Anda di halaman 1dari 26

TUGAS PENGANTAR PENELITIAN

PENGARUH WAKTU REAKSI DAN


KOMPOSISI KATALIS PADA PROSES
PEMBUATAN ISOBUTIL OLEAT DENGAN
KATALIS ZEOLIT ALAM

OLEH
DIAN ANGGRAINI PURBA
1107114263

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013

ABSTRAK
Produksi plastisizer dari minyak nabati sampai saat ini masih sangat terbatas, untuk itu perlu
mengembangkan plastisizer berbasiskan minyak nabati. Plastisizer minyak nabati dapat disintesis
secara esterifikasi menggunakan katalis asam. Kebanyakan reaksi esterifikasi menggunakan katalis
homogen asam seperti H2SO4, HNO3 dan HCl yang sulit untuk dipisahkan dari produk. Alternatif
katalis yang dapat digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah zeolit alam, yang telah terbukti efektif
untuk reaksi esterifikasi dan merupakan katalis heterogen yang mudah dipisahkan dari produk hasil
reaksi. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengsintesis plastisizer isobutil oleat secara esterifikasi
menggunakan katalis zeolit alam yang teraktivasi menjadi H-Zeolit, dan mempelajari pengaruh waktu
reaksi dan komposisi katalis. Variasi komposisi katalis Zeolit Alam yang digunakan 15,17,5 dan 20%
berat berbasis berat asam oleat dan waktu reaksi 180, 240, 300 dan 360 menit, dengan variabel
tetapnya adalah temperatur 1000C , perbandingan molar asam stearat terhadap isobutanol 1:6 dan
kecepatan pengadukan 200 rpm.
Kata Kunci: Esterifikasi, isobutil stearat, plastisizer, zeolit alam

BAB I
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Tahun 2011, Oil World masih menempatkan Indonesia sebagai negara produsen utama crude

palm oil (CPO) dengan volume produksi sebesar 23.9 juta ton CPO/tahun. (Ditjen perkebunan, 2012).
Dengan

berlimpahnya

bahan

baku

minyak

sawit,

mendorong

berkembangnya

industri

penganekaragaman produk minyak sawit. Pada umumnya produsen minyak sawit hanya menjual
produknya dalam bentuk minyak sawit mentah (MSM) dan minyak makan. Penganekaragaman produk
ke arah non pangan perlu dikaji dalam upaya mengantisipasi meningkatnya produksi minyak sawit
Indonesia. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan agar dapat memberikan nilai tambah dari minyak
sawit adalah esterifikasi asam oleat yang terkandung dalam minyak sawit menjadi isobutil oleat.
Salah satu kegunaan isobutil oleat adalah pada industri plastisizer. Plastisizer dalam konsep
sederhana ialah pelarut organik dengan titik didih tinggi atau suatu padatan dengan titik leleh rendah.
Apabila ditambahkan ke dalam resin yang keras seperti karet dan plastik maka gaya akumulasi
intermolekul rantai panjang akan berkurang sehingga kelenturan, kelunakan dan pemanjangan akan
bertambah (Sadi dan Purboyo, 1996 ). Dengan adanya plastisizer yang berbasis minyak nabati, akan
meningkatkan nilai tambah CPO ( crude palm oil ), yang selama ini hanya dijadikan minyak goreng

dan fraksinasinya. Meningkatkan nilai tambah CPO disini adalah dengan memanfaatkan hasil
fraksinasi CPO yang berupa asam oleat dan menjadikannya sebagai bahan baku plastisizer yang lebih
bernilai ekonomi.
Kandungan asam oleat pada minyak sawit adalah sebanyak 33% dari berat massa (Posma, 2008).
Asam oleat disintesa dengan alkohol sehingga dapat menjadi plasticizer dalam bentuk ester. Pada
umumnya sintesa ester dapat dilakukan secara esterifikasi. Untuk reaksi esterifikasi biasanya
menggunakan katalis asam. Isobutil oleat diperoleh dengan mereaksikan asam oleat dan isobutil
alkohol. Faktor yang mempengaruhi ester yang dihasilkan pada reaksi esterifikasi adalah rasio molar,
komposisi dan jenis katalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu reaksi dan kecepatan pengadukan.
Menurut (Nasikin dkk, 2004) zeolit alam yang diaktifasi menjadi H-Zeolit merupakan katalis
asam, sehingga dapat mengkatalisasi asam lemak dengan alkohol secara esterifikasi. Penggunaan HZeolit dalam mengkatalisasi proses esterifikasi asam oleat dan oktanol secara batch pada variasi
temperatur 150C dan 180C dan nisbah molar asam oleat/oktanol 1:6, dan variasi jumlah katalis yang
digunakan adalah 2% berat. Reaksi dilangsungkan selama 7 jam dan didapat konversi tertinggi sebesar
39.06 % pada suhu 150C.
Marchetti J.M, dkk (2008) telah melakukan sintesa isopropil oleat dengan perbandingan mol
asam oleat dan alkohol sebesar 1:6 dengan katalis Zeolit Alam 3 % dari berat asam oleat dan
menyimpulkan bahwa hasil optimum pada suhu 90C pada waktu reaksi 140 menit, didapatkan
konversi reaksi sebesar 28.2 % untuk isobutil oleat
Sedangkan Evi Triwulandari dan Agus Haryono (2008) melakukan reaksi esterifikasi asam oleat
menggunakan isobutanol menggunakan katalis asam sulfat dengan perbandingan berat 1% terhadap
asam oleat didapatkan konversi reaksi 95,53 % dengan lama reaksi 4 jam.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa zeolit alam yang teraktivasi menjadi H-Zeolit dapat
dijadikan sebagai katalis pada reaksi esterifikasi pada pembuatan plasticizer. Disamping itu, faktor
kecepatan pengadukan juga berpengaruh terhadap proses esterifikasi. Menurut Bambang Heru Susanto
(2008) yang melakukan reaksi esterifikasi isobutil oleat dengan menggunakan Kecepatan pengadukan
180 rpm dan 480 rpm, pembentukan ester lebih cepat terjadi pada kecepatang pengadukan lebih tinggi.
Hal tersebut disebabkan secara keseluruhan reaksi bergerak ke kanan atau terkonversi secara sempurna.
Dalam penelitian ini akan dilakukan pembuatan plasticizer secara esterifikasi dengan
mereaksikan asam oleat dan alkohol berantai karbon yang lebih panjang yaitu isobutil alkohol, dengan
menggunakan katalis zeolit alam yang teraktivasi menjadi H-zeolit yang telah terbukti efektif dalam
mengkatalisis asam lemak menjadi ester.
1.2

Perumusan Masalah

Metode sintetik yang digunakan untuk memperoleh plasticizer dalam bentuk ester oleat secara
esterefikasi selama ini menggunakan katalis komersil yang cukup mahal seperti asam sulfat (H 2SO4),
asam nitrat (HNO3), asam klorida (HCl) dan asam-asam lainnya. Salah satu alternatif katalis yang dapat

digunakan secara esterifikasi adalah zeolit alam yang teraktivasi menjadi H-zeolit yang terbukti telah
efektif dalam mengkatalisis reaksi esterifikasi asam lemak.
Penggunaan H-Zeolit dalam mengkatalisasi proses esterifikasi asam lemak pernah dilakukan oleh
Nasikin dan Susanto (2008) pada reaksi esterifikasi asam oleat dengan oktanol dengan perbandingan
molar asam oleat : oktanol adala 1 : 6 , dengan mengunakan katalis 2 % dari berat asam oleat degan
suhu reaksi 150 C , dengan waktu reaksi 6 jam, kecepatan pengadukan 200 rpm didapat hasil konversi
sebesar 39,06 %.
Dari masalah yang telah dirumuskan diatas, dipandang perlu untuk melakukan reaksi esterifikasi
asam oleat dan isobutil alkohol dengan menggunakan katalis zeolit alam yang teraktivasi menjadi Hzeolit. Dilakukan variasi reaksi 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam dan komposisi katalis 15%, 17,5%, 20 %
dari massa asam oleat dalam proses pereaksian. Kondisi operasi yang digunakan sesuai dengan kondisi
optimum yang diperoleh pada penelitian Evi Triwulandari, dkk (2008) melakukan sintesa isobutil oleat
dengan suhu 100C dan untuk kecepatan pengadukan sesuai dengan kondisi optimum yang diperoleh
pada penelitian Jerry, dkk (2012) dan Ardiana, dkk (2012) yaitu melakukan pengadukan pada
kecepatan 200 rpm.
1.3

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah:


1) Membuat isobutil oleat dari asam oleat dan isobutanol secara esterifikasi dengan menggunakan
katalis zeolit alam yang teraktivasi.
2) Menentukan waktu reaksi dan komposisi katalis pada proses pembuatan isobutil oleat dengan
katalis zeolit alam yang diperlukan untuk memperoleh konversi reaksi yang paling baik.
3) Membandingkan sifat fisik dan kimia dari plasticizer yang dihasilkan.
1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat terutama di bidang teknik kimia

karena diharapkan mendapatkan kondisi optimum (variasi waktu reaksi dan komposisi katalis) pada
proses produksi isobutil oleat dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

BAB II

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester.

Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu
senyawa yang mengandung gugus -CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi
dikatalisis dengan asam dan bersifat dapat balik (Fessenden, 1990). Reaksi esterifikasi mengkonversi
asam lemak bebas yang terkandung di dalam trigliserida menjadi metil ester. Namun, membentuk
campuran ester dan trigliserida. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan. Untuk menggeser
reaksi ke sebelah kanan, harus menggunakan alkohol berlebih dan pada reaksi ini ester baru akan
terbentuk. Katalis yang paling efektif digunakan adalah katalis asam kuat, tetapi selain itu dapat
digunakan juga asam lainnya
Isobutil Oleat yang berasal dari minyak nabati dapat dibuat dari alkohol dengan asam lemak
secara esterifikasi. Brady (1996), menyatakan pembuatan plastisizer secara esterifikasi dapat dilakukan
menggunakan katalis asam seperti, asam sufat, asam klorida, asam nitrat (katalis homogen) dan zeolit
(heterogen). . Secara umum reaksi esterifikasi dapat ditulis:
asam

R-COOH

ROH

(Asam lemak)

R-COOR

(Alkohol)

(Ester )

H2O

( 2.1)
(Air)

Menurut Wulandari dan Septiana (2010) faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi antara
lain :
1. Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi, maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar, sehingga akan
menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi sudah tercapai, maka dengan
bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan, karena tidak memperbesar hasil.
2. Pengadukan
Pengadukan akan

menambah frekuensi tumbukan antar molekul zat pereaksi, sehingga

mempercepat tercapainya kesetimbangan atau dapat menambah konversi reaksi. Sesuai dengan
persamaan Arrhenius :
k = A e(-Ea/RT)
5

dimana,
T = Suhu absolut ( C)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)
Ea = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)
Semakin besar frekuensi tumbukan, maka semakin besar pula harga konstanta kecepatan reaksi.
Sehingga dalam

hal ini pengadukan sangat penting, mengingat campuran reaktan dan katalis

merupakan larutan yang immiscible.


3. Katalisator
Jumlah katalisator berfungsi untuk mengurangi energi aktivasi pada suatu reaksi, jika jumlah
katalis dinaikkan, energi aktivasi akan menurun, sehingga konstanta laju reaksi akan semakin besar dan
kesetimbangan reaksi akan cepat tercapai, maka konversi reaksi maksimal akan cepat tercapai.
4. Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka akan semakin besar nilai konstanta reaksi, hal ini
sesuai dengan persamaan Archenius. Jika nilai konstanta reaksi meningkat, maka reaksi akan berjalan
semakin cepat, namun demikian suhu reaksi harus dipertimbangkan berdasarkan titik didih salah satu
reaktan. Disarankan bahwa suhu itu harus dibawah titik didih salah satu reaktan yang titik didihnya
paling rendah.
5. Konsentrasi reaksi
Menurut Le Chatelier, kesetimbangan suatu reaksi kimia akan berubah bila adanya perubahan
konsentrasi, temperature, volume dan tekanan. Semakin tinggi konsentrasi reaktan maka
kesetimbangan reaksi akan bergerak ke kanan yang menyebabkan produk yang dihasilkan lebih
banyak.
2.2

Plasticizer
Plastisizer dalam konsep sederhana ialah pelarut organik dengan titik didih tinggi atau suatu

padatan dengan titik leleh rendah. Apabila ditambahkan kedalam resin yang keras atau kaku seperti
karet dan plastik Polivinil Klorida (PVC), maka akumulasi gaya intermolekuler pada rantai panjang
akan menurun sehingga kelenturan atau fleksibilitas, kelunakan (softness), dan pemanjangan
(elongation) bertambah ,( Sadi (1992) dan Sears & Darby (1982)). Berdasarkan komposisi asam lemak
6

minyak sawit yang unik dengan kandungan asam lemak utama yaitu asam oleat dan palmitat yang
digunakan sebagai bahan pembuatan ester oleat dan palmitat. Ester tersebut dapat dikonversi menjadi
plastisizer (Sadi dan Purboyo , 1996).
Plastisizer dapat disintetis dari beberapa bahan baku, seperti turunan minyak bumi dan minyak
nabati. Proses pembuatan plastisizer dari minyak bumi dapat menimbulkan pencemaran terhadap
lingkungan, bersifat toxic (beracun), plastisizer yang dihasilkan sulit terdegredasi, disamping itu
sumber bahan baku dari minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
Sedangkan minyak nabati merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan proses
pembuatannya menghasilkan limbah yang relatif kecil, bersifat non toxid (tidak beracun) , selain itu
plastisizer yang dihasilkan mudah terurai secara biologi.
Pada umumnya ester yang disintetis dari minyak nabati melalui senyawa metil ester dan fatty
alkohol. Plastisizer yang berasal dari minyak nabati dibuat dengan mereaksikan alkohol dengan asam
lemak secara esterifikasi (Compton, 2006). Alkohol yang dapat digunakan berupa alkohol berantai
karbon antara C1 sampai C30 yaitu berupa methanol, etanol, propanol, isopropanol, isobutanol dan
alkohol lainnya.
2.3

Sifat Fisik dan Kimia Plasticizer Komersil


Plasticizer yang telah dikomersilkan harus memenuhi beberapa standar. Standar mutu plasticizer

yang telah dikomersilkan dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:


Tabel 2-1. Karakteristik plasticizer ester yang dapat dikomersilkan

Karakteristik plasticizer

Nilai

Titik beku, 0C

7 -29

Titik didih 0C

315,6 398,9

Nilai penyabunan, mg KOH/g


Viskositas 400C, mPa s

133 172
0,900 26,500

Kadar Air, wt %

0,05 0,13

Specific gravity, 40 0C

0,81- 0,96

Sumber : Wypich (2004)

2.4

Asam Oleat
Asam oleat atau asam Z-9-oktadekenoat merupakan asam lemak tak jenuh yang banyak

dikandung dalam minyak zaitun dan minyak kelapa sawit. Asam oleat mempunyai nama IUPAC adalah
(9Z)-Octadec-9-enoic acid. Asam ini tersusun dari 18 atom C dengan satu ikatan rangkap di antara
atom C ke-9 dan ke-10. Selain dalam minyak zaitun (55-80%), asam lemak ini juga terkandung dalam
minyak kelapa sawit, minyak bunga matahari serta minyak biji anggur. Rumus kimia dari asam oleat
adalah : CH3(CH2)7CHCH(CH2)7)COOH.
Asam lemak ini pada suhu ruang berupa cairan kental dengan warna kuning pucat atau kuning
kecokelatan. Asam ini memiliki aroma yang khas. Ia tidak larut dalam air, titik leburnya 15.3 C dan
titik didihnya 360 C.

Gambar 2-1. Rumus Asam Oleat (Compton, 2006)

Berikut ini adalah beberapa sifat fisik dan kimia dari asam oleat:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
2.5

Rumus Molekul
Mass Molar
Wujud fisik
Densitas
Titik cair
Titik Didih
Kelarutan

: C18H34O2
: 282.4614 gr/mol
: cairan kental kuning kecokelatan
: 0.895 g/ml
: 13-14 C (286 K)
: 360 C (633 K) pada 760 mmHg
: tidak larut dalam air, larut dalam alkohol

Isobutanol
Isobutanol atau 2-methylpropan-1-ol (IUPAC) adalah senyawa organic dengan rumus kimia

(CH3)2CHCH2OH. Isobutanol tidak berwarna dan mudah terbakar dengan bau yang unik. Isobutanol
biasanya digunakan sebagai pelarut (solvent) dalam industri.

Gambar 2-2. Rumus Isobutanol (Compton, 2006)

Sifat fisik dan kimia dari isobutanol adalah sebagai berikut:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
2.6

Rumus Kimia
Berat Molekul
Densitas
Titik Cair
Titik Didih
Viskositas

: C4H10O
: 74.122 gr/mol
: 0.802gr/cm3 , liquid
: -101.9 C
: 107.89 C
: 3.95 cP di suhu 20C

Katalis
Katalis ditemukan oleh J.J. Berzelius pada tahun 1836 sebagai komponen yang dapat

meningkatkan laju reaksi kimia, namun tidak ikut bereaksi. Definisi katalisator adalah suatu substansi
yang dapat meningkatkan kecepatan, sehingga reaksi kimia dapat mencapai kesetimbangan, tanpa
terlibat di dalam reaksi secara permanen (Satterfield, 1991). Dengan demikian pada akhir reaksi katalis
tidak tergabung dengan senyawa produk reaksi. Entalpi reaksi dan faktor-faktor termodinamika lainnya
merupakan fungsi sifat dasar dari reaktan dan produk, sehingga tidak dapat diubah dengan katalis.
Adanya katalis dapat mempengaruhi faktor-faktor kinetika suatu reaksi seperti laju reaksi, energi
aktivasi, sifat dasar keadaan transisi dan lain-lain (Satterfield, 1991). Karakteristik katalis adalah [1]
Berinteraksi dengan reaktan tetapi tidak berubah pada akhir reaksi. [2] Mempercepat kinetika reaksi
dengan memberikan jalur molekul yang lebih rumit (Richardson, 1989). Kemampuan katalis untuk
meningkatkan kecepatan reaksi terjadi dalam beberapa langkah, sehingga mengakibatkan penurunan
energi aktivasi reaksi. Reaksi katalitis meliputi: [1] Adsorbsi, [2] Pembentukan dan pemutusan
activated complex, [3] Desorbsi .
Berdasarkan fasenya, material katalis dapat digolongkan menjadi katalis homogen dan katalis
heterogen. Katalis homogen adalah katalis yang mempunyai fase sama dengan fase campuran
reaksinya, sedangkan katalis heterogen adalah katalis yang berbeda dengan campuran reaksinya.
Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara

kimia yang selanjutnya bereaksi membentuk produk akhir reaksi dalam suatu proses yang memulihkan
katalisnya (Richardson, 1989).
Pada proses esterifikasi asam akan mempercepat reaksi dengan cara mendonorkan elektron pada
ke grup alkoxy sehingga gugus ini sangat reaktif

(Prihandana dkk, 2006). Asam-asam pekat seperti

asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl) adalah jenis asam yang sekarang ini banyak digunakan
sebagai katalis.
Pemilihan katalis atau pengembangan katalis perlu pertimbangan untuk mendapatkan efektivitas
dalam penggunaannya. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan katalis adalah [1] Umur panjang,
sehingga menghemat pembelian katalis baru. [2] Harga katalisator murah, sehingga menghemat
investasi. [3] Mudah atau tidaknya diregenerasi, jika tidak merusak aktivitas dapat menghemat
pembelian katalis baru. [4] Tahan terhadap racun, sehingga umur katalis panjang (Richardson, 1989)
Pengkonversiaan asam lemak bebas menjadi metil ester dapat dilakukan dengan reaksi
esterefikasi asam lemak dengan alkohol. Reaksi tersebut dikatalisis oleh asam, baik katalis homogen
maupun heterogen. Katalis yang telah berhasil digunakan seperti asam sulfat, asam klorida, asam
bromida dan asam p-toluen sulfonat. Brady (1996) menyatakan bahwa asam Lewis seperti aluminium
klorida, besi klorida, aluminium bromida, clay dan zeolit juga dapat mengkatalisis reaksi esterifikasi
asam lemak bebas. Penggunaan katalis heterogen pada reaksi esterifikasi asam lemak dengan alkohol
dapat mempermudah proses pemisahan katalis dari campuran reaksi. Selain itu, keuntungan
menggunakan katalis heterogen (asam padat) adalah dapat digunakan kembali (regenerasi) bila
aktivasinya masih baik (Zahrina dan Sunarno, 2006), sehingga menghemat pembelian katalis baru.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, zeolit merupakan katalis yang aktif dalam proses reaksi
esterifikasi asam lemak.
Mekanisme reaksi katalitik menurut Richadrson (1989) berlangsung dengan tahapan sebagai
berikut :
1. Perpindahan massa reaktan dari fluida menuju permukaan luar katalis.
2. Difusi reaktan dari pori pada permukaan luar menuju permukaan aktif
3. Adsoprsi reaktan pada permukaan aktif.
4. Reaksi permukaan.
5. Desorpsi produk dari permukaan aktif.
6. Difusi dari permukaan aktif menuju mulut pori pada permukaan luar.

10

7. Perpindahan massa produk dari permukaan luar pelet katalis menuju fluida.

Gambar 2-3. Mekanisme Reaksi Katalitik (Richardson, 1989)

2.7

Zeolit
Mineral zeolit sudah diketahui sejak tahun 1755 oleh seorang ahli mineralogi bernama F.A.F.

Cronstedt. Meskipun demikian penggunaan mineral zeolit untuk industri baru dimulai tahun 1940 dan
1973. Tahun 1940 adalah penggunaan mineral zeolit sintetis, sedangkan tahun 1973 adalah permulaan
penggunaan mineral zeolit alam. Dikarenakan mineral zeolit alam sulit dipisahkan dari batuan
induknya maka ini menjadi alasan dibuatnya zeolit sintesis. Mineral zeolit sintetis yang dibuat tidak
dapat persis sama dengan mineral zeolit alam, walaupun zeolit sintetis mempunyai sifat fisik yang jauh
lebih baik. Pada tahun tersebut merupakan titik awal penggunaan nyata bagi mineral zeolit alam untuk
keperluan berbagai industri. Diharapkan dengan adanya berbagai penelitian mengenai zeolit alam
diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah. (Nasikin, 2004)
Zeolit didefinisikan sebagai Kristal alumina silika yang mempunyai struktur kerangka tiga
dimensi yang terbentuk oleh tetrahedral silika (SiO4) dan alumina (Al2O3) dengan rongga-rongga berisi
logam-logam biasanya alkali dan alkali tanah serta molekul air. Zeolit merupakan mineral yang terdiri
dari kristal alumino silikat terhidrasi yang mengandung kation alkali dan alkali tanah dalam kerangka
tiga dimensinya. Berdasarkan asalnya, maka zeolit dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu zeolit alam
dan sintetis. Pada proses katalitik, penukar kation dan adsorben, zeolit sintetik lebih banyak digunakan
dibanding zeolit alam. Zeolit alam memiliki struktur satu atau dua dimensi sehingga mudah
terdeaktivasi jika digunakan sebagai katalis. Zeolit sintetik memiliki saluran tiga dimensi sehingga sulit
11

terdeaktivasi. Bermacam-macam zeolit sintetis dapat dibuat dengan cara mereaksikan senyawa silika
dan alumina. Selain kondisi dan lama reaksi, untuk mengarahkan struktur sehingga dapat dibentuk
zeolit tertentu dibutuhkan templating agent.
Mineral zeolit bukan merupakan mineral tunggal, melainkan sekelompok mineral yang terdiri
dari beberapa jenis unsur. Secara umum mineral zeolit adalah senyawa alumino silikat hidrat dengan
logam alkali tanah serta mempunyai rumus kimia sebagai berikut :
M2x/nSi1-xAlxO2.yH2O
Dengan M = e.g Na, K, Li, Ag, NH, H, Ca, Ba,
Ikatan ion Al-Si-O adalah pembentuk struktur kristal, sedangkan logam alkali adalah kation yang
mudah tertukar (exchangeable cation). Jumlah molekul air menunjukkan jumlah pori-pori atau volume
ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit tersebut dipanaskan. Sekarang ini lebih dari
40 zeolit alam maupun 150 tipe yang artificial telah digunakan dalam berbagai bidang berdasarkan
publikasi International Zeolit Association. Pada struktur zeolit, semua atom Al dalam bentuk tertahedra
sehingga atom Al akan bermuatan negatif karena berkoordinasi dengan 4 atom oksigen dan selalu
dinetralkan oleh kation alkali atau alkali tanah untuk mencapai senyawa yang stabil. Lain halnya
dengan batuan lempung (clay materials) dengan struktur lapisan, dimana sifat pertukaran ionnya
disebabkan oleh 1) brokend bonds yaitu makin kecil partikel penyerapan makin besar, 2) gugus
hidroksi yang mana atom hidrogen dapat digantikan dengan kation lain atau 3) substitusi isomorf Al
pada tertrahedra Si menyebabkan ikatan Al-Si cukup kuat dan mengurangi swelling.

Gambar 2-4. Tetrahedra Alumina dan Silika (TO) pada struktur Zeolit

12

2.8

Kegunaan Zeolit
Penggunaan zeolit cukup banyak, misalnya untuk industri kertas, karet, plastik, katalis, agregat

ringan, semen puzolan, pupuk, pencegah polusi, pembuatan gas asam, tapal gigi, mineral penunjuk
eksplorasi, pembuatan batubara, pemurnian gas alam, industri oksigen, industri petrokimia, sebagai
makanan ternak dan lain-lain. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya
dibidang penelitian zeolit telah banyak digunakan oleh peneliti sebagai bahan katalis yang berfungsi
sebagai mempercepat atau memperlambat jalannya suatu reaksi. Mengingat mineral zeolit terutama
yang mempunyai arti ekonomi umumnya dijumpai di dalam batuan sedimen piroklastik maka
diharapkan di Indonesia terdapat banyak mineral tersebut. Seperti diketahui sebagian besar wilayah
Indonesia terdiri dari batuan gunung api, termasuk batuan piroklastik berbutir halus (tuf) yang
merupakan sumber mineral zeolit. Dimensi penggunaan yang cukup luas dalam berbagai aspek
kehidupan, maka dapat diprediksikan permintaan kesehjateraan dan perekonomian nasional.
Pada dasarnya penggunaan mineral zeolit alam sama dengan zeolit sintesis. Hal ini disebabkan
oleh persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral zeolit. Walaupun pada
umumnya mineral zeolit sintesis lebih murni, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Persamaan utama dua jenis tersebut ion exchange, absorpsi, dan molecular sieving.
Apabila zeolit alam langsung dipergunakan maka tidak akan diperoleh hasil yang maksimal
karena zeolit tersebut masih mengandung bahan-bahan pengotor yang dapat menganggu aktivitas kerja
zeolit itu sendiri. Maka dari itu diperlukan pengaktifan zeolit alam. Zeolit yang diaktifasi merupakan
katalis asam (Nasikin dkk, 2004) dan termasuk

katalis heterogen sehingga kemungkinan dapat

mengkatalis esterefikasi asam lemak. Selain itu, zeolit alam banyak ditemukan di beberapa daerah di
Indonesia dengan jumlah yang besar serta kualitas yang baik.

BAB III
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Bahan-Bahan
Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah asam oleat, isobutanol, zeolit

alam, aquades, indikator pp, KOH 0,1 N, Ammonium Klorida (NH4Cl) 1 N , dan asam oksalat 0,1 N.

13

3.2

Peralatan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini ialah pengaduk, piknometer, kondensor, corong

pisah, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, corong, pipet tetes, pipet gondok, labu leher tiga, termometer
dan kertas saring, buret,water batch.

Gambar 3-5 Rangkaian reaktor untuk pembuatan isobutil oleat

Keterangan

3.3

Pemanas dan Water Batch

Reaktor

Termometer

Kondenser

Pengaduk

Statif

Variabel Penelitian
Variabel tetap
1

Suhu reaksi 1000C untuk reaksi pembuatan isobutil Stearat.

Kecepatan Pengadukan 200 rpm

Perbandingan molar asam stearat dengan isobutanol 1:6

Variabel tidak tetap


1

Komposisi katalis yang digunakan (15%, 17,5% dan 20%) berbasis berat asam Oleat.

14

Waktu reaksi 180, 240, 300 dan 360 menit.

Prosedur Penelitian

3.4

3.4.1

Persiapan Sampel
Dalam penelitian ini sampel bahan baku asam oleat dan zeolit alam diperoleh dari salah satu

perusahaan yang ada di Jakarta mempunyai cabang di Pekanbaru Jl. Riau yaitu PT. BRATACHEM.
3.4.2

Persiapan Katalis H-Zeolit


Langkah-langkah dalam persiapan katalis H-Zeolit adalah sebagai berikut:

Zeolit alam yang telah dihaluskan dimasukkan sebanyak 500 gram kedalam labu leher tiga

ukuran 500 ml, lalu campurkan dengan NH4Cl 1 N sampai zeolit tersebut terendam.
Pengaduk digunakan untuk mencampur kedua zat tersebut (pengadukan dilakukan selama 50

jam) dengan kecepatan 100 rpm dan dipanaskan pada suhu 90 sampai 100 C.
Zat yang ada didalam labu disaring dengan menggunakan kertas saring. Kemudian, cuci zat
tersebut dengan aquades (gunanya untuk memisahkan unsur / senyawa pengotor / larutan garam

yang ada didalam zeolit).


Setelah zeolit dicuci dan mencapai pH 7, zeolit dimasukkan kedalam oven untuk mengeringkan
zeolit. Kemudian zeolit dimasukkan kedalam furnace, dan dipijarkan pada suhu 500 C selama
5 jam (gunanya untuk mengaktifasikan zeolit alam menjadi H-Zeolit).

3.4.3

Sintesa Ester Isobutil Oleat


Sintesa ester Isobutil Oleat yang akan dilakukan dengan menggunakan proses esterifikasi.

Adapun proses esterifikasi dalam sintesa tersebut meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

Asam oleat dimasukkan sebanyak 30 gr kedalam labu leher tiga yang dilengkapi pengaduk,
selanjutnya dipanaskan dengan suhu 100 C.

Waktu reaksi dari asam Oleat dan isobutanol divariasikan selama 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam
kemudian divariasikan dengan komposisi katalis 15%, 17,5%, dan 20% dari berat asam oleat
dengan kecepatan pengadukan 200 rpm.

Katalis dan isobutanol dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang berisi asam oleat, lalu
dipanaskan dengan suhu dijaga pada rentang 75-80 C pada kecepatan pengadukan 200 rpm.

15

Kemudian, setelah mendapatkan ester, ester yang diperoleh disaring dan dimasukkan ke dalam
corong pemisah dan didiamkan selama 24 jam. Sehingga akan terbentuk dua lapisan (lapisan
atas terdiri dari isobutil oleat dan alkohol dan lapisan bawah terdiri dari air dan katalis).

3.5

Cara Analisa Hasil


Produk reaksi yang diperoleh berupa isobutil oleat, kemudian dilakukan analisa sifat fisika dan

kimia produk untuk mendapatkan data dan melihat pengaruh dari variasi komposisi katalis yang
digunakan. Analisa tersebut dilakukan secara konvensional (klasik). Sifat fisik dan kimia produk yang
dianalisa adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
3.6

Kadar asam lemak bebas


Bilangan penyabunan
Specific gravity
Kadar Air
Viskositas

Tempat dan Jadwal Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Bahan Alam dan Mineral Jurusan

Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau, Panam, Pekanbaru.


Penelitian dilakukan kurang lebih selama 4 (empat) bulan sejak bulan April 2014 sampai Juli
2014. Jadwal kerja penelitian dapat dilihat pada Tabel 3-2.
Tabel 3-2. Jadwal Penelitian

N
o

Kegiatan

Apr-14 Mei-14
Jun-14
Jul-14
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Persiapan Alat
1 dan Bahan
Penelitian /
2 Esterifikasi
Analisis Hasil
3 Penelitian
Pembahasan
4 Hasil Penelitian
Penyelesaian
5 Laporan

DAFTAR PUSTAKA

16

Brady, I.E dan J.R. Holum,1996, Fundamentals of Chemistry, 3rd Edition, Singapura : John Wiley &
Sons.
Compton, Brady, 2006, Plasticizer Ester, US PATENT No. 0270868
Debora, Posma dkk, Konversi Asam Lemak Sawit Distilat Menjadi Biodiesel Menggunakan Katalis
Zeolit Sintetis, Pekanbaru: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Oleo dan Petrokimia
Indonesia 2008
Ditjen Perkebunan. 2012. Produksi CPO Indonesia 2011. http://www.bumn.go.id/ptpn5/publikasi/2011produksi-cpo-indonesia-mencapai-23-9-juta-ton/.
Emanuel, Calvin, 2011, Plasticizer Market Update, 22nd Annual Vinyl Compounding Conference, 22nd
edition, 4.
Emanuel, Calvin, 2007, Plasticizer based on renewable resources, the 18th National Rubber Conference
2007, 18th edition, 7.
Fessenden, R.J, dan Fessenden, J.S, 1990, Kimia Organik, edisi kesatu, Penerbit Erlanga.
Gandhi, N.N, 1997. Application of Lipase. Journal Am.Oil Chem.Soc., 74 (6) : 621 634.
Hui, Y.H., 1996, Baileys Industrial Oil and Fat Products, New York : Jhon Wiley 7 Sons Inc, Vol 5
Javed, H., 2007, Plasticizers, http://en.wikipedia.org/wiki/Plasticizer, 31 May 2010.
Ketaren, S, 1986, Pengantar Teknologi Minyak Dan Lemak Pangan, Jakarta: UI Press.
Kurniawan, Deny, 2008, Regresi Linier, Forum Statistika, Jakarta
Lepper, H., Friesenhagen, L., 1986, Process for the Production of Fatty Acid Esters of Short- Chain
Aliphatic Alcohols from Fats and/or Oils Containing Free Fatty Acids, US : 4.608.202
Marchetti, J.M. 2008. Comparison different heterogenous Catalysts and Dufferents Alcohols For The
Esterification Reaction of Oleic Acid. Argentina: elseiver Fuel Jurnal.
Mellan, I, 1963. Industrial Plasticizer, Pergamon Press Book, New York, 302p.
Muhammed, F, 2009, Esterification Fatty Acid By H-Zeolite , US PATENT No. 0038209
Nasikin, M., A, dkk, 2004, Perengkahan katalitik Fasa Cair Minyak Sawit Menjadi Biogasolin,
Palembang : Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia
Prihandana, R, dkk, 2006, Menghasilkan Biodiesel Murah, Jakarta : Agromedia Pustaka.
Richardson James T, 1989, Principles of Catalyst Development, Plenum Press, New York.
Sadi, S dan Purboyo, G. 1996, Konsep Agroindustri Untuk Produksi Plasticizer dari Minyak Sawit
Secara Terpadu, Warta PPKS, Vol 4 (2) : 75-83.

17

Satterfield Charles N, 1991, Heterogeneous Catalysis in Industrial Practice, 2 ed, McGraw Hill, Inc.
nd

Sears, J.K dan J.R. Darby, 1982, The Technology of Plasticizer, Jhon Willey & Sons, New York, 1166p.
Sudarmadji, S., Haryono, B., Suhardi, 1997, Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian,
61-67, Liberty, Yogyakarta.
Septiana, Wulandari,2010, Pembuatan Biodiesel dari dedak secara esterifikasi. skripsi.Univeritas
Diponegoro.
Susanto, B, H dan M, Nasikin, 2008, Reaksi Esterifikasi Asam Oleat dengan Alkohol Rantai Panjang
Berkatalis Zeolit Untuk Memproduksi Plumas Dasar Bio, Pekanbaru : Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Oleo dan Petrokimia Indonesia 2008
Triwulandari, Evi dan Haryono.2008. Sintesis Plastisizer Isobutil Oleat Sebagai Bahan Substitusi PVC.
Serpong: Jurnal Polimer LIPI
Wypich, G, 2004, Handbook of Plasticizer, US : Chemtech Publishing, Inc
Zahrina, I. dan Sunarno, 2006, Kajian Awal Esterifikasi Asam Lemak Bebas Yang Dikandung Minyak
Sawit Mentah pada Katalis Zeolit Sintesis, Pekanbaru : Prosiding Seminar
Teknologi Oleo dan Petrokimia Indonesia 2006

18

Nasional

LAMPIRAN A
PROSEDUR ANALISA
SIFAT FISIKA-KIMIA ISOBUTIL OLEAT
A.1. Analisa asam lemak bebas
Berikut langkah-langkah analisa asam lemak bebas:
1. Larutan KOH 0,1 N [Sudarmadji et. al, 1997]
KOH sebanyak 5,6 g dilarutkan dalam aquades hingga 1 liter.
2. Larutan Indikator phenolphtalein 1% [Sudarmadji et. al, 1997]
1 g phenolphthalein larutkan dalam 100 ml alkohol (etanol) 96%.
3. Standarisasi Larutan 0,1 N KOH [Sudarmadji et. al, 1997]
Ditimbang dengan teliti 5 ml asam oksalat (C 2H2O4.2H2O) 0,1 N, dimasukkan dalam

Erlenmeyer 250 ml.


Ditambahkan 2 3 tetes indikator PP dan dititrasi dengan larutan KOH yang akan

distandarisasi sampai warna merah jambu.


Perhitungan N KOH dari hasil rata-rata 3 kali ulangan.
N KOH =

N as .Oksalat x 5 ml
V ml KOH

4. Penentuan Kadar Asam [S. Ketaren, 1986]


Sampel ditimbang sebanyak 1 gram, lalu dimasukkan dalam erlenmeyer 100 ml.
Alkohol 96% sebanyak 50 ml ditambahkan kedalam erlenmeyer berisi sampel.
Panaskan larutan pada suhu 70C, Kemudian ditambahkan indicator PP.
Larutan dititrasi dengan KOH-Ethanol 0,1 N, sampai terjadi perubahan warna merah
jambu.
Penentuan kadar asam yang terkandung dalam sampel dapat dihitung dengan rumus :
( mlKOH ) xN KOHx 282.46
Kadar Asam =
gramSampel x 10
Kadar Asam Bahan BakuKadar Asam Produk
Konversi =
x 100 %
K adar Asam Bahan Baku
A.2. Viskositas Kinematik (ASTM D-445)
Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan di
dalam fluida. Makin besar viskositas suatu fluida, maka makin sulit suatu fluida mengalir dan makin
sulit suatu benda bergerak di dalam fluida tersebut. Viskositas dengan satuan centi poise (cp).
19

Viskositas dinamis atau viskositas absolut unit cgs dari viskositas dinamis (Va) adalah poise, yang
mempunyai dimensi gram/cm/detik. Viskositas kinematik (Vk) adalah viskositas dinamik dibagi
dengan densitas (Va / ), dimana keduanya diukur pada temperatur yang sama. Unit dari viskositas
kinematik adalah stoke, yang mempunyai dimensi cm2/s.
Viskositas kinematik diukur dengan menggunakan glass capilary viscometer dan bak untuk
pengatur suhu. Viskositas kinematik diukur dengan melakukan pengukuran waktu untuk sejumlah
volume cairan yang mengalir melalui kapiler viskometer, pada temperatur tertentu. Viskositas
kinematik adalah hasil perkalian dari waktu aliran yang diukur dengan faktor glass capillary
viscometer dan densitas dari cairan dibandingkan dengan waktu aliran air. Dengan rumus:

t .
o
. o

berikut langkah-langkah menggunakan viscometer Oswald:

Pergunakan viscometer Oswald yang bersih.


Letakkan viskometer dalam termostat pada posisi vertikal.
dimasukkan (10-15 ml) cairan yang akan diukur viskositasnya kedalam reservoir A (lihat

Gambar A.1),
Atur termostat pada suhu yang dikehendaki (40C), biarkan viskometer dan isinya selama 5

menit untuk mencapai suhu termostat.


Cairan dihisap melewati reservoir B, sedikit di atas garis m, kemudian ditutup dengan

menggunakan tangan, agar cairan tidak turun.


Lepaskan tangan, untuk menurunkan cairan. dicatat waktu yang diperlukan cairan untuk
mengalir dari m ke n. lakukan pengerjaan ini beberapa kali.

Viskositas kinematis cairan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan


A.3. Analisa Kadar Air
Penentuan kadar air merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kadar air yang
terkandung di dalam produk. Kadar air dihitung sebagai berat yang hilang setelah contoh uji
dipanaskan pada suhu 100oC 2oC selama 60 menit.Kadar air dihitung berdasarkan rumus dibawah ini:
% kadar air = (W1 W2)
(W1-W)
Keterangan:

W = berat wadah (g)


W1= berat wadah dengan contoh / sampel (g)
20

W2=berat wadah dengan sampel uji setelah dikeringkan (g)


A.4. Penentuan Massa jenis [ASTM D-4055]

Bersihkan dan keringkan piknometer didalam oven, setelah didinginkan di dalam desikator lalu

ditimbang untuk mendapatkan berat piknometer kosong.


Isi piknometer dengan cairan yang akan ditentukan densitasnya, lalu ditutup hingga meluap

dan tidak ada gelembung udara.


Setelah ditutup, kemudian piknometer dengan isinya direndam di dalam bak air (water bath)

bersuhu 40C dan biarkan pada suhu konstan selama 10 menit.


Piknometer diangkat dari air dan dikeringkan, kemudian piknometer bersama isinya ditimbang
Sedangkan massa jenis cairan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
( Bobot piknometer+cairan ) (bobot piknometer kosong)
Massa Jenis () =
Volum Cairan
Perhitungan spesifik graviti dengan menggukan persamaan berikut:
SG =

produk
air

A.5. Penentuan Bilangan Penyabunan [S. Ketaren, 1986]


Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah
contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk
menyabunkan 1 gram minyak. Biasanya bilangan penyabunan tergantung dari berat molekul. Minyak
yang memiliki berat molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan lebih tinggi dari minyak
yang berat molekulnya tinggi.
Tata cara atau prosedur kerja dalam penentuan bilangan penyabunan yaitu:

Sampel disaring dengan kertas saring untuk membuang kandungan bahan asing.
Masukkan 10 gram minyak/ asam lemak ke dalam erlenmeyer 250 ml dan panaskan
pada suhu 70oC selama 5 10 menit. Tambahkan 50 ml KOH 0,1 N dan dilakukan

pengadukan hingga terbentuk campuran kental dan tersabunkansempurna.


Larutan didinginkan kemudian ditambahkan sedikit indikator PPkemudian dititrasi

dengan Asam Oksalat 0,1 N sampai warna merah jambu menghilang.


Pada tiap-tiap penentuan secara titrasi blanko sebagai pembanding. Dasar perhitungan
adalah selisih antara ml titrasi sampel dengan titrasi blanko.

Bilangan Penyabunan = ( A B ) x N KOH x 56


G
21

Dimana :
A=jumlah ml asam oksalat 0,1 N untuk titrasi blanko
B=jumlah ml asam oksalat 0,1 N untuk titrasi sampel
G=berat sampel (gr)

22

LAMPIRAN B
PERHITUNGAN BAHAN DAN ANALISA
1. Pembuatan larutan KOH 0,1 N 1000 ml
N = M x valensi
M = (masaa / Mr ) x V
=

massa 1000
x
Mr
V

0,1 =

massa 1000
x
56
1000

Massa KOH = 5,6 gram


Larutkan 5,6 gram KOH dengan ethanol sampai volume 1000 ml.
2. Perhitungan bahan asam oleat dan isobutanol dengan perbandingan
1:6 dan katalis yang akan digunakan

Perhitungan jumlah reaktan yang akan digunakan


Dik:

BM asam oleat

g/mol

BM isobutanol

= 74,12

g/mol

asam oleat

g/ml

isobutanol

= 0,802

Massa asam oleat=

30

Mol asam oleat


=

= 282

massa
Mr

massa
volume =
volume

Mol isobutanol

0,895
gram
30 gram
282 g/mol

massa

g/ml

30 gram
= 33,52 ml
0,892 g/cm 3

= 6 x mol asam laurat


= 6 x 0,106
= 0,64 mol

Massa isobutanol = mol isobutanol x Mr


= 0,64 x 74,12
23

= 0,106 mol

= 47,31gram
Volume isobutanol

massa

47,31 gram
0,802 g/cm 3

59 ml

3. Penentuan kadar asam lemak bahan baku

Kadar asam lemak bahan baku

NKOH .VKOH .BMAsamOlea t


%
10.BeratSampel

N KOH . V KOH . BM Asam Stearat


10. Berat sampel

4. Penentuan kadar asam lemak produk dan konversi reaksi

Kadar asam lemak Produk

NKOH .VKOH .BMAsamOlea t


%
10.BeratSampel

N KOH . V KOH . BM Asam Stearat


10. Berat sampel
kadar as lemak ba h an bakukadar asamlemak produk
kadar asamlemak produk

Konversi Reaksi =

x 100%

5. Penentuan Densitas
=

berat piknometer dan sampel berat piknometer kosong


Volume Cairan

Spec gravity =

densitas sampel
densitas air

24

6. Penentuan Viskositas

t .
o
. o

7. Perhitungan bilangan penyabunan


Bilangan penyabunan

= Berat KOH / Berat Sampel Produk

25

LAMPIRAN C
PROSES PRODUKSI ISOBUTIL OLEAT
Proses produksi Plastisizer dari Asam Oleat secara kimiawi dapat dilihat pada gambar B.1.

Komposisi Katalis

Waktu Reaksi

15%, 17,5%, 20%

3, 4 , 5, 6 Jam

Gambar B.1. Diagram Alir Proses esterifikasi isobutil oleat.

26