Anda di halaman 1dari 3

TEORI DAN METODOLOGI EKONOMI POLITIK

CRITICAL REVIEW CRITICAL ECONOMIC METHODOLOGY


GRACIAS RUTH
1306384492

Di dalam pembukaan tulisannya yang berjudul Critical Economic


Methodology, Lawrence A. Boland banyak membahas mengenai ketidaktertarikan
para pelaku ekonomi terhadap metodologi-metodologi ekonomi. Menurutnya, ini
disebabkan karena para pelaku ekonomi lebih fokus terhadap kejadian nyata
dibandingkan dengan mempelajari metode-metode dan teori-teori saja. Boland
bercerita di dalam tulisan ini, bahwa para mainstream economist bahkan
menganggap metodologi sebagai sesuatu yang tidak penting, bahkan haram.
Hubungan antara para mainstream economist dan metodologi dianalogikan seperti
pemalu yang mengharamkan hubungan seksual. Banyak yang menganggap
ekonomi tidak seharusnya dipertemukan dengan metodologi, karena mereka
menganggap bahwa ekonomi itu seharusnya praktikal, bukan teoritis. Bahkan
hingga tahun 1990-an, metodologi dianggap tidak membawa kegunaan.
Metodologi hanya berguna bagi para metodologis lainnya saja. Boland
berpendapat, mungkin para mainstream economist ini takut kepada pertanyaanpertanyaan metodologi, karena pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat
mereka ragu kepada hasil pekerjaan mereka selama ini.
Namun bukan itu inti dari tulisan karya Boland. Lebih lanjut lagi, dia
menuliskan mengenai pengalamannya dalam mempelajari karya Milton Friedman
dan pandangannya mengenai metodologi yang dihasilkan oleh Friedman. Dia
menceritakan bahwa ketika masa awal dia mulai mempelajari mengenai studi
metodologi, dia tidak mau membaca karya-karya Friedman. Terlebih setelah
membaca karya Paul Samuelson yang menyatakan bahwa teori Friedman adalah
salah. Selama sepuluh tahun Boland mempelajari metodologi, dia tidak pernah
menyentuh sedikit pun karya Friedman, yang dia dengar dari orang-orang banyak
membahas mengenai positivisme. Bahkan menurut penulis favoritnya, yaitu Karl
Popper, Friedman selama ini berada di jalur yang salah. Namun setelah

mendengar temannya tidak sepenuhnya tepat dalam menjelaskan mengapa


Friedman salah, dia mulai membaca karya-karya Friedman, dengan tujuan untuk
mengajak temannya tersebut berdiskusi. Boland dikejutkan dengan kenyataan
bahwa ternyata karya-karya Friedman tidak membahas mengenai positivism
seperti apa yang dikatakan khalayak banyak. Bahkan esai Friedman lebih
menyerupai argument melawan positivisme. Lebih lanjut, Boland menceritakan
akhirnya dia membuat tesis mengenai karya-karya Friedman. Lalu dia berusaha
untuk menerbitkan tesis tersebut di Canadian Economics Association, yang pada
akhirnya ditolak. Dia lalu memutuskan untuk mengirimkan tesisnya tersebut
kepada universitas tempat Friedman bekerja. Ternyata dia didukung oleh
Friedman sepenuhnya. Namun tetap saja, menurut Stigler, editor dari JPE,
karyanya tersebut tidak berharga, dan JPE tetap tidak bisa menerima tesis tersebut
untuk diterbitkan. Panjang cerita hingga akhirnya tesis tersebut berhasil
diterbitkan melalui bantuan dari temannya.
Ketika membaca esai pembanding yang dituliskan oleh Robert Nadeau
yang berjudul Friedmans Methodological Stance and Poppers Situational Logic,
saya mulai memahami situasi konflik yang terjadi antara Popper dan Friedman.
Karena menurutnya jika kita ingin memahami argumentasi Popper mengenai
status metodologi dari Prinsip Rasional di dalam analisis ekonomi, maka kita juga
harus memahami prinsip metodologi milik Friedman. Friedman memang telah
menjadi metodologis yang menuai banyak kontroversi. Pertama karena tesisnya
yang berisi tentang ketidak-sahan asumsi dari beberapa teori tertentu, dan kedua
karena ia menyatakan bahwa ilmu ekonomi dapat bekerja sempurna tanpa harus
bersandar pada hipotesis tidak nyata. Nadeau juga menyatakan bahwa
Friedman sebenarnya berada di bawah pengaruh Popper ketika menuliskan
tesisnya, membawa kita pada asumsi bahwa mereka pernah bertemu dan bertukar
argumen mengenai metodologi ekonomi. Bahkan Friedman dan Popper keduanya
mempunyai pendapat yang sama mengenai ekonomi, yaitu ekonomi adalah ilmu
yang berkaitan dengan kenyataan (Positive Science oleh Friedman dan
Empirical Domain of Research oleh Popper). Nadeau mengatakan bahwa
Friedman sepenuhnya setuju dengan pandangan Popperian mengenai ilmu
empirik. Namun Friedman tidak setuju dengan teori falsifikasi milik Popper.

Menurutnya tidak ada barang bukti yang bisa membuktikan sebuah hipotesis,
yang ada hanyalah barang bukti yang gagal untuk tidak membuktikan
hipotesis. Jadi bisa dibilang doktrin dari Friedman secara terang-terangan
menentang semua ilmu filsafat positivisme.
Ada satu prinsip Friedman yang menjadi target utama bagi mereka yang
ingin menyerang prinsip metodologinya; selama kerangka teori beranggapan
sesuatu, maka tidak masalah jika kerangka teori tersebut tidak memiliki apa yang
disebut ketepatan deskriptif.
Friedman menentang positivisme karena menurutnya mustahil bagi kita
untuk melihat kenyataan secara kongkrit. Karena bagaimanapun, kenyataan
tidak dapat ditemukan sampai seseorang dapat mencela keyakinannya sendiri.
Namun menurut Popper, keyakinan pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan
ilmu pengetahuan, karena pengetahuan yang sebeneranya adalah proses tanpa
subjek pribadi. Bahkan Nadeau dapat mengantarkan kita ke satu kesimpulan;
bahwa opini dari para pengusaha dan pebisnis tidak berpengaruh apa-apa kepada
teori ekonomi.
Jadi pada kesimpulannya, saya memahami mengapa metodologi ekonomi
dianggap kurang laku di antara para pelaku ekonomi.