Anda di halaman 1dari 2

MIMIKRI: ADAPTASI ATAU PROSTITUSI?

Oleh: Jum’an

Dalam dunia hewan dikenal suatu seni menyelamatkan diri yang khas.
Sayap kupu-kupu ini bergambar mata melotot untuk mengecoh
pandangan predator. Kalaupun tidak terkecoh dan tetap menyerang,
kesempatan menyelamatkan diri masih terbuka karena yang diserang
adalah sayap bukan tubuhnya. Ada pula ular yang ekornya mempunyai
bentuk dan dapat bergerak mirip dengan kepalanya. Itu adalah
muslihat ganda: pertama musuh sudah keburu takut melihat ekornya,
kedua kalau ekornya diam dan katak merasa aman, tiba-tiba dia
menyergap dengan kepala aslinya yang memang bertaring tajam.
Itulah mimikri. Cara adaptasi untuk mengelak dari serangan musuh
atau menangkap mangsa demi kelangsungan hidup selanjutnya.
Mimikri yang populer adalah bagaimana bunglon berubah warna
kulitnya menyamai tempat dia hinggap.

Demi kelangsungan hidup, manusia sejak lama telah memiliki banyak


muslihat bagaimana menghindari bahaya dan mempermudah
memperoleh tangkapan. Untuk memasuki ladang perburuan yang baru
dan menghindari bermacam kendala serta memperoleh pangsa, orang
harus menguasai seni muslihat atau art of deception alias mimikri.

Bedanya, mimikri bunglon, kadal dan kupu-kupu adalah alamiah


sebagai bentuk perlindungan karunia YMK, sedangkan mimikri anak
manusia adalah tiruan dan rekayasa. Hasilnya lebih banyak
menyedihkannya dibanding terhindar dari bahaya dan memperoleh
pangsa. Kita tidak bisa merubah warna kulit seperti bunglon. Sebagai
gantinya kita terpaksa merubah pola berpikir, jati-diri dan tingkah laku
agar sesuai dengan irama lingkungan yang baru. Makin cendekia
seseorang seharusnya makin canggih pula muslihatnya untuk
bermimikri. Lebih pandai beradaptasi, lebih homogen melarutkan diri.

Lihatlah Malarangeng Bersaudara, Anas Urbaningrum dan Denny


Indrayana dulu dan sekarang. Menurut mata awam saya, mungkin
puncak karir yang mereka tuju, tetapi mimikri justru telah merubah
mereka dari cendekiawan muda yang cemerlang dan idealis menjadi
sekedar juru pembenar bahkan pemasang badan. Akal sehat orang
awampun dapat melihatnya dengan jelas. Nampaknya mimikri
memang hanya untuk dunia binatang bukan untuk manusia, apalagi
untuk para cendekiawan. Ini adalah prostitusi bukan adaptasi.

Seingat saya zaman dulu orang jarang dan tabu berpindah-pindah


partai politik. Bahkan (entah sampai dimana kebenarannya) seorang
pengobar semangat dari Partai Nahdatul Ulama (NU) berani berpidato:
Wa laa tamuutunna illa wa antum Nahdliyyiin – jangan sekali-sekali
engkau mati kecuali sebagai seorang NU. Sebagai bukti bahwa urusan
partai pada waktu itu adalah urusan hidup dan mati.
Berbeda halnya sekarang; berpindah-pindah partai adalah halal, absah
dan jamak. Siapa saja, apalagi tokoh masyarakat dan cendekiawan
akan disambut dengan tangan terbuka. Partai baru adalah ladang baru
yang masih perawan, penuh janji dan harapan. Itulah sebabnya orang
berpikir bahwa mimikri perlu untuk menggarapnya, padahal itu
merupakan muslihat binatang.