Anda di halaman 1dari 80

SPESIFIKASI &

MANAJEMEN
PELAKSANAAN
Samarinda, 30 Agustus
2006

SPESIFIKASI

MEMUAT SEGALA PERATURAN & KETENTUAN


TENTANG BAGAIMANA PEKERJAAN HARUS
DIKERJAKAN & BERHASIL AKHIR
SALAH SATU BAGIAN PENTING DARI
DOKUMEN LELANG / KONTRAK
DIKENAL DENGAN NAMA SPESIFIKASI
TEKNIK / UMUM
JIKA PERLU DILENGKAPI SPESIFIKASI
KHUSUS ATAU ADDENDUM
BENTUK : BERJENJANG ATAU END RESULT

ISI SPESIFIKASI
BERJENJANG

LINGKUP PEKERJAAN
CUACA YANG DIIJINKAN UTK BEKERJA
BAHAN
METODE PELAKSANAAN
PERALATAN
PENGENDALIAN MUTU
CARA PENGUKURAN HASIL KERJA
CARA PEMBAYARAN

SPESIFIKASI UMUM

Div
Div
Div
Div
Div
Div

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Umum
Drainase
Pekerjaan Tanah
Pelebaran & Bahu Jalan
Perkerasan Berbutir
Perkerasan Aspal

Seksi 6.3 sesuai Surat Dirjen Praswil


No.138/MD/Dp/2003 Tgl 9 Juni 2003

Div 7. Struktur
Div 8. Pengembalian Kondisi & Pekerjaan
Minor
Div 9. Pekerjaan Harian
Div 10. Pekerjaan Pemeliharaan Rutin

RINGKASAN PEKERJAAN

PEKERJAAN UTAMA
PENGEMBALIAN KONDISI & PEKERJAAN MINOR

PERKERASAN
BAHU JALAN
DRAINASE, TALUD & PENGHIJAUAN
PERLENGKAPAN JALAN & PENGATUR LALIN
JEMBATAN

PEMELIHARAAN RUTIN

PERKERASAN
BAHU JALAN
DRAINASE
PERLENGKAPAN JALAN
JEMBATAN

PENGEMBALIAN KONDISI

PERKERASAN LAMA

PATCHING > 40cm x 40cm & TOTAL <10m3/km


SEALING 10 30% per 100m & TOTAL 40m2
SPOT LEVELLING TOTAL < 10m3/km
GALIAN, PRIME/TACK COAT & PEMADATAN
KEMBALI SUB-GRADE TIDAK DIBAYAR TERPISAH
KERUSAKAN YG MELUAS AKIBAT
KETERLAMBATAN KONTRAKTOR MENJADI BEBAN
KONTRAKTOR

BAHU JALAN LAMA PADA PERKERASAN


BERPENUTUP ASPAL

RE-KONSTRUKSI BAHU JALAN 50m/km


TEBANG POHON < 15cm DIUKUR 1m DIATAS
TANAH BESERTA AKAR-AKARNYA

PENGEMBALIAN KONDISI
(lanjutan)

SELOKAN. SALURAN AIR, GALIAN,


TIMBUNAN DAN PENGHIJAUAN

MENCAKUP DRAINASE, LERENG &


PENGHIJAUAN
DIBAYAR MENURUT MASING-MASING PAY ITEM,
KECUALI : STABILISASI LERENG DNG TANAMAN
& PENANAMAN POHON/SEMAK BARU

PEKERJAAN MINOR : PERLENGKAPAN JALAN


DAN PENGATUR LALU LINTAS
JEMBATAN

LANTAI JEMBATAN : BETON & KAYU


PELAPISAN PERMUKAAN BAJA STRUKTUR

PEMELIHARAAN RUTIN

PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN

PEMELIHARAAN RUTIN BAHU JALAN

PENGISIAN LUBANG, BUKAN RE-KONSTRUKSI


PEMELIHARAAN PEKERJAAN BAHU JALAN YANG
SUDAH DITERIMA
PEMOTONGAN RUMPUT (TINGGI MAKS. 3cm)

PEMELIHARAAN RUTIN DRAINASE

PATCHING < 40cm x 40cm


SEALING < 10% per 100m

PEMBERSIHAN SALURAN & GORONG-GORONG

PEMELIHARAAN RUTIN PERLENGKAPAN JALAN

PEMBERSIHAN PERLENGKAPAN JALAN,


PENGECATAN HURUF YANG TIDAK TERBACA

PEMELIHARAN RUTIN
(lanjutan)

PEMELIHARAAN RUTIN JEMBATAN

PEMERIKSAAN KOMPONEN UTAMA JEMBATAN


PEMBERSIHAN KOMPENEN JEMBATAN
PEMERIKSAAN KONDISI SEMUA SALURAN AIR
YG BERDEKATAN DNG JEMBATAN SELAMA &
SETELAH BANJIR

PEMELIHARAAN JALAN SAMPING &


JEMBATAN

JALAN DAN JEMBATAN DI LUAR RUAS PROYEK


YG DIGUNAKAN OLEH KONTRAKTOR
JIKA KONTRAKTOR GAGAL MENGERJAKAN MAKA
PEKERJAAN DAPAT DIAMBIL ALIH DIREKSI
PEKERJAAN DNG BIAYA AKTUAL + DENDA 10%

URUTAN KEGIATAN PEKERJAAN

TAHAPAN PELAKSANAAN

MOBILISASI

SETELAH MASA MOBILISASI SELESAI :

PEKERJAAN TANAH
PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI
PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN ITENSIF

1 BULAN SETELAH MOBILISASI SELESAI :

SELAMA 2 BULAN u/LCB ATAU 3 BULAN u/ICB

PEKERJAAN DRAINASE

SETELAH PEKERJAAN DRAINASE SELESAI :

PEKERJAAN LAPIS PONDASI


PEKERJAAN ASPAL
PEKERJAAN STRUKTUR

PASANGAN BATU

MORTARED STONEWORK

LINING : PENGUKURAN DIAMBIL TERKECIL DARI


GAMBAR; AKTUAL; 15 cm
BUKAN LINING (STRUKTURAL) : JIKA DIIJINKAN
DIREKSI PEKERJAAN, DIUKUR SESUAI GAMBAR
GALIAN AKAN DIBAYAR TERSENDIRI

STONE MASONRY

STRUKTURAL
GALIAN TIDAK DIBAYAR TERPISAH

GALIAN & TIMBUNAN

GALIAN

GALIAN BIASA : TERMASUK PERKERASAN


BERBUTIR
GALIAN BATU : VOL 1m3; PERLU BREAKER
ATAU BLASTING; TIDAK DAPAT DIBONGKAR DNG
RIPPER DOZER
GALIAN STRUKTUR : TERMASUK PENIMBUNAN
KEMBALI DNG BAHAN YANG DISETUJUI
GALIAN PERKERASAN BERASPAL

TIMBUNAN

TIMBUNAN BIASA : CBR 6% & BUKAN A-7-6 /


CH u/30 cm TOP; u/BAWAHNYA (PI / %CLAY)
1,25
TIMBUNAN PILIHAN : CBR 10% & PI 6

CONTOH GALIAN
STRUKTUR

BAGIAN
ABUTMENT YG
TDK TERARSIR
DIPERHITUNGKAN
JIKA BAHAN YG
DIGALI
TERMASUK
GALIAN BATU
MAKA
DIPERHITUNGKAN
SEBAGAI GALIAN
BATU

PELEBARAN

LEBAR GALIAN : RUANG GERAK YANG CUKUP


BAGI ROLLER, DIPERLUKAN ACUAN PEMISAH
u/MATERIAL BACKFILL & MATERIAL
PERKERASAN BERBUTIR
JOINT : TIDAK SEGARIS TAPI BERTANGGA
LEBAR PELEBARAN PERKERASAN : MIN. 0,5m
WET CONCRETE : TIDAK EKONOMIS
CEMENTED BASE : OMC & MDD

SOIL CEMENT BASE : UCS 20kg/cm2 & < 35kg/cm2


CEMENT TREATED BASE : UCS 42kg/cm2 & < 175
kg/cm2
PORTLAND CEMENT CONCRETE : UCS 175kg/cm 2

HATI-HATI DNG CEMENTED BASE u/WIDENING

PERKERASAN BERBUTIR

LAPIS PONDASI AGREGAT

KELAS A : CBR 90%, TERTAHAN #4 MEMPUNYAI


1 BIDANG PECAH (AGREGAT KASAR FULL
CRUSHED). APAKAH BOLEH DISUBSTITUSI DNG
KELAS B? DIAGRAM BOUSSINECQ !
KELAS B : CBR 35%, MENGAPA HANYA 35%?
DIAGRAM BOUSSINECQ !
KADAR AIR PEMADATAN : OMC 3% s/d OMC +
1%
MENGAPA MODIFIED PROCTOR (AASHTO T180) ?
MENGAPA KEPADATAN HARUS 100% ? APAKAH
KORELASI CBR KEPADATAN LINEAR ?

SOIL CEMENT BASE

LAPIS PONDASI SEMEN TANAH

MIX DESIGN : UCS 24 kg/cm2 ATAU CBR 120%


MIN. UCS 7 HARI 20 kg/cm2 ATAU CBR 100%
PENGUJIAN WETTING & DRYING (AASHTO T135) :
KEHILANGAN BERAT 7% & PERUBAHAN VOL
2%
KEPADATAN 97%
PENGUJIAN KADAR SEMEN (AASHTO T144)
CHIPPING PADA PERMUKAAN AKHIR
BOLEHKAH MIXING DNG MOTOR GRADER SAJA ?
PERAWATAN DNG CURING MEMBRANE
LAPIS-2 DIHAMPAR SETELAH UMUR LAPIS-1 7 HARI
TEBAL TERPASANG & EFEKTIF (CEK PAKAI DCP-CBR)

KLASIFIKASI TANAH (AASHTO)


& PERKIRAAN KEBUTUHAN
SEMEN
KLASIFIKASI TANAH & KEBUTUHAN SEMEN

A1 (fraksi batu : kerikil & pasir); A1-a : 3 ~ 5% & A1-b :


5 ~ 8%
A2 (kerikil-pasir kelanauan/kelempungan); A2-4, A2-5,
A2-6 & A2-7 : 5 ~ 9%
A3 (pasir halus) : 7 ~ 11%
A4 (tanah lanau) : 7 ~ 12%
A5 (tanah lanau) : 8 ~ 13%
A6 (tanah lempung) : 9 ~ 15%
A7 (tanah lempung); A7-5 & A7-6 : 10 ~ 16%

PELAKSANAAN SOIL
CEMENT
1.
2.
3.
4.
5.

PENYIAPAN SUB-GRADE
PEMILIHAN SISTEM PENCAMPURAN
PENCAMPURAN & PENGHAMPARAN
PEMADATAN
PERAWATAN

SISTEM PENCAMPURAN

CENTRAL MIXING PLANT

PI x MATERIAL LOLOS #40 < 500

MIX IN PLACE

ALAT PEMBAJAK SAWAH & MOTOR GRADER


(BUKAN MOTOR GRADER SAJA) JIKA PI x
MATERIAL LOLOS #40 < 1000
SINGLE SHAFT MIXER JIKA PI x MATERIAL LOLOS
#40 < 2000
MULTI SHAFT MIXER JIKA PI x MATERIAL LOLOS
#40 < 3000

URUTAN KERJA MIX IN PLACE


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

PENGANGKUTAN TANAH TERSELEKSI KE LAP.


PEMBENTUKAN DNG MOTOR GRADER
PULVERIZATION (+AIR JIKA PERLU)
PENEBARAN SEMEN (MEKANIK/MANUAL)
PENCAMPURAN (+AIR DARI MIXER)
PEMADATAN AWAL DNG SHEEPFOOT ROLLER
HILANGKAN ALUR BESAR DNG MOTOR GRADER
PENYEMPROTAN RINGAN ( 2%)
PEMADATAN ANTARA DNG PNEU. TIRE ROLLER
HILANGKAN ALUR KECIL (DPT DNG MOTOR
GRADER)
PENEBARAN AGREGAT (CHIPPING)
PEMADATAN AKHIR DNG PNEU. TIRE ROLLER
PERAWATAN DNG BAHAN CURING MEMBRANE

JENIS PERALATAN UNTUK


MIX IN PLACE
WINDROW MIXER

1.

WINDROW (GUNDUKAN MEMANJANG)


PENAMPANG HARUS SERAGAM

SINGLE SHAFT MIXER

2.

ROTOR PENGADUK TUNGGAL


LINTASAN HARUS DIULANGI BERKALI-KALI

MULTIPLE SHAFT MIXER

3.

ROTOR PENGADUK BANYAK (ROTOR DEPAN


u/PULVERIZATION, BERIKUTNYA u/MIXING)
LINTASAN HANYA SEKALI

PEMADATAN
PEMADATAN AWAL

1.

SHEEPSFOOT (HAMPIR SEMUA JENIS TANAH)


PTR (TANAH KEPASIRAN ATAU HAMPIR NP)

PEMADATAN ANTARA

2.

PTR (HAMPIR SEMUA JENIS TANAH)


VIBRATING ROLLER (TANAH BERBUTIR)

PEMADATAN AKHIR

3.

TIDAK DIPERLUKAN JIKA ADA LAPIS KEDUA


PTR (HAMPIR SEMUA JENIS TANAH)
TANDEM ROLLER (TANAH BERBUTIR)

PENGETAMAN
UNTUK MENGHILANGKAN ALUR-ALUR
BEKAS RODA PEMADAT (PEMADATAN AWAL
& ANTARA)
ALAT YANG DIGUNAKAN

MOTOR GRADER
MESIN PENCABUT RUMPUT (TIDAK DIANJURKAN
KARENA MATERIAL CHIPPING DAPAT
TERANGKAT DAN TERBALIK SEMUA, LIHAT
FOTO)
SAPU KAWAT

PENEBARAN AGREGAT
(CHIPPING) & PERAWATAN
(CURING)

PENEBARAN AGREGAT :

DIPERLUKAN HANYA PADA LAPIS TERAKHIR


DIHAMPAR 12 kg/m2 SEGERA SETELAH
PENGETAMAN DNG MOTOR GRADER TERHADAP
ALUR-ALUR PEMADATAN ANTARA SELESAI
PENYEMPROTAN RINGAN DILAKUKAN JIKA
DIPERLUKAN

PERAWATAN (CURING)

LEMBAB DALAM WAKTU 7 HARI


LAPIS BERIKUTNYA BARU BOLEH DIHAMPAR
SETELAH CURING TIME LEWAT

PENGHAMPARAN TANAH
(WINDROW)

PENEBARAN SEMEN DIATAS


WINDROW

WINDROW MIXER

PENYIRAMAN UNTUK
MEMBANTU PULVERIZATION

PULVERIZATION DNG
SINGLE SHAFT MIXER

TANAH YG TERLALU BASAH


DIANGIN-ANGIN DNG SINGLE
SHAFT MIXER

PENEBAR SEMEN YG DITEMPEL


PADA DUMP TRUCK

PENEBARAN SEMEN SECARA


MATRIK (MANUAL)

SINGLE SHAFT MIXER

MULTIPLE SHAFT MIXER

PEMADATAN AWAL DNG


TAMPING ROLLER

PEMBENTUKAN SETELAH
PEMADATAN AWAL

PEMADATAN ANTARA & AKHIR


DNG PNEUMATIC TIRE ROLLER

PENGETAMAN DNG MOTOR


GRADER SEBELUM PEMADATAN
AKHIR

PENGETAMAN DENGAN
PENGGARUKAN SEBELUM
PEMADATAN AKHIR

PENGETAMAN DENGAN SAPU


KAWAT SEBELUM PEMADATAN
AKHIR

PEMOTONGAN & PEMBUATAN VERTICAL JOINT PADA AKHIR


PRODUKSI

PENYEMPROTAN BAHAN
CURING MEMBRANE

PRIME COAT &TACK COAT

PRIME COAT

ANTARA NON ASPAL DNG BERASPAL


ASPAL EMULSI : MS atau SS, MENGAPA RS TIDAK
DIGUNAKAN?
ASPAL CAIR : AC + Kerosene (80 pph, MC-30)

TACK COAT

ANTARA BERASPAL - BERASPAL


ASPAL EMULSI : RS (Rapid Setting)
ASPAL CAIR : AC + Kerosene (30 pph, HARUS
DIPANASKAN)
RESIDU : 0,15 x 77% = 0,116 u/MC-30 SETARA
DNG 0,2 x 61%= 0,122 u/RS sebelum diencerkan

PEMBERSIHAN MANUAL
(APA DIIJINKAN ?)

PERMUKAAN
LPA SUDAH
DI-PRIME
TIDAK ADA
PENGATURAN
LALIN YG
MEMADAI
PERMUKAAN
KOTOR LAGI
AKIBAT
LINTASAN
PEMBERSIHA
N DILAKUKAN
HANYA OLEH
1 ORANG

(BERPACU DNG
HUJAN/PROGRES?)

PERMUKAAN
PRIME COAT
YG KOTOR
BELUM
DIBERSIHKAN

TIDAK ADA
TAMBAHAN
PRIME
MUATAN
HOTMIX
SUDAH
DITUANG KE
PAVER
SOLUSI ?

SEBAB & AKIBAT


BONDING YANG JELEK

PERMUKAA
N EXISTING
TIDAK
BERSIH
BAN TRUK
MENGOTORI
TACK COAT
TIDAK
MERATA
KADAR
TACK COAT
KURANG
SLIPPAGE
CRACK

BURTU & BURDA


KUNCI KEBERHASILAN :
AGREGAT BURTU & LAPIS 1 BURDA

UKURAN HAMPIR SERAGAM


BERSIH
TAHAN AUS
BENTUK
GRADASI
KELEKATAN TERHADAP ASPAL

DIGUNAKANNYA ASPAL DISTRIBUTOR,


BUKAN HAND SPRAYER

CONTOH APLIKASI
AGREGAT

UKURAN AGREGAT YG SALAH

UKURAN AGREGAT YG BENAR

CAMPURAN ASPAL PANAS

ISTILAH LAMA BARU

TIPE REPETISI BEBAN LALIN

HRSS SS
HRS HRS-WC
ATB HRS-Base
AC AC-WC; AC-BC; AC-Base
SAND SHEET (SS) ESA/tahun < 0,5 juta
HOT ROLLED SHEET (HRS) ESA/tahun < 1 juta
ASPHALTIC CONCRETE : AC-WC; AC-BC & AC-Base

ASPHALTIC CONCRETE (SUPERPAVE)

TANPA MODIFIER
DENGAN MODIFIER : Polimer; Aspal Alam &
Multigrade

SUPERPAVE

SUPERIOR PERFORMANCE PAVEMENT


DIKEMBANGKAN SHRP (USA) u/AC
DAERAH LARANGAN u/AC

MEMBATASI PASIR BERLEBIHAN SEHINGGA


MENYEBABKAN HUMP PADA #30

DIPEROLEH VMA SEBESAR MUNGKIN

DIKEMBANGKAN OLEH PUSLITBANG JALAN


& UK-TRL u/HRS YG TAHAN PLASTIC FLOW
GARIS FULLER

VOID IN MINERAL
AGGREGATE

AC KONVENSIONAL vs
SUPERPAVE

HRS LAMA vs HRS-WC

PENGAMATAN VISUAL
TERHADAP GRADASI HRS-WC
YANG BENAR

GRADASI SENJANG SULIT


DIAMATI DARI TEXTURE
PERMUKAAN

GRADASI SENJANG DAPAT


DIAMATI DENGAN JELAS
DARI PERMUKAAN
DINDING CORING

#4

3/8

CONTOH GRADASI AC-WC2

PERBANDINGAN TEXTURE ACWC

AC-WC1 : 5,3%
DIBAWAH LARANGAN
ABSORPSI ASPAL 1%

AC-WC2 : 7,2%
DIATAS LARANGAN
ABSORPSI ASPAL 1,4%

PERBANDINGAN CORING ACWC

MEMOTONG FULLER
DIANTARA #8 & #4
TIDAK ADA
HONEYCOMB

MEMOTONG FULLER
DIANTARA #4 & 3/8
ADA HONEYCOMB

SETTING CRUSHING PLANT

MAX SIZE & NOMINAL MAX SIZE

# SCREEN MAKS. 16 mm (5/8) u/AC-WC


# SCREEN MAKS. 22 mm (7/8) u/AC-BC
# SCREEN MAKS. 31 mm (1) u/AC-Base

KESALAHAN SETTING :

MAX # SCREEN
GAP DARI SECONDARY CRUSHER
KAPASITAS SCREEN
KELANDAIAN SCREEN

DAMPAK SALAH SETTING

GRADASI AKHIR SULIT DICAPAI


PEMAKAIAN TIAP FRAKSI AGREGAT SANGAT
TIMPANG:

SERINGKALI FRAKSI 5 10 CEPAT HABIS


TEXTURE NAMPAK KASAR

JIKA MEMOTONG FULLER DIANTARA #4


DAN 3/8

CENDERUNG HONEYCOMB SEHINGGA


PERKERASAN CEPAT RETAK

AGREGAT 10-20 vs 10-15 AKIBAT


SCREEN MAKS. 19 mm vs 16 mm

SCREEN MAKS 19 mm
PEMAKAIAN SANGAT
SEDIKIT
GRADASI SULIT DIPENUHI

SCREEN MAKS 16mm


PEMAKAIAN AGAK BANYAK
GRADASI MUDAH
DIPENUHI

DIPENUHI

FILLER ADDED

HRS

GRADASI SENJANG HANYA DAPAT DICAPAI DNG


KONTRIBUSI PASIR HALUS
SULIT MEMENUHI PROPERTIES CAMPURAN YG
DISYARATKAN TANPA FILLER ADDED

AC

JIKA KANDUNGAN FILLER PADA FRAKSI 0 ~ 5


mm TINGGI ( 15%), UMUMNYA FILLER ADDED
TIDAK DIPERLUKAN

AMP

COLD BIN
CONVEYOR BELT : sobek tidak ?
DRYER : sisa minyak yang tidak terbakar ?
DUST COLLECTOR : primair & sekunder
SCREEN : ukuran, aus atau berlubang ?
TIMBANGAN

KALIBRASI : HARUS NOL JIKA TIDAK BERMUATAN

PUGMILL

PADDLE : TIDAK AUS, ARAH SESUAI MANUAL


HIDROLIK : TIDAK BOCOR SAAT DRY MIX

COLD BIN

TIDAK ADA SKALA


TIDAK ADA PENGUNCI

PINTU TERLALU LONGGAR


ADA PENGUNCI TAPI GOYAH
SKALA TERLALU KASAR

LANJUTAN COLD BIN

TIDAK ADA SEKAT PADA


BAGIAN ATAS COLD BIN
MATERIAL TUMPANG
TINDIH

CONVEYOR PANJANG
JARAK COLD BIN RAPAT,
DAPAT DIRENGGANGKAN ?

DUST COLLECTOR

SEKUNDER : WET CYCLONE SEKUNDER : TABUNG


FILTER
TIDAK BEKERJA
TIDAK ADA POLUSI
POLUSI

LANJUTAN DUST COLLECTOR

SEKUNDER : WET
CYCLONE
TIDAK ADA POLUSI

WET CYCLONE : DEBU


DISEMPROT DAN AIR
DIALIRKAN KE BAK

KALIBRASI COLD BIN

DURASI HARUS CUKUP AGAR KESALAHAN


DAPAT DIPERKECIL
KOREKSI KADAR AIR DIHARUSKAN
PLOTTING HARUS PADA 1 LEMBAR KERTAS
UNTUK SEMUA GRAFIK

TITIK 0 (NOL) SEBAGAI TITIK BANTU


GRAFIK BERUPA GARIS LENGKUNG
X : OUTPUT & Y : OPENING GATE MAKA BENTUK
KURVA CEMBUNG

LANJUTAN COLD BIN

Grafik ada yang lurus &


kurva dalam 1 lembar
Grafik Sand & 0-5 saling
berpotongan

Grafik lurus dalam 1


lembar
Pada bukaan 0 tapi ada
output

OVER HEATING

ASPHALT STORAGE 200C


SIFAT-SIFAT KIMIA ASPAL
BERUBAH, MENJADI GETAS

HOTBIN 260C
DAPAT DISEBABKAN OLEH
BERVARIASINYA KADAR AIR
DALAM STOCKPILE AGREGAT

LAIN-LAIN DARI AMP

COLD BIN DNG SKALA


BARU & PENGUNCI
MOER - BAUT

KOMPUTER PENGATUR
TEMPERATUR HARUS DIJAGA
DENGAN MENGGUNAKAN
AIR CONDITION

BAK DUMP TRUCK

BAK YANG DIOLESI DENGAN


PEMASANGAN TERPAL
MINYAK (SEHARUSNYA
YANG BENAR (MENUTUP
TIDAK BOLEH) & BERSIH
SAMPAI KELUAR BAK)
DARI SEGALA MATERIAL

KESALAHAN UMUM PADA


PAVER

HOT MIX
PADA
HOOPER
DIHABISKAN
HOT MIX
DITEBAR
DIDEPAN
PAVER
HOT MIX DI
TEBAR
DIBELAKANG
PAVER
KEMUDIAN
DI-RAKING

PERALATAN LAB - ASPAL

PEDESTAL

HAMMER

BERAT ISI KAYU 0,673 0,769 ton/m3


UKURAN 20,3 x 20,3 x 45,7 (cm)
TINGGI JATUH 45,72 cm
BERAT 4536 gram u/MOLD 4
BERAT 10206 gram u/MOLD 6

KECEPATAN MESIN MARSHALL 5,08 cm per


menit

UKURAN KAWAT u/AYAKAN

RUJUKAN AASHTO M92


SETIAP AYAKAN MEMPUNYAI DIAMETER
KAWAT YANG TERSENDIRI
SEMAKIN BESAR AYAKAN SEMAKIN BESAR
DIAMATER KAWAT
ARTI #4 : SETIAP INCH ADA 4 LUBANG

# 4 = 4,75 mm
DIA. KAWAT= (25,4 4 x 4,75)/4 = 1,6 mm
DIA. KAWAT SESUAI AASHTO = 1,54 mm

KAWAT AYAKAN YG TIDAK


BENAR

KAWAT LEBIH KECIL DARI


YANG DISYARATKAN
KAWAT TIDAK LURUS,
MUDAH BERUBAH BENTUK

TERTULIS USA STANDARD


TESTING SIEVE, TETAPI
TIDAK STANDARD

PENUTUP

TERIMA KASIH, SEMOGA BERMANFAAT !


WHERE ?