Anda di halaman 1dari 4

1.

Cara Kerja Peralatan


a. Rheometer
Mengisi bejana dengan lumpur sampai batas yang ditentukan. Lalu
meletakkan bejana pada tempatnya, serta mengatur kedudukannya
sedemikian rupa sehingga rotor dan bob tercelup ke dalam lumpur menurut
batas yang telah ditentukan. Lalu menggerakkan rotor pada posisi High dan
menempatkan kecepatan putar rotor pada kedudukan 600 RPM. Pemutaran
terus dilakukan sehingga kedudukan skala (dial) mencapai keseimbangan.
Mencatat harga yang ditunjukkan oleh skala. Lalu mencatat harga yang
ditunjukkan

oleh

skala

penunjuk

setelah

mencapai

keseimbangan

dilanjutkan untuk kecepatan 300, 200, 100, 6 dan 3 RPM dengan cara yang
sama seperti di atas.
b. Filter Press
Mempersiapkan API Filter Press, segera pasang filter paper serapat
mungkin dan meletakkan gelas ukur dibawah silinder untuk menampung
fluid filtrate. Menuangkan campuran lumpur ke dalam silinder dan segera
tutup rapat. Mengalirkan udara dengan tekanan sebesar 100 psi.
Mengentikan penekanan udara, segera bleed off dan menuangkan lumpur ke
dalam breaker.
c. Retort Kit
Memasukkan lumpur ke dalam gelas ukur dengan bantuan spatula
sebanyak 10 mL Memasukkan lumpur 5 mL ke dalam mud chamber.
Meneteskan wetting agent ke dalam mud chamber sebanyak 1 tetes.
Menutup mud chamber, lalu mengoleskan grease pinggiran mud chamber.
Menyiapkan upper chamber, lalu memasukkan steel wool dengan penuh
hingga padat. Memasang upper chamber dan mud chamber. Memasang
retort kit dengan kondensor, lalu panaskan lumpur sampai tidak terjadi
kondensasi.
d. Sand Content Set

Mengisi tube dengan lumpur dasar sampai batas mud to here dan
aquadest samapi batas water to here. Menutup tube dengan tangan dan
menggoyang-goyangkan tube agar komponen lumpur dasar tercampur
dengan aquadest. Menuangkan campuran lumpur dasar dan aquadest ke
sand content set dan membiarkan cairan keluar melalui saringan. Mencuci
pasir yang tersaring pada sand content set untuk melepaskan dari sisa
lumpur yang melekat.
e. Marsh Funnel
Memasukkan lumpur pemboran ke marsh funnel. Menutup bagian
bawah marsh funnel, lalu lumpur dituangkan melalui saringan pada marsh
funnel kemudian siapkan stopwatch. Membuka bagian bawah marsh funnel
lalu menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan hinggal lumpur habis.
2. Fluida pemboran amat besar fungsinya dalam mencari berhasil atau tidaknya
suatu operasi pemboran sehingga sangat diperhatkan sifat-sifat dari lumpur
tersebut seperti densitas, viskositas, gel strength dan filtration loss. Oleh karena
itu sangat pentinglah pengujian lumpur pemboran untuk mengetahui sifat-sifat
lumpur pemboran yang akan digunakan.
3. Bahan Dasar dari Komponen / Fasa Lumpur ada 3, yaitu
Bentonite, membuat lumpur dengan pelarut air tawar
Attapulgite, membuat lumpur dengan pelarut air laut.
Prehydrated Gel, membuat lumpur dengan pelarut perbandingan 30% air
tawar dan 70% air laut.
Adapun sifat-sifat fisik lumpur pemboran antara lain :

Densitas, merupakan salah satu sifat lumpur yang berhubungan langsung

dengan fungsi lumpur dalam mengimbangi tekanan formasi.


Sand Control, berhubungan dengan densitas lumpur.
Viskositas, keengganan/tahanan fluida untuk mengalir atau bergerak.

Filtration Loss, kehilangan dari fasa cair (flitrat) lumpur masuk ke dalam

formasi permeable (porous).


pH Lumpur, sifat asam dan basa dari suatu fluida.

Jenis-Jenis Lumpur Pemboran yaitu :

Water Base Mud


o Fresh water mud, bentonite + air tawar.
o Salt water mud, attapulgite + air laut.

Oil Base Mud


o Bentonite + solar

Gaseous Drilling Fluid


o Bahan dasarr udara dengan cara menyemburkan udara tekanan dengan
compressor di permukaan.

4. Nilai Properties yang didapat ialah :


Densitas sebesar 8,7 ppg.
Sand Content sebesar 0,5 %.
Viskositas sebesar 23 cp.
Filtrat yang didapat sebesar 7,7 mL/30 menit.
pH Lumpur yang didapat sebesar 8,6 (Basa)
5. Dalam proses pengeboran minyak bumi, minyak yang keluar dari sumur
pengeboran bercampur dengan air, gas, lumpur dan pasir. Oleh sebab itu
dibutuhkan beberapa jenis bahan kimia untuk memisahkan minyak dari bahanbahan lain tersebut. Dalam pengoprasian pemboran dibutuhkan lumpur
pemboran untuk membantu mensirkulasikan dan mengangkat Cutting pada saat
pemboran berlangsung.
Pada mulanya orang hanya menggunakan air saja untuk mengangkat serpih
pemboran (Cutting). Lalu dengan berkembangnya pemboran, lumpur mulai
digunakan. Untuk memperbaiki sifat-sifat lumpur digunakan zat-zat kimia
ditambahkan dan akhirnya digunakan pula udara dan gas untuk pemboran

walaupun lumpur tetap bertahan. Secara umum lumpur pemboran dapat


dipandang mempunyai empat komponen atau fasa, yaitu :
Fasa Cair dapat berupa minyak maupun air hampir 75% lumpur pemboran

menggunakan air
Reactive Solid adalah padatan yang mampu bereaksi dengan air hingga

membentuk koloid seperti halnya Clay.


Inert Solid merupakan zat padatan yang tidak mampu berekasi contoh
Barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas lumpur
pemboran, dapat pula berasal dari formasi yang sudah di bor serta terbawa
lumpur contoh Chert, pasir atau Clay Non Swelling.

Fasa merupakan bagian sistem yang berguna pada saat mengontrol sifat-sifat
dari suatu lumpur pemboran.