Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari hukum, mulai dari norma, nilai,
tata krama, hingga hukum perundang-undangan dalam peradilan. Sayangnya hukum di
Negara Indonesia masih kurang dalam proses penegakkannya, terutama penegakkan hukum
di kalangan pejabat-pejabat dibandingkan dengan penegakkan hukum dikalangan menengah
ke bawah. Hal ini terjadi karena di Negara kita, hukum dapat dibeli dengan uang. Siapa yang
memiliki kekuasaan, dia yang memenangkan peradilan. Dengan melihat kenyataan seperti
itu, pembenahan peradilan di Negara kita dapat dimulai dari diri sendiri dengan mempelajari
norma atau hukum sekaligus memahami dan menegakkannya sesuai dengan keadilan yang
benar. Dalam bahasan ini dibahas supaya keadilan dapat ditegakkan, maka akan terkait semua
aspek yang ada didalamnya yang mempengaruhi dan menjadi penentu apakah keadilan dapat
ditegakan.

I.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun permasalahan yang dihadapi diantaranya adalah:
1. Apa pengertian Rule of Law?
2. Apa konsep dasar Rule of Law ?
3. Apa prinsip dasar Rule of Law ?
4. Bagaimana hubungan Rule of Law dengan Negara ?
5. Bagaimana hubungan Rule of Law dengan HAM ?
6. Bagaimana permasalahan mengenai Rule Of Law di Indonesia ?
I.3 TUJUAN
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan :
1. Pengertian Rule of Law
2. Konsep dasar Rule of Law
3. Prinsip dasar Rule of Law
4. Hubungan Rule of Law dengan Negara
5. Hubungan Rule of Law dengan HAM
6. Permasalahan mengenai Rule Of Law di Indonesia
1

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 PENGERTIAN RULE OF LAW


Gerakan

masyarakat

yang

menghendaki

bahwa

kekuasaan

raja

maupun

penyelenggaraan negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan perundangundangan dan pelaksanaan dalam hubungannya dengan segala peraturan perundangundangan itulah yang sering diistilahkan dengan Rule of Law. Misalnya gerakan revolusi
Perancis serta gerakan melawan absolutisme di Eropa lainnya, baik dalam melawan
kekuasaan raja, bangsawan maupun golongan teologis. Oleh karena itu menurut Friedman,
antara pengertian negara hukum atau rechtsstaat dan Rule of Law sebenarnya saling mengisi
(Friedman, 1960: 546). Berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of Law adalah kekuasaan
publik yang diatur secara legal. Setiap organisasi atau persekutuan hidup dalam masyarakat
termasuk negara mendasarkan pada Rule of Law. Dalam hubungan ini pengertian Rule of
Law berdasarkan substansi atau isinya sangat berkaitan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dalam suatu negara.
Negara hukum merupakan terjemahan dari istilah Rechsstaat atau Rule Of Law.
Rechsstaat atau Rule Of Law itu sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk perumusan yuridis
dari gagasan konstitusionalisme. Oleh karena itu, konstitusi dan negara hukum merupakan
dua lembaga yang tidak terpisahkan. Negara Indonesia pada hakikatnya menganut prinsip
Rule of Law, and not of Man, yang sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan
yang dijalankan oleh hukum atau nomos. Dalam negara hukum yang demikian ini, harus
diadakan jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip
demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada
hakikatnya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh karena itu prinsip negara hukum hendaklah
dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat atau
democratische rechstssaat. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan
dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka atau machtsstaat. Karena itu perlu
ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang dilakukan menurut UndangUndang Dasar atau constitutional democracy yang diimbangi dengan penegasan bahwa
negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis
(democratische rechtsstaat) Asshid diqie, 2005: 69-70).

II.2 KONSEP DASAR RULE OF LAW


Idea mengenai negara dalam suatu tatanan hukum yang adil terus menerus
berkembang di Eropa dari abad ke-16 hingga permulaan abad ke-20. Dalam dekade waktu itu
dapat diuraikan perkembangan pemikiran mengenai konsep negara; dari negara hukum klasik
(pengertian negara dalam arti sempit) sampai dengan negara hukum formal.
Di dalam catatan sejarah diungkapkan bahwa konsep negara hukum dapat dibedakan
menurut konsep Eropa Continental yang biasa dikenal dengan Rechtstaat dan dalam konsep
Anglo

Saxon

dikenal

dengan Rule

Of

Law. Dengan

demikian

dapat

dikatakan

bahwa Rechtstaat tersebut direduksi dalam sistem hukum yang dinamakan Civil Law atau
yang biasa kita sebut dengan Modern Roman Law. Konsep rechtstaat ini ditelaah secara
historis merupakan penentangan secara tajam atas pemikiran kaum Hegelianisme yang
mengembangkan absolutisme, jadi

dapat

dikatakan

sebagai

revolusioner.

Berbeda

dengan Rule Of Law yang berkembang dengan metode evolusioner, yang direduksi dalam
sistem hukum Common Law.
Konsep Rechtstaat banyak mempengaruhi sistem hukum

di beberapa negara

termasuk sistem hukum Indonesia. Secara jelas konstitusi negara Indonesia memuat apa yang
dinamakan dengan Rechtstaat ini dalam rangkaian kata Indonesia ialah negara berdasar atas
hukum(rechtstaat)... dan selanjutnya, hal ini tertuang dalam UUD 1945.
Kedudukan argumentasi diatas dapatlah dianalisis sebagai wahana memperdalam
kajian telaah terhadap apa yang dinamakan dengan konsep negara hukum menurut Rule Of
Law, pada pembahasan penulis menguraikan senarai-senarai yang relevan dengan apa yang
ingin dikemukakan.
Konsep Rule Of Law merupakan bagian terpenting dalam negara hukum
Munculnya demokrasi konstitusional sebagai suatu program dan sistem politik yang
konkrit pada akhir abad ke-19, dengan gagasan, dimana pemerintah yang demokratis adalah
pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak dibenarkan bertindak sewenang-wenang
terhadap warganegaranya. Konstitusi tertulis secara tegas menjamin hak-hak asasi dari
warga negara, adanya pembagian kekuasaan. Perumusan yuridis dari prinsip-prinsip ini
dikenal dengan istilah Rechtsstaat dan Rule of Law.
Walaupun demokrasi baru pada akhir abad ke-19 mencapai wujud yang konkrit, akan
tetapi pemikiran tentang negara hukum atau Rechtsstaat sebenarnya sudah sangat tua. Konsep
3

negara hukum pertama sekali dikemukakan oleh Plato dalam bukunya Politea (the
Republica), Politicos (the Stateman), dan Nomoi (the Law) yang kemudian dipertegas oleh
Aristoteles dalam karyanya Politica yang merupakan kelanjutan dari pemikiran Plato dalam
bukunya Namoi.
Pemikiran Plato tentang cita negara hukum ini lama dilupakan orang, dan baru pada
awal abad ke-17 timbul kembali di Barat yang merupakan reaksi terhadap pemikiran
kekuasaan absolut, terutama sekali pada kekuasaan raja yang sewenang-wenang. Sedangkan
istilah negara hukum itu sendiri baru muncul pada abad ke-19.
Gagasan mengenai perlunya pembatasan kekuasaan pemerintah serta adanya jaminan
atas hak-hak asas dari warga negara mendapat perumusan yang yuridis. Ahli-ahli hukum
Eropa Barat Kontinental seperti Immanuel Kant dan Friedrich Julius Stahl memakai
istilah Rechtsstaat, sedang ahli-ahli hukum Anglo Saxon seperti A.V. Dicey memakai
istilah Rule of Law.
Menurut Friedrich Julius Stahl negara hukum secara formal memiliki:
1.

Hak asasi manusia;

2.

Pembagian kekuasaan;

3.

Wetmatigheid van bestuur, atau pemerintahan berdasarkan peraturanperaturan;

4.

Peradilan tata usaha dalam perselisihan.


Dari keempat unsur utama negara hukum formal yang dikemukakan Stahl ini dapatlah

disimpulkan bahwa negara hukum bertujuan untuk melindungi hak-hak azasi warga
negaranya dengan cara membatasi dan mengawasi gerak langkah dan kekuasaan negara
dengan undang-undang. Sedangkan A V. Dicey mengemukakan unsur-unsur Rule of Law
dalamIntroduction to Study of the Law of the Constitution, mencakup:
1.

Supremasi aturan-aturan hukum (Supremacy of Law); tidak adanya kekuasaan


sewenang-wenang (absence of arbitary power), dalam arti bahwa seseorang
hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum.

2.

Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (Equality before the


Law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa, maupun untuk pejabat.

3.

Terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh


undang-undang dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan.

Rumusan tentang unsur-unsur rechtsstaat yang dikemukakan oleh Stahl maupun


rumusan tentang unsur-unsur The Rule of Law yang di kemukakan oleh
4

A. V. Dicey

tersebut diatas, adalah merupakan pandangan klasik, sebab dalam perkembangan selanjutnya,
khususnya dalam memenuhi tuntutan perkembangan abad ke-20, perkembangan negaranegara hukum, penyelenggaraan negara oleh pemerintah yang berubah, kegiatan negara telah
menyebar untuk mengatur berbagai pokok persoalan kehidupan bernegara, negara hukum
klasik berubah menjadi negara ke sejahteraan modern (wefare state).
Dari rumusan konsep Rule Of Law baik yang klasik maupun yang dinamis hasil
Konres ICJ tahun 1965 di Bangkok, di katakan bahwa konsep Rule Of Law dalam kaitannya
dengan negara hukum memang sangat identik dan tak dapat dipisahkan karena maksud dasar
dari Rule Of Law itu sendiri adalah penyelenggaraan negara berdasarkan demokrasi
konstitusi,yang dengan tegas adanya keharusan untuk menjamin hak-hak asasi warga
negaranya, persamaan di depan hukum, dan pengawasan atas jalannya pemerintahan.

II. 3 PRINSIP DASAR RULE OF LAW

Prinsip-prinsip secara formal (in the formal sense) Rule Of Law tertera dalam UUD
1945 dan pasal-pasal UUD negara RI tahun 1945. Inti dari Rule Of Law adalah jaminan
adanya keadilan bagi masyarakatnya, khususnya keadilan sosial.Prinsip-prinsip Rule of
Law Secara Formal (UUD 1945)
1. Negara Indonesia adalah negara hukum (pasal 1: 3)
2. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali (pasal 27:1)
3. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan sama di hadapan hukum (pasal 28 D:1)
4. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil
dan layak dalam hubungan kerja ( pasal 28 D: 2)

Prinsip-prinsip Rule of Law secara Materiil/ Hakiki :


a. Berkaitan erat dengan the enforcement of the Rule of Law
b. Keberhasilan the enforcement of the rule of law tergantung pada kepribadian
nasional masing-masing bangsa (Sunarjati Hartono, 1982)
c. Rule of law mempunyai akar sosial dan akar budaya Eropa (Satdjipto Rahardjo,
2003)
d. Rule of law juga merupakan suatu legalisme, aliran pemikiran hukum, mengandung
wawasan sosial, gagasan tentang hubungan antarmanusia, masyarakat dan negara.
e. Rule of law merupakan suatu legalisme liberal (Satdjipto Rahardjo, 2003).

II. 4 HUBUNGAN RULE OF LAW DENGAN NEGARA


Pelaksanaan Rule of Law di Indonesia seharusnya mempertimbangkan hal-hal
1. Keberhasilan the enforcement of the rue of law tergantung pada sejarah dan corak
masyarakat hukum dan pada kepribadian masing-masing bangsa.
2. Rule of Law adalah suatu institusi sosial, memiliki struktur sosiologis dan akar budaya
sendiri

II. 5 HUBUNGAN RULE OF LAW DENGAN HAM ( HAK ASASI MANUSIA)


Peerenboom menyatakan bahwa yang menjadi persoalan bukanlah prinsip-prinsip rule
of law, tetapi adalah kegagalan untuk menaati prinsip-prinsip tersebut. Akan tetapi yang jelas
menurutnya adalah bahwa rule of law bukanlah obat mujarab yang dapat mengobati semua
masalah. Bahwa rule of law saja tidak dapat menyelesaikan masalah. Peerenboom
menyatakan bahwa rule of law hanyalah satu komponen untuk sebuah masyarakat yang adil.
Nilai-nilai yang ada dalam rule of law dibutuhkan untuk jalan pada nilai-nilai penting
lainnya. Dengan demikian rule of law adalah jalan tetapi bukan tujuan itu sendiri.
Berkaitan dengan hak asasi manusia sendiri, terutama hak ekonomi, sosial dan budaya,
adalah menarik bahwa Peerenboom menyatakan rule of law sangat dekat dengan
pembangunan ekonomi. Selanjutnya dia menyatakan bahwa memperhitungkan pentingnya
pembangunan ekonomi bagi hak asasi manusia maka dia menyatakan agar gerakan hak asasi
manusia memajukan pembangunan.
Di sini sangat penting untuk diingat bahwa menurut Peerenboom sampai sekarang
kita gagal untuk memperlakukan kemiskinan sebagai pelanggaran atas martabat manusia dan
dengan demikian hak ekonomi, sosial dan budaya tidak diperlakukan sama dalam penegakan
hukumnya seperti hak sipil dan politik. Dalam pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya,
menurutnya rule of law saja tidak akan cukup untuk dapat menjamin pemenuhan hak
ekonomi, sosial dan budaya tanpa adanya perubahan tata ekonomi global baru dan adanya
distribusi sumber alam global yang lebih adil dan seimbang. Oleh karena itu menurutnya
pemenuhan hak ekonomil, sosial dan budaya juga memerlukan perubahan yang mendasar
pada tata ekonomi dunia. Terakhir yang harus dicatat adalah peringatan Peerenboom tentang
bahaya demokratisasi yang prematur. Menurutnya kemajuan hak asasi manusia yang
signifikan hanya dapat tercapai dalam demokrasi yang consolidated, sementara demokrasi
6

yang prematur mengandung bahaya yang justru melemahkan rule of law dan hak asasi
manusia terutama pada negara yang kemudian terjadi kekacauan sosial (social chaos) atau
pun perang sipil (civil war). Hal lain yang penting dikemukakan oleh Peerenboom adalah
bahwa rule of law membutuhkan stabilitas politik, dan negara yang mempunyai kemampuan
untuk membentuk dan menjalankan sistem hukum yang fungsional. Stabilitas politik saja
tidak cukup. Dalam hal ini dibutuhkan hakim yang kompeten dan peradilan yang bebas dari
korupsi.
Pada intinya Peerenboom menyatakan bahwa walaupun rule of law bukanlah obat
mujarab bagi terpenuhinya hak asasi manusia, namun demikian, adalah benar pelaksanaan
rule of law akan menyebakan kemajuan kulitas hidup dan pada akhirnya terpenuhinya hak
asasi manusia.
II.6 Kasus Rule Of Law
1. Judul Kasus
Kasus Suap Anggota DPR Al-Amin Nasution
2. Uraian Masalah
ANGGOTA DPR Al Amin Nasution tertangkap tangan KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi) ketika dalam situasi dugaan transaksi untuk melicinkan alih
status hutan lindung di Bintan, Kepri. KPK menangkap basah Amin bersama Sekda
Bintan Azirwan, dua ajudan Sekda, dan seorang perempuan di Hotel Ritz Carlton, Rabu
(9/4/2008) dini hari (www.detik.com, 09/04, 13.50).
Perilaku korupsi elite politik tersebut menambah buram potret politik Indonesia
yang sarat penyakit tindak pidana korupsi. Dalam catatan saya, dari hasil jerih lelahnya,
KPK telah menjaring pelaku korupsi di KPU, KY, BI, Kejagung, dan kini DPR. Hal itu
membuktikan bahwa sindroma korupsi telah mencemari institusi negara dari eksekutif,
legislatif, bahkan hingga yudikatif, organ yang seharusnya imun dari korupsi.
Perilaku Al Amin Nasution tersebut merupakan potret sebagian besar pejabat dan
elite di negeri duka ini, suatu kultur kleptokrasi. "Amin" yang dalam rumpun semitik
berarti "sungguh benar" ternyata bertolak belakang dengan perilaku penyandang nama
tersebut. Amin yang tidak "amin".
Interpretasi Buruk
Tertangkapnya anggota DPR dan birokrasi lokal dalam dugaan suap memuluskan
alih hutan lindung itu menimbulkan ragam interpretasi buruk dan preseden negatif.
7

Pertama, di tengah seruan dunia atas global warming, kasus Amin menjadi indikator
buruk bahwa elite politik tidak memiliki political will dalam konservasi ekosistem bagi
rekreasi alam sebagai habitat manusia yang asri dan bersahabat.
Tuhan menciptakan alam sebagai ruang bagi manusia untuk menjalankan shalom
(perdamaian). Manusia diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman itu
dengan harapan di tangan manusia sebagai citra Sang Khalik, alam bukan saja bertahan,
malah berkembang.
Tetapi, sejak Nabi Adam mengeksploitasi pohon ara untuk menutupi
ketelanjangan akibat dosanya, sejak saat itu alam terus tergerus eksploitasi hingga kini
dan dampaknya sangat tidak bersahabat dengan manusia. Karena itulah, sejak semula
Tuhan telah memperingatkan manusia, "tidak baik manusia itu seorang diri saja". Jika
manusia mementingkan diri, maka alam yang Tuhan cipta demikian baik akan menjadi
tidak baik. Hal itulah yang kita lihat sekarang. Demi kepentingan segelintir elite, alam
dieksploitasi sehingga bukan hanya tidak bertahan, tetapi malah hancur. Akibatnya
ditanggung oleh manusia, baik pada masa kini maupun masa mendatang.
Kedua, dalam kasus suap itu, kita melihat bahwa wakil rakyat mengalami
malfungsi dan disfungsi, bukan lagi mewakili aspirasi dan kepentingan rakyat di daerah,
malah memperjuangkan libido profit finansial elite di daerah. Inilah yang harus terus
dikontrol oleh publik. Masyarakat di daerah diabaikan dengan ragam derita dan air mata
karena telinga wakil rakyat disumbat oleh gratifikasi elite di daerah.
Ketiga, dalam rangkaian pilkada di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota,
masyarakat hendaknya waspada terhadap janji bulus para kandidat pemimpin yang
katanya memperjuangkan nasib rakyat, mencintai rakyat, tetapi toh akhirnya ke Jakarta
mencari jalan bagi keuntungan sendiri, bukan kepentingan rakyat.
3. Identifikasi Masalah
Ada tiga dasar mengapa kasus suap itu merupakan pencederaan terhadap demokrasi
konstitusional di bawah rule of law yang kita anut.
a.Pertama, menurut ahli hukum A.V. Dicey, dua unsur pertama rule of law dalam arti
klasik adalah supremacy of the law dan equality before the law (dikutip Wade dan
Philips, 1965). Kedua unsur ini dilanggar dalam kasus suap tersebut. Hukum tidak
lebih berkuasa daripada uang dan koruptor, sedangkan ekuitas warga negara diukur
berdasarkan suap.

b.Kedua, Miriam Budiardjo menegaskan, salah satu syarat dasar terselenggaranya


pemerintahan demokratis di bawah rule of law adalah institusi-institusi negara yang
independen (2008). Dengan kasus ini, lengkaplah sudah dependensi institusi,
khususnya legislatif pembuat dan pengontrol regulasi.
c.Ketiga, Henry B. Mayo menekankan nilai terpenting dalam demokrasi, yakni
penyelesaian perselisihan dengan damai dan melembaga (1960). Yang terjadi malah
penyelesaian kasus alih hutan secara personal, di luar kaidah hukum dan
kelembagaan.
4. Analisis Kasus
Pada saat ditangkap, Tim KPK hanya menemukan uang Rp 71 juta yang kini dijadikan
alat bukti. Untuk memperkuat bukti-bukti KPK melakukan penggeledahan di DPR RI
komisi IV tepatnya ruangan kerja Al-amin Nasution. Dari hasil penggeledahan diruang
kerja Al-amin Nasution disita barang bukti berupa :
a.Satu bendel foto copy pengeluaran bulan agustus melalui rekening mandiri NYZHA
dengan catatan asli dan stabilo.
b. Satu bendel foto copy berita acara hasil pengkajian dan pembahasan tim terpadu
perubahan fungsi atau peruntukan kawasan hutan ( alih fungsi kawasan hutan untuk
pembangunan Bandar Sri Bintan dan pengembangan kawasan wisata terpadu di
pulau Bintan.
c.Satu bendel foto copy laporan singkat rapat komisi IV tanggal 4 juli 2007, tentang
penjelasan menteri kehutnan RI mengenai rencana alih fungsi dan izin pinjam pakai
kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi lainnya.
d.Foto copy berkas surat No S20/Menhut-VII/2008 tanggal 15-1-2008 tentang
permohonan pelepasan kawasan hutan lindung di kabupaten Bintan.
e. Sejumlah data elektronik dari computer Al-amin.
5.

Strategi Penyelesaian
A. Diselesaikan secara hukum
Dalam Kasus Al-amin yang diduga telah melakukan korupsi penulis berpendapat bahwa
Al-amin telah melanggar( telah memenuhi Unsur) Pasal 5 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 yang isinya :
9

Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5
(lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah ) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap
orang yang :
a.Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut
berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan
kewajibannya; atau
b.Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau
tidak dilakukan dalam jabatannya.
Ayat (2) bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau
janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hurup a atau huruf b, dipidana dengan pidana
yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
B.Menggalakan lagi secara ketat upaya Penanggulangan dan pemberantasan korupsi.
C. Setiap strategi anti korupsi yang efektif harus mengakui hubungan antara korupsi, etika,
pemerintahan yang baik dan pembangunan berkelanjutan.

10

BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Rule of law sangat diperlukan untuk Negara seperti Indonesia karena akan
mewujudkan keadilan. Tetapi harus mengacu pada orang yang ada di dalamnya yaitu oranrorang yang jujur tidak memihak dan hanya memikirkan keadilan tidak terkotori hal yang
buruk. Ada tidaknya rule of law pada suatu negara ditentukan oleh kenyataan, apakah
rakyat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik sesame warga Negara maupun
pemerintah.
Friedman (1959) membedakan rule of law menjadi dua yaitu: Pertama, pengertian
secara formal (in the formal sence) diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi
(organized public power), misalnya nrgara. Kedua, secara hakiki/materiil (ideological sense),
lebih menekankan pada cara penegakannya karena menyangkut ukuran hukum yang baik dan
buruk (just and unjust law). Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam
pembukaan UUD 1945. Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat didalam
pasal-pasal UUD 1945. Agar kita dapat menikmati keadilan maka seluruh aspek Negara harus
bersih, jujur, mentaati undang-undang, juga bertanggung jawab, dan menjalankan UU 1945
dengan baik.
Rule of Law juga mempunyai kaitan erat dengan HAM ( Hak Asasi Manusia), dimana
jika pelaksanaan Rule of Law benar akan menyebakan kemajuan kulitas hidup dan pada
akhirnya terpenuhinya hak asasi manusia.
III.2 SARAN
Warga negara kita haruslah menjunjung tinggi hukum dan kaidah-kaidahnya agar
terselenggara keamanan, ketentraman, dan kenyamanan. Pelajari Undang-Undang 1945
beserta nilai-nilainya dan jalankan apa yang jadi tuntutanya agar tercipta kehidupan yang
stabil. Dalam suatu penegakan hukum disuatu Negara maka seluruh asprk kehidupan harus
dapat merasakannya dan diharapkan semua aspek tersebut mentaati hukum, maka akan
terjadilah pemerintahan dan kehidupan Negara yang harmonis, selaras dengan keadaan dan
sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu kemakmuran bangsa.

11

DAFTAR PUSTAKA
Wahab, Abdul Azis dkk. 1993. Materi Pokok Pendidikan Pancasila. Jakarta: Universitas
Terbuka DEPDIKBUD
Kusmiaty, Dra, dkk. 2000. Tata Negara. Jakarta : PT Bumi Aksara
Kaelan dkk. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
Paradigma
http://hildafauziah81.blogspot.com/2011/01/kasus-ham-dan-rule-oflaw.html

12