Anda di halaman 1dari 20

Definisi Kepemimpinan, Tipe Kepemimpinan dan Teori Kepemimpinan

Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan
rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002).
Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing,
definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.

Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni
mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut
untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari
atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu
yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi
yang khusus.
Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah,
karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan
pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung
memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan
sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpnan merupakan kemampuan
mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan
atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh
kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.
Read more: Pengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli | belajarpsikologi.com

Type Kepemimpian
Situasi lingkungan bisnis yang secara dinamis terus berubah menuntut perusahaan untuk dapat
beradaptasi dengan lingkungannya. Kegagalan dalam mengenal perubahan dan kecepatan beradaptasi
dapat menyebabkan perusahaan tidak memiliki daya saing yang baik.
Ada empat tipe kepemimpinan yang dapat digunakan untuk berbagai organisasi:
Directive
Adalah salah satu tipe kepemimpinan tertua dan seringkali disebut juga dengan pendekatan otoriter.
Dalam tipe ini, pemimpin akan menyuruh seseorang untuk melakukan sesuatu dan mengharapkan
mereka untuk segera melakukannya.
Participative
Dalam tipe ini, pemimpin mencari input dari pihak lain dan mengajak orang-orang yang relevan dengan
pembahasan untuk pengambilan keputusan
Laissez-faire
Mendorong inisiatif dari banyak pihak agar bersama-sama memikirkan bagaimana proses pengerjaan
sampai menghasilkan outcome.
Adaptive
Gaya kepemimpinan yang mengalir dan menyesuaikan gaya sesuai dengan keadaan lingkungan dan
individu yang berpartisipasi.

Teori Kepemimpinan
Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan. Untuk berbagai usaha dan
kegiatannya diperlukan upaya yang terencana dan sistematis dalam melatih dan mempersiapkan
pemimpin baru. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalah
pemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai teori tentang kepemimpinan. Teori
kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep
kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan,
persyaratan pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi
kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai
pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain : Latar belakang sejarah
pemimpin dan kepemimpinan Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan
kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa
sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a. Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha
penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.
b. Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan
melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, dan
kemampuan.
1. Teori-teori dalam Kepemimpinan
a) Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat,
perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa
untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin.
Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau
ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah: –
pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas,
adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri
relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar
yang baik, kapasitas integratif; – kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan
skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi
secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada
relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai
teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung
didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh
kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
b) Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan
kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai
deskripsi perilaku:
Ø Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau
berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan
bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
Ø Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan
ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan
kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan.

Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif.Sedangkan pemimpin bergaya demokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. * Norma yang dianut kelompok. Model Situasional Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. * Menjual. Siagian (1994:129) adalah * Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas. * Melakukan pendelegasian. apabila: * Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik. * Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang tinggi. b. gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah * Memberitahukan. Contoh: dalam hal pengambilan keputusan. perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja. Model ” Jalan.Stoner. * Ancaman dari luar organisasi. Ciri kepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baik disertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhan bawahan. 1978:442-443) c) Teori Situasional Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. * Iklim yang terdapat dalam organisasi.Tujuan ” Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan . Model kontinuum Otokratik-Demokratik Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. * Persepsi. Dimensi kepemimpinan yang digunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengan tugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P.Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan. * Rentang kendali. d. * Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan. Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. * Tingkat stress. Model ” Interaksi Atasan-Bawahan” Menurut model ini. c. Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut: a. * Mengajak bawahan berperan serta. sikap dan gaya kepemimpinan. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF. pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri. Berdasarkan dimensi tersebut. ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yang berorientasi pada penyelesaian tugas. Pada sisi lain. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu. juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinan tertentu yang harus diselenggarakan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan. efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung pada interaksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmana interaksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan. * Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.

Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi individual lain atau kelompok. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.com/archives/4-gaya-kepemimpinan. Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanya serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan. keunggulan fisik. ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.blog. Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” : Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian. Traits theory Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter pemimpinnya. dan kemampuan sosial.html http://belajarpsikologi. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan. Salah satu mekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan tugas yang harus dilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan dan kebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebut harus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.Kematangan Pribadi . Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan diri. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari orang tuanya. wewenang yang dimiliki. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut judith R. Daftar Pustaka : - http://the-marketeers. Genetic Theory Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam: .Kemampuan Intelektual .com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/ http://diecahyouinyogya. e.yang dapat ditempuh bawahan.com/2011/06/06/adi/ Leadership: Teori Kepemimpinan Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.

yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan consideration yang berorientasi pada manusia. bintang. mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas. Konsepnya beralih dari siapa yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara efektif. Continuum membagi 7 daerah mulai dari otoriter sd laissez . Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin.faire dengan titik dengan demokratis. C. Democratic & Laissez Faire Penelitian ini dilakukan oleh Lewin. api.- Pendidikan Statuts Sosial Ekonomi Human Relation Motivasi Intrinsik Dorongan untuk maju Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata. matahari. White & Lippit pada tahun 1930 an. para peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. angin. bulan. Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. .Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan bawahannya. mengatur pelaksanaan. Continuum of Leadership behavior. Behavioral Theory Karena keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait.Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership . Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi kepemimpinan.Leadership style matrix. yaitu authoritarian yang menerapkan kepemimpinan otoriter.Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya. angkasa. A. B. Sedangkan kelompok Michigan . democratic yang mengikut sertakan bawahannya dan Laissez . Authoritarian. yakni delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah. Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu . Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State University dan Universitas of Michigan.

D. kebutuhan.memakai istilah job-centered dan employee-centered. pengalaman. A.Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat. . Dasarnya adalah teori contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi. . Fiedler Contingency Model Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit. Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya. Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan seseorang. motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan. memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat. pengalaman bawahan akan berpengaruh pada gaya memimpinnya. . kebijakan. tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas pemimpinnya. birokrasi merupakan faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya. Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki karakteristik antara lain: .Gaya kepemimpinan lebih fleksibel. The Managerial Grid Teori ini diperkenalkan oleh Robert R. pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.Karakteristik organisasi : budaya organisasi. . . . .Karakteristik pekerja : kepribadian.Tidak ada satupun gaya yang paling benar.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial.Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari . ketrampilan. efektivitas kepemimpinan tergantung pada kebutuhan dan situasi Situational Leadership Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya.

Gaya 4 : delegating. ada beberapa power yaitu: -> legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin -> reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan -> coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman -> expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya -> referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya -> information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya. pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan . Model kepemimpinan situasional 'Life Cycle' Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.Gaya 1 : telling.Gaya 3 : participating. . saling menghargai) atau lemah. . memiliki keyakinan diri. Dengan kharismanya . pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya. mempengaruhi dan menampilkan moralitas tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. . Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu: . Transformational Leadership Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan dominasi. pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya. pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu: . Ada 4 tingkat kematangan bawahan.leader-member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan. B.M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa .Gaya 2 : selling.M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau unstructured task .M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin . yaitu: . .Position power : ukuran aktual seorang pemimpin. apakah kuat (saling percaya.

blogspot. Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Kita dapat mencatat sejarah kemanusiaan yang penuh dinamika perubahan di abad itu. dan teori-teori kepemimpinan.Tipe kepemimpinan & teori kepemimpinan Abad 20 baru saja berlalu. pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Sumber Artikel Dari: http://cybermanado. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya bagaimana pentingnya kinerja mereka. namun sebagai telaan mengenai substansi yang sama akan terdapat korelasi bahkan interdependensi antar ketiganya. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan. bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggota kelompok. termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.pemimpin transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa. Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin. Sekalipun secara konseptual pada ketiganya terdapat perbedaan.html#ixzz2NO5yljmQ Definisi kepemimpinan. Teori Genetis (Keturunan). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah . yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. model-model kepemimpinan. tipologi kepemimpinan. bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan karya luar biasa. pada dasarnya dapat diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.com/2012/04/leadership-teorikepemimpinan. tak terkecuali perkembangan pengetahuan tentang paradigma kepemimpinan yang dapat meliputi gaya kepemimpinan.

Namun demikian. pimpinan (p) adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. seperti keterampilan teknis. Berbicara mengenai takdir. Oleh sebab itu. Teori yang disebut teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada satu sisi. yaitu pimpinan. di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. yaitu pemimpin itu sendiri. sesekali kelak ia akan timbul sebagai pemimpin. Bertolak dari pemikiran tersebut. Teori Ekologis. Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. secara filosofis pandangan ini tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis. yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p. serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. bawahan (b) dan situasi tertentu (s). karena memang situasinya telah berlainan. Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup. Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori genetika. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya. b. bawahan dan situasi . maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan timbulnya sosok pemimpin yang baik. Menurut Hersey dan Blanchard.dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. manusiawi dan konseptual. dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda.. s). bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis. Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p). maka sebagai reaksi terhadap kedua teori tersebut timbullah aliran teori ketiga. ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut. Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya kepemimpinan tersebut. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian. Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif. bawahan. Dalam satu situasi misalnya. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin. Dalam suatu organisasi. Teori Sosial. Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan dengan secermat mungkin. karena sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya ini.

jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”. Gandhi bukanlah seorang yang kaya. dan sering bersikap maha tahu. Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan. Kekayaan. kesehatan. dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan. . Tipe Karismatik. Sukar menerima kritikan dari bawahannya. Tipe Otokratis. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia. John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya. meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya. Tidak mau menerima kritik. maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). saran dan pendapat. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. Tipe Paternalistis. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi. Tipe Demokratis. profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. Mengenai profil. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar. di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian. Tipe Militeristis.merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya.1997). Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya. umur. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. bersikap terlalu melindungi (overly protective).

Beberapa model yang menganut pendekatan ini. kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan. pada umumnya dinilai bersifat negatif. Namun. yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. (Lihat Gambar 1). karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal. Perilaku otokratis. di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. . Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok. di antaranya adalah sebagai berikut. di mana si pemimpin senang menerima saran. Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. senang menerima saran. dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. Model Kepemimpinan. perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin.selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya. Selain itu. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara. gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain. sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. Namun. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. Perilaku demokratis. alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. dan bahkan kritik dari bawahannya. pendapat. dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. pengambilan keputusan cepat. Selain bersifat negatif. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan. Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah.

(b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Sistem Partisipatif. Selain itu. pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang lebih menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu. pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan. yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. Sistem Otoriter (Sangat Otokratis). dan partisipatif. Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. Dalam penelitiannya. Untuk itu. pada sistem inipun. konsultatif. dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. Sistem Konsultatif. pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. kepercayaan timbal-balik. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok. Dalam sistem ini. Namun demikian. Oleh karena itu. pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar. Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik). Pada sistem ini. Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey dan Blanchard. hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya. dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. Adapun konsiderasi mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan.Model Kepemimpinan Ohio. rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya. dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka. Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran. dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya. sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan. Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi. (Lihat Gambar 2) Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System). dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. 1992). pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada . Dalam menjalankan pekerjaannya. Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem. pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. saluran komunikasi. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. yaitu sistem otoriter. Untuk mewujudkan hal tersebut. Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. otoriter yang bijaksana. pemimpin mau mengadakan perubahan. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini.

kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya. sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas. Grid 1. Grid 9. Jika dalam model Ohio. maka dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang. model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio. sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan. yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi. . Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan. Menurut Blake dan Mouton ini. pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja. Dalam sistem inipun. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya. dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya. di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan. yaitu antara 0 sampai dengan 9. pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan. kebijakan-kebijakan yang harus diambil. Model Kepemimpinan Managerial Grid.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan Perkumpulan).1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas). maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik.1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan yang Tandus).9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim). kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti. Dengan demikian. pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. proses dan prosedur penyelesaian tugas. kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan.bawahan. Dalam pemikiran modelmanagerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan Tengah). sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan. Grid 5. Grid 9. Gaya kepemimpinan tersebut adalah : (Lihat Gambar 3) Grid 1.

terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama. pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan. namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. Model tiga dimensi ini. Model Kepemimpinan Kontingensi. yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas. kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas). dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif. para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan. yaitu dimensi efektivitas. dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi). Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda. demikian juga halnya dengan individu diharapkan memainkan . Dikemukakan. Salah satu prestasi yang cukup menonjol dari sosiologi kepemimpinan modern adalah perkembangan dari teori peran (role theory). dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian. Namun demikian. yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif. pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota). Masing-masing bagian dimensi lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4. Menurut model kepemimpinan ini. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi. setiap anggota suatu masyarakat menempati status posisi tertentu. Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan. Teori Kepemimpinan. Berdasar ketiga variabel utama tersebut. tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya. Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Fielder dalam Gibson. Secara umum. pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. (Lihat Gambar 5). Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.Berdasakan uraian di atas. Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut. (Lihat Gambar 4).

teori kepemimpinn banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. Untuk itu. dan tercapainya tujuan organisasi. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan. Dari sisi teori kepemimpinan. energi. Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit. 1997). akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin. namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik. ahli-ahli pikir. Oleh karenanya kepemimpinan seorang merupakan kunci dari manajemen. Sekelompok orang-orang istimewa inilah yang disebut pemimpin. (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok. mengemukakan individuindividu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi. pelopor. dikonstatir gerak hidup dan dinamika organisasi sedikit banyak tergantung pada sekelompok kecil manusia penyelenggara organisasi. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. para pemimpin memiliki tanggungjawab sosial kemasyarakatan atau akuntabilitas publik. Para pemimpin dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertanggungjawab kepada atasannya. Dalam sejarah peradaban manusia. penelitian tentang . Dengan demikian kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu aspek dalam diferensiasi peran. tempat dan situasi sesaat.peran tertentu. Beberapa penelitian lanjutan. Berangkat dari ideide pemikiran. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi. Secara eksternal. Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional. para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain. dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior. suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah. Perkembangan selanjutnya. dan tahu segala sesuatu (White. karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking & Boggardus. mereka juga bertanggungjawab terhadap masalah-masalah internal organisasi termasuk didalamnya tanggungjawab terhadap pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia. Orang-orang ini adalah perintis. Menurut kaidah. kuat. pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu. pencipta dan ahli organisasi. berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan. visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. dan (2). beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu. Hudgson & Crainer. 1994). pemilik. Ini berarti bahwa kepemimpinan dapat dikonsepsikan sebagai suatu interaksi antara individu dengan anggota kelompoknya. gigih. Bahkan dapat dikatakan kemajuan umat manusia datangnya dari sejumlah kecil orang-orang istimewa yang tampil kedepan. yaitu . Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian.

maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok. yaitu. intelektual dan tindakan individu. Blake dan Mouton. Atas dasar teori diatas. dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. interaksinya semakin meluas. Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu. Hal ini disebabkan. kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan. Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Beberapa pendapat tersebut. interaksi. (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin. efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. tindakan. untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa. inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. dan sentimen. dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi. Jadi. bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan dari norma kelompok. pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada. House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. dan Douglas McGregor. nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah. secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin. tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi. Dikemukakan. (1) sifat-sifat efektif. terdapat tiga variabel pokok.kepemimpinan harus juga termasuk . Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok. dan kemampuan-nya. Asumsinya. Dikemukakan. peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. Rensis Likert. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi. (1). Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas. Pada tahun yang sama Fiedlermengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. Apabila dicermati. Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris. kebutuhan. Teori ini secara umum berpendapat. adalah Teori Interaksi Harapan. 1994). didalam Teori Humanistik. apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “Personal-Situasional”. Kemudian dikemukakan. Pendapat lain mengemukakan. dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. (2). organisasi yang . (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Dengan demikian.

Examples of competencies are initiative. Woodruffe (1990). Kedua pola kepemimpinan tersebut. . terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Spencer dan kawan-kawan (1990). melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi. kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs. pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar. and strategic thinking”. Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan. influence. dan (3). capabilities which may be expressed in a broad. Teori kepemimpinan lain. dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori. kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. Zigarmi. teamwork. Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin. maka implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Spencer (1993) berpendapat. kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat “Competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. Kompetensi Kepemimpinan Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran. interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. 3. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”.disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan. Menurut Rotwell. Teori ini sekaligus menjawab pendapat. Furnham (1990) dan Murphy (1993). even infinite array of on the job behaviour. 2001). lengkap dengan model dan pengukurannya. yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. fungsi. Lebih lanjut Rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job. dan Drea bahkan menyatakan. adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. innovation. Blanchard. tugas. Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988). Dikemukakan.

yatu berupamotives. skill bersifat action. cross cultural sensitivity. skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives. team work. dantechnical expertise. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong. influence. yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang. dan skill ( Spencer. interpersonal understanding. pimpinan menengah. 1990). concern for quality. atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. team work. felexibilty. 1993). Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu. Menurut review Asropi (2002). relationship building. service orientation. developing others. dan cross cultural sensitivity. yang dapat mengarahkan. atau bidang. Menurut Spencer (1993). knowledge. dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). building organizational commitment. analytical thinking. building organzational commitment. terdapat karakteristik kompetensi lainnya. 1993). strategic thinking. nilai. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang.Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. initiative. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut. Dalam pada itu. self concept. developing others. concern for order. entrepreneurial orientation. cross cultural sensitivity. initiative. influence. interpersomal awareness. Adapun kompetensipada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence. traits. empowering others. strategic thinking. team work. atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. relationship building. self koncept (Spencer. initiative. result (achievement) orientation. hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. dan knowledge. Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation. flexibility. Rothwell and Kazanas. Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa. fungsi. entrepreneurial orientation. relatiuonship building. interpersonal awareness. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu. influence. Dikemukakan. service orientation. dan empowering others. empowering others. develiping others. 1993. building organizational commitment. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise. kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu . developing others. service orientation. dan felexibilty. analitycal thinking. result (achievement) orientation. berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. empowering others. conceptual thinking. technical expertise. Self concept adalah sikap. conceptual thingking. baik mental atau pun fisik. mendorong. relationship building. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak. yaitu kompetensi berupa : result orientation.

willingness to take risk). dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. karena memiliki komitmen. “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa. Dalam hubungan jiwa kepemimpinan. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan. meaning (= communication). Kemudian pada tahun 1997. empati. dan selalu siap melayani. menurut hubungan pemimpin dan pengikut. ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul. Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal : attention (= vision). (b) Generate and sustain trust. p. and enjoyable. 1998. stimulating. dan confidence. yaitu. optimism and a psychological resilience that expects success (lihat Karol Kennedy. kredibilitas. dan (5) memotivasi bawahan. (c) Display a bias towards action. Sebelum itu. tidak melakukan kesalahan yang sama. memiliki komitmen organisasional yang kuat. dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik. menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama. connection yang luas. Learning and competence are reinforced. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut. (4) mampu menjadi penunjuk jalan. Dalam pada itu. kemampuan komunikasi yang tinggi.32). disiplin diri yang tinggi. berwawasan luas.. dan jiwa kepemimpinan. visionary. Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah“empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : People feel important. keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning. memiliki dasar spiritual yang kuat. ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan “status quo” dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. (2) memberikan inspirasi wawasan bersama. trust (= emotional glue). 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain. creating authentic relationships. berpikir positif. and self (= commitment. People feel they part of the organization. apabila manajer memiliki sifat jujur. Fenomena ini menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. dan integritas”. memberikan inspirasi.Sementara itu. memandang masa depan. Berdasarkan penelitiannya. a sense of purpose. competency yang cukup. sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”. Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994). mampu menangani setiap tekanan. dan (d) Are purveyors of hope. Dinyatakan. . dan Work is viewed as excisting.kepemimpinan”. mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya. kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi. Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah. Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain. (1) pemimpin yang menantang proses. manajemen waktu. Soetjipto Wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut. diperlukan kompetensi kepemimpinan berupaconception yang tepat. risk taking and curiosity. Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed. antusias. Selain itu.

Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati.bappenas. Sedangkan Bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional.com/tipe-tipe-kepemimpinan/ .blogspot. jiwa.com/2009/10/macam-gaya-kepemimpinan-kepemimpinan. dan moral.html http://belajarpsikologi. melainkan masalah emosional. Mereka seringkali adalah pencari nyala api.id/data/Kajian/Kajian-2003/Dimensi% http://jurnal-sdm. Sumber : http://aparaturnegara.go. Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan.