakukan anggota legislatif.
Letak geografis Indonesia yang sangat strategis sebagai jalur lalu lintas
perdagangan dunia, memerlukan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah
laut secara maksimal. Ditambah sumber daya alam hayati dan non hayati yang
melimpah, seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik. Bahkan, Deklarasi
Djuanda 1957 dan UNCLOS 1982 menempatkan Indonesia sebagai negara
kepulauan dengan potensi ekonomi maritim sangat besar. Konsep Negara
Kepulauan (Nusantara) memberikan Indonesia anugerah yang luar biasa. Letak
geografis yang strategis, di antara dua benua dan dua samudera, sekitar 70 persen
angkutan barang dari Eropa, Timur Tengah dan Asia Selatan ke wilayah Pasifik,
dan sebaliknya, harus melalui perairan nusantara. Selain itu, wilayah laut yang
demikian luas memiliki sumber daya alam yang luar biasa, seperti ikan, terumbu
karang, wisata bahari, minyak, mineral langka dan gas bumi.
Sudah semestinya dalam penyusunan RUU Kelautan tidak ada aturan yang
tumpang tindih dengan perundang-undangan yang telah ada. RUU Kelautan
secara kompleks mengatur pengelolaan laut, di antaranya terkait perikanan,
pertambangan, pelayaran, industri kelautan, pariwisata, penegakan kedaulatan,
dan perlindungan laut.
Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bambang Susilo mengatakan,
pihaknya telah menyelesaikan draf RUU Kelautan yang selanjutnya dapat menjadi
pertimbangan dan pembahasan DPR bersama pemerintah. Menurut Bambang, jika
sudah diundangkan, RUU Kelautan akan menjadi pedoman bersama dalam
menyelesaikan beberapa persoalan di bidang kelautan. Sehingga, pembangunan
kelautan dapat dilaksanakan secara optimal dan berkelanjutan, dengan
memberikan nilai ekonomi bagi pembangunan nasional.
Diakui Bambang, selama ini pembangunan di bidang kelautan banyak yang
tumpang tindih sehingga sering menimbulkan konflik kewenangan antar sektor.
Meski demikian, pengelolaan bidang kelautan tetap harus ditangani lebih dari satu
kementerian. Sayangnya, saat ini pembangunan nasional di bidang kelautan masih
memperoleh porsi yang relatif kecil dibandingkan sektor-sektor lain.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
(Kiara) Riza Damanik mengemukakan, RUU kelautan diharapkan meneguhkan
kebijakan kelautan. Namun, substansi RUU tersebut masih berpotensi tumpang
tindih dengan undang-undang yang sudah ada. Aturan mengenai konservasi
misalnya, sudah diatur dalam UU No 45/2009, tentang Perikanan. Ketentuan
tentang kedaulatan laut sudah diatur dalam UU No 6/1996, tentang Perairan
Indonesia dan UU No 17/1985, tentang Ratifikasi Konvensi Hukum Laut
Internasional.

UU Kelautan Payungi Masyarakat Maritim


Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Bahar Buasan
mengatakan, RUU Kelautan secara khusus menjadi payung hukum bagi nelayan
di daerah, seperti di Provinsi Bangka Belitung (Babel). Nelayan di sana sering
dirugikan akibat penambangan timah di laut. RUU Kelautan ini bisa menjadi
payung hukum bagi nelayan. Mereka akan terlindungi atas aktivitas penambangan
timah di laut yang menyebabkan kerusakan terumbu karang. Hal ini berpengaruh
atas minimnya hasil tangkapan ikan nelayan. Bahar mengatakan, dengan RUU ini
perusahaan atau penambang yang melakukan pencemaran lingkungan dapat
dikenakan sanksi. Selama ini sanksi yang diberikan terhadap kerusakan dan
pencemaran laut, baru diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres).Karena itu, RUU
Kelautan sangat penting, karena negara Indonesia merupakan wilayah kepulauan
yang memiliki potensi laut sangat besar, yang dapat dimanfaatkan secara
maksimal untuk kesejahteraan masyarakat terutama nelayan.
RUU Kelautan adalah peraturan yang sangat vital. Mengingat Indonesia adalah
negara kepulauan terbesar di dunia. Selain itu, letak geografis Indonesia sangat
strategis, karena merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia. Sangat diperlukan
peraturan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut Indonesia secara maksimal
yang ditujukan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Jika RUU Kelautan
ini sudah disahkan menjadi UU, para nelayan bisa mendapatkan perlindungan
hukum yang jelas. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Babel, Yulistio
mengatakan, nelayan harus dilindungi dengan payung hukum yang sah, sehingga
kesejahteraannya lebih terjamin. Selain adanya kepastian tentang sanksi bagi para
penambang yang merusak habitat laut, RUU Kelautan juga mengatur kepentingan
distribusi hasil perikanan. Pemerintah wajib mengaturnya, sehingga tidak
merugikan nelayan dan budidaya laut lainnya.
DPR Sibuk Manuver Politik Lupakan RUU Kelautan
Terbengkalainya, Rancangan Undang-undang (RUU) Kelautan karena
ketidakseriusan dan ketidakmengertian Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI
terhadap kondisi real wilayah Indonesia. Mereka lebih mengutamakan
pembangunan di sektor daratan. Sementara pandangan Indonesia sebagai negara
maritim dianggap para wakil rakyat sebelah mata.
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Hanura, Muradi Darmansyah beralasan,
pihaknya belum membahas mengenai RUU kelautan, karena Komisi IV masih
membahas UU Pangan dan Pembalakan Liar. Bicara mengenai adanya usulan
menjadikan UU Maritim baginya sah-sah saja. Sekadar wacana, karena kita akan
memilih yang terbaik.
Menurut Muradi, membahas RUU Kelautan secara otomatis membahas mengenai
maritim dan dunia internasional. Hal tersebut sudah tertuang dalam Zona
Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang sudah diratifikasi Komisi IV.
Muradi mengatakan, yang diatur dalam UU Kelautan, yaitu, bagaimana
memberdayakan laut untuk kesejahteraan bangsa. Seperti masalah pencurian ikan.
Jadi, yang dimaksud UU Kelautan adalah UU yang mengatur untuk kemakmuran.
Semua menjadi prioritas. Kita urus di darat, di laut juga perlu. Kalau untuk hutan,

jika tidak cepat dibuat UU akan menjadi masalah serius dalam pembalakan. Itulah
yang menjadi fokus UU yang sedang diselesaikan oleh Komisi IV, sehingga UU
Kelautan itu masih belum pasti kapan selesainya .
Menanggapi terbengkalainya penyelesaian RUU Kelautan, Profesor Kelautan dari
Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Indra Jaya mengatakan, sudah tidak aneh lagi
jika ada kelambatan pemerintah dan DPR dalam pembahasan laut. Saya kira DPR
memandang masalah kelautan terlalu kompleks, karena lintas sektoral. Di
kalangan DPR sendiri tidak ada kesamaan visi bahwa laut sebagai salah satu
sektor yang harus diprioritaskan. Belum terlihat DPR sampai ke situ dan masih
sangat lemah.
Indra menilai, sangat sulit orang-orang yang ingin memajukan kelautan
menjadikan UU Kelautan menjadi UU Maritim. Ini karena tidak ada kemauan
serius dari DPR untuk membahas RUU Kelautan. DPR sendiri terlihat masih
sangat tergantung terhadap lembaga eksekutif. Selama pemerintah tidak serius
dalam pembangunan laut. Sangat sulit mewujudkan UU Maritim.
Berapa Jumlah Pulau Indonesia Sesungguhnya?
Berapa jumlah pulau di Indonesia? Menjadi pertanyaan yang sangat sulit dijawab.
Sebab, pemerintah belum sepakat berapa jumlah pulau yang tersebar di negeri ini.
Data yang dimiliki Kementerian Pertahanan, tercatat ada 17.504 pulau. Di
kementerian lain jumlah ini berbeda.
Pulau-pulau di Indonesia terbentuk pada zaman Miocene (12 juta tahun sebelum
masehi); Palaeocene ( 70 juta tahun sebelum masehi); Eocene (30 juta tahun
sebelum masehi); Oligacene (25 juta tahun sebelum masehi). Seiring dengan
datangnya orang-orang dari tanah daratan Asia, maka Indonesia dipercaya sudah
ada pada zaman Pleistocene (4 juta tahun sebelum masehi).
Pulau-pulau terbentuk sepanjang garis yang berpengaruh kuat antara perubahan
lempengan tektonik Australia dan Pasifik. Lempengan Australia berubah lambat
naik ke dalam jalan kecil lempeng Pasifik, yang bergerak ke selatan, dan antara
garis-garis ini terbentanglah pulau-pulau Indonesia. Ini membuat Indonesia
sebagai salah satu negara yang paling banyak berubah wilayah geologinya di
dunia. Pegunungan-pegunungan yang berada di pulau-pulau Indonesia terdiri
lebih dari 400 gunung berapi, di mana 100 diantaranya masih aktif. Indonesia mengalami tiga kali getaran dalam sehari, gempa bumi sedikitnya satu kali dalam
sehari, serta sedikitnya satu kali letusan gunung berapi dalam setahun.
Ribuan pulau di Indonesia terbentuk dan tersebar luas. Mulai dari pulau kecil,
pulau besar sampai dengan pulau pasang-surut mewarnai indahnya alam
Nusantara. Kondisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia. Namun, buruknya penataan data mengenai jumlah pulau
membuat simpang siur. Data jumlah pulau yang diyakini selama ini adalah 17.504
pulau dan 17.480 pulau. Namun, tidak sedikit yang ragu dengan memilih
menyebutkan jumlah pulau di Indonesia dengan kalimat lebih dari 17.000 pulau
.
Polemik mencuat karena jumlah pulau di Indonesia dari tahun ke tahun sering
mengalami perubahan. Sebagai bukti, pada 1968-1987, pemerintah mengklaim
Indonesia terdiri atas 13.667 pulau. Pada 1972, Lembaga Ilmu Pengetahuan

Indonesia (LIPI) mempublikasikan bahwa hanya 6.127 pulau yang telah


mempunyai nama. Publikasi ini tanpa menyebutkan jumlah pulau secara
keseluruhan. Selanjutnya, pada 1987, Pusat Survei dan Pemetaan ABRI (Passurta)
menyatakan, jumlah pulau di Indonesia adalah 17.504. Dari jumlah itu hanya
5.707 pulau yang telah memiliki nama.
Pada 1992, giliran Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal)
menerbitkan Gazetteer Nama-nama Pulau dan Kepulauan Indonesia. Mereka
mencatat hanya 6.489 pulau yang telah memiliki nama. Kemudian pada 2002,
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), berdasarkan citra satelit
mengklaim jumlah pulau di Indonesia adalah 18.306 buah. Disusul Kementerian
Riset dan Teknologi, pada 2003. Berdasarkan citra satelit mereka menyebutkan
Indonesia memiliki 18.110 pulau.
Pada 2004, Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, merilis bahwa jumlah
pulau di Indonesia adalah 17.504 buah, dan 7.870 di antaranya telah memiliki
nama, sisanya 9.634 pulau belum dinamai. Pada Agustus 2009, jumlah pulau
kembali dikoreksi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menteri KKP saat
itu, Freddy Numberi menyatakan, pulau di Indonesia berjumlah 17.480 buah. Dari
jumlah tersebut baru 4.891 pulau yang telah diberi nama dan didaftarkan ke
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Ironisnya, pada Agustus 2010, Kementerian Kelautan dan Perikanan, merevisi
jumlah pulau di negeri ini, dari 17.480 menjadi hanya 13.000. Lalu, berapa
sebenarnya jumlah pulau yang dimiliki Indonesia. Kenapa datanya berubahrubah? Kondisi ini tidak hanya membingungkan masyarakat umum, tapi juga
berimbas terhadap sistem pendidikan di sekolah. Karena setiap pertanyaan jumlah
pulau diajukan, tidak ada jawaban yang pasti. Mereka dibuat bingung.
Polemik jumlah pulau di Indonesia disebabkan perbedaan pengertian tentang
pulau yang dijadikan acuan dan metode survei. Selain itu, banyak nama-nama
pulau yang sama atau bahkan satu pulau disebutkan dalam dua atau lebih nama
yang berbeda.
Sejak 2006, berdasarkan Keputusan Presiden No 112/2006 telah dibentuk Tim
Nasional Pembakuan Nama Rupabumi. Tim yang terdiri atas Menteri Dalam
Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Menteri Kelautan dan
Perikanan, Menteri Pendidikan Nasional dan Bakosurtanal (sebagai Sekretaris)
tersebut menjadi lembaga yang memiliki otoritas dalam penetapan nama-nama
geografis (National Authority On Geographical Names) di Indonesia.
Hasil kerja Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi yang masih dikebut hingga
kini adalah penyusunan toponimi geografis Indonesia yang akan dituangkan
dalam sebuah Peraturan Pemerintah tentang Toponimi. Dalam Perpres ini akan
menerangkan penambahan rupa bumi, termasuk mencantumkan jumlah dan namanama pulau yang dimiliki Indonesia. Selain itu tim ini juga bertugas mendaftarkan
jumlah dan nama-nama pulau Indonesia ke PBB.
Hasil survei dan verifikasi terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
diketahui bahwa Indonesia hanya memiliki sekitar 13.000 pulau yang menyebar
dari Sabang hingga Merauke. Penurunan jumlah pulau ini tidak berkaitan dengan
hilangnya pulau akibat kenaikan muka air laut, atau karena penggalian pasir laut.

Sebelumnya, data yang sering dijadikan rujukan menyebutkan sebagai negara


kepulauan terbesar di dunia Indonesia memiliki 17.504 pulau.
Jumlah pulau dan nama-nama pulau yang ada di Indonesia masih jadi tanda tanya
besar. Data yang dimiliki pemerintah pun belum sinkron. Sangat disayangkan
masih ada pulau yang belum bernama di sebuah negeri yang 70 persennya diisi
lautan. Jangan sampai kasus Sipadan dan Ligitan terulang kembali.
Tercatat, sekitar tahun 2006-2007 mulai dibentuk tim Toponimi lintas institusi
yang tugasnya mengidentifikasi pulau-pulau RI sesuai dengan kaidah penamaan
dan identifikasi pulau yang diakui oleh PBB. Akhir tahun 2010, jumlah yang
diverifikasi oleh tim Toponimi tersebut adalah 13.487 buah pulau. Ternyata
banyak pulau yang selama ini ada salah identifikasi, nama ganda, termasuk
gunakan bahasa daerah. Jumlah inilah yang kemudian dikirimkan ke PBB untuk
mendapatkan pengakuan formal.
Pendataan pulau masih sangat simpang siur. Interpretasi citra satelit juga punya
bias, khususnya ketika awan atau karang yang ada di permukaan laut, kadang
diinterpretasikan sebagai pulau juga. Semenjak hilangnya Sipadan Ligitan dan
beberapa pulau yang tenggelam, data jumlah pulau sekitar 17.504, dengan
menggunakan argumen data dari Kementerian Dalam Negeri.
Bakosurtanal dan Lapan juga mulai aktif melakukan pemetaan, khususnya
menggunakan teknologi interpretasi citra satelit. Mereka mengklaim ada 18.200
buah pulau. Namun diralat, dan akhirnya diserahkan kepada Presiden Megawati
Soekarnoputri (saat itu) dengan jumlah pulau 18.100 buah. Namun, Megawati
tidak jadi mengumumkannya.
Pemerintah kala itu mempertimbangkan, PBB tidak begitu saja mengakui klaim
sebuah negara. Ada kaidah mengidentifikasi sebuah pulau, misalnya nama,
koordinat, dan berbagai aturan lainnya. Penamaan pulau harus mengikuti
Resolusi PBB yang jadi prosedur tetap, baik proses, pengumpulan info, dan
strategi verifikasinya. Misalnya, pulau harus dikunjungi dan dianggap sah jika
diucapkan minimal dua orang penduduk lokal dengan penggunaan dialek yang
persis. Sementera defenisi tentang pulau yang dimaksud mengacu UNCLOS,
yaitu dikelilingi air laut, alamiah, dan tetap muncul di atas pasang surut tertinggi.