Anda di halaman 1dari 22

BAB III

DASAR TEORI

3.1 Teori & Pengertian SCADA


3.1.1 Teori SCADA
SCADA adalah singkatan dari Supervisory Control and Data Acquisition,
merupakan pendukung utama dalam sistem ketenagalistrikan, baik pada sisi
pembangkit, transmisi, maupun distribusi. Adanya sistem SCADA memudahkan
operator untuk memantau keseluruhan jaringan tanpa harus melihat langsung ke
lapangan. Ketidakadaan SCADA dapat diibaratkan seseorang yang berjalan tanpa
dapat melihat. Sistem SCADA sangat dirasakan manfaatnya terutama pada saat
pemeliharaan dan saat penormalan bila terjadi gangguan.
Sistem SCADA tidak dapat berdiri sendiri, namun harus didukung oleh berbagai
macam infrastruktur, yaitu:
1. Telekomunikasi
2. Master Station
3. Remote Terminal Unit
4. Protokol Komunikasi

Gambar 3.1 Skema Sederhana Dalam Sistem SCADA

28

Media telekomunikasi yang umum digunakan adalah PLC (Power Line


Communication), Fiber Optik, dan Radio link. Pada awalnya penggunaan radio
link dan PLC banyak digunakan, terutama karena penggunaan PLC yang tidak
memerlukan jaringan khusus namun cukup menggunakan saluran transmisi tenaga
listrik yang ada. Namun pada perkembangannya, penggunaan PLC mulai beralih
ke Fiber Optik dikarenakan kecepatan bit per second yang jauh di atas PLC. Pada
kenyataannya ketiga media tersebut diatas digunakan secara bersama-sama,
sebagai main dan backup.
Master station merupakan kumpulan perangkat keras dan lunak yang ada di
control center. Biasanya desain untuk sebuah master station tidak akan sama,
namun secara garis besar desain dari sebuah master station terdiri atas:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Server.
Workstation.
Historikal data.
Projection mimic, dahulu masih menggunakan mimic board.
Peripheral pendukung, seperti printer logger
Recorder.
Global Positioning System untuk referensi waktu, dahulu

masih

menggunakan master clock.


8. Dispatcher training simulator.
9. Aplikasi SCADA dan Energy Management System.
10. Uninterruptable Power Supply (UPS) untuk menjaga ketersediaan daya
listrik.
11. Automatic Transfer Switch (ATS) dan Static Transfer Switch (STS) untuk
mengendalikan aliran daya listrik menuju master station.

Agar dapat melakukan akuisisi data maupun pengontrolan sebuah Gardu Induk
maka dibutuhkan suatu terminal yang dapat memenuhi persyaratan tersebut, yaitu
Remote Terminal Unit (RTU). Penggunaan RTU berawal dari RTU dengan 8 bit,
hingga sekarang telah dikembangkan RTU dengan 16 bit, bahkan sudah hampir

29

menyerupai sebuah komputer. RTU tersebut harus dilengkapi dengan panel,


transducer, dan wiring.
Pada masa lampau, RTU dikembangkan oleh pabrikan secara sendiri-sendiri, juga
dengan protokol komunikasi yang tersendiri sehingga tidak ada standarisasi.
Sebagai contoh ada RTU dengan protokol komunikasi HNZ, Indactic, dan
sebagainya. Penggunaan protokol yang berbeda-beda ternyata menimbulkan
masalah dikemudian hari ketika akan dilakukan penggantian. Hal ini dikarenakan
produk lama sudah tidak diproduksi lagi, sedangkan produk baru sudah mengikuti
standarisasi. Oleh karena itu dalam pembuatan maupun pengembangan sistem
SCADA harus mengacu pada standarisasi tersebut.
Saat ini telah disepakati standarisasi untuk Protokol Komunikasi antara lain
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

IEC 60870-5-101
IEC 60870-5-102
IEC 60870-5-103
IEC 60870-5-104
IEC 60870-6
IEC 61850 (masih dalam pengembangan).

3.1.2 Pengertian SCADA


SCADA adalah suatu sistem yang dapat memonitor dan mengontrol suatu
peralatan atau sistem jarak jauh secara real time. Tujuannya adalah agar seorang
operator ditransmisi tenaga listrik, disebut dengan dispatcher, dapat melakukan
dan memanfaatkan hal-hal berikut:

30

Telemetering (TM)
Dispatcher memanfaatkan TM untuk kebutuhan pemantauan meter, baik daya
nyata dalam MW, daya reaktif dalam Mvar, tegangan dalam kV, dan arus
dalam A. Dengan demikian dispatcher dapat memantau meter dari
keseluruhan jaringan hanya dengan duduk di tempatnya, tentu saja dengan
bantuan peralatan pendukung lainnya seperti telepon.
Telesinyal (TS)
Dispatcher dapat memanfaatkan TS untuk mendapatkan indikasi dari semua
alarm dan kondisi peralatan tertentu yang bisa dibuka (open) dan ditutup
(close).
Telekontrol (TC)
Dispatcher dapat melakukan kontrol secara remote, hanya dengan menekan
satu tombol, untuk membuka atau menutup peralatan sistem tenaga listrik.
Untuk kepentingan dimaksud di atas, seorang dispatcher akan dibantu dengan
suatu sistem SCADA yang terintegrasi yang berada di dalam ruangan khusus, dan
disebut dengan Control Center. Ruangan tersebut bergabung dengan ruangan
khusus untuk menempatkan komputer-komputer, disebut dengan Master Station.
SCADA yang dioperasikan di control center mencakup berbagai aplikasi yaitu
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Akuisisi data & Supervisory control


Pemantauan data, pemrosesan event (kejadian) dan alarm
Kalkulasi data & Tagging (penandaan)
Perekaman data
Pelaporan

Disamping kebutuhan akan control center, di sisi lain harus disiapkan infrastruktur
pendukung serta peralatan penunjang lainnya, yaitu telekomunikasi, Remote
Terminal Unit (RTU), transducer, dan lain sebagainya. Telekomunikasi digunakan
sebagai jalan komunikasi data maupun suara antara control center dengan site
(lokasi). RTU digunakan sebagai unit terminal untuk mengendalikan, mengakuisisi
data, dan mensupervisi sebuah Gardu Induk, dan selanjutnya mengirimkan data
tersebut ke control center dimaksud.

31

3.1.3 Akuisisi Data dengan RTU dan Control Center


Konfigurasi
Agar dapat berkomunikasi dengan RTU, di control center dibutuhkan suatu
perangkat interface. Perangkat interface ini dahulu disebut dengan nama Front
End, namun pada perkembangannya

disebut dengan nama Sub Sistem

Komunikasi. Sub sistem komunikasi data harus dapat melakukan polling ke RTU
dan control center lain. Polling dapat dianalogikan seperti pengabsenan,
sehingga sub sistem komunikasi akan melakukan pengabsenan secara teratur
sesuai waktu yang ditentukan terhadap RTU. Sub sistem komunikasi data dapat
mendukung beberapa konfigurasi point to point, loop, multipoint, partyline
menggunakan rute utama dan rute alternatif.
Apabila terjadi gangguan pada komunikasi utama, maka perangkat lunak dari
subsistem komunikasi secara otomatis memindahkan ke link komunikasi alternatif
(back-up). Sub sistem komunikasi secara periodik melakukan polling ke RTU pada
link back-up yang diberi tugas sebagai link komunikasi pengganti.
Pemantauan Sub Sistem Komunikasi Data
Sub sistem komunikasi data bertugas memantau link komunikasi dengan RTU.
Dispatcher dapat menampilkan informasi-informasi berikut ini pada tampilan.
Tampilan ini dapat dilihat pada monitor kerja dispatcher yang disebut dengan
Video Display Unit (VDU).

Informasi-informasi yang ditampilkan di VDU berupa status berikut:


a. Status aliran komunikasi dengan setiap RTU.
b. Status dari setiap link komunikasi, misalnya : in service, out of service,
gangguan (faulty).
b. Statistik komunikasi untuk setiap RTU, misal : jumlah data yang baik, jumlah
data yang tidak baik, jumlah pengulangan polling per jam (communication
error).
c. Statistik komunikasi untuk setiap link komunikasi atau kombinasi RTU.
3.2 Supervisory Control
Permintaan Kontrol Oleh Dispatcher

32

Dispatcher dapat melakukan permintaan (request) untuk melakukan kontrol


terhadap suatu Gardu Induk. Sistem SCADA akan memberikan definisi urutan
permintaan kontrol tersebut.
Ada dua jenis urutan yang diberikan oleh SCADA:
1. Urutan yang didefinisikan sebelum permintaan kontrol (seperti pada
konfigurasi database), urutan yang biasa digunakan untuk manuver operasi,
pelepasan tegangan di penyulang, pemindahan transformator atau busbar.
2. Daftar untuk permintaan kontrol secara manual diajukan secara langsung oleh
dispatcher.
Pengolahan Data
Setiap besaran analog di database ditampilkan dalam besaran desimal. Nilai yang
masih kasar dikonversikan ke besaran teknik dengan satu atau dua cara:
1. Translasi linier, konversi nilai yang dipakai menggunakan formula :
Y = ax + b, yang artinya
Y = hasil besaran teknik
a = koefisien skala
x = nilai yang diukur oleh RTU
b = konstanta
Model database diperlukan untuk memasukkan besaran maksimum dan
minimum RTU (yakni : x) dan besaran teknik (yakni : y) yang merupakan
fungsi x. Kemiringan (yakni : a) dan konstanta (yakni: b) merupakan hasil
perhitungan perangkat lunak.
2. Translasi non linier, konversi ditampilkan dalam bentuk kurva.
Konversi non linier dilakukan dengan teknik konversi linier. Akan tetapi,
pemodelan database disederhanakan dengan memasukan nilai titik-titik ke
dalam kurva. Kemiringan dan konstanta akan dihitung oleh perangkat lunak.
Tanda dari besaran desimal dapat di-inverse untuk melengkapi proses konversi
Translasi satuan teknik dan tanda inversi untuk besaran yang akan didefinisikan
dalam database satu per satu.
Pemantauan Telesinyal
Setiap kejadian yang dicatat oleh SCADA disebut sebagai event. Sedangkan semua
indikasi yang menunjukkan adanyaperubahan status di SCADA disebut sebagai
alarm. Semua status dan alarm pada telesinyal harus diproses untuk mendeteksi

33

setiap perubahan status lebih lanjut untuk event yang terjadi secara spontan atau
setelah permintaan remotekontrol dikirim dari control center.
Sequence of Event (SOE)
Untuk mencatat secara lengkap semua kejadian di control center, diperlukan fasilitas
urutan kejadian. Fasilitas ini akan membantumengumpulkan dan merekam sinyal
SOE dari RTU eksisting dan RTU yang baru. Sistem SCADA akan mengolah data
masukan SOE yang diterima dari RTU dan ditampilkan pada VDU di dispatcher.
Hal ini sudah mencakup konversi waktu dan tanggal dari RTU ke waktu/tanggal
SCADA dan menyimpan data SOE di dalam alat perekam, database, sesuai dengan
urutan kronologis.

Pengolahan Alarm dan Event


Proses pada sistem tenaga dan telekontrol yang menyebabkan terjadinya event atau
alarm adalah sebagai berikut:
a. Perubahan status telesinyal single (TSS) dan telesinyal double (TSD).
b. Telemeter yang melebihi batas pengukuran
c. Kegagalan remote kontrol.
d. Gangguan sistem pengolahan data di control center (subsistem komunikasi
data, server, dan workstation)
e. Gangguan RTU dan link telekomunikasi.
f. Gangguan Peripheral / Human Machine Interface.
g. Gangguan dari Master Komputer.
h. Gangguan sistem proteksi.
i. Gangguan meter transaksi energi.
Tampilan Pesan Alarm dan Event
Setiap pesan (message) diikuti sekumpulan informasi mengacu kepada alarm/event:
a. Waktu dan tanggal terjadinya.
b. Nama alat.
c. Status dan besaran pengukuran.
d. Lokasi untuk alarm/event.
e. Deskripsi event.
Semua keterangan alarm dan event akandikumpulkan dalam sebuah catatan log
aktivitas yang umum. Selanjutnya dispatcher dapat memberi keterangan atau
menambah komentar sebagai keterangandari sistem pencatat aktivitas.

34

Pencatatan
Setiap kejadian tentu akan dicatat oleh komputer. Namun pencatatan tersebut juga
dapat dilakukan dengan cara mencetaknya secara terus-menerus pada suatu printer
dot matriks yang disebut dengan nama logger. Logger tersebut digunakan untuk
mencatat :
a. Event sistem tenaga.
b. Pengolahan data dan event sistem telekontrol.
c. Daftar SOE.

Gambar 3.2 Printer Dot Matrik


Walaupun setiap jenis pesan atau laporan dikirim ke logger yang telah ditentukan,
namun juga dimungkinkan untuk mengalihkan proses pencetakan ke logger yang
lain bila terjadi gangguan logger, secara manual atau otomatis. Pengambilalihan
fungsi dilakukan untuk menghindari kehilangan pesan ketika terjadi gangguan
sesaat pada logger.

35

3.3 Kalkulasi Data


Perangkat lunak SCADA digunakan untuk menghitung besaran analog dari hasil
pengukuran maupun status dan alarm dari telesinyal. Kalkulasi ini dapat dilakukan
dengan beberapa operasi berikut:
a. Operasi boolean : AND, OR, NOT.
b. Operasi matematis :
+, -, /, >, <, , ,
Sin, Cos, Tan
Ln, Log, Exp
Min, Max, rata-rata
Besaran absolut
Besaran kalkulasi akan dinyatakan tidak valid (invalid) bila salah satu operand juga
invalid.
3.4 Tagging (Penandaan)
Tagging sangat bermanfaat untuk dispatcher di control center. Tagging digunakan
untuk menghindari dioperasikannya peralatan yang tidak sesuai, juga untuk
memberi peringatan pada kondisi yang diberi tanda khusus tersebut.
3.5 Pelaporan
Tool untuk pembuat laporan adalah menggunakan Relational Data Base
Management System (RDBMS). Tool ini digunakan untuk mencetak laporan
secara otomatis dan periodik setiap setengah jam, satu jam, harian, mingguan, dan
bulanan. Pencetakan juga dapat dilakukan sesuai dengan permintaan dispatcher
pengguna. Fungsi kalkulasi diberikan oleh tool pembuat laporan yang berkaitan
dengan kemampuan RDBMS yang dapat dikembangkan sampai maksimum. Hal ini
termasuk untuk mendefinisikan yang berhubungan dengan kalkulasi (minimum,
maksimum, rata-rata, standard deviasi, integrasi, kurva durasi, dan lain-lain). Data
36

pelaporan yang dihasilkan mempunyai kemampuan dapat dibaca. Pengguna


diberikan kemampuan untuk melihat dan mengubah data laporan.

3.6 Aplikasi SCADA


Bagian utama dari sistem manajemen jaringan SCADA adalah fungsi dasar sistem,
sistem manajemen sumber data, Human Machine Interface dan sub sistem
komunikasi. Dengan aplikasi SCADA, semua fungsi secara bersamaan yang
diperlukan digolongkan untuk supervisi dan pengendalian sistem tenaga listrik.
Aplikasi SCADA berisi fungsi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Telesinyal.
Telemeter.
Telekontrol.
Load Frequency Control (LFC).
Tap changer.
Monitoring.
Pembacaan parameter proteksi
Pembacaan meter transaksi energi

3.6.1 Pengendalian Jaringan


Sistem kontrol jaringan yang modern dapat mengurangi waktu eksekusi dan dapat
meningkatkan keandalan operasional.Pengendalian jaringan dapat dilakukan oleh
dispatcher melalui jaringan komunikasi manapun yang telah dipersiapkan. Untuk
meyakinkan keandalan, konsep pengendalian jaringan meliputi beraneka ragam
fasilitas keamanan tambahan seperti :
a. Pengecekan aneka kondisi interlock.
b. Monitoring keandalan jaringan pada operasi switchingyang direncanakan.
b. Monitoring terhadap perubahan jaringan selama operasi switching.
3.6.2 Manajemen Prosedur Switching
Manajemen prosedur switching memungkinkan pengguna di ruang control center
mempunyai peralatan lengkap untuk menciptakan, memeriksa dan mengeksekusi
operasi switchingdi jaringan (dalam mode proses dan mode studi).

37

3.6. 3 Akuisisi Data Gangguan


Dengan menggunakan akuisisi data gangguan, personel pada control center atau
enjiner sistem dapat menganalisa perilaku sistem dalam jaringan suplai energi
sebelum dan sesudah terjadi gangguan. Data berikut ini dapat disimpan dalam
analisa tersebut :
a. Tampilan sesaat (snapshots).
b. Trenddata.
c. Perubahan status.
3.6.4 Analisa Topologi
Pencarian

topologi

secara

interaktif

dapat

dilakukan

dispatcher

untuk

mendefinisikan peralatan yang terhubung dalam jaringan listrik tegangan di atas


70 kV. Fungsi pewarnaan jaringan mengaturwarna tampilan dari peralatan
bergantung pada berbagai keterangan dariitem atau peralatan tertentu. Bagian
jaringan, grup jaringan (misalnya level tegangan), atau kondisi operasi sistem
(misalnya mati, di-ground-kan, tidak terdefinisi, dan sebagainya) dapat dibedakan
dalam warna yang berbeda.

38

3.7 Pengolahan Data


3.7.1 Akuisisi Data RTU
Data real-time dikumpulkan oleh Sub Sistem Komunikasi RTU yang ditempatkan
di control center, juga bisa berada dilokasi tertentu untuk melakukan scan RTU
gardu induk dan pembangkit tenaga listrik seluruh area. Akuisisi data RTU mampu
mendukung semua kemungkinan yang ditentukan pengguna pada mode operasi
RTU (misalnya: up/down, in-scan/out-of-scan, dan pengujian). Semua alarm dan
pesan kejadian yang dihasilkan oleh SCADA dari data RTU menyertakan nama
gardu induk atau pembangkit tenaga listrik darimana data berasal.
Sebagai tambahan terhadap data yangdikumpulkan dari RTU, database SCADA
harus meliputi ketentuan untuk jenis data berikut:
1. Data analog atau data status hasil perhitungan yang dihasilkan oleh program,
yang pada waktu tertentu dan secara tidak berkala mengkalkulasi nilai-nilai
database berdasar pada nilai databaselainnya. Data yang dihitung dapat
dihasilkan oleh program yang menjadi bagian dari fungsi akuisisi data atau
fungsi operasi sistem tenaga lainnya.
2. Data analog dan data status non-telemeter yang dimasukkan oleh pengguna.
3.7.2 Downloading
Sub Sistem Komunikasi mempunyai kemampuan untuk mendownload semua
nilai, seperti tabel data

dan parameter konfigurasi,yang diperlukan untuk

menginisialisasi dan memodifikasi database RTU. Master station memverifikasi


penerimaan yang benar dari informasi yangdidownload. Downloading dan
verifikasi download dilakukan di dalam struktur protokol komunikasi yang baku.
Downloading informasi ke RTU dilakukan secara manual ke tiap RTU ketika
diaktifkan oleh pengguna.

Setiap perubahan suatu nilai yang dapat didisimpan di dalam master station,
salinan database selama terjadinya kegagalan komunikasi atau interupsi disimpan
dan didownload ke RTU ketika komunikasi tersambung kembali. Kemampuan

39

untuk mendownload perubahan secara tersendiri tanpa melakukan download


secara keseluruhan database yang lebih disukai.
3.7.3 Pertukaran Data
Sub Sistem Komunikasi dapat mengirim berbagai tipe data dengan control center
lain dengan waktu kirim dan waktu tanggap yang ditentukan Master Station. Data
tersebut meliputi data telemeter dan semua informasi lain yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan yang fungsional dari spesifikasi ini. Pertukaran data
mendukung pengumpulan data sistem tenaga real time secara otomatis (termasuk
data yang dihitung dan dimasukkan secara manual) dengan tingkat scan
sebagaimana tuntutan pengguna. Hal ini tidak membatasi pertukaran pesan teks
yang ditentukan pengguna seperti laporan, informasi pemodelan sistem tenaga,
tampilan grafis gardu induk, tampilan tabular, data operasional, dan kode
perangkat lunak. Fungsi pertukaran data menggunakan protokol X-25 dan IEC
60870-6, yang menggunakan model OSI tujuh layer.
Kebutuhan minimum untuk layer aplikasi meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.

MMS ( ISO/IEC 9506) untuk time-critical data.


FTP ( ISO 8571) untuk perpindahan file.
SMTP untuk surat elektronik.
VT ( ISO 9041) untuk emulasi terminal.
SQL ( ANSI/ISO 9075) untuk akses database.

3.7.4 Penggantian Nilai Secara Manual


Nilai transmisi yang hilang atau salah dapat diisi ulang secara manual dengan nilai
yang baru. Nilai saat ini hanya dapat diisi ulang secara manual dengan nilai baru.
Penggantian nilai manual memiliki prioritas paling tinggi dibandingkan dengan
nilai telemetering, nilai masukan dapat diisi ulang oleh enjiner dan dispatcher.
Nilai yang baru mengganti nilai perkiraan. Quality flagsmengontrol prosedur ini.
Setiap tindakan perubahan menyebabkan sebuah pesan masuk ke summary umum.
3.7.5 Pengecekan Ambang Batas
Setiap nilai dapat dicek terhadap set batas atas dan batas bawah. Batasbatas
tersebut didefinisikan melalui fungsi pengaturan sumber data untuk setiap nilai
sebagai persentasi dari nilai nominal. Untuk menghindari pelampauan batas untuk

40

nilai yang bergerak di sekitar batas tersebut, deadband ambang batas yang belum
ditentukan (predefined deadband threshold)digunakan sebagai perbandingan nilai
dengan batas tersebut.
3.8 Supervisory Control Data
Dispatcher dapat mengontrol peralatan sistem tenaga listrik dari setiap konsol
dimana kontrol dapat diotorisasikan. Jika sebuah peralatan tampak pada beberapa
tampilan (misal: diagram gardu induk, pemetaan jaringan), peralatan tersebut dapat
dikontrol dari tiap tampilan yang mendapat otorisasi. Supervisory control selalu
menggunakan operasi dua tahap untuk meyakinkan keamanan operasi, yaitu tahap
pilihan dan tahap eksekusi.
3.8.1 Fasilitas Pengaman
Sistem control center mempunyai fasilitas keamanan untuk supervisory control.
Disamping fasilitas yang standar, seperti otoritas akses dengan menggunakan
password, prosedur keamanan komunikasi khusus RTU, ada beberapa fasilitas
keamanan tambahanyang diberikan untuk mencegah kecelakaan petugas dan
kerusakan peralatan, yaitu:
a. Pengecekan tanggapan dispatcher untuk tiap langkah operasi yang relevan.
b. Pengecekan terhadap beberapa kondisi interlockinguntuk menghindari operasi
kontrol yang gagal.
c. Monitoring terhadap keamanan jaringan untuk aplikasi kontrol yang
d.
e.
f.
b.

direncanakan.
Menghindari interferensi antara operasi kontrol simultan.
Monitoring perubahan jaringan gardu induk oleh dispatcher.
Log indari tindakan supervisory control di dalam summary umum. Setiap
supervisory control memasukkan tanggal, waktu, dan identifikasi user dari
dispatcher.

3.8.2 Kondisi Interlocking

41

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan petugas dan kerusakan peralatan,


perintah kontrol tidak dapat dilakukan tanpa pengecekan terhadap beberapa
kondisi interlocking.
Control center mempunyai kondisi interlockingberdasarkan pada deskripsi
topologi generik dari sistem tenaga listrik. Deskripsi topologi generik ini
merupakan bagian dari operational database (ODB). Untuk mengevaluasi topologi
dari kondisi interlocking, digunakan topologi algoritma dasar yang terdiri dari
tabel-tabel keputusan.
Berikut adalah contoh topologi kondisi interlocking:
a. Cek apakah sebuah isolator (Pms) akan diubah posisi dalam kondisi tidak
berbeban.
b. Cek apakah isolator (Pms) tersebutakan diubah posisi ke tanah.
c. Cek apakah peralatan operasional telah diisolasi sebelum ditanahkan.
d. Cek apakah kegiatan membuka dan menutup peralatan selalu disesuaikan/tag
antara RTU, GPS, dan master station.
3.9 Pengumpulan Data Gangguan
Pengolahan data gangguan merupakan fungsi yang tepat untuk dispatcher dan
enjiner untuk menganalisa kondisi gangguan sebelum dan sesudah gangguan di
dalam sistem tenaga listrik. Analisa ini, disebut Post Mortem Review, menyimpan
tiga kategori data yang berbeda, yang diilustrasikan seperti di bawah ini:
Snapshot data.
Trend data.
Perubahan status.
Apabila terjadi pemicuan gangguan, nomor terdefinisi dari kejadian sebelum dan
sesudah gangguan disimpan secara permanen. Seperti snapshot, trend data gangguan
disimpan sebagai bagian dari rekaman gangguan.

Periode Gangguan
Periode waktu gangguan sistem tenaga listrik dibagi menjadi 3 interval waktu
kontinyu:
42

Periode sebelum gangguan.


Periode gangguan.
Periode setelah gangguan.
Waktu Resolusi Gangguan
Waktu resolusi gangguan adalah lamanya waktu hingga akhir periode gangguan.
Setiap kali pemicu gangguan baru aktif, titik akhir dari periode gangguan direset.
Tiap tipe gangguan memiliki waktu resolusi gangguan sendiri yang ditentukan
dengan update database. Juga, periode sebelum gangguan, waktu tunda aktivasi
gangguan, periode setelah gangguan dan snapshot time setelah gangguan ditetapkan
untuk tiap tipe gangguan.
Pengambilan dan penyajian data gangguan
Data gangguan disimpan dalam arsip gangguan. Arsip data gangguan yang paling
lama tidak akan digunakan dan akan diganti dengan gangguan terbaru. Arsip
gangguan dapat disimpan dalam media penyimpanan yang berbeda seperti optikal
disk (misal: DVD). Metode yang dapat dipergunakan oleh dispatcher untuk
menganalisa data gangguan saat ini adalah :

Menampilkan alarm dengan menggunakan tampilan pesan alarm.


Menampilkan trend data sebagai kurva.
Menampilkan trend data sebagai tabel dalam tampilan tabel.
Menampilkan status seluruh sistem dalam tampilan grafik.
Menampilkan status jaringan dalam tampilan grafis, kejadian demi

kejadian.

Ketiga metode awal dapat dipergunakan pada mode realtime atau studi, sedangkan
metode terakhir hanya dapat dipergunakan padamode studi. Penampilan setiap
metode dapat dilakukan secara bersamaan. Laporan tercetak dari data gangguan
juga dapat dibuat.
3.10 Pewarnaan Topologi Jaringan
Fungsi analisa topologi yaitu :
Mengaktifkan fungsi pewarnaan jaringan.

43

Pewarnaan jaringan diaktifkan secara otomatis setelah kejadian khusus,


misalnya jatuhnya switch (Pmt), dan lain-lain atau setelah perubahan kondisi
switchingyang disebabkan oleh modifikasi topologi jaringan.
Analisa jaringan untuk fungsi Pencarian Interaktif Topologi.
Analisa elemen jaringan untuk aplikasi manajemen jaringan.
Pencarian Topologi Interaktif
Fungsi pencarian topologi interaktif memungkinkan dispatcher untuk meminta
bagian yang dicari dan memilih salah satu atau lebih peralatan operasi pada
tampilan (tampilan skema atau tampilan geografis). Hasil dari pencarian akan
ditampilkan di layar dengan warna khusus. Dispatcher dapat memilih apakah
koneksi listrik berada pada kondisi normal atau tidak normal.
3.11 Dispatcher Training Simulator
Sistem simulator untuk pelatihan dispatcher menggunakan lingkungan terpisah
(disconnectdari sistem on-line), dimana dispatcher menggunakan replika Energy
Management System untuk melatih berbagai fungsi dispatcher secara aman dan
normal termasuk pada kondisi darurat. Simulator ini menghasilkan ulang
karakteristik sistem tenaga dengan cara yang realistik. Simulator ini menyediakan
informasi yang sama seperti pada ruang kontrol yang sebenarnya.
Human Machine Interface (HMI) untuk instruktur dan siswa pelatihan dispatcher
harus sama dengan HMI untuk dispatcher dalam ruang kontrol. Fungsi dasar yang
ada dalam lingkungan simulasi sama dengan fungsi yang digunakan dalam kondisi
normal, yaitu fungsi SCADA dan fungsi sistem tenaga listrik dalam mode real
time dan mode studi.

3.12 Perangkat Lunak


Perangkat lunak sistem mencakup sub sistem berikut ini:
Operating system.
Pemeliharaan perangkat lunak dan tool pengembangan.
Monitoring sistem dan program diagnostik
44

3.12.1 Aplikasi Non Realtime


Data pada offline database server diambil dari historikal data. Server aplikasi non
real time ini terhubung dengan intranet yang mempunyai fasiltas untuk browser
sehingga untuk mengamankannya diperlukan firewall yang canggih. Berikut
adalah aplikasi yang dapat digunakan pada server ini:
Kurva beban : menampilkan kurva beban berdasarkan hasil pengukuran
RTU dan masukan manual.
Laporan gangguan Operasi : beban padam konsumen, penyebab gangguan,
kronologi gangguan, frekuensi sistem dan lama pemulihan gangguan.
Laporan gangguan SCADA : laporan kinerja, jenis alarm, event SCADA
dan alarm telekomunikasi untuk 500 kV dan 150 kV.
SMS : mengirim gangguan yang termasuk prioritas.
Laporan statistik : menyusun laporan setiap jenis gangguan dan
ketersediaan peralatan SCADA.
3.12.2 Perangkat Lunak Pemeliharaan/Pengembangan Sistem
Perangkat lunak ini diperlukan untuk pemeliharaan perangkat lunak aplikasi dan
pengembangan perangkat lunak baru melalui mode khusus, dalam arti tidak
mengganggu aplikasi yang sedang berjalan. Semua fasilitas perangkat keras dan
perangkat lunak diperlukan untuk kreasi, modifikasi, dan debug untuk program
dari semua bahasa pemrograman.

3.12.3 Perangkat Lunak Keamanan Akses Jaringan


Deteksi Adanya Penyusupan
Deteksi penyusupan adalah aktivitas untuk mendeteksi penyusupan secara cepat
dengan menggunakan program khusus. Fungsinya adalah untuk mencatat semua
traffic data yang lewat. Hasil catatan itu dapat diperiksa untuk mengetahui
kehandalan dari sistem yang digunakan dan untuk mengetahui apakah ada orang

45

yang berusaha menembus sistem control center. Fungsi ini mencakup dua buah
pendekatan yaitu pendekatan pencegahan (preemptory) dan pendekatan reaksi
(reactionary). Pendekatan pencegahan, program pendeteksi penyusupan ini harus
dapat memperhatikan semua lalu lintas jaringan. Jika ditemukan paket yang
mencurigakan, maka progran ini harus dapat melakukan tindakan yang perlu.
Pendekatan reaksi, program pendeteksi penyusupan ini hanya mengamati file log.
Jika ditemukan paket yang mencurigakan, program juga harus melakukan
tindakan yang perlu.
Virtual Private Network (VPN)
Informasi pada control center tidak dapat diakses oleh pengguna yang tidak
berhak, sehingga harus diciptakan suatu mekanisme untuk menjaga informasi
bersifat terbatas. Aspek lain dalam VPN yang digunakan pada control center
berupa otentikasi dan identifikasi. Sistem ini dapat mengidentifikasi pihak
diseberang VPN

yang berkomunikasi dengan

control

center. Dengan

menggunakan VPN, maka setiap transfer data antar komputer menunjukkan IP


Address yang tidak sebenarnya (IP Address yang sebenarnya disembunyikan).
Sebaiknya digunakan mesin khusus yang hanya akan menangani VPN. Dengan
demikian mesin VPN tidak dipasang bersama dengan firewall. Mesin VPN ini
berupa

suatu

router

ke

tujuan (jaringan

lainnya). Tujuannya

adalah

menyederhanakan kerja firewall karena hanya membutuhkan aturan filtering


yang lebih sedikit. Sehingga dapat dengan mudah diblok akses dari jaringan
internal langsung ke jaringan eksternal dan sebaliknya, untuk mencegah
kebocoran informasi.
Access Control
Fungsi ini memberikan kontrol terhadap siapa saja yang dapat mengakses file
atau direktori dan hak akses yang dimiliki pengguna tersebut. Fungsi ini mampu
menjalankan tugas sebagai berikut:
Mengijinkan akses
Menolak akses
Melakukan access mask dari pengguna yang tidak sah

46

Melakukan aplikasi ke file dan subdirectory baru dalam sebuah directory


Melakukan aplikasi ke file baru dalam sebuah directory.
Melakukan aplikasi ke subdirectory baru dalam sebuah directory.
Fungsi ini juga dapat melakukan perijinan (permission) sebagai berikut:
Permission untuk membaca file atau directory
Permission untuk menulis ke file atau directory
Permission untuk mengeksekusi atau mencari file atau directory
Fungsi kontrol dapat melakukan identifikasi yang menunjukkan pengguna yang
ditentukan oleh entry. Field identifikasi ini terdiri dari satu user identifier dan
satu grup identifier.
Password
Semua fungsi di control center bersifatrahasia dan diproteksi sehingga harus
memiliki password. Tingkatan proteksi password ini harus berkisar dari view
only sampai dengan full capability.
3.13 Program Diagnostik
Program diagnostik disediakan untuk semua perangkat keras dan perangkat lunak
sistem pemrosesan dicontrol center meliputi:
Semua server dan workstation.
Sub sistem komunikasi data.
Peripheral komputer.
Perangkat local area network (LAN).
Perangkat Human Machine Interface.
Program tersebut dapat secara mudah dioperasikan secara otomatis dengan
prosedur interaktif, laporannya disimpan di historikal data, dan dicetak di printer.
Program diagnostik untuk komponen perangkat keras meliputi:
CPU.
Main memory.
Harddisk drive.
Semua fasilitas Human Machine Interface.
Semua peripheral (logger, laser printer, dan lain-lain).
Komponen perangkat keras LAN.
Komunikasi ke semua RTU.
Komunikasi di luar sistem ( dengan control center lainnya, workstation di
luar control center, link LAN PC, dan lain-lain).
3.14 Database Management System

47

Data Base Management System (DBMS) digunakan sebagai tempat penyimpanan


dan sumber data statik yang menerangkan model sistem tenaga. Sistem tenaga
DBMS digunakan secara bersama-sama untuk menginisialisasi teknik dan
pemeliharaan data. Apabila ada penambahan data baru, data baru tersebut dapat
divalidasi secara on line dalam waktu secepat mungkin, sehingga model sistem
tenaga tersebut akan disimpan dalam file database real time yang akan menjamin
kinerja maupun integritas data.
Dari sudut pengguna, terdapat bermacam-macam mode operasi :
Mode teknik dan pemeliharaan data (mode enjiner) digunakan untuk
memasukkan dan memperbaharui data statik yang menggambarkan model
sistem tenaga.
Mode operasi (mode operator) akan digunakan oleh operator untuk mengatur

proses real time.


3.14.1 Database Real Time
Database real time berupa data variabel yang diperlukan oleh akuisisi real time,
untuk memasukkan datasecara manual oleh operator atau data yang dihasilkan
dari application software processing. Database real time didesain untuk
memenuhi persyaratan kinerja sistem termasuk waktu tanggap operasional dan
kemampuan untuk pengembangan. Selain itu juga memenuhi persyaratan dasar
sebagai berikut :

Menjamin keterkaitan yang sempurna antara pemakai program dalam


mengolah data dan setiap perubahan data harus dapat diterima oleh kedua

perangkat lunak aplikasi (SCADA dan EMS).


Organisasi database didesain untuk mengoptimalkan efisiensi program

yang digunakan.
Waktu akses data memenuhi keperluan untuk kontrol proses secara real
time.

Struktur data base rael time diadaptasikan ke suatu jenis penyimpanan data yang
memenuhi kinerja yang optimal,

yang diperlukan untuk mengakses,

menampilkan kembali, serta memperbaharui data. Perubahan database realtime


dapat dilakukan di semua workstation, namun perubahan tersebut hanya dapat

48

dilakukan oleh enjiner berdasarkan User ID dan password serta mode operasi.
Data dapat dimanipulasi dalam beberapaformat (integer, floating point, character,
logic, dan sebagainya). Fungsi save dan restore mengijinkan pengguna untuk
menyimpan isi database dan mengembalikan data base.
3.14.2 Fasilitas Export Data
Perangkat lunak yang digunakan pada database historikal data dapat diakses
melalui PC yang terhubung pada jaringan di luar LAN. Fasilitas ini diperlukan
untuk mentransfer data real time secara dinamis, yang dikonversikan dalam
format lain ke sistem yang ada. Selanjutnya, fasilitas ini dapat membuka sistem
yang dapat digunakan oleh perangkat lunak PC umumnya, misalnya dapat
digunakan oleh program spread sheet sistem manajemen database. Keamanan
control center tetap dijaga, dengan tidak diberiijin untuk mengakses data real
time dari setiapperangkat lunak yangberoperasi di PC.

49