Anda di halaman 1dari 31

PENCATATAN, NORMA PENGHITUNGAN

PENGHASILAN NETO, ZAKAT, PPh PASAL 25, WAJIB


PAJAK ORANG PRIBADI PENGUSAHA TERTENTU,
DAN PISAH HARTA/GABUNG PENGHASILAN
PERPAJAKAN II

KELAS 4-Q
KELOMPOK 5
1
2
3
4
5

Aghnia Putri R
Linda Andriani
Maulynda Arifah R
Veniar Dwi A
Yohana Bethauli P.

(02)
(19)
(20)
(34)
(36)

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan


Spesialisasi Akuntansi STAN Tangerang Selatan

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara


2015
PENCATATAN DAN NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO
Dasar Hukum:

1. Pasal 14 UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang perubahan keempat atas UU Nomor 7


Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
2. PER-4/PJ/2009 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang petunjuk pelaksanaan pencatatan
bagi WP Orang Pribadi (OP)
3. KEP-536/PJ/2000 (berlaku sejak tahun pajak 2001) tentang Norma Penghitungan
Penghasilan Netto (NPPN) untuk Wajib Pajak (WP) yang dapat menghitung
penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan.
I.

PENCATATAN
A. Pengertian
Pencatatan adalah pengumpulan data yang dilakukan secara teratur tentang peredaran
atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung
jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
dan/atau yang dikenai pajak bersifat final.
B. Wajib Pajak yang Melakukan Pencatatan
1. Wajak Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp
4.800.000.000 dapat menghitung penghasilan neto dengan menggunakan
norma penghitungan penghasilan neto, dengan syarat memberitahukan ke
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak
yang bersangkutan;
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.
C. Syarat-syarat Penyelenggaraan Pencatatan
1. Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan
keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya
2. Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam
bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
3. Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel
kas.
4. Pencatatan harus menggambarkan antara lain :
a. Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto
yang diterima dan/atau diperoleh;
b. Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat final.

5. Bagi WP yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha,
pencatatan harus menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis
usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.
6. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan, WP orang pribadi
harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.
D. Tata Cara Pencatatan
Tata cara pencatatan ditetapkan dalam Pasal 28 ayat (12) UU KUP dan diatur dalam
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-4/PJ/2009.
1. Pencatatan harus menggambarkan kegiatan usaha yang sebenarnya, sehingga
dapat dihitung besarnya pajak yang terutang.
2. Pencatatan harus dibuat secara lengkap dan benar, serta didukung dengan
dokumen yang dijadikan dasar perhitungan peredaran atau penerimaan bruto,
serta penghasilan yang bukan objek pajak, dan/atau penghasilan yang
dikenakan pajak bersifat final.
3. Pencatatan dapat menggambarkan peredaran atau penerimaan bruto, serta
penghasilan yang bukan objek pajak dan atau penghasilan pajak yang
dikenakan pajak bersifat final sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang.
4. Bagi wajib pajak orang pribadi yang mempunyai lebih dari satu jenis atau
tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas jumlah
peredaran atau penerimaan bruto masing-masing jenis atau tempat usaha yang
bersangkutan.
E. Format Pencatatan
1. Format Pencatatan Penghasilan Yang Diterima Dari Kegiatan Usaha dan/atau
Pekerjaan Bebas Yang Merupakan Objek Pajak Yang Tidak Dikenai Pajak
Bersifat Final.
Format ini digunakan oleh wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas. Berikut adalah format pencatatan penghasilan yang diterima
dari kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang tidak bersifat final:

Tanggal
(1)

Peredaran/Penerimaan Bruto
Jenis Usaha...
Tempat Usaha...
Tahun...
Uraian
Jumlah Bruto (Rp)
(2)
(3)

Keterangan
(4)

1 Januari
...
31 Desember
Jumlah
Petunjuk pengisian :
Kolom 1 : Diisi dengan tanggal peredaran dan/atau penerimaan bruto.
Kolom 2 : Diisi dengan uraian mengenai peredaran dan/atau penerimaan
bruto, misalnya penjualan batik tulis, penerimaan pengobatan pasien, dan
sebagainya.
Kolom 3 : Diisi dengan jumlah (nilai rupiah) peredaran dan/atau
penerimaan bruto setelah dikurangi dengan potongan harga, bila ada.
Kolom 4 : Diisi dengan keterangan yang dianggap perlu.
Bagi wajib pajak Orang Pribadi yang menggunakan cash register,
jumlah peredaran dari kegiatan usaha dan/atau penerimaan bruto dari
pekerjaan bebas yang dicatat secara harian adalah catatan cash register
tersebut. Sedangkan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menggunakan
cash register dan tidak menerbitkan faktur/nota/bon penjualan (sales invoice)
atau bukti penerimaan lainnya, jumlah peredaran dari kegiatan usaha dan/atau
penerimaan bruto dari pekerjaan bebas yang dicatat secara harian adalah
penjumlahan dari penjualan tunai.
Jika Wajib Pajak orang Pribadi mempunyai beberapa jenis kegiatan
usaha atau pekerjaan bebas atau beberapa tempat usaha atau pekerjaan bebas
maka pencatatan dibuat secara terpisah untuk masing-masing jenis kegiatan
usaha dan/atau pekerjaan bebas, dan/atau beberapa tempat usaha dan/atau
pekerjaan bebas.
Jumlah peredaran dari kegiatan usaha dan/atau penerimaan bruto dari
pekerjaan bebas dalam suatu Tahun Pajak dihitung dengan cara menjumlahkan
peredaran dan/atau penerimaan bruto dari bulan Januari sampai dengan
Desember.
Wajib Pajak orang pribadi wajib menyimpan semua dokumen yang
berkaitan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, baik mengenai
peredaran dan/atau penerimaan bruto maupun mengenai pembelian, biaya
usaha, dan pengeluaran lainnya.

2. Format Pencatatan Penghasilan Yang Diterima Dari Luar Kegiatan Usaha


dan/atau Pekerjaan Bebas Yang Merupakan Objek Pajak Yang Tidak Dikenai
Pajak Bersifat Final (Penghasilan Lainnya).
Format ini digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas atau Wajib Pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas dan juga memperoleh
penghasilan sehubungan dengan pekerjaan.
Dalam hal Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha dan/atau
pekerjaan bebas juga memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan,
penghasilan sehubungan dengan pekerjaan tersebut diklasifikasikan sebagai
penghasilan lainnya sehingga harus dicatat dengan menggunakan formulir
Penghasilan Lainnya.

Tanggal
(1)

Uraian
(2)

Penghasilan Lainnya
Bulan ... Tahun ...
Penghasilan
Pengurang
Bruto (3)

Penghasilan

Penghasilan
Bruto (4)

Neto
(5)

Keterangan
(6)

1 Januari
...
31
Desember
Jumlah
Petunjuk pengisian :
Kolom 1 : diisi dengan tanggal penerimaan penghasilan lainnya.
Kolom 2 : diisi dengan uraian mengenai penghasilan lainnya, misalnya
bunga, dividen atau bagian laba, royalti, sewa, hibah, warisan, atau hadiah
dari undian dan penghargaan.
Kolom 3 : diisi dengan jumlah penghasilan lainnya bruto.
Kolom 4 : diisi dengan jumlah biaya yang terkait dengan penghasilan
lainnya bruto.
Kolom 5 : diisi dengan jumlah penghasilan lainnya neto.

Kolom 4 : diisi dengan keterangan, misalnya telah dikenakan pajak yang


bersifat final dan keterangan lain yang dianggap perlu.
Wajib Pajak Orang Pribadi wajib menyimpan semua dokumen yang
berkaitan dengan penghasilan lainnya, termasuk rekening koran bank, buku
tabungan, fotokopi deposito atau sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) dan/atau bukti pemotongan/pemungutan Pajak Penghasilan.
3. Format Pencatatan Penghasilan Bruto Yang Diterima oleh Wajib Pajak Orang
Pribadi Yang Tidak Melakukan Kegiatan Usaha Dan/Atau Pekerjaan Bebas
Format ini digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang tidak
melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas.
Penghasilan Bruto yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi yang
tidak melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas meliputi
penghasilan bruto sehubungan dengan pekerjaan yang diterima Wajib Pajak
sendiri, isteri, dan anak/anak angkat yang belum dewasa, termasuk
penghasilan yang diterima dari pemberi kerja yang tidak wajib memotong PPh
Pasal 21 serta dari pemberi kerja yang bukan subjek pajak namun tidak
dikecualikan untuk memotong PPh Pasal 21 kecuali (1) Penghasilan isteri dari
satu pemberi kerja, (2) Anak/anak angkat yang belum dewasa yang
memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan
usaha orang yang mempunyai hubungan istimewa.
Berikut adalah format pencatatan penghasilan bruto yang diterima
wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas:

Tanggal
(1)

Uraian
(2)

Penghasilan Bruto
Tahun ...
Penghasilan
Pengurang
Bruto (3)

Penghasilan
Bruto (4)

1 Januari
...
31
Desember
Jumlah
Petunjuk pengisian :

Penghasilan
Neto
(5)

Keterangan
(6)

Kolom 1 : diisi dengan tanggal penerimaan penghasilan bruto.


Kolom 2 : diisi dengan nama dan NPWP pemberi kerja atau pemberi
penghasilan
Kolom 3 : diisi dengan jumlah penghasilan bruto.
Kolom 4 : diisi dengan pengurang penghasilan bruto, misalnya : biaya
jabatan/biaya pensiun, iuran pensiun/tabungan hari tua
Kolom 5 : diisi dengan jumlah penghasilan neto.
Kolom 6 : diisi dengan uraian mengenai sumber penghasilan bruto,
misalnya: gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi,
uang pensiun, bunga, dividen atau bagian laba, royalti, sewa, hibah,
warisan, hadiah dari undian dan penghargaan.
Wajib Pajak Orang Pribadi wajib menyimpan semua dokumen yang
berkaitan dengan penghasilan bruto, termasuk rekening koran bank, buku
tabungan, fotokopi deposito atau sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia,
dan/atau bukti pemotongan/pemungutan Pajak Penghasilan
4. Format Pencatatan Penghasilan Yang Bukan Objek Pajak dan/atau Penghasilan
Yang Pengenaan Pajaknya Bersifat Final.
Format ini digunakan oleh Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas; atau Wajib Pajak orang pribadi yang
tidak melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas.
i.
Pencatatan penghasilan yang bukan objek pajak
Pencatatan penghasilan yang bukan objek pajak meliputi :
a. Peredaran dan/atau penerimaan bruto dari kegiatan usaha dan/atau
pekerjaan bebas yang bukan merupakan objek pajak; dan
b. Penghasilan bruto yang bukan dari kegiatan usaha dan/atau
pekerjaan bebas yang bukan merupakan objek pajak
Wajib pajak wajib menyimpan semua dokumen yang berkaitan dengan
peredaran atau penerimaan atau penghasilan bruto yang bukan objek pajak.
Berikut adalah format pencatatan penghasilan yang bukan objek pajak:

Tanggal
(1)
1 Januari

Peredaran/Penerimaan/Penghasilan Bruto
Tahun...
Uraian
Jumlah Bruto (Rp)
(2)
(3)

Keterangan
(4)

...
31 Desember
Jumlah

Petunjuk pengisian :
Kolom 1 : Diisi dengan tanggal penerimaan peredaran dan/atau
penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto.
Kolom 2 : Diisi dengan uraian mengenai sumber dan jenis penghasilan
yang bukan objek pajak, misalnya bantuan/sumbangan/hibah, warisan,
bagian laba anggota perseroan komanditer tidak atas saham, persekutuan,
firma, kongsi dan sebagainya.
Kolom 3 : Diisi dengan jumlah (nilai rupiah) peredaran dan/atau
penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto.
Kolom 4 : Diisi dengan keterangan yang dianggap perlu.
ii.

Pencatatan Penghasilan yang Pengenaan Pajaknya Bersifat Final


Pencatatan penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final
meliputi:
a. Penghasilan bruto dari kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
yang pengenaan pajaknya bersifat final
b. Penghasilan bruto yang bukan dari kegiatan usaha dan/atau

pekerjaan bebas yang pengenaan pajaknya bersifat final.


Berikut adalah format pencatatan penghasilan yang pengenaan pajaknya
bersifat final:

Tanggal
(1)

Uraian
(2)

Penghasilan Bruto
Tahun...
Dasar Pengenaan
PPh Terutang
(4)
Pajak/Jumlah Bruto
(3)

1 Januari
...
31 Desember
Jumlah
Petunjuk pengisian :
Kolom 1 : Diisi dengan tanggal penerimaan penghasilan bruto.
Kolom 2 : Diisi dengan uraian mengenai sumber dan jenis penghasilan yang

Keterangan
(5)

dikenakan pajak bersifat final, misalnya bunga deposito, tabungan, diskonto


SBI, penjualan saham di bursa efek, hadiah undian, sewa tanah/bangunan,
pengalihan hak atas tanah/bangunan dan sebagainya.
Kolom 3 : Diisi dengan jumlah (nilai rupiah) Dasar Pengenaan Pajak atau
penghasilan bruto.
Kolom 4 : Diisi dengan PPh Final yang telah dipotong.
Kolom 5 : Diisi dengan keterangan yang dianggap perlu.

II.

NORMA PERHITUNGAN PENGHASILAN NETTO (NPPN)


A. Pengertian
Norma penghitungan netto adalah norma yang dapat digunakan oleh wajib
pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang tidak
menyelenggarakan pembukuan dalam menghitung penghasilan netto dalam satu tahun
pajak sebagai dasar perhitungan Pajak Penghasilan terutang.
Besarnya norma yang digunakan adalah berdasarkan kota wilayah usaha.
Terdapat 3 pengelompokkan wilayah dalam menentukan norma yang digunakan,
antara lain:
1. 10 ibukota propinsi, yang meliputi Medan, Jakarta, Palembang, Bandung,
Semarang, Surabaya, Manado, Makassar, Denpasar, Pontianak.
2. Kota propinsi lainnya yang meliputi ibukota propinsi selain 10 ibukota
yang disebutkan sebelumnya.
3. Daerah lainnya yang meliputi daerah selain yang telah disebutkan.
B. Syarat Penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Netto
1. Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang memiliki peredaran bruto kurang dari Rp 4.800.000.000
selama setahun
2. Wajib pajak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam
jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak bersangkutan (Pasal 14
ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2008). Jika wajib pajak tidak menyampaikan
pemberitahuan dalam jangka waktu yang ditentukan, wajib pajak dianggap
memilih pembukuan.
C. Sanksi Menggunakan Norma tanpa Pemberitahuan
Berdasarkan Pasal 3 ayat 2 KEP-536/PJ./2000, wajib pajak yang
menggunakan norma tetapi tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Penggunaan

Norma dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 50% dari Pajak Penghasilan
yang tidak atau kurang dibayar dalam tahun pajak bersangkutan.
D. Cara Perhitungan
1. Penghitungan penghasilan neto untuk tiap jenis usaha dilakukan dengan
mengalikan angka persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto
dengan peredaran bruto atau penghasilan bruto dari kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas selama 1 tahun.
2. Dalam menghitung besarnya Pajak Penghasilan yang terutang oleh wajib
pajak orang pribadi, sebelum dikalikan dengan tarif umum terlebih dahulu
dilakukan

penghitungan

Penghasilan

Kena

Pajak

dengan

cara

mengurangkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dari Penghasilan Neto.


CONTOH SOAL
1) Bapak Iskandar (K/1) adalah WPDN yang menjalankan usaha pembuatan roti di
kota Semarang.
Rp450.000.000.

Peredaran bruto usahanya selama tahun 2010 sebesar


Bapak Iskandar memilih menggunakan norma penghitungan

penghasilan neto, dikarenakan bapak Iskandar menyelanggarakan pencatatan saja.


Norma untuk usaha tersebut adalah 15%. Maka penghitungan pajak terutang
tahun 2010 adalah:
Peredaran bruto
2010
Norna
penghitungan
Penghasilan neto
2010
PTKP
PKP
PPh tahun 2010
5% x
Rp39,150,000

Rp450,000,00
0
15%
Rp67,500,000
Rp28,350,000
Rp39,150,000

Rp1,957,500

2) Bapak Asep (K/0) adalah seorang dokter di kota Yogyakarta. Peredaran bruto
yang diperoleh dari praktik dokter selama tahun 2010 sebesar Rp150.000.000.
Selain berpraktik sebagai dokter, Bapak Asep juga mempunyai usaha peternakan
ayam potong di kota Yogyakarta. Peredaran bruto dari usaha ayam potong tahun

2010 sebesar Rp400.000.000. Bapak Asep hanya melakukan pencatatan. Norma


penghitungan di kota Yogya untuk profesi dokter 45%, untuk peternakan 11%.
Penghitungan pajak terutang tahun 2010 adalah:
Rp150,000,00
Peredaran bruto sebagai dokter tahun 2010
Peredaran bruto peternakan tahun 2010

0
400,000,000

Penghasilan neto sebagai dokter tahun 2010 (45%) 67,500,000


Penghasilan neto usaha peternakan tahun 2010
(11%)
Total penghasilan neto

44,000,000
Rp111,500,000
Rp

PTKP

26,325,000
Rp

PKP
PPh tahun 2010

85,175,000
5% x 50,000,000
15% x 35,175,000

2,500,000
5,276,000
Rp7,776,250

ZAKAT/ SUMBANGAN KEAGAMAAN LAINNYA


A. Pengertian Zakat
Pengertian zakat sesuai dengan pasal 1 angka 2 UU No.38 tahun 1999 tentang
pengelolaan zakat, zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau
badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama yang diberikan
kepada yang berhak menerimanya.
Sesuai dengan PMK no.254/PMK.03/2010 tanggal 28 desember 2010 Zakat atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dari penghasilan
bruto meliputi:
a. Zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi
pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang
dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil
zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; atau (Pasal 1 ayat 1a )
b. Sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi
pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam
negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di
Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah. (Pasal 1 ayat 1b )
c. Zakat atau sumbangan keagamaan dapat berupa uang atau yang disetarakan
dengan uang (Pasal 1 ayat 3). Zakat atau sumbangan keagamaan yang
diberikan dalam bentuk selain uang yang dinilai dengan harga pasar pada saat
dibayarkan (Pasal 1 ayat 4 ).
d. Zakat atau sumbangan keagamaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat
(1) yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto oleh pemberi zakat atau
sumbangan keagamaan harus didukung oleh bukti-bukti yang sah. bruto. (Pasal
4 ayat 1 )
e. Apabila zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib tidak
dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat , atau lembaga
keagamaan yang sebagaimana yang dimaksud Pasal 1 ayat (1) tersebut diatas
maka pengeluaran tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
(Pasal 4 ayat 2)

B. Badan/Lembaga penerima zakat


Badan/Lembaga sebagai penerima zakat atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dan penghasilan bruto menurut pasal 1 PER 15/PJ/2012 adalah:
No
Badan / Lembaga
1
Badan Amil Zakat Nasional

SK pengukuhan
Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001 tanggal 17 Januari
2001

Lembaga Amil Zakat (LAZ)


sebagai berikut:
a. LAZ
Dompet

Dhuafa Keputusan Menteri AgamaNomor 439 Tahun 2001 tanggal 8

Republika
b.LAZ Yayasan

Oktober 2001;
Amanah Keputusan Menteri Agama Nomor 440 Tahun 2001 tanggal 8

Takaful
Oktober 2001;
c.LAZ Pos Keadilan Peduli Keputusan Menteri Agama Nomor 441 Tahun 2001 tanggal 8
Umat
Oktober 2001;
d.LAZ Yayasan Baitulmaal Keputusan Menteri Agama Nomor 481 Tahun 2001 tanggal 7
Muamalat
November 2001;
e.LAZ Yayasan Dana Sosial Keputusan Menteri Agama Nomor 523 Tahun 2001 tanggal 10
Al Falah
f.LAZ

Baitul

Hidayatullah
g.LAZ Persatuan Islam

Desember 2001;
Maal Keputusan Menteri Agama Nomor 538 Tahun 2001 tanggal 27
Desember 2001;
Keputusan Menteri Agama Nomor 552 Tahun 2001 tanggal 31

Desember 2001;
h.LAZ Yayasan Baitul Maal Keputusan Menteri Agama Nomor 330 Tahun 2002 tanggal 20
Umat Islam PT Bank Negara Juni 2002;
Indonesia (Persero) Tbk.
i.LAZ
Yayasan
Bangun Keputusan Menteri Agama Nomor 406 Tahun 2002 tanggal 7
Sejahtera Mitra Umat
September 2002;
j.LAZ
Dewan
Da'wah Keputusan Menteri Agama Nomor 407 Tahun 2002 tanggal 17
Islamiyah Indonesia
September 2002;
k.LAZ Yayasan Baitul Maal Keputusan Menteri Agama Nomor 445 Tahun 2002 tanggal 6
Bank Rakyat Indonesia
l.LAZ Baitul Maal
Tamwil
m.LAZ

November 2002;
wat Keputusan Menteri Agama Nomor 468 Tahun 2002 tanggal 28

November 2002;
Baituzzakah Keputusan Menteri Agama Nomor 313 Tahun 2004 tanggal 24

Pertamina
Mei 2004;
n.LAZ Dompet Peduli Umat Keputusan Menteri Agama Nomor 410 Tahun 2004 tanggal 13

Daarut Tauhiid (DUDT)


Oktober 2004;
o.LAZ Yayasan Rumah Zakat Keputusan Menteri Agama Nomor 42 Tahun 2007 tanggal 7
3

Indonesia
Mei 2007;
Lembaga Amil Zakat, Infaq,
dan

Shadaqah

(LAZIS)

sebagai berikut :
a.LAZIS Muhammadiyah
b.LAZIS

Keputusan Menteri Agama Nomor 457 Tahun 2002 tanggal 21

November 2002;
Ulama Keputusan Menteri Agama Nomor 65 Tahun 2005 tanggal 16

Nandlatul

(LAZIS NU)
Februari 2006;
c.LAZIS Ikatan Persaudaraan Keputusan Menteri Agama Nomor 498 Tahun 2006 tanggal 31
Haji Indonesia (LAZIS IPHI)
4

Lembaga Sumbangan Agama Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen


Kristen

Juli 2006;

Indonesia Kementerian Agama Nomor DJ.III/KEP/HK.00.5/290/2011

(LEMSAKTI)
tanggal 15 Juli 2011;
Badan Dharma Dana Nasional Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu
Yayasan

Adikara

Dharma Kementerian Agama Nomor 43 Tahun 2012 tanggal 15 Maret

Parisad (BDDN YADP)

2012.

PPH PASAL 25
A. Pengertian Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Pasal 25)
Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Pasal 25) adalah pembayaran Pajak Penghasilan
secara angsuran. Tujuannya adalah untuk meringankan beban Wajib Pajak, mengingat
pajak yang terutang harus dilunasi dalam waktu satu tahun. Pembayaran ini harus
dilakukan sendiri dan tidak bisa diwakilkan.
Cara Mengitung PPh Pasal 25
Besarnya angsuran PPh Pasal 25 harus dihitung sesuai dengan ketentuan. Pada
umumnya, cara menghitung PPh Pasal 25 didasarkan kepada data SPT Tahunan tahun
sebelumnya. Artinya, kita mengasumsikan bahwa penghasilan tahun ini sama dengan
penghasilan tahun sebelumnya. Tentu saja nanti akan ada perbedaan dengan kondisi
sebenarnya ketika tahun pajak sekarang sudah berakhir. Selisih tersebutlah yang kita
bayar sebagai kekurangan pajak akhir tahun. Kekurangan bayar akhir tahun ini biasa
dinamakan PPh Pasal 29. Apabila selisihnya menunjukkan lebih bayar, maka kondisi ini
dinamakan restitusi atau Wajib Pajak meminta kelebihan pembayaran pajak yang telah
dilakukan.
Pada umumnya angsuran pajak ini adalah sebesar Pajak Penghasilan terutang
menurut SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun lalu dikuranggi dengan kredit pajak Pajak
Penghasilan Pasal 21, 22, 23 dan Pasal 24, dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian
tahun pajak.
PPh Pasal 25 Untuk Bulan-bulan Sebelum Bulan Batas Waktu Penyampaian SPT
Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian
SPT Tahunan adalah sama besarnya dengan Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir
tahun pajak yang lalu. Apabila tahun pajaknya adalah tahun kalender (Januari-Desember),
maka yang dimaksud dengan bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT
Tahunan adalah bulan Januari dan Februari. Dengan demikian PPh Pasal 25 bulan Januari
dan Februari 2008 adalah sama dengan PPh Pasal 25 bulan Desember 2007. Batas waktu
pembayaran PPh pasal 25 adalah setiap tanggal 15 bulan berikutnya. Apabila tanggal 15
jatuh pada hari libur, maka pembayaran Phh Pasal 25 dapat dilakukan pada hari kerja
berikutnya. Sedangkan batas untuk menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 adalah 20
hari setelah berakhirnya masa pajak (tgl 20 bulan berikutnya). Apabila tanggal 20 jatuh
pada hari libur, maka pelaporan harus dilakukan pada hari kerja sebelumnya. Hari libur

meliputi hari libur nasional dan hari-hari yang ditetapkan sebagai hari cuti bersama oleh
pemerintah.
Misalnya untuk bulan Februari 2014, angsuran PPh 25 harus dibayar paling
lambat 15 Maret 2014. Jika batas waktu penyetoran jatuh pada hari libur (termasuk Sabtu,
Minggu, hari libur nasional, dan Pemilihan Umum), maka pembayaran masih dapat
dilakukan pada hari berikutnya sesuai Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan
No.184/PMK.03/2007, yang kemudian diubah lagi sesuai Peraturan Menteri Keuangan
No.80/PMK.03/2010.
Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-22/PJ/2008 pada 21 Mei
2008, pembayaran harus dilakukan dengan membawa Surat Setoran Pajak (SSP) atau
dokumen sejenisnya.
PPh Pasal 25 Jika Dalam Tahun Berjalan Telah Diterbitkan SKP Untuk Tahun Pajak Yang
Lalu
Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP)
untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali
berdasarkan SKP tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan
penerbitan SKP

Sanksi-sanksi
Apabila Wajib Pajak (WP) terlambat membayar, maka WP akan dikenai bunga
sebesar 2% per bulan, dihitung dari tanggal jatuh tempo hingga tanggal pembayaran.
Misalnya: untuk bulan Februari 2014, WP terlambat dan baru membayarnya pada 16
Maret. Sesuai Pasal 9 ayat (2a) UU KUP, WP dikenai bunga 2%.
B. PPh Pasal 25 Dalam Hal-hal Tertentu
Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya
angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, antara lain apabila :
1. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;
2. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;
3. ST tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas
waktu yang ditentukan;

4. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan


Pajak Penghasilan;
5. Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang
mengakibatkan angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum
pembetulan.
6. Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.
Keputusan Dirjen Pajak yang mengatur penghitungan besarnya angsuran pajak
dalam tahun berjalan dalam hal-hal tertentu adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor Kep-537/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000.
C. PPh Pasal 25 Untuk Wajib Pajak Tertentu
Pada prinsipnya penghitungan besarnya angsuran bulanan dalam tahun berjalan
didasarkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu.
Namun ketentuan ini memberi kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan
dasar penghitungan besarnya angsuran bulanan selain berdasarkan prinsip tersebut di atas.
Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendekati kewajaran perhitungan besarnya angsuran
pajak karena didasarkan kepada data terkini kegiatan usaha perusahaan. Hal ini awalnya
diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 522/KMK.04/2000 sudah tidak
berlaku lagi. Ketentuan yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor
255.PMK.03/2008 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
208/PMK.03/2009.
1. Penghitungan angsuran PPh pasal 25 bagi Wajib Pajak Baru
Ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan dan Peraturan Menteri Keuangan
Ketentuan Wajib Pajak baru diatur pada penjelasan pasal 25 ayat (7) huruf a UndangUndang PPh, yaitu Wajib Pajak yang mulai menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan dalam tahun pajak berjalan. Ketentuan Wajib Pajak baru juga diatur pada
pasal 1 angka 1 PMK 208/PMK.03/2009.
Wajib Pajak baru menurut Peraturan Menteri Keuangan ini adalah Wajib Pajak
orang pribadi dan badan yang baru pertama kali memperoleh penghasilan dari usaha
atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak berjalan. Penghitungan besarnya angsuran

PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak baru ini diatur pada pasal 2 PMK
208/PMK.03/2009 yaitu:
(1) Besarnya angsuran PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar Pajak
Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas
penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).
(2) Penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :
a) Dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
menyelenggarakan pembukuan dan dari pembukuannya dapat dihitung
besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal dihitung
berdasarkan pembukuannya;
b) Dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya
menyelenggarakan pencatatan dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto atau menyelenggarakan pembukuan tetapi dari
pembukuannya tidak dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap
bulan, penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto atas peredaran atau penerimaan bruto.
(3) Untuk Wajib Pajak orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal yang
disetahunkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikurangi terlebih dahulu
dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak.
(4) Dalam hal Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
Wajib Pajak badan yang mempunyai kewajiban membuat laporan berkala,
besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah sebesar Pajak
Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas proyeksi
laba-rugi fiskal pada laporan berkala pertama yang disetahunkan, dibagi 12
(dua belas).
Ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013
Sehubungan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun
2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau
Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disebut
PP 46 tahun 2013) dan ditindakdilanjuti dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan, Penyetoran,
Dan Pelaporan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima Atau
Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disebut
PMK 107/PMK.011/2013) dijelaskan batasan Wajib Pajak yang dikenai Pajak

Penghasilan bersifat final. Batasan Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan
bersifat final diatur pada Pasal 2 PMK No.107/PMK.011/2013, yaitu:
(1) Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang
memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat
final.
(2) Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk
usaha tetap.
b) Menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa
sehubungan dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak
melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah)
dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
(3) Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b meliputi:
a) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
b) Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron,
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

bintang

iklan,

sutradara,

kru

film,

foto

model,

peragawan/peragawati, pemain drama, dan penari.


olahragawan;
Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.
Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
agen iklan;
Pengawas atau pengelola proyek;
Perantara.
Petugas penjaja barang dagangan.
Agen asuransi; dan
Distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau

penjualan langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.


(4) Tidak termasuk Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha
perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya:
a) Menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik
yang menetap maupun tidak menetap.
b) Menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum
yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.
(5) Tidak termasuk Wajib Pajak badan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
adalah:
a) Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial.

b) Wajib Pajak badan yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah
beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).
Pengertian peredaran bruto sebagai dasar untuk dapat dikenai PPh yang
bersifat final dinyatakan pada pasal 3 PMK No. 107/PMK.11/2013, yaitu:
(1) Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari
Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.
(2) Peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2)
huruf b ditentukan berdasarkan peredaran bruto dari usaha seluruhnya
termasuk dari usaha cabang, tidak termasuk peredaran bruto dari:
a) Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (3)
b) Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;
c) Usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan tersendiri; dan
d) penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.
(3) Dalam hal peredaran bruto dari usaha pada Tahun Pajak terakhir sebelum
Tahun Pajak yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan, pengenaan Pajak Penghasilan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran
bruto Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak bersangkutan yang
disetahunkan.
(4) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar pada tahun pajak 2013 sebelum
Peraturan Menteri ini berlaku, pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto
dari bulan saat Wajib Pajak terdaftar sampai dengan bulan sebelum
berlakunya Peraturan Menteri ini yang disetahunkan.
(5) Dalam hal Wajib Pajak baru terdaftar sejak berlakunya Peraturan
Menteri ini, pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (1) didasarkan pada jumlah peredaran bruto pada bulan
pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang disetahunkan.

2. Perhitungan angsuran PPh pasal 25 terhadap Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha
dengan hak opsi (Financial Lease)
Sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk
penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (financial
lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan
oleh Lesse selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala
(KMK Nomor 1169/KMK.01/1991)
Besarnya angsuran PPh pasal 25 untuk Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha
dengan hak opsi adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan
penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan triwulan
terakhir yang disetahunkan dikurangi PPh Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar
negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi dua belas.
Contoh :
PT Bank T berdasarkan laporan keuangan triwulan I, Januari Maret 2014
diketahui memperoleh laba fiskal sebesar Rp 5.500.000.000,00. PPh Pasal 24 tahun
2013 sebesar Rp 400.000.000,00. Hitung jumlah angsuran PPh pasal 25 pada triwulan
II (April Juni 2014).
Jawaban:
Perhitungan angsuran PPh pasal 25 pada triwulan II didasarkan pada laporan
keuangan triwulan terakhir, yaitu triwulan I (Januari Maret 2014).
Laba Fiskal
Peredaran bruto
Laba Fiskal disetahunkan
PPh terutang

Rp 5.500.000.000,00
Rp 50.000.000.000,00
Rp 22.000.000.000,00
Rp 22.000.000.000,00
12

Kredit Pajak Ps. 24 th 2013


PPh yang harus dibayar sendiri
Angsuran PPh Ps. 25 Apr 2014

= Rp 5.500.000.000,00
(Rp
400.000.000,00)
Rp 5.100.000.000,00
Rp 5.100.000.000,00
= Rp

12
425.000.000,00

3. Perhitungan Angsuran PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak BUMN dan BUMD
BUMN/BUMD yaitu badan usaha yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh
pemerintahbaik pusat maupun daerah,termasuk anak perusahaannya yang mayoritas
saham dimiliki oleh BUMN/BUMN tersebut.
Besarnya angsuran Pajak Penghasilan pasal 25 untuk Wajib Pajak Badan
Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan dalam bentuk

apa pun, kecuali Wajib Pajak Bank dan Wajib Pajak Sewa Guna Usaha dengan hak
opsi adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif
umum atas laba-rugi fiskal menurut Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan
(RKAP) tahun pajak yang bersangkutan yang telah disahkan Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan PPh Ps. 22 dan PPh
Ps. 23 serta PPh Ps. 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri tahun pajak yang
lalu, dibagi dua belas.
Dalam hal RKAP belum disahkan, maka besarnya angsuran PPh Ps. 25 untuk
bulan-bulan sebelum bulan pengesahan adalah sama dengan angsuran PPh Ps. 25
bulan terakhir tahun pajak sebelumnya.
Contoh Soal :
PT JKT merupakan BUMN berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan
tahun 2014 yang telah disahkan RUPS pada bulan Januari 2014 diketahui sebagai
berikut:

Rencana Peredaran Bruto 2014


Rencana laba Fiskal 2014
PPh pasal 22 impor 2013
PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013
PPh pasal 24 2014

Rp 100.000.000.000,00
Rp 10.000.000.000,00
Rp
150.000.000,00
Rp
100.000.000,00
Rp
400.000.000,00

Hitunglah angsuran PPh pasal 25!


Jawaban :
Karena peredaran bruto setahun di atas Rp 50.000.000.000,00, maka terhadap PT
JKT tidak mendapat fasilitas pasal 31 E UU PPh dalam menghitung PPh terutang.
Rencana Laba Fiskal 2014
PPh Terutang
Kredit Pajak:
PPh pasal 22 impor 2013
PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013
PPh pasal 24 2013
Jumlah Kredit Pajak
PPh Badan Terutang yg harus dibayar
sendiri
Angsuran PPh pasal 25 tahun 2014

Rp 10.000.000.000,00
25% x Rp 10.000.000.000,00 = Rp 1.500.000.000,00
Rp
Rp
Rp

150.000.000,00
100.000.000,00
400.000.000,00
(Rp 650.000.000,00)
Rp 1.850.000.000,00

Rp 1.850.000.000,00
12

= Rp

154.166.667,00

4. Angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Masuk Bursa dan Wajib Pajak Lainnya
yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala

Wajib Pajak masuk bursa adalah Wajib Pajak yang sedang dalam proses
penjualan sahamnya di Bursa Efek, WP yang sudah terdaftar di Bursa Efek, dan WP
yang sedang dalam proses penjualan obligasi.
Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak masuk
bursa dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat
laporan keuangan berkala, adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung
berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan
berkala terakhir yang disetahunkan di kurangi dengan pemotongan dan pemungutan
Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pasal 24 yang dibayar atau terutang di
luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua belas).
Contoh:
PT VICTOR Tbk berdasarkan laporan keuangan berkala bulan Januari Juni 2014
diketahui sebagai berikut:
Peredaran Bruto Januari Juni 2014
Laba Fiskal Januari Juni 2014
PPh pasal 22 impor tahun 2013
PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013
PPh pasal 24 tahun 2013

Rp 60.000.000.000,00
Rp 20.000.000.000,00
Rp
100.000.000,00
Rp
70.000.000,00
Rp
300.000.000,00

Perhitungan angsuran PPh pasal 25 pada bulan setelah penyampaian laporan berkala
adalah :
Peredaran bruto setahun: 2 x Rp 50.000.000.000,00 = Rp 100.000.000.000,00
Karena peredaran bruto setahun diatas Rp 50.000.000.000,00 maka terhadap PT
VICTOR tidak mendapat fasilitas pasal 31 E UU PPh dalam menghitung

PPh

terutang.
Laba Fiskal Januari Juni 2014
Laba Fiskal tahun 2014
PPh terutang:
25% x Rp 40.000.000.000,00
Kredit Pajak:
PPh pasal 22 impor tahun 2013
PPh pasal 23 dipungut pihak lain 2013
PPh pasal 24 tahun 2013
Jumlah Kredit Pajak
PPh Badan yang harus dibayar sendiri
Angsuran PPh pasal 25 Juli Desember 2014
Rp 9.530.000.000,00
12

Rp
Rp

20.000.000.000,00
40.000.000.000,00

Rp

10.000.000.000,00

Rp 100.000.000.000,00
Rp
70.000.000,00
Rp
300.000.000,00
Rp
470.000.000,00
Rp
9.530.000.000,00
Rp

794.166.666,00

5. Angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang
pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai
satu atau lebih tempat usaha. Pedagang pengecer adalah WPOP yang melakukan
penjualan barang baik secara grosir maupun eceran dan/atau melakukan penjualan
jasa. Penjualan tersebut dilakukan melalui suatu tempat usaha (Peraturan Dirjen Pajak
Nomor PER-32/PJ/2010)
Perhitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk WPOP Pengusaha tertentu diatur
dalam Pasal 6 PMK 208/PMK.03/2009. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib
Pajak orang pribadi pengusaha tertentu sebesar 0,75% dari jumlah peredaran bruto
setiap bulan dari masing-masing tempat usaha tersebut.
Contoh Soal:
Muhammad Ahsan merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan
usaha perdagangan mobil bekas yang memiliki satu tempat kegiatan usaha dan
memulai usahanya pada bulan Juli 2014. Peredaran bruto pada bulan Juli 2014
sebesar Rp 350.000.000,00. Berapa angsuran PPh pasal 25 pada bulan Juli 2014 ?
Jawaban:
Muhammad Ahsan termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu sesuai
pasal 6 PMK 208/ PMK.03/2009 karena dikategorikan sebagai pedagang pengecer
(Pasal 1 Per 32/PJ/2010). Dalam hal WP baru terdaftar sejak berlakunya PMK No.
107/PMK.011/2013 tanggal 30 Juli 2013,pengenaan PPh didasarkan pada jumlah
peredaran bruto pada bulan pertama diperolehnya penghasilan dari usaha yang
disetahunkan.
Peredaran bruto yang disetahunkan

12 x Rp 350.000.000,00 = Rp 4.200.000.000,00

Karena peredaran bruto yang disetahunkan belum melebihi Rp 4.800.000.000,00


maka terhadap penghasilan bruto tahun 2014 dikenai PPh Final dengan tarif 1%
sesuai PP Nomor 46 tahun 2013.
PPh terutang bulan Juli 2014
1% x Rp 4.200.000.000,00 = Rp 42.000.000,00 dan tidak ada angsuran PPh pasal 25.
Jika peredaran bruto Ahsan pada bulan Juli 2014 sebesar Rp 500.000.000,00. Berapa
besar angsuran PPh pasal 25 pada bulan Juli 2014 ?

Peredaran bruto yang disetahunkan

12 x Rp 500.000.000,00 = Rp 6.000.000.000,00

Karena peredaran bruto yang disetahunkan telah melebihi RP 4.800.000.000,00 maka


terhadap penghasilan bruto tahun 2014, PPh dihitung menggunakan tarif pasal 17 UU
PPh.
Angsuran PPh pasal 25 bulan Juli 2014
0,75% x Rp 500.000.000,00 = Rp 3.750.000,00
Angsuran tersebut dibayar paling lamabat tanggal 15 Agustus 2014. Angsuran PPh
Pasal 25 untuk bulan selanjutnya sampai dengan Desember 2014 adalah 0,75%
dikalikan peredaran bruto pada bulan yang bersangkutan.
D. Kewajiban Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 25
Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
Selain wajib menyetorkan PPh pasal 25, Wajib Pajak Orang Pribadi juga waib
melaporkan SPT Masa PPh pasal 25 pada setiap bulan (masa pajak). Pembayaran PPh
pasal 25 harus dilakukan paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
masa pajak (bulan) tersebut berakhir. Sedangkan pelaporan SPT Masa PPh Pasal 25 harus
dilakukan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah masa pajak (bulan) tersebut berakhir.
Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikecualikan untuk menyampaikan SPT Masa
PPh Pasal 25 yaitu WPOP yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas.
Pengecualian ini hanya berlaku bagi WPOP yang tidak mempunyai kewajiban membayar
angsuran PPh Pasal 25 tahun pajak berjalan. (KEP - 207/PJ./2001)
Surat Edaran Nomor 21/PJ.41/2001 memuat penegasan atas diterbitkannya
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-207PJ./2001 tentang Kewajiban
Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk WPOP.
Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 25 UU PPh, besarnya angsuran
pajak setiap bulan dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
adalah sebesar PPh terutang pada tahun pajak yang lalu dikurangi denagan pemotongan
dan pemungutan oleh pihak ketiga (PPh Pasal 21, Pasal 22, dan Pasal 23) serta pajak yang
dibayar atau terutang di luar negeri, dibagi dengan banyaknya masa pajak. Ketentuan ini
berlaku baik untuk WPOP yang menerima atau memperoleh penghasilan dari usaha atau

pekerjaan bebas maupun untuk WPOP yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan.
Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut, tidak termasuk yang dikecualikan dari
kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25 (SE 21/PJ.41/2001)
a. WPOP yang mempunyai kewajiban membayar angsuran pajak PPh Pasal 25
dalam tahun pajak berjalan
b. Bagi WPOP yang mempunyai kewajiban membayar angsuran PPh Pasal 25
tahun pajak berjalan karena menerima/memperoleh penghasilan teratur yang
tidak terkena pemotongan/pemungutan PPh Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, dan
atau PP Final, sekalipun bukan merupakan penghasilan dari usaha dan atau
pekerjaan bebas, maka atas kewajiban pembayaran angsuran PPh pasal 25
tersebut WPOP harus melaporkan pembayarannya dengan SPT Masa PPh
pasal 25.
c. WPOP Dalam Negeri dan orang asing (ekspatriat) yang memperoleh
penghasilan teratur termasuk dari luar negeri yang menurut ketentuan UU PPh
Indonesia harus dilaporkan sebagai penghasilan di Indonesia atau yang
menurut ketentuan P3B yang berlaku hak pemajakannya di Indonesia.
Sesuai dengan butir 4 SE 21/PJ.41/2001 untuk WPOP yang memperoleh
penghasilan lebih dari satu pemberi kerja, walaupun telah dipotong PPh Pasal 21 oleh
masing-masing pemberi kerja, apabila yang bersangkutan mempunyai kewajiban PPh 25
dalam tahun berjalan harus membayar angsuran PPh Pasal 25 dan menyampaikan SPT
Masa PPh 25 ke KPP dimana WPOP tedaftar.

WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI ORANG TERTENTU (WP OPPT)


A. Pengertian
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah wajib pajak orang pribadi
yang melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai 1 (satu)
atau lebih tempat usaha. Pedagang pengecer adalah orang pribadi yang melakukan
penjualan barang baik secara grosir maupun eceran; dan/atau penyerahan jasa.
B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang

Nomor

Tahun

1983

tentang

Pajak

Penghasilan

sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang


Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 25 ayat (7)
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan
Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang
Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha
Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah,
Wajib Pajak Masuk Bursa dan Wajib Pajak Lainnya yang berdasarkan
Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib
Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/PMK.03/2009
3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2010 tentang
Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu
C. Pendaftaran NPWP
WP OPPT wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP) bagi setiap tempat usaha di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah
kerjanya meliputi tempat usaha tersebut (diterbitkan NPWP cabang) dan di KPP yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak (diterbitkan NPWP Domisili).
Ketentuan ini juga berlaku dalam hal tempat usaha dan tempat tinggal WP OPPT berada
dalam wilayah kerja KPP yang sama. Apabila tempat tinggal WP OPPT merupakan
tempat usaha WP OPPT, maka hanya diterbitkan NPWP domisili (tidak perlu diterbitkan
NPWP cabang).
D. Pembayaran
Besarnya angsuran Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 untuk WP OPPT ditetapkan
sebesar 0,75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha
tersebut. Pembayaran angsuran PPh Pasal 25 tersebut dilakukan melalui Bank Persepsi

atau Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak yang mencantumkan NPWP masing-masing tempat usaha. Pembayaran angsuran
PPh Pasal 25 tersebut bersifat tidak final yaitu merupakan kredit pajak atas Pajak
Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.Jatuh tempo
pembayaran PPh Pasal 25 adalah paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
E. Pelaporan
Dalam kewajiban pelaporan PPh Pasal 25 adalah sama dengan kewajiban
pelaporan PPh Pasal 25 pada umumnya. Dan tidak ada formulir SPT Masa khusus WP
OPPT. WP OPPT yang melakukan pembayaran angsuran PPh Pasal 25 dan Surat Setoran
Pajaknya telah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN),
dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 25 ke KPP sesuai
dengan tanggal validasi yang tercantum pada Surat SetoranPajak.WP OPPT dengan
jumlah angsuran PPh Pasal 25 Nihil atau yang melakukan pembayaran tetapi tidak
mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara, tetap harus
menyampaikan Surat

Pemberitahuan Masa PPh Pasal 25 (SSP Lembar ke-3) sesuai

dengan ketentuan yang berlaku.Jatuh tempo pelaporan PPh Pasal 25 adalah paling
lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajakberakhir
F. Sanksi
Pembayaran PPh Pasal 25 yang dilakukan:
1. Setelah tanggal jatuh tempo pembayaran tetapi belum melewati batas akhir
pelaporan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (2a) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 sebesar 2%;
atau
2. Setelah tanggal jatuh tempo pembayaran dan pelaporan, dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2a) dan
denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor
6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009
Contoh:
Wajib Pajak A tergolong sebagai WP OPPT memiliki peredaran usaha
Rp.300.000.00 setahun. Berapakah pajak yang terutang?

PPh WP OPPT
PPh terhitung tahunan
Peredaran usaha
Norma (asumsi 30%)
PTKP (TK/0)
PKP
PPh terutang:
5% x Rp. 50.000.000
15% x 15.700.000
Total PPh terutang
Kredit Pajak OPPT
Kurang Bayar

= 0,75% x Rp.300.000.000
= Rp.2.250.000
Rp.300.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 24.300.000
Rp. 65.700.000
Rp.
Rp.
Rp
Rp
Rp

2.500.000
2.355.000
4.855.000
2.250.000
2.655.000

PISAH HARTA / GABUNG PENGHASILAN


Penggabungan penghasilan dilakukan apabila :
a. Anak yang belum dewasa
Terdapat anak yang belum dewasa yang memiliki penghasilan (belum berumur 18
tahun dan belum menikah berdasarkan penjelasan pasal 8 UU PPh). Penghasilan anak
tersebut digabungkan dengan penghasilan orang tuanya.
b. Istri memiliki penghasilan dari usaha
Berdasarkan prinsip keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis maka seluruh
peghasilan atau kerugian dari wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau
bagian pajak, begitu pula kerugiannya yang berasal dari tahun tahun sebelumnya yang
belum dikompensasikan dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya (pasal
8 ayat 1 UU PPh)
c. Istri mendapatkan gaji lebih dari 1 pemberi kerja
Berdasarkan pasal 8 ayat 1 penghasilan istri yang semata mata dari 1 pemberi kerja
dan penghasilan tersebut berasal dari pekerjaan yang tidak ada hubungan dengan
usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lain, tidak digabung dengan
penghasilan suami.
Penggabungan penghasilan tersebut tidak berlaku apabila :
a. Penghasilan istri semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 pemberi kerja yang telah
dipotong pajak berdasarkan ketentuan pasal 21 UU PPh dan pekerjaan tersebut tidak
ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga
lainnya.
b. Penghasilan suami-istri dikenakan pajak terpisah
Suami istri yang menghendaki pemisahan harta (pasal 8 ayat 2 dan 3 UU PPh). Alasan
pemisahan harta ada 3 macam:
1. Suami istri hidup bersama tetapi mengadakan perjanjian pisah harta (PH) .
2. Suami istri tersebut telah hidup berpisah (HB) berdasarkan putusan hakim.
3. Dikehendaki oleh istri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban
perpajakan sendiri.
Perhitungan Pajak untuk Pisah Harta (PH) dan Hidup Berpisah (HB)
Pisah Harta (PH)
Jika suami-istri mengadakan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan maka besarnya
pajak dikenakan pada masing-masing suami istri sebesar perbandingan penghasilan neto
mereka.
Hidup Berpisah (HB)
Jika suami istri hidup berpisah maka perhitungan penghasilan kena pajak dan pengenaan
pajaknya sendiri-sendiri.