Anda di halaman 1dari 18

Makalah Pendidikan Kewarganegaraan

Tentang
Keadilan Bagi Tersangka Bandar Narkoba

Disusun oleh
Farhan Ahmad
Kelas 10 ( X) Multimedia 3 (MM3)
SMK TELKOM BANDUNG
KAB. BANDUNG

Daftar Isi
Daftar Isi.................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................................... i
Bab 1 Pendahuluan................................................................................................. 1
1.1

Latar Belakang............................................................................................ 1

1.2

Rumusan Masalah...................................................................................... 2

1.3

Tujuan Penulisan........................................................................................ 2

Bab 2 Permasalahan............................................................................................... 3
2.1

Contoh Kasus tersangka bandar narkoba..............................................3

Bab 3 Analisis Masalah.......................................................................................... 6


3.1. Prosedur hukum yang harus di jalankan bandar narkoba....................6
3.2. Tata Cara Hukuman Mati di Indonesia......................................................7
Bab 4 Penutup....................................................................................................... 10
4.1. Kesimpulan................................................................................................. 10
4.2. Penutup....................................................................................................... 10
Daftar Pustaka...................................................................................................... 11

1 | Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit
sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru
sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang
tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
dengan judul Keadilan Terhadap Tersangka Bandar Narkoba.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari
sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan
sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca.
Bandung, 24 Februari 2015
Penyusun

1 | Kata Pengantar

Farhan Ahmad

2 | Kata Pengantar

Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Indonesia, adalah Negara Hukum yang berdasarkan Keadilan Sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia, itulah cita-cita dasar para founding
father bangsa ini. Negara yang tatanan masyarakatnya sadar hukum,
menjadikan hukum sebagai panglima yang mampu menjamah seluruh
rakyat Indonesia tanpa pandang ras, jabatan dan strata sosialnya.
Dalam negara hukum, kekuasaan negara dibatasi oleh Hak Asasi
Manusia sehingga aparatur negara tidak bisa bertindak sewenangwenang (detournement de pouvoir), menyalahgunakan kekuasaan (abus
de pouvoir), dan diskriminatif dalam penegakan hukum terhadap warga
negaranya. Penegakan hukum dinegara kita ditopang oleh 4 (empat)
penegak hukum, yang kita kenal sebagai catur wangsa, Kehakiman,
Kejaksaan, Kepolisian, dan Profesi Advokat. Penegak hukum ini kemudian
bertambah lagi sejak lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
sehingga sekarang tidak lagi catur wangsa, melainkan panca wangsa.
Dipundak merekalah kita topangkan tegak atau runtuhnya penegakan
hukum itu.
Selain menjadi tanggung jawab para penegak hukum itu, penegakan
hukum juga menjadi tanggung jawab pemerintah/negara itu sendiri,
dengan menyediakan instrumen hukum (peraturan perundangundangan) yang berkeadilan, berkepastian dan mampu
diimplementasikan dalam tatanan riil di masyarakat. Sebagaimana kita
ketahui bahwa di Negara kita ini masih terdapat ketidakadilan, di
Indonesia dalam menegakkan keadilan masih lemah.bentuk-bentuk
keadilan di Indonesia ini seperti orang yang kuat pasti hidup sedangkan
orang yang lemah pasti akan tertindas dan di Indonesia ini jelas bahwa
keadilan belum di laksanakan atau diterapkan dengan baik yang sesuai
dengan aturan-aturan hukum yang ada di Indonesia. Keadilan di
Indonesia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang
salah. Inilah bukti bahwa dinegara ini keadilan masih memihak kepada
yang kuat.
Seandainya di negara kita terjadi pemerataan keadilan maka kita yakin
tidak akan terjadi protes yang disertai kekerasan, kemiskinan yang
1 | Bab 3 Analisis Masalah

bekepanjangan, perampokan, kelaparan, gizi buruk dll. Mengapa hal


diatas terjadi karena konsep keadilan yang tidak diterapkan secara
benar, atau bisa kita dikatakan keadilan hanya milik orang kaya dan
penguasa. Seolah-olah orang kecil sangat dipermainkan oleh keadilan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa hukuman yang pantas bagi tersangka bandar narkoba?
2. Bagaimana prosedur hukum yang dijalankan oleh tersangka bandar
narkoba?
3. Bagaimana prosedur hukuman mati di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
pendidikan kewarganegaraan. Selain itu saya juga ingin menambah
wawasan serta memberikan informasi bagi masyarakat umum yang
membacanya. Diharapkan dengan membacanya, pembaca lebih tahu
tentang keadilan bagi tersangka bandar narkoba

2 | Bab 3 Analisis Masalah

Bab 2 Permasalahan
2.1

Contoh Kasus tersangka bandar narkoba


Pada Saat ini banyak pemberitaan mengenai penangkapan bandar
narkoba oleh polisi atau BNN (Badan Narkotika Nasional) karena
mencoba menyeludupkan obat terlarang ke Indonesia. Tetapi
bandar narkoba yang tertangkap tidak hanya dari Indonesia,
melainkan dari Negara lain, seperti Australia, Tiongkok (China),
Brasil, Vietnam dan sebagainya. Hukumannya pun beragam, mulai
dari hukuman penjara sampai hukuman mati.
Contohnya kasus hukuman Keenam terpidana mati itu terdiri dari
empat laki-laki dan dua perempuan.Dari enam orang itu hanya satu
orang yang warga negara Indonesia, selebihnya adalah warga
negara asing. Mereka adalah :
1. Namaona Denis (48) dari Malawi
2. Marco Archer Cardoso Mareira (53) asal Brasil
3. Daniel Enemua, warga negara Nigeria
4. Ang Kim Soei (62) tidak jelas kewarganegaraannya
5. Tran Thi Bich Hanh (37) warga negara Vietnam
6. Rani Andriani atau Melisa Aprilia, warga negara Indonesia
Pelaksanaan hukuman mati itu dilakukan di Nusa Kambangan,
Cilacap dan Boyolali, Jawa Tengah dan dilakukan pada 18 Januari
lalu secara serentak.
Eksekusi terhadap enam terpidana mati itu dilakukan setelah
permohonan grasi mereka ditolak oleh Presiden Joko Widodo pada
30 Desember 2014.

3 | Bab 3 Analisis Masalah

Kasus lainnya adalah eksekusi terhadap warga negara Australia


anggota sindikat narkoba "Bali Nine", Myuran Sukumaran, masih
menunggu grasi dari satu terpidana lainnya, Andrew Chan.
Bali Nine merupakan sebutan untuk sembilan warga negara
Australia yang berusaha menyelundupkan heroin 8,2 kilogram dari
Australia. Mereka ditangkap pada 17 April 2005 di Bali.
Kesembilan orang itu adalah Andrew Chan, Myuran Sukumaran, Si Yi
Chen, Michael Czugaj, Renae Lawrence, Tach Duc Thanh Nguyen,
Matthew Norman, Scott Rush dan Martin Stephens.
Pengadilan Negeri Denpasar memvonis Lawrence, Czugaj,
Stephens, dan Rush dengan hukuman penjara seumur hidup.
Adapun Sukumaran dan Chan dihukum mati.
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras)
mengkritik keputusan pemerintah terkait hukuman mati terhadap
bandar narkoba. Bahkan Divisi Advokasi Pembelaan Hak Sipil Politik
mengatakan, bahwa pemerintah telah melanggar hak asasi
manusia berupa hak hidup terhadap seseorang.
Namun, menghadapi rencana eksekusi mati terhadap 8 (delapan)
orang gembong narkoba yang diantaranya adalah duo Bali Nine,
dan seorang WNI serta eksekusi mati terhadap tiga orang dalam
kasus pembunuhan berencana menghadapi banyak rintangan,
terutama dari sikap memalukan Australia, Brasil, Prancis dan
Sekjen PBB Ban Ki Moon yang secara langsung telah
mengintervensi kedaulatan hukum di Indonesia.
Bahkan langkah Pemerintah Brasil yang menolak credential letters
(surat kepercayaan) Dubes RI untuk Brasil dapat dinilai melanggar
pasal 29 Konvensi Wina yang berbunyi negara mitra harus
memperlakukan dengan hormat duta-duta negara lain dan harus
menerima mereka secara bermartabat. Langkah Pemerintah Brazil
yang segera direspons Indonesia dengan menarik Dubes RI untuk
Brazil, Toto Riyanto juga dinilai sebagai langkah counter yang tegas
dan berani serta sangat nasionalis dari pemerintahan Jokowi-JK.

4 | Bab 3 Analisis Masalah

Pelaksanaan eksekusi mati khususnya terhadap sindikat narkoba


internasional berkewarganegaraan Australia yang dikenal dengan
duo Bali Nine, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan sedikit
membuat tegang hubungan Indonesia dengan Australia. Bahkan
secara memalukan Menteri Luar Negeri Australia Julia Bishop,
Perdana Menteri Australia, Tony Abbott dan 6 mantan perdana
menteri negara Kanguru tersebut dengan membabi buta dan
konyol membela Chan dan Sukumuran, padahal langkah mereka
sebenarnya dapat dinilai kurang memahami bagaimana politik luar
negeri yang diterapkan Indonesia dan tidak mempercayai
kedaulatan hukum di Indonesia.
Bahkan, Abbott secara absurd mempertanyakan atau menagih
bantuan kemanusiaan untuk Aceh saat tsunami, agar Chan dan
Sukumuran tidak dieksekusi mati. Jokowi-JK patut merespons
masalah ini dan segera mengembalikan uang Rp 10 triliun
tersebut, sebagai bukti tegas kita perang melawan narkoba.
Chan dan Myuran melakukan beragam manuver dan intimidasi
agar tidak jadi dieksekusi mati, misalnya dengan akan mengajukan
gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait keputusan
Presiden Jokowi menolak permohonan grasi, yang persidangannya
akan dimulai pada 24 Februari 2015. Hal ini karena tidak ada
peluang lagi untuk menyelamatkan Myuran dan Andrew, selain
mengajukan gugatan ke PTUN atas keputusan penolakan grasi
tersebut.
Pihak Chan dan Myuran menganggap Presiden tidak bisa menolak
permohonan grasi seseorang hanya berdasarkan atas situasi
darurat narkoba. Presiden seharusnya melihat kasus per kasus
sebelum memutuskan menolak permohonan grasi. Sebagai negara
yang berdasarkan atas hukum, Indonesia seharusnya menghargai
HAM, termasuk salah satunya hak hidup. Presiden seharusnya
mempertimbangkan hak hidup pemohon ketika memutuskan
permohonan grasi terpidana mati. Untuk itu, Kejaksaan Agung
tidak boleh melaksanakan proses eksekusi selama kasus ini nanti
berproses di PTUN.
Robert Myers, salah seorang pengacara yang membela kasus Bali
Nine, menyalahkan keterlibatan Kepolisian Federal Australia (AFP)

5 | Bab 3 Analisis Masalah

dalam kasus Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. Keduanya


merupakan terpidana mati yang kini terancam dieksekusi.
Pengacara dari Brisbane ini mengatakan, seharusnya AFP tidak
bekerja sama dengan pihak berwajib Indonesia, karena ancaman
hukuman atas kejahatan narkoba di Indonesia adalah hukuman
mati. Terbongkarnya upaya penyelundupan lebih dari 8 kg heroin
dari Bali ke Australia di tahun 2005 silam, berhasil dilakukan pihak
berwajib Indonesia karena informasi yang diterima dari pihak AFP.
Setelah pihak berwajib Indonesia mengeksekusi enam terpidana
mati kasus narkoba Ahad (18/1) lalu, kini kekhawatiran atas nasib
dua terpidana mati asal Australia itu semakin menguat. Pemerintah
Indonesia secara tegas menyatakan akan tetap melanjutkan
eksekusi terhadap semua terpidana mati kasus narkoba, sebanyak
64 kasus tahun ini.
Perwakilan AFP di Bali, Paul Hunniford, kemudian menulis laporan
tiga halaman kepada pihak berwajib di Indonesia yang isi surat itu
kurang lebih mengatakan bahwa langkah apapun yang akan
diIakukan pihak berwajib Indonesia, kami (pihak Australia) akan
terima.
Myers berargumen keterlibatan AFP ini seharusnya bisa menjadi
faktor meringankan yang akan menyelamatkan nyawa Chan dan
Sukumaran. Namun segala usaha yang dilakukan pemerintah
Australia sia-sia saja, karena tidak di tanggapi oleh pemerintah
indonesia
Dari sembilan anggota Bali Nine, hanya dua orang yang divonis
mati dan telah berkekuatan hukum tetap. Grasi Sukumaran pun
telah ditolak, namun eksekusinya masih harus menunggu
keputusan grasi Andrew Chan.

6 | Bab 3 Analisis Masalah

Bab 3 Analisis Masalah


3.1. Prosedur hukum yang harus di jalankan bandar
narkoba
Banyak pihak yang tidak setuju atas hukuman eksekusi mati, karena
melanggar hak asasi manusia. Namun, menurut Jaksa Agung HM
Prasetyo, hukuman mati masih diatur dalam hukum positif dan sudah
ditentukan, bagaimanapun harus dilaksanakan. Ia juga berharap sikap
tegas keras dan penerapan hukuman mati ini bagi para pelaku bandar
dan pengedar serta jaringan narkotika akan membuat mereka jera.
Tetapi, bagaimana proses hukum yang berlangsung sampai ditetapkan
hukuman mati?
Menurut sistem yang dianut oleh Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana maka tahapan-tahapan yang harus dilalui secara sistematis
dalam peradilan pidana adalah:
1. Tahap Penyidikan oleh kepolisian
2. Tahap Penuntutan oleh kejaksaan
3. Tahap pemeriksaan di pengadilan oleh Hakim
4. Tahap pelaksanaan Putusan (eksekusi) oleh kejaksaan dan lembaga
pemasyarakatan
Apabila salah satu pihak yang berperkara merasa bahwa putusan hakim
tidak (belum) memenuhi rasa keadilan, para pihak dapat mengajukan
keberatan atas putusan hakim pada tingkat pertama (I), untuk diperiksa
kembali oleh pengadilan (peradilan) di tingkat yang lebih tinggi. Upaya
hukum dalam keberatan ini ada dua yaitu:
1.
2.

Upaya hukum Biasa : Banding dan Kasasi


Upaya hukum Luar Biasa : Peninjauan kembali

Banding adalah upaya hukum dari pihak yang merasa tidak puas
dengan putusan Pengadilan tingkat pertama dan dapat diajukan dalam
tenggang waktu 14 hari sejak tanggal putusan itu diberitahukan kepada
para pihak dan diajukan kepada Pengadilan Tinggi (Pengadilan tingkat
banding) melalui Pengadilan tingkat pertama yang memutuskan perkara
tersebut.
6 | Bab 3 Analisis Masalah

Kasasi adalah upaya hukum dari pihak yang merasa tidak puas dengan
putusan Pengadilan tingkat banding yaitu pengadilan Tinggi dan dapat
diajukan dalam tenggang waktu 14 hari sejak tanggal putusan itu
diberitahukan kepada para pihak dan diajukan kepada Mahkamah Agung
melalui Pengadilan tingkat pertama yang memutuskan perkara tersebut.
Permohonan peninjauan kembali diajukan tidak hanya
atas
ketidakpuasan terhadap putusan kasasi, tetapi terhadap putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dalam arti
terhadap putusan pengadilan negeri yang tidak diajukan banding dapat
diajukan peninjauan kembali, terhadap putusan pengadilan tinggi yang
tidak diajukan kasasi dapat juga di mohonkan peninjauan kembali.
Biasanya, pada saat hari libur nasional, atau hari besar (seperti Hari
Kemerdekaan, Hari Idul Fitri, Hari Idul Adha, Hari Natal dan Tahun Baru
dan sebagainya) pemerintah memberikan grasi pada setiap narapidana
dengan tujuan meringankan hukuman (memperpendek masa
penahanan). Tetapi grasi tidak dapat langsung diberikan begitu saja,
karena harus menunggu persetujuan oleh Pemerintah dan tidak semua
narapidana mendapat grasi dari pemerintah.

3.2. Tata Cara Hukuman Mati di Indonesia


Apabila tersangka narkoba dituntut/di hukum mati oleh
pengadilan,proses pelaksanaan pidana mati secara lebih
spesifi k diatur dalam pasal 15 perkapolri 12/2010 sebagai
berikut:
1) Terpidana diberikan pakaian yang bersih, sederhana, dan
berwarna putih sebelum dibawa ke tempat atau lokasi
pelaksanaan pidana mati;
2) Pada saat dibawa ke tempat atau lokasi pelaksanaan
pidana mati, terpidana dapat didampingi oleh seorang
rohaniawan
3) Regu pendukung telah siap di tempat yang telah
ditentukan, 2 (dua) jam sebelum waktu pelaksanaan
pidana mati
4) Regu penembak telah siap di lokasi pelaksanaan pidana
mati, 1 (satu) jam sebelum pelaksanaan dan berkumpul di
daerah persiapan
5) Regu penembak mengatur posisi dan meletakkan 12 (dua
belas) pucuk senjata api laras panjang di depan posisi
tiang pelaksanaan pidana mati pada jarak 5 (lima) meter
7 | Bab 3 Analisis Masalah

sampai dengan 10 (sepuluh) meter dan kembali ke daerah


persiapan
6) Komandan pelaksana melaporkan kesiapan regunya
kepada jaksa eksekutor dengan ucapan lapor,
pelaksanaan pidana mati siap
7) Jaksa eksekutor mengadakan pemeriksaan terakhir
terhadap terpidana mati dan persenjataan yang digunakan
untuk pelaksanaan pidana mati
8) Setelah pemeriksaan selesai, jaksa eksekutor kembali ke
tempat semula dan memerintahkan kepada komandan
pelaksana dengan ucapan laksanakan kemudian
komandan pelaksana mengulangi dengan ucapan
laksanakan;
9) Komandan pelaksana memerintahkan komandan regu
penembak untuk mengisi amunisi dan mengunci senjata
ke dalam 12 (dua belas) pucuk senjata api laras panjang
dengan 3 (tiga) butir peluru tajam dan 9 (sembilan) butir
peluru hampa yang masing-masing senjata api berisi 1
(satu) butir peluru, disaksikan oleh jaksa eksekutor;
10) Jaksa eksekutor memerintahkan komandan regu 2
dengan anggota regunya untuk membawa terpidana ke
posisi penembakan dan melepaskan borgol lalu mengikat
kedua tangan dan kaki terpidana ke tiang penyangga
pelaksanaan pidana mati dengan posisi berdiri, duduk,
atau berlutut, kecuali ditentukan lain oleh jaksa;
11) Terpidana diberi kesempatan terakhir untuk
menenangkan diri paling lama 3 (tiga) menit dengan
didampingi seorang rohaniawan;
12) Komandan regu 2 menutup mata terpidana dengan kain
hitam, kecuali jika terpidana menolak;
13) Dokter memberi tanda berwarna hitam pada baju
terpidana tepat pada posisi jantung sebagai sasaran
penembakan, kemudian dokter dan regu 2 menjauhkan
diri dari terpidana;
14) Komandan regu 2 melaporkan kepada jaksa eksekutor
bahwa terpidana telah siap untuk dilaksanakan pidana
mati;
15) Jaksa eksekutor memberikan tanda/isyarat kepada
komandan pelaksana untuk segera dilaksanakan
penembakan terhadap terpidana;
16) Komandan pelaksana memberikan tanda/isyarat kepada
komandan regu penembak untuk membawa regu
penembak mengambil posisi dan mengambil senjata
dengan posisi depan senjata dan menghadap ke arah
terpidana;
8 | Bab 3 Analisis Masalah

17) Komandan pelaksana mengambil tempat di samping


kanan depan regu penembak dengan menghadap ke arah
serong kiri regu penembak; dan mengambil sikap
istirahat di tempat;
18) Pada saat komandan pelaksana mengambil sikap
sempurna, regu penembak mengambil sikap salvo ke
atas;
19) Komandan pelaksana menghunus pedang sebagai isyarat
bagi regu penembak untuk membidik sasaran ke arah
jantung terpidana;
20) Komandan pelaksana mengacungkan pedang ke depan
setinggi dagu sebagai isyarat kepada regu penembak
untuk membuka kunci senjata;
21) Komandan pelaksana menghentakkan pedang ke bawah
pada posisi hormat pedang sebagai isyarat kepada regu
penembak untuk melakukan penembakan secara
serentak;
22) Setelah penembakan selesai, komandan pelaksana
menyarungkan pedang sebagai isyarat kepada regu
penembak mengambil sikap depan senjata;
23) Komandan pelaksana, jaksa eksekutor, dan dokter
memeriksa kondisi terpidana dan apabila menurut dokter
bahwa terpidana masih menunjukkan tanda-tanda
kehidupan, jaksa eksekutor memerintahkan komandan
pelaksana melakukan penembakan pengakhir;
24) Komandan pelaksana memerintahkan komandan regu
penembak untuk melakukan penembakan pengakhir
dengan menempelkan ujung laras senjata genggam pada
pelipis terpidana tepat di atas telinga;
25) Penembakan pengakhir ini dapat diulangi, apabila
menurut keterangan dokter masih ada tanda-tanda
kehidupan;
26) Pelaksanaan pidana mati dinyatakan selesai, apabila
dokter sudah menyatakan bahwa tidak ada lagi tandatanda kehidupan pada terpidana;
27) Selesai pelaksanaan penembakan, komandan regu
penembak memerintahkan anggotanya untuk melepas
magasin dan mengosongkan senjatanya; dan
28) Komandan pelaksana melaporkan hasil penembakan
kepada jaksa eksekutor dengan ucapan pelaksanaan
pidana mati selesai.
Dalam hal pelaksanaan pidana mati ini dijatuhkan kepada
beberapa orang terpidana dalam satu putusan, pidana mati
dilaksanakan serempak pada waktu dan tempat yang sama
9 | Bab 3 Analisis Masalah

namun dilaksanakan oleh regu penembak yang berbeda ( pasal


16 perkapolri 12/2010).

10 | B a b 3 A n a l i s i s M a s a l a h

Bab 4 Penutup
4.1. Kesimpulan
Dari uraian sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Indonesia sebagai Negara hukum berhak menegakkan hukum yang
sudah ada dan harus tegas dalam penerapannya
2. Penerapan hukuman mati bagi tersangka bandar narkoba sangat
tepat, karena dapat membuat masyarakat menjauhi narkoba dan
berhenti mengedarkanny serta memberi efek jera bagi pelakunya.
3. Banyak proses hukum yang harus dilakukan oleh tersangka apabila
terjerat kasus penyeludupan narkoba, dan hukumannya pun tent
sangat berat

4.2. Penutup
Demikian yang dapat saya uraikan mengenai materi yang saya bahas,
tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang
ada hubungannya dengan judul makalah ini. Semoga makalah ini
berguna khususnya pembaca.

10 | B a b 3 A n a l i s i s M a s a l a h

Daftar Pustaka
http://www.republika.co.id/berita/internasional/abc-australianetwork/15/01/19/nieqj8-dua-anggota-bali-nine-terancam-eksekusi-matipengacara-salahkan-polisi
https://legalbanking.wordpress.com/ebook/langkah-langkah-menghadapiproses-hukum-acara/
http://news.detik.com/read/2015/02/23/115530/2839946/103/1/kapan-balinine-dieksekusi-jangan-takut-sama-australia
http://www.voaindonesia.com/content/hukuman-mati-terhadap-6-terpidananarkoba-dilaksanakan-minggu-ini/2600725.html
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/19/nie1uh-bnnhukuman-mati-bagi-bandar-narkoba-sesuai-undangundang
http://duanggakingdom.blogspot.com/2013/05/banding-kasasi-peninjauankembali.html

11 | B a b 3 A n a l i s i s M a s a l a h

12 | B a b 3 A n a l i s i s M a s a l a h