Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Penis

Gambar 1. Anatomi penis

Penis terdiri dari corpus penis, glans penis, sulcus coronal glans penis, dan
preputium. Preputium penis merupakan lipatan kulit seperti kerudung yang
menutupi glans penis. Normalnya, kulit preputium selalu melekat erat pada glans
penis dan tidak dapat ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring
bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi
proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis
bagian dalam preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans
penis.3-6

Bila dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2
batang korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah
disebut korpus spongiosa. Kedua korpus kara kavernosa ini diliputi oleh jaringan
ikat yang disebut tunica albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan
di luarnya ada jaringan yang kurang padat yang disebut fascia buck.1-7
Korpus kavernosa terdiri dari gelembung-gelembung yang disebut
sinusoid. Dinding dalam atau endothel sangat berperan untuk bereaksi kimiawi
untuk menghasilkan ereksi. Ini diperdarahi oleh arteriol yang disebut arteria
helicina. Seluruh sinusoid diliputi otot polos yang disebut trabekel. Selanjutnya
sinusoid

berhubungan

dengan

venula

(sistem

pembuluh

balik)

yang

mengumpulkan darah menjadi suatu pleksus vena lalu akhirnya mengalirkan


darah kembali melalui vena dorsalis profunda dan kembali ke tubuh.4,5
Penis dipersyarafi oleh 2 jenis syaraf yakni syaraf otonom (para simpatis
dan simpatis) dan syaraf somatik (motoris dan sensoris). Syaraf-syaraf simpatis
dan parasimpatis berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui medulla
spinalis (sumsum tulang belakang). Khusus syaraf otonom parasimpatis ke luar
dari medulla spinalis (sumsum tulang belakang) pada kolumna vertebralis di S2-4.
Sebaliknya syaraf simpatis ke luar dari kolumna vertebralis melalui segmen Th 11
sampai L2 dan akhirnya parasimpatis dan simpatis menyatu menjadi nervus
kavernosa. Syaraf ini memasuki penis pada pangkalnya dan mempersyarafi otototot polos Syaraf somatis terutama yang bersifat sensoris yakni yang membawa
impuls (rangsang) dari penis misalnya bila mendapatkan stimulasi yaitu rabaan
pada badan penis dan kepala penis (glans), membentuk nervus dorsalis penis yang
menyatu dengan syaraf-syaraf lain yang membentuk nervus pudendus. Syaraf ini
4

juga berlanjut ke kolumna vertebralis (sumsum tulang belakang) melalui kolumna


vertebralis S2-4. Stimulasi dari penis atau dari otak secara sendiri atau bersama
sama melalui syaraf-syaraf di atas akan menghasilkan ereksi penis.1-7
Vaskularisasi untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi
arteria penis communis yang bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni
ke korpus kavernosa kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteria kavernosa atau
arteria penis profundus yang ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus
spongiosum. Arteria memasuki korpus kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi
arteriol-arteriol helicina yang bentuknya berkelok-kelok pada saat penis lembek
atau tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol-arteriol helicina mengalami
relaksasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah bertambah besar
dan cepat kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga lakunar atau sinusoid.
Rongga sinusoid membesar sehingga terjadilah ereksi. Sebaliknya darah yang
mengalir dari sinusoid ke luar melalui satu pleksus yang terletak di bawah tunica
albugenia. Bila sinusoid dan trabekel tadi mengembang karena berkumpulnya
darah di seluruh korpus kavernosa, maka vena-vena di sekitarnya menjadi
tertekan. Vena-vena di bawah tunica albuginea ini bergabung membentuk vena
dorsalis profunda lalu ke luar dari Corpora Cavernosa pada rongga penis ke sistem
vena yang besar.1-7

2.2 Fimosis
2.2.1 Definisi Fimosis
Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat
di retraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Pada fimosis,
preputium melekat pada bagian glans dan mengakibatkan tersumbatnya lubang
saluran kencing, sehingga bayi dan anak menjadi kesulitan dan rasa kesakitan
pada saat buang air kecil. 1-5
2.2.2 Klasifikasi Fimosis2-4
a. Fimosis kongenital (fimosis fisiologis, fimosis palsu, pseudo phimosis)
timbul sejak lahir. Fimosis ini bukan disebabkan oleh kelainan anatomi
melainkan karena adanya faktor perlengketan antara kulit pada penis
bagian depan dengan glans penis sehingga muara pada ujung kulit
kemaluan seakan-akan terlihat sempit. Sebenarnya merupakan kondisi
normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja. Kulit preputium
selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat ditarik ke belakang
pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta diproduksinya
hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel
dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium
sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis.

b. Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true


phimosis) timbul kemudian setelah lahir. Fimosis Patologis didefinisikan
sebagai ketidakmampuan untuk menarik preputim setelah sebelumnya
yang dapat ditarik kembali. Fimosis ini disebabkan oleh sempitnya muara
di ujung kulit kemaluan secara anatomis. Hal ini berkaitan dengan
kebersihan (higiene) yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit
preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit
preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang akan
menyebabkan pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit
preputium yang membuka.
Rickwood mendefinisikan fimosis patologis adalah kulit distal penis
(preputium) yang kaku dan tidak bisa ditarik, yang disebabkan oleh
Balanitis Xerotica Obliterans (BXO).5

Fimosis Fisiologis

Fimosis Patologis

2.2.3 Patofisiologi
Fimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel
antara preputium bagian dalam dengan glans penis. Adhesi ini secara spontan
akan hilang pada saat ereksi dan retraksi preputium secara intermiten, jadi
seiring dengan bertambahnya usia (masa puber) phimosis fisiologis akan hilang.
Higienitas yang buruk pada daerah sekitar penis dan adanya balanitis atau
balanophostitis berulang yang mengarah terbentuknya scar pada orificium

preputium, dapat mengakibatkan fimosis patologis. Retraksi preputium secara


paksa juga dapat mengakibatkan luka kecil pada orificio preputium yang dapat
mengarah ke scar dan berlanjut phimosis. Pada orang dewasa yang belum
berkhitan memiliki resiko fimosis secara sekunder karena kehilangan elastisitas
kulit.3-7
Pada kasus fimosis lubang yang terdapat di prepusium sempit sehingga
tidak bisa ditarik mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa dilihat. Kadang
hanya tersisa lubang yang sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini,
akan terjadi fenomena balloning dimana preputium mengembang saat
berkemih karena desakan pancaran urine yang tidak diimbangi besarnya lubang
di ujung prepusium. Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih, seperti pada
balloning maka sisa-sisa urin mudah terjebak di dalam preputium. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya infeksi.3-6
Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK yang
akan mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran-kotoran pada glans penis
sehingga memungkinkan terjadinya infeksi pada daerah glans penis dan
prepusium (balanitis) yang meninggalkan jaringan parut sehingga prepusium
tidak dapat ditarik kebelakang.1-7
Pada

lapisan

dalam

prepusium

terdapat

kelenjar

sebacea

yang

memproduksi smegma. Cairan ini berguna untuk melumasi permukaan


prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan prepusium dan glans penis
yang membentuk semacam lembah di bawah korona glans penis (bagian
kepala penis yang berdiameter paling lebar). Di tempat ini terkumpul keringat,
debris/kotoran, sel mati dan bakteri. Bila tidak terjadi fimosis, kotoran ini
9

mudah dibersihkan. Namun pada kondisi fimosis, pembersihan tersebut sulit


dilakukan karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke belakang. Bila yang
terjadi adalah perlekatan prepusium dengan glans penis, debris dan sel mati
yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan.4
Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini
terjadi peradangan pada permukaan preputium dan glans penis. Terjadi
pembengkakan kemerahan dan produksi pus di antara glans penis dan
prepusium. 5,6
2.2.4

Manisfestasi Klinis1-7
1. Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin (balloning )
2. Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat
mulai buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal
tersebut disebabkan oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan
dalam ruangan yang dibatasi oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar
melalui muaranya yang sempit.
3. Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul
rasa sakit.
4. Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan

5. Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang


memancar dengan arah yang tidakdapat diduga
6. Bisa juga disertai demam
7. Iritasi pada penis.
10

2.2.5

fisik.

Diagnosis1-7
Untuk menegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan
Pada

anamnesis

didapatkan

keluhan

berupa

ujung

kemaluan

menggembung saat mulai buang air kecil yang kemudian menghilang setelah
berkemih dan Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena
timbul rasa sakit.
Pada pemeriksaan fisik kasus fimosis, dapat ditemukan kulit yang tidak
dapat diretraksi melewati gland penis. Pada fimosis fisiologis, bagian preputial
orifice tidak ada luka dan terlihat sehat, sedangkan pada fimosis patologis
terdapat jaringan fibrus berwana putih yang melingkar.5,6
2.2.6 Penatalaksanaan 4-6
Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0,050,1%) dua kali sehari selama 20-30 hari. Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi
dan anak-anak yang masih memakai popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk
usia sekitar tiga tahun.
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada
penderita fimosis, karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada
ujung prepusium sebagai fimosis sekunder. Indikasi medis utama dilakukannya
tindakan sirkumsisi pada anak-anak adalah fimosis patologik. Pada kasus dengan
komplikasi, seperti infeksi saluran kemih berulang atau balloning kulit
prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera dilakukan tanpa memperhitungkan
usia pasien.
Prosedur Teknik Dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara
memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang

11

penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan


kekanan sejajar sulcus coronarius.
1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar.
Bila perlu tambahkan juga pada daerah preputium yang akan dipotong dan
daerah ventral
4. Tunggu 3 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan
mencubitkan pinset
5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang
preputium, lepaskan perlengketannya dengan glans memakai sonde atau
klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal
dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang pada garis tengah ventral.
(Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)

12

7. Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kirakira sampai 1 sentimeter dari sulkus koronarius (dorsumsisi),buat tali
kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit
dengan kocher

8. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan
12). Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju
frenulum di distal penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing
(huruf V), buat tali kendali )
9. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang
disiapkan.
10. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak
ada di frenulum) siap untuk dijahit.Penjahitan dimulai dari dorsal (jam 12),
dengan patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian
ventral (jam 6). Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan,
selanjutnya jahitan dibuat melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya

13

11. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang

uretra harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.


Komplikasi5
Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih
Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian

terkena infeksi sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.


Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis.

2.2.7

2.2.8

Infeksi saluran kemih


Diagnosis Banding1-7
Parafimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium penis yang diretraksi

sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan

14

menimbulkan jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius. Warna gland


penis akan semakin berwarna pucat dan bengkak. Seiring perjalanan waktu
keadaan ini akan mengakibatkan nekrosis sel di gland penis, warnanya akan
menjadi biru atau hitam dan gland penis akan terasa keras saat di palpasi.4,5,6

2.2.9

Gambar Parafimosis
Prognosis
Prognosis dari fimosis akan semakin baik bila cepat didiagnosis dan

ditangani.
2.3 Parafimosis
2.3.1 Definisi
Parafimosis merupakan suatu kondisi dimana prepusium penis yang di
retraksi sampai di sulkus koronarium tidak dapat dikembalikan pada keadaan
semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius.4
2.3.2 Etiologi
Parafimosis dapat disebabkan oleh tindakan menarik prepusium ke
proksimal yang biasanya di lakukan pada saat bersenggama atau masturbasi atau
sehabis pemasangan kateter tetapi preputium tidak dikembalikan ketempat
semula secepatnya.4,1
2.3.3 Epidemiologi

15

Parafimosis yang di diagnosis secara klinis ini, dapat terjadi pada penis
yang belum disunat (disirkumsisi) atau telah disirkumsisi namun hasil
sirkumsisinya kurang baik. Fimosis dan parafimosis dapat terjadi pada laki-laki
semua usia, namun kejadiannya tersering pada masa bayi dan remaja.4
2.3.4 Patofisiologi
Parafimosis atau pembengkakan yang sangat nyeri pada prepusium bagian
distal dari phimotic ring, terjadi bila prepusium tetap retraksi untuk waktu lama.
Hal ini menyebabkan terjadinya obstruksi vena dan bendungan pada glans penis
yang sangat nyeri. Pembengkakan dapat membuat penurunan prepusium yang
meliputi glans penis menjadi sulit.8
Seiring waktu, gangguan aliran vena dan limfatik ke penis menjadi
terbendung

dan

semakin

membengkak.

Dengan

berjalannya

proses

pembengkakan, suplai darah menjadi berkurang dan dapat menyebabkan


terjadinya infark/nekrosis penis, gangren, bahkan autoamputasi.6
2.3.5 Anamnesis
Paraphimosis secara sederhana tampak sebagai glans penis yang
membengkak dan sangat nyeri pada pasien yang tidak menjalani sirkumsisi atau
sirkumsisi parsial. Pada bayi kemungkinan hanya tampak rewel. Adakalanya,
paraphimosis ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan oleh perawat dari
pasien.9
Paraphimosis dapat ditemukan pada populasi berikut, sehingga perlu digali
melalui anamnesa.8,6
a. Anak kecil yang prepusiumnya diturunkan secara paksa atau lupa
dikembalikan ke posisi semula saat buang air atau mandi
16

b. Remaja atau pria dewasa yang mengalami paraphimosis saat melakukan


aktifitas seksual yang penuh semangat
c. Pria dengan balanoposthitis kronis
d. Pasien yang terpasang kateter dan orang yang merawatnya lupa untuk
mengembalikan prepusium ke posisi semula setelah pemasangan kateter
atau saat dibersihkan
2.3.6 Pemeriksaan Fisik
Parafimosis disebabkan oleh inflamasi kronis yang terjadi di bawah kulit
preputium yang menyebabkan kontraktur dari pembukaan preputium (fimosis)
dan pembentukan jeratan kulit ketika preputium diretraksi ke belakang glans.
Jeratan ini akan menyebabkan kongesti vena, menyebabkan pada pemeriksaan
fisik didapatkan edema dan pembesaran glas yang menyebabkan semakin
memburuknya keadaan. Pada proses perjalanan penyakit juga dapat ditemukan
oklusi arteri dan nekrosis dari glans.4

Gambar 4. Gambaran Klinis Parafimosis

17

2.3.7

Penatalaksanaan
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik

memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara
perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak
berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat
dikembalikan pada tempatnya. Walaupun demikian, setelah parafimosis diatasi
secara darurat, dimana edema dan proses inflamasi menghilang, pasien dianjurkan
untuk menjalani sirkumsisi. Tindakan sirkumsisi dapat dilakukan secara
berencana dengan pemberian anestesi serta antibiotika oleh karena kondisi
parafimosis tersebut dapat berulang atau kambuh kembali.1,3,4

Gambar 5. Manual Reduction pada Parafimosis

18

2.3.8

Komplikasi
Parafimosis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena retraksi

prepusium yang terlalu sempit di belakang glans penis ke sulkus glandularis


dapat mengganggu perfusi permukaan prepusium distal dari cincin konstriksi
dan juga pada glans penis dengan risiko terjadinya nekrosis.2
Jika parafimosis tidak segera diterapi, hal ini dapat mengganggu aliran
darah ke ujung distal dari penis (penis tip). Pada kasus yang ekstrim, hal ini
mungkin dapat menyebabkan kerusakan atau cedera ujung penis, gangren
maupun hilangnya ujung penis (penis tip).9
2.3.9
Prognosis
Prognosis dan outcome dari parafimosis akan semakin baik manakala
kondisi penyakit ini semakin dini dan cepat pula didiagnosis dan ditangani.7

19

Anda mungkin juga menyukai