Anda di halaman 1dari 16

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Kebijakan Remunerasi Pegawai Negeri Sipil DKI Jakarta


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perilaku dan Pengembangan Organisasi
Dosen pengampu : Muhamad Azinar S.KM, M.Kes

Kelompok 2
Fariza Ardhia Guninda

6411412090

Niken Amran

6411412192

Atika Dyah Saputri

6411412105

Rizky Fadilah Novalia

6411412107

Lailatul Qodriyah

6411412117

Putri Permatasari

6411412120

ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN


JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam sebuah organisasi upaya untuk mengembangkan kemajuan organisasi
tersebut merupakan suatu hal yang penting. Namun seringkali seorang pemimpin
dihadapkan dengan suatu masalah yang membutuhkan ketepatan dalam hal
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang benar akan mengarahkan suatu
organisasi untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama dengan efisien. Oleh
karenanya dibutuhkan suatu keterampilan personal dari seorang pemimpin tersebut
untuk dapat memecahkan suatu masalah dengan tepat.
Pengambilan keputusan adalah tindakan pemilihan alternatif yang berlangsung
dalam suatu sistem. Setiap pemimpin pasti mempunyai teknik pengambilan keputusan
tersendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi setiap pengambilan keputusan oleh
seorang pemimpin. Salah satunya ialah gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin
tersebut.
Salah satu pemimpin yang sering disoroti tentang pengambilan keputusannya yang
dianggap kontroversional ialah Basuki Tjahaja Purnama atau sering dipanggil Ahok.
Ahok yang saat ini menjabat sebagai PLT Gubernur DKI Jakarta. Beliau dikenal
sebagai sosok pemimpin yang memiliki gaya bicara yang ceplas-ceplos dan tegas. Ia
bahkan sering membuat peraturan atau kebijakan yang menimbulkan pro dan kontra
dikalangan masyarakat luas.
Salah satu kebijakan Ahok yang menimbulkan kontroversi ialah remunerasi atau
kenaikan tunjangan gaji pegawainya. Ahok tak segan-segan menggaji pegawainya
sampai dengan 12 juta perbulan untuk mereka yang mengikuti aturan yang telah di
tetapkan oleh Ahok dan sebaliknya Ahok tak segan untuk memecat pegawainya yang
tak bisa mengikuti aturan mainnya.
Dari penjelasan diatas, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai
keputusan Ahok menaikkan gaji pegawainya yang dinilai oleh banyak kalangan terlalu
besar tersebut. Serta mengkajinya dengan beberapa teori tentang pengambilan
keputusan yang sudah ada.
1.2.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat diambil permasalahan
yaitu:
1) Apa yang dimaksud dengan pengambilan keputusan dalam organisasi?
2) Apa tujuan pengambilan keputusan?
3) Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam organisasi?
4) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam
organisasi?
5) Apa saja jenis-jenis pengambilan keputusan dalam organisasi
6) Bagaimana pengambilan keputusan berdasarkan kasus keputusan Ahok tentang
remunerasi gaji PNS DKI Jakarta?
1.3. Tujuan
1) Untuk mengetahui maksud dari pengambilan keputusan dalam organisasi
2) Untuk mengetahui pengambilan keputusan
3) Untuk mengetahui proses pengambilan keputusan dalam organisasi
4) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
dalam organisasi
5) Untuk mengetahui jenis-jenis pengambilan keputusan dalam organisasi
6) Untuk mengetahui cara pengambilan keputusan berkaitan kasus keputusan Ahok
tentang remunerasi gaji PNS DKI Jakarta

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi


Teori keputusan adalah teori mengenai cara manusia memilih pilihan diantara
pilihan-pilihan yang tersedia secara acak guna mencapai tujuan yang hendak diraih.
Teori keputusan dibagi menjadi dua, yaitu : (1) teori keputusan normatif yaitu teori
tentang bagaimana keputusan seharusnya dibuat berdasarkan prinsip rasionalitas, dan
(2) teori keputusan deskriptif yaitu tentang bagaimana keputusan secara faktual dibuat.
(Salusu, 2004)
Pengambilan keputusan adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan
ataupun upaya untuk memecahkan masalah. Keputusan ini diambil setelah melalui
beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada
beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan dalam
pengambilan keputusan meliputi identifikasi masalah utama, menyusun alternatif yang
akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik. (Salusu, 2004)
Pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi individu
maupun organisasi. Mengambil keputusan kadang-kadang mudah namun seringkali
sulit. Kemudahan atau kesulitan mengambil keputusan tergantung pada banyaknya
alternatif yang tersedia. Semakin banyak alternatif yang tersedia maka semakin sulit
pula dalam mengambil keputusan.
Keputusan yang di ambil memiliki tingkat yang berbeda-beda. Ada keputusan yang
tidak terlalu berpengaruh terhadap organisasi, tetapi ada sebuah keputusan yang dapat
menentukan kelangsungan hidup organisasi. Oleh karena itu, hendaknya mengambil
keputusan dengan hati-hati dan bijaksana. (Albino, 2013)
2.2 Tujuan Pengambilan Keputusan
Tujuan pengambilan keputusan adalah untuk menyelesaikan masalah atau setidaktidaknya dapat mempersempit atau memperkecil masalah. Tujuan pengambilan
keputusan ini umumnya dibedakan menjadi 2 yakni : pertama adalah tujuan bersifat
tunggal yaitu tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila yang
dihasilkan hanya menyangkut satu masalah artinya sekali diputuskan dan tidak akan

ada kaitannya dengan masalah lain. Dan yang kedua adalah tujuan bersifat ganda yaitu
tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang
dihasilkan itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang
diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang bersifat kontradiktif
atau bersifat tidak kontradiktif. (Ayun, 2014)
2.3 Proses Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
Proses pengambilan keputusan didefinisikan sebagai langkah yang diambil oleh
pembuat keputusan untuk memilih alternatif yang tersedia. Adapun langkah sistematis
yang harus dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Masalah
Seseorang mula-mula harus menyadari dan menepatkan diri sebagai pimpinan
dalam suatu organisasi yang harus bertanggung jawab sebagai pimpinan organisasi.
Sebagai pimpinan harus memutuskan sesuatu jika dalam organisainya itu terdapat
masalah.
2. Klasifikasi Masalah
Masalah yang dihadapi lebih dahulu harus dianalisa, mengingat bahwa masalah
itu mempunyai bermacam-macam sifat, bentuk dan kopleksitasnya.
3. Mencari dan mengembangkan alternatif.
Altenatif atau pilihan juga harus dianalisa dan dikembangkan sesuai dengan
situasi yang mempengaruhi baik organisasinya maupun masalah itu sendiri.
4. Analisa Alternatif
Kemudian perlu menganalisa keputusan itu sendiri yang harus dibuatnya,
terutama yang adianalisa adalah alternatif-alternatif yang dikemukakan dengan
konsekuensi masing-masing. Untuk kemudian dipilih satu diantara alternatif tersebut
yang dianggap paling tepat.
5. Pengambilam Keputusan
Setelah keputusan diambil maka keputusan itu kemudian dialaksanakan.
Keberhasilan pelaksanaan keputusan itu akan saling terpengaruh dari jiwa
kepemimpinan dan manajemen dari pimpinan yang bersangkutan .
6. Memantau dan mengevaluasi hasil pelaksanaan keputusan.
Setiap langkah pelaksanaan keputusan harus diikuti dengan evaluasi. Setiap
langkah diadakan pemantuan, hasilnya segera dievaluasi untuk menentukan apakah
pelaksanaan itu masih sesuai dengan yang diharapkan.
Cara lain untuk memahami tindak komunikasi dalam organisasi adalah dengan
melihat bagaimana suatu organisasi menggunakan metode tertentu untuk mengambil
keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Dalam dataran teoritis, kita mengenal
empat metode pengambilan keputusan, yaitu kewenangan tanpa diskusi (authority rule

without discussion), pendapat ahli (expert opinion), kewenangan setelah diskusi


(authority rule after discussion), dan kesepakatan (consensus).
1.) Kewenangan Tanpa Diskusi
Metode pengambilan keputusan ini sering kali digunakan oleh para pemimpin
otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa
keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika organisasi tidak mempunyai waktu yang
cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini cukup
sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan
berkaitan dengan persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk
mendapatkan persetujuan para anggotanya.
Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering
digunakan, ia akan menimbulkan persoalan, seperti munculnya ketidak percayaan
para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena
mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila
dibuat

secara

bersama-sama

dengan

melibatkan

seluruh

anggota

kelompok,daripada keputusan yang diambil secara individual.


2.) Pendapat Ahli
Seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli
(expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik,
apabila seorang anggota organisasi yang dianggap ahli dan memang benar-benar
tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah
masalah yang sederhana, karenasangat sulit menentukan indikator yang dapat
mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang
yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik; untuk membuat keputusan,
namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran
tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar
ahli adalah persoalan yang rumit.
3.) Kewenangan Setelah Diskusi
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila
dibandingkan dengan metode yang pertama. Karena metode authority rule after
discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota organisasi
dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan yang diambil

melalui metode ini akan mengingkatkan kualitas dan tanggung jawab para
anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam
pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari proses diskusi yang
terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota organisasi sangat
diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari
pimpinan, kelompok masih berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu pada
anggota organisasi akan bersaing untukmempengaruhi pengambil atau pembuat
keputusan. Artinya bagaimana para anggota organisasi yang mengemukakan
pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi
pimpinan

kelompok

bahwa

pendapatnya

yang

perlu

diperhatikan

dan

dipertimbangkan.
4.) Kesepakatan
Kesepakatan atau konsensusakan terjadi kalau semua anggota dari suatu
organisasi mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan keputusan ini
memiliki keuntungan, yakni partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi akan
dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung
jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu metode
konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan persoalanpersoalan yang kritis dan kompleks.
Namun demikian, metodepengambilan keputusan yang dilakukan melalui
kesepakatn ini, tidak lepas juga dari kekurangan-kekurangan. Yang paling
menonjol adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama,
sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau
darurat.
Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman,
tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa
satu metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya.
Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu,
bergantung pada faktor-faktor:
1.
Jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan,
2.

Tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan

3.

Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam


mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut.

2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi


Secara umum pengambilan keputusan dipengaruhi oleh:
1. Adanya pengaruh tekanan dari luar.
Adanya pengaruh tekanan dari luar merupakan suatu proses yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan, dikarenakan proses cepat atau
lambatnya pembuat keputusan tergantung dari banyaknya tekanan diterima.
Kadang pembuat keputusan ragu-ragu dalam menentukan, namun adanya
pengaruh tekanan dari luar dapat mempercepat keputusan yang diambil. Hal
ini dikarenakan tidak adnaya ketegasan dari pemimpin organisasi dalam
penyelesaian masalah.
2. Adanya pengaruh kebiasaan lama atau sifat-sifat pribadi (Konservatisme)
Factor sifat baik maupun tidak baik yang ada dalam diri seorang pembuat
keputusan, merupakan hal yang dapat mempengaruhi keputusannya tersebut.
Dalam hal ini seseorang pembuat keputusan akan terbiasa dengan sifat
pribadinya. Hal ini dapat dilihatdari sisikepribadian seseorang pimpinan,
bagaimana dia mengabil sebuah keputusan dalam menghadapi masalah. Tentu
seorang pemimpin organisasi harus bijaksana dalam bersikap ketika ada
masalah dan mengambilan keputusan.
3. Adanya pengaruh dari kelompok luar
Kelompok lain juga dapat mempengaruhi suatu keputusan dikarenakan
kelompok atau organisasi tersebut mempunyai keputusan yang dapat
dipertimbangkan oleh pemimpin organisasi lain dalam menyikapi masalah dan
pengaruh kelompok lain ini juga dapat menjatuhkan organisasi serta
mementingkan kepentingan kelompok tersebut.

4. Adanya pengaruh keadaan masa lampau (Pengalaman)


Faktor pengalaman seorang pembuat keputusan adalah hal yang sangat
penting, karena banyaknya pengalaman orang tersebut maka ia akan berani
dalam menentukan keputusan. Hal ini juga berkaitan terhadap keahlian yang
dimiliki oleh pemimpin atau anggota karena pengalaman yang pernah
dialaminya.
Sementara menurut John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) faktor-faktor yang
berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah :
1) Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau
kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan
rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan
kesenangan.
2) Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi
secara subjective.
3) Rasional
Didasarkan pada

pengetahuan

orang-orang

mendapatkan

informasi,

memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.


4) Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan.
Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui
kemampuanya dalam bertindak.
5) Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu
orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6) Structural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin
memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku
tertentu.
2.5 Jenis-jenis Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
Jenis-jenis pengambilan keputusan yang terdiri dari (Albino, 2013):
1. Pengambilan keputusan berdasarkan Intuisi.
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan yang elbih
bersifat subjektif yakni mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor
kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusan intuisi ini terdapat beberapa
keuntungan, yaitu :
1) Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk
memutuskan

2) Keputusan intuisi lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat


kemanusiaan
2. Pengambilan Keputusan Rasional.
Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalahmasalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan
rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih
bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur
apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai
masyarakat yang di akui saat itu.
3. Pengambilan keputusan berdasarkan Fakta.
Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung
oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan
dengan istilah data da informasi. Kumpulan fakta yang dikelompokkan secara
sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari
data. Dengan demikian, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi
4.

kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.


Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman.
Seringkali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan
menginngat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi.
Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip pengambilan
keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau.
Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya maka pimpinan
langsung melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi
dan kondisi saat ini jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang

sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang ada.


5.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang.
Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang yang dimiliki.
Setiap orang yang menjadi pemimpin dalam organisasi mempunyai tugas dan
wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan
demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Keputusan yang
berdasarkan

wewenang

memiliki

beberapa

keuntungan.

Keuntungan-

keuntungan tersebut antara lain :


1) Banyak diterimanya oleh bawahan.
2) Memiliki otentik.
3) Karena didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanen
sifatnya.

Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata mata akan


menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictstorial.
Keputusan berdasarkan wewenang kadang kala oleh pembuat keputusan sering
melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau
kurang jelas.
6.

Pengambilan Keputusan Terprogram.


Jenis pengambilan keputusan ini.mengandung suatu respon otomatik
terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Masalah yang bersifat pengulangan dan rutin dapat diselesaikan dengan
pengambilan keputusan jenis ini. Tantangan yang besar bagi seorang analis
adalah

mengetahui

jenis-jenis

keputusan

ini

dan

memberikan

atau

menyediakan metode-metode untuk melaksanakan pengambilan keputusan


yang terprogram di mana saja. Agar pengambilan keputusan harus
didefinisikan dan dinyatakan secara jelas. Bila hal ini dapat dilaksanakan,
pekerjaan selanjutnya hanyalah mengembangkan suatu algoritma untuk
membuat keputusan rutin dan otomatik. Dalam organisasi terdapat
kesempatan-kesempatan

untuk

melaksanakan

pengambilan

keputusan

terprogram karena banyak keputusan diambil sesuai dengan prosedur


pelaksanaan standar yang sifatnya rutin. Akibat pelaksanaan pengambilan
keputusan yang terprogram ini adalah membebaskan manajemen untuk tugastugas yang lebih penting. Misalkan : keputusan pemesanan barang, keputusan
7.

penagihan piutang, dan lain-lain.


Pengambilan Keputusan Tidak Terprogram.
Menunjukkan proses yang berhubungan dengan masalah -masalah yang
tidak jelas. Dengan kata lain, pengambilan keputusan jenis ini meliputi prosesproses pengambilan keputusan untuk menjawab masalah-masalah yang kurang
dapat didefinisikan. Masalah-masalah ini umumnya bersifat kompleks, hanya
sedikit parameter-parameter yang diketahui dan kebanyakan parameter yang
diketahui bersifat probabilistik. Untuk menjawab masalah ini diperlukan
seluruh bakat dan keahlian dari pengambilan keputusan, ditambah dengan
bantuan sistem informasi. Hal ini dimaksud untuk mendapatkan keputusan
tidak

terprogram

dengan

baik.

Perluasan

fasilitas

fasilitas

pabrik,

pengembangan produk baru, pengolahan dan pengiklanan kebijaksanaankebijaksanaan, manajemen kepegawaian, dan perpaduan semuanya adalah

contoh masalah-masalah yang memerlukan keputusan-keputusan yang tidak


terprogram. Sangat banyak waktu yang dikorbankan oleh pegawai-pegawai
tinggi pemerintahan, pemimpin-pemimpin perusahaan, administrator sekolah
dan manajer organisasi lainnya dalam menjawab masalah dan mengatasi
konflik. Ukuran keberhasilan mereka dapat dihubungkan secara langsung.
Misalkan : Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting didalam
pengambilan keputusan tidak terprogram. Keputusan untuk bergabung dengan
perusahaan lain adalah keputusan tidak terstruktur yang jarang terjadi.
2.6. Kajian Keputusan Ahok Tentang Remunerasi Gaji PNS DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok merupakan salah satu
pemimpin, lebih tepatnya seseorang yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta saat
ini. Beliau cukup ramai dibicarakan oleh masyarakat karena memiliki retorika dan gaya
kepemimpinan yang berbeda dibandingkan pemimpin lain. Beliau dipandang sebagai
pemimpin yang arogan, tempramen, dan to the point. Berdasarkan gaya
kepemimpinannya, Ahok dapat dikategorikan dalam gaya kepemimpinan otokratis.
Pembawaan Ahok yang tegas dan keras membuat Ahok disegani oleh masyarakat. Hal
tersebut juga berlaku ketika Ahok menyampaikan retorikanya serta pengambilan
keputusannya yang sering kali dinilai keras dan menimbulkan pro dan kontra dalam
masyarakat.
Salah satu contoh keputusan atau kebijkan Ahok yang baru-baru ini menimbulkan
bahan pembicaraan dikalangan masyarakat umum ialah reformasi birokrasi yang
dilakukan oleh Ahok dengan cara menaikan tunjangan gaji Pegawai Negeri Sipil PNS)
di institusi yang dipimpinnya. Kebijakan ini diwacanakan akan diselengarakan mulai
tahun 2015. Tak tanggung-tanggung Ahok dapat menggaji pewagainya yang mau
mengikuti aturannya sebesar 12 juta perbulannya.
Kepada publik Ahok menjelaskan alasanya menetapkan gaji sebesar tersebut ialah
untuk mengurangi korupsi-korupsi anggaran yang digunakan untuk menggaji para PNS
DKI jakarta. Selain itu dikebijakan ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja
para PNS DKI Jakarta dalam memberikan pelayanan keapada masyarakat. Karena
dalam kebijkan ini akan diterapkan sistem point, dimana pegawai yang dapat mencapai
point-point tertentu maka ia akan mendapat gaji yang melebihi gaji pokoknya. Namun

sebaliknya jika pegawainya tidak mampu mendapatkan point yang telah ditentukan ia
hanya bisa membawa gaji sejumlah gaji pokoknya saja dan nantinya juga dapat dipecat.
Berdasarkan dengan teori-teori yang telah dijabarkan diatas pengambilan
keputusan Ahok untuk melakukan remunerasi gaji pewagainya merupakan suatu
keputusan yang berkaitan erat dengan keberlangsungan institusi yang dipimpinnya.
Dimana dengan diterapkannya sistem target point tersebut akan mengubah kebiasaan
buruk PNS DKI jakarta yang selama ini dinilai kurang dalam melakukan pelayanan
terhadap masyarakat. Dengan adanya remunerasi ini menurut Ahok juga dapat
menghemat anggaran untuk penggajian para PNS DKI Jakarta tersebut.
Menurut metode penerapannya keputusan Ahok ini dianggap condong pada metode
kesepakatan tanpa diskusi. Dimana metode ini lebih sering diterapkan oleh pemimpinpemimpin yang dianggap bergaya otokratik seperti Ahok tersebut. Dalam pengambilan
keputusan ini dirasa Ahok tidak mensertakan semua elemen yang ada baik dari
pegawainya sendiri maupun kementrian-kementrian terkait. Walaupun akhirnya
kebijakan Ahok ini mendapat persetujuan dari Kemendagri namun dalam pratiknya
kebijakan Ahok ini juga mendapatkan teguran dari Kementerian Pendayagunaan
Aparatur Negara- Reformasi Birokrasi (Kemenpan- RB). Dalam sebuah berita
dikatakan bahwa menteri Pendayagunaan Aparatur Negara- Reformasi Birokrasi secara
khusus mengirimkan surat keapada Ahok mengenai keputasannya tersebut yang dinilai
dapat menimbulkan kecemburuan kepada daerah lainya di Indonesia.
Jika dilihat dari jenisnya kebijakan Ahok ini merupakan sebuah keputusan yang
berkesinambungan

anatara

keputusan

yang

berdasarkan

rasional,

keputusan

berdasarkan fakta, dan keputusan berdasarkan wewenang. Keputusan ini dinilai rasional
jika kita nilai dari sistem yang diterapkan yakni seorang pegawai akan mendapatkan
gaji yang besar jika kinerjanya bagus dan sebaliknya. Keputusan ini berdasarkan fakta
karena selama ini banyak PNS yang menerima gaji buta, ia hanya sedikit kerja namun
masih mendapatkan tunjangan-tunjangan yang ada serta adanya evaluasi honorium
setelah penerapan sistem e-budgeting oleh Pemprov DKI ditemukan banyak kegiatan
yang tidak efisien serta hanya membuang anggaran secara percuma. Dilihat dari
keweangannya kebijakan tersebut memang berhak diambil oleh Ahok sebagai seorang
pemimpin dalam organisasi dalam hal ini sebagai Gubernur DKI Jakarta) mempunyai

tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan
demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengambilan keputusan adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan
ataupun upaya untuk memecahkan masalah. Keputusan ini diambil setelah melalui
beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Proses pengambilan keputusan
diawali dengan identifikasi masalah, klasifikasi masalah, mencari dan mengembangkan
alternatif, analisa alternatif, pengambilan keputusan dan memantau dan mengevaluasi
keputusan.
Gaya kepemimpinan juga berpengaruh dalam menentukan pengambilan keputusan.
Seperti contoh diatas, pemimpin yang saat ini sering disoroti yakni Basuki Tjahaja
Purnama atau Ahok yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dikenal
sebagai pemimpin yang tegas dan bergaya kepemimpinan otokratik. Dalam beberapa
pengambilan keputusannya Ahok sering kali dinilai terlalu berani. Tak terkecuali
keputusan atau kebijakannya untuk meremunersai gaji PNS di lingkungannya.
Kebijakan tersebut dinilai diambil dengan cara memutuskan secara tidak berdiskusi
dengan beberapa pihak terkait. Cara ini memang identik dengan gaya seorang
pemimpin yang dianggap otokratik seperti Ahok.

DAFTAR PUSTAKA
Albino.D, 2013, Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi, Universidade De Paz : Timor
Leste
Anonim. 2012, Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan : Decision
Making. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Ayun, Sriatmi, 2014, Pengambilan Keputusan. UNDIP
Fellyan, Dessy, dk, 2014, Retorika dan Gaya Kepemimpinan Ahok dalam Penegakan
Kebijakan di Jakarta, Malang, Universitas Brawijaya.
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, eight edition. Jakarta : Erlangga
Salusu. 2004. Pengambilan Keputusan Stratejik, edisi 7. Jakarta : Grasindo.
https://psychosystem.wordpress.com/2011/02/09/pengambilan-keputusan/ di akses tanggal
02-04-2015 pukul 10.25 WIB
https://thekicker96.wordpress.com/proses-pengambilan-keputusan-dalam-organisasi/ di akses
tanggal 02-04-2015 pukul 19.47 WIB
http://www.koran-jakarta.com/?28821-ahok%20tak%20tanggapi%20teguran%20kemenpanrb / di akses pada tanggal 02-04-2015 pukul 20.56 WIB
http://www.beritasatu.com/megapolitan/230547-ini-alasan-basuki-wacanakan-gaji-pns-dkirp12-juta.html / di akses pada tanggal 02-04-2015 pukul 20.45 WIB