Anda di halaman 1dari 11

STUDI EPIDEMIOLOGI

CROSS SECTIONAL

1.

Definisi Studi Cross Sectional


Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika
korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi
atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap
subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap
status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti
bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat
mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya
hubungan sebab akibatnya (Notoatmodjo, 2002).
Penelitian cross sectional ini, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada
satu titik waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun
eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel
dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model
atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaan di antara kelompoksampling pada
satu

titik

waktu

tertentu.

Namun

penelitian cross-sectional tidak

memiliki

kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari


populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis
yang mempengaruhinya.
Cross Sectional (potong-lintang) Adalah studi epidemiologi yang mempelajari
prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian)
dengan cara mengambil status paparan, penyakit, atau karakteristik terkait kesehatan
lainnya, secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada suatu saat
(Bhisma Murti, 2003).
Cross Sectional (potong-lintang) adalah studi Epidemiologi yang mempelajari
Prevalensi, Distribusi, maupun hubungan penyakit dan paparan dengan cara
mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik secara serentak pada individu
dari populasi pada satu saat.

2.

Tujuan Studi Cross Sectional


Tujuan studi cross sectional adalah membandingan perbedaan-perbedaan
penyakit antara kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, meneliti hubungan
antara paparan dan penyakit, dan membandingkan proporsi orang-orang terpapar
mengalami penyakit (a/(a+b)) dengan proporsi orang-orang tidak terpapar yang
mengalami penyakit ( c/(c+d))
Dalam rancangan studi potong lintang, peneliti mendapatkan data frekuensi
dan karakter penyakit, serta paparan faktor penelitian pada suatu populasi dan pada
satu saat tertentu. Sehingga data yang dihasilkan adalah prevalensi bukan insiden.
Tujuan studi cross sectional adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan
determinan-determinannya pada populasi sasaran.
Secara garis besar, tujuan penelitian cross sectional adalah sebagai berikut
1) Penelitian cross sectional digunakan untuk mengetahui masalah kesehatan

masyarakat di suatu wilayah, misalnya suatu sampling survey kesehatan untuk


memperoleh data dasar untuk menetukan strategi pelayanan kesehatan atau
digunakan untuk membandingkan keadaan kesehatan masyarakat disuatu saat
dengan
pendekatan cross
sectional digunakan
untuk

2) Penelitian

mengetahuiprevalensi penyakit tertentu di suatu daerah tetapi dalam hal- hal


tertentu prevalensi penyakit yang ditemukan dapat digunakan untuk mengadakan
estimasi insidensi penyakit tersebut. misalnya penyakit yang menimbulkan bekas
sepertivariola karena dari bekas yang ditinggalkan dapat diperkirakan insidensi
penyakittersebut dimasa lalu tetapi akan sulit memperkirakan insidensi
berdasarkan bekas yang ditinggalkan bila bekas tersebut tidak permanen.
3) Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk memperkirakan adanya
hubungan sebab akibat bila penyakit itu mengalami perubahan yang jelas dan
tetap, misalnyapenelitian hubungan antara golongan darah dengan karsinoma
endometrium
4) Bila perubahan yang terjadi tidak jelas dan tidak tetap seperti penyakit yang
menimbulkan

perubahan

biokimia

atau

perubahan

fisiologi

dilakukan

penelitian cross sectional karena pada penelitian ini sebab dan akibat ditentukan
pada waktu yang sama dan antara sebab akibat dapat saling mempengaruhi
misalnya hubungan antara hipertensi dengan tingginya kadar kolesterol darah.
5) Penelitian cross sectional dimaksudkan untuk memperoleh hipotesis spesifik
yang akan diuji melalui penelitian analitis, misalnya dalam suatu penelitian cross
sectional di suatu daerah ditemukan bahwa sebagian besar penderita diare

menggunakan air kolam sebagai sumber air minum. Dari hasil ini belum dapat
dikatakan bahwa air kolam tersebut factor resiko timbulnya diare, tetapi
penemuan tersebut hanya merupakan suatu perkiraan atau hipotesis yang harus
diuji melalui penelitian analitis.
Rancangan Penelitian Cross Sectional :

Tabel Pengamatan Studi Cross Sectional:

Insidence kelompok terpapar (Po) = a/a+b


Insidence kelompok tidak terpapar (P1) = c/c+d
Membandingkan Prevalensi efek pada kelompok E+ dgn kelompok ERasio Prevalens (RP) = a/(a+b) : c/(c+d)
Interpretasi Hasil
1. RP > 1
Variabel independen merupakan faktor risiko
2. RP < 1
Variabel independen mengurangi risiko terjadinya efek
3. RP = 1
Variabel independen yang diduga merupakan faktor risiko terjadinya efek, justru
tidak berpengaruh
Catatan:
Bila 95% Confidence Interval dari PR melalui nilai 1 (mis. 0,762,3), variabel
independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen
3.

Karakteristik Studi Cross Sectional


Adapun karakteristik studi cross sectional adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu


Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding
Hubungan sebab akibat hanya merupakan perkiraan saja
Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis
Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis (Dudiarto &
Anggraeni, 2001)

4.

Jenis Studi Cross Sectional

Berdasarkan tujuannya, studi cross sectional dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :


1) Studi cross sectional deskriptif
Studi ini untuk meneliti prevalensi penyakit, atau paparan, atau kedua-duanya,
pada suatu populasi tertentu. Prevalensi adalah proporsi kasus (individu-individu
berpenyakit) dalam suatu populasi pada satu saat. Karena pengukuran pada satu saat,
maka prevalensi disebut juga prevalensi titik (point prevalence). Prevalensi =
Kasus/ Populasi Total
Studi cross sectional bukan merupakan studi longitudinal, karena tidak
melakukan follow up pengaruh paparan terhadap penyakit. Tetapi sebagai studi
deskriptif, studi cross sectional dapat meneliti prevalensi penyakit selama satu
periode waktu dan menghasilkan data prevalensi periode (period prevalence).
Studi prevalensi period biasanya dilakukan untuk penyakit-penyakit kronis yang
gejalanya intermitten.
Contoh studi kasus :
Prevalensi PJK diantara Kel.Terpapar (Orang yg Tidak Aktif OR) dan Kel. Tak
Terpapar (Yg Aktif)

OLAHRAGA

PJK +

PJK

TOTAL

AKTIF

50 (a)

200 (b)

250 (a+b)

TIDAK AKTIF

50 (c)

750 (d)

750 (c+d)

TOTAL

100

900

1000

Prevalens 1

= a / (a+b) = 50 / 250
= 20%
adalah proporsi PJK diantara orang2 yg aktif OR

Prevalens 2

= c / (c+d) = 50 / 750
= 6,7%
adalah proporsi PJK diantara orang2 yg tidak aktif OR

2) Studi cross sectional analitik

Studi cross sectional analitik mengumpulkan data prevalensi paparan dan


penyakit untuk tujuan perbandingan perbedaan-perbedaan penyakit antara kelompok
terpapar dan kelompok tak terpapar, dalam rangka meneliti hubungan antara paparan
dan penyakit. Perbandingan terhadap perbedaan kelompok merupakan komponen
analitik dari desain ini. Studi ini membandingkan proporsi orang-orang terpapar yang
mengalami penyakit.
Contoh penelitian Cross sectional bersifat analitik yang dikutip dalam Budiarto
(2004) yaitu hubungan antara anemia dengan kelahiran bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR). Pada setiap ibu hamil yang akan melahirkan dilakukan pemeriksaan
Hb kemudian setelah bayi lahir ditimbang berat badannya. Kriteria inklusi adalah
persalinan normal/fisiologis dengan kehamilan yang cukup bulan. Batasan untuk
anemia adalah Hb kurang dari 11gr%.
Hasil dari tabel tersebut menunjukkan bahwa resiko anemia terhadap BBLR 2
kali lebih besar dibandingkan dengan tidak anemia. Resiko atribut (RA) = 0,15
0,08 = 0,07. Ini berarti bahwa resiko BBLR yang dapat dihindarkan bila tidak terjadi
anemia pada ibu hamil sebesar 0,007.
Analisis data yang dilakukan dalam penelitian yaitu dengan uji Chi-Square. Uji
Chi-Square berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel
nominal dan mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel
nominal lainnya.
Dari hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan

antara

anemia

dan

BBLR.

Penelitian

ini

dilakukan

dengan

pendekatan cross sectional karena pengumpulan data dilakukan pada waktu yang
hampir bersamaan, tetapi bersifat analitis karena dilakukan analitis seperti penelitian
kohor. Kelemahan penelitian ini antara lain tidak diketahui apakah anemia terjadi
sebelum hamil atau setelah hamil dan komparabilitas kedua kelompok tidak dapat
dilakukan, misalnya tingkat pendidikan, makanan yang dikonsumsi, sosial ekonomi,
dan lain-lain yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya anemia (Budiarto,
2004).
5.

Langkah-Langkah Studi Cross Sectional


Untuk melakukan penelitian dengan pendekatan cross sectional dibutuhkan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Identifikasi dan perumusan masalah

Masalah yang akan diteliti harus dididentifikasi dan dirimuskan dengan jelas
agar dapat ditentukan tujuan penelitian dengan jelas.
Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengadakan penelaahan
terhadap insidensi dan prevalensi berdasarkan catatan yang lalu untuk mengetahui
secara jelas bahwa masalah yang sedang dihadapi merupakan masalah yang
penting untuk diatasi melalui suatu penelitian. Dari masalah tersebut dapat
diketahui lokasi masalah tersebut berada.
2) Menentukan tujuan penelitians diidentifikasi dan dirumuskan
Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan jelas agar orang dapat
mengetahui apa yang akan dicari, dimana akan dicari, sasaran, berapa banyak
dan kapan dilakukan serta siapa yang melaksanakannya.
Sebelum tujuan dapat dinyatakan dengan jelas, hendanya tidak melakukan
tindakan lebih lanjut. Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting
dalam suatu penelitian karena dari tujuan ini dapat ditentukan metode yang akan
digunakan.
3) Menentukan lokasi dan populasi
Dari tujuan penelitian dapat diketahui lokasi penelitian dan ditentukan pula
populasi studinya. Biiasanya, penelitian cross sectional tdak dilakukan terhadap
semua subjek studi, tetapi dilakukan kepada sebagian populasi dan hasilnya
dapat diekstrapolasi pada populasi studi tersebut.
Populasi studi dapat berupa populasi umum dan dapat berupa kelompok
populasi tertentu tergantung dari apa yang diteliti dan di mana penelitian
dilakukan
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pengumpulan data, sasaran yang dituju
yang disebut subjek studi harus diberi criteria yang jelas, misalnya jenis kelamin,
umur, domisili, dan penyakit yang diderita. Hal ini penting untuk mengadakan
ekstrapolasi hasil penelitian yaitu kepada siapa hasil penelitian ini dilakukan
4) Menentukan cara dan besar sampel
Studi cross sectioanl dianjurkan untuk menggunakan prosedur pencuplikan
random (random sampling) agar deskripsi dalam sampel mewakili (representatif)
populasi sasaran. Mekanisme dasar pencuplikan random adalah pencuplikan
random sederhana (simple random sampling), dimana masing-masing anggota
populasi memiliki probabilitas yang sama dan independen untuk masuk ke dalam
sampel. Karena peneliti mencuplik sampel random dari populasi (pada satu titik

waktu), maka status paparan dan status penyakit dari subyek penelitian terbuka
untuk bervariasi, disebut non-fixed sampling.
Studi ini juga dapat menggunakan teknik pencuplikan random kompleks,
misalnya pencuplikan random berstrata (cluster random sampling) dan
pencuplikan random klaster dengan pembagian populasi menurut strata, lalu
pencuplikan sampel random dari masing-masing strata. Pencuplikan random
klaster dimulai dengan penentuan klaster sebagai unit pencuplikan, lalu mencuplik
klaster-klaster tersebut secara random. Teknik pencuplikan random tersebut lebih
efisien daripada pencuplikan random sederhana.
Prosedur pencuplikan random sederhana dapat digunakan pada studi cross
sectional analitik jika frekuensi paparan maupun penyakit cukup tinggi. Sebab
prosedur itu akan memberikan sampel berpenyakit (kasus) dan tak berpenyakit
(kontrol) dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat dibandingkan dalam
status paparan. Sebaliknya prosedur random sederhana tidak tepat dipilih jika
frekuensi paparan maupun penyakit rendah, sebab sampel yang diambil random
akan memuat subyek berpenyakit maupun subyek tak berpenyakit.
Pada penelitian cross sectional diperlukan perkiraan besarnya sampel dan
cara pengambilan sampel. Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung dengan
rumus Snedecor dan Cochran berikut.
(1) Untuk data deskrit
n= besar sampel
p= proporsi yang diinginkan
q= 1-p
Z= simpangan dari rata- rata distribusi normal standard
L= besarnya selisih antara hasil sampel dengan populasi yang masihh dapat
diterima
(2) Untuk data kontinyu
S2= varian sampel
Cara pengambilan sampel sebaiknya dilakukan acak dan disesuaikan dengan
kondisi populasi studi, besarnya sampel, dan tersediannya sampling frame yaitu
daftar subjek studi pada populasi studi.
5) Memberikan definisi operasional
6) Menentukan variabel yang akan diukur
7) Menyusun instrumen pengumpulan data

Instrument yang akan digunakan dalam penelitian harus disusun dan


dilakukan uji coba. Instrument ini dimaksudkan agar tidak terdapat variable yang
terlewatt karena dalam instrument tersebut berisi semua variable yang hendak
diteliti
Instrument dapat berupa daftar pertanyaan atau pemeriksaan fisik atau
laboratorium atau radiologi dan lain- lain disesuaikan dengan tujuan penelitian
8) Rancangan analisis
Analisis data yang diperoleh harus sudah dirrencanakan sebelum penelitian
dilaksanakan agar diketahui perhitungan yang akan digunakan. Rancangan
analisis harus disesuaikan dengan tujuan penelitian agar hasil penelitian dapat
digunakan untuk menjawab tujuan tersebut.
6.

Kelebihan Dan Kekurangan Studi Cross Sectional


Kelebihan
1)
2)

Mudah dilakukan dan murah, karena tidak memerlukan follow-up.


Efisien untuk mendeskripsikan distribusi penyakit dihubungkan dengan distribusi
sejumlah karakteristik populasi, misalnya umur, jenis kelamin, ras, ataupun status

3)

sosial ekonomi.
Dapat digunakan oleh administrator kesehatan untuk merencanakan fasilitas,

4)

pelayanan, ataupun program kesehata.


Dapat untuk memformulasikan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji dalam

5)

studi analitik lainnya.


Tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat

6)

merugikan kesehatan (faktor risiko)


Tidak ada subyek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang
diperkirakan bermanfaat, bagi subyek yang kebetulan menjadi kontrol.
Kekurangan

1) Tidak dapat dipakai untuk meneliti penyakit yang terjadi secara akut dan cepat
sembuh (durasi penyakit pendek)
2) Tidak dapat menjelaskan apakah penyakit atau faktor resiko (pajanan) yang
terjadi lebih dulu.
3) Sering terjadi penyimpangan berupa bias observasi dan bias respon.
4) Diperlukan subjek penelitian yang besar. Sehingga sulit untuk mengadakan

eksplorasi, karena kemungkinan terdapat subyek studi yang terlalu sedikit dalam
salah satu kelompok;

5) Penggunaan data prevalensi, bukan insidensi menyebabkan hasil study potong

lintang mencermminkan tidak hanya aspek etiologi penyakit tetapi juga aspek
survivalitas penyakit itu. Jika data yang digunakan adalah prevalensi dan telah
terjadi kelangsungan hidup selektif, maka frekuensi penyakit yang diamati akan
lebih besar dari frekuensi penyakit yang seharusnya diukur. Sebaliknya jika data
prevalensi tersebut telah terjadi mortalitas selektif, maka frekuensi penyakit yang
6)
7)
8)
9)

teramati akan lebih sedikit daripada frekuensi penyakit yang seharusnya diukur.
Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case kontrol atau cohort
Tidak menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat.
Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
Kesimpulan korelasi factor risiko dengan factor efek paling lemah.

DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, E. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.

Dudiarto, Eko dan Anggraeni, Dewi. 2001. Pengantar Epidemiologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
Murti, Bhisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Citra: Jakarta.
Sayogo, Savitri. 2009. Studi Cross-sectional Atau Potong Lintang.