Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG MASALAH


Kegiatan pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada

fungsi-fungsi manajemen. Untuk dapat dipahami sebagai pengalaman


untuk mempersiapkan peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan,
baik yang diperoleh dari dalam maupun luar lembaga pendidikan, maka
kurikulum hendaknya melalui fungsi perencanaan yang matang serta
sistematis dan terpadu, pengorganisasian yang baik, diimplementasikan
di lapangan, dan diawasi pelaksanaannya.
Kurikulum adalah semua pengalaman yang telah direncanakan
untuk mempersiapkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan baik
yang diperoleh dari dalam maupun luar lembaga yang telah direncanakan
secara sistematis dan terpadu. Manajemen dalam perencanaan kurikulum
dapat diartikan sebagai keahlian atau kemampuan merencanakan dan
mengorganisasi kurikulum. Pokok kegiatan utama studi manajemen
kurikulum meliputi bidang perencanaan dan pengembangan kurikulum,
pelaksanaan dan perbaikan kurikulum. Manajemen perencanaan dan
pengembangan kurikulum berdasarakn asumsi bahwa telah tersedia
informasi dan data tentang masalah-masalah dan kebutuhan yang
mendasari disusunnya perencanaa secara tepat.
Untuk mengembangkan suatu rencana seseorang harus mengacu
kemasa

depan.

Perencanaan

ini

memberikan

pengaruh

dalam

menentukan pengeluaran biaya atau keuntungan, menetapkan perangkat


tujuan atau hasil akhir, mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan
akhir,

menyusun

menetapkan

atau

prosedur

menetapkan
kerja

prioritas

dengan

metode

dan

urutan

yang

strategi,

baru,

serta

mengembangkan kebijakan-kebijakan.
Perencanaan secara umum menurut Sudjana (2000), adalah
proses yang sistematis sesuai dengan prinsip dalam pengambilan
keputusan, penggunaan pengetahuan dan teknik secara ilmiah serta
1

kegiatan yang terorganisasi tentang tindakan yang akan dilakukan pada


waktu yang akan datang. Waterson dalam Sudjana (2000) menuliskan
bahwa perencanaan pada hakekatnya adalah usaha sadar, terorganisasi,
dan terus menerus yang dilakukan untuk memilih alternatif yang terbaik
dari sejumlah alternatif tindakan yang ada untuk mencapai tujuan
tertentu. Menurut Oemar Hamalik (2006), perencanaan kurikulum adalah
kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina peserta didik ke
arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai hingga terjadi
perubahan-perubahan pada peserta didik.
1.2.

TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mengerti


tentang perencanaan kurikulum dimulai dalam pengertian, asas-asas yang
digunakan dan langkah-langkah dalam perencanaan kurikulum.
1.3.

RUMUSAN MASALAH

a. Pengertian Perencanaan dan pengembangan Kurikulum


b. Karakteristik Perencanaan Kurikulum
Fungsi Kurikulum
Model Perencanaan Kurikulum
Disain Kurikulum
Prinsip Perencanaan Kurikulum
Sifat Perencanaan Kurikulum
c. Asas-Asas Perencanaan Kurikulum
d. Perencanaan Kurikulum dengan Pendekatan Sistem

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian perencanaan dan pengembangan kurikulum

Perencanaan kurikulum (curriculum improvement, curriculum building)


adalah kegiatan yang mengacu pada usaha untuk melaksanakan dan
menyempurnakan kurikulum yang telah ada, guna memperolehhasil yang
lebih maksimal.
Pengembangan kurikulum (curriculum development,

curriculum

planning atau curriculum design) sebagai tahap lanjutan dari pembinaan,


yakni kegiatan yang mengacu untuk menghasilkan suatu kurikulum baru.
Dalam kegiatan tersebut meliputi penyusunan-penyusunan, pelaksanaan,
penilaian

dan

penyempurnaan.

Melalui

tahap-tahap

tersebut

akan

dihasilkan kurikulum dan dengan terbentuknya kurikulum baru itu, maka


tugas pengembangan telah selesai, kemudian tugas berikutnya beralih
pada kegiatan pembinaan kurikulum.
Pengembangan

kurikulum

adalah

perencanaan

kesempatan-

kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah


perubahan-perubahan yang di inginkan dan menilai hingga mana
perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.

2.2.

Karakteristik perencanaan kurikulum

A. Perencanaan kurikulum memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Sebagai pedoman yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber


peserta, tindakan yang perlu dilakukan, biaya, sarana, serta sistem kontrol
atau evaluasi.
2. Sebagai penggerak roda organisasi dan tata
menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai
organisasi;

laksana untuk
dengan tujuan

3. Sebagai motivasi untuk melaksanakan sistem pendidikan.

B. Model Perencanaan Kurikulum


Ada 4 (empat) model perencanaan kurikulum berdasar asumsi
rasionalitas, yaitu: asumsi tentang pemrosesan informasi secara cermat
yang berkaitan dengan mata pelajaran, peserta didik, lingkungan dan
hasil belajar. Berikut ini model-model perencanaan kurikulum:
1.

Model Perencanaan rasional deduktif atau rasional Tyler

Model ini menitik-beratkan logika dalam merancang program


kurikulum dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (goals dan objectives).
Model ini dapat diterapkan pada semua tingkat pembuat keputusan, dan
tepat untuk sistem pendidikan sentralistik.
2.

Model Interaktif rasional atau The Rational - Interactive Model

Model ini menitik-beratkan pada perencanaan dengan


(planning with) daripada Perencanaan bagi (planning for). Perencanaan
kurikulum ini bersifat situasional atau fleksibel serta tepat bagi lembaga
pendidikan yang akan mengembangkan kurikulum berbasis sekolah.
Model perencanaan kurikulum ini didasarkan pada kebutuhan yang
berkembang di masyarakat.
3.

The Diciplines Model

Model ini menitik-beratkan pada guru sebagai pihak yang


merencanakan kurikulum bagi siswa. Model ini dikembangkan sesuai
dengan pertimbangan sistematik tentang relevansi antara pengetahuan
filosofis, sosiologis, dan psikologis.
4

4.

Model tanpa Perencanaan atau non planning model

Model ini dikembangkan berdasarkan pertimbangan inisiatif guru di


dalam ruangan kelas, sebagai pengambil keputusan dalam menentukan
strategi pembelajaran, pemilihan media belajar dan sebagainya.
C. Desain Kurikulum
1. Definisi
Curriculum Design berarti pola (pattern), kerangka (framework)
atau organisasi struktural (structural organization) yang dipakai dalam
menyeleksi, merencanakan, dan memajukan pengalaman-pengalaman
pendidikan (Saylor and Alexander dalam Soetopo dan Soemanto, 1993).
Curriculum design sangat menentukan hasil-hasil pendidikan yang hendak
dicapai.
2. Nilai Penting
Menunjukkan elemen-elemen yang harus diperhatikan dalam
perencanaan kurikulum dan hubungan (interrelationship) elemen-elemen
tersebut di dalam proses pengembangan kurikulum.
Merupakan suatu metode untuk menentukan seleksi organisasi
pengalaman-pengalaman belajar yang diselenggarakan di sekolah.
Menentukan peranan guru, siswa, dan orang-orang lain yang terlibat
dalam perencanaan kurikulum.
D. Prinsip Perencanaan Kurikulum
Ada delapan prinsip yang harus diperhatikan dalam kegiatan
manajemen perencanaan kurikulum, yaitu:
1. Perencanaan yang dibuat harus memberikan kemudahan dan mampu
memicu pemilihan dan pengembangan pengalaman belajar yang
potensial sesuai dengan hasil (tujuan) yang diharapkan sekolah.
2. Perencanaan hendaknya dikembangkan oleh guru sebagai pihak yang
langsung bekerja sama dengan siswa.
3. Perencanaan harus memungkinkan para guru menggunakan prinsipprinsip belajar dalam memilih dan memajukan kegiatan-kegiatan belajar
di sekolah.

4. Perencanaan harus memungkinkan para guru menyesuaikan


pengalaman-pengalaman dengan kebutuhan-kebutuhan pengembangan,
kesanggupan, dan taraf kematangan siswa (level of pupils).
5. Perencanaan
harus
menggiatkan
para
guru
untuk
mempertimbangkan pengalaman belajar sehingga anak-anak dilibatkan
dalam kegiatan-kegiatan di dalam dan di luar sekolah.
6. Perencanaan harus merupakan penyelenggaraan suatu pengalaman
belajar yang kontinu sehingga kegiatan-kegiatan belajar siswa dari sejak
awal sungguh mampu memberikan pengalaman.
7. Kurikulum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu
membantu pembentukan karakter, kepribadian, dan perlengkapan
pengetahuan dasar siswa yang bernilai demokratis dan yang sesuai
dengan karakter kebudayaan bangsa Indonesia.
8. Perencanaan harus realistis, feasible
acceptable (dapat diterima dengan baik).

(dapat

dikerjakan),

dan

E. Sifat Perencanaan Kurikulum


Suatu perencanaan
sebagai berikut:

kurikulum

hendaknya

memiliki

sifat-sifat

1. Bersifat strategis . Karena merupakan instrumen yang sangat penting


untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. Bersifat komprehensif. Bersifat konprenhensif yang mencakup
keeluruhan aspek-aspek kehidupan dan penghiduan masyarakat
3. Bersifat integrative. Yang menintregasikan rencana
mencakup pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas

yang

luas,

4. Bersifat realistic. Berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan


masyarakat

5. Bersifat
humanistic.
Menitik
beratkan
pada
sumberdaya manusia, baik kuantitatif maupun kualitatif

pengembangan

6. Bersifat Futuralistik. Mengacu jauh kedepan dalam merencanakan


masyarakat yang maju
7. Bagian Integral yang mendukung manajemen pendidikan secara
sistemik
8. Mengacu pada Pengembangan Kompetensi
9. Berdiversifikasi sesuai peserta didik
10.Bersifat Desentralistik

2.3. Asas-asas Perencanaan Kurikulum


Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan azas-azas sebagai berikut:
1.

Objektivitas

Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik


berdasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai
dengan kebutuhan.
2.

Keterpaduan

Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua


disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal,
serta keterpaduan dalam proses penyampaian.
3.

Manfaat

Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan


dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan
dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam
penyelenggaraan pendidikan.
4.

Efisiensi dan Efektivitas

Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana,


tenaga, dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
5.

Kesesuaian

Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik,


kemampuan
tenaga
kependidikan,
kemajuan
IPTEK,
dan
perubahan/perkembangan masyarakat.
7

6.

Keseimbangan

Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis


bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan
program yang akan dilaksanakan.
7.

Kemudahan

Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para


pemakainya yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan
metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
8.

Berkesinambungan

Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan


dengan tahapan, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.
9.

Pembakuan

Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis


satuan pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.
10.

Mutu

Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu,


sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas lulusan
secara keseluruhan.

2.4. Pengembangan kurikulum dengan pendekatan sistem


Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri atas sejumlah komponen
atau bagian. Komponen itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi
satu sama lain. Suatu komponen juga dapat merupakan sebuah sub
sistem dari suatu sistem. Pendekatan sistem digunakan juga sebagai
suatu sistem berfikir, bahkan sistem pendekatan ini dikembangkan dalam
upaya pembaharuan pendidikan. Langakah-langkah yang digunakan
adalah proses identifikasi dan perumusan masalah, perumusan atau hasilhasil yang diinginkan, dan penentuan yang dinilai paling tepat melalui
eksperimen. Selanjutnya dilakukan kegiatan try out dan revisi, dan
langkah terakhir yakni implementasi dan evaluasi.

Salah satu model penggunaan pendekatan sistem dalam rangka


mengembangkan suatu course design adalah sebagai berikut:
1.

Identifikasi tugas-tugas
Kegiatan merancang suatu program kurikulum harus dimulai dari

identifikasi tugas-tugas, yang menjadi tuntutan darisuatu pekerjaan.


Berdasarkan pekerjaan yang dituntut itu selanjutnya direncanakan dan
ditentukan

peranan-peranan

yang

harus

dilaksanakan

sehubungan

pekerjaan tersebut. Peranan-peranan inilah yang akan menjadi titik tolak


dalam menentukan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh seorang
lulusan kelak, sesuai dengan lapangan kerjanya.
2.

Analisis tugas-tugas
Berdasarkan tugas-tugas yang telah ditetapkan secara dimensional,

lalu dijabarkan menjadi seperangkat tugas yang lebih sepesifik. Setiap


dimensi tugas akan terjabar sedemikian rupa sehinggan akan tercermin
segala sesuatu yang patut dan harus dikerjakan.
3.

Spesifikasi pengetahuan ketrampilan sikap


Setiap tugas dirancang secara sepesifik kemampuan-kemampuan apa

yang perlu dimiliki oleh lulusan agar dapat melaksanakan tugas dan
perananannya.
4.

Penetapan kemampuan
Langkah ini sejalan dengan langkah yang telah dilaksanakan

sebelumnya. Setiap kemampuan hendaknya didasarkan pada kriteriakriteria kognitif, afektif, dan performance tersebut.
5.

Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan


Langakah ini merupakan analisis kebutuhan pendidikan dan latihan,

artinya jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan yang wajar


disediakan

dalam

rangka

mengembangkan

kemampuan-kemampuan

yang telah ditetapkan itu. Ini berarti, untuk mengembangkan kemampuan


tertentu dibutuhkan jenis pendidikan dan latihan-latihan tertentu pula.
6.

Perumusan tujuan pendidikan


Tujuan pendidikan adalah tujuan-tujuan program. Pada tingkat ini

tujuan pendidikan masih bersifat umum, atau dapat juga disebut sebagai
tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum. Tujuan-tujuan tersebut
dilakukan dengan berpedoman kepada jenis kemampuan yamg hendak
dikembangkan.
7.

Kriteria pengukuran penguasaan tugas


Kriteria pengukuran ini masih bersifat kriteria indikator keberhasilan

suatu program. Keberhasilan ini ditandai dengan ketercapaian tujuantujuan kemampuan, atau berkembangnya kemampuan yang diharapkan.
8.

Organisasi sumber-sumber belajar


Langkah

ini

menekankan

pada

materi

pelajaran

yang

akan

disampaikan sehubungan dengan pencapaian tujuan kemampuan yang


telah ditentukan.
9.

Pemilihan strategi pengajaran


Titik berta analisis pada langkah ini adalah penentuan metode dan

media yang akan digunakan dalam hubungan dengan usaha mencapai


tujuan kemampuan yang diharapkan.
10. Tes lapangan dan evaluasi sistem
Uji coba atas program yang baru didesain sangat diperlukan guna
melihat berbagai kemungkinan keterlaksanaan program.
11. Pengukuran reliabilitas program
Pengukuran ini sejalan dengan pelaksanaan uji coba dan pengukuran.
Perbaikan dan uji coba program diperlukan guna menjamin konsistensi,

10

koherensi, dan monitoring sistem selain memberikan umpan balik kepada


organisasi sumber-sumber strategi pengajaran, motivasi belajar.
12. Monitoring sistem
Kegiatan monitoring perlu didesain secara analisis. Dengan demikian
diharapkan
benar0benar

pada

akhirnya

sinkron

dengan

dikembangkan

suatu

kebutuhan

lapangan

program
dan

yang

memiliki

kemampuan beradaptasi.

A. Langkah-langkah Merancang suatu kurikulum


1. Perumusan Tujuan.
Di dalam merumuskan tujuan, perlu diperhatikan apa yang ingin didapat
oleh peserta seusai proses. Dalam perumusan tujuan, perlu diingat Tujuan
adalah pada diri peserta ,Tujuan berupa hasil belajar perilaku tertentu
(biasanya dinyatakan dengan infinitive / kata kerja tertentu),Objek dari
tujuan itu (berupa materinya).
Berikut ini contoh perumusan tujuan yang baik :
Memiliki kemampuan dan pemahaman untuk mengembangkan kurikulum
secara mendalam dan mampu mengembangkannya secara optimal baik
pada tingkat sekolah maupun bidang studi.".
Tujuan yang dirumuskan di dalam kurikulum adalah tujuan umum
yang tidak bisa langsung dilakukan pengamatan atau pengukuran.
2. Perumusan Isi Kurikulum
Isi kurikulum adl. Keseluruhan materi dan kegiatan yang tersusun
dalam urutan dan ruang lingkup yang mencakup bidang pengajaran, mata
pelajaran, masalah2, proyek2 yang perlu dikerjakan.
3. Perumusan Metode dan Strategi Pembelajaran

11

Metode atau strategi yang dipilih dirincikan. Untuk suatu tujuan atau
materi tertentu bisa saja digunakan beberapa metode, demikian juga
sebaliknya.
4. Merancang Strategi Bimbingan
Adl.

Keseluruhan

proses

bimbingan

untuk

membantu

siswa

memecahkan masalah dan kesulitan yang dihadapinya dan memperbaiki


serta mengembangankan kemampuannya.
5. Penentuan alat evaluasi yang diperlukan
Penyajian kurikulum tersebut dalam bentuk tertentu. Sebaiknya
menggunakan format kolom yang boleh dikatakan sebagai standar

BAB III
PENUTUP/KESIMPULAN

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting


dalam pendidikan. Tanpa kurikulum, proses pendidikan tidak akan berjalan
mulus. Kurikulum diperlukan sebagai salah satu komponen untuk
menentukan tercapainya tujuan pendidikan.
Kurikulum
selalu
mengalami
perubahan
sesuai
dengan
perkembangan zaman. Adapun proses pengembangan kurikulum adalah
kegiatan mengahasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah
Perencanaan, pelaksanaan, Penilaian dan penyempurnaan/Pengembangan
kurikulum atas dasar penilaian yang dilakukan selama kegiatan
pelaksanaan kurikulum, dan hal tersebut bisa dikatakan bahwa terjadinya
perubahan-perubahan kurikulum mempunyai tujuan untuk perbaikan.
Didalam proses
manajemen perencanaan pengembangan
kurikulum dan pembelajaran, ada hal hal penting yang dapat disimpulkan
sebagai berikut :

12

Ada 4 model perencanaan kurikulum yaitu, perencanaan rasional


deduktif, Interaksi rasional, the dicipines model, dan non planning
model.
Dalam manajemen perencanaan pengembangan kurikulum dan
pembelajaran harus memperhatikan delapan prinsip
Dalam perencanaan pengembangan kurikulum hendaknya memiliki
sifat sifat, strategis,komprehensif, integrative, realistic, humanistic,
futuralistik, Integral yang mendukung manajemen pendidikan,
kompetensi, berdiversifikasi sesuai peserta didik dan desentralistik.
Azas azas dalam manajemen perencanaan pengembangan
kurikulum, obyektifitas, keterpaduan, manfaat, efesien/efektif,
kesesuaian,
keseimbangan,
kemudahan,
berkesinambungan,
pembakuan dan bermutu.
Dalam pengembangan kurikulum berdasarkan pendekatan system.

13