Anda di halaman 1dari 25

MATERI PERKULIAHAN

PEMERIKSAAN FISIK PADA KULIT DAN ALAT KELAMIN


BY. IRAWATI TAMPUYAK, A. Md. Kep

Nama mata kuliah :


Kebutuhan Dasar Manusia
Kode Mata Kuliah :
WAT 4. 02
Jumlah SKS
: 4 SKS (T = 2, P = 2)
Semester
: I (satu)
Tingkat
: I A, B, C
Pertemuan
:
IV
Sub Pokok Bahasan :
Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin
Pemeriksaan Fisik Integumen

1. Pemeriksaan fisik Alat Kelamin

Alat Kelamin Pria


Anatomi alat Genitalia Pria

Alat kelamin mempunyai beberapa peranan pokok dalam


kehidupan sehari-hari yaitu :
- Sebagai alat mengeluarkan urine (meatus urinaria)

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

- Penghasil hormon
- Sebagai alat reproduksi
Pengkajian alat reproduksi yang meliputi 2 organ utama :
penis dan testis serta struktur tambahan (Duktus
pengeluaran, glandula Prostat dan struktur inguinal) dapat
dikaji secara terpisah atau bersama-sama sewaktu mengkaji
sistem urinaria.
Sebagai alat reproduksi maka alat kelamin pria memiliki
beberapa tahap : ereksi, pelumasan, emesi dan ejakulasi
Pemeriksaan fisik genitalia pria mencakup pengkajian
genitalia eksternal. Karena tingginya insiden penyakit
menular seksual pada remaja dan dewasa muda, pengkajian
genitalia harus menjadi bagian yang rutin dari pemeriksaan
pemeliharaan kesehatan untuk kelompok usia ini.
1..1 Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan yang diperlukan meliputi pola sehatsakit meliputi :
Status kesehatan sekarang : keluhan utama,
pola buang air kecil, adanya luka, bengkak, nyeri,
perubahan warna pada penis dan skrotum, masalah
hubungan seksual/erksi atau ejakulasi dan apakah
ada obat-obatan yang berpengaruh terhadap fungis
sistem
reproduksi
misalnya
;
antikonvulsan,
antikolinergik atau antidepresan yang dapat
menyebabkan impotensi.
Status kesehatan dahulu : apakah klien
mempunyai anak, apakahpernah menjalani operasi
pada sistem urinaria/hernia, trauma pada traktus
urinaria,penyakit kelamin menular, diabetes militus
gangguan pada testis, endokrin atau hipogonadisme
Status kesehatan keluarga : adakah anggota
keluarga klien yang mengalami gangguan sistem
reproduksi yaitu madul atau hernia.
Pertimbangan perkembangan : pada pasien anak
diajukan pertanyaan pada orang tua apakah ibu
memakai hormon sewaktu hamil, apakah anak
mempunyai kelainan genitourinaria bawaan dan
adakah pembengkakan pada skrotum sewaktu anak
menangis atau buang air besar (kemungkinan
hernia), pada pasien remaja ajukan pertanyaan
tentang perkembangan seksualnya dan bagaimana
ia melakukan aktifitas seksual. Pada pasien usia

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

lanjut ajukan pertanyaan apakah ada perubahan


frekuensi , serta gairah seksual dan adakah
perubahan penampilan seksualnya.
Pola pemeliharaan kesehatan : apakah pasien
memahami dan melakukan pemeriksaan testis
secara
periodik,
bagaimana
pola
hubungan,
bagaimana pola hubungan seksualnya, apakah
berupaya untuk mencegah penyakit menular, apakah
jenis pekerjaannya mempunyai resiko menciderai
alat kelamin, dan apakah pasien dalam keadaan
stress.
Pola peranan-kekerabatan : bagaimana kesan
diri/self image pasien, adakah aspek budaya yang
berpengaruh
terhadap
kehidupan
seksualnya,
bagaimana bentuk seksualnya (hetero, homo, atau
biseksual) dan bila pasien mengalami gangguan
seksual, apakah hal ini mempengruhi kekerabatan
sosial dan emosinya.
1..2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dimulai dengan klien berbarin terlentang,
dengan dada, abdomen, adan tungkai bawah diselimuti.
Digunakan teknik inspeksi dan palpasi. Perawat
menggunakan sarun tangan sekali pakai untuk
mencegah infeksi silang dari rabas uretra.
Inspeksi
Pertama-tama inspeksi rambut pubis, perhatikan
penyebaran pola pertumbuhan rambut pubis. Catat
bila rambut pubis tumbuh sangat sedikit atau sama
sekali tidak ada
Inspeksi penis mengenai kulit, ukuran, dan adanya
kelainan lain yang nampak.
Pada pria yang tidak dikhitan, pegang penis dan
buka kulup penis, amati lubang uretra dan glands
penis mengenai adanya ulkus, skar, nodula,
peradangan dan keluaran (bila pasien malu, dapat
pula penis dibuka oleh pasien sendiri). Lubang
uretra nornalnya terletak ditengah gland. Pada
beberapa kelainan, lubang uretra ada yang terletak
dibawa batang penis (hipospadia), dan ada yang
terletak diatas batang penis (epispadia)
Inspeksi skrotum dan perhatiakan bila ada tanda
kemerah-merahan, bengkak, ulkus, eksoriasis, atau

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

nodula. Angkat skrotum dan amati area dibelakang


skrotum.

Palpasi
Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya
nyeri tekan, nodula, dan adanya cairan kental yang
keluar. Palpasi sebaiknya tidak dilakukan pada
pasien pria dewasa yang tidak mempunyai keluhan
Palpasi skrotum dan testis dengan menggunakan
jempol dan tiga jari pertama.palpasi tiap testis dan
perhatikan
ukuran,
konsistensi,
bentuk
dan
kelicinannya. Testis normalnya teraba elastis, licin
dan tidak ada nodul atau massa dan berukuran
sekitar 2-4 cm
Palpasi epidedemis yang memanjangdari puncak
testis kebelakang. Normalnya epidedemis teraba
lunak
Palpsi saluran sperma dengan jempol dan jari
telunjuk. Saluarn sperma biasanya ditemukan pada
puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih
keras dari pada epidedemis
Inspeksi dan palpasi Hernia
Inspeksi area inguinal dan femoral mengenai
adanya pembengkakan
Lakukan palpasi untuk mengetahui hernia inguinal.
Anjurkan pasien berdiri dengan sebelah kaki.
Pada sisi yang akan diperiksa agar ditekuk
Gunakan tangan kanan anda untuk sisi kiri
pasien, masukkan jari telunjuk anda kedalam
kulit skrotum dan dorong keatas cincin inguinal
eksterna
Bila cincin membesar, masukkan jari anda
melalui cincin dan anjurkan pasien untuk
mengejan atau batuk. Hernia inguinal dapat
teraba dengan cara ini

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Palpasi paha anterior pada area saluran femoral


untuk mengetahui adanya hernia femoral
Anjurkan pasien untuk batuk
Catat adanya setiap pembengkakan atau nyeri
tekan pada area tersebut
Anjurkan pasien untuk berbaring, seringkali
hernia akan kembali keperut

Alat Kelamin Wanita


Anatomi Alat genitalia wanita

Berbagai masalah yang terjadi berkaitan dengan sistem


reproduksi wanita dapat terjadi misalnya masalah yang
berkaitan dengan kontrasepsi, infertilitas, kehamilan,
gangguan menstruasi maupun menopause.
Sistem reproduksi wanita terdiri dari 2 bagian utama yaitu
alat kelamin bagian luar dan bagian dalam yang
berkembang sesuai dengan pengaruh hormon-hormon yang

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

mempengaruhi fertilitas, kehamilan, melahirkan dan


kemampuan mencapai kepuasan seksual.
Alat kelamin luar terdiri dari :
- Mons pubis
- Klitoris
- Labia mayora
- Labia minora
- Serta beberapa struktur yang berkaitan dengan
(kelenjar Bartholini, Skens, dan meatus uretra)
Alat kelamin dalam meliputi :
- Vagina
- Uterus
- Ovarium
- Tuba fallopia
Pada tahun-tahun sebelum menstruasi pada saat hamil,
uterus wanita mengalami perubahan ukuran. Menstruasi
pertama kali pada wanita terjadi pada saat seorang wanita
memasuki usia remaja dan menstruasi ini akan berakhir
(menopause) pada saat wanita berusia sekitar 40 sampai
dengan 55 tahun
1..1 Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan yang diperlukan meliputi pola
sehat-sakit meliputi :
Status kesehatan sekarang :
kapan pasien
mengalami menstruasi, periode menstruasi, apakah
klien menggunakan kontrasepsi, apakah pasien
merokok/menggunakan alkohol, apakah partnernya
menderita infeksi alat kelamin, dan bagaimana
keaktiifan hubungan seksnya.
Status kesehatan dahulu : apakah klien pernah
mengalami gangguan pada alat kelaminnya,
perdarahan, penyakit kelamin, pembedahan dan
kehamilan
Status kesehatan keluarga dan Pertimbangan
Perkembangan : adakah anggota keluarga klien
yang mengalami gangguan sistem reproduksi,
pembedahan pada sistem reproduksi atau yang
menderita gangguan sistemik seperti
diabetes
militus, obesitas, atau penyakit jantung
Pola pemeliharaan kesehatan :
kebiasaan
makan kien, apakah sering buang air kecil yang

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

mengganggu tidurnya, dan bagaimana keteraturan


pasien dalam melakukan check-up kesehatan.
Pola peranan-kekerabatan :
apakah ada
perubahan pola hubungan seksual klien dan apakah
klien mengalami gangguan dalam mengadakan
hubungan seksual
1..2 Pemeriksaan Fisik
1.2.2.1 Pengakajian alat kelamin bagian luar
Beri kesempatan pada klien untuk mengosongkan
kandung kemih sebelum pengkajian dimulai agar
menjaga urine tidak keluar dengan sengaja selama
pemeriksaan dan untukmelakukan tes skrining
urine.
Anjurkan klien membuka celana, bantu mengatur
posisi litotomi da selimuti bagian yang tidak
diamati
Mulai dengan mengamati rambut
pubis,
perhatikan
distribusi
dan
jumlahnya
dan
bandingkan sesuai usia perkembangan klien. (usia
praremajatidak memiliki rambut pubis kecuali
rabut tubuh yang halus pada abdomen, selama
remaja, rambut tumbuh sepanjang labia, menjadi
lebih gelap dan kasar, dan keriting menyebar
diseluruh simfisis pubis. Pertumbuhan rambut
padaakhirnya
membentuk
segitiga
diatas
perineum wanita dan sepanjang permukaan
tengah paha. Rambut tidak boleh menyebar
sampai keabdomen. Rambut harus bebas dari
telur kutu dan kutu)
Amati kulit dan area pubis, perhatikan adanya lesi,
eritema, fisura, leukoplakia dan eksoriasi
Buka labia mayora : kulit perinuem halus, bersih
sedikit lebih gelap dari kulit yang lain. Membran
mukosa tampak merah muda dan lembab. Labia
mayora bisa membuka atau menutup dan tampak
kering atau lembab. Labia tersebut biasanya
simetris. Setelah melahirkan labia mayora
terpisah, menyebabkan labia minora lebih
menonjol. Pada saat seorang wanita mencpai
menopaus, labia mayora menipis, dan sejalan
dengan usia menjadi atrofi . Labia mayora

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

normalnya tanpa inflamasi, edema, lesi atau


laserasi
Perawat meletakkan ibu jari dan jari telunjuk
tangan dominan didalam labia minora dan
meretraks jaringan tersebut keluar. Perawat harus
menahannya dengan baik untuk menghindari
retraksi berulang terhadap jaringan yang sensitif
tersebut. Pada saat inspeksi labia minora :
normalnya lebih tipis daripada labia mayora dan
satu sisinya akan lebih besar. Jaringan tersebut
harus terasa lunak pada saat palpasi dan tanpa
nyeri tekan.
Klitoris : Ukuran klitoris bervariasi tetapi normalnya
sekitar berukuran panjang 2 cm atau kurang dan
lebar 0,5 cm. Perawat mencari adanya atropi,
inflamasi atau adesi. Jika terinflamsi klitoris akan
tampak merah ceri terang. Pada wanita muda
klitoris merupakan tempat yang umum untuk lesi
sifilis atau syangker (cancre), yang tampak seperti
ulkus terbuka kecil yang mengeluarkan materi
serosa. Wanita lansia dapat mengalami perubahan
maliknan yang menyebabkan lesi kering, bersisik,
noduler.
Orifisium Uretra :
diobservasi dengan cermat
warna dan posisinya. Normalnya orifisium uretra
harus utuh tanpa inflamasi. Meatus uretral berada
di antara anterior orifisium vagina dan berwarna
merah muda. Kadang sulit untuk dilihat. Tampak
sebagai celah kecil atau lubang jarum tepat
dibawah kanal vagina. Pada wanita yang sudah
beberapa kali melahirkan bervagina, lubang
kekanal vagina sering kali melebar
keatas,
menghalangi terlihatnya uretra perawat mencacat
adanya rabas, polip atau fistula.
Vagina : Pada saat menginspeksi orifisium vagina
(introitus),
perawat
menginspeksi
inflamasi,
edema, perubahan warna rabas dan lesi.
Normalnya introitus adalah celah vertikal tipis atau
orifisium yang besar. Jaringan tersebut bersifat
lembab. Himen berada tepat didalam introitus
pada wanita yang masih gadis, himen tersebut

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

menghalangi pintu masuk ke vagina. Hanya sisa


himen saja yang ada setelah hubungan seksual.
Kelenjar skene dan bartholin : Beritahu klien bahwa
anda akan memasukkan satu jari kedalam
vaginanya dan bahwa ia akan merasakan tekanan
dengan telapak tangan menghadap keatas,
perawat memasukkan jari telunjuk dari tangan
yang akan diperiksa kedalam vagina sejauh sendi
kedua. Beri tekanan ke atas, perawat memeras
kelenjar skene dengan menggerakkan jari keluar.
Rabas dan nyeri tekan merupakan hal yang
abnormal. Pemeriksaan dilakukan pada kedua sisi
uretra dan kemudian langsung pada uretra. Tehnik
ini dapat menyebabkan keluarnya rabas maka
perawat harus mencatat warna, bau, dan
konsistensi serta ambil kulturnya. Jika inflamasi
dan edema ditemukan didekat ujung posterior dari
dari introitus, kelenjar bartolin dapat terinfeksi.
Kelenjar tersebut normalnya tidak dapat dipalpasi.
Untuk melakukan palpasi perawat meletakkan ibu
jari dan jari telunjuk diantara labia mayora dan
introitus dan mempalpasi setiap sisi satu persatu.
Anus : Mencari adanya lesi dan hemoroit.
1.2.2.2Pengakajian alat kelamin bagian dalam
Serviks
: pertama kali dari pemeriksaan
melibatkan insersi spekulum yang cermat sampai
pemeriksa
dapat
melihat
serviks
secara
keseluruhan.
Pemeriksa
duduk
dibangku
menghadap perineum klien lampu yang dapat
diatur diletakkan diatas bahu pemeriksa diarahkan
ketempat pemeriksaan. Pemeriksa memegang
spekulum
dengan
tangan
dominan
dan
menjelaskan prosedur tersebut kepada klien. Jika
wanita
tersebt
belum
pernah
diperiksa
sebelumnya masukkan dua jari kedalam vagina
untuk mengeksplorasi abnormalitas. Kemudian
dengan dua jari pemeriksa menekan badan
perineal
tepat
didalam
introitus.
Setelah
pemeriksaan untuk memastikan bahwa bila
spekulum sudah tertutup, pemeriksa memasukkan
spekulum yang tertutup secara miring (diputar 50 0)
berlawanan dengan arah jarum jam dari posisi

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

vertikal. Melewati jari-jari tersebut spekulum


tersebut dimasukkan kebawah pada sudut 45 0
kearah meja pemeriksaan untuk menghindari
trauma pada uretra (manuver berhubungan
dengan lereng kebawah abnormal dari kanal
vagina). Setelah bagian yang lebar dari bilah
trsebut melewati introitus, spekulum dirotasi
sehingga bilah tersebut berada pada posisi
horisontal. Bilah tersebut dibuka secara perlahan
setelah insersi lengkap dan spekulum digerakkan
untuk memvisualisasikan serviks. Setelah serviks
terlihat sepenuhnya, bilah tersebut dikunci pada
posisi terbuka. Pemeriksa menginspeksi serviks
untuk warna, tampilan tulang atau lubang, posisi,
ukuran, karakteristik permukaan, dan rabas.
Serviks normal dan berwarna merah muda
mengkilat, halus dan bulat. Diameternya kira-kira
2,5 sampai 3 cm pada wanita muda dan lebih kecil
lagi pada lansia. Serviks harus berada digaris
tengah dan tanpa lesi.
Papanicolaou Smear : Permukaan serviks pada
lubang kanal servikal dilapisi oleh lapisan-lapisan
sel skuamosa vagina. Sel tersebut bertemu
dengan kelompok sel yang berbeda. Selkolumnar
mengeluarkan mukus dan melapisi jalur yang
mengarah kedalam kavitas sentral dari uterus. Sel
skuamosa memiliki peran protektif terhadap
serviks, dan sel kolumnar memiliki peran
reproduktif (membantu sperma memasuki uterus
untuk vertilisasi). Papsmear merupakan tes krining
tanpa nyeri untuk kanker serviks. Spesimen
diambil dari endo serviks dan ekto serviks. Tes ini
harus
dilakukan
setiap
tahun
bersama
pemeriksaan velvik pada wanita yang atau telah
aktif secara seksual dan pada wanita yang berusia
18 tahun. Pemeriksa harus mengambil sampel
terlebih dahulu dari bagian luar serviks atau
ektoserviks. Spatula plastik diputar 360 derajat
dari permukaan serviks. Setelah spatula ditarik,
pemeriksa meratakan spesimen tersebut secara
tipis di atas slide kaca. Perawat membantu
menyemprot spesimen dengan fiksatif sitologik
pada memberi label pada slide. Kemudian

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

pemeriksa
pemeriksa
menggunakan
cytobrushuntuk
mengambil
sel
endoserviks.
Citybrosuh dimasukkan kedalam os servikal dan di
rotasi satu putaran penuh. Spesimen tersebut
kemudian dioleskan secara merata pada slide
dengan memutar sikat tersebut dengan tekanan
sedang. Sekali lagi spesimen tersebut disemprot
dan diberi label. Di akhir prosedur, perawat
memberi tahu klien bahwa bercak darah
merupakan hal yang normal selama beberapa jam.
Terdapat juga alat paintbrush (Cervex-brush) yang
dapat
digunakan
untuk
mengambil
kedua
spesimen pada saat yang bersamaan. Alat
tersebut menggunakan bulu-bulu plastik yang
fleksibel, yang sudah dilaporkan hanya sedikit
menimbulkan bercak darah.
Vagina : Setelah spesimen diambil, pemeriksa
melihat dinding vagina pada saat spekulum ditarik
secara perlahan. Pada saat spekulum dikeluarkan
dari serviks, skrup dilonggarkan, tetapi bilaj dijaga
agar tetap terbuka dengan ibu jari. Pada saat
penarikan tersebut, pemeriksa mencatat warna,
karakteristik permukaan, dan sekresi. Dinding
vagina normalnya berwarna merah muda dan
bebas dari rabas dan lesi. Permukaan harus
lembab dan halus. Sekresi normal bersifat encer,
jernih atau keruh, dan tidak berbau. Wanita yang
menderita infeksi jamur, memiliki rabas yang
kental, putih, berbau aneh, dan seperti dadih.
Setelah Spekulum ditarik perawat membantu klien
ke posisi duduk dan membiarkan klien berpakaian
dan melakukan higiene. Pada lingkungan rumah
sakit klien mungkin memerlukan bantuan dalam
higiene perineal. Perawat memastikan bahwa
sarung tangan, spekulum, peralatan sekali pakai
lainnya dibuang dengan tepat di wadahnya. Klien
diberi tahu bahwa hasil Pap smear akan diperoleh
dalam 3 sampai 4 hari (periksa kebijakan institusi).
2. Pemeriksaan fisik Integumen
Kulit merupakan perlindungan eksternal tubuh, mengatur suhu
tubuh, dan bertindak sebagai organ sensorik untuk nyeri, suhu
dan sentuhan. Pengkajian Integumen meliputi :

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Pengkajian Kulit
Pengkajian Rambut dan Kulit kepala
Pengkajian kuku

Kulit
Anatomi Kulit

Pengkajian kulit dapat mengungkapkan berbagai kondisi


termasuk perubahan pada oksigenasi, sirkulasi, nutrisi,
kerusakan jaringan lokal dan hidrasi
2..1 Riwayat Keperawatan
Apakah ada perubahan pada kulit ( kering, luka, ruam,
benjolan, warna tekstur, bau lesi yang tidak sembuh),
apakah klien bekerja atau menghabiskan waktu secara

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

berlebihan diluar, berapa frekuensi mandi klien dalam


sehari dan menggunakan jenis sabun apa, apakah klien
baru-baru ini mengalami trauma pada kulit, apakah klien
mempunyai riwayat alergi, apakah klien menggunakan
obat-obatan topikal, apakah klien mempunyai riwayat
gangguan kulit yang serius dalam keluarga
2..2 Pemeriksaan Fisik
Warna kulit :
- Kebiruan (Sianosis) : Peningkatan jumlah
hemoglobin deoksigenasi (berhubungan dengan
hipoksia), pada penyakit jantung atau paru,
lingkungan dingin lokasi pengkajian pada daerah
dasar kuku, bibir, mulut, dan kulit

- Pucat (Penurunan warna) : Penurunan jumlah


oksihemoglobin terjadi pada penyakit anemia
lokasi pengkajian pada daerah wajah, konjungtiva,
dasar kuku, telapak tangan. Penurunan visibilitas
oksihemoglobin yang terjadi akibat dari penurunan
aliran darah terjadi pada pasien yang syok lokasi
pengkajian pada daerah kulit, dasar kuku,
konjungtiva dan bibir.
- Kehilangan Pigmentasi : Vitiligo pada penyakit
kongenital atau autoimun yang menyebabkan
kekurangan pigmen lokasi pengkajian pada daerah
area bercak pada kulit diwajah, tangan dan lengan
- Kuning jingga (Ikterik) : Peningkatan jumlah
bilirubin dalam jaringan pada penyakit hati,
destruksi sel darah merah lokasi pengkajian pada
daerah sklera, membran mukosa, kulit
- Merah eritema : Peningkatan vesibilitas
oksihemoglobin karena dilatasi atau peningkatan
aliran darah pada penyakit demam, trauma
langsung, kebiruan,asupan alkohol lokasi
pengkajian pada daerah wajah, area trauma,
sakrum, bahu, daerah lain yang banyak mengalami
dekubitus
- Cokelat : Peningkatan jumlah melanin pada klien
yang sering berjemur, kehamilan lokasi pengkajian

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

pada daerah area-area yang terpajan matahari:


wajah, lengan, areola,puting
Kelembapan
Kelembapan kulit langsung berkaitan dengan hidrasi
klien dan kondisi lapisan lemak luar permukaan kulit
(DeWitt,1990). Hidrasi kulit dan membran mukosa
membantu mengungkapkan keseimbangan cairan
tubuh, perubahan lingkungan integumen, dan
pengaturan suhu tubuh.
Kelembapan
adalah kebasahan dan keminyakan.
Kulit normalnya halus dan kering. Sedikit keringat
dan minyak harus ada (Seidel et al, 1995).
Peningkatan keringat dapat berhubungan dengan
aktivitas,
lingkungan
yang
hangat,
obesitas,
kecemasan, atau kegembiraan. Lipatan-lipatan kulit
seperti aksila normalnya lembap. Kulit yang terlalu
kering banyak terjadi pada lansia dan orang-orang
yang terlalu banyak menggunakan sabun di saat
mandi.
Perawat menggunakan ujung jari tanpa sarung
tangan untuk mempalpasi permukaan kulit dan
mengobservasi membran mukosa untuk kepekaan,
kekeringan, krusta, dan pengelupasan. Pengelupasan
adalah tampilan seperti ketombe yang mengelupas
pada saat permukaan kulit diusap sedikit. Sisik
berbentuk seperti sisik ikan yang mudah digosok dari
permukaan kulit. Baik pengelupasan maupun sisik
merupakan indikator untuk kulit yang kering
abnormal (Hardy,1990). Klien ditanyakan tentang
gatal. Winter itch merupakan kondisi umum yang
ditemukan pada saat iklim berkelembapan rendah
selama musim dingin (DeWitt, 1990). Kekeringan
yang berlebihan dapat memperburuk penyakit kulit
yang sudah ada seperti ekzema dan dermatis.
Suhu
Suhu kulit bergantung pada jumlah darah yang
bersirkulasi melewati dermis. Peningkatan atau
penurunan suhu kulit mengindikasikan peningkatan
atau penurunan darah. Normalnya suhu kulit berada
pada rentang dari dingin ke hangat bila disentuh.
Suhu lebih akurat jika dikaji dengan mempalpasi
kulit menggunakan permukaan dorsal tangan atau

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

jari. Suhu kulit dapat sama diseluruh tubuh atau


bervariasi dari satu area ke area lain, seperti hangat
setempat pada daerah luka yang terinfeksi atau
dingin pada jari karena penurunan aliran darah.
Perawat mencari adanya kesimetrisan bilateral.
Pengkajian suhu kulit merupakan pengkajian dasar
jika klien berisiko mengalami gangguan sirkulasi
(mis. Setelah pemakaian gips atau balutan yang
ketat atau setelah pembedahan vaskuler). Selain itu
perawat dapat mengidentifikasi dekubitus stadium I
secara dini ketika mencatat adanya rasa hangat dan
eritema pada area kulit.
Tekstur
Karakter permukaan kulit dan bagian yang lebih
dalam pada perabaan adalah teksturnya. Perawat
menentukan apakah kulit klien halus atau kasar, tipis
atau tebal, kencang atau lentur, dan indurasi
(kekerasan) atau lunak dengan mengusapnyadan
sedikit mempalpasinya dengan ujung jari. Tekstur
kulit normalnya halus, lunak, rata dan fleksibel pada
anak-anak dan dewasa. Tetapi, tekstur biasanya tidak
sama di seluruh tubuh. Telapak tangan dan kaki
cenderung lebih tebal. Pada lansia, kulit menjadi
keriput dan leatherly karena penurunan kolagen,
lemak subkutan, dan kelenjar keringat.
Perubahan setempat dapat terjadi karena
trauma, luka bedah, atau lesi. Jika terdapat ketidak
teraturan dalam tekstur seperti eskar atau
pengerasan, maka perawat bertanya apakah klien
baru-baru ini mengalami cedera pada kulit. Palpasi
yang
lebih
dalam
dapat
mengungkapkan
ketidateraturan seperti nyeri tekan atau area indurasi
setempat yang umumnya disebabkan oleh injeksi
intramuskuler atau subkutan berulang. Jika klien
menderita diabetes atau menerima injeksi vitamin
B12 atau zat besi, maka area-area indurasi banyak
terjadi.
Turgor
Turgor adalah elastisitas kulit, yag dapat hilang
karena edema atau dehidrasi. Normalnya kulit
kehilangan elastisitas sejalan dengan pertambahan
usia. Untuk mengkaji turgor kulit, lipatan kulit di

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

bagian belakang lengan bawah atau area sternum


dijumput/dicubit dengan ujung jari dan dilepaskan
(Gambar 33-11). Kulit normal akan terangkat dengan
mudah dan segera kembali ke posisi semula. Bagian
belakang tangan bukan tempat yang baik untuk
menguji turgor kulit karena kulit di daerah tersebut
longgar dan tipis (Seidel et al, 1995). Kulit tetap
tercubit jika turgor buruk. Perawat mencatat
kemudahan kulit terangkat dan kecepatannya
kembali ke tempat semula. Kegagalan kulit kembali
ke kontur atau bentuk normal mengindikasikan
adanya dehidrasi. Klien dengan turgor kulit buruk
tidak memiliki kekenyalan terhadap pemakaian dan
robekan pada kulit. Kulit cenderung tetap tercubit jika
turgor buruk. Penurunan turgor menyebabkan klien
mengalami kerusakan kulit.
Vaskularitas
Sirkulasi kulit mempengaruhi warna area setempat
dan tampilan pembuluh darah superfisial. Sejalan
dengan pertambahan usia, kapiler menjadi semakin
rapuh. Area tekan setempat, yang ditemukan setelah
klien berbaring atau duduk pada satu posisi, tampak
kemerahan, merah muda, atau pucat. Petekie
adalah bercak kecil, seukuran ujung jarum, berwarna
merah atau ungu yang disebabkan oleh hemoragi
kecil
pada
lapisan
kulit.
Petekia
dapat
mengindikasikan gangguan pembekuan darah yang
serius, reaksi obat, atau penyakit hati.
Edema
Area kulit yang membengkak atau edema karena
terbentuknya cairan di dalam jaringan. Trauma
langsung
atau
gangguan aliran
balik
vena
merupakan dua penyebab utama dari edema. Areaarea yang edema harus diinspeksi untuk lokasi,
warna, dan bentuk. Untuk klien edema dependen
karena aliran balik vena yang buruk, daerah
edemanya adalah kaki, pergelangan kaki dan
sakrum.
Pembentukan
edema
memisahkan
permukaan kulit dari lapisan berpigmen dan
vaskuler, menyamarkan warna kulit. Kulit yang
edema teregang dan mengkilat. Perawat mempalpasi
area
edema
untuk
menentukan
mobilitas,

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

konsistensi, dan nyeri tekan. Jika tekanan dari jari


pemeriksa meninggalkan lekukan pada aera edema,
maka hal itu disebit pitting edema. Untuk memeriksa
tingkat edema tersebut perawat menekan area yang
edema dengan keras menggunakan ibu jari selama 5
detik dan kemudian dilepas. Kedalaman
pitting,
dicatat dalam milimeter (seidel et al, 1995)
menentukan tingkat edema. Sebagai contoh, edema
+1 sama dengan kedalaman 2 mm.
Lesi
Selama palpasi perawat dapat melokasi lesi kulit,
yang merupakan perubahan kulit patologis (Seidel et
al, 1995). Kulit normalnya bebas dari lesi, kecuali
bintik-bintik (frecles) atau perubahan yang berkaitan
dengan pertambahan usia seperti skin tag,
keratosis senil (penebalan kulit), angioma cherry
(papula merah delima), dan kulit atrofik. Lesi dapat
bersifat primer (terjadi sebagai manifestasi spontan
awal dari suatu proses penyakit), seperti lepuh
karena gigitan serangga, atau sekunder
terjadi
karena pembentukan akhir atau trauma terhadap lesi
primer, seperti ulkus tekan.
Jika dideteksi terjadi lesi, inspeksi warna, lokasi,
tekstur , ukuran, bentuk, jenis, pengelompokkan
(bertandan atau linear), dan distribusinya (setempat
atau menyebar). Jika terdapat eksudat, observasi
warna, bau, jumlah dan konsistensinya. Ukuran
paling baik jika diukur menggunakan penggaris yang
kecil,
bening,
fleksibel,
dalam
sentimeter.
Perbandingan lesi dengan ukuran rumah tangga
seperti koin atau penghapus, tidak dipercaya (Seidel
et al, 1995) Jika memungkinkan lesi harus diukur
dalam sentimeter pada semua dimensi(tinggi, lebar,
kedalaman).
Palpasi menentukan mobilitas lesi, kotur(datar,
menonjol, atau terdepresi), konsistensi (lunak atau
terindurasi).
Jenis lesi tertentu memiliki pola
karakteristik. Sebagai contoh, tumor biasanya berupa
lesi padat, menonjol, yang lebih besar dari 2 cm. Lesi
primer seperti makula dan nodul menimbul dari kulit
karena beberapa stimulus. Lesi sekunder seperti

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

ulkus terjadi karena adanya perubahan pada lesi


primer.
Setelah diidentifikasi, lesi diinspeksi
dengan
cermat menggunakan pencahayaan yang baik. Lesi
dipalpasi secara hati-hati, mencakup keseluruhan
areanya. Jika lesi lembap atau mengeluarkan cairan,
gunakan sarung tangan ketika mempalpasi untuk
mencegah kontak atau penyebaran organisme
infeksius.
Akan
sangat
membantu
bila
perawat
menanyakan pada klin apakah mereka mengetahui
adanya lesi, penyebabnya, dan perubahan terakhir
pada karakter lesi tersebut. Menanyakan lebih lanjut
tentang apakah lesi tersebut mengganggu klien dan
apa saja yang sudah dilakukan untuk merawatnya
dapat mengungkapkan bagaimana perasaan klien
terhadap gangguan tersebut. Banyak klien yang
bereaksi dengan perasaan takut dan cemas terhadap
ruam ata lesi yang lain. Lesi kanker sering
mengalami perubahan warna dan ukuran. Lesi
abnormal dilaporkan pada dokter karena dapat
diperlukan pemeriksaan lebih lanjut
N
O

BENTUK LESI

URAIAN

Makula : perubahan pada warna kulit, datar,


tidak dapat dipalpasi kurang dari 1 cm.

Papula : dapat dipalpasi, terbatas,


penonjolan padat pada kulit kurang dari 0,5
cm.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Nodul : massa padat, menonjol, lebih dalam


dan lebih keras dari papula 0,5 0,2 cm

Tumor : massa padat yang dapat


menembus kedalam jaringan sukutan lebih
dari 1 2 cm.

Lepuh : bentuk tidak teratur, area menonjol


atau edema setempat super visial, ukuran
bervarias

Vesikel : penonjolan kulit berbatas (berisi


cairan serosa, kurang dari 0,5 cm).

Pustula : penonjolan kulit berbatas hampir


sama dengan vesikel tetapi berisi pus,
ukuran bervariasi.

Ulkus : Lubang dalam pada permukaan kulit


yang dapat meluas ke dermis dan sering
berdarah atau terbentuk jaringa parut
ukuran bervariasi.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Atrovi : Penipisan kulit dengan hilangnya


kerut kulit normal dengan tampilan kulit
bercahaya dan tembus cahaya, ukuran
bervariasi.

Rambut dan Kulit Kepala


Beberapa jenis rambut berikut ini menutupi tubuh : rambut
terminal (Rambut panjang, kasar, tebal, mudah dilihat pada kulit
kepala, aksila, area pubis, dan di janggut pria), dan rambut vellus
(rambut kecil, halus, tipis menutupi seluruh tubuh kecuali telapak
tangan dan kaki). Pencahayaan yang baik memungkinkan
menginspeksi kondisi dan distribusi rambut serta integritas kulit
kepala. Pengkajian rambut terjadi di semua pemeriksaan.
Perawat mengkaji distribusi, ketebalan, tekstur dan lubrikasi
rambut. Selain itu, perawat menginspeksi adanya infeksi dan
infestasi pada kulit kepala.
Inspeksi
Klien sensitif terhadap penampilan pribadi. Selama inspeki
jelaskan perlunya memisah-memisahkan bagian rambut
untuk mendeteksi masalah. Jika terdapat kemungkingan
adanya lesi atau kutu, perawat memakai sarung tangan sekali
pakai untuk menghindari infeksi. Perawat memulai inspeksi
dengan mencatat warna, distribusi, kuantitas, ketebalan,
tekstur, dan lubrikasi rambut tumbuh. Rambut kepala dapat
kasar atau halus, keriting atau lurus, dan harus bercahaya,
lembut dan liat. Ketika memisah-misahkan rambut kepala
perawat mengobservasi karakteristik warna dan kekasaran.
Warna bervariasi dari pirang terang sampai hitam ke abu-abu
dan dapat menunjukkan perubahan karena pembilasan atau
pewarnaan. Pada lansia, rambut mereka menjadi abu-abu
kusam, putih atau kuning. Juga tipis dikulit kepala, aksila, dan
area pubis. Pria lansia kehilangan rambut wajah, sedangkan
pada wanita lansia banyak mengalami pertumbuhan rambut
pada dagu dan bibir atas.
Banyak informasi yang dikumpulkan tentang karakteristik
pertumbuhan rambut datang dari klien. Perawat perlu
mengetahui distribusi normal pertumbuhan rambut pada pria

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

dan wanita. Pada masa pubertasterjadi perubahan jumlah dan


distribusi pertumbuhan rambut. Klien dengan gangguan
hormon dapat mengalami distribusi dan pertumbuhan yang
tidak wajar. Wanita dengan hirsutisme mengalami
pertumbuhan pertumbuhan rambut di bibir atas, dagu dan
pipi, dengan rambut vellus menjadi semakin kasar diseluruh
tubuh. Perubahan pertumbuhan rambut dapat memberi
pengaruh negatif pada citra tubuh dan kesejahteraan emosi.
Perubahan dapat terjadi pada ketebalan, tekstur dan
lubrikasi kulit kepala. Gangguan-gangguan seperti penyakit
demam atau penyakit kulit kepala dapat mnyebabkan
kerontokan rambut. Kondisi-kondisi seperti penyakit tiroid
dapat mengubah kondisi rambut, membuatnya semakin halus
dan rapuh. Kerontokan rambut (alopesia), atau penipisan
rambut, biasanya berkaitan dengan kecenderungan genetik
an gangguan endoktrin seperti diabetes, tiroiditis, dan bahkan
menopause (De Witt, 1990). Nutrisi yang buruk dapat
menyebebakan rambut pecah-pecah, kusam , kering, dan
tipis. Rambut yang terlalu berminyak berkaitan dengan
stimulasi hormon androgen. Rambut kering dan rapuh terjadi
sejalan dengan bertambahnya usia dan dengan penggunaan
sampo atau zat kimia lain secara berlebihan.
Jumlah rambut yang menutupi ekstremitas dapat
berkurang sejalan dengan usia dan insufisiensi aretri dan
paling banyak terlihat pada ektremitas bawah. Pada wanita,
kerontokan rambut tidak boleh dicampuradukkan dengan
pencukuran.
Ketika meninspeksi kulit kepala, perawat menanyakan
apakah klien merasakan adanya sesuatu yang tidak wajar.
Kulit kepala normalnya halus dan tidak elastis, sekalipun
dengan pewarnaan. Secara cermat pisahkan helaian-helaian
rambut agar perawat dapat memeriksa kulit kepala secara
menyeluruh untuk adanya lesi, yang dapat dengan mudah
tidak terlihat pada rambut yang tebal. Perawat mencatat
karakteristik lesi kulit kepala. Jika terdapat benjolan atau
memar, perawat menanyakan apakah klien baru saja
mengalami taruma pada kepala. Mole pada kulit kepala
merupakan suatu hal yang umum. Perawat harus
memperingatkan klien bahwa menyisir atau menyikat dapat
menyebabkan mola tersebut berdarah. Kulit kepala yang
kering atau bersisik seringkali disebabkan oleh ketombe atau
psoriasis.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Inspeksi yang cermat terhadap folikel rambut pada kulit


kepala dan area pubis dapat mengungkapkan adanya kutu
atau parasit lain. Tiga jenis kutu adalah Pediculus humanus
capitis (kutu kepala), Pediculus humanus corporis (Kutu
tubuh), dan Pediculus pubis (kutu ketam). Kutu kepala dan
ketam melekaktkan telur-telurnya pada rambut. Telur-telur
kecil berbentuk seperti partikel oval dari ketombe. Kutu itu
sendiri sulit untuk dilihat. Kutu kepala dan tubuh sangat kecil
dengan tubuh berwarna putih keabu-abuan. KUtu ketam
berkaki merah. Perawat mencari adanya gigitan atau erupsi
pustular pada folikel rambut dan di area-area di mana
terdapat permukaan kulit, seperti dibelakang telinga dan di
pangkal paha. Adanya kutu memerlukan pengobatan yang
segera
Kuku
Kondisi kuku mencerminkan status kesehatan umum, status
nutrisi, pekerjaan, dan tingkat dan perawatan diri sseorang,
Bahkan status psikologis juga dapat diungkapkan dari adanya
bukti-bukti gigitan kuku. Sebelum mengkaji kuku, perawat
mengumpulkan riwayat singkat. Bagian kuku yang paling dapat
dilihat adalah plat kuku, lapisan transparan sel epitel yang
menutupi bantlan kuku. Vaskularitas bantalan kuku memberi
warna lapisan dibawah kuku. Semilunar, area putih di bagian
dasar bantalan kuku disebut lunula, dari mana plat kuku
terbentuk.
Inspeksi dan Palpasi
Perawat menginspeksi warna bantalan kuku, kebersihan,
panjang, ketebalan dan bentuk plat kuku, tekstur kuku, sudut
antara kuku dan bantalan kuku, dan kondisi lipatan kuku
lateral dan proksimal di sekitar kuku. Perawat juga
mempalpasi bagian dasar kulit.
Pada pandangan pertama, perawat mungkin mendapatkan
kesan tentang praktik higiene klien. Kuku normalnya
transparan, halus, melengkung dengan baik dan cembung,
dengan sudut bantalan kuku sekitar 160 derajat/. Kutikula di
sekelilingnya halus, utuh, dan tanpa inflamasi. Jika kuku tidak
baik, kotor, dan tidak dirawat dengan baik, maka terdapat
indikasibaik bahwa klien jarang melakukan perawatan kuku
atau secara fisik tidak mampu melakukan perawatan. Tepi
kuku atau kutikula yang bergerigi, berbekas gigitan, atau
patah dapat menyebabkan klien mengalami infeksi lokal.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Abnormalitas seperti eritema atau pembengkakan harus


dilaporkan.
Pada orang kulit putih, bantalan kukuberwarna merah
muda dengan ujung putih tembusa cahaya. Pada klien
berkulit gelap, pigmentasi cokelat atau hitam merupakan hal
yang normal terdapat pada lpisan longitudinal. Hemoragi
serphan dapat disebabkan oleh trauma, sirosis, diabetes
melitus, dan hipertensi. Perubahan vitamin, protein, dan
elektrolit dapat juga menyebabkan garis atau berkas pada
bantalan kuku.
Kuku normalnya tumbuh dengan kecepatan konstan, tetapi
cedera langsung atau penyakit umum dapat mengganggu
pertumbuhan. Dengan bertambahnya usia, kuku jari tangan
dan jari kaki membentuk stria longitudinal dan tumbuh
dengan kecepatan yang semakin lambat (Cornell, 1986).
Karena kalsium yang tidak mencukupi, kuku dapat berubah
menjadi kuning pada lansia (Berman, Haxby, dan Pomerantz,
1988). Juga sejalan denganusia, kutikula menjadi kurang tebal
dan lebar.
Inspeksi sudut antara kuku dan bantalan kuku normalnya
adalah 160 derjat. Sudut yang lebih besar dan pelunakan
bantalan kuku dapat mengindikasikan masalah oksigenasi
yang kronik. Perawat mempalpasi dasar kuku untuk
menentukan kekerasan dan konisi sirkulasi. Dasar kuku
normalnya keras.
Untuk mempalpasi, perawat memegang jari klien dengan
hati-hati dan mengobservasi warna bantalan kuku. Kemudian,
beri tekanan yang lembut,kuat, cepat dengan ibu jari pada
bantalan kuku dan lepaskan. Pada saat ditekan, bantalan kuku
tampak putih atau memucat; tetapi, warna merah muda
harus segera kembali pada saat tekanan dilepaskan. Jika
warna merah muda itu tidak segera kembali maka
mengindikasikan adanya insufisiensi sirkulasi. Warna kebiruan
atau keunguan pada bantalan kulit terjadi pada sianosis.
Warna putih atau pucat terjadi karena anemia.
Kalus atau lapisan tanduk banyak ditemukan pada jari kaki
atau tangan. Kalus datar dan tidak nyeri. Terjadi karena
penebalan epidermis. Laisan tanduk terjadi karena gesekan
dan tekanan dari sepatu dan biasanya terdapat pada tonjolan
tulang.Selama pemeriksaan, perawat menginstrusikan pada
klien tentang perawatan kuku yang baik.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

N
O

BENTUK KUKU

URAIAN

Kuku normal

Jari Tubuh (Klubbing) : Falang dorsal bulat &


menggelembung : kecembungan dari lempeng
kuku meningkat sudut antara lempeng kuku
dan lipatan kuku proksimal bertambah sampai
180 derajat atau lebih (hipoksia kronis dan
kanker paru).

Paronikia : Inflamasi dari lipatan kuku proksimal


dan lateral , dapat akut atau kronis. Lipatan
berwarna merah, bengkak mungkin nyeri tekan.

Onikolisis : pelepasan lempengan kuku yang


tidak terasa sakit dari bantalan kuku, dimulai
dari distal banyak penyebabnya
Kuku Terrys : keputihan dengan pita distal
kemerahan atau coklat terlihat pada penuaan
dan beberapa penyakit kronis

Leukonisia : bercak putih yang disebabkan oleh


trauma tumbuh keluar bersamaan dengan
pertumbuhan kuku.

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22

Garis Putih Transversal : garis kurva putih yang


serupa dengan kurva lanula. Pertumbuhan
menyertai penyakit dan tumbuh keluar bersama
pertumbuhan kuku.

Garis-garis Beaus : depresi transversal pada


kuku yang menyertai suatu penyakit dan
tumbuh keluar bersama pertumbuhan kuku.

Pitting : cekungan kecil pada lempeng-lempeng


kuku dapat menyertai psoriasis dan beberapa
kondisi lain.

Selamat belajar
SEMOGA SUKSES

Pemeriksaan Fisik Alat Kelamin dan Integumen

22