Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

MENGENAL LALAT BUAH Drosophila spp.

PRAKTIKUM GENETIKA MENGENAL LALAT BUAH Drosophila spp. Oleh 1. Brilliana Suryani K 13308141056 2. Jaka

Oleh

1. Brilliana Suryani K

13308141056

2. Jaka Fitriyanta

13308141058

3. Tri Widayanti

13308141059

4. Nur Khotimah

13308141060

5. Ismi Nurhidayah

13308141061

BIOLOGI E 2013

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2015

A. Tujuan

1. Mengetahui siklus hidup lalat buah Drosophila sp

2. Dapat membedakan jenis kelamin Drosophila sp

3. Menguji apakah perbandingan

4. Dapat membuat media pemeliharaan Drosophila sp

4. Dapat membuat media pemeliharaan Drosophila sp : = 1 :1 B. Dasar Teori MENGENAL LALAT

:

4. Dapat membuat media pemeliharaan Drosophila sp : = 1 :1 B. Dasar Teori MENGENAL LALAT

= 1 :1

B. Dasar Teori

MENGENAL LALAT BUAH Drosophila sp.

Lalat buah adalah serangga yang mudah berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangkan setiap dua minggu. Karasteristik ini menunjukkan lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2002).

Kebanyakan penemuan di bidang genetika didapatkan melalui penelitian dengan menggunakan lalat tersebut sebagai bahan (Suryo,2004). Pilihan ini tepat sekali karena pertama, lalat ini kecil sehingga suatu populasi yang besar dapat dipelihara dalam laboratorium. Kedua, daur hidup sangat cepat. Tiap 2 minggu dapat dihasilkan satu generasi dewasa yang baru. Ketiga, lalat ini sangat subur yang betina dapat menghasilkan ratusan telur yang dibuahi dalam hidupnya yang pendek itu (Kimball, 2001).

Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Borror, 1992):

Kingdom

Animalia

Phyllum

Arthropoda

Kelas

Insecta

Ordo

Diptera

Famili

Drosophilidae

Genus

Drosophila

Spesies

Drosophila melanogaster

Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya:

1. Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.

2. Berukuran kecil, antara 3-5 mm.

3.

Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.

4. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.

5. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.

6. Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.

7. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.

8. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam

9. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax (Mutiara,2012).

Sedangkan ciri-ciri yang membedakan Drosophila jantan dan betina antara lain;

Jantan

Betina

1. Ukuran tubuh lebih kecil dari betina

1. Ukuran tubuh lebih besar dari jantan

2. Sayap lebih pendek dari sayap betina

2. Sayap lebih panjang dari sayap jantan

3. Terdapat sisir kelamin (sex comb)

3. Tidak terdapat sisir kelamin (sex comb)

4. Ujung abdomen tumpul dan lebih hitam

4. Ujung abdomen runcing

(Zarzen, 2008)

Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini.

– imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah

Gambar 1. Daur Hidup Drosophila ( Crowder, L. V. 1986: 23 ).

Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003)

Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).

Tahap-tahap dari siklus hidup Dhrosophila melanogaster berikut ciri-cirinya, antara lain :

Tahapan

 

Ciri-ciri

 

Umur

Telur

Berbentuk bulat lonjong, ukuran sekitar ± 0.5 mm, berwarna putih susu, pada ujung anteriornya terdapat dua tangkai kecil menyerupai sendok yang berfungsi agar telur tidak tenggelam, biasanya terdapat pada permukaan media.

± 24

jam

Larva

Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih bening, berukuran ± 1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior.

instar 1

Larva

Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 2 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki spirakel anterior.

± 2

instar 2

hari

Larva

Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 3-4 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam lebih besar dan jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat beberapa tonjolan pada spirakel anteriornya.

±

3

instar 3

hari

Prepupa

Terbentuk

setelah

larva

instar

3

merayap

pada

±

4

 

dinding botol, tidak aktif, melekatkan diri; berwarna putih; kutikula keras dan memendek; tanpa kepala dan sayap

hari

Pupa

Tidak aktif dan melekatkan diri pada dinding botol, berwarna coklat, kutikula keras, memendek, dan besegmen.

±

5

hari

Imago

Tubuh terbagi atas cephla, thorax, dan abdomen; bersayap transparan; memiliki mata majemuk biasanya berwarna merah; dan ciri-ciri lainnya menyerupai ciri lalat buah dewasa

±

9

hari

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya sebagai berikut:

1. Suhu Lingkungan Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 18 0 C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.

2. Ketersediaan Media Makanan Viabilitas dari telur-telur dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks, 1972).

3. Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari.

4. Intensitas Cahaya Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap.

Fase perkembangan lalat buah pertama yang diamati adalah fase telur. Menurut Bursell (1970) dan Strickberger (1962) dalam Utami bahwa Telur D. melanogaster, Meigen berbentuk ovoid dengan adanya “sayap air” yang mencegah telur agar tidak tenggelam dan terbenam dalam medium semicair. Namun pada

percobaan ini, praktikan tidak dapat mengamati fase telur dari lalat buah dikarenakan ukuran telur yang sangat kecil berada di permukaan media sehingga sulit dilihat langsung tanpa alat bantu. Pengondisian lingkungan media dengan intensitas cahaya yang rendah, mempercepat proses bertelurnya lalat buah pada media.

Pengamatan dilanjutkan pada tahap larva. Menurut Borror, Triplehorn dan Johnson, (1989) dalam Utami bahwa Larva D. melanogaster, Meigen berwarna putih, bersegmen dan bertipe vermiform. Pada segmen kepala dalam prothoraks dan thorasik tidak terdapat lengan. Tubuh berubah meruncing dan menajam pada ujungnya. Kepala berbentuk globular dan mempunyai warna yang sama dengan dada dan perut, dengan lebar lebih pendek daripada prothoraks dan perut. Antena dan ocelli menghilang. Kulitnya pada permulaan stadium tidak begitu kuat tetapi larva kecil muda secara periodik akan menambahkan kulit hingga mencapai ukuran dewasa. Pada beberapa keadaan disebut dengan belatung. Selama tiap periode di antara belatung Selama tiap periode di antara belatung, larva disebut dengan instar. Setiap instar ditunjukkan oleh perbedaan ukuran larva dan jumlah gigi pada kait rahang yang berwarna hitam. Sedangkan perkembangan larva hingga membentuk pupa meliputi reorganisasi seluler dalam differensiasi pertama dari sel epidermal, mulai terjadi differensiasi progresif dari sel somtik dan jaringan menuju kondisi dewasa, pembentukan organ-organ dalam atau alat-alat tambahan untuk dewasa yaitu antena, bagian-bagian mulut, kaki, sayap dan genitalia eksternal.

Menurut Ashburner (1985) dalam saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tidak berkepala dan bersayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini juga larva berganti menjadi lalat dewasa.

Menurut Shorrocks (1972) bahwa jika kekurangan makanan, jumlah telur yag dikeluarkan Drosophila betina akan menurun. Drosophila yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun seringkali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa yang dapat menjadi dewasa dapat menghasilkan hnaya sedikit telur.

Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang

dimakan oleh larva betina.

Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat ferlisasi sampai pada saat

larva muda menetas dari telur. Hal tetsebut terjadi dalam waktu sekitar 24 jam. Pada

saat seperti itu, larva tidak dapat berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode

setelah menetas dari telur. Periode ini disebut dengan perkembangan postembrionik.

Postembrionik dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual

dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara

seksual terjadi pada saat dewasa. Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat

panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai

bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu

sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan dapat mencapai 400-500 buah

dalam 10 hari (Silvia, 2003).

Menurut Herskowitz (1965) dan Strickberger (1962) dalam Utami bahwa D.

melanogaster, Meigen mengalami metamorfosis sempurna selama siklus hidupnya.

Walapun fertilisasi biasanya dapat terjadi setelah 24 jam dalam stadium dewasa,

peletakan telur umumnya baru dilakukan setelah 2 hari dengan 50-75 telur setiap hari

(kemungkinan maksimum total 400-500 dalam 10 hari, yang merupakan waktu

generasi). Lalat dewasa dapat hidup selama 10 minggu.

C. Alat dan Bahan

1. Drosophila melanogaster liar

2. Mikroskop stereo dan binokuler

3. Kaca pembesar

4. Cawan petri

5. Kuas

6. Kaca objek

7. Oven

8. Blender

9. Botol kultur dan tutup dari busa

10. Corong

11. 500 gram daging buah pisang ambon masak

12. 550 cc aquades

13. 150 gram gula merah

14. 1 bungkus agar swallow

15. Fermipan

16. Metil ester

17.

Sorbit acid

D. Cara Kerja dan Pengamatan

Pembuatan media pemeliharaan lalat buah

Cara pembuatan:

1. 500 g daging buah pisang ambon masak dilumatkan dengan blender dengan ditambah secukupnya.

2. 15 gram tepung agar-agar dilarutkan dalam 500 cc air, kemudian masak sampai mendidih

3. Masukkan bubur pisang kedalam larutan air & agar yang sedang dimasak

4. Panaskan lagi sampai hampir mendidih dan masukkan sorbit acid dan metal ester

5. Dengan bantuan corong Masukkan medium ke dalam botol biakan yang telah disteril dalam oven

6. Tunggu hingga dingin lalu tutup dengan sumbat busa yang bersih.

Penangkapan lalat buah di alam

1. Siapkan botol selai atau sejenisnya yang bersih

2. Masukkan potongan buah yang masak

3. Letakkan ditempat terbuka, dijaga jangan sampai ada semut yang masuk

4. Setelah sehari atau beberapa hari, akan ada lalat buah yang masuk

5. Tutuplah botol dengan kain setelah jumlah lalat yang masuk ke dalam botol cukup banyak

6. Ikatlah kain penutup dengan karet atau rapia

7. Pindahkan lalat pada botol biakan yang berisi media

Eterisasi

Untuk pengamatan dan penghitungan lalat buah harus dibius dulu, zat kimia yang biasa dipakai adalah etil asetat atau dietil eter

Cara pembiusan :

1. Sentakan botol pada telapak tangan secara perlahan, supaya lalat buah yang menempel pada tutup busa dapat jatuh kebawah

2. Pindahkan lalat buah ke botol kosong dengan menempelkan kedua tutup botol

3. Tutup botol berisi lalat buah dengan sumbat busa

4. Masukkan kapas yang telah ditetesi eter kedalam botol berisi lalat melalui sela-sela sumbat busa

5. Setelah lalat terbius, pindahkan kedalam cawan petri

6. Lakukan pengamatan dengan cepat apabila pengamatan belum selesai lalat sudah sadar, lakukan pembiusan sekali lagi

7.

Setelah pengamatan, lalat dimasukkan kembali pada botol medium semula

Pengamatan

1.

Pengamatan jenis kelamin

-

Amati lalat buah yang telah ditangkap

-

Bedakan jenis kelamin lalat betina dan jantan.

2.

Pengamatan siklus hidup lalat buah

-

Pelihara 3 pasang lalat buah dalam botol yang berisi media

-

Beri catatan pada botol :tanggal mulai pemeliharaan , nama kelompok

-

Amati perubahan yang terjadi setiap hari, misalnya terdapat telur, larva instar 1,2,3, prapupa, pupa, pigmentasi pupa dan keluarnya lalat dewasa Setelah terbentuk pupa, keluarkan lalat parental dari dalam botol

3.

Pengamatan jumlah lalat jantan dan betina dan enghitung perbandingan jenis

kelamian

- Amati imago yang terbentuk setiap hari

- Pisahkan lalat jantan dan betina pada botol biakan yang berbeda

- Hitung perbandingan jenis kelamin dengan uji X 2

E. Hasil

 

Lalat Betina

Lalat Jantan

Ujung

Memanjang dan

Membulat

abdomen

meruncing

Ukuran

Lebih besar

Lebih kecil

tubuh

Sex comb

Tidak ada

Terdapat pada

(sisir

permukaan distal

kelamin)

dari tarsus terakhir

dari kaki depan.

Rumus test ² (chi-square test)

k 2 ( o  e ) 2    i i
k
2
(
o
 e
)
2
 
i
i

i 1

e

i

Dimana : o = hasil data yang diperoleh

e = hasil data yang diharapkan

d = penyimpangan = selisih dari data hasil yang diperoleh dengan yang diharapkan

= jumlah dari hasil perhitungan

Tabel hasil pengamatan lalat buah ♂ dan ♀

Lalat jantan

Lalat betina

 

35

 

46

perhitungan

Ratio

         

Fenotip

Hasil

Hasil yang

Penyimpangan

Pengamatan

Diharapkan

d

2

d 2 / e

yang

(d)= (o-e)

 

Diharapkan

= (o)

= (e)

1/2

(♂) 35

½ x 81= 40,5

-5,5 (-0,5)

36

36/40,5=

0,889

1/2

(♀) 46

½ x 81= 40,5

+5,5 (-0,5)

25

25/40,5=

0,617

Total

 

81

     

X 2

=

 

1,506

Derajat kebebasan = n-1, n yaitu jumlah fenotip yang dijumpai

Derajat kebebasan = 2-1 = 1

F. Pembahasan Praktikum pada percobaan yang berjudul “Mengenal Lalat Buah Drosophila sp.” yang dilakukan pada hari Rabu, 11 Maret 2014 di Laboratorium FMIPA UNY mempunyai tujuan mengetahui siklus hidup lalat buah Drosophila sp., dapat

membedakan jenis kelamin Drosophila sp., menguji apakah perbandingan ♂ : ♀ = 1:1, dan dapat membuat media pemeliharaan Drosophila sp. Drosophila sp. adalah jenis serangga yang umumnya tidak berbahaya dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah (Neil A. Campbell, 2002: 281). Klasifikasi Drosophila:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo : Diptera

Famili

: Drosophilidae

Genus

: Drosophila

Spesies: Drosophila melanogaster (Borror, 1992: 273) Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, terdapat 3 macam percobaan, pertama pengamatan terhadap morfologi lalat buah Drosophila sp. untuk menentukan jenis kelamin Drosophila sp. Pada percobaan ini lalat buah Drosophila sp. yang telah didapatkan di dalam botol jam dibius menggunakan eter hingga pingsan, setelah pingsan lalat buah dipindahkan ke dalam cawan petri dan diamati menggunakan kaca pembesar (loup) atau diamati menggunakan mikroskop. Beberapa pengamatan yang digunakan untuk membedakan lalat buah jantan dan betina antara lain ujung abdomen, ukuran tubuh, dan sex comb (sisir kelamin). Berdasarkan hasil pengamatan, pada Drosophila jantan ujung abdomen membulat, ukuran tubuh lebih kecil, dan terdapat sex comb (sisir kelamin) pada permukaan distal dari tarsus terakhir dari kaki depan. Sedangkan Drosophila betina mempunyai ujung abdomen yang memanjang dan meruncing, ukuran tubuh lebih besar, dan tidak mempunyai sex comb (sisir kelamin). Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Borror bahwa ciri-ciri yang membedakan lalat buah jantan maupun betina adalah pada ukuran tubuh, panjang sayap, bentuk abdomen, dan ada tidaknya sex comb. Dengan adanya ciri-ciri tersebut sehingga dapat dibedakan antara lalat buah jantan atau betina. Setelah lalat buah Drosophila dapat dibedakan antara jantan dan betina kemudian lalat buah tersebut dimasukkan ke dalam botol jam yang telah terisi media dengan perbandingan ♂ : ♀ = 1:1 yang kemudian diamati siklus hidupnya.

Percobaan ini menggunakan lalat buah Drosophila sp., mengingat keuntungan lalat buah ini sebagai objek percobaan genetika karena siklus hidup yang cukup pendek, jumlah anakan yang cukup banyak, pemberian kondisi waktu pemeliharaan yang tidak perlu steril, dan membutuhkan media yang sederhana (pisang yang dihasulkan).

Sebelum melakukan proses pemeliharaan untuk mengamati siklus hidup lalat buah, dilakukan proses penyiapan media pemeliharaan Drosophila sp. Media yang digunakan pada percobaan kali ini adalah buah pisang yang dihaluskan dengan komposisi bahan baku media sebagai berikut 500 gr daging buah pisang, 550 cc

aquadest, 150 gr gula merah, 1 bungkus agar-agar, 1 bungkus fermipan, sorbic acid (anti serangga), dan methyl ester. Pertama, daging buah pisang dan aquadest dihasulkan dengan menggunakan blender hingga menjadi bubur. Selanjutnya memasak gula merah, agar-agar, dan bubur pisang sampai mendidih, lalu masukan sorbic acid dan methyl ester. Media pemeliharaan diletakan sebanyak ±1/6 dari botol media.

Pengamatan dimulai pada tanggal 11 Maret 2015 dengan meletakkan lalat buah parental sebanyak 3 pasang, yang terdiri dari 3 ekor betina dan 3 ekor jantan pada media baru. Sebelum meletakkan lalat tersebut pada media, praktikan memastikan perbandingan jumlah jantan dan betina yang akan dipelihara sama (1:1). Dengan ciri perbedaan lalat buah yang mudah diamati secara yaitu ukuran tubuh lalat betina lebih besar dari pada jantannya, dan ujung abdomennya yang meruncing. Sedangkan yang jantan ujung abdomen membulat dengan warna gelap. Selama proses pengamatan media diletakan pada suhu ruang (27-28 o C) dengan intensitas cahaya yang rendah, karena faktor klimat ini akan menentukan lama periode siklus hidup lalat buah. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengamati fase perubahan telur, larva instar 1,2,3, prepupa, pupa, pigmentasi pupa dan keluarnya lalat dewasa.

Fase perkembangan lalat buah pertama yang diamati adalah fase telur. Menurut Bursell (1970) dan Strickberger (1962) dalam Utami bahwa Telur D. melanogaster, Meigen berbentuk ovoid dengan adanya “sayap air” yang mencegah telur agar tidak tenggelam dan terbenam dalam medium semicair. Namun pada percobaan ini, praktikan tidak dapat mengamati fase telur dari lalat buah dikarenakan ukuran telur yang sangat kecil berada di permukaan media sehingga sulit dilihat langsung tanpa alat bantu. Pengondisian lingkungan media dengan intensitas cahaya yang rendah, mempercepat proses bertelurnya lalat buah pada media.

Pengamatan dilanjutkan pada tahap larva. Menurut Borror, Triplehorn dan Johnson, (1989) dalam Utami bahwa Larva D. melanogaster, Meigen berwarna putih, bersegmen dan bertipe vermiform. Pada segmen kepala dalam prothoraks dan thorasik tidak terdapat lengan. Tubuh berubah meruncing dan menajam pada ujungnya. Kepala berbentuk globular dan mempunyai warna yang sama dengan dada dan perut, dengan lebar lebih pendek daripada prothoraks dan perut. Antena dan ocelli menghilang. Kulitnya pada permulaan stadium tidak begitu kuat tetapi larva kecil muda secara

periodik akan menambahkan kulit hingga mencapai ukuran dewasa. Pada beberapa keadaan disebut dengan belatung. Selama tiap periode di antara belatung Selama tiap periode di antara belatung, larva disebut dengan instar. Setiap instar ditunjukkan oleh perbedaan ukuran larva dan jumlah gigi pada kait rahang yang berwarna hitam. Sedangkan perkembangan larva hingga membentuk pupa meliputi reorganisasi seluler dalam differensiasi pertama dari sel epidermal, mulai terjadi differensiasi progresif dari sel somtik dan jaringan menuju kondisi dewasa, pembentukan organ-organ dalam atau alat-alat tambahan untuk dewasa yaitu antena, bagian-bagian mulut, kaki, sayap dan genitalia eksternal.

Pada pengamatan munculnya tahap larva instar ini muncul sekitar sehari (±24 jam) setelah peletakkan lalat buah parental pada media. Diduga pada percobaan ini, lalat buah parental yang digunakan sudah mencapai usia lalat dewasa, sehingga memasuki masa reproduktifnya atau sebelum lalat betina diletakkan pada media sudah mengalami pembuahan (fertilisasi) dan bertelur pada media.

Pada tahap instar 1 yang diamati larva pada tahap ini berbentuk lonjong pipih seperti cacing dengan ukuran ±1 mm berwarna putih dan aktivitas bergeraknya rendah. Menurut literature pada tahap instar 1 memiliki ciri-ciri berbentuk lonjong pipih, bewarna putih bening, berukuran ±1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior. Namun pada pengamatan, praktikan tidak dapat mengamati segmentasi dan spirakel pada bagian anteriornya karena larva instar 1 yang berukuran kecil.

Tahap pengamatan selanjutnya yaitu mengamati fase instar 2 dari larva lalat buah. Berdasarkan pengamatan fase ini muncul setelah 48 jam (2 hari) kemudian dari fase instar 1. Pada larva instar 2 ini tidak jauh beda dengan instar 1 namun ukuran dan aktivitas bergerak larva yang bertambah, serta pada bagian ujung anterior (mulut) bewarna hitam.

Memasuki tahap instar 3 setelah 24 jam kemudian setelah instar 2. Perbedaan larva pada tahap ini ukurannya jauh lebih besar mencapai 3-5 mm dan aktivitas bergeraknya lebih aktif pada permukaan maupun dinding botol media. Selain itu pada tahap ini juga jelas teramati segmentasi pada bagian tubuh larva serta pada bagian mulutnya yang bewarna hitam, yang menurut literature bagian itu merupakan gigi.

Pada fase larva ini, larva lalat buah aktif melakukan aktivitas makan untuk pertumbuhan dan cadangan makanan ketika memasuki tahap pupa (tidak aktif).

Fase berikutnya yaitu fase pupa. Perubahan larva instar 3 menjadi pupa sekitar 48 jam. Pupa yang diamati menempel pada dinding botol media yang kering, tidak jauh dari permukaan media. Pupa bewarna coklat dengan bentuk lonjong sedikit membulat. Namun pada penelitian tidak teramati fase prepupa dan pigmentasi pupa. Menurut Ashburner (1985) dalam saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tidak berkepala dan bersayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini juga larva berganti menjadi lalat dewasa.

Fase yang terakhir yaitu fase imago, fase ini terjadi kurang lebih pada hari kedelapan. Ciri dari imago hamper menyerupai ciri-ciri umum lalat buah dewasa (parental). Perbedaan yang terdapat antara imago dengan lalat buah dewasa adalah ukurannya yang lebih kecil dan warna imago yang masih keabu-abuan (pucat), serta sayapnya yang belum terbentang.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan untuk mengamati perkembangan lalat buah dari telur hingga imago pada suhu kamar akan memakan waktu selama 8 hari. Siklus hidup lalat buah Drosophila sp. sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti temperature, pemberian intensitas cahaya dan media. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya yaitu suhu lingkungan, ketersediaan makanan, tingkat kepadatan botol pemeliharaan, dan intensitas cahaya.

Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28 o C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 18 o C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30 o C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril. Ketersediaan makanan juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan Drosophila. Menurut Shorrocks (1972) bahwa jika kekurangan

makanan, jumlah telur yag dikeluarkan Drosophila betina akan menurun. Drosophila yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun seringkali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa yang dapat menjadi dewasa dapat menghasilkan hnaya sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina. Tingkat kepadatan di botol mempengaruhi pertumbuhan Drosophila. Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakkan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak. Dalam kondisi ideal, yaitu tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat), Drosophila melanogaster dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap. Hal ini sesuai dengan teori bahwa, perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi yang terdiri dari dua periose. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat ferlisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur. Hal tetsebut terjadi dalam waktu sekitar 24 jam. Pada saat seperti itu, larva tidak dapat berhenti untuk makan. Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur. Periode ini disebut dengan perkembangan postembrionik. Postembrionik dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa. Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan dapat mencapai 400-500 buah dalam 10 hari (Silvia, 2003).

Menurut teori, metamorphosis sempurna yang terjadi pada lalat buah akan melakukan aktivitas makan pada hari ke 8 – 15 atau 24 jam setelah fase imago untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang perlukan lalat buah muda untuk tumbuh. Menurut Herskowitz (1965) dan Strickberger (1962) dalam Utami bahwa D. melanogaster, Meigen mengalami metamorfosis sempurna selama siklus hidupnya. Walapun fertilisasi biasanya dapat terjadi setelah 24 jam dalam stadium dewasa, peletakan telur

umumnya baru dilakukan setelah 2 hari dengan 50-75 telur setiap hari (kemungkinan maksimum total 400-500 dalam 10 hari, yang merupakan waktu generasi). Lalat dewasa dapat hidup selama 10 minggu.

Setelah lalat buah Drosophila dapat dibedakan antara jantan dan betina kemudian dihitung jumlah lalat buah jantan dan betina untuk mengetahui apakah perbandingan lalat buah ♂ : ♀ = 1:1. Dari hasil pengamatan diperoleh lalat jantan sejumlah 35 dan lalat betina sejumlah 46. Berdasarkan uji X 2 dengan derajat kebebasan 1 diperoleh nilai X 2 = 1,506. Pada tabel X 2 , nilai itu terletak antara kolom nilai kemungkinan 0,10 dan 0,30. Berarti data percobaan yang diperoleh baik, dan dapat dianggap sesuai dengan perbandingan 1 : 1. Karena pada tabel X 2 , nilai X 2 yang diperoleh berada pada kolom di bawah nilai kemungkinan 0,05 ke kiri, yang menunjukkan bahwa data yang diperoleh baik.

G. Diskusi

1. Botol biakan yang telah berisi lalat ditutup dengan kain atau busa plastik

supaya lalat yang sudah ada di dalam botol tidak keluar atau adanya hewan dari luar

yang masuk.

2. Lalat yang dipelihara pada temperatur lebih rendah mempunyai siklus yang

lebih panjang karena pada temperatur rendah metabolisme lalat berjalan lebih lambat

sehingga siklus hidup lebih panjang.

3. Fungsi tegosept dalam media pemeliharaan adalah untuk anti jamur yaitu

mencegah pertumbuhan jamur.

4. Fungsi kertas saring yang diletakkan pada media adalah untuk menyerap

kelebihan air.

H. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan mengenali lalat buah Drosophila sp. melalui pengamatan terhadap siklus hidupnya adalah lama waktu siklus hidup Drosophila sp. yang diamati dari dewasa hingga menghasilkan imago memerlukan waktu sekitar 7 – 10 hari. Drosophila sp. mengalami metamorphosis sempurna dengan tahapan-tahapan; telur – larva instar 1 – larva instar 2 – larva instar 3 – prepupa – pupa – imago. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada

siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya yaitu suhu lingkungan,

ketersediaan makanan, tingkat kepadatan botol pemeliharaan, dan intensitas cahaya

I. Daftar pustaka

Ashburner Michael. 1989. Drosophila, A Laboratory Handbook. USA : Coldspring Harbor Laboratory Press. Borror, Donald J,dkk. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Yogyakarta: UGM Pers.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga.

Jakarta.

Chairunnissa, Mutiara. 2012. Pengamatan Drosophila melanogaster.

Crowder, L. V. 1986. Genetika. Diterjemahkan oleh Ir. Lilik Kusdiarti, M. Sc. Yogyakarta :

UGM- Press.

Kimball, J.W. 2001. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Listiani, endang.2013. Pengaruh Alel Ganda Pada Tubuh Manusia (Golongan Darah Dan Rambut Pada Jari. Di akses melalui

https://www.academia.edu/5306907/Pengaruh_Alel_Ganda_Pada_Tubuh_Manusia_Golonga

n_Darah_Dan_Rambut_Pada_Jari tanggal 2 maret 2014 pukul 9:32 WIB

Shorrocks B. 1972. Drosophila. London : Ginn & Company Limited.

Silvia Triana. 2003. “Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva Drosophila”. Bandung: Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran.

Suryo 1984.Genetika Manusia. Yogyakarta : UGM press

1996.Genetika

. departemen pendidikan dan kebudayaan : dirjen dikti

Tim , genetika.2014. Petunjuk Praktikum Genetika. Yogyakarta : UNY

Utami, Sri

“Studi Pendahuluan Analisis Mutasi Pada Penyinaran Dengan Sinar

Ultraviolet Terhadap Larva Drosophila melanogaster, Meigen”. Fakultas Kedokteran

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya: Surabaya.