Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MOBILISASI ROM PADA LUKA BAKAR

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT (PKRS)


IRNA II DR. SAIFUL ANWAR
MALANG
2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN


MOBILISASI ROM PADA LUKA BAKAR
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik
Departemen Medikal di Ruang 16 RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Gadis Mutiara Puspita Ika
Kartika Wihdatus Syafaah

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
RUANG 16 RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG

Telah diperiksa dan disetujui:


Hari

: ..

Tanggal

: ..

Oleh:
Gadis Mutiara Puspita Ika
Kartika Wihdatus Syafaah

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

____________________

______________________

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Pokok Bahasan

: Mobilisasi ROM pada luka bakar

Sasaran

: Pasien dan keluarga pasien

Tempat

: Ruang 16 IRNA II

Hari/Tanggal

: Rabu, 29 April 2015

Waktu

: 30 menit

Penyuluh

: Tim PKRS IRNA II RSUD dr. Saiful Anwar Malang

A. Latar Belakang
Kelangsungan

hidup

pasien

merupakan

satu-satunya

alat

ukur

keberhasilan dari penanganan pasien luka bakar. Akhir-akhir ini inti obyektif
perawatan terhadap semua spek pasien luka bakar berintegrasi pada
kehidupan rumah tangga dan bermasyarakat pasien. Inti obyektif ini telah
menjadi dasar penanganan luka bakar setelah penutupan luka bakar akut.
Rehabilitasi medik memiliki peranan yang penting sekali untuk mendapatkan
fungsi organ tubuh yang optimal. Banyak pasien menjadi waspada pada
penampilannya selama tahap rehabilitasi dan mungkin membutuhkan
konsultasi psikiatrik atau pengobatan anti depresan. Setelah sembuh dari
luka, masalah berikutnya adalah akibat jaringan parut yang dapat
berkembang menjadi cacat berat.
Perhatian harus diberikan pada ekstremitas yang menggunakan bidai
agar tetap pada posisi yang tepat dan memaksimalkan area pergerakan
(Range Of Movement). Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
menyebabkan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat yang berat terutama
bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan program
fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah.
Pada cacat yang berat mungkin diperlukan ahli jiwa untuk mengembalikan
rasa percaya diri penderita dan diperlukan pertolongan ahli bedah
rekonstruksi terutama jika cacat mengenai wajah dan tangan.
Latihan Terapi (Therapeutic Exercise) sebaiknya dimulai pada hari
terjadinya trauma bakar dan seharusnya dilanjutkan sampai semua luka
menutup dan hingga melewati masa aktif pembentukan skar. Fibroblast, yang
merupakan unsur terpenting dalam pembentukan kontraktur, berperan pada

luka bakar dalam 24 jam pertama dan aktif hingga 2 tahun setelah terjadinya
trauma bakar. Latihan rutin setiap harinya dapat mencegah berkurangnya
kelenturan dan berkurangnya ROM sendi yang dapat ditimbulkan oleh
kontraktur.
B. Tujuan intruksional
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 1x30 menit, klien dapat mengerti
dan memahami serta dapat melakukan latihan gerak aktif-pasif dengan
benar untuk mengurangi edema dan mempertahankan kekuatan sendi
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 1x30 menit klien dapat:
- Menyebutkan kembali pengertian latihan gerak aktif- pasif
- Menjelaskan kembali tujuan latihan gerak aktif- pasif
- Mendemonstrasikan kembali langkah-langkah latihan gerak aktif- pasif
C. Sub pokok bahasan
(terlampir)
D. Sasaran
Sasaran penyuluhuan adalah pasien dan keluarga pasien
E. Metode
Metode yang digunakan saat penyuluhan adalah ceramah, diskusi, dan
demonstrasi
F. Media
Media yang digunakan saat penyuluhan adalah leaflet

G. Kegiatan Penyuluhan
Waktu
5 menit

15 menit

Tahap
kegiatan
Pembukaan

Kegiatan inti

K e g i a t an
Penyuluh
1. Membuka
acara

dengan 1.

mengucapkan

kepada

salam

Sasaran
Menjawab salam

sasaran
2.
Mendengarkan
2.
Menyampaikan topik dan
penyuluh menyampaikan
tujuan penkes kepada sasaran
topik dan tujuan.
3.
Menyetujui
3.
Kontrak
waktu
untuk
kesepakatan waktu
kesepakatan pelaksanaan penkes
pelaksanaan penkes
dengan sasaran
1.
Mengkaji
ulang 1.
Menyampaikan
pengetahuan

sasaran

tentang pengetahuannya

materi penyuluhan.
2.
Menjelaskan
penyuluhan
dengan

materi penyuluhan
materi 2.
Mendengarkan

kepada

sasaran penyuluh

menggunakan

gerak

3.
latihan

aktif-pasif.
4.

Memberikan

kepada

kesempatan

sasaran

untuk

menanyakan hal-hal yang belum


di

mengerti dari

menyampaikan

lembar materi

balik dan leaflet


3.
Mendemonstrasikan
langkah-langkah

tentang

meteri

Mengikuti

dan

memperhatikan

langkah-

langkah gerak akti-pasif


4.
menanyakan hal-hal
yang tidak dimengerti dari
materi penyuluhan

yang

dijelaskan penyuluh.
10 menit

Evaluasi/

1.

penutup

kepada sasaran tentang materi pertanyaan yang diajukan


yang

Memberikan
sudah

pertanyaan 1.

disampaikan penyuluh

penyuluh
2.
Menyimpulkan
penyuluhan

Menjawab

materi

yang

telah

2.

Mendengarkan

penyampaian kesimpulan
3.
Mendengarkan

disampaikan kepada sasaran


penyuluh menutup acara
3.
Menutup
acara
dan
dan menjawab salam
mengucapkan salam serta terima
kasih kepada sasaran.
H. Evaluasi
- Apakah pengertian dari latihan gerak aktif-pasif?

Apakah tujuan dari latihan gerak aktif-pasif?


Demonstrasikan kembali langkah-langkah latihan gerak aktif-pasif!

Lampiran
Materi Penyuluhan
LATIHAN MOBILISASI ROM AKTIF-PASIF

1. Pengertian
Latihan gerak aktif-pasif adalah melatih atau menggerakan anggota gerak tangan dan
kaki agar tidak terjadi kekakuan otot.
Pergerakan (ROM), meliputi:
a. Aktif
Yaitu pada tulang dan sendi yang dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan perawat
atau keluarga
b. Pasif
Yaitu latihan yang diberikan pada klien yang mengalami kelemahan otot lengan
maupun otot kaki berupa latihan pada tulang dan sendi dimana klien tidak dapat
melakukannya sendiri, sehingga klien memerlukan bantuan perawat atau keluarga.
Mobilisasi pasif ini sebaiknya dilakukan sejak hari pertama klien tidak diperkenankan
meninggalkan tempat tidur atau klien jarang bergerak sehingga terjadi kekakuan otot
2. Tujuan
Tujuan dari latihan gerak aktif pasif ini adalah untuk mencegah terjadinya kekakuan
pada otot akibat tirah baring yang lama sehingga menimbulkan kerusakan pada kulit.
3. Latihan terapi yang dapat dilakukan pada pasien luka bakar
a. Stretching (peregangan)
Latihan peregangan dilakukan untuk mencegah kontraktur atau penarikan anggota
gerak. Latihan peregangan ini biasa sangat efektif jika dilakukan secara perlahanlahan sampai skar memutih atau memucat. Jika luka bakar mengenai lebih dari satu
persendian, skar akan terihat lebih memanjang apabila latihan ini berjalan baik.
b. Strengthening (penguatan)
Latihan penguatan dilakukan untuk mencegah kelemahan pada alat gerak akibat
immobilisasi yang lama. Latihan ini diakukan dengan memberikan latihan gerakan
aktif secara rutin kepada pasien untuk melatih otot-otot ekstremitas, misalnya jalan
biasa, jalan cepat, sit up ringan dan mengangkat beban. Jika pasien kurang

melakukan latihan ini maka akan menyebabkan otot-otot pada sendi bahu dan
proksimal paha akan melemah. Latihan ini sebaiknya dilakukan segera mungkin
pada masa penyembuhan luka bakar untuk mengurangi rasa sakit dan tidak
nyaman pada pasien.
c. Endurance (ketahanan)
Latihan ketahanan dilakukan untuk mencegah terjadinya atrofi dan penurunan daya
tahan pada otot akibat dari perawatan yang lama di RS. Latihan ketahanan
dilakukan dengan latihan bersepeda, sit up dan latihan naik turun tangga. Selain
mencegah terjadinya atrofi, latihan ini juga dapat melancarkan sistem sirkulasi.
d. Latihan Gerak Kordinasi
- Latihan kerja dalam kehidupan sehari-hari
Dilakukan dengan melatih kemampuan mandiri pasien luka bakar seperti
mandi, makan, minum, dan bangun tidur. Semua harus dilatih sesegera
mungkin karena ahli terapi dan pasien luka bakar tidak dapat selalu bersama 24
jam sehari untuk melakukan terapi. Aktivitas harian sangat membantu untuk
-

mencegah kontraktur jika pasien dapat menerapkannya di rumah.


Latihan Peningkatan Keterampilan
Latihan Peningkatan Keterampilan dilakukan untuk mencegah terjadinya atrofi
pada otot-otot kecil pada tangan. Latihan ini dilakukan dengan melatih
kemampuan menulis, menggambar, dan mengetik. Latihan ini biasa juga
dilakukan dengan menggunakan terapi bola. Pasien dilatih untuk megenggam
secara berulang-ulang sebuah bola yang terbuat dari spon/gabus dengan
kedua tangannya

4. Langkah-langkah latihan gerak aktif-pasif


Pertama-tama tubuh berbaring senyaman mungkin
Sokong dengan bantal pada daerah yang tertekan, misalnya punggung, siku,

pergelangan kaki
Lakukan gerakan pada anggota gerak atas terlebih dahulu atau tangan dilakukan
dengan prinsip dari dalam keluar
Lanjutkan dengan anggota gerak bawah atau kaki
Setiap gerakan dilakukan 3X.
Gerakan-gerakan latihan gerak aktif-pasif sebagai berikut:
Abduksi
: Gerakan menjauh garis tubuh
Aduksi
: Gerakan mendekati garis tubuh
Fleksi
: Membengkokan sendi sehingga sudut dari sendi tidak ada
lagi.
Ekstensi
Rotasi

: Gerakan kembali dari posisi fleksi


: Gerakan membalik atau mengerakkan suatu bagian tubuh

pada porosnya.
Dorsifleksi
: gerakan yang memfleksikan/ membengkokkan lengan kearah
belakang kearah tubuh/ kaki ke arah tungkai.

Fleksi palmar : Gerakan yang memfleksikan/membengkokkan lengan dalam


kearah telapak tangan.
Fleksi plantar : Gerakan yang memfleksikan/membengkokkan kaki dalam ke

arah telapak kaki


Pronasi
: Rotasi lengan atas sehingga telapak tangan kebawah.
Supinasi
: Rotasi lengan atas sehingga telapak tangan keatas.
Oposisi
: Mempertemukan ujung jari pada lengan yang sama.
Inversi
: Gerakan memutar telapak kaki ke arah dalam
Eversi
: Gerakan memutar telapak kaki ke arah luar

a. Pergerakan bahu
Pegang pergerakan tangan dan siku penderita, lalu angkat selebar bahu, putar

ke luar dan ke dalam


Angkat tangan gerakan ke atas kepala dengan di bengkokan, lalu kembali ke

posisi awal
Gerakkan tangan dengan mendekatkan lengan kearah badan, hingga

menjangkau tangan yang lain


b. Pergerakan siku
Buat sudut 900 pada siku lalu gerakan lengan keatas dan kebawah dengan
membuat gerakan setengah lingkaran
Gerakan lengan dengan menekuk siku sampai ke dekat dagu
c. Pergerakan tangan
Pegang tangan pasien sambil bersalaman, lalu putar pergelangan tangan
Gerakan tangan sambil menekuk tangan ke bawah
Gerakan tangan sambil menekuk tangan ke atas
d. Pergerakan jari tangan
Putar jari tangan satu persatu
Pada ibu jari lakukan pergerakan menjauh dan mendekat dari jari telunjuk, lalu
dekatkan pada jari-jari yang lain
e. Pergerakan kaku
Pegang pergelangan kaki dan bawah lutut kaki lalu ankat sampai 30 0 lalu

f.

putar
Gerakan lutut dengan menekuknya sampai 900
Angkat kaki lalu dekatkan ke kaki yang satu kemudian gerakan menjauhi
Putar kaki ke dalam dan ke luar
Lakukan penekanan pada telapak kaku ke luar dan ke dalam
Jari kaki di tekuk tekuk lalu di putar
Pergerakan leher
Pegang pipi pasien lalu gerakan ke kiri dan ke kanan
Gerakan leher menekuk ke depan dan ke belakang

5. Hal hal yang harus diperhatikan dalam pergerakan (ROM Aktif/Pasif)


Perhatikan keadaan umum penderita, apakah merasa kelelahan, pusing, atau
kecapekan

Pastikan cincin dan perhiasan dilepas untuk menghindari terjadinya pembengkakan

dan luka
Pastikan pakaian dalam keadaan longgar
Jangan lakukan pada penderita patah tulang
Jangan lakukan latihan fisik segera setelah penderita makan
Gunakan gerakan badan yang benar untuk menghindari ketegangan atau luka pada

penderita
Gunakan kekuatan dengan pegangan yang nyaman ketika melakukan latihan
Gerakkan bagian tubuh dengan lancer, pelan, dan berirama
Hindari gerakan yang terlalu sulit
Jika kejang saat latihan, hentikan
Jika terjadi kekakuan tekan pada daerah yang kaku, teruskan latihan dengan
perlahan