Anda di halaman 1dari 3

GEJALA KLINIS

Miastenia gravis terlihat melalui adanya kelemahan yang berfluktuasi Gejala klinis Ptosis
merupakan salah satu gejala kelumpuhan nervus okulomotorius, seing menjadi keluhan utama
penderita miastenia gravis. Walupun pada miastenia gravis otot levator palpebra jelas lumpuh,
namun ada kalanya otot-otot okular masih bergerak normal. Tetapi pada tahap lanjut kelumpuhan
otot okular kedua belah sisi akan melengkapi ptosis miastenia gravis. Kelemahan otot bulbar
juga sering terjadi, diikuti dengan kelemahan pada fleksi dan ekstensi kepala
Kelemahan otot penderita semakin lama akan semakin memburuk. Kelemahan tersebut
akan menyebar mulai dari otot ocular, otot wajah, otot leher, hingga ke otot ekstremitas.
Sewaktu-waktu dapat pula timbul kelemahan dari otot masseter sehingga mulut penderita sukar
untuk ditutup. Selain itu dapat pula timbul kelemahan dari otot faring, lidah, pallatum molle, dan
laring sehingga timbullah kesukaran menelan dan berbicara. Paresis dari pallatum molle akan
menimbulkan suara sengau. Selain itu bila penderita minum air, mungkin air itu dapat keluar dari
hidungnya (Price, 2008)
Sumber: price Wilson

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
a. Piridostigmin
Dosis awal 4 x 15 mg ( tablet ) stelah 2 hari dtingkatkan menjadi 4 x 30 mg jika perlu dapat
ditingkatkan menjadi 4 x 60 mg. Dosis maksimum 6 table / hari ( 360 mg /hari) Jika tidak
berespons dapat diberi kortikosteroid maupun Azathioprine. Bila Psien usia <45 tahun dengan
AChR + , dapat dipertimbangkan timektomi dini.
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah terapi yang paling lama digunakan dan paling murah untuk pengobatan
miastenia gravis. Respon terhadap pengobatan kortikosteroid mulai tampak dalam waktu 2-3
minggu setelah inisiasi terapi. Durasi kerja kortikosteroid dapat berlangsung hingga 18 bulan,
dengan rata-rata selama 3 bulan (Skeie, 2010).

Kortikosteroid diindikasikan pada penderita dengan gejala klinis yang sangat menggangu,
yang tidak dapat di kontrol dengan antikolinesterase. Dosis maksimal penggunaan kortikosteroid
adalah 60 mg/hari kemudian dilakukan tapering pada pemberiannya.

c. Azathioprine
Azathioprine biasanya digunakan pada pasien miastenia gravis yang secara relatif
terkontrol tetapi menggunakan kortikosteroid dengan dosis tinggi. Azathioprine dapat dikonversi
menjadi merkaptopurin, suatu analog dari purin yang memiliki efek terhadap penghambatan
sintesis nukleotida pada DNA dan RNA. (Skeie, 2010)
Azathioprine diberikan secara oral dengan dosis pemeliharaan 2-3 mg/kgbb/hari. Pasien
diberikan dosis awal sebesar 25-50 mg/hari hingga dosis optimafl tercapai. Azathioprine
merupakan obat yang secara relatif dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh dan secara umum
memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat imunosupresif lainnya.

Timektomi
Kelenjar Timur Memproduksi T Limfosit yang berperan dalam system imun. Ada penderita
Miastenia Gravis,kelenjar tymus dapat mengalami peningkatan jumlah sel ( hyperplasia timus)
atau tumor ( Tinoma ), sehingga merangsang, pembentukan antibody berlebihan. Tindakan
Timektomi terbukti meperbaiki kondisi klinis paseien MG.
Plasmaferesis ( Plasma Exchange)
Efektif sebagai terapi jangka pendek pada pasien MG dengan exaserasi akut. Pada
Plasmaferensis dilakukan pengantian darah dengan sel darah merah merah, sehingga plasma
darah dibuang dan diganti dengan suplemen yaitu human albumin dan arutan normal salin
Skeie G.O, Apostolski A., et al, 2010, Guidelines for treatment of autoimmune neuromuscular
transmission disorders. European Journal of Neurology. :10; 1-7. Available from:
http://onlinelibrary.wiley.com/store/10.1111/j.1468-1331.2010.03019.x/asset/j.14681331.2010.03019.x.pdf?

v=1&t=i8y30ff4&s=6ec52510722ce14906180094e896f6767966c2f1 [ Accesses : 25 April


2015]