Anda di halaman 1dari 23

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul Larutan dan Kelarutan :


Ekstraksi Pelarut yang bertujuan (1) untuk mengetahui perbedaan daya larut zat
terlarut dalam pelarut berbeda, (2) mengenal dan mampu menentukan konsentrasi
dengan metode ekstraksi pelarut. Prinsip yang digunakan dalam percobaan ini
adalah distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara 2 pelarut yang
tidak saling bercampur. Dan metode yang dipakai adalah metode ekstraksi dan
titrasi. Hasil yang diperoleh dalam percobaan ini adalah diketahuinya kadar asam
stearat sebesar 5,68 % yang terkandung dalam sampel 0,1 gram sabun, dan kadar
asam stearat sebesar 11,36 % yang terkandung dalam sampel 0.05 gram sabun.
Dan asam stearat mempunyai daya larut yang berbeda. Saat ditambah kloroform,
asam stearat yang terlarut dalam kloroform berada dibawah, air berada diatas.
Sedangkan pada saat ditambah alkohol, asam stearat larut dalam alkohol berada
diatas dan kloroform berada dibawah. Pada ekstraksi asam stearat dalam sampul
sabun ketika diatambah kloroform, maka asam stearat lebih larut ke kloroform
dari pada ke air. Tetapi setelah ditambah alkohol (etanol) asam stearat lebih larut
ke alkohol dari pada ke kloroform.

PERCOBAAN III
LARUTAN DAN KELARUTAN : EKSTRAKSI PELARUT
I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1. Mengetahui perbedaan daya larut zat terlarut dalam pelarut berbeda.
1.2. Mengenal dan mampu menentukan konsentrasi dengan metode ekstraksi
pelarut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Larutan dan Kelarutan
Larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom, ataupun ion
dari dua zat atau lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran, karena
suasananya dapat berubah-ubah.
Disebut homogen, karena susunan dapat begitu seragam, sehingga
tak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan. Medium pelarut
disebut (solvent) dan zat terlarut disebut zat pelarut (solute).
Kelarutan suatu zat yang melarut adalah kuantitas zat tersebut yang
menghasilkan suatu larutan jenuh dengan sejumlah tertentu pelarut.
(Keenan, 1984)
2.2. Ekstraksi Pelarut
Merupakan pemisahan satu komponen dari campuran dengan
melarutkannya dalam pelarut, tetapi komponen lainnya tidak dapat
dilarutkan dalam pelarut tersebut. Proses ini biasanya dilakukan dalam fase
cair, sehingga disebut juga ekstraksi cair-cair. Dalam ekstraksi cair-cair,
larutan yang mengandung komponen yang diinginkan harus bersifat tak
campur dengan cairan lainnya. Proses ini banyak digunakan dalam
pemisahan minyak dari bahan yang mengandung minyak.
(Daintith, 1994)

2.3. Hukum Distribusi


Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan, bila suatu zat
terlarut terdistribusi antara dua pelarut yang tak dapat campur, maka pada
suatu temperatur yang konstan untuk tiap spesi molekul terdapat angka
banding distribusi yang konstan antara kedua pelarut itu, dan angka banding
distribusi ini tak bergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin
ada.
Harga angka banding berubah dengan sifat dasar kedua pelarut, sifat
dasar zat terlarut dan temperatur.
Konsentrasi zat terlarut dalam fase cair I =
Konsentrasi zat terlarut dalam fase cair II

C2= Kd
C1

Tetapan Kd disebut sebagai koefisien distribusi atau partisi.


(Vogel, 1990)
2.4. Klasifikasi Ekstraksi
2.4.1 Ekstraksi berdasarkan sifat zat yang diekstraksi, sebagai khelat atau
sistem ion berasosiasi
Berlangsung jika terdapat pembentukan khelat (struktur cincin).
Contoh :

Ekstraksi

uranium

dengan

8-hidroksi

kuinilin

pada

kloroform.

Ekstraksi besi dengan cupferrom pada pelarut karbon


tetraklorida.

2.4.2 Ekstraksi melalui solvasi


Sebab spesies ekstraksi disolvasi ke fase organik.
Contoh :

Ekstraksi besi (III) dari asam hidroklorida dengan dietil


eter.

2.4.3 Ekstraksi yang melibatkan pasangan ion


Berlangsung melalui pembentukan spesies netral yang tidak
bermuatan diekstraksi ke fase organik.

Contoh :

Ekstraksi skandium dengan trioklilamin

2.4.4 Ekstraksi sinergis


Adanya efek saling memperkuat yang berakibat penambahan
ekstraksi dengan memanfaatkan pelarut pengekstraksi.
(Khopkar, 1990)
2.5. Prinsip Dasar Ekstraksi Pelarut
Hukum fase Gibbs menyatakan bahwa :
P+V=C+2
Dimana, P = fase
V = derajat kebebasan
C = komponen
Pada ekstraksi pelarut, kita mempunyai P=2, yaitu fase air dan
organik, C=1, yaitu zat terlarut didalam pelarut dan fase air pada temperatur
dan tekanan tetap sehingga V=1.
Jadi didapatkan :
2 + 1 = 1 + 2, yaitu P + V = C + 2
(Khopkar, 1990)
Hukum Distribusi Nearnst menyatakan bahwa :
Suatu zat terlarut akan membagi dirinya antara dua cairan yang tak
dapat campur sedemikian rupa, sehingga angka banding konsentrasi pada
keseimbangan adalah konstanta pada suatu temperatur tertentu :
[A1]= tetapan
[A2]
Dimana, [A1] = menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair I.
[A2] = menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair II.
(Underwood, 1999)

2.6. Mekanisme Reaksi


Proses ekstraksi pelarut berlangsung tiga tahap, yaitu :
1. Pembentukan kompleks tidak bermuatan.
2. Distribusi dari kompleks yang terekstraksi.
3. Interaksinya yang mungkin dalam fase organik.
(Khopkar, 1990)
2.7. Teknik Ekstraksi
Tiga metode dasar pada ekstraksi cair-cair adalah :
a. Ekstraksi bertahap
Merupakan cara yang paling sederhana. Caranya

dengan

menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut


semula, kemudian dilakukan pengocokan, sehingga terjadi kesetimbangan
konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Setelah ini
tercapai, lapisan didiamkan dan dipisahkan.
b. Ekstraksi kontinu
Digunakan bila perbandingan distribusi relatif kecil, sehingga
untuk pemisahan yang kuantitatif diperlukan berapa tahap ekstraksi.
c. Ekstraksi kontinu counter current
Fase cair pengekstraksi dialirkan dengan arah yang berlawanan
dengan larutan yang mengandung zat yang akan diekstraksi. Biasanya
digunakan untuk pemisahan zat, isolasi ataupun pemurnian.
(Khopkar, 1990)
2.8. Salting Out
Dalam ekstraksi, pelarut lebih efektif apabila digunakan sedikit
pelarut dengan ekstraksi berulang-ulang daripada menggunakan pelarut
yang banyak dengan sekali ekstraksi. Banyak senyawa organik dan air
bernilai lebih besar dari empat, sehingga pada umumnya dua atau tiga kali
ekstraksi meningkatkan pemisahan senyawa organik dari air.

Ketika senyawa terlarut dalam air dan mempunyai K lebih kecil dari
satu, maka dapat diperkirakan bahwa sangat sedikit senyawa itu akan
dihasilkan dalam ekstraksi. Koefisien distribusi suatu senyawa organik
antara pelarut organik dengan air dapat diubah dengan penambahan NaCl
dalam pelarut air dapat meningkatkan distribusi senyawa organik itu dalam
pelarut organik. Akibat semacam itu disebut Salting Out senyawa organik.
(Fessenden, 1982)
2.9. Titrasi
Titrasi adalah cara analisis yang memungkinkan untuk mengukur
jumlah yang pasti dari suatu larutan dengan mereaksikan suatu larutan lain
yang konsentrasinya diketahui. Pada suatu titrasi salah satu larutan yang
mengandung suatu pereaksi dimasukkan kedalam buret, larutan dalam buret
disebut penitrasi dan selama titrasi, larutan ini diteteskan perlahan-lahan
melalui kran kedalam labu erlenmeyer yang mengandung pereaksi-pereaksi
lain. Larutan penetrasi ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang
dinyatakan dengan berubahnya warnanya indikator, suatu zat yang
umumnya ditambahkan ke dalam larutan dalam bejana penerima dan yang
mengalami suatu macam perubahan warna. Perubahan warna ini
menandakan tercapainya titik akhir titrasi.
(Brady, 1999)
2.10. Titik Ekivalen, Titik Akhir dan Kesalahan Titik Akhir
Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama dengan
yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianalisis disebut
titik ekivalen. Sedangkan volume dimana perubahan warna indikator
nampak oleh pengamat disebut titik-titik akhir titrasi. Titik ekivalen
diharapkan sama dengan titik akhir titrasi, perbedaan atau selisih antara titik
ekivalen dan titik akhir titrasi disebut kesalahan.
Kesalahan titik akhir adalah kesalahan kesalahan acak yang berbeda
untuk setiap sistem bersifat aditif dan determinan dan nilainya dapat

dihitung. Dengan menggunakan metode potensiometer dan kondukmetri,


kesalahan titik akhir dapat ditekan sampai nol.
(Khopkar, 1990)
2.11. Indikator Asam-Basa
Salah satu cara untuk mengetahui dengan tepat berupa volume basa
yang ditambahkan dari buret ke asam dalam labu ialah dengan
menambahkan beberapa tetes indikator asam-basa, kelarutan asam saat awal
titrasi. Tidak semua indikator berubah warna pada pH yang sama, jadi
pilihan indikator untuk titrasi tertentu bergantung pada sifat asam dan basa
yang digunakan dalam titrasi. Fenolptalein merupakan salah satu indikator.
(Chang, 2005)
2.12. Indikator Phenolphtalein (PP)
Phenolphthalein atau yang sering disebut dengan indikator PP
merupakan senyawa hablur putih. Indikator ini akan menunjukkan warna
merah dalam larutan basa. Dan tidak berwarna dalam larutan asam.
(Rivai, 1995)

2.12.1. Struktur PP :

C
C

OH
OH

OH + H 2 O
O

HIr, tidak berwarna

OH

O + H 3O+

OH

Ir2-, merah

(Underwood, 1998)

2.13. Analisa Bahan


2.13.1.

Sabun
Garam natrium atau kalium dari asam karboksil rantai
panjang (asam lemak), yang mempunyai sifat khas dapat
mendispersikan zat organik non polar ke dalam air.
(Pudjaatmaka, 2002)

2.13.2.

Aquades (H2O)
Cairan tidak berwarna, titik leleh 00C, titik didih 1000C.
Dalam fase gas, air terdiri dari satu molekul H2O dengan sudut H-OH 1050.
(Daintith, 1994)

2.13.3.

Alkohol
Senyawa organik yang mengandung gugus OH, reaksinya
dengan asam menghasilkan ester dan dehidrasi menghasilkan alkena
dan eter.
(Daintith, 1994)

2.13.4.

Kloroform
Cairan haloform atsiri, berbau manis, tanpa warna, CH3Cl3.
Kloroform merupakan anestik yang ampuh, tetapi dapat merusak
hati, digunakan sebagai pelarut dan bahan dasar untuk membuat
senyawa lain.
(Daintith, 1994)

2.13.5.

NaOH
Padatan lembah-cair bening yang berwarna putih larut dalam
air dan etanol, tetapi tidak larut dalam eter, bersifat sangat basa dan
sangat korosif terhadap jaringan tubuh dan membahayakan mata.
(Daintith, 1994)

2.13.6.

Indikator Phenolptalein (PP)


Berupa kristal tidak berwarna, larut dalam alkohol dan
pelarut organik, digunakan sebagai indikator asam dan basa, tak
berwarna dalam larutan asam dan merah muda pada larutan basa,
trayek pH 8,2 - 10,00.
(Mulyono, 2005)

2.13.7.

NaCl
Padatan kristalin tanpa warna, larut dalam air dan sedikit
larut dalam etanol. Sifat kelarutannya dalam air menarik, karena
hanya berubah sedikit sesuai dengan kenaikan suhu.
(Daintith, 1994)

III. METODE PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
- Timbangan

- Erlenmeyer

- Pipet tetes

- Buret

- Gelas ukur

- Gelas beker

- Labu ukur

- Penangas

- Corong pemisah

- Corong pemisah

- Stopwatch

- Pengaduk

3.1.2. Bahan
- Sabun
- Aquades
- Kloroform
- NaCl
- Alkohol
- NaOH
- Phenolptalein (PP)
3.1.3. Gambar Alat

Neraca / timbangan

Labu ukur

corong gelas

Corong pemisah

buret

Erlenmeyer

Gelas beker

gelas ukur

pemanas

Pengaduk

Stopwatch

Pipet tetes

3.2. Skema Kerja


0,1 g Sabun
Gelas beker
-

Penambahan 50 mL aquades + 3 tetes PP


Pemanasan hingga mendidih
Pendinginan
Pengenceran menjadi 100 mL

20 mL Larutan Sabun
Corong Pemisah
-

Lapisan air

Penambahan 10 mL kloroform
Pengocokan
Penambahan 10 mL NaCL
Ekstraksi sebanyak 3x

Lapisan Kloroform
Corong pemisah
-

Lapisan air

Penambahan 10 mL H2O + 2
tetes PP
Pengocokan

Lapisan Kloroform
Corong pemisah
-

Lapiasan Kloroform

Penambahan 20 mL
etanol
Ekstraksi

Lapisan Alkohol
Erlenmeyer
-

Hasil

Titrasi dengan
NaOH

0,05 g Sabun
Gelas beker
-

Penambahan 50 mL aquades + 3 tetes PP


Pemanasan hingga mendidih
Pendinginan
Pengenceran menjadi 100 mL

10 mL Larutan Sabun
Corong Pemisah
-

Lapisan air

Penambahan 10 mL kloroform
Pengocokan
Penambahan 10 mL NaCL
Ekstraksi sebanyak 3x

Lapisan Kloroform
Corong pemisah
-

Lapisan air

Penambahan 10 mL H2O + 2
tetes PP
Pengocokan

Lapisan Kloroform
Corong pemisah
-

Lapiasan Kloroform

Penambahan 20 mL
etanol
Ekstraksi

Lapisan Alkohol
Erlenmeyer
-

Hasil

Titrasi dengan
NaOH

IV. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN


4.1 Data Pengamatan
NO.
PERLAKUAN
1.
0,1 g sabun, 0.05 g sabun +

HASIL
Air sabun

KETERANGAN

2.

50 mL aquades
50 mL air sabun + PP 100

Setelah diberi PP menjadi

3.

mL air sabun
Hasil pengenceran +

merah muda
Terbentuk 2 lapisan,

Kloroform

kloroform kocok + NaCl

lapisan atas (putih) yaitu

ditampung dlam

air dan lapisan bawah

gelas beker

Lapisan atas + 10 mL

(bening) kloroform
Terbentuk 2 lapisan,

Kloroform diambil

kloroform kocok + NaCl

lapisan atas yaitu air dan

digabung dengan

Ekstraksi sebanyak 3 x

lapisan bawah yaitu

kloroform dalam

Kloroform yang sudah

kloroform
Terbentuk 2 lapisan,

gelas beker
Kloroform diambil

ditampung + aquades + 2

lapisan atas yaitu air dan

tetes PP

lapisan bawah yaitu

Lapisan bawah + aquades

kloroform
Terbentuk 2 lapisan,

kocok

lapisan atas yaitu air dan

4.

5.

6.

lapisan bawah yaitu


7.

Kloroform hasil ekstraksi

kloroform
Terbentuk 2 lapisan,

Alkohol diambil

+ 20 mL etanol dikocok

lapisan atas yaitu alkohol

Volume lapisan

(bening) dan lapisan

etanol 1 mL

bawah yaitu kloroform


8.

Alkohol + PP dititrasi

(putih)
Dititrasi sampai berubah

Memerlukan NaOH

dengan NaOH

warna menjadi ungu

sebanyak 0,1 mL

4.2. Perhitungan
Faktor pengenceran air sabun
(Air sabun 50 mL 100 mL)

fp

100mL
2
50mL

Mencari konsentrasi asam stearat


V NaOH . M NaOH = V asam stearat . M asam stearat
0,1

0,1
0,01

= 1X
X = 0,01 M

Mencari massa asam stearat


g
1000
x
BM
V

m
g

V .BM .M
1000

1.284.0,01
1000

2,84
1000

g 0,00284 gram

% asam stearat dalam 0,1 gram sampel


%

mStearat. fp
x100%
mSampel
0,00284 x 2
x100%
0,1

= 0,0568 x 100%
= 5,68 %

% asam stearat dalam 0,05 gram sampel


%

mStearat. fp
x100%
mSampel

0,00284 x 2
x100%
0,05

= 0,1136 x 100%
= 11,36 %

V. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya larut
zat terlarut dalam pelarut berbeda, dalam hal ini zat terlarutnya adalah air
sabun yang terdapat asam stearat. Prinsip dari percobaan ini adalah hukum

distribusi yang mengatakan bahwa zat terlarut terdistribusi dengan


perbandingan tertentu antara 2 pelarut yang tidak saling bercampur. Untuk
metode dalam percobaan ini adalah ekstraksi dan titrasi.
Hal pertama yang dilakukan setelah pengenceran air sabun adalah
penambahan indikator pp (phenolptalein) yang bertujuan untuk indikator
asam-basa. PP yang ditambahkan dalam air sabun, setelah diteteskan kedalam
air sabun, akan menunjukkan warna merah muda dan itu menunjukkan bahwa
air sabun bersifat basa.
Kemudian

air

sabun

tadi

dipanaskan,

dengan

tujuan

untuk

mempercepat reaksi. Setelah dipanaskan, kemudian diencerkan dengan tujuan


agar senyawa-senyawa yang bersifat polar dapat larut. Lalu air sabun tadi
ditaruh dalam corong pemisah dan ditambahkan dengan kloroform,
menggunakan kloroform karena kloroform bersifat non polar, dan kita akan
mengambil asam stearat yang bersifat non polar, lalu di lakukan pengocokan
dengan membuang tekanan gasnya. Membuang tekanan gas dengan tujuan
untuk pembebasan terhadap kelebihan tekanan, sehingga larutan keluar dan
ekstraksi gagal. Kemudian tambahkan NaCl yang berfungsi sebagai salting
out, yaitu penambahan elektrolit yang bisa mendorong asam stearat di lapisan
air. Setelah dilakukan pengocokan, maka terbentuk 2 lapisan pada corong
pemisah, lapisan atas berwarna putih yang merupakan air sabun dan lapisan
bawah berwarna bening yang merupakan kloroform. Tidak bercampurnya
antara air sabun dan kloroform disebabkan oleh perbedaan sifat kepolaran. Air
yang polar tidak akan bercampur dengan kloroform yang bersifat non polar.
Lalu berat jenis kedua zat juga menentukan. Air sabun terdapat diatas karena
berat jenisnya lebih ringan dibandingkan kloroform. Berat jenis air 1 g/cm3 dan
berat jenis kloroform adalah 1,4 g/cm3.
Berat molekul kloroform adalah 119,389 g/mol, dan berat molekul air
adalah 18,015 g/mol. Berat jenis kloroform lebih berat dibandingkan berat jenis
air, sehingga lapisan kloroform terdapat dibawah air.
(wikipedia.com)

Ekstraksi dilakukan 3 kali dan bertahap dengan tujuan agar hasil


ekstraksi yang diperoleh lebih baik, dan zat yang ingin kita uji terekstrak
dengan sempurna. Pada ekstraksi yang kedua, tambahkan NaCl. Dan
penambahn NaCl berfungsi untuk memaksimalkan asam stearat yang larut
dalam kloroform Pada penambahan NaCl ini mengakibatkan adanya salting
out, yaitu penambahan elektrolit yang dapat mendorong asam stearat di
lapisan air larut ke kloroform. Setelah dilakukan pengocokan, pada corong
pemisah terbentuk 2 lapisan yang tidak saling bercampur, lapisan atas yaitu
lapisan air ditambahkan lagi kloroform dan hasil dari ekstraksi kedua ini
adalah terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berupa lapisan air dan lapisan bawah
berupa lapisan kloroform.
Pada ekstraksi yang ketiga, setelah lapisan kloroform ditambah
aquades dan indikator PP, terbentuk 2 lapisan, yaitu lapisan atas berupa
lapisan air dan lapisan bawah berupa lapisan klorofom. Lapisan kloroformnya
ditambahkan lagi dengan aquades sampai lapisan air bening. Penambahan
aquades di sini bertujuan untuk mengikat senyawa polar pada kloroform yang
non polar, sehingga senyawa polar larut pada air. Dan fungsi penambahan
indikator PP untuk mengetahui apakah lapisan air masih bersifat basa ataukah
tidak.Dari tahap ekstraksi ini, lapisan air yang tadinya keruh menjadi bening.
Karena asam stearat larut dalam kloroform, maka hasil yang diambil
adalah kloroform. Hasil ekstraksi yang berupa kloroform itu, kemudian
diekstraksi lagi dengan menambahkan pelarut etanol sampai terbentuk 2
lapisan. Lapisan atas (bening) adalah alkohol dan lapisan bawah (putih) adalah
kloroform. Lapisan alkohol di atas, karena berat jenis alkohol lebih ringan
dibandingkan dengan berat jenis kloroform, berat jenis alkohol 0,7 g/cm3 dan
berat jenis kloroform 1,4 g/cm3. Kemudian lapisan yang berupa kloroform di
buang, dan yang akan diuji selanjutnya adalah lapisan alkohol. Lapisan
alkohol yang akan diuji, karena di dalam etanol terdapat gugus OH dan asam
stearat juga mempunyai gugus OH, sehingga dapat terjadi ikatan hidrogen
yang menyebabkan daya larut asam stearat lebih besar ke etanol karena daya
tariknya lebih kuat.

Asam stearat ; CH3(CH2)16COOH


Etanol

; C2H5OH
Ikatan hidrogen

Lapisan alkohol yang didapat dari hasil ekstraksi sebesar 1 mL,


kemudian dititrasi dengan NaOH sampai berubah warna. Perubahan warna
tersebut terjadi karena jumlah mol NaOH dan jumlah mol asam stearat tepat
sama. Perubahan warna bening menjadi merah muda dapat diamati, karena
sebelum di titrasi ditambahkan indikator pp. Titrasi stearat dengan NaOH
membutuhkan NaOH sebesar 0,1 mL. Kemudian setelah perhitungan, kadar
asam stearat dalam sampel sabun didapatkan sebesar 5,68 % yang terkandung
dalam 0,1 gram sampel sabun dan 11,36 % yang terkandung dalam 0,05 gram
sampel sabun.

VI. KESIMPULAN
6.1 Perbedaan daya larut zat terlarut dengan pelarut dalam suatu ekstraksi
dipengaruhi oleh sifat kepolaran dan berat jenis suatu zat.

6.2 Asam stearat dalam sampel sabun ketika ditambah kloroform, maka akan
lebih larut ke kloroform daripada air. Tetapi setelah ditambah alkohol
(etanol) asam stearat cenderung larut dalam alkohol daripada ke
kloroform.
6.3 Setelah dilakukan perhitungan, kadar asam stearat yang terkandung dalam
sampel sabun 0,1 gram adalah sebesar 5,68 % dan yang terkandung dalam
0,05 gram sebesar 11,36 %.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Brady, J., 1999, Kimia Universitas-Asas dan Struktur, Erlangga, Jakarta

Chang, R., 2005, Chemistry, Random House, USA


Daintith, 1994, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta
Fessenden, 1982, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta
Keenan, 1984, Ilmu Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta
Khopkar, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta
Mulyono, 2005, Kamus Kimia, Genersindo, Bandung
Pudjaatmaka, H., 2002, Kamus Kimia, Binarupa Aksara, Jakarta
Rivai, H., 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, UI Press, Jakarta
Underwood, 1999, Analisa Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta
Vogel, 1990, Buku Teks Analisa Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro,
Kalman Media Pustaka, Jakarta

HALAMAN PENGESAHAN

Mengetahui,

Semarang,

Mei 2009

Praktikan,

Dyah Lasna NS

Eka Hariyanto S

Eko Setyo Budi

J2C008015

J2C008016

J2C008017

Endah Dewi D

Finalia FA

Fitria Lukitasari

J2C008018

J2C008019

J2C008020

Fitriani Sholichah
J2C008021

Asisten,

Ardhita Niken
J2C005101

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR II

JUDUL PERCOBAAN :
LARUTAN DAN KELARUTAN : EKSTRAKSI PELARUT
Disusun oleh :
1. Dyah Lasna NS

J2C008015

2. Eka Hariyanto S

J2C008016

3. Eko Setyo Budi

J2C008017

4. Endah Dewi Damayanti

J2C008018

5. Finalia Femmy Anwar

J2C008019

6. Fitria Lukitasari

J2C008020

7. Fitriani Sholichah

J2C008021

ASISTEN : Ardhita Niken

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009