Anda di halaman 1dari 10

APRILIA PUSPITA NINGRUM

2A/1201100031
KONSEP PERAWATAN PASIEN DENGAN KEMOTERAPI DAN RADIASI
1. Konsep Dasar Kemoterapi dan Radiasi
1.1Konsep Dasar Kemoterapi
A. Definisi
Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan
memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker
atau menghambat proliferasi sel-sel kanker dan diberikan secara
sistematik. Obat anti kanker yang artinya penghambat kerja sel. Untuk
kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. Pada sejarah awal
penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika, namun dalam
perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika
atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan
khasiat lebih besar.
B. Tujuan
Meringankan gejala
Mengontrol pertumbuhan sel-sel kanker
C. Manfaat
Sampai saat ini tidak semua kanker mendapat manfaat dari
kemoterapi.
Berikut ini rincian beberapa manfaat kemoterapi pada berbagai
jenis kanker.
1) Kemoterapi sangat bermanfaat (karena dapat sembuh atau
hidup lama).
a. Penyakit Hodgkin
b. Non Hodgkin limfoma jenis large sel
c. Kanker testis jenis germ sel
d. Leukemia dan limfoma pada anak
2) Kemoterapi bermanfaat (karena dapat dikendalikan cukup lama,
kadang-kadang sembuh)
a. Kanker payudara
b. Kanker ovarium
c. Kanker paru jenis small sel
d. Limfoma non Hodgkin
e. Multiple Mieloma
3) Kemoterapi bermanfaat untuk paliatif (dapat mengulang gejala)
a. Kanker Nasofaring
b. Kanker Prostat
c. Kanker Endometrium
d. Kanker Leher dan Kepala
e. Kanker Paru jenis non small sel
4) Kemoterapi kadangkala bermanfaat
a. Kanker Nasofaring
b. Melanoma
c. Kanker usus besar

D. Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker.

Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat


ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang
berproliferasi, semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka
semakin peka terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif,
sebaliknya semakin lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin
rendah, hal ini disebut Kemoresisten.
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1) Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik
Anthrasiklin: obat golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat
DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan
replikasi.
2) Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa
inti sel, yang berakibat menghambat sintesis DNA.
3) Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes
bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi
hambatan mitosis sel.
4) Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan
menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam
sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.
C. Pola pemberian kemoterapi
1) Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau
jumlah sel kanker, contoh pada tumor ganas yang berukuran besar
(Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah seperti leukemia
atau limfoma, disebut juga dengan pengobatan penyelamatan.
2) Kemoterapi Adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti
pembedahan atau radiasi, tujuannya adalah untuk memusnahkan
sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada
(micro metastasis).
3) Kemoterapi Primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas,
diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif, biasanya
diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain misalnya bedah
atau radiasi.
4) Kemoterapi Neo-Adjuvan
Diberikan mendahului/sebelum pengobatan/tindakan yang lain
seperti pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan
kemoterapi lagi. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor
yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih berhasil guna.
D. Cara pemberian obat kemoterapi
1) Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa
bolus IV pelan-pelan sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV
sekitar 30 120 menit, atau dengan continous drip sekitar 24
jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya.
2) Intra tekal (IT)

APRILIA PUSPITA NINGRUM


2A/1201100031
Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan
tumor dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis) antara lain MTX,
Ara.C.
3) Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum
radiasi, tujuannya untuk memperkuat efek radiasi, jenis obat
untuk kemoterapi ini antara lain Fluoruoracil, Cisplastin, Taxol,
Taxotere, Hydrea.
4) Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran, Alkeran,
Myleran, Natulan, Purinetol, Hydrea, Tegafur, Xeloda, Gleevec.
5) Subkutan dan intramuscular
Pemberian subkutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya
adalah L-Asparaginase, hal ini sering dihindari karena resiko syok
anafilaksis. Pemberian per IM juga sudah jarang dilakukan,
biasanya pemberian Bleomycin.
6) Topikal
7) Intra arterial
8) Intracavity
9) Intraperitoneal/Intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis
yang banyak pada kanker ganas intra-abdomen, antara lain
Cisplastin. Pemberian intrapleural yaitu diberikan kedalam
cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam cairan
pleura atau untuk menghentikan produksi efusi pleura hemoragis
yang amat banyak , contohnya Bleocin.
E. Syarat pemberian obat kemoterapi
Sebelum pengobatan dimulai beberapa kondisi pasien harus
dipenuhi yaitu :
1)
Keadaan umum harus cukup baik.
2)
Penderita mengerti pengobatan dan mengetahui efek
samping yang akan terjadi
3)
Faal ginjal (kadar ureum < 40 mg % dan kadar kreatinin <
1,5 mg %) dan faal hati baik.
4)
Diagnosis hispatologik diketahui.
5)
Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi.
6)
Hemoglobin > 10 gr %.
7)
Leukosit > 5000/ml.
8)
Trombosit > 100.000/ml.
F. Prosedur Pelaksanaan Kemoterapi
1) Persiapan
a. Sebelum diberikan kemoterapi maka harus dipersiapkan
ukuran TB, BB, luas badan, darah lengkap, fungsi ginjal,
fungsi liver, gula darah, urin lengkap, EKG, foto thorax
AP/lateral, Ekokardiografi, BMP.
b. Periksa protokol dan program terapi yang digunakan, serta
waktu pemberian obat sebelumnya.
c. Periksa nama pasien, dosis obat, jenis obat, cara pemberian
obat.
d. Periksa adanya inform concernt baik dari penderita maupun
keluarga.
e. Siapkan obat sitostatika.

f.
g.
h.

Siapkan cairan NaCl 0,9 %, D5% atau intralit.


Pengalas plastik, dengan kertas absorbsi atau kain diatasnya.
Gaun lengan panjang, masker, topi, kaca mata, sarung
tangan, sepatu.
i.
Spuit disposible 5cc, 10cc, 20 cc, 50 cc.
j.
Infus set dan vena kateter kecil.
k. Alkohol 70 % dengan kapas steril.
l.
Bak spuit besar.
m. Label obat.
n. Plastik tempat pembuangan bekas.
o. Kardex (catatan khusus).
2)

3)

Cara Kerja Pencampuran Obat


Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi
dengan memakai alat biosafety laminary airflow kemudian
dikirim ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup.
Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien, jenis obat,
dosis obat dan jam pencampuran.
Bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka,
pencampuran dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan
cara :
a. Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas
penyerap atau kain.
b. Pakai gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sepatu.
c. Ambil obat sitostatika sesuai program, larutkan dengan NaCl
0,9%, D5% atau intralit.
d. Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan
menutupkan kapas atau kasa steril diujung jarum spuit.
e. Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0,9 %
atau D5% dengan volume cairan yang telah ditentukan.
f. Jangan tumpah saat mencampur, menyiapkan dan saat
memasukkan obat kedalam flabot atau botol infus.
g. Buat label, nama pasien, jenis obat, tanggal, jam pemberian
serta akhir pemberian atau dengan syringe pump.
h. Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan.
i. Masukkan sampah langsung ke kantong plastik, ikat dan beri
tanda atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat khusus
untuk menghindari tusukan.
Cara Pemberian Kemoterapi
a. Periksa pasien, jenis obat, dosis obat, jenis cairan, volume
cairan, cara pemberian, waktu pemberian dan akhir
pemberian.
b. Pakai proteksi : gaun lengan panjang, topi, masker, kaca
mata, sarung tangan dan sepatu.
c. Lakukan tehnik aseptik dan antiseptic.
d. Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi
dibawah daerah tusukan infuse.
e. Berikan anti mual jam sebelum pemberian anti neoplastik
(primperan, zofran, kitril secara intra vena).
f.
Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9 %.

APRILIA PUSPITA NINGRUM


2A/1201100031
g.

Beri obat kanker secara perlahan-lahan (kalau perlu dengan


syringe pump) sesuai program.
h. Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0,9%
i.
Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam
kantong plastik dan diikat serta diberi etiket.
j.
Buka gaun, topi, asker, kaca mata kemudian rendam dengan
deterjen. Bila disposible masukkkan dalam kantong plasrtik
kemudian
diikat
dan
diberi
etiket,
kirim
ke
incinerator/bakaran.
k. Catat semua prosedur
Awasi keadaan umum pasien, monitor tensi, nadi, RR tiap
setengah jam dan awasi adanya tanda-tanda ekstravasasi
1.2Konsep Dasar Radiasi
A. Definisi Radioterapi
Radioterapi adalah tindakan medis yang dilakukan pada pasien
dengan menggunakan radiasi pengion untuk mematikan sel kanker
sebanyak mungkin dengan kerusakan pada sel normal sekecil
mungkin. Tindakan terapi ini menggunakan sumber radiasi tertutup.
Radiasi pengion adalah berkas pancaran energi atau partikel yang
bila mengenai sebuah atom akan menyebabkan terpentalnya
elektron keluar dari orbit elektron tersebut. Pancaran energi berupa
gelombang elektromagnetik, yang dapat berupa sinar gamma dan
sinar X. Akibat dari disintegrasi inti tersebut akan terbentuk satu
pancaran energi berupa sinar gamma dan 2 pancaran partikel, yaitu
pancaran elektron disebut sinar beta dan pancaran inti helium
disebut sinar alfa.
B. Jenis Radioterapi
a) Radiasi eksterna/ sinar luar, adalah bentuk pengobatan radiasi
dengan sumber radiasi mempunyai jarak dengan target yang dituju
atau berada diluar tubuh. Sumber yang dipakai adalah sinar X atau
photon yang merupakan pancaran gelombang elektromagnetik
yang dikeluarkan oleh pesawat liner akselerator (LINAC).
b) Brakhiterapi,
adalah
bentuk
pengobatan
radiasi
dengan
mendekatkan sumber radiasi kesasaran yang dituju. Sumber radiasi
yang umum digunakan antara lain I-125, Ra-226, yang dikemas
dalam bentuk jarum, biji sebesar beras, atau kawat dan dapat
diletakkan dalam rongga tubuh (intracavitary).
C. Tujuan Terapi Radiasi
Terapi radiasi dianggap sebagai pengobatan lokal karena hanya sel
di dalam dan disekitar kanker yang dituju. Hal ini tidak begitu
bermanfaat melawan kanker yang sudah menyebar karena terapi
radiasi umumnya tidak dibuat untuk menjangkau seluruh bagian
tubuh. Radiasi berguna untuk beberapa tujuan, antara lain:
a.) Menyembuhkan atau mengecilkan kanker pada stadium dini
Radiasi digunakan untuk membuat kanker mengecil atau hilang
sama sekali. Untuk kasus kanker lain, bisa digunakan untuk
mengecilkan tumor sebelum operasi (pre-operative therapy) atau

setelah operasi yang tujuannya untuk menjaga agar kanker tidak


kambuh (adjuvant therapy). Terapi ini dapat juga dilakukan
bersamaan dengan kemoterapi.
b.) Mencegah agar kanker tidak muncul di area lain
Apabila suatu jenis kanker diketahui menyebar ke area tertentu,
kemungkinan akan dilakukan treatment untuk mencegah agar sel
tersebut tidak berubah menjadi tumor. Sebagai contoh, pasien
dengan beberapa type kanker paru-paru, mungkin akan menerima
prophylactic (preventive) radiasi di kepala sebab tipe kanker ini
sering menyebar ke otak.
c.) Mengobati gejala-gejala pada kanker stadium lanjut
Beberapa kanker mungkin telah menyebar jauh dari perkiraan
pengobatan. Tetapi hal ini bukan berarti kanker tersebut tidak bisa
diobati agar pasien merasa lebih baik. Radiasi bisa untuk
membebaskan dari rasa sakit, masalah pada pemasukkan
makanan, bernafas atau pada usus besar, yang semua itu
disebabkan oleh kanker yang sudah pada stadium lanjut. Cara ini
biasa dinamakan palliative radiation.
D. Prinsip Penggunaan Radiasi
Dalam penggunaan radiasi untuk berbagai keperluan ada ketentuan
yang harus dipatuhi untuk mencegah penerimaan dosis yang tidak
seharusnya terhadap seseorang. Ada 3 prinsip yang telah
direkomendasikan oleh International Commission Radiological
Protection (ICRP) untuk dipatuhi, yaitu :
a.) Justifikasi
Setiap pemakaian zat radioaktif atau sumber lainnya harus
didasarkan pada azas manfaat. Suatu kegiatan yang mencakup
paparan atau potensi paparan hanya disetujui jika kegiatan itu
akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar bagi individu
atau masyarakat dibandingkan dengan kerugian atau bahaya
yang timbul terhadap kesehatan.
b.) Limitasi
Dosis ekuivalen yang diterima pekerja radiasi atau masyarakat
tidak boleh melampaui Nilai Batas Dosis (NBD) yang telah
ditetapkan. Batas dosis bagi pekerja radiasi dimaksudkan untuk
mencegah munculnya efek deterministik (non stokastik) dan
mengurangi peluang terjadinya efek stokastik.
c.) Optimasi
Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnya (as
low
as
reasonably
achieveable
ALARA),
dengan
mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Kegiatan
pemanfaatan tenaga nuklir harus direncanakan dan sumber
radiasi harus dirancang dan dioperasikan untuk menjamin agar
paparan radiasi yang terjadi dapat ditekan serendah-rendahnya.
Derajat efek radiasi tergantung pada beberapa faktor yaitu
jenis radiasi, lamanya penyinaran, jarak sumber dengan tubuh
dan ada tidaknya penghalang (shieldhing) antara sumber radiasi
dengan objek. Efek biologis radiasi pengion tergantung pada

APRILIA PUSPITA NINGRUM


2A/1201100031
organ/ bagian tubuh dan pola transfer terkena radiasi, kualitas
radiasi dan pola transfer energi yang terjadi di dalam tubuh dan
faktor modifikasi lainnya misalkan besarnya dosis, fraksinasi dosis
dan distribusi zat radioaktif di dalam tubuh.
Parameter utama yang harus diperhatikan dalam pengobatan
menggunakan teknik radiasi adalah :
Kedalaman
Lapangan radiasi
SSD atau SAD
Energi foton
E. Efek Samping Radiasi
a. Kulit (radiasi luar): lecet, kemerahan, kehitaman
Gunakan sabun lembut
Keringkan kulit dengan lembut JANGAN DIGOSOK
Bedak atau lotion harus dengan seijin dokter
Gunakan baju yang longgar menyerap keringat
Hindari sinar matahari langsung
b. Dinding mulut: sariawan/luka, nyeri, liur berkurang
c. Pencernaan: mual/muntah, diare, perdarahan
d. Pneumonitis Radiasi
1-3 bulan setelah terapi
Cough, fever
Obat
F. Pencegahan Efek Samping Radiasi
Radiasi daerah leher dan kepala: Menjaga kebersihan mulut dan
gigi, tidak minum atau makan terlalu panas maupun dingin,
menghindari berkeringat, menghindari sinar matahari langsung,
menerima asupan gizi yang cukup.
Daerah dada: Menghindari berkeringat di daerah ketiak, tidak
bergerak saat proses radioterapi dilakukan, menerima asupan gizi
yang cukup.
Daerah perut dan panggul: Mengonsumsi makanan lunak yang
mudah dicerna, menerima asupan gizi yang cukup, menjaga daerah
lipatan paha dan sekitar dubur agar tetap kering. (Bayu Maitra)
G. Prosedur Pemberian Radioterapi
Investigasi
a. Anamnesis/wawancara tentang :
- Identitas: Nama, usia, pekerjaan, alamat, dsb
- Riwayat penyakit.
- Pemeriksaan atau pengobatan yang pernah didapat.
b. Pemeriksaan:
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan laboratorium.
- Pemeriksaan Radiologi
- Patologi Anatomi
Menetapkan:
a. Diagnosis
b. Stadium

c. Indikasi pengobatan: ada/tidak ada


d. Tujuan pengobatan radiasi: kuratif/paliatif
e. Volume dosis yang akan diberikan
Membuat Perencanaan Radiasi.
a. Pembuatan Masker
b. Simulasi
c. CT-Scan untuk perencanaan
d. Treatment Planning System (TPS) / perencanaan radiasi
dengan komputerisasi
Pelaksanaan Radiasi
Radiasi harus diberikan sesuai dengan perencanaan yang telah
dibuat sebelumnya baik melalui simulasi, CT planning radiasi dan
distribusi dosis yang dibuat secara komputerisasi sehingga harus
tepat dosis, sasaran dan waktu radiasi
Monitor/Follow-up
Setiap pasien yang mendapat radiasi harus dimonitor/follow-up
baik dalam pengobatan maupun setelah pengobatan radiasi
selesai. Dari data monitor pasien yang mendapat pengobatan
dengan radiasi maka akan dapat pula dievaluasi hasil-hasil
pengobatan radiasi, baik respon tumor sendiri maupun efek
samping yang timbul.
Evaluasi
Setelah pasien dinyatakan selesai menjalani terapi radiasi, maka
dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan radiasi yang
diberikan. Evaluasi dapat meliputi:
- Respon pengobatan
- Toleransi pasien
- Efek samping dan akut lambat, dll

2. Cara Kerja Kemoterapi


Sebagian besar obat kemoterapi memasuki aliran darah dan
perjalanan ke seluruh tubuh untuk mencapai sel-sel kanker pada berbagai
organ dan jaringan. Kemoterapi sifatnya sistemik, baik sel kanker dan
beberapa sel normal juga terpengaruh. Ketika sel-sel normal yang rusak,
maka akan menyebabkan efek samping. Sel-sel kanker tidak mudah
diperbaiki, sehingga mereka pulih lebih lambat dibandingkan sel normal.
Pada saat pengobatan berikutnya dimulai, sel-sel normal tubuh telah pulih,
tetapi sel-sel kanker tidak. Ini berarti bahwa sel-sel kanker lebih
dihancurkan dengan setiap pengobatan. Beberapa kemoterapi lebih sering
langsung menuju sasaran sel kanker/tumor daripada melalui aliran darah.
Contohnya kemoterapi untuk kanker otak dan kanker hati.
3. Gangguan Pasca Kemoterapi
Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau
beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul
adalah:
4) Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau
perlahan. Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang
berlangsung hingga akhir pengobatan.

APRILIA PUSPITA NINGRUM


2A/1201100031
5)

Mual dan Muntah


Ada beberapa obat kemoterapi yang lebih membuat mual dan
muntah. Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan
terhadap mual dan muntah.
6) Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang
menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit
kadang bisa terjadi.
7) Sariawan
Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti
terasa tebal atau infeksi. Kondisi mulut yang sehat sangat penting
dalam kemoterapi.
8) Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau
tiga minggu setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan
rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat terjadi setelah beberapa
minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi
selesai.
9) Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa
pada jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki.
Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.
10) Efek pada Darah
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja
sumsum tulang yang merupakan pabrik pembuat sel darah,
sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah
penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi
pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan sebelum
kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah
kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan:
a. Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh Karena jumlah leokosit turun,
karena leokosit adalah sel darah yang berfungsi untuk
perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang
bisa meningkatkan jumlah leukosit.
b. Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses
pembekuan
darah.
Penurunan
jumlah
trombosit
mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak
merah di kulit.
c. Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang
ditandai oleh penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb
letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah
seorang menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak
pucat.
11) Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
a. Lebih sensitif terhadap matahari.
b. Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih
melintang.

DAFTAR RUJUKAN

1) Sari, N. 2013. Tindakan Kemoterapi,


(http://vytabaretha10.blogspot.com/2013/03/tindakan-kemoterapi.html),
diakses pada 26 November 2013.
2) Anonim. Kemoterapi, (http://masalahkesehatan.com/kemoterapi/), diakses
pada 26 November 2013.
3) Putra, H.P. 2010. Asuhan Keperawatan pada Pasien Kemoterapi,
(http://nursingforuniverse.blogspot.com/2010/02/asuhan-keperawatan-padapasien_06.html), diakses pada 26 November 2013.
4) Anonim. 2011. Radioterapi,
(http://jannahmedicalphysics.blogspot.com/2011/05/radioterapi-1.html),
diakses pada 26 November 2013.
5) Anonim . Radiasi, (http://www.dharmais.co.id/index.php/radiasi.html), diakses
pada 26 November 2013.
6) Anonim. Radioterapi, Efek Samping, dan Pencegahannya,
(http://www.readersdigest.co.id/sehat/info.medis/radioterapi.efek.samping.da
n.pencegahannya/005/001/195), diakses pada 26 November 2013.