Anda di halaman 1dari 2

HATI YANG LUNAK

Beberapa tahun dalam kehidupanku, selalu dihiasi oleh pertengkaran pikiran dan
perasaan. Setiap hari aku menduga bahwasanya aku bukanlah aku, karena aku berfikir jika aku
adalah aku tentu apa yg kulakukan sesuai keinginanku, mungkin karena aku telah kehilangan
keinginan-keinginan. Aku terus mencari tahu apa penyebab surutnya keinginan-keinginan
didalam hatiku, namun aku terhalang oleh tipuan pemikiran tentang dua sisi yg berlawanan, satu
sisi jika aku menumbuhkan keinginan maka aku akan menjadi budak oleh keinginanku itu,
namun demikian, aku pasti semangat mengejarnya, disisi yg lain jika aku tidak mempunyai
keinginan-keinginan hidupku mungkin akan lebih tenteram namun aku tentu merasa hampa yg
tak berkesudahan, sampai datangnya kejutan kematian. Disinilah perputaran perjalanan pikiran
dan perasaanku terus-menerus dan berulang-ulang. Setiap kejadian yg kudapatkan dari
sekelilingku selalu kuhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan, apa sebenarnya akhir dari semua
yg dilakukan manusia? Apa sebenarnya yg sedang diperjuangkan setiap manusia?
Tentulah ada rumusan yg universal, yg dengan itu dapat mengikat semua perjalanan
hidup manusia. Oleh karena itu, aku sangat memerlukan sesuatu yg dapat dijadikan pedoman dan
panutan. Dan kemudian aku mulai mempelajari sesuatu yg pada awalnya terasa amat rumit,
kemudian satu persatu mulai nampak jelas, semuanya ternyata telah tertulis dalam setiap helai
kehidupan, namun karena banyaknya aku perlu menarik suatu kesimpulan. Dari semua pelajaran
yg kudapatkan itu, maka hari ini ada beberapa hal yg dapat kupikirkan :
1. Perjuangan adalah alasan yg paling masuk akal atas segala cerita kehidupan

2. Oleh karena itu, perlulah setiap manusia mempunyai susuatu yg harus diperjuangkan
secara konsisten, terus-menerus baik dalam keadaan sempit, lapang, sedih maupun
bahagia.
3. Sesuatu yg diperjuangkan oleh manusia itu haruslah yg paling baik, paling tinggi, paling
berarti, paling penting dan paling pasti adanya diantara semua yg ada.
4. Untuk mengetahui hal ini, manusia harus mempunyai ilmu, yg dg ilmu mengantarkannya
pada tingkat pemahaman yg tertinggi sehingga cukup untuk mengetahui hakikatnya. Hal
ini bukan berarti setiap manusia harus mengetahui semua ilmu pengetahuan.
5. Semua ini tidak akan pernah mampu dimengerti, tidak akan pernah didapatkan jika

sebelumnya manusia tidak pernah melunakkan hatinya sendiri. Hatinya yg lunak adalah
kunci satu-satunya untuk merangkul dirinya sendiri dan meraup alam semesta. Dengan
demikian dari hati yg lunak ini, akan muncul kepandaian dan sifat-sifat kebajikan, cinta
dan kasih sayang, kejujuran, keadilan, kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan,
kesungguhan, keikhlasan dan lain sebagainya.