Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam era industrialisasi, pertumbuhan industri di Indonesia khususnya
industri kimia, dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan baik dari
segi kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan peningkatan tersebut, maka
kebutuhan akan bahan baku industri, bahan-bahan kimia, maupun tenaga kerja
semakin meningkat. Salah satu bahan baku yang diperlukan itu adalah anilin dan
senyawa turunannya.
Anilin merupakan salah satu senyawa intermediate yang digunakan secara
luas di berbagai industri kimia dewasa ini, karena itu kebutuhan anilin akan
meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan program pemerintah dalam
pengembangan industri hilir dimana kebutuhannya baru dapat dipenuhi dengan
import dari Negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Belgia,
Inggris, Australia, dan Jerman.Kebutuhan anilin di dunia mengalami peningkatan
sebesar 4,6% dari 2,117 million ponds di tahun 2004 menjadi 2,210 million ponds
di tahun 2005 dan mengalami peningkatan 4,2% sampai tahun 2008.
(www.the-innovation-group.com)
Sedangkan Indonesia sendiri, pada tahun 2008 mengimpor anilin sejumlah
26.822,2 ton. Anilin tersebut banyak digunakan di berbagai industri. Dengan
didirikannya pabrik anilin dengan kapasitas 20.000 ton/tahun di tahun 2015,
diharapkan dapat memenuhi kebutuhan anilin di Indonesia dan sebagian di ekspor
ke luar negeri. Di samping itu, dengan adanya pabrik anilin dapat membuka
lapangan pekerjaan baru dan memicu berdirinya pabrik lain yang menggunakan
bahan baku anilin. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka pabrik anilin ini
layak didirikan di Indonesia.

1.2. Pemilihan Kapasitas Perancangan


Pemilihan

kapsitas perancangan pabrik anilin ini didasarkan pada

proyeksi kebutuhan anilin di Indonesia.


Permintaan akan anilin untuk industri dalam negeri mengalami
peningkatan secara kualitatif dari tahun ke tahun. Data mengenai kebutuhan anilin
di Indonesia dari tahun ke tahun dapat di lihat dari tabel 1.1 berikut ini.
Tabel 1.1 Kebutuhan anilin di Indonesia

Tahun

Tahun ke-

Jumlah Impor (Ton)

2002

21.223,9

2003

21.835,2

2004

23.519,3

2005

23.750,0

2006

25.107,4

2007

26.264,8

2008

26.822,2

2010

22.273,38

2011

16.174,55

2012

10

10.745,23

(Biro Pusat Statistik, 2012)


Sehingga apabila data tersebut diplotkan dalam suatu grafik, maka akan
dapat diperkirakan kebutuhan anilin di Indonesia yang terus mengalami
peningkatan dari segi kuantitatif. Kurva prediksi kebutuhan anilin di Indonesia
dari tahun ke tahun dapat dilihat pada gambar 1.1.

30.000,00

Jumlah Impor

25.000,00
y = -786,6x+ 26098
R = 0,235

20.000,00
15.000,00
10.000,00
5.000,00
0,00
2000

2002

2004

2006

2008

2010

2012

2014

Tahun ke-

Gambar 1.1 Grafik Impor Anilin di Indonesia


Dari grafik tersebut di dapatkan persamaan garis y = - 786,6 x + 26098
tersebut dapat diprediksikan kebutuhan impor anilin di Indonesia pada tahun 2015
mencapai 16.106,2 ton sehingga kapasitas produksi pabrik anilin kami pada tahun
2015 sebesar 16.106,2 ton ditambah 10% (angka aman) menjadi 18.000 ton.
Untuk memenuhi kebutuhan anilin di Indonesia dan mengurangi jumlah
impor anilin, maka pabrik anilin ini dirancang dengan kapasitas sebesar 20.000
ton/tahun.
1. Ketersediaan Bahan Baku
Bahan baku pembuatan anilin yang berupa nitrobenzene cair diimpor
dari PT . Rubicon, Geismar, LA di Amerika dengan kapasitas 1,140
million lb/tahun. Data mengenai produsen nitrobenzen cair dapat
dilihat pada tabel 1.2. Untuk bahan baku gas hidrogen diperoleh dari
PT. Air Liquid yang berlokasi di Cilegon dengan kapasitas produksi
15.000 Nm3/jam.

Tabel 1.2. Pabrik Nitrobenzen Cair di Dunia


Produsen

Kapasitas, juta lb/tahun

BASF, Geismar, LA

600

Du Pont, Beaumont, Tex

380

First Chemical, Baytown, Tex

340

First Chemical, Pascagoula, Miss

500

Rubicon, Geismar, LA

1140

Total

2960
(www.the-innovation-group.com)

Dilihat dari kapasitas produksinya, dapat disimpulkan bahwa bahan


baku pembuatan anilin ketersediannya cukup memadai.

1.3. Pemilihan Lokasi Pabrik


Penentuan lokasi pabrik merupakan hal yang penting dalam perancangan
suatu pabrik karena merupakan salah satu faktor yang menentukan kelangsungan
pabrik yang akan didirikan baik secara teknis maupun ekonomis di masa yang
akan datang. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan
lokasi, antara lain

sumber bahan baku, pasar, transportasi, tenaga kerja dan

utilitas.
Berdasarkan pertimbangan dari faktor-faktor tersebut dipilihlah lokasi di
desa Gunung Sugih , Kecamatan Ciwandan, Kabupaten Cilegon, Banten.
Pendirian pabrik di lokasi ini dinilai strategis karena alasan sebagai berikut :
1. Sumber Bahan Baku
Lokasi ini dipilih karena dekat dengan sumber bahan baku. Bahan
baku gas hidrogen dapat diperoleh dari PT. Air Liquid Indonesia,
Cilegon, Banten.
2. Pasar

Dipilihnya Cilegon sebagai lokasi karena sebagian besar industri


berada di pulau Jawa yang merupakan sasaran pemasaran produk
anilin sehingga memudahkan proses pemasaran.
3. Transportasi
Tersedia sarana transportasi dan jalan raya yang memadai sehingga
memudahkan pendistribusian produk ke konsumen ke berbagai tempat
di pulau Jawa serta adanya pelabuhan untuk pendistribusian ke seluruh
Indonesia.
4. Tenaga Kerja
Banten merupakan daerah yang padat penduduk sehingga kebutuhan
tenaga kerja dapat terpenuhi.
5. Utilitas
Cilegon dengan daerah pantai yang dialiri sungai yang cukup besar
sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi. Serta kebutuhan listrik
didapatkan dari generator dan PLN Suralaya sebagai cadangan energi
listrik apabila generatornya mengalami gangguan.
Sumber : eprints.uns.ac.id

BAB II
PERMASALAHAN
Dalam era industrialisasi, pertumbuhan industri di Indonesia khususnya
industri kimia, dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan baik dari
segi kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan peningkatan tersebut, maka
kebutuhan akan bahan baku industri, bahan-bahan kimia, maupun tenaga kerja
semakin meningkat. Salah satu bahan baku yang diperlukan itu adalah anilin dan
senyawa turunannya.
Anilin merupakan salah satu senyawa intermediate yang digunakan secara
luas di berbagai industri dewasa ini. Karena itu kebutuhan akan anilin meningkat
sejalan dengan program pemerintah dalam pengembangan industri hilir dimana
kebutuhannya baru dapat dipenuhi dengan import dari negara-negara maju seperti
Jepang, Amerika Serikat, Belgia, Inggris, Australia, dan Jerman.
Berdasarkan data yang ada, produksi anilin di Indonesia belum bisa
memenuhi kebutuhan pasar. Kebutuhan akan anilin semakin meningkat dengan
semakin berkembangnya industri di Indonesia.
Sejalan dengan rencana pembangunan Pabrik anilin ini, perlu diketahui
bagaimana karakteristik dari anilin. Anilin yang termasuk senyawa turunan
benzene ini memiliki rumus bangun dan rumus molekul. Selain itu perlu diketahui
juga sifat fisika dan sifat kimia dari anilin tersebut sehingga dapat memperlakukan
anilin dengan baik dan benar. Dapat juga diketahui manfaat-manfaat anilin di
dalam dunia industri, mekanisme reaksi pembentukan anilin, tinjauan reaksi dari
segi kinetika serta tinjauan dari segi termodinamikanya.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Rumus Molekul
Anilin merupakan cairan minyak tak berwarna yang mudah menjadi coklat
karena oksidasi atau terkena cahaya, bau dan cita rasa khas, basa organik penting
karena merupakan dasar bagi banyak zat warna dan obat toksik bila terkena,
terhirup, atau terserap kulit. Senyawa ini merupakan dasar untuk pembuatan zat
warna diazo. Anilin dapat diubah menjadi garam diazoinum dengan bantuan asam
nitrit dan asam klorida.
Aniline merupakan senyawa turunan benzene yang dihasilkan dari reduksi
nitrobenzene. Anilin memiliki rumus molekul C6H5NH2.
3.2. Rumus Bangun
Anilin memiliki rumus struktur seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.1. Rumus Struktur Anilin


3.3. Sifat Fisis dan Kimia
Tabel 3.1. Sifat Fisika Anilin
No. Sifat Fisis
a.

Cara Mengukur

Alat Pengukur

Berat molekul : Diambil sebuah erlen-meyer Erlenmeyer, neraca,


93.13 gram/mol

berleher kecil lalu tutup labu oven,

termometer,

tersebut

dengan barometer.

menggunakan

aluminium

foil, dan kencangkan tutup


tadi dengan menggunakan
karet

gelang

timbang

kemudian

dengan

neraca.

Setelah itu, masukkan 5 ml


cairan anilin di dalam labu
erlenmeyer, kemudian ditutup kembali dengan karet
gelang sehingga tutup ini
bersifat kedap gas.Gunakan
sebuah jarum dan dibuatlah
sebuah lubang kecil pada
aluminium foil agar uap
dapat keluar.
Labu

erlenmeyer

di-

masukkan ke dalam sebuah


oven

bersuhu

100 oC

sedemikian sehingga 1 cm
di bawah aluminium foil.
Panaskan

labu

erlen-

meyerdi dalam ovenhingga


semua

cairan

volatil

menguap. Catat temperatur


labu di dalam oven.
Setelah semua cairan volatil
dalam

labu

erlen-meyer

menguap, angkat dari oven


lalu masukkan labu ke dalam
desikator selama 15 menit.

Timbang labu erlen-meyer


yang telah didingin-kan tadi.
Temperatur air yang terdapat
dalam

labu

erlenmeyer.

Volume air bisa diketahui


bila massa jenis air pada
temperatur air dalam labu
erlenmeyer diketahui dengan
menggunakan rumus =
m/V.
Diukur

tekanan

dengan

atmosfer

menggunakan

barometer.

b.

Titik

didih

Masukan zat cair yang Tabung reaksi, pipa

184.1oC

akan diukur titik didihnya ke kapiler, termometer.

(363.4oF)

dalam tabung reaksi. Jumlah


zat cair sebanyak 8-10 cm
dari dasar tabung reaksi.
Pipa kapiler diambil lalu
ujung terbuka masuk ke
dalam tabung reaksi kecil
yang berisi zat cair yang
akan

ditentukan

didihnya

lalu

titik

ikat

pada

termometer dimana ujung


tabung reaksi kecil sejajar
dengan

ujung

bawah

termometer.
Gelas
kemudian

kimia
diisi

diambil
dengan

parafin

secukupnya

dan

diletakkan di atas pemanas.


Termometer pada standar
dipasang

dengan

klem

dan

dicelupkan

bantuan

termometer
pada

cairan

parafin di dalam gelas kimia


yang berada di atas pemanas.
Pemanas dipanas-kan

dan

selama pemanasan sekalikali

cairan

diaduk.Zat

parafin

cair

dalam

kapiler diamati begitu juga


dengan
temperaturnya. Thermometer
dibaca bila zat cair dalam
tabung

reaksi

kecil

membentuk gelembung-gelembung kontinu yang bentuknya seperti kalung.

c.

Titik lebur :
o

-6 C (21.2 F)

Ujung

kapiler Tabung reaksi, pipa

terbuka

dimasukkan ke dalam serbuk kapiler, termometer.


zat yang akan ditentukan
titik
kristal

lelehnya
masuk

sehingga
ke

kapiler.Kemudian

dalam
kapiler

diangkat dari serbuk dan


dibalik

sehingga

ujung

tertutupnya menghadap ke
bawah. Selanjutnya ketok

10

dinding kapiler dengan jari


agar zat yang ditentukan
masuk

ke

dasar

Ulangi

kapiler.
langkah

tersebutsampai sekitar 5-8


mm kapiler terisi kristal.
Kapiler lainnya diisi dengan
cara

yang

sama.Kapiler

diikatkan pada termometer,


dimana ujung kapiler sejajar
dengan

ujung

bawah

termometer.
Termometer dipasang pada
standar dengan bantuan klem
dan termometer dicelupkan
pada

pemanas

yang

digunakan.Pemanas
dipanaskan
pemanasan

dan

selama

sekali-kali

di-

aduk. Zat padat dalam kristal


dan temperature diamati.
Termometer dibaca apabila
zat

padat

dalam

kapiler

mulai mendidih. Zat padat


yang telah meleleh semua
diamati. Range temperatur
pelelehan dicatat.

d.

Massa jenis : Ukur suhu ruangan air lalu Pignometer,


1.0216 (air=1)

lihat referensi massa jenis air termometer.


pada

suhu

tersebut.

11

Masukkan

air

pignometer

ke

dalam

lalu

tutup

dengan penutup pignometer


jangan

sampai

terdapat

gelembung di dalam pignometer.

Tentukan

massa

pignometer berisi air dengan


neraca.

Tentukan

pignometer

volume

dengan

data

referensi massa jenis air dan


massa pignometer.
Setelah itu masukkan zat
cair yang akan diukur massa
jenisnya

ke

pignometer
timbang

dalam
kemudian

dengan

neraca

massa. Massa jenis dapat


ditentukan dengan rumus =
m/v.
e.

Kelarutan

di -

dalam air : 36
g/L (20oC)
f.

Indeks

bias

1,58
g.

: Pengamatan

menggunakan Refraktometer.

refraktomeer.

Tekanan uap : -

0.1 kPa (20oC)


(sumber : wennyphysics.blogspot.com)
-

Sifat Kimia

a. Bersifat basa sangat lemah dengan pH 8.8 (36 g/l, H2O, 20 C)


b. Konsentrasi jenuh (udara) : 2 g/m3 (20oC)
12

c. Anilin dapat bereaksi dengan asam membentuk garam garamnya.


d. Anilin dapat bereaksi dengan H2SO4 membentuk anilin monosulfat dan
anilin monosulfat jika dipanaskan berubah menjadi asam sulfonat.
e. Halogenasi senyawa anilin dengan brom dalam larutan sangat encer
menghasilkan endapan 2, 4, 6 tribromo anilin.
f. Pemanasan anilin hipoklorid dengan senyawa anilin sedikit berlebih pada
tekanan sampai 6 atm menghasilkan senyawa diphenilamine.
g. Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 135 170oC dan tekanan
50 500 atm menghasilkan 80% cyclohexamine ( C6H11NH2 ).
Sedangkan hidrogenasi anilin pada fase uap dengan menggunakan katalis
nikel menghasilkan 95% cyclohexamine.
h. Nitrasi anilin dengan asam nitrat pada sushu -20oC menghasilkan
mononitroanilin, dan nitrasi anilin dengan nitrogen oksida cair pada suhu
0oC menghasilkan 2, 4 dinitrophenol.
(sumber : www.sciencelab.com)
3.4. Macam - macam Proses
Proses pembuatan anilin dapat dilakukan melalui beberapa proses, antara
lain :
1.

Proses Hidrogenasi Fase Uap


Reaksi :
C6H5NO2(gas) + 3 H2(gas) ===> C6H5NH2(gas) + 2H2O(gas)
nitrobenzen

hidrogen

anilin

air

Katalis yang digunakan adalah silica supported copper dengan


suhu reaksi 2750 C dan tekanan 1,4 atm dengan waktu kontak relatif
pendek. Proses ini menghasilkan anilin dengan yield 99%.
2.

Proses Reduksi dengan Larutan Nitrobenzene


Reaksi :

13

C6H5NO2 + 9 Fe + 4 H2O
nitrobenzen besi

HCl

4 C6H5NH2 + 3H2O

air

anilin

air

Reaksi berlangsung pada suhu 2000C dan tekanan 12,3 atm.


Yield yang diperoleh dengan proses ini adalah 95%.
3.

Proses Aminasi Klorobenzen


Reaksi :
C6H5Cl

+ NH3

CuO

klorobenzen amonia

C6H5NH2 + HCl
anilin

asam klorida

Reaksi ini berlangsung pada suhu 210-2200 C dan tekanan


750-850 psi. Yield yang diperoleh pada proses ini adalah 85-90%
terhadap klorobenzen.

4. Proses Amonia Dengan Fenol


Reaksi :
C6H5OH + NH3 silica-alumina C6H5NH2 + H2O
Reaksi ini berlangsung pada suhu 4600 C dan tekanan 16 atm.

Dari keempat proses tersebut dapat dibuat tabel perbandingan


sebagai berikut :
Tabel 3.2. Perbandingan Proses Pembuatan Anilin

14

Parameter

Hidrogenasi

Reaksi

Aminasi

Reaksi

Nitrobenzen

Larutan

Klorobenzen

Amonia

a Fase Uap

Nitrobenzena

dengan
Phenol

Proses

- Nitrobenzen - Nitrobenzen

-Klorobenzen

- Phenol

Bahan baku

- Hidrogen

- Hidrogen

- Amonia

- Amonia

Bahan

-Cooling

-Cooling water

-Cooling

-Cooling

pembantu

water

- Steam

water

water

- Steam

- Katalis

- Steam

- Steam

- Katalis

- Katalis

- Katalis
Impuritas

Sedikit

Banyak

Banyak

Banyak

By-product

Larutan HCl

Diphenilami
ne

Yield

99%

95%

85-90%

85%

Tekanan

1,4 atm

12,3 atm

57,8 atm

16 atm

Suhu

2750 C

2000 C

2200 C

4600 C

Kondisi

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa proses pembuatan anilin yang
paling menguntungkan adalah dengan cara hidrogenasi nitrobenzen
dengan fase uap. Oleh karena itu pada perancangan pabrik ini dipilih
proses hidrogenasi nitrobenzen fase uap.

Sumber : - kimiacorner.blogspot.com
- eprints.uns.ac.id

3.5. Kegunaan Produk


Anilin banyak digunakan sebagai zat warna terutama zat warna diazo yang
digunakan sebagai pewarna blue jeans. Bukan hanya itu, anilin juga digunakan
sebagai bahan baku pembuatan berbagai obat, seperti antipirina dan antifebrin
serta parasetamol (acetaminophen, Tylenol ).

15

Aplikasi anilin terbesar adalah pada pembuatan metilen difenil diisosianat


(MDI). Kegunaan dari anilin yang lain antara lain untuk pembuatan karet bahan
kimia pengolahan (9%), herbisida (2%), dan pewarna dan pigmen (2%). Sebagai
tambahan untuk karet, anilin derivatif yang digunakan adalah fenilendiamin dan
difenilamin yang berfungsi sebagai antioksidan.. Anilin juga digunakan pada
skala yang lebih kecil dalam produksi. Anilin juga digunakan sebagain tambahan
pada mesin, dan digunakan untuk parfume, shoe blacks, dan varnish.

Sumber : kimiaringgostar.blogspot.com

3.6. Mekanisme Reaksi


Proses Pembuatan Anilin dari nitrobenzen dan gas Hidrogen berlangsung
di dalam reaktor fluidized bed pada kondisi suhu 2700 C dan tekanan 1,4 atm serta
menggunakan katalis Cu dalam Silica. Reaksi tersebut mengikuti reaksi elementer
yang irreversible dan eksotermis.
Reaksi : C6H5NO2(gas) + 3 H2(gas)

Cu

C6H5NH2(gas) + 2H2O(gas)

Karena reaksinya eksotermis maka dibutuhkan suatu pendinginan agar


reaksi dapat berjalan secara isotermal.
Reaksi pembuatan anilin dari nitrobenzen dan gas hidrogen merupakan
reaksi hidrogenasi fase uap dengan mekanisme reaksi sebagai berikut :

Gambar 3.2. Mekanisme Reaksi Hidrogenasi Nitrobenzene

16

Senyawa alifatik maupun aromatik yang mengandung gugus nitro dapat


direduksi menjadi amina. Namun reaksi senyawanitro aromatik (nitrobenzene)
mempunyai kemungkinan lebih besar untuk direduksi menjadi senyawa amina.
Banyak agen pereduksi yang dapat digunakan untuk mereduksi nitrobenzene.
Diantaranya yang paling sering digunakan adalah Zn, Sn, atau Fe (dan beberapa
logam lainnya), asam, dan hidrogenasi katalitik.Reduksi dengan logam dalam
asam mineral berlangsung begitu cepat dan selalu menghasilkan senyawa amina
dalam hal ini anilin.
Sumber : March J., Smith M.B. 2007. Marchs Advanced Organic Chemistry
Reactions, Mechanisms, and Structure 6th ed. John Wiley & Sons, Inc. Canada.
3.7. Tinjauan Kinetika
Secara kinetika kenaikan suhu menyebabkan gerakan pertikel-partikel
reaktan semakin cepat sehingga menyebabkan nilai factor tumbukan (A) semakin
besar, hal ini mengakibatkan konstanta kecepatan reaksi semakin besar.
Persamaan Arhenius :
 =  /
Keterangan
k = Konstanta laju reaksi
A = Faktor frekuensi (tumbukan)
E = Energi aktivasi (Joule mol-1)
R = Tetapan gas ideal (8,314 Joule m3 mol-1 K-1)
T = Suhu (Kelvin)
Bentuk model kinetika reaksi Antara nitrobenzene dengan
hydrogen adalah
17

C6H5NO2 + 3H2  C6H5NH2 + H2O


Persamaan umum

  = [   ][ ]


Model kinetika hasil percobaan

  = [   ].


 = 5.79 " 10%  
Keterangan
rAniline = Laju pembentukan Aniline (mol cm-3 hr-1)
k = konstanta laju reaksi
T = Suhu system (Kelvin)
Tabel 3.3. Laju Reaksi Pembentukan Aniline pada Berbagai Suhu
t
C

T
K

K
-1

Hr

rAniline
Mol cm-3
hr-1

120

393 31.17932165 31.17932165

130

403 37.58189027 37.58189027

140

413 44.89134713 44.89134713

150

423 53.17375052 53.17375052

160

433 62.49358358 62.49358358

170

443 72.91335087 72.91335087

180

453 84.49322386 84.49322386

190

463 97.29073524 97.29073524

200

473 111.3605211 111.3605211

18

210

483 126.7541093 126.7541093

220

493 143.5197512 143.5197512

230

503 161.7022949 161.7022949

240

513 181.3430957 181.3430957

250

523 202.4799612 202.4799612

260

533 225.1471279 225.1471279

270

543 249.3752655 249.3752655

280

553 275.1915057 275.1915057

290

563 302.6194928 302.6194928

300

573

310

583 362.3882794 362.3882794

320

593 394.7596303 394.7596303

330

603 428.8040384 428.8040384

340

613 464.5290288 464.5290288

350

623 501.9392442 501.9392442

360

633 541.0365747 541.0365747

370

643 581.8202914 581.8202914

380

653 624.2871818 624.2871818

390

663

400

673 714.2460376 714.2460376

331.679453

668.431687

331.679453

668.431687

19

800
700

Kecepatan reaksi

600
500

rA

400
300
200
100
0
20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400

Suhu (C)

Gambar 3.3. Grafik Kecepatan Reaksi vs Suhu pada Reaksi Pembentukan Anilin
Setelah diperoleh harga k pada suhu yang berbeda-beda, akan didapatkan
konversi dengan rumus :
ln*1 +,- = .
Dimana Xae adalah konversi dan t merupakan waktu optimum reaksi yang
dalam proses reduksi anilin.
Berikut hasil perhitungan dari rumus diatas :
T (C)

T (K)

120

393

0.0070443 0.00702

140

413

0.0152298 0.01511

160

433

0.0306634 0.03019

180

453

0.0580376 0.05638

200

473

0.1040796 0.09884

220

493

0.1780086 0.16305

240

513

0.2919733 0.25319

260

533

0.4614424

0.3696

20

280

553

0.7055274 0.50612

300

573

320

593

1.5135337 0.77983

340

613

2.1355453 0.88179

360

633

2.9483385 0.94756

380

653

3.9908545 0.98151

1.04722

0.64905

1,2
Tinjauan Kinetika

Konversi

0,8
0,6
0,4
0,2
0
0

50

100

150

200

250

300

350

400

Suhu (C)

Gambar 3.4. Grafik Konversi vs Suhu Tinjauan Kinetika


Tinjauan secara kinetika reaksi, semakin tinggi suhu akan menaikkan
kecepatan reaksi, akan tetapi reaksi pembentukan anilin dari nitrobenzene bersifat
eksotermis,

sehingga

secara

termodinamis

akan

menurunkan

konversi

nitrobenzene menjadi anilin. Temperatur terbaik (optimal) harus dipilih untuk


memberikan pertimbangan pembentukan produk aniline yang terjadi secara
maksimal.

21

3.8. Tinjauan Termodinamika


Proses pembuatan anilin dari reduksi nitrobenzen dalam fasa gas,
pereduksi yang digunakan adalah gas dengan katalisator nikel oksida,
reaksinya sebagai berikut :
C6H5NO2(g) + 3 H2(g) C6H5NH2(g) + 2H2O(g)
Kondisi Operasi :
o

Tekanan : 1,4 atm

Suhu

: 275 C

Katalis

: Nikel Oksida

Entalpi reaksi (HR) dapat dihitung dengan data entalpi masing-masing


komponen pada suhu 298 K sebagai berikut :
C6H5NO2(g) = 67,7 J/mol
H2(g)

= 0 J/mol

C6H5NH2(g) = 86,86 J/mol


H2O(g)

= -241,818 J/mol

HR = HProduk - HReaktan
HR = H (C6H5NH2(g)+ 2 H2O(g)) - H (C6H5NO2(g) + 3 H2(g))
= [86,86 J/mol +( 2 x -241,818 J/mol)] [67,7 J/mol + (3 x 0)]
= -464,476 J/mol
Nilai entalpi reaksi (HR) pada suhu 298 K bernilai negatif, maka
reaksi ini merupakan reaksi eksotermis. Penurunan suhu dapat
meningkatkan harga K (konstanta kesetimbangan).
Energi Gibbs dapat dihitung pada suhu 289 K dengan cara sebagai
berikut :

22

G0

= G0 Produk - G0 Reaktan
= G0 (C6H5NH2(g)+ 2 H2O(g)) - G0 (C6H5NO2(g) + 3 H2(g))
= [166,69 J/mol + (2 x -228,59 J/mol)] [158 J/mol + (3 x 0)]
= -448,49 J/mol

G0

= -RT ln K

ln K

= 

%%,%2 3/456
 *,7%8/9: ; < 2 ;-

= 0,181
; *%;-

- => ; *2;-

?


X ( @ABC - *2 ;-)


 %%,%2 3/456

ln K (548 K) ln K (298 K) = (,7% 8/9: ;) X ( % -2 K)


ln K (548 K) 0,181

= -0.082582101

ln K (548 K)

= -0,0826 +0,181 = 0,0984

K (548 K)

= 1,103

Dengan harga K (konstanta kesetimbangan) lebih besar dari satu,


maka dapat disimpulkan bahwa reaksi pembentukan anilin dari
nitrobenzen dalam fasa gasnya merupakan reaksi irreversible (reaksi satu
arah)
(Smith Vannes , 1984)
Nilai konstanta dan konversi pada setiap perubahan suhu dapat
dihitung dengan rumus :

23

=>

; * @ABC ;; *2;-

?


X ( @ABC - *2 ;-)

lalu hubungannya dengan konversi :


;

X = ;D7
Maka di dapatkan konstanta dan konversi pada setiap perubahan
suhu sebagai berikut :0,181
Tabel. Konstanta dan Konversi pada Berbagai Suhu
T (C)

T (K)

120

393.15

1.1470293 0.53424

140

413.15

1.1394366 0.53259

160

433.15

1.1325886 0.53109

180

453.15

1.126381

0.52972

200

473.15

1.120728

0.52846

220

493.15

1.1155585 0.52731

240

513.15

1.1108131 0.52625

260

533.15

1.1064417 0.52527

280

553.15

1.1024019 0.52435

300

573.15

1.0986571

320

593.15

1.0951764 0.52271

340

613.15

1.0919328 0.52197

360

633.15

1.0889027 0.52128

380

653.15

1.0860659 0.52063

0.5235

24

0,536
0,534
0,532

Konversi

0,53
0,528
0,526

Series1

0,524
0,522
0,52
0,518
0

100

200

300

400

Suhu (C)

Gambar 3.5. Grafik Hubungan Konversi vs Suhu Tinjauan Termodinamika

1,2
1

Tinjauan Kinetika
Tinjauan Termodinamika

Konversi

0,8
0,6
0,4
0,2
0
0

50

100

150

200

250

300

350

400

Suhu

Gambar 3.6. Grafik Perbandingan Konversi vs Suhu pada Tinjauan


Termodinamika dan Tinjauan Kinetika
Dilihat dari grafik di atas, titik pertemuan antara kedua garis berada pada
suhu 280C dengan konversi 56%. Perhitungan tersebut sesuai dengan literatur

25

yang menyatakan kondisi operasi pembentukan anilin yang berada pada suhu
275C dengan tekanan 1,4 atm dengan nilai konversi 99%. Dengan persen error
sebesar 1,8% hasil yang diperoleh berbeda dengan literatur karena perhitungan
baru ditinjau dari parameter suhu, belum ditinjau dari pengaruh tekanan,
pengadukan, dan katalis. Untuk menaikkan nilai konversi maka dilakukan proses
recovery.
Sumber: Van Ness, Smith. 1949. Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics, Sixth Edition. New York : Mc. Graw Hill Book Company.

3.9. Kondisi Operasi


Secara Umum proses pembuatan anilin dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
a. Tahap Penyiapan bahan baku
b. Tahap pengolahan
c. Tahap pemurnian produk ( finishing )

a. Tahap persiapan bahan baku


Nitrobenze dengan kemurnian 99.8 % dari tangki T-01 pada suhu
300 C dan tekanan 1 atm dialirkan dengan menggunakan pompa ( P-01)
menuju HE-01. Pada HE-01, Nitrobenzen berfungsi sebagai fluida
pendingin bagi gas produk keluaran reaktor. Suhu nitrobenzen keluar
HE-01 adalah 212,140 C . selanjutnya nitrobenzen keluaran HE-01 dan
hasil bawah MD-02 dialirkan menggunakan pompa (P-02) dan bertemu
dengan arus recycle dari separator (S-01) vaporizer (V-01) untuk
diuapkan.
Hasil yang terbentuk dialirkan menuju separator (S-01) untuk
ditampung dan dipisahkan antara uap yang terbentuk dan yang masih
berwujud cairan. Cairan diumpankan kembali menuju vaporizer sebagai

26

arus recycle dan uap yang telah dipisahkan selanjutnya dialirkan menuju
HE-02.
Gas Hidrogen dari tangki penyimpanan T-02 pada kondisi operasi
14 atm dan suhu 300 C diekspansi menjadi 2,35 atm dengan menggunakan
Gas Expander (GE-01) dan kemudian dialrikan menuju HE-04 bersama
dengan arus gas hidrogen dari flash drum (S-02) . Arus gas keluaran HE02 dan HE-04 bercampur menuju reaktor (R-01) sebagai umpan masuk.

b. Tahap pengolahan
Bahan baku nitrobenzen dan gas hidrogen masuk reaktor fluidized
bed dalam fase gas dan dengan 200 % gas hidrogen berlebih. Reaktor
beroperasi isotermal 2700 C dan tekanan 2,3 atm dan katalis yang
digunakan Cu dalam silika ( silica-supported copper catalyst). Yield
yang diperoleh adalah 99 % terhadap nitrobenzen.
Reaksi

yang

terjadi

adalah

eksotermis,

sehingga

untuk

mempertahankan kondisi isothermal, perlu dilakukan pengambilan panas.


Panas yang dihasilkan dari reaksi diserap oleh media pendingin berupa
dowtherm A yang melewati internal coil.
d. Tahap pemurnian produk
Tahap ini bertujuan untuk memisahkan produk sisa reaktan
maupun impuritas lain sehingga diperoleh spesifikasi produk yang
diinginkan. Pada tahap ini juga dilakukan penyesuaian kualitas produk
dengan produk serupa yang ada di pasaran.
Gas produk keluaran reaktor pada kondisi 2700 C dan tekanan
2,23atm. Selanjutnya gas tersebut didinginkan di HE-01 dengan fluida
pendingin nitrobenzen fresh feed sampai suhu 1670 C. Dari HE-01, gas
selanjutnya dialirkan menuju flash drum (SP-02) untuk dikondensasikan

27

dan sekaligus didinginkan. Gas hidrogen adalah non-condensable gas


sehingga yang terkondensasi hanya komponen selain gas hidrogen.
Keluar dari SP-02, gas hidrogen selanjutnya dialirkan menuju HE-04.
Hasil bawah dari SP-02 kemudian dialirkan dengan pompa (P-05)
menuju HE-05 untuk dipanaskan sampai suhu 119,70 C. Pemanas yang
digunakan adalah saturated steam dengan tekanan 7446,1 psi. Tahap
selanjutnya adalah proses distilasi. Keluar HE-06 aliran menuju MD-01
untuk memisahkan air dengan anilin. Produk atas yang sebagian besar air
dibuang dan produk bawah berupa anilin didistilasi kembali untuk
memperoleh spesifikasi yang diinginkan. Produk bawah MD-02 yang
berupa campuran anilin, nitrobenzen dan benzen dialirkan dengan pompa
(P-12) kembali ke Tee-01 sebagai arus recycle. Produk atas yang berupa
anilin yang komposisinya sudah sesuai didinginkan di HE-06 sampai suhu
350 C. Anilin tersebut kemudian disimpan dalam tangki T-03 dan siap
untuk dipasarkan.
Sumber : eprints.uns.ac.id

3.10. Pemilihan reaktor


Dalam proses pembuatan anilin eaktor yang digunakan adalah fluidized
bed reaktor karena:
1. Batch Reaktor : Umumnya digunakan untuk reaksi dengan waktu
reaksi yang sangat lama, menggunakan mikrobia, dan atau kapasitas
produksi

kecil

atau

musiman.

2. Tubular Reactor : Tubular Reactor ada bermacam macam,antara lain


adalah

a. Reaktor Alir Pipa: Biasanya berupa gas-gas,caifr-cair dimana reaksi


28

tidak menimbulkan panas yang terlalu tinggi. Reaktor memiliki alran


plugflow yang optimal untuk kecepatan reaksi tetapi cukup sulit untuk
alat transfer panasnya.

b. Reaktor Pipa Shell And Tube : Seperti reaktor pipa di atas tetapi berupa
beberapa pipa yang disusun dalam sebuah shell, reaksi berjalan di dalam
pipa pipa dan pemanas/pendingin di shell. Alat ini digunakan apabila
dibutuhkan sistem transfer panas dalam reaktor. Suhu dan konversi tidak
homogen di semua titik.

c. Fixed Bed : Reaktor berbentuk pipa besar yang didalamnya berisi


katalisator padat. Bisanya digunakan untuk reaksi fasa gas dengan
katalisator padat. Apabila diperlukan proses transfer panas yang cukup
besar biasanya berbentuk fixed bed multitube, dimana reaktan bereaksi di
dalam tube2 berisi katalisator dan pemanas/pendingin mengalir di luar
tube di dalam shell.

d. Fluidized bed reaktor : Biasanya digunakan untuk reaksi fasa gas


katalisator padat dengan umur katalisator yang sangat pendek sehingga
harus cepat diregenerasi.Atau padatan dalam reaktor adalah merupakan
reaktan yang bereaksi menjadi produk.

3. RATB ( Reaktor Alir Tangki Berpengaduk )

RATB adalah reaktor kontinyu yang berupa tangki berpengaduk, pola


aliran adalah mixed flow, sehingga bisa diasumsikan konsentrasi,
konversi, dan suhu di semua titik dalam reaktor adalah homogen. Ada
beberapa jenis reaktor RATB Sehingga pada reaktor ini suhu bisa
dianggap isotermal:

29

a. RATB biasa, digunakan untuk sistem cair-cair, dimana reaktan adalah


fasa cair, dan bila ada katalisator juga cair.

b. Reaktor Gelembung: Reaktor untuk mereaksikan sistem gas cair,


dimana gas di umpankan dengan sparger dari bawah dan cairan dari atas
secara kontinyu.

c. Slurry Reactor : Reaktor yang mereaksikan cairan dan padatan, baik


padatan sebagai katalisator ataupun reaktan, dengan pengadukan.
Dengan penjelasan tersebut reaktor yang sangat cocok unuk pembuatan
anilin dengan melihat dari sisi tinjauan kinetika dan thermodinamika adalah
Fluidized bed reaktor.
Sumber :
Gambar 3.7. Diagram Alir Proses Pembuatan Anilin

30

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Anilin pertama kali diisolasi dari distilasi destruktif indigo pada tahun 1826
oleh Otto Unverdorben, yang menamakan itu kristalisasi. Nilai komersial besar
anilin adalah karena kesiapan dengan yang menghasilkan, langsung atau tidak
langsung, zat warna.
Aniline merupakan senyawa turunan benzene yang dihasilkan dari reduksi
nitrobenzene.

Anilin merupakan cairan minyak tak berwarna yang mudah

menjadi coklat karena oksidasi atau terkena cahaya, bau dan cita rasa khas, basa
organik penting karena merupakan dasar bagi banyak zat warna dan obat toksik
bila terkena, terhirup, atau terserap kulit.
Proses pembuatan anilin dapat dilakukan melalui berbagai macam proses
antara lain namun proses yang paling menguntungkan adalah proses hidrogenasi
nitrobenzen fase uap/ gas. Karena dengan menggunakan reaksi ini dapat
dihasilkan Anilin dengan konversi yang tinggi serta kondisi operasi yang relatif
tidak berbahaya. Kegunaan anilin antara lain sebagai zat warna diazo, sebagai
obat-obatan, herbisida dan bahan kimia pengolahan karet.

4.2. Saran
1. Produsen
Produsen harus bekerja secara teliti, agar proses produksi anilin tidak
mencemari lingkungan sekitar. Karena aniline merupakan zat yang
berbahaya bila tercemar ke lingkungan.
2. Konsumen
Konsumen diharap berhati-hati dalam penggunaan aniline, karena anilin
adalah zat yang berbahaya bila kontak dengan kulit ataupun mata.
3. Peneliti

31

Peneliti harus menggali informasi bagaimana cara penanganan terhadap


aniline bila zat tersebut tercemar ke lingkungan.
4. Ilmu Pengetahuan
Diharapkan ilmu Pengetahuan dapat mengeksplore lebih mendalam lagi
tentang anilin. Karena masih banyak orang yang belum mengetahui
tentang aniline.

DAFTAR PUSTAKA
Anggita.

2013.

Anilin.

http://kimiacorner.blogspot.com/2013/04/anilin.html.

Diakses pada 7 September 2013. Pk. 12.52.


Anonymous. 2005. Material Safety Data Sheet MSDS: Aniline MSDS. http://
www.sciencelab.com. Diunduh pada tanggal 7 September 2013. Pk. 22.19.
Ariyanto, Rahmad, dkk. 2011. Pra Rancangan Pabrik Anilin dari Hidrogenasi
Nitrobenzen Fase Uap Kapasitas 40.000 Ton / Tahun. http://
eprints.uns.ac.id. Diakses pada 10 September 2012. Pk. 20.00.
Ch, Simoeh. 2012. Judul Skripsi : Manufacture of Anilin from Nitrobenzene and
H2,(Pembuatan Anilin dari Nitrobenzene). http://simoehch.blogspot.com/
2012/12/judul-skripsi-manufacture-of-anilin.html. Diakses pada tanggal 7
September 2013. Pk. 12.05.
Ismanto. 2012. Anilin. http://kimiaringgostar.blogspot.com/2012/05/anilin.html.
Diakses pada tanggal 7 September 2013. Pk. 12.08.

32

March J., Smith M.B. 2007. Marchs Advanced Organic Chemistry Reactions,
Mechanisms, and Structure 6th ed. John Wiley & Sons, Inc. Canada.
Van

Ness,

Smith.

1949.

Introduction

to

Chemical

Engineering

Thermodynamics, Sixth Edition. New York : Mc. Graw Hill Book


Company.

33