Anda di halaman 1dari 34

7

Bab II
Landasan Teori
II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Diare
1. Pengertian
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3
kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau
tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari 2 minggu (Subagyo
B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Diare umumnya dibagi menjadi diare akut dan diare kronis, yang
keduanya dapat disebabkan karena infeksi dan non infeksi (Subagyo B
dan Nurtjahjo BS, 2010).
2. Insidensi
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara
berkembang termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab
kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia dibawah 5
tahun. Di dunia terdapat 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare
dan sebagian besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang. Dari
17% kematian anak di dunia disebabkan oleh diare, sedangkan di
Indonesia, dari hasil Riskesdas 2007 didapatkan bahwa diare masih
merupakan penyebab kematian bayi terbanyak untuk golongan 1 4
tahun yaitu 25,2% dibanding pneumonia 15,5%. Dari survei kesehatan
demografi Indonesia (1991 ) menyatakan bahwa satu dari sepuluh balita
menderita diare dalam dua minggu terakhir, selain itu setiap tahun di
Indonesia terjadi 150 kejadian luar biasa dengan jumlah kasus sekitar
20.000 orang dan angka kematian sekitar 2 %. Angka kesakitan diare
diperkirakan antara 120 130 kejadian per 1000 penduduk, 60% kejadian
tersebut terjadi pada Balita (Depkes, 1993)

3. Etiologi
Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis
mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi.
Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus,
bakteri dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi non
inflammatory dan inflammatory. Enteropatogen menimbulkan non
inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi
sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan oleh
bakteri, sebaliknya inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri
yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin
(Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).
Beberapa

mikroorganisme penyebab diare akut yang dapat

menyebabkan diare pada manusia disajikan pada tabel 1


Tabel 1. Mikroorganisme penyebab diare
Bakteri
Aeromonas
Bacillus cereus
Campylobacter jejuni

Virus
Astrovirus
Calcivirus
Enteric Adenovirus

Parasit
Balantidium coli
Blastocystis homonis
Cryptosporidium
parvum
Entamoeba histolytica

Clostridium
Coronavirus*
perfringens
Clostridium defficile
Rotavirus
Giardia lambia
Escherichia coli
Norwalk virus
Isospora belli
Plesiomonas
Herpes simplex virus*
Strongyloides
shigeloides
stercoralis
Salmonella
Cytomegalovirus
Trichuris trichiura
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Yersinia enterocolitica
*umumnya berhubungan dengan diare hanya pada penderita
imunocompromised
Sumber : ( Nelson Textbook of Pediatric dan Subagyo B dan Nurtjahjo
BS, 2010).
4. Faktor-faktor risiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal - oral yaitu:
(Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).

melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh


enteropatogen,

kontak langsung tangan dengan penderita atau barang


barang yang telah tercemar tinja penderita

tidak langsung melalui lalat

Faktor risiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen


antara lain (Subagyo B dan Nurtjahjo BS, 2010).

Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4 6 bulan


pertama kehidupan bayi.

Tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air


oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan lingkungan (MCK)
dan pribadi yang buruk.

Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis


dan cara penyapihan yang tidak baik.

a. Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama
kehidupan, insiden tertinggi terjadi pada kelompok umur 6 -11 bulan pada
saat diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarkan
kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif
bayi, pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan
kontak langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai
merangkak (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
b. Infeksi asimptomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi
asimomatik ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan
imunitas aktif. Pada infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung
beberapa hari atau minggu, tinja penderita mengandung virus, bakteri atau
kista protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berperan
penting dalam penyebaran banyak enteropatogen terutama bila mereka
tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan dan berpindah
pindah dari satu tempat ke tempat lain ( Tjitra E,1994 )

10

c. Faktor musim
Di daerah tropik termasuk (Indonesia), diare yang disebabkan
oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang
musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat
pada musim hujan (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
d. Epidemi dan pandemik
Vibrio cholera 0.1 dan shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan
epidemik dan pandemik yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan
dan kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang
disebabkan oleh Vibrio cholera 1.0 biotipe Eltor telah menyebar ke negara
negara di afrika, Amerika latin, Asia, Timur Tengah dan di beberapa
daerah di Amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang sama
Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika
Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun
1992, dikenal strain baru Vibrio Cholera 0139 yang menyebabkan
epidemik di Asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah (Widayana
IW, 2003)
5. Patofisiologi
Secara umum diare disebabkan oleh 2 hal, yaitu gangguan pada
proses absorbsi atau sekresi. Kejadian diare secara umum terjadi dari satu
atau beberapa mekanisme yang saling tumpah tindih . Diare dapat juga
dikaitkan dengan gangguan motilitas, inflamasi, dan imunologi (Subagyo
B & Nurtjahjo BS, 2010).
a. Gangguan absorbsi atau diare osmotik.
Secara umum terjadi penurunan fungsi absorbsi oleh berbagai sebab
seperti celiac spure atau karena :
1) Mengkonsumsi magnesium klorida
2) Defisiensi enzim sukrase - isomaltase adanya defisiensi laktase
defisien pada anak yang lebih besar.
Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada
usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan
hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus

11

halus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeabel,
air akan mengalir kearah lumen jejunum, sehingga air akan banyak
terkumpul dalam lumen usus. Natrium (Na) akan mengikuti masuk ke
dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang
besar dengan kadar Na yang normal. Sebagian kecil cairan ini akan
diabsorbsi kembali, akan tetapi lainnya akan tetap tinggal di lumen oleh
karena ada bahan yang tidak bisa diserap seperti magnesium, glukosa,
sukrosa, laktosa, maltosa disegmen ileum dan melebihi kemampuan
absorbsi kolon, sehingga terjadi diare. Bahan bahan seperti karbohidrat
dari jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlebihan, akan memberikan dampak yang sama (Subagyo B & Nurtjahjo
BS, 2010).
b. Malabsoprsi
Gambaran karakteristik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi
usus halus adalah atropi vili. Lebih lanjut mikroorganisme tertentu (bakteri
tumbuh

lampau,

giardiasis,

enteroadherent

E.coli)

menyebabkan

malabsorbsi nutrisi dengan mengubah fisiologi membran brush border


tanpa merusak susunan anatomi mukosa. Hal ini dapat terjadi pada
keadaan: (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).

Maldigesti protein lengkap, karbohidrat dan trigliserida


diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas.

Gangguan atau kegagalan ekskresi pankreas menyebabkan


kegagalan pemecahan kompleks protein, karbohidrat,
trigliserida,

Pemberian obat pencahar; laktulosa, pemberian magnesium


hydroxide (misalnya susu magnesium).

Mendapat cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat,

Pemberian makan atau minum yang tinggi karbohirat,


setelah mengalami diare menyebabkan kekambuhan diare.

12

c. Gangguan sekresi atau diare sekretorik


1) Hiperplasia cripta
Teoritis adanya hyperplasia kripta akibat penyakit apapun, dapat
menyebabkan sekresi intestinal dan diare. Pada umumnya penyakit ini
menyebabkan atropi vili (Bambang Subagyo & Nurtjahjo Budi Santoso,
2010)
2) Luminal secretagogeus
Dikenal 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin
bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam
empedu bentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai panjang.
Toksin

penyebab

diare

ini

terutama

bekerja

dengan

cara

meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP atau Ca++ yang


selanjutnya akan mengaktifkan protein kinase. Pengaktifan protein kinase
akan menyebabkan fosforilasi membrane protein sehingga menyebabkan
perubahan saluran ion, yang akan menyebabkan Cl di kripta keluar. Disisi
lain terjadi peningkatan pompa natrium, dan natrium masuk kedalam
lumen usus bersama Cl.
Bahan laksatif dapat menyebabkan efek bervariasi pada aktifitas
NaK - ATPase. Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP
intraseluler,

meningkatkan

permeabilitas

intestinal

dan

sebagian

menyebabkan kerusakan sel mukosa. Beberapa obat menyebabkan sekresi


intestinal . Penyakit malabsorpsi seperti reseksi ileum dan penyakit Crohn
dapat menyebabkan kelainan sekresi seperti menyebabkan peningkatan
konsentrasi garam empedu, lemak ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010)
3) Blood Borne Secretagogues.
Diare sekretorik pada anak anak di negara berkembang, umumnya
disebabkan enterotoksin E.coli atau cholera. Berbeda dengan negara
berkembang, sedangkan di negara maju diare sekretorik jarang ditemukan,
apabila

ada,

kemungkinan

disebabkan

obat

atau

tumor

seperti

ganglioneuroma atau neuroblastoma yang menghasilkan hormon seperti


VIP. Pada orang dewasa, diare sekretorik berat disebabkan oleh neoplasma
pankreas, sel non- beta yang menghasilkan VIP, polipeptida pankreas,

13

hormon sekretorik lainnya: sindroma watery diarrhea hypokalemia


achlorhydria (WDHA). Diare yang disebabkan tumor ini termasuk jarang.
Semua kelainan mukosa usus, berakibat sekresi air dan mineral berlebihan
pada villus dan kripta, sehingga semua enterosit terlibat dan dapat terjadi
pada mukosa usus yang normal ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
4) Diare akibat gangguan peristatik
Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas, keduanya dapat
menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri
tumbuh banyak yang menyebabkan diare. Kegagalan motilitas usus yang
berat menyebabkan stasis intestinal berakibat inflamasi, dekonjugasi
garam empedu dan malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada anak
jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada
kasus kolon irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan
penyebab diare pada thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu dan
berbagai penyakit lain ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
5) Diare inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada
beberapa keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight
junction, tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan lymphatic
menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan sering kali sel darah
merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat
inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan
diare sekretorik.
Bakteri patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight
junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan
kaskade inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan
mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorbsi yaitu cytoskeleton
dan perubahan susunan protein. Sebagai contoh, C. difficile akan
menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein, Bacteroides fragilis
menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V. cholera
mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC

14

menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton ( Subagyo B & Nurtjahjo


BS, 2010).
6) Diare terkait imunologi
Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas
tipe I, III, dan IV. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan
IgE dan alergen makanan. Reaksi tipe III misalnya pada penyakit
gastroenteropati, sedangkan reaksi tipe IV terdapat pada Coeliac disease
dan protein enteropaties. Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk ketubuh
menimbulkan respon imun dengan di bentuknya IgE yang selanjutnya
akan diikat oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast dan basofil.
Bila terjadi aktivasi akibat pajanan berulang dengan antigen yang spesifik,
sel mast akan melepaskan mediator seperti histamine, ECF-A, PAF, SRAA dan prostaglandin. Pada reaksi tipe III terjadi reaksi kompleks antigen
antibody dalam jaringan atau pembuluh darah yang mengaktifkan
komplemen.

Komplemen

yang

diaktifkan

kemudian

melepaskan

Machropage Chemotactic Factor yang akan merangsang sel mast dan


basofil melepas berbagai mediator. Pada reaksi tipe IV terjadi respon imun
seluler, disini tidak terdapat peran antibodi. Antigen dari luar
dipresentasikan sel APC (Antigen Presenting Cell) ke sel Th 1 yang
MHC-II dependen. Terjadi pelepasan berbagai sitokin seperti MIF, MAF
dan IFN oleh Th 1. Sitokin tersebut akan mengaktifkan makrofag dan
menimbulkan kerusakan jaringan.
Berbagai mediator diatas akan menyebabkan luas permukaan
mukosa berkurang akibat kerusakan jaringan, merangsang sekresi klorida
diikuti oleh natrium dan air ( Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
6. Klasifikasi
Secara umum diare disebabkan oleh 2 hal, yaitu gangguan pada
proses absorbsi atau sekresi. Terdapat beberapa pembagian diare :
(Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
a. Pembagian diare menurut etiologi
1) Infeksi
2) Non infeksi

15

b. Pembagian diare menurut mekanismenya yaitu gangguan


1) Absorbsi
2) Seksresi
c. Pembagian diare menurut lamanya diare
1) Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari.
2) Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari
7. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala diare dapat kita nilai dari riwayat anamnesa,
pemeriksaan fisik, dan laboratorium, kemudian dapat disimpulkan derajat
diare dari pemeriksaan tersebut (Subagyo B & Nurtjahjo BS, 2010).
a. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal hal sebagai berikut : Lama
diare, frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan
darah. Bila disertai muntah: volume dan frekuensinya. Kencing: biasanya,
berkurang, jarang atau tidak kencing dalam 6 8 jam terakhir. Makanan
dan minuman yang diberikan selama diare. Adakah panas atau penyakit
lain yang menyertai seperti : batuk, pilek, otitis media, campak.
b. Pemeriksaan fisik
Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan
cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan
selama diare. Subyektif dengan menggunakan kriteria WHO.
Didalam

melakukan

pemeriksaan

fisik

terdapat

beberapa

pemeriksaan utama yang sangat penting dilakukan, pemeriksaan awal


yaitu menilai keadaan umum pasien terlebih dahulu, jika pasien dalam
keadaan dehidrasi berat biasanya pasien berada dalam kondisi tidak sadar,
segera lakukan pemberian cairan secara intravena, akan tetapi jika pasien
dalam

kondisi

sadar

segera

lakukan

pemeriksaan

fisik

sesuai

penatalaksanaan derajat dehidrasi menurut tabel WHO 1995, didalam tabel


ini dapat dilakukan penilaian pemeriksaan fisik berdasarkan derajatnya dan
juga dapat disimpulkan untuk melakukan penatalaksanaan selanjutnya,
untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel dibawah ini.

16

Tabel 2 Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995


Penilaian
A
B
C
Lihat
Keadaan umum
Baik,sadar *Gelisah ,rewel *Lesu,lunglai
atau tidak sadar
Cekung
Mata
Normal
Sangat
cekung
Tidak ada
Air mata
Ada
dan
Kering
Mulut dan lidah
Basah
kering
* Haus,ingin
Rasa haus
Minum
Sangat kering
biasa tidak minum banyak *Malas
minum
haus
atau
tidak bisa minum
Periksa :
Kembali
*
kembali *kembali sangat
turgor kulit
cepat
lambat
lambat
Hasil pemeriksaan : Tanpa
Dehidrasi ringan Dehidrasi berat
dehidrasi
/ sedang
Bila ada 1 tanda
Bila ada 1 tanda
*
Ditambah 1 atau *ditambah 1 atau
lebih
lebih
tanda lain
Tanda lain
Terapi :
Rencana
Rencana terapi Rencana terapi C
terapi A
B

Hasil yang didapat pada penderita diberi angka 0, 1 atau 2 sesuai


dengan tabel, kemudian dijumlahkan.
Nilai : 0 2 = Ringan
3 6 = Sedang
7 12 = Berat
c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang kadang kadang diperlukan pada
diare akut (IDAI, 2010).
1) Darah:
Darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur
dan tes kepekaan terhadap antibiotika.
2) Urine :
Urine lengkap, kutur dan test kepekaan terhadap antibiotika
3) Tinja :
a)

Pemeriksaan Makroskopik

17

Pemeriksaan makroskopik tinja tidak perlu dilakukan pada semua


penderita dengan diare meskipun pemeriksaan laboratorium telah
dilakukan. Pada pemeriksaan makroskopik biasanya akan dilihat dari
konsistensi tinja, warna, dan biasanya jika disebabkan oleh cacing akan
terlihat.
Table 3. Test laboratorium tinja yang digunakan untuk mendeteksi
enteropatogen
Test laboratorium

Organism diduga / identifikasi

Mikroskopik : lekosit pada tinja


Trophozoit ,kista,oocysts,spora

Invasive atau bakteri dan memproduksi


sitotoksin
G.lamblia,
I.belt,
Cyclospora,
Cryptosporidium, E.histolityca
Stongyloides
Rhabditiform lava
Spiral atau hasil gram (-) berbentuk S Camphylobacter jejuni
E.coli,
Shigella,
Salmonella,
Kultur tinja : Standard
Camphylobacter jejuni
Spesial
Y.enterocolitica, C.difficile, V.cholerae,
V.parahaemolyticus, E.coli , O 157 H 7
Rotavirus, G.Lamblia,enteric adenovirus,
Enzym immunoassay atau latex C.difficle
E. Coli, O 157 : H7 , EHEC, EPEC
aglutinasi
Salmonella, shigella
Serotying
Latex aglutinasi setelah broth Bakteri yang memproduksi toksin, EIEC,
EAEC, PCR, untuk genus yang virulen
enrichment
Test yang dilakukan di labratorium
riset

b) Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit dapat
memberikan informasi tentang penyebab diare, letak anatomis serta
adanya proses peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja diproduksi sebagai
respon terhadap bakteri yang menyerang mukosa kolon. Leukosit yang
positif pada pemeriksaan tinja menunjukan adanya kuman invasif atau
kuman yang memproduksi sitotoksin.

18

8. Penatalaksanaan
Dari penilaian pemeriksaan fisik diare dengan tabel WHO 1995 akan
didapatkan nilai skor untuk dapat dilakukan penatalaksanaan sesuai
derajatnya, rencana terapi yang dilakukan yaitu :
Rencana Terapi A : Terapi di rumah untuk mencegah dehidrasi dan
malnutrisi
Anak-anak tanpa tanda-tanda dehidrasi memerlukan tambahan cairan dan
garam untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare. Jika
ini tidak diberikan, tanda-tanda dehidrasi dapat terjadi.
Rencana Terapi B: Terapi rehidrasi oral untuk anak-anak dengan
dehidrasi ringan-sedang
Jika berat badan anak diketahui maka hal ini harus digunakan untuk
menentukan jumlah larutan yang tepat. Jumlah larutan ditentukan dari
berat badan (Kg) dikalikan 75 ml. Jika berat badan anak tidak diketahui
maka penentuan jumlah cairan ditentukan berdasarkan usia anak.
Rencana Terapi C : untuk Pasien dengan Dehidrasi Berat
Pengobatan bagi anak-anak dengan dehidrasi berat adalah rehidrasi
intravena cepat, mengikuti Rencana Terapi C. Jika mungkin, anak harus
dirawat di rumah sakit.
Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare
bagi semua kasus diare yang diderita anak balita baik yang dirawat di
rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit ( IDAI, 2010 )
a. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru
b. Zinc diberikan selama 10 hari berturut turut
c. ASI dan makanan tetap diteruskan
d. Antibiotik selektif
e. Nasihat kepada orang tua

19

Rehidrasi dengan oralit baru, dapat mengurangi rasa mual dan


muntah.
Berikan segera bila anak diare, untuk mengatasi dehidrasi. Karena
itu, para ahli diare mengembangkan formula baru oralit dengan tingkat
osmolaritas yang lebih rendah. Osmolaritas larutan baru lebih mendekati
asmolaritas plasma, sehingga kurang menyebabkan risiko terjadinya
hipernatremia.
Keamanan oralit ini sama dengan oralit yang selama ini digunakan,
namun efektifitasnya lebih baik dari pada oralit formula lama. Oralit baru
mampu menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu
mengurangi pengeluaran tinja hingga 20 % serta mengurangi kejadian
muntah hingga 30 %. Selain itu, oralit baru ini juga

telah

direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF untuk diare akut non kolera
pada anak.
Tabel 4. Komposisi Oralit Baru
Oralit Baru Osmolaritas Rendah

Mmol/liter

Natrium

75

Klorida

65

Glucose, Anhydrous

75

Kalium

20

Sitrat

10

Total Osmolaritas

245

Sumber: WHO 2006


Ketentuan pemberian oralit formula baru :
a. Beri ibu - ibu bungkus oralit formula baru
b. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang, untuk
persediaan 24 jam.
c. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan
ketentuan sebagai berikut:
Untuk anak berumur < 2 tahun : berikan 50 100 ml tiap kali BAB
Untuk anak 2 tahun atau lebih : berikan 100 200 ml tiap BAB

20

d. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka
sisa larutan harus dibuang.
Zinc
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat
mengembalikan nafsu makan anak.
Beberapa penelitian telah membuktikannya. Pemberian zinc yang
dilakukan di awal masa diare selama 10 hari ke depan secara signifikan
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien.
Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan
elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus,
menigkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun
yang mempercepat pembersihan patogen dari usus. Pemberian zinc dapat
menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat
menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak.
Dosis zinc untuk anak:
Anak di bawah umur 6 bulan

: 10 mg ( tablet ) per hari

Anak di atas umur 6 bulan

: 20 mg ( 1 tablet ) per hari

Zinc diberikan selama 10 14 hari berturut turut meskipun anak


telah sembuh dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan
air matang, ASI, atau Oralit. Untuk anak anak yang lebih besar, zinc
dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.
ASI dan makanan
Tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada
waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti
nutrisi yang hilang.
Antibiotik
Jangan diberikan kecuali ada indikasi misalnya diare berdarah atau
kolera.

Pemberian

antibiotik

yang

tidak

rasional

justru

akan

memperpanjang lamanya diare karena akan mengganggu keseimbangan


flora usus dan Clostridium difficile yang tumbuh akan menyebabkan diare
sulit disembuhkan. Selain itu pemberian antibiotik yang tidak rasional
akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotik, serta menambah

21

biaya pengobatan yang tidak perlu. Resistensi terhadap antibiotik terjadi


melalui mekanisme antara lain, inaktivasi obat melalui degradasi
enzimatik oleh bakteri, perubahan struktur bakteri yang menjadi target
antibiotik dan perubahan permeabilitas membran terhadap antibiotik.
Nasihat pada ibu atau pengasuh
Kembali segera jika demam, tinja berdarah berulang, makan atau
minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau belum membaik
selama 3 hari.
a. Pengobatan diare tanpa dehidrasi
Terapi Rehidrasi Oral (TRO)
Penderita diare tanpa dehidrasi harus segera diberi cairan rumah
tangga untuk mencegah dehidrasi, seperti air tajin, larutan gula garam,
kuah sayur sayuran dan sebagainya. Pengobatan dapat dilakukan di
rumah oleh keluarga penderita. Jumlah cairan yang diberikan adalah
10ml/kgBB atau untuk anak usia < 1 tahun adalah 50 100 ml, 1 - 5 tahun
adalah 100 - 200 ml, 5 - 12 tahun adalah 200 - 300 ml dan dewasa adalah
300 400 ml setiap BAB ( WHO,1995)
b. Pengobatan diare dehidrasi ringan sedang
TRO ( Terapi Rehidrasi Oral )
Penderita diare dengan dehidrasi ringan-sedang harus dirawat di
sarana kesehatan dan segera diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit.
Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama 75cc/kgBB. Bila berat
badannya tidak diketahui, meskipun cara ini kurang tepat, perkiraan
kekurangan cairan dapat ditentukan dengan menggunakan umur penderita,
yaitu untuk umur < 1 tahun adalah 300 ml, 1 5 tahun adalah 600 ml, > 5
tahun adalah 1200 ml, dan dewasa adalah 2400 ml, rentang nilai volume
cairan

ini adalah perkiraan, volume yang sesungguhnya diberikan

ditentukan dengan menilai rasa haus penderita dan memantau tandatanda


dehidrasi ( WHO, 1995)

22

c. Pengobatan diare dengan dehidrasi berat


TRP ( Terapi Rehidrasi Parenteral )
Penderita diare dehidrasi berat harus dirawat di puskesmas atau
rumah sakit. Pengobatan yang terbaik adalah dengan terapi rehidrasi
perenteral. Pasien yang dapat minum meskipun hanya sedikit harus diberi
oralit sampai cairan infuse terpasang. Disamping itu, semua anak harus
diberi oralit selama pemberian cairan intra vena ( 5 ml/kg/BB/jam),
apabila dapat minum dengan baik, biasanya dalam 3 4 jam (untuk bayi)
atau 1-2 jam (untuk anak yang lebih besar). Pemberian tersebut dilakukan
untuk memberi tambahan basa dan kalium yang mungkin tidak dapat
disuplai dengan cukup dengan pemberian cairan intravena. Untuk rehidrasi
parenteral digunakan cairan ringer laktat dengan dosis 100 ml/kgBB. Cara
pemberiannya untuk < 1 tahun 1 jam pertama 30cc/kgBB, dilanjutkan 5
jam berikutnya 70cc/kgBB. Diatas 1 tahun jam pertama 30cc/kgBB
dilanjutkan 2 jam berikutnya 70cc/kgBB ( WHO,1995)
Lakukan evaluasi tiap jam. Bila hidrasi tidak membaik, tetesan
intravena dapat dipercepat. Setelah 6 jam pada bayi atau 3 jam pada anak
lebih besar, lakukan evaluasi kemudian pilih pengobatan selanjutnya yang
sesuai yaitu pengobatan diare dengan dehidrasi ringan - sedang atau
pengobatan diare tanpa dehidrasi ( WHO,1995)
Terapi medikamentosa
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare, dan
tidak direkomendasikan untuk anak usia kurang dari 2 3 tahun, karena
beberapa obat memiliki efek toksik sistemik, jadi pada pengobatan diare
akut tidak diperlukan obat - obatan seperti ( WHO, 1995)
a. Antibiotik
Antibiotik pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut
karena sebagian besar diare disebabkan oleh rotavirus yang sifatnya self
limited dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotik. antibiotik biasanya
diperlukan untuk penyakit disentri atau diare yang berhubungan dengan
infeksi bakteri.

23

Tabel 5. Antibiotik pada diare


Penyebab

Antibiotik pilihan

Alternatif

Kolera

Tetracycline
Erythromycin
12,5 mg/kgBB
12,5 mg/kgBB
4x sehari selama 3 4x sehari selama 3
hari
hari
Shigella
Ciprofloxacin
Pivmecillinam
15 mg/kgBB
20 mg/kgBB
dysentery
2x sehari selama 3 4x sehari selama 3
hari
hari
Ceftrioaxone
50

100
mg/kgBB
1x sehari
IM
selama 2 -5 hari
Amoebiasis
Metronidazole
10 mg/kgBB
3x sehari selama 5
hari
( 10 hari pada
kasus berat )
Giardiasis
Metronidazole
5 mg/kg
3x sehari selama 5
hari
Sumber : WHO 2006
b. Obat anti diare
Obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan
praktis dan tidak diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak.
( Subagyo B & Santoso NB, 2010)
c. Adsorben
Obat

seperti

cholestyramin.

kaolin,

Digunakan

atapulgite,
untuk

smectite,

pengobatan

activatedcharcoal,
diare

atas

dasar

kemampuannya untuk mengikat dan menginaktifasi toksin bakteri atau


bahan lain yang menyebabkan diare serta dikatakan mempunyai
kemampuan untuk melindungi mukosa usus, walaupun demikian tidak ada
bukti keuntungan praktis dari penggunaan obat ini untuk pengobatan diare
akut pada anak.

24

d. Bismuth subsalicylate
Bila diberikan setiap 4 jam, dilaporkan dapat mengurangi
pengeluaran tinja pada anak dengan diare akut sebanyak 30 %, akan tetapi
cara ini jarang digunakan
9. Komplikasi
Beberapa masalah mungkin terjadi selama pengobatan rehidrasi.
Beberapa diantaranya membutuhkan pengobatan khusus ( IDAI, 2010)
a. Gangguan Elektrolit
1) Hipernatremia
Penderita diare dengan natrium plasma > 150 mmol/L memerlukan
pemantauan berkala yang ketat. Tujuannya adalah menurunkan kadar
natrium secara perlahan lahan. Penurunan kadar natrium plasma yang
cepat akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan edema

otak.

Rehidrasi oral atau nasogastrik menggunakan oralit adalah cara terbaik dan
paling aman.
2) Hiponatremia
Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang
hanya mengandung sedikit garam, dapat terjadi hiponatremi ( Na <
130mol/L ). Hiponatremi sering terjadi pada anak dengan shigellosis dan
pada anak malnutrisi berat edema. Oralit aman dan efektif untuk terapi
hampir semua anak dengan hiponatremi. Bila tidak berhasil, koreksi Na
dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu memakai ringer
laktat atau normal saline.
3) Hiperkalemia
Hiperkalemia terjadi jika kadar K > 5 mEq/L, koreksi dilakukan
dengan pemberian kalsium glukonas 10 % 0,5 1 ml/kgBB secara
intravena dalam 5 10 menit dengan monitor detak jantung.
4) Hipokalemi
Dikatakan hipokalemi bila K < 3,5 mEq/L, Hipokalemi dapat
menyebabkan kelemahan otot, paralitik ileus, gangguan fungsi ginjal dan
aritmia jantung. Hipokalemi dapat dicegah dan kekurangan kalium dapat

25

dikoreksi dengan menggunakan oralit dan memberikan makanan kaya


kalium selama diare dan sesudah diare berhenti.
b. Kegagalan Upaya Rehidrasi Oral
Kegagalan upaya rehidrasi oral dapat terjadi pada keadaan tertentu
misalnya pengeluaran tinja cair yang sering dengan volume yang banyak,
muntah yang menetap, tidak dapat minum, kembung dan ileus paralitik,
serta malabsorbsi glukosa. Pada keadaan keadaan tersebut mungkin
penderita harus diberikan cairan intravena.
c. Kejang
Pada anak yang mengalami dehidrasi, walupun tidak selalu dapat
terjadi kejang sebelum atau selama pengobatan rehidrasi. Kejang tersebut
dapat disebabkan oleh kerena hipoglikemi, kebanyakan terjadi pada bayi
atau anak yang gizinya buruk, hiperpireksia, kejang terjadi bila panas
tinggi, misalnya meleihi 40C, hipernatremi atau hiponatremi.
10. Pencegahan
Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara ( Subagyo B &
Santoso NB, 2010)
a. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare.
Kuman kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan
secara fekal oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu
difokuskan pada cara berikut ini.
Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
1) Pemberian ASI yang benar.
2) Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI.
3) Penggunaan air bersih yang cukup.
4) Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis
buang air besar dan sebelum makan.
5) Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga.
6) Membuang tinja bayi yang benar.

26

b. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu ( host )


Cara cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh anak dan dapat mengurangi risiko diare antara lain (Subagyo B &
Santoso NB, 2010)
1) Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun.
2) Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberikan
makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status gizi anak.
3) Imunisasi campak.
Akhir-akhir ini banyak diteliti tentang peranan probiotik, prebiotik dan
seng dalam pencegahan diare ( Subagyo B & Santoso NB, 2010)
c. Probiotik
Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan
yang difermentasikan untuk menunjang kesehatan melalui terciptanya
keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare
dapat dilakukan dengan pemberian probiotik dalam waktu yang panjang
terutama untuk bayi yang tidak minum ASI.
Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam pencegahan diare
melalui: perubahan lingkungan mikro lumen usus (pH, oksigen), produksi
bahan antimikroba terhadap beberapa patogen usus, kompetisi nutrient,
mencegah adhesi kuman patogen pada enterosit, modifikasi toksin atau
reseptor toksin efek trofik terhadap mukosa usus melalui penyediaan
nutrient dan imunomodulasi.
d. Prebiotik
Prebiotik bukan merupakan mikroorganisme akan tetapi bahan
makanan. Umumnya kompleks karbohidrat yang bila dikonsumsi dapat
merangsang pertumbuhan flora intestinal yang menguntungkan kesehatan.
Oligosacharida yang ada didalam ASI dianggap sebagai prototype
prebiotik oleh karena dapat merangsang pertumbuhan lactobacilli dan
Bifidobacteria didalam kolon bayi yang minum ASI. Data menunjukan
angka kejadian diare akut lebih rendah pada bayi yang minum ASI.

27

II.2 Faktor-Faktor Risiko Penyebab Terjadinya Diare


Faktor risiko dari penyebab terjadinya diare yang telah kita ketahui
yaitu

melalui 4F (finger, flies, fluid, food) (Bambang Subagyo &

Nurtjahjo Budi Santoso , 2010).


Diare dapat dikatakan sebagai masalah pediatrik sosial karena diare
merupakan salah satu penyakit utama yang terdapat di Negara berkembang
dimana adanya faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita itu
sendiri yaitu diantaranya faktor penyebab (agent), penjamu (host), dan
factor lingkungan (environment) (Suharyono, 2008).
Faktor penyebab (agent) yang dapat menyebabkan kejadian diare
pada balita diantaranya karena faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor
makanan (Ngastiyah, 2005). Sedangkan dari faktor penjamu (host) yang
menyebabkan diare pada balita yaitu dari faktor status gizi balita dan
faktor perilaku hygiene yang buruk misalnya dalam perilaku mencuci
tangan, kebersihan putting susu, kebersihan dalam botol susu dan dot susu
pada balita. Kemudian dari faktor lingkungan (environment) yang
menyebabkan balita terkena diare yaitu dari kondisi sanitasi lingkungan
yang kurang

baik misalnya dalam penggunaan kebersihan air yang

digunakan untuk mengolah susu dan makanan balita (Soegijanto, 2002).


Pada kesempatan kali ini peneliti akan mempelajari faktor risiko
terjadinya diare yang hubungkan dengan :
1. Karakteristik Ibu
1)

Umur
Semakin cukup umur tingkat pematangan dan kekuatan seseorang

akan

lebih

matang

dalam

berpikir,

belajar,

bekerja

sehingga

pengetahuanpun akan bertambah. Dari segi kepercayaan masyarakat,


seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya (Notoatmodjo S, 2005).
2)

Pendidikan
Tingkat pendidikan yang terlalu rendah akan sulit memahami pesan

atau informasi yang disampaikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan


seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula
pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang

28

termasuk juga perilaku akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk
sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. (Notoatmodjo S,
2005).
3)

Pengalaman
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu

merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan oleh


karena pengalaman yang diperoleh dapat memecahkan permasalahan yang
dihadapi pada masa lalu. (Notoatmodjo S, 2005).
2. Perilaku Ibu
faktor penjamu (host) yang menyebabkan diare yaitu:
keadaan gizi dan perilaku masyarakat, faktor penjamu yang menyebabkan
terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai 2 tahun, keadaan gizi
yang kurang, anak-anak yang sedang menderita campak dalam waktu 4
minggu terakhir yang diakibatkan dari penurunan kekebalan tubuh
panderita, umur, dan perilaku manusia yang tidak sehat. (Suegijanto, 2002)
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Keluarga
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau
aktifitas organisme yang bersangkutan. Jadi, perilaku manusia pada
hakikatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri. Sedangkan
perilaku itu sendiri adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut,
baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung (Notoatmodjo,
2007).
Sehingga perilaku hygiene merupakan salah satu sasaran terhadap
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dimana pengertian dari perilaku
hygiene itu sendiri adalah suatu aktifitas atau tindakan yang mempunyai
tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan
pribadi dan lingkungan, yaitu mencangkup beberapa kebiasaan bersih yang
merupakan salah satu upaya dalam pencegahan penyakit diare. Kebiasankebiasaan tersebut meliputi mencuci tangan dengan memakai sabun,
mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersih, membuang sampah
pada tempatnya serta buang air besar pada toilet. Sedangkan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dilakukan di tatanan rumah tangga itu

29

sendiri adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar


sadar, mau, dan mampu melakukan PHBS untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya, mencegah risiko terjadinya penyakit dan
melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan
kesehatan masyarakat (Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan, 2006).
Menurut Puspromkes Depkes RI (2006), indikator PHBS rumah
tangga yaitu pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, bayi diberi ASI
ekslusif, mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan, ketersediaan air
bersih, ketersediaan jamban sehat, kesesuaian luas lantai dengan jumlah
penghuni, lantai rumah bukan tanah, tidak merokok dalam rumah,
melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan makan buah dan sayur setiap hari.
Dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
khususnya perilaku hygiene seperti mencuci tangan dengan menggunakan
sabun yang benar sebagai cara yang efektif untuk mencegah penyebaran
berbagai penyakit menular seperti penyakit diare. Namun dalam
prakteknya, penerapan perilaku mencuci tangan dengan sabun yang
dianggap cukup sederhana tetapi tidak selalu mudah dilakukan, terutama
pada keluarga yang belum terbiasa. Maka pendidikan dari lingkungan
keluarga mempunyai peran yang penting, terutama pendidikan orang tua
kepada anaknya yang diberikan sejak masa kanak - kanak. Selain itu orang
tua harus mengajarkan konsep PHBS khususnya dalam berperilaku
hygiene

dan

mengusahakan

agar

anak

dapat

menerapkan

dan

membiasakannya (Dinkes Provinsi Kalimantan Selatan, 2006).


PHBS mencakup pemeliharaan kebersihan, kebersihan rumah dan
kesehatan lingkungan sekitar serta kesehatan diri. Cuci tangan salah satu
kebiasaan yang tercakup dalam PHBS. Meski terkesan mudah, cuci tangan
memiliki manfaat besar. Setidaknya ada 20 jenis penyakit yang bisa
dicegah hanya dengan membiasakan diri mencuci tangan secara benar
antara lain diare, tifus, cacingan, influenza, batuk, penyakit-penyakit kulit,
juga flu burung.
Cuci tangan menjadi cara efektif mencegah penularan penyakit,
sebab kuman yang menempel ditangan menjadi salah satu mata rantai

30

penularan penyakit. Pada kasus diare kuman - kuman diare ikut keluar
bersama kotoran/feses dan mudah berpindah ke tangan saat penderita
cebok. Bila sesudahnya ia tidak mencuci tangan dengan baik, kuman
tersebut bisa berpindah ke benda - benda yang disentuhnya termasuk
makanan/minuman yang mungkin dikonsumsi juga oleh orang lain
(Mansyah B. 2005)
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan yaitu faktor
predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Faktor predisposisi
(predisposing factors) merupakan faktor - faktor yang mencangkup
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan
kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
kesehatan, system nilai yang dianut oleh masyarakat, tingkat pendidikan,
tingkat social ekonomi dan sebagainya. Kemudian faktor pemungkin
(enabling factor) adalah faktor - faktor yang mencangkup ketersediaan
sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya air
bersih,

tempat

pembuangan

sampah,

tempat

pembuangan

tinja,

ketersediaan makanan yang bergizi dan sebagainya. Sedangkan faktor


penguat (reinforcing factor) meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh
masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas
kesehatan, termasuk juga undang-undang, peraturan - peraturan baik dari
pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan
(Notoatmodjo, 2000)
4. Lingkungan
Selanjutnya faktor lingkungan (environment) yang merupakan
epidemiologi diare atau penyebaran diare sebagian besar disebabkan
karena faktor lingkungan yaitu sanitasi lingkungan yang buruk dan
lingkungan sosial ekonomi (Irianto J, 1996 ).
Pengertian Sanitasi Lingkungan Rumah
Sanitasi adalah sesuatu cara untuk mencegah berjangkitnya suatu
penyakit menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber.
Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan

31

pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi


derajat kesehatan (Notoatmodjo, 2007).
Sedangkan sanitasi lingkungan adalah suatu usaha untuk
memperbaiki atau mengoptimalkan lingkungan hidup manusia agar
merupakan media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimal
bagi manusia yang hidup di lingkungan tersebut (Notoatmodjo, 2007).
Faktor Sanitasi Lingkungan yang Mempengaruhi Kejadian Diare
Sanitasi lingkungan yang buruk merupakan faktor yang penting
terhadap terjadinya diare dimana interaksi antara penyakit, manusia, dan
faktor lingkungan yang mengakibatkan penyakit perlu diperhatikan dalam
penanggulangan diare. Peranan faktor lingkungan, enterobakteri, parasit
usus, virus, jamur dan beberapa zat kimia telah secara klasik dibuktikan
pada berbagai penyelidikan epidemiologis sebagai penyebab penyakit
diare ( Wibowo D,1993 )
Sedangkan lingkungan yang tidak bersih bisa menjadi pemicu
munculnya bakteri - bakteri penyebab diare dalam tubuh manusia. Sistem
penyebaran diare pada manusia diantaranya melalui air yang digunakan
untuk keperluan sehari - hari, bila memiliki kebersihan air yang minim,
sehingga dapat membawa bakteri masuk dalam perut dan berdiam di usus
besar. Akibatnya, bakteri pembawa diare itu dengan leluasa menyebar ke
seluruh bagian usus manusia dan menginfeksinya, selanjutnya tanah yang
kotor dapat menghantarkan bakteri E. coli menuju perut, sehingga selalu
membiasakan mencuci bahan makanan yang akan dimasak dengan bersih
sebelum dikonsumsi. Berikut yang bisa ikut membantu penyebaran diare
pada manusia adalah tangan manusia itu sendiri. Tangan yang kotor
berisiko mengandung banyak kuman dan bakteri. Biasakanlah mencuci
tangan dengan sabun setelah buang air besar dan setelah melakukan
berbagai aktivitas. Kemudian, serangga yang menyebabkan penyakit diare
sangat menyukai tempat - tempat yang memang kotor dan serangga akan
tumbuh dan berkembang biak di sana (Yulisa,2008)

32

Laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) mengenai status


pencapaian Tujuan Pembangunan Manusia atau MDG di Indonesia
mengalami kemunduran. Pada tahun 2015, MDG mencanangkan 69%
penduduk Indonesia dapat mengakses air minum yang layak dan 72,5%
memperoleh layanan sanitasi yang memadai. Faktanya, hanya 18%
penduduk yang memiliki akses ke sumber air minum dan sekitar 45%
mengakses sarana sanitasi yang memadai. Kemudian untuk menciptakan
sanitasi lingkungan yang baik yaitu diantaranya bengan mengembangkan
kebiasaan atau perilaku hidup sehat, membersihkan ruangan dan halaman
rumah secara rutin, membersihkan kamar mandi dan toilet, menguras,
menutup dan menimbun, tidak membiarkan adanya air yang tergenang,
membersihkan saluran pembuangan air, dan menggunakan air yang bersih
( Suharyono, 2008 )
Persyaratan Lingkungan Rumah yang Sehat
Lingkungan Rumah yang sehat memiliki sejumlah persyaratan, yaitu
(Notoatmodjo, 2007):
1) Bahan Bangunan
a). Lantai
Lantai sebaiknya dari ubin, keramik atau semen agar tidak lembab
dan tidak menimbulkan genangan, namun tidak cocok untuk kondisi
ekonomi pedesaan. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah
tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah tidak
berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan
(Notoatmodjo, 2007).
b). Dinding
Dinding rumah sebaiknya dibuat dari tembok, tetapi dengan ventilasi
yang cukup. Sebenarnya di daerah tropis yang lebih cocok adalah dari
bambo atau papan, agar lubang - lubang pada dinding atau papan berfungsi
sebagai ventilasi (Notoatmodjo, 2007).

33

c). Atap genteng


Atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh
masyarakat. Namun demikian, ada penduduk yang tidak mampu untuk
membelinya, sehingga dapat diganti dengan dengan atap daun kelapa.
Atap seng atau asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan karena dapat
menimbulkan suhu panas di dalam rumah (Notoatmodjo, 2007).
2) Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi yaitu untuk menjaga agar
aliran udara dalam rumah tetap segar, jika ventilasi kurang akan
menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah. Di samping itu kurangnya
ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan. Sehingga
rumah yang sehat harus memungkinkan pertukaran udara dari luar rumah
dan harus dilengkapi dengan ventilasi yang cukup (Notoatmodjo, 2007).
a) Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang
dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam rumah,
terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan
media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit
penyakit,

sebaliknya terlalu

banyak

cahaya

dalam

rumah akan

menyebabkan silau, dan akhirnya dapat merusak mata (Notoatmodjo,


2007).
3) Luas Bangunan Rumah
Rumah yang sehat juga harus memperhatikan kepadatan
penghuninya. Selain tidak nyaman, rumah yang jumlah penghuninya tidak
sebanding dengan luas rumah juga tidak sehat, baik secara fisik maupun
sosial. Rumah yang terlalu padat (overcrowded) lebih memungkinkan
terjadinya penularan berbagai jenis penyakit. Karena itu, luas bangunan
yang optimal adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3 m2 untuk tiap
orang (Notoatmodjo, 2007).

34

4) Fasilitas-fasilitas dalam Rumah Sehat


Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas - fasilitas sebagai
berikut (Notoatmodjo, 2007)
a). Penyediaan air bersih yang cukup
b). Pembuangan tinja
c). Pembuangan air limbah
d). Pembuangan sampah
e). Fasilitas dapur
f). Halaman Rumah
Halaman rumah yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit. Hal yang perlu diperhatikan adalah halaman rumah harus
selalu kering dan rata, halaman rumah dilakukan perkerasan dengan baik
yaitu tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak tergenang pada musim
hujan, adanya pagar rumah dari tembok atau tumbuh - tumbuhan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan, dan halaman rumah yang bersih dari
segala macam jenis sampah serta adanya saluran drainase air hujan untuk
menunjang kebersihan (Notoatmodjo, 2007).
Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan
Ruang lingkup sanitasi lingkungan diantaranya tersedianya air).
bersih, karena digunakan untuk kebutuhan manusia secara komplek antara
lain untuk minum, memasak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian)
dan sebagainya. Di antara kegunaan air tersebut yang sangat penting
adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu air harus mempunyai
persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi
manusia. Syarat - syarat air yang sehat yaitu meliputi syarat fisik yaitu
bening (tidak berwarna), tidak berasa, suhu di bawah suhu udara di
luarnya, kemudian syarat bakteriologis yaitu bebas dari segala bakteri, dan
syarat kimia yaitu air harus mengandung zat-zat terentu dalam jumlah
yang tertentu pula (Notoatmodjo, 2007)
Menurut Notoatmodjo (2007), Sumber-sumber air minum yang
dapat digunakan dengan cara ditampung kemudian dapat dijadikan air
minum yang sehat jika ditambahkan kalsium.

Air sungai dan danau

35

disebut juga air permukaan dan jika digunakan sebagai air minum harus
diolah terlebih dahulu, kemudian mata air yaitu berasal dari air tanah yang
muncul secara alamiah, jika digunakan air minum harus direbus dahulu,
selanjutnya air sumur dangkal merupakan sumber air yang keluar dari
lapisan air di dalam tanah yang dangkal yaitu berkisar antara 5 sampai
dengan 15 meter dari permukaan tanah. Selanjutnya air sumur yang
berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah, sudah cukup sehat untuk
dijadikan air minum yang langsung (tanpa melaluhi proses pengolahan).
Pembuangan kotoran manusia merupakan ruang lingkup yang kedua.
Yang dimaksud dengan kotoran manusia adalah semua benda atau zat
yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh.
Dilihat dari segi kesehatan masyarakat, masalah pembuangan kotoran
manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi.
Untuk mencegah sekurang - kurangnya mengurangi kontaminasi tinja
terhadap lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola
dengan baik, yaitu pembuangan kotoran harus disuatu tempat tertentu atau
jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan
apabila memenuhi persyaratan - persyaratan yaitu tidak mengotori
permukaan tanah di sekeliling jamban, tidak mengotori air permukaan di
sekitarnya, tidak mengotori air tanah, tidak terjangkau oleh serangga
terutama lalat dan kecoa dan binatang lainnya, tidak menimbulkan bau,
sudah digunakan dan dipelihara, murah dan dapat diterima oleh
pemakainya (Notoatmodjo, 2007)
Ruang lingkup yang ketiga yaitu pengolahan sampah. Sampah terkait
erat dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah akan hidup
berbagai mikroorganisme penyebab penyakit (bacteri pathogen), dan
binatang serangga sebagai pemindah atau penyebar penyakit (vektor).
Sehingga sampah harus dikelola dengan baik agar tidak menggangu atau
mengancam kesehatan masyarakat. Dalam pengelolaan sampah yaitu
meliputi pengumpulan dan pengangkutan sampah yang menjadi tanggung
jawab dari masing - masing rumah tangga atau instansi yang menghasilkan
sampah, maka masyarakat harus membangun dan mangadakan tempat

36

khusus untuk mengumpulkan sampah dan kemudian dari masing-masing


tempat pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke tempat
penampungan sementara (TPS) selanjutnya ke tempat penampungan akhir
(TPA). Kemudian adanya pemusnahan dan pengolahan sampah terutama
untuk sampah padat dilakukan melalui berbagai cara yaitu pemusnahan
sampah dengan ditanam atau menimbun dalam tanah, memusnahkan
sampah dengan membakar didalam tungku pembakaran, dan pengolahan
sampah dengan dijadikan pupuk kompos (Notoatmodjo, 2007).
Selanjutnya ruang lingkup sanitasi lingkungan yang penting juga
yaitu pengolahan air limbah. Air limbah atau air buangan merupakan air
yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun
kegiatan yang lainnya, dibuang dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar)
dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat
membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu kesehatan
hidup (Notoatmodjo, 2007).
Upaya Menciptakan Sanitasi Lingkungan yang Baik
Pengaruh buruk dari lingkungan sebenarnya dapat dicegah dengan
mengembangkan kebiasaan perilaku hidup sehat dan bersih serta
menciptakan sanitasi lingkungan yang baik. Kebiasaan hidup sehat
dilakukan dalam berbagai cara seperti mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan rumah
dan halaman secara rutin, membersihkan kamar mandi dan bak mandi
secara rutin. Gambaran tentang aktivitas - aktivitas untuk menciptakan
sanitasi lingkungan yang baik adalah mengembangkan kebiasaan atau
perilaku hidup sehat, membersihkan ruangan dan halaman rumah secara
rutin, membersihkan kamar mandi dan toilet, menguras, menutup dan
menimbun (3M), tidak membiarkan adanya air yang tergenang,
membersihkan saluran pembuangan air, dan menggunakan air yang bersih
(Notoatmodjo, 2007).

37

II.3 Penelitian Terkait Yang Pernah Dilakukan


Penelitian tentang hubungan karakteristik, perilaku ibu dan sanitasi
rumah terhadap angka kejadian diare pernah dilakukan oleh Anjar
Purwidiana ( 2009 ) Hubungan Antara Faktor Lingkungan Dan Faktor
Sosiodemografi Dengan Kejadian Diare Pada Balita, penelitian ini
dilakukan di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen
Tahun 2009 dengan 70 responden, metode penelitiannya menggunakan
observasional dengan pendekatan cross sectional. Dari hasil penelitiannya
didapatkan tidak terdapat hubungan antara sosiodemografi dan terdapat
hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian diare pada balita di
Desa Blimbing.
Penelitian analisis lanjut data SDKI 1994 yang berjudul faktor faktor yang mempengaruhi kejejadian diare pada anak balita, penelitian ini
menggunakan data SDKI tahun 1994 yang merupakan survey berskala
nasional yang dilakukan di 27 provinsi di Indonesia dengan menggunakan
pendekatan Cross sectional, survey ini dilaksanakan pada bulan Juli
sampai November

1994 meliputi 33.738 kepala rumah tangga yang

didalamnya terdapat 28.168 wanita usia 15 - 49 tahun telah menikah, dari


hasil

penelitian

didapatkan

adanya

hubungan

Sosiodemografi dan lingkungan terhadap kejadian diare.

antara

faktor

38

II.4 Kerangka Teori


Faktor Host
Pendidikan
Pekerjaan

Faktor Penguat :
Sumber air utama
Jenis jamban
Jenis lantai
Jarak Sumber Air
dari rembesan
tinja

Pengetahuan
sikap

Faktor perilaku IBU


Kebiasaan cuci tangan
sebelum memberi makan
anak
Kebiasaan cuci tangan
alat makan/minum

Diare akut pada


balita dengan
dehidrasi dan
tanpa dehidrasi

Faktor Pendukung :
1. Malabsorbsi
2. Infeksi :
Bakteri
Virus
Parasit
3. faktor makanan

39

II.5 Kerangka Konsep


Karakteristik Ibu:
- Usia Ibu
- Tingkat pendidikan
Ibu
- Pekerjaan Ibu

Perilaku Ibu:
- Kebiasaan cuci
tangan sebelum
memberi makan anak
- Kebiasaan cuci
tangan alat
makan/minum

Sanitasi Rumah:
- sumber air utama.
- jenis jamban
- jenis lantai
- jarak sumber
air dari
rembesan tinja

DIARE AKUT
DENGAN DEHIDRASI
DAN TANPA
DEHIDRASI

40

II.6 Hipotesa
1. Adanya hubungan antara usia ibu terhadap kejadian diare dengan dehidrasi
dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
2. Adanya hubungan antara tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian diare
dengan dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
3. Adanya hubungan antara pekerjaan ibu terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
4. Adanya hubungan antara sumber air utama terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
5. Adanya hubungan antara jenis jamban terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
6. Adanya hubungan antara jenis lantai terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
7. Adanya hubungan antara mencuci tangan terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
8. Adanya hubungan antara mencuci alat makan atau minum terhadap
kejadian diare dengan dehidrasi dan diare tanpa dehidrasi pada balita.
9. Adanya hubungan antara jarak sumber air terhadap kejadian diare dengan
dehidrasi dan diare tanpa dehiarasi pada balita.