Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA MENDERITA TB PARU


PENGOBATAN BULAN KE 5 DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2

Diajukan guna memenuhi tugas Kepaniteraan Senior


Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro

Disusun oleh :
MELINDA DWI HARDIYANTI
ABRAHAM MURYA

22010114210126
22010114210145

ARGO PANDU WIDIGDO

22010114210082

SUCY CALARA

22010114210137

PRAKTEK KEDOKTERAN KLINIK KELUARGA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tuberculosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis.1 Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih
merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Setiap tahun terdapat 9
juta kasus baru dan kasus kematian hampir mencapai 2 juta manusia. Di semua
negara telah terdapat penyakit ini, yang terbanyak di Afrika (30%), Asia (55%),
dan untuk China dan India secara tersendiri 1 sebesar 35%. 2 Laporan World
Health Organization (WHO) (global reports 2010) pada tahun 2009 angka
kejadian TB di seluruh dunia 9,4 juta (8,9 juta hingga 9,9 juta jiwa) dan
meningkat terus perlahan pada setiap tahunnya dan menurun lambat seiring
didapati peningkatan per kapita. Jumlah penderita TB di Indonesia mengalami
penurunan, dari peringkat ketiga menjadi peringkat kelima di dunia, namun hal
ini dikarenakan jumlah penderita TB di Afrika Selatan dan Nigeria melebihi dari
2 jumlah penderita TB di Indonesia.3 Estimasi prevalens TB di Indonesia pada
semua kasus adalah sebesar 660.000 dan estimasi insidensi berjumlah 430.000
kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61.000 kematian
per tahun.4
Keadaan

tersebut

memaksa

semua

stakeholder

yang

terkait

permasalahan TB saling membantu mendukung upaya pemerintah dalam


menanggulangi TB di Indonesia. Ada banyak pilihan peran yang tersedia dan
menjadi salah satu media yang berkontribusi terhadap penurunan kasus TB di

Indonesia, diantaranya (1) Pemerintah dengan perangkat kebijakan dan pemilik


sumber daya publik, bekerja memfasilitasi pelaksanaan program nasional hingga
pada tingkat paling mikro, (2) Penyedia layanan kesehatan dengan memberikan
pelayanan bermutu, (3) Masyarakat dengan berupaya menjalankan perilaku
hidup sehat termasuk berpeluang menjadi agent of change, (4) Pasien dengan
komitmen untuk kesembuhan, (5) Masyarakat dunia dapat berpartisipasi melalui
komitmen bantuan dana dan bantuan pengembangan sistem pengendalian TB di
Indonesia.1
Oleh karena itu, seorang dokter perlu memiliki kemampuan dalam
mengenali kondisi klinis penderita dan memberikan terapi yang tepat, serta
memberikan pembinaan pada penderita TB dan keluarga, sebagai salah satu
upaya dokter sebagai penyedia layanan kesehatan dalam memberikan pelayanan
yang bermutu. Upaya untuk memiliki keterampilan yang baik pada kondisi
tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan melakukan tinjauan kasus
kedokteran keluarga melalui kunjungan rumah seperti yang dilakukan dalam
laporan ini.

1.2 Tujuan
Pada laporan kasus ini dibahas seorang pria 52 tahun dengan TB paru
pengobatan bulan ke 5 dan Diabetes Mellitus tipe 2. Tujuan penulisan laporan
kasus ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan dan pembinaan penderita TB
dengan Diabetes Mellitus melalui pendekatan keluarga.

1.3 Manfaat
Diharapkan laporan ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran
kedokteran keluarga dan praktek secara langsung kepada penderita TB dengan
Diabetes Mellitus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tuberculosis
2.1.1 Definis Penyakit Tuberculosis
Penyakit tuberculosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis.1
2.1.1 Patogenesis
A. Tuberkulosis primer
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik, yang
disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mugkin timbul di
bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang
primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah
bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan
limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini
akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :

Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya. Salah satu contoh adalah


epituberkulosis, yaitu suatu kejadian dimana terdapat penekanan
bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang
5

membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas


bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan
menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang
atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis
tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.

Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke

paru sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus


Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian penyebaran ini
sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi basil.
Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapi bila tidak
terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan
cukup

gawat

seperti

tuberkulosis

milier,

meningitis

tuberkulosa,

typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan


tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir
dengan :

Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan


terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis,
tuberkuloma) atau

Meninggal

B. TUBERKULOSIS POST-PRIMER
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian
tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post

primer mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk


dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya.
Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat,
karena dapat menjadi sumber penularan. Tuberkulosis post-primer dimulai
dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen apikal dari lobus
superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang
pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan
sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan
cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus
diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam
bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi
aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan
kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju
keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan
menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :
4. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru.
Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang
disebutkan diatas

5. Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut


tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi
mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
6. Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open
healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri,
akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang
terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate
shaped).
2.1.2 Klasifikasi Tuberkulosis
A. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura (selaput paru).
Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi
dalam :
1.

Tuberkulosis Paru BTA (+)

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif

Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif

Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif

2.

Tuberkulosis Paru BTA (-)

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan
kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif serta tidak respons dengan
pemberian antibiotik spektrum luas
8

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan


M.tuberculosis positif

Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum diperiksa
Berdasarkan Tipe Penderita
Tipe

penderita

ditentukan

berdasarkan

riwayat

pengobatan

sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu :


1. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian)
2. Kasus kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis

yang

sebelumnya

pernah

mendapat

pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan


lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif atau biakan positif.
Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran radiologik sehingga
dicurigai lesi aktif kembali, harus dipikirkan beberapa kemungkinan :

Infeksi sekunder

Infeksi jamur

TB paru kambuh

3. Kasus pindahan (Transfer In)


Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu kabupaten
dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Penderita pindahan tersebut
harus membawa surat rujukan/pindah
9

4. Kasus lalai berobat


Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2
minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat. Umumnya penderita
tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.

5. Kasus Gagal

Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan)

Adalah penderita dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik


positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan dan atau
gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan

6. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik
7. Kasus bekas TB

Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada fasilitas)


negatif dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB inaktif,
terlebih gambaran radiologik serial menunjukkan gambaran yang
menetap. Riwayat pengobatan OA T yang adekuat akan lebih mendukung

10

Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan lesi TB aktif,


namun setelah mendapat pengobatan OA T selama 2 bulan ternyata tidak
ada perubahan gambaran radiologik

B. Tuberkulosis Ekstra Paru


Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dll. Diagnosis
sebaiknya didasarkan atas kultur spesimen positif, atau histologi, atau bukti
klinis kuat konsisten dengan TB ekstraparu aktif, yang selanjutnya
dipertimbangkan oleh klinisi untuk diberikan obat anti tuberkulosis siklus
penuh. TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakit,
yaitu :
1. TB di luar paru ringan
Misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang
(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
2. TB diluar paru berat
Misalnya : meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing
dan alat kelamin.
2.1.3 Diagnosis
A. Gambaran Klinik
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan
pemeriksaan penunjang lainnya
Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
1.

respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.


Gejala respiratorik
batuk 3 minggu
batuk darah
sesak napas
11

nyeri dada

Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita
terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam
proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang
pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang dahak ke luar. Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ
yang terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran
yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis
tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis
tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang
rongga pleuranya terdapat cairan.
2. Gejala sistemik

Demam
gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat

badan menurun
Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari
organ yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung
luas kelainan struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit
umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada
umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen
posterior , serta daerah apex lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat
ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah,
ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada
12

auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang
terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah
bening, tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor),
kadang-kadang di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi
cold abscess
Pemeriksaan Bakteriologik
1. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan
untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan
pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan
jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
2. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut- turut atau
dengan cara:
Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain
Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan
pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar (BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH)

dapat dilakukan dengan cara


Mikroskopik
Biakan

3. Pemeriksaan mikroskopik:
lnterpretasi hasil pemeriksaan mikroskopik dari 3 kali pemeriksaan ialah
bila :
2 kali positif, 1 kali negatif Mikroskopik positif
1 kali positif, 2 kali negatif ulang BTA 3 kali
1 kali positif, 2 kali negatif Mikroskopik positif bila 3 kali negatf
Mikroskopik negatif

13

Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala bronkhorst atau


IUATLD
Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral.
Pemeriksaan lain atas indikasi : foto apiko-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada
pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacammacam bentuk (multiform). Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi
TB aktif :
Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas

paru dan segmen superior lobus bawah


Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak

berawan atau nodular


Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas
Kalsifikasi atau fibrotic.
Kompleks ranke
Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura
Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti

proses penyakit
Pemeriksaan Penunjang
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah
lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara
konvensional. Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik baru yang dapat
mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan
teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah
cukup banyak dipakai, kendati masih memerlukan ketelitian dalam
pelaksanaannya.
2. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda a.1:
a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)

14

b. Mycodot
c. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
d. ICT
Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode
radiometrik. M lemak yang kemudian menghasilkan dideteksi growth
indexnya oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan diagnosis.
Pemeriksaan Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairan pleura perlu
dilakukan pada penderita efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis.
Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji
Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat
sel limfosit dominan dan glukosa rendah
Uji tuberkulin
Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB di
daerah dengan prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan prevalensi
tuberkulosis yang tinggi, pemeriksaan uji tuberkulin sebagai alat bantu
diagnostik kurang berarti, apalagi pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai
makna bila didapatkan konversi dari uji yang dilakukan satu bulan sebelumnya
atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali atau bula.
Pada pleuritis tuberkulosa uji tuberkulin kadang negatif, terutama pada
malnutrisi dan infeksi HIV. Jika awalnya negatif mungkin dapat menjadi positif
jika diulang 1 bulan kemudian.
Sebenarnya secara tidak langsung reaksi yang ditimbulkan hanya
menunjukkan gambaran reaksi tubuh yang analog dengan ; a) reaksi
peradangan dari lesi yang berada pada target organ yang terkena infeksi atau b)
status respon imun individu yang tersedia bila menghadapi agent dari basil
tahan asam yang bersangkutan (M.tuberculosis).

15

2.2TuberculosispadaDiabetesMelitus
Meningkatnya risiko TB pada pasien DM diperkirakan disebabkan oleh defek
pada makrofag alveolar atau limfosit T. Wang et al mengemukakan adanya
peningkatan jumlah makrofag alveolar matur (makrofag alveolar hipodens) pada
pasien TB paru aktif. Namun, tidak ditemukan perbedaan jumlah limfosit T yang
signifikan antara pasien TB dengan DM dan pasien TB saja. Proporsi makrofag
alveolar matur yang lebih rendah pada pasien TB yang disertai DM, seperti yang
ditemukan dalam penelitian ini, dianggap bertang- gungjawab terhadap lebih
hebatnya perluasan TB dan jumlah bakteri dalam sputum pasien TB dengan DM.
Pada penelitian Wang et al didapatkan bahwa pasien DM dengan TB paru
menunjukkan frekuensi yang lebih tinggi terhadap demam, hemoptisis, pewarnaan
sputum BTA yang positif, lesi konsolidasi, kavitasi, dan lapangan paru bawah, serta
angka kematian yang lebih tinggi Penelitian lain yang dilakukan oleh Alisjahbana et
al menemukan adanya beberapa perbedaan manifestasi klinik pada pasien TB yang
juga menderita DM dan pasien TB tanpa DM. Pada pasien TB yang juga DM
ditemukan gejala klinis yang lebih banyak dan keadaan umum yang lebih buruk
(menggunakan indeks Karnofsky).
Berdasarkan kedua penelitian di atas tidak ditemukan adanya perbedaan yang
signifikan manifestasi klinis antara pasien TB yang menderita DM maupun pasien TB
tanpa DM. Dengan demikian pada pasien TB yang juga menderita DM dapat
ditemukan gejala, seperti batuk, batuk berdarah, sesak nafas, demam, keringat
malam, dan penurunan berat badan, namun gejala cenderung lebih banyak dan
keadaan umum lebih buruk. Sedangkan gambaran hasil pemeriksaan darah, radiologi,
dan bakteriologi tidak menunjukkan perbedaan.
2.3 Diabetes Melitus

16

Kadar Gula Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan Diagnosis DM

17

Langkah-Langkah Diagnostic DM Dan Gangguan Toleransi Glukosa

18

BAB III
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

I. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA


1.

Identitas Pasien
Nama

: Tn. D

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 52 tahun

Status Perkawinan

: Sudah menikah

Alamat

: Dusun Jambu RT 003/ RW 001 tempurejo, tempuran


Magelang

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Supir perusahaan

2.

Identitas Kepala Keluarga


Nama

: Tn. D

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 52 tahun

Status Perkawinan

: Sudah menikah

19

Alamat

: Dusun Jambu RT 003/ RW 001 tempurejo, tempuran


Magelang

II.

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Supir perusahaan

PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH


Tn. D memiliki satu istri dan anak prempuan, saat ini Tn. D sedang menderita
sakit TBC paru, identitas kelurarga tersebut dapat dilihat dalam tebel berikut ini :
Tabel 1 Daftar Anggota Keluarga Kandung
No

Nama

Daryoto

2
3

Henny Retna
H
Taufiq

Qurrohman
Janah

Kedudukan
dalam
Keluarga
KK

Jenis
Kelami
n
L

Umu
r (th)

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

52

SD

Sakit

Anak

18

SMAPenp

Supir
Perusahaan
Siswa

Sehat

Anak

32

SD

Wiraswasta

Sehat

Anak

35

SD

Wiraswasta

Sehat

Tn. D tinggal serumah dengan seorang istri dan seorang anaknya dengan identitas
sebagai berikut :
Tabel 2 Daftar Anggota Yang Tinggal Serumah
No

Nama

Kedudukan
dalam
Keluarga
KK

Jenis
Kelami
n
L

Umu
r (th)

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

52

SD

Supir
Perusahaan
Penjual
makanan
lauk-pauk
Siswa

Sakit

Daryoto

Masingudah

Istri

48

SD

Henny Retna

Anak

18

SMA

Sehat
Sehat

III. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH


DILAKUKAN
A. Keluhan Utama
Batuk berdarah
B. Riwayat Penyakit Sekarang
20

ANAMNESIS (autoanamnesis pada Rabu 25 Februari 2015 pukul 19.00


WIB di rumah penderita)
5 bulan yang lalu, pasien mengeluh sering batuk (+), batuk terusmenerus, dahak (+) warna putih kental bercampur darah (+), darah
sejumlah setengah gelas belimbing, darah warna merah segar, berbusa.
Darah keluar setiap kali pasien batuk. Keringat malam hari (+),
penurunan berat badan (+) sejak 5 bulan lalu, namun pasien tidak tahu
berapa. Nafsu makan normal. Sesak nafas (-), demam ngelemeng (+)
hilang timbul. Pasien mengeluh BAB tidak teratur, BAK sering terutama
di malam hari. Pasien memeriksakan diri di RST, sempat dirawat dan
dikatakan menderita TB paru. Pasien kemudian dirujuk ke Puskesmas
Tempuran untuk melakukan pengobatan. Pasien kontrol rutin ke
puskesmas tiap bulan. Saat ini pasien melakukan pengobatan bulan ke-5.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat merokok (+) selama 25 tahun, dalam sehari pasien biasa


menghabiskan 1 bungkus/hari, namun sudah berhenti sejak sakit
TBC

Riwayat sakit diabetes melitus (+) sejak 8 tahun lalu

- Riwayat sakit ginjal sebelumnya (-)


- Riwayat penyakit jantung (-)
D.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat diabetes melitus pada ayah dan ibu penderita (-)

21

E.

Riwayat Sosial Ekonomi :


Penderita bekerja sebagai supir perusahaan dengan penghasilan Rp
900.000.00 perbulan, dan istri bekerja sebagai penjual makanan dirumah
dengan penghasilan Rp 200.000.00. Kesan ekonomi: Kurang.

F. Hasil Pemeriksaan Fisik, tanggal 25 Februari 2015 pukul 20.00 WIB


Seorang laki-laki, umur 52 tahun, BB = 70 kg, TB = 168 cm, BMI = 24,82

Keadaan umum

Kesadaran

: compos mentis

Tanda Vital

: baik

: 120/80 mmHg

: 90x/menit, isi dan tegangan cukup

RR

: 20x/menit

: 36,5 C (aksiler)

Kepala

Mata : Konjungtiva palpebra pucat +/+, sklera ikterik -/-

Telinga

Hidung

Mulut

: Bentuk mesosefal

: Discharge (-), nyeri tekan mastoid (-)


: Discharge (-), nafas cuping hidung (-)
: Bibir pucat (-), sianosis (-)
Tenggorok

: T1-1,faring hiperemis(-), post nasal drip

(-), nyeri telan (-)

Leher

: Trakhea di tengah, pembesaran nnll (-/-)

Thorax : Simetris, retraksi otot pernafasan (-), sela iga


melebar (+), barrel chest (+), sudut angulus costa >90o

Cor

:I

: Iktus Cordis tak tampak


Pa

: Iktus Cordis teraba di SIC V LMCS, kuat


angkat, tidak melebar.

Pe

: Batas atas

: SIC II linea parasternal sinistra

Batas kanan : linea parasternal dektra


Batas kiri

: sesuai iktus cordis

Pinggang jantung tidak mendatar


Kesan : pembesaran jantung kiri
Aus

: SJ I II normal, bising tidak ada, gallop (-)


22

Pulmo
I

: Simetris, statis, dinamis

Pa

: Stem fremitus kanan = kiri, friction fremitus (-)

Pe

: Sonor seluruh lapangan paru, nyeri ketuk (-)

Aus

: Suara dasar vesikuler (+/+)


suara tambahan: ronki basah kasar (+/+) di apex paru,
wheezing -/-, krepitasi -/-

Abdomen :
I

: Datar, venektasi (-)

Au

: Bising usus dalam batas normal

Pe

: tympani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)

Pa

:supel, hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan (-)

Ekstremitas :

Superior

Inferior

Oedema

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

<2/<2

<2/<2

Cappilary Refill
ABI score: 1
G.

Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang


Hasil Laboratorium menunjukan hasil sebagai berikut :
Tabel Hasil Laboratorium (Oktober 2014)
Hematologi
Leukosit

Hasil
9

Normal
5 10

Satuan
Ribu/L

Hemoglobin

11

13 -16

g/dL

Hematokrit

32,9

40 48

Trombosit

194

150 -400

Ribu/L

LED

42

0-15

mm/jam pertama

23

Hasil Pemeriksaan BTA bulan Oktober 2014 menunjukkan bahwa 3


spesimen SPS (+)
Hasil Pemeriksaan BTA bulan Desember 2014 menunjukkan bahwa 3
spesimen SPS (-)
GDP (14 Januari 2015) : 295 mg/dl
H. Rencana Penatalaksanaan
A. Pengobatan TB Paru
o

Pengobatan medikamentosa yang telah diberikan :


OAT Kategori 1, yang terdiri dari 2 tahap, yaitu:
a. Tahap intensif :
Kombinasi dan dosis obat dalam 1 tablet terdiri dari RHZE
(150/75/400/275)
Karena berat badan pasien 70 Kg, maka obat yang harus diminum
adalah 4 tablet/hari selama 56 hari
b. Tahap lanjutan
Kombinasi dan dosis obat dalam 1 tablet terdiri dari RH (150/150)
Karena berat badan pasien 70 Kg, maka obat yang harus diminum
adalah 4 tablet/hari selama 16 minggu

o Terapi edukasi :
Istirahat
Makan secara teratur dan bergizi
Patuh untuk minum obat dan kontrol sesuai jadwal
Bila batuk, mulut ditutup
Penderita tidak meludah di sembarang tempat
Lingkungan sehat (ventilasi cukup)
Anjuran cek sputum anggota keluarga
C. Pengobatan Diabetes Mellitus tipe II
o Pengobatan medikamentosa yang telah diberikan:
Metformin 500 mg/8 jam diberikan setelah suapan pertama

24

o Terapi edukasi:

Perbaiki pola makan, kurangi porsi karbohidrat, perbanyak makan


sayur, kurangi makanan dan minuman manis

Berolahraga secara teratur dengan intensitas 3x seminggu, selama


30 - 45 menit.

Patuh untuk minum obat dan kontrol sesuai jadwal

Terapi edukasi keluarga:


Menyarankan kepada istri penderita untuk mengawasi dan
mendampingi penderita dalam hal minum obat dan kontrol
teratur
Menganjurkan kepada istri penderita untuk memasakkan
makanan yang sesuai dengan pola diet bagi penderita diabetes
Menyarankan kepada istri untuk selalu memotivasi penderita
untuk menjalankan pola hidup sehat seperti mengurangi makan
makanan tinggi lemak, tinggi garam dan istirahat cukup.
I. Hasil Penatalaksanaan Medis
Pada saat kunjungan (25 Ferburari 2015) penderita dalam keadaan baik,
keluhan batuk darah sudah tidak ada.
Faktor pendukung

Faktor penghambat

: - Penderita minum obat teratur


-

Penderita rajin kontrol 1 bulan sekali ke

Puskesmas
Penderita memiliki keinginan untuk sembuh

: Jendela dirumah pasien tidak dapat dibuka, pada


kamar pasien tidak ada jendela sehingga kondisi
rumah pengap dan lembab.

Indikator keberhasilan : Keluhan pasien berkurang


Pemeriksaan SPS (-)

Genogram Keluarga Kandung

25

Keterangan :
1 & 2 Ibu dan ayah penderita
3 Penderita TB Paru
4 Istri pertama
5 Istri kedua
6 anak dari istri pertama
7 & 8 anak dari istri kedua

IV.

IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA


a. Fungsi Biologis
Dari wawancara dengan penderita diperoleh keterangan bahwa kurang
lebih 5 bulan yang lalu penderita mengeluh batuk berdarah. Tetangga di
dekat rumah tidak ada yang menderita keluhan yang sama, namun
tetanggga di sekeliling penderita tidak ada yang memiliki keluhan yang
sama.. Anggota keluarga penderita yang lain tidak ada yang menderita
batuk-batuk seperti penderita.
b. Fungsi Psikologis
Penderita adalah seorang ayah dari 3 orang anak dan seorang istri.
Hubungan penderita dengan tetangga dan orang disekitar baik. Penderita
tinggal bersama 1 istri dan 1 anaknya. Hubungan dengan seluruh anggota
keluarga baik.

26

c. Fungsi Ekonomi
Penderita bekerja sebagai supir perusahaan dengan penghasilan Rp
900.000.00 perbulan, dan istri bekerja sebagai penjual makanan dirumah
dengan penghasilan Rp 200.000.00. Kesan ekonomi: Cukup
d. Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir penderita adalah SD. Penderita tidak melanjutkan
sekolah karena tidak ada biaya. Pendidikan terakhir ibu penderita adalah
lulus SD.
e. Fungsi Religius
Penderita, istri dan anak beragama islam. Penderita menjalankan ibadah di
rumah, sesuai dengan ajaran agamanya. Kadang-kadang penderita ikut
pengajian di masjid dekat rumahnya. Penderita menerima penyakitnya
dengan ikhlas dengan tetap berikhtiar untuk sembuh.
f. Fungsi Sosial dan Budaya
Penderita tinggal di rumah milik pribadi di kawasan pemukiman milik
penduduk. Hubungan dengan tetangga dan masyarakat sekitar rumah
baik.
V. POLA KONSUMSI PENDERITA
Frekuensi makan rata-rata 3x sehari. Penderita biasanya makan di rumah. Variasi
makanan sebagai berikut : nasi, lauk (ikan, tahu, tempe), sayur (sop, lodeh, bayam,
dll), air minum (air putih dan teh). Air minum berasal dari air isi ulang dan air sumur
yang dimasak sendiri. Penderita mengkonsumsi buah 1-2 kali seminggu.
VI.

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN
1. Faktor Perilaku
Keluarga penderita tidak memiliki kebiasaan membuka jendela rumah tiap pagi
hingga sore hari.
2. Faktor Lingkungan
Tinggal dalam rumah yang pencahayaan oleh sinar matahari kurang, serta
sirkulasi udara dalam rumah tidak lancar. Dapur mempunyai saluran
pembuangan asap. Sumber air dari air isi ulang dan air Sumur yang dimasak
sebelum dikonsumsi. Saluran pembuangan air limbah ke selokan yang ada di

27

belakang rumah. Pembuangan sampah dilakukan dengan memanggil pengangkut


sampah.
3. Faktor Sarana pelayanan kesehatan
Terdapat Puskesmas Tempuran yang berjarak 200 m dari tempat tinggal.
4. Faktor keturunan
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti penderita.
VII.

IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH

1. Gambaran Lingkungan Rumah


Rumah pasien terletak di Dusun Jambu RT 003/ RW 001 kec. Tempurejo Kab.
magelang dengan ukuran luas tanah 10 x 30 m2, bentuk bangunan 1 lantai.
Secara umum gambaran rumah terdiri dari 3 kamar tidur. Terdapat 1 kamar
mandi dan mempunyai WC, 1 dapur di bagian samping rumah.

Rumah

beratapkan genteng, dinding dari bata, lantai dari semen dan keramik.
Penerangan dalam rumah dan kamar kurang. Ventilasi dan jendela yang kurang
memadai, yaitu dengan luas < 20% dan tidak dibuka. Cahaya matahari masuk
lewat pintu dan jendela kaca. Sumber air bersih dari air isi ulang dan air sumur,
air minum dimasak sendiri, bak mandi dikuras kadang-kadang. Kebersihan dapur
cukup, ada lubang asap dapur. Pembuangan air limbah ke selokan. Tempat
sampah utama di halaman samping rumah, kemudian diangkut oleh pengangkut
sampah. Tidak mempunyai hewan peliharaan.

28

2. Denah Rumah

WARUNG

TERAS

Ruang tamu

Kamar Tidur

Ruang
TV
Kamar
Tidur

Dapur

Kamar
Tidur

Kamar
Tidur

Kamar
Mandi

VIII.

Ruang
Makan

Mushola

DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi Biologis

Penderita memiliki keluhan batuk berdarah

Penderita didiagnosis TB paru sejak 5 bulan yang lalu

Riwayat penyakit menular dalam keluarga tidak didapatkan.

Riwayat penyakit menular di lingkungan rumah tidak didapatkan.

Penderita didiagnosis Diabetes Melitus Tipe II sejak 8 tahun yang


lalu.

2. Fungsi Psikologi

Hubungan dengan anggota keluarga serumah baik.

Hubungan dengan tetangga dan sekitar rumahnya baik

3. Fungsi Sosial

Dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan baik.

4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan


Keadaan ekonomi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Tidak ditemukan masalah.
29

6. Faktor Perilaku

Keluarga penderita tidak memiliki kebiasaan membuka jendela rumah tiap

pagi hingga sore hari.


Pola makan penderita yang tidak sesuai dengan diet diabetes, penderita
memiliki kebiasaan makan 5 kali sehari dalam porsi besar (nasi putih) dan

sering mengkonsumsi makanan ringan diantara jam makan.


Penderita jarang berolahraga dalam seminggu (<1 kali seminggu)

7. Faktor Non Perilaku


Pencahayaan oleh sinar matahari kurang
Sirkulasi udara dalam rumah tidak lancar
IX.

PERMASALAHAN PADA PASIEN


Berdasarkan hasil kunjungan tanggal 25 Februari 2015 diperoleh permasalahan

sebagai berikut:
Tabel 4 Permasalahan pada pasien dan keluarganya
No.
1

Risiko & masalah


kesehatan
Pekerjaan Tn. D sebagai
supir perusahaan langsung
setiap hari menghirup
polusi dari asap kendaraan
bermotor.

Rencana pembinaan

Dalam bekerja Tn. D tidak


mengenakan masker.

Tn. D tinggal serumah


dengan seorang istri dan
satu orang anak, sehingga
istri dan anaknya beresiko
tertular penyakit serupa

Sasaran

Pasien dan
Menjelaskan
keluarga
pengaruh dari
menghirup polusi
asap kendaraan
bermotor dapat
mengakibatkan
infeksi saluran
pernafasan akut
dan memperberat
batuk yang diderita
Menjelaskan bahwa
dalam bekerja
harus
menggunakan
masker
Pasien dan
Menjelaskan cara
penularan dari TB keluarga
paru dan
mengajarkan cara
batuk yang benar
yakni dengan mulut
ditutup
Menyarankan agar

30

No.

3.

Risiko & masalah


kesehatan

Tn. D tinggal di rumah yang


kurang ventilasi dan
pencahayaan yang kurang
sehingga lembab dan
pengap

Rencana pembinaan

4.

Ny. U bekerja memiliki


usaha warung makan yang
dibuat sendiri, dengan
kebersihan dapur dan
peralatan makan yang
kurang, karena kondisi
dapur yang bersebelahan
dengan kamar mandi dan
kamar tidur penderita

5.

Tn.D memiliki penyakit


Diabetes Melitus tidak
terkontrol

Ny. U dan An. H


melakukan
pemeriksaan
sputum
Menjelaskan bahwa
kuman penyebab
TB paru menyukai
karakteristik tempat
yang lembab dan
pengap
Menjelaskan cara
mengatasinya yakni
dengan membuka
jendela pada pagi
hingga sore hari
Menjelaskan bahwa
penyediaan
makanan dengan
kebersihan alat-alat
masak yang kurang
dapat menimbulkan
mencret

Menjelaskan
tentang diet
Diabetes Melitus
Menjeaskan
penyakit Diabtes
Melitus
memberikan faktor
resiko pada
keturunan.

Sasaran

Pasien dan
keluarga

Pasien dan
keluarga

Pasien dan
keluarga

31

X.

DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA


Genetik

Yankes

Puskesmas Tempuran

Status Kesehatan

TB paru aktif

DM Tipe II

Lingkungan

Ventilasi kurang, jendela tidak dibuka

Perilaku

- Kebiasaan tidak membuka jendela pada pagi hingga sore hari, tidak pernah menutup mulut saat batuk, tidak mengenal masker
- Pasien kurang menjaga pola makan, frekuensi makan 5 kali sehari dengan porsi besar
.

Diagnosa
Aspek I (Personal) :
1. Keluhan Utama : Batuk berdarah
2. Harapan pasien dan keluarga, pasien dapat sembuh.
Aspek II (diagnosis kerja) :

32

Tuberculosis Paru pengobatan bulan ke-5


Diabetes Melitus Tipe II
Aspek III (Faktor Internal) :
1. Genetik : Tidak ditemukan faktor genetik yang dapat mempengaruhi penyakit
pasien.
2. Pekerjaan : Pasien bekerja sebagai supir perusahaan.
3. Gaya hidup : Pasien kurang memperhatikan pola makan tiap hari. Pasien
masih jarang berolahraga.
4. Pola Makan : Pasien masih belum memiliki pola makan yang baik dengan
frekuensi makan rata-rata 5x sehari. Penderita biasanya makan di rumah.
Variasi makanan sebagai berikut : nasi, lauk (tahu, tempe, telur, ayam, ikan),
sayur (bayam, buncis, terong, kangkung), air inum (air putih dan teh ). Air
minum berasal dari air yang dimasak sendiri.
5. Pola istirahat : Pasien biasanya tidur dari jam 22.00 sampai jam 04.30 WIB,
namun pasien sering terbangun pada tengah malam untuk BAK.
6. Kebiasaan

: Pasien sudah tidak merokok sejak 5 bulan yang lalu dan tidak

minum alkohol
7. Spiritual : Pasien beragama Islam menjalankan shalat 5 waktu
Aspek IV (Faktor Eksternal) :
1. Kebiasaan Keluarga : Anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masig,
kebiasaan keluarga rutin membersihkan rumah namun tidak membuka jendela
rumah pada pagi hingga sore hari. Suami bekerja sebagai supir perusahaan
yang bekerja dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Istri bekerja sebagai ibu
rumah tangga dan sebgai penjual makanan di rumah. Anak yang kedua masih
sekolah SMA dan mulai bersekolah sejak pukul 07.00 hingga 14.30 WIB.
Interaksi pasien dengan keluarga baik. Kondisi ekonomi keluarga kurang.
2. Edukasi dari keluarga : Keluarga selalu menyediakan makanan untuk pasien
berupa makanan yang sehat dan bergizi, dan selalu mengingatkan pasien
untuk teratur minum obat dan menjaga pola makan.
Aspek V ( Fungsional) :

33

Kemampuan melakukan aktifitas fisik : pasien termasuk derajat 1 dimana pasien


mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit. Artinya mandiri dalam perawatan
diri, bekerja sehari-hari di dalam dan di luar rumah.
Pengelolaan secara komprehensif:
Promotif :
1. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai komplikasi DM
2. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai penularan TB paru
3. Menghimbau pada keluarga untuk mengingatkan pasien untuk minum obat
TB dan DM secara teratur
4. Edukasi pasien dan keluarga tentang pola hidup sehat serta konsumsi diet
yang tepat pada penderita DM
Preventif :
1. Pemeriksaan gula darah secara teratur setiap bulan
2. Mengatur pola makan yang sesuai dengan diet pada penderita DM
3. Menjaga kebersihan diri dan menghindari luka terutama daerah kaki
4. Hindari rokok dan minuman beralkohol
5. Minum obat DM (metformin) setelah suapan pertama
6. Berolahraga secara teratur minimal 3 kali seminggu dengan lama minimal 30
menit
Kuratif :
1. Minum OAT secara rutin sesuai jadwal
2. Minum obat DM (metformin) setiap kali makan setelah suapan pertama
Rehabilitatif :
1. Untuk mencegah terjadinya komplikasi DM seperti kaki diabetik maka
disarankan selalu menjaga kebersihan kaki dan menggunakan alas kaki setiap
pergi ke luar rumah.
2.

Menjaga pola makan sesuai dengan diet pada penderita DM dan berolahraga
secara teratur.

XI.

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN

34

Hasil kunjungan ke dua pada tanggal 1 Maret 2015 telah di lakukan kegiatan
penjelasan, motivasi dan pemberian leaftlet.
Tabel 5 pembinaan dan hasil kegiatan
Tgl.

Kegiatan yang dilakukan

keluarga yang
terlibat

Hasil kegiatan

1/3/15

-Menjelaskan kepada
pasien dan keluarga
tentang penyakit TB paru,
meliputi penyebab, faktor
memperberat, pencegahan
dan penatalaksanaannya,
dan menjelaskan tentang
pengaruh dari kebiasaankebiasaan penderita
terhadap penyakit yang
dialaminya
Memotivasi pasien dan
keluarga untuk
membiasakan membuka
jendela di pagi hingga sore
hari
Memotivasi pasien untuk
menutup mulut ketika
batuk dan mengenakan
masker saat bekerja

Pasien dan
keluarga

Keluarga memahami
penjelasan tentang
penyakit yang diberikan

Pasien dan
keluarga

Keluarga bersedia
membiasakan diri
membuka jendela rumah
setiap pagi hingga sore
hari
Pasien bersedia
membiasakan diri
menutup mulut ketika
batuk dan mengenakan
masker saat bekerja
Keluarga memahami
penjelasan tentang
penyakit yang diberikan

1/3/15

1/3/15

1/3/15

XII.

Pasien dan
keluarga

Menjelaskan kepada
Pasien dan
pasien dan keluarga
keluarga
mengenai diabetes melitus,
meliputi penyebab, faktor
memperberat, pencegahan
dan penatalaksanaannya,
dan menjelaskan tentang
pengaruh dari kebiasaankebiasaan penderita
terhadap penyakit yang
dialaminya

KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


1. Tingkat pemahaman

: pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan


cukup baik.

35

2. Faktor pendukung

: - Keluarga pasien dapat memahami dan menangkap


penjelasan yang diberikan
- sikap keluarga pasien yang sangat kooperatif

3. Faktor penyulit

Faktor perilaku keluarga pasien yaitu :

Tidak memiliki kebiasaan membuka jendela rumah tiap pagi hingga sore

hari.
Faktor non perilaku :
Tidak memiliki pencahayaan yang cukup didalam rumah.
4. Indikator keberhasilan

: Keluarga pasien mengetahui, berkomunikasi dua


arah

tentang

materi

yang

disampaikan

dan

menyetujui program yang diajukan.

BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
Penatalaksanaan penderita seorang laki-laki 52 tahun, dengan tuberculosis
paru pengobatan bulan ke-5 dan diabetes mellitus tipe II dengan pendekatan
kedokteran keluarga adalah sebagai berikut:
R/ OAT FDC (Rifampicin 150mg dan isoniazid 150mg) kategori I Tablet No. CXCII
S 3 kali seminggu Tab IV
Terapi edukasi :

Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit TB paru,


meliputi

penyebab,

faktor

memperberat,

pencegahan

dan

penatalaksanaanya, dan menjelaskan tentang pengaruh dari kebiasaankebiasaan penderita terhadap penyakit yang dialaminya.

Memotivasi pasien dan keluarga untuk membiasakan membuka jendela di


pagi hingga sore hari.

36

Memotivasi pasien untuk menutup mulut ketika batuk dan mengenakan


masker saat bekerja.

Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai diabetes mellitus,


meliputi

penyebab,

faktor

memperberat,

pencegahan

dan

penatalaksanaannya, dan menjelaskan tentang pengaruh dari kebiasankebiasaan penderita terhadap penyakit yang dialaminya.
IV.2
Perlu

Saran
diberikan

edukasi

komprehensif

kepada

masyarakat

untuk

meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gejala umum dan bahaya


TB paru serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri
sehingga dapat menurunkan kejadian TB paru.

LAMPIRAN FOTO

37

38

39

40

41

42