Anda di halaman 1dari 6

Helma Yoga UtamiF34120027

Helma Yoga Utami


F34120027

JAGUNG
Jagung (Zea mays L.) termasuk tanaman berumah satu (Monoecioes) dan
tergolong dalam famili rumput-rumputan (Gramineae). Tanaman ini berasal dari
daratan Amerika dan menyebar ke daerah sub-tropis dan tropis termasuk
Indonesia. Saat ini, negara-negara yang memiliki lading jagung yang luas adalah
Amerika Serikat, Brasil, Cina, Mexico, Yugoslavia, Rumania, Argentina dan
Afrika Selatan. Pembudidayaan tanaman jagung di Indonesia sudah berkembang
sangat luas. Daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Tengah,
Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara
Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus daerah Jawa Timur dan Madura,
budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif mengingat iklim dan jenis
tanahnya sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman jagung. Selain itu, di
daerah Madura khususnya, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok
(Warisno, 1998).
Jagung terdiri dari empat bagian pokok anatomi, yaitu kulit (perikarp) atau
endosperma, yaitu bagian yang menyimpan nutrisi untuk mendukung germinasi
yaitu lembaga, dan tudung pangkal (tipcap) yaitu tempat penempelan biji pada
tongkol. Setiap bagian anatomi memiliki komposisi yang berbedabeda. Perikarp
merupakan lapisan pembungkus biji yang disusun oleh 6 lapis sel yaitu epikarp
(lapisan paling luar), mesokarp, dan tegmen (seed coat) (Johnson 1991). Tongkol
jagung merupakan gudang penyimpanan cadangan makanan. Tongkol ini bukan
hanya tempat pembentukan lembaga tetapi juga merupakan tempat menyimpan
pati, protein, minyak/lemak dan hasil-hasil lain untuk persediaan makanan dan
pertumbuhan biji.
Produksi jagung menempati peringkat ketiga produksi tanaman pangan di
Indonesia, setelah padi dan ubi kayu. Jagung merupakan salah satu palawija
(tanaman pangan non-padi) yang paling utama dan banyak ditanam di Indonesia.
Perkembangan konsumsi jagung di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung
meningkat secara konsumsi total. Jagung berpotensi untuk dikembangkan sebagai
bahan pangan pokok pengganti beras. Hal ini karena kandungan gizi jagung dapat
dikatakan setara dengan beras. Pada umumnya, jagung yang banyak tumbuh di
Indonesia adalah jenis jagung hibrida dengan rendemen biji 74-83% dan jumlah
baris mencapai 12 baris setiap tongkolnya (Litbang Pertanian 2011).

Helma Yoga UtamiF34120027

Tabel 1. Kandungan Gizi Jagung


Kandungan gizi
Jagung
Energi (kal)
361
Karbohidrat (gr/100 gr)
72
Protein (gr/100 gr)
9.0
Lemak (gr/100 gr)
4.5
Ca (mg/100 gr)
9
P (mg/100gr)
380
Fe (mg/100 gr)
4.6
Sumber: Kamsiati dan Purwandari (2005).
Jagung sebagai bahan pangan yang mengandung 70% pati, 10% protein,
dan 5% lemak, mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam
macam produk. Produk turunan potensial yang bisa dihasilkan dari komoditas
jagung dapat kita lihat sebagai berikut:

Sumber: BKPM kabupaten Gowa 2014


Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas jagung,
diantaranya jenis bibit, luas lahan, jenis lahan, pupuk, pengetahuan dan teknologi.

Helma Yoga UtamiF34120027

Budidaya tanaman jagung pada dasarnya dapat dilaksanakan pada dua kelompok
lahan, yaitu lahan kering dan lahan basah (baik sawah irigasi maupun sawah tadah
hujan). Penggunaan lahan basah diyakini mampu memberikan hasil panen yang
relatif banyak dibandingkan lahan kering. Hal ini menyebabkan para petani
berupaya memanfaatkan lahan basah yang ada untuk budidaya tanaman jagung
(Kasryno, 2002). Diperlukan perbaikan teknik budidaya melalui peningkatan
pengetahuan para petani melalui pengenalan terhadap teknologi baru, penggunaan
benih bermutu, penyesuaian dosis pupuk, dan perlakuan benih untuk pencegahan
hama penyakit. Selain itu, para petani juga harus diberikan pengetahuan baru
terkait dengan pengelolaan dan penanganan pasca panen mengingat hal ini
mempengaruhi kualitas jagung. Selama ini, peningkatan produksi jagung di
Indonesia belum diikuti oleh penanganan pascapanen yang baik. Petani kurang
mendapatkan informasi tentang kegiatan panen dan pascapanen yang dapat
mengurangi biaya dan menekan susut mutu jagung. Karena itu, petani di beberapa
wilayah pengembangan jagung masih belum merasakan nilai tambah dengan
meningkatnya kualitas produk biji jagung (Firmansyah 2006).
Selama ini, jagung hanya dikonsumsi tanpa adanya pengolahan lebih
lanjut sehingga nilai tambahnya kecil. Nilai tambah dapat diperoleh apabila
jagung tersebut diolah menjadi berbagai jenis produk olahan. Produk pangan hasil
olahan jagung ini dapat menjadi sebuah upaya peningkatan konsumsi jagung
melalui program diversifikasi produk olahan jagung, seperti beras jagung instan,
tepung jagung, tortila, emping jagung, dan mi jagung. Salah satu produk olahan
jagung yang disukai masyarakat yaitu mi jagung. Jagung dapat diolah menjadi
tepung jagung yang kemudian dapat digunakan sebagai subtitusi bagi industri mi
pengguna terigu. Keunggulan mi jagung berdasarkan penelitian yang dilakukan
Juniawati (2003) adalah tingginya nilai energi yang terdapat pada mi jagung
menunjukkan bahwa produk tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pangan
alternatif pilihan pengganti nasi. Mi dari tepung jagung merupakan salah satu
alternatif produk yang perlu dikembangkan, mengingat kebutuhan mi di Indonesia
yang sangat tinggi.
Penggunaan tepung jagung dalam mi akan dibatasi oleh karakteristik
fungsional tepung jagung, terutama disebabkan oleh kandungan protein gluten
yang rendah dan karakteristik protein gluten jagung yang juga berbeda dengan
yang ada dalam tepung terigu. Hal ini menyebabkan tepung jagung tidak mampu
membentuk lembaran adonan yang elastik dan kompak sebagaimana tepung
terigu. Pembentukan lembaran adonan tepung jagung dapat terbentuk apabila
dilakukan proses pemanasan (pengukusan) terlebih dahulu untuk menggelatinisasi
sebagian pati yang akan berfungsi sebagai binding agent dalam pembentukan
lembaran adonan. Sebagai konsekuensinya, teknologi proses mi yang sudah ada di
industri mi tidak bisa langsung diadopsi untuk memproduksi 100 persen mi
jagung, karena harus menambah satu tahap proses pengukusan di antara tahap
pencampuran bahan dan proses sheeting. Alternatif lain dari proses produksi mi
jagung adalah dengan teknologi ekstruksi. Teknologi ekstruksi biasanya
digunakan untuk memproduksi bihun atau soun.

Helma Yoga UtamiF34120027

Mi jagung dapat diproses dengan memodifikasi teknologi sheeting yang


sudah ada, yaitu dengan melakukan proses pengukusan sebagian tepung jagung
sebelum dilakukan proses pembentukan lembaran adonan. Pengukusan ini
diperlukan untuk mengatasi kesulitan pembentukan lembaran adonan, yaitu
dengan mengandalkan pati jagung tergelatinisasi sebagai perekat (binding agent)
selama proses sheeting. Secara umum, proses produksi mi jagung dengan
teknologi sheeting mencakup tahapan formulasi bahan, pengukusan untuk
menggelatinisasi sebagian tepung jagung (10 persen dari total tepung),
pencampuran antara formulasi bahan yang tidak tegelatinisasi dengan tepung
gelatinisasi (mixing), pembentukan lembaran adonan dan untaian mi (sheeting dan
slitting) sehingga dihasilkan mi mentah. Jika dilanjutkan ke tahap pengukusan dan
pengeringan maka akan dihasilkan mi kering (Kusnandar, et al 2008).
Juniawati (2003) dan Budiyah (2005) menjelaskan bahwa proses
pembuatan adonan merupakan tahapan yang sangat kritis dalam pembuatan mi
jagung, karena kualitas adonan akan sangat mempengaruhi karakteristik mi yang
diperoleh. Untuk dapat menghasilkan adonan dan untaian mi yang kuat (tidak
mudah patah), maka perlu ada bagian dari pati yang digelatinisasi. Pati
tergelatinisasi ini berfungsi sebagai pengikat yang diperlukan pada saat
pembentukan lembaran adonan yang kohesif dan cukup elatis untuk dapat
dibentuk untaian mi. Hal ini disebabkan tepung jagung tidak mengandung protein
gliadin dan glutenin sebagaimana pada tepung gandum yang bertindak sebagai
pengikat (binding agent) untuk membentuk tekstur adonan yang elastic-cohesive
bila ditambah air dan diuleni.

Analisis Finansial Usaha Mi Mentah Jagung Persen


Tabel 2. Hasil analisis finansial usaha pembuatan mie mentah jagung
Kriteria
Hasil
NPV
Rp 508.680.026
IRR
32 %
Net B/C
2,40
PBP
3 tahun 7 bulan
Berdasarkan analisis finansial di atas dapat dilihat bahwa usaha pembuatan
mi mentah jagung akan menghasilkan nilai NPV yang lebih besar dari nol, yaitu
Rp 508.680.026. Hal ini menunjukkan usaha pembuatan mi mentah jagung yang
dilaksanakan akan memberikan manfaat bersih kini sebesar Rp 508.680.026
selama jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian, berdasarkan kriteria NPV usaha
ini layak untuk dilaksanakan.
Nilai IRR yang diperoleh yaitu sebesar 32 persen di mana IRR tersebut
lebih besar dari discount factor yang ditetapkan yaitu sebesar 7,47 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa usaha ini mampu memberikan hasil sebesar 32 persen. Dengan
demikian, berdasarkan kriteria IRR usaha pembuatan mi mentah jagung 30 persen ini
layak untuk dilaksanakan.

Nilai Net B/C yang diperoleh yaitu sebesar 2,40. Hal ini berarti setiap Rp
1,00 yang dikeluarkan akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 2,40. Nilai

Helma Yoga UtamiF34120027

Net B/C yang diperoleh lebih besar dari satu, sehingga usaha pembuatan mi
mentah jagung 30 persen ini layak untuk dilaksanakan. Payback Period (PBP)
yang diperoleh adalah 3,63 tahun atau sama dengan 3 tahun 7 bulan. Nilai
Payback Period ini lebih pendek dibandingkan umur proyek sehingga berdasarkan
kriteria Payback Period usaha ini layak untuk dijalankan.

Helma Yoga UtamiF34120027

Sumber:
BKPM kabupaten Gowa. 2012. Peluang investasi daerah..
Budiyah. 2005. Pemanfaatan pati dan protein jagung (corn gluten meal) dalam
pembuatan mi jagung instan. [skripsi]. Departemen Teknologi Pertanian dan Gizi,
Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Firmansyah U.I. 2006. Teknologi pengeringan dan pemipilan untuk perbaikan


mutu biji jagung. Jurnal Litbang Pertanian. Vol 22 (3):330 - 342.
Johnson L. A. 1991. Corn: Production, Procesing, and Utilization. Marcell Dekker Inc.
New York.
Juniawati. 2003. Optimasi proses pengolahan mi jagung instan berdsarkan kajian
preferensi konsumen. [skripsi]. Departemen Teknologi Pertanian dan Gizi, Fakultas
Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Kasmiati E dan Purwandari. 2005. Diversifikasi penggolongan jagung dalam rangka
meningkatkan ketahanan pangan di Kalmantan Tengah. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Kalimantan Tengah.
Kusnandar F, et al. 2008. Modifikasi Sifat Fungsional Pati Jagung (Zea mays) dan
Aplikasinya untuk Perbaikan Kualitas Mi Jagung. Laporan Hasil Penelitian. Bogor:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor
bekerjasama dengan Sekretariat Badan Penelitian dan Peng embangan Pertanian.
Litbang Pertanian. 2011. Jagung Hibrida Unggul Nasional (diakses 24 Maret 2015).
[Terhubung]
http://www.litbang.pertanian.go.id/download/one/78/file/JagungHibrida-Unggul-Nasi.pdf.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta.