Anda di halaman 1dari 2

PENYEMENAN JEMBATAN

Penyemenan jembatan adalah merekatkan jembatan dengan semen pada gigi penyangga
di dalam mulut, Penyemenan yang salah akan menghapus semua hasil mekanik yang baik, yang
telah tercapai pasca-penyemenan. Kesalahan dapat terletak pada teknik dan persiapan
penyemenan yang tidak benar.
Persiapan gigi prapenyemenan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Penyemenan
yang tidak benar dapat mengakibatkan kedadaan yang tidak nyaman. Ini dapat terjadi karena
adanya perubahan relasi oklusal dan tepi gingiva, mungkin juha disebabkan karena tekanan
hidrolik yang mengganggu pulpa gigi.
Dewasa ini operator lebih memandang tindakan pemasangan jembatan dari segi biologik
1. Faktor biologik yang berhubungan dengan pemasangan jembatan diperhatikan dan
dimodifikasi, supaya pemasangan dapat baik dan hasilnya tahan lama
2. Reaksi biologik semalam proses penyemenan sementara dapat dijadikan penilaian
biologik jembatannya

Pemilihan Semen
Semula operator menjatuhkan pilihan pada semen yang memiliki ketahanan serta sifat
adesif yang terbesar. Kini banyak yang memilih berdasarkan sifat biologic, biofisik serta
pengaruhnya pada estetika. Misalnya penderita dengan kebiasaan bruxism, dapat diperkirakan
mempunyai gigitan yang kuat, sehingga perlu dipilih semen yang cukup kuat.

Macam Semen
1. Zinc phosphate cement dipilih karena kekuatannya dan lapisannya dapat tipis
2. Semen silikofosfat karena sifatnya yang kuat, dan mempunyai nilai antikariogenik
3. Semen alumina EBA karena mempunyai nilai biologik yang baik dan waktu pemrosesan
yang cukup
4. Semen resin komposit karena bersifat kuat, tidak larut dalam saliva dan tembus cahaya
5. Semen polikarboksilat karena memiliki sifat adesif dan nilai biologic

Persiapan Prapenyemenan Jembatan


1. Jembatan dicek ketepatannya di dalam mulut, perhatikan kontur, estetika, dan oklusinya.
Tepi retainer dan permukaan pontik yang menghadap ke gingiva harus rapi dan halus
2. Untuk menambah retensi pada retainer, bagian dalam dari retainer dapat digerinda sedikit
untuk menambah kekasarannya. Dibersihkan dengan air dan kemudian dicuci lagi dengan
alkohol dan segera dihembus dengan udara supaya kering. Dapat juga menggunakan
ultrasonic cleaner selama 5-10 menit dan dibersihkan dengan air steril serta dihembus
kering dengan udara
3. Permukaan proksimal kemudian diulasi dengan Vaseline (silicone grease), tetapi jangan
sampai mengenai tepi retainernya. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengambilan
kelebihan semennya nanti.
Persiapan pada Penderita
1. Daerah preparasi penyangga diisolasi dengan gulungan kapas atau menggunakan saliva
ejector
2. Preparasi dibersihkan dengan air hangat dan dikeringkan dengan kapas atau kasa. Jangan
menggunakan alkohol untuk membersihkan permukaan preparasi gigi penyangga karena
hal tersebut dapat menyebabkan dehidrasi pada tubuli atau jaringan pulpa. Fenol dan
nitrat-perak (zinc nitrate) sebaiknya juga tidak digunakan
3. Bila menggunakan zinc phosphate cement dapat digunakan cavity varnish untuk
perlindungan pulpa karena sifatnya yang asam, tetapi jangan menggunakan kalsium
hidroksida sebagai cavity varnishnya karena dapat melemahkan lapisan semen sehingga
dapat larut dalam mulut. Cavity varnish tidak dianjurkan digunakan bersama dengan zinc
oxide eugenol tipe penyemenan akhir karena semen ini dapat larut.
DAFTAR PUSTAKA
Prajitno, H.R., Yuwono, Lilian. 1991. Ilmu Geligi Tiruan Jembaran. Jakarta: EGC.